Marketer, Selebritis Atau Intel?


Yulianto Sochebu.  Orang perhotelan dan pariwisata tentu sangat mengenalnya. Kini ia adalah ketua PHRI Jawa Timur. Organisasi ini mewadahi insan perhotelan dan restoran untuk bersinergi mencapai kemajuan bersama.

Beberapa tahun yang lalu, Pak Yul, demikian saya biasa memanggil, adalah general manager Natour Simpang Hotel Surabaya. Di hotel yang kini bernama Inna itu Pak Yul terbilang sukses. Atas keberhasilan itu kemudian ia dipromosikan untuk memimpin hotel hotel lain yang lebih besar dalam jaringan Inna. Kini ia berposisi di kantor pusat hotel yang jaringan nya tersebar ke berbagai kawasan di Indonesia itu.

Pada saat masa kepemimpinannya di Inna Simpang, saya sempat menjadi konsumennya. Beberapa kali saya membutuhkan ruang dan kamar untuk penyelenggaraan acara yang saya gelar. Jadilah saya lumayan dekat dengan beberapa orang karyawan anak buah Pak Yul. Dari cerita mereka, saya mendapatkan informasi menarik tentang pak Yul. Informasi tentang bagaimana Pak Yul sukses memimpin hotel yang berada di jantung kota pahlawan ini. Apa rahasianya? Pak Yul kenal dengan siapapun. Seolah tidak ada orang yang tidak dikenalnya. Pergaulannya luas sekali.

♦♦♦♦

Iwan Fals, Titiek Puspa, Rhoma Irama, Inul Daratista, Ebiet G Ade, Ahmad Dhani, Kris Dayanti, Rossa, Opick, Pasha Ungu, Gita Gutawa, Bunga Citra Lestari, Dian Sastro, Giring Nidji. Anda tentu mengenal deretan nama nama ini. Walaupun tidak semuanya Anda kenal, saya yakin sebagian besar nama itu Anda kenal.

Bahkan ada banyak orang yang bukan sekedar mengenal namanya. Ada yang sampai hafal betul dengan segala detail. Hafal dan bahkan mengoleksi seluruh lagu yang pernah dinyanyikannya, hafal sejarah perjalanan hidupnya, hafal tanggal lahirnya, hafal nama keluarganya. Mengapa? Karena mereka memang sangat dikenal. Artis sukses. Selebritis.

Bagaimana kalau pertanyaannya dibalik? Apakah mereka para selebritis itu mengenal Anda? Saya yakin jawabannya akan kompak. Para selebritis itu tidak mengenal Anda. Memang begitulah sifat yang melekat pada para selebritis: dikenal banyak orang tetapi tidak mengenal banyak orang. Jutaan orang menghafal dengan sangat baik deretan nama nama di atas. Tetapi, para pesohor itu tentu tidak mengenal jutaan orang penggemarnya.

Enakkah menjadi selebritis? Mungkin kita bisa belajar dari orang lain yang karakternya kebalikan dari para selebritis. Jika selebritis dikenal banyak orang tetapi tidak mengenal banyak orang, orang ini kebalikannya. Mengenal banyak orang tetapi tidak dikenal banyak orang. Adakah orang seperti ini? Ada. Siapa? Mereka adalah para intel alias agen rahasia. Dalam menjalankan pekerjaanya, seorang intel dituntut untuk mengenal banyak orang dengan baik dan detail. Tetapi, ia sendiri tidak boleh dikenal banyak orang. Intel harus selalu menjaga kerahasiaannya. Namanya juga dinas rahasia.

Intelijen

Intelijen: kenal banyak orang tetapi tidak mau dikenali orang lain

♦♦♦♦

Pembaca yang budiman, profesi apapun membutuhkan pemasaran. Keahlian ini akan menjadi pemicu prestasi tinggi untuk bidang pekerjaan apapun. Apalagi kalau profesi kita memang pemasar atau pengusaha. Pemasaran akan menjadi cara terpenting untuk mencapai keberhasilan profesi. Pemasaran akan menjadi keahlian terpenting untuk mengundang uang.

Apa hubungannya dengan selebritis dan intel? Pemasaran membutuhkan gabungan dari keduanya. Gabungan yang seperti apa? Ada dua kemungkinan. Pertama adalah orang yang berkarakter tidak dikenal banyak orang (seperti intel) dan tidak kenal banyak orang (seperti selebritis). Tidak dikenal banyak orang dan tidak mengenal banyak orang. Seimbang dalam pengertian negatif. Kurang pergaulan. Nah, karakter ini tentu sangat tidak cocok untuk pemasaran. Apapun profesi kita.

Kemungkinan kedua adalah dikenal banyak orang (seperti selebritis) dan kenal banyak orang (seperti intel). Dikenal banyak orang dan mengenal banyak orang. Sangat mudah bergaul. Supel. Siapapun dikenalnya dan siapapun mengenalnya. Seimbang dalam pengertian yang positif. Sangat dibutuhkan untuk pemasaran. Apapun profesi kita.

Pembaca yang budiman, suatu saat saya pernah menelepon Pak Yul, orang yang saya ceritakan pada pembukaan tulisan ini. saya menelponnya setelah lama sekali tidak menelepon. Terdengar nada yang menunjukkan bahwa nomor telepon Pak Yul sedang aktif. Tetapi beberapa kali dering tidak diangkatnya. Saya Pun menghentikan telepon tersebut. Nanti akan mencobanya lagi.

Tetapi apa yang terjadi, sebelum saya menelponnya kembali ternyata Pak Yul yang terlebih dahulu mengontak saya melalui SMS. Ia menyatakan minta maaf tidak bisa mengangkat telepon karena suatu hal dan kemudian juga menanyakan siapa saya. Dia sudah tidak menyimpan nomor saya di telepon selulernya. Mungkin ia pernah berganti telepon seluler dan belum sempat memasukkan kembali nama saya.

Apa yang menarik? Ternyata Pak Yul benar benar berkarakter marketer. Tidak menyepelekan setiap kontak dengan orang lain. Orang lain yang nomornya tidak dikenal pun diperhatikan. Bukan sebaliknya, tidak mau mengangkat telepon apabila nomor yang masuk ke handphonenya tidak dikenal.

Dengan cara begitu, Pak Yul tidak pernah kehilangan kontak. Aset untuk mengenal banyak orang dan sekaligus dikenal banyak orang. Tidak bergaya selebritis. Juga tidak bergaya intel. Ia menggabungkan gaya selebritis dan intel dalam pengertian positif. Dikenal dan mengenal banyak orang. Seimbang. Persis seperti pendiri Zara yang kurang lebih mengatakan bahwa seorang entrepreneur sejati itu seumur hidupnya hanya tiga kali dikornkan. Atau diviralkan dalam konteks kekinian. Kapan itu? Saat lahir diviralkan oleh ayah ibunya. Saat menikah divirialkan oleh ayah ibunya, kawan-kawan dekatnya dan dirinya sendiri. Dan saat meninggal diviralkan oleh keluarga yang ditinggalkannya. Selebihnya hanya dikenal oleh orang yang juga mengenalnya. Anda bagaimana?

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Tulisan Iman Supriyono ini pernah dimuat di majalah BAZ, terbit di Surabaya, dengan sedikit pengeditan

Bermobil 4 Jam untuk 100 km Krian-Legundi-Pucuk-Lamongan-Babat: Jadi Gubernur


Jadi Gubernur

oleh: Iman Supriyono, konsultan pada SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com

Jam 4 sore saya sudah meninggalkan rumah di kawasan Sukolilo Surabaya. Tujuan saya adalah Babat, kota kecamatan di wilayah Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Perjalanan kali ini agak lain. Jalur utama Surabaya Babat yang lewat gresik dan Lamongan terputus total karena banjir. Jalur alternatif yang melalui pantai utara juga macet luar biasa karena jembatan di kawasan Sembayat rusak. Yang berfungsi tinggal satu jalur. Kendaran dari kedua arah harus bergantian melewati jalur yang masih berfungsi. Terjadi kemacetan yang luar biasa parah. Inilah informasi yang saya terima baik melalui radio, internet, maupun kawan kawn yang kebetulan melewati jalur tersebut.

Karena acara sudah direncanakan jauh jauh hari, saya tidak bisa menundanya. Maka, jam 4 sore persis saya sudah meninggalkan rumah. Berdasarkan berbagai pertimbangan dan informasi, akhirnya saya memutuskan untuk melalui jalur alternatif melalui Krian-Legiundi-Pucuk-Lamongan-Babat. Jalur hampir 100 km inilah rute yang paling bagus berdasarkan informasi dari berbagai sumber. Tentu saja dibandingkan dengan rute normal yang sedang bermasalah baik karena banjir maupun jembatan rusak.

Surabaya Krian terlalui seperti perjalanan selama ini. Lalu lintas cukup padat. Ketika kepadatan lalu lintas berkurang, mobilpun tidak bisa dipacu dengan kecepatan tinggi karena disana sini jalannya bergelombang. Tetapi bagi saya Surabaya Krian memanglah begitu. Tetap seperti yang sebelumnnya sering saya lalui.

Yang menarik justru ketika mulai musuk kawasan Legundi. Saya baru pertama kali melalui jalur itu. Kondisinya luar biasa: jalan berlubang sana sini. Mobil harus berjalan ekstra pelan-pelan dan ekstra hati hati. Bahkan sering kali harus berhenti berbagi jalan yang masih bisa dilalui jika berpapsan dengan mobil lain. Hampir sepanjang perjalanan yang ada adalah jalan rusak. Maka, jarak tempuh yang tidak sampai 100 kilometer memakan waktu 4 jam. Jam 8 malam saya baru tiba di Babat.



Tak ada gading yang tak retak. Inilah nampaknya pepatah yang cocok untuk menggambarkan kondisi jalan di berbagai penjuru negeri ini. Tidak ada jalan yang tak berlobang. Tidak ada jalan yang tidak bergelombang. Tidak ada jalan yang tidak rusak. Jalur Surabaya-Babat lewat Legundi adalah salah satu contohnya. Kondisi jalan jalan di Sulawesi, Sumatera, Papua, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, kurang lebih pun demikian. Kurang lebih sama. Beberapa hari lalu saya juga dibuat benar benar teler dalam perjalanan Surabaya-Lumajang. Jarak sejauh 150 kilimeter ditempuh dalam waktu 7 jam.

Perjalanan ini sangat kontras misalnya dibandingkan jalur Kuala Lumpur Johor Bahru yang sekitar 300 km ditempuh dalam waktu sekitar 3 jam. Jalanan mulus nyaris tanpa lobang dan gelombang. Mobil dengan santai bisa dipacu dengan kecepatan rata rata 100 km/jam lebih. Perjalanan pun nyaris tanpa menginjak pedal rem.

Karena pernyataan saya “tiada gading yang tak retak” di atas, ada seorang kawan yang menimpali. Katanya, paling tidak saya harus jadi gubernur agar bisa memimpin pemeritahan negeri ini agar kondisi jalan raya tidak seperti yang saat ini. Tidak seperti Surabaya-Babat, atau Surabaya-Tuban. Agar jalan raya bisa mulus seperti jalur Kuala Lumpur-Johor Bahru.

Jadi gubernur? Tidak. Saya ingin berkontribusi melalui apa yang saya tekuni selama ini sampai akhir hayat: menjadi konsultan. Membesarkan SNF Consulting, perusahaan konsultan yang saya dirikan, mencapai visinya menjadi berkelas dunia. Dipercaya perusahaan perusahaan berkelas dunia.. Dibutuhkan fokus luar biasa untuk mencapai sebuah cita-cita besar. Saya tidak ingin terbelokkan. Apalagi ke bidang politik. Aku berlindung kepada-Nya dari godaan syetan dan politik….hehehe…

Terus bagaimana memperbaiki kualitas jalan? Tentu tidak mungkin kita bisa menyelesaikan seluruh permasalahan masyarakat. Di sektor politik dan pemerintahan sudah banyak orang yang berkecimpung disana. Pada merekalah harapan untuk perbaikan jalan sebagai sarana publik. Kalau Kuala Lumpur-Johor Bahru bisa mulus, kenapa Surabaya-Babat dan Surbaya-Lumajang tidak? Kenapa Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Papua, Nusa Tenggara dan sebagainya tidak? Pasti ada cara. Sesuai peran sebagai konsultan, saya memberi inspirasi melalui tulisan. Tidak perlu tidak usah menjadi gubernur. Biarlah kawan-kawan poliitisi dan birokrat yang mencari cara itu. Sama-sama fokus di bidangnya masing masing. berlomba lomba menuju kebaikan. Fastabiqul khoirot. Pak Gubernur, bisa kan?

Tulisan ini pernah dimuat di majalah Muslim, terbit di Surabaya

Bus Kota Murah Nikmat dan Bergengsi Ala SBS Transit di Ang Mo Kio: 0.9 dan 1.2


0.9 dan 1.2

oleh Iman Supriyono, konsultan keuangan pada SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com

===
Suatu hal yang sangat saya sukai semasa kanak kanak adalah saat diajak bepergian ke luar kota. Memang tidak sering sering amat. Orang tua yang tinggal di desa dan tidak banyak relasi adalah penyebabnya. Ekonomi pun tidak cukup leluasa untuk membiayai ongkos naik bus ke luar kota.

Sesekali diajak pergi ke luar kota adalah sebuah kemewahan. Senang bukan main. Akan tetapi, ada suatu hal yang membuat hati ini kurang nyaman. Maksud hati ingin duduk sendiri di bangku bus sebagaimana orang orang pada umunya. Tetapi ayah ibu tidak menyukainya. Ia lebih suka bersusah payah memangku putra putrinya. Dengan maksud yang sangat ekonomis: agar tidak perlu membayar dobel. Cukup ayah ibu yang mbayar. Anak anak gratis.

Semakin hari usia pun bertambah. Bepergian tetaplah menjadi sesuatu yang menyenangkan. Apalagi pergi ke kota yang belum pernah dikunjungi. Kesenanganpun bertambah karana ada masa dimana saya tidak lagi bisa dipangku di bus. Saya tidak tahu persis apa kriterianya. Yang jelas saya harus uduk di kursi sendiri. Tidak dipangku. Sesuatu yang tentu saja menjadi tambahan beban finansial ayah ibu saat bepergian ke laur kota.

♦♦♦

Ang Mo Kio di suatu pagi buta. Selapas sholat subuh di Masjid Al Muttaqin, saya segera berjalan kaki menuju halte bus terdekat. Rencana semula saya ingin menunggu agar hari agak terang. Ini menjadi penting untuk kepatasan bertamu. Tujuan saya memang mau mengunjungi seorang kawan yang tinggal di kawasan yang tidak terlalu jauh dari halte bus itu. Sekitar perjalanan lima belas menit naik bus.

Begitu tiba di halte, saya tidak perlu menunggu. Halte bus sudah ramai calon penumpang. Masyarakat sudah mulai beraktivitas. Bahkan anak anak dengan seragam sekolah pun sudah ramai menunggu bus yang akan mengantarkannya menuju tempat belajar. Sebuah pagi yang penuh semangat.

Bus dengan rute yang saya tunggu tunggu telah tiba. Tak lama kemudian saya pun berada di bangku bus. Perhatian saya tertuju pada dua buah angka yang tertulis dengan jelas: 0.9 dan 1.2. Keduanya tertera pada sebuah stiker warna merah di dinding bus yang dikelola SBS Transit.

Saya pun tertarik untuk membaca tulisan sehubungan dengan angka itu. Tertnyata, angka itu adalah alat ukur tinggi badan. Anak anak yang tinggi badannya kurang dari 0,9 meter tidak perlu membayar ongkos naik bus. Anak-anak dengan tinggi badan 0,9 sampai 1,2 meter diwajibkan membayar dengan diskon. Membayar dengan tarip lebih murah dari pada orang dewasa. Inilah cara perusahaan pengelola bus angkutan umum di Singapura ini menentukan tarif bagi anak anak.
♦♦♦

Pembaca yang budiman, salah satu komponen penting dalam pengelolaan sarana transportasi publik yang murah dan nyaman adalah pendapatan dari pembayaran penumpang. Demikian pentingnya komponen ini bagi sebuah sistem transportasi bisa diibaratkan seperti darah bagi tubuh manusia. Tanpa keberadaannya, manusia akan mati. Bahkan kekuranganpun sudah cukup mengakibatkan penyakita yang fatal. Begitu pentingnya darah sampai sampai aktivitas donor darah menjadi sesuatu yang sangat dibutuhkan. Palang merah atau bulan sabit merah pun menjadikan donor darah sebagai aktivitas pentingnya dalam aktivitas kemanusiaan.

Karena begitu pentingnya uang dari para penumpang, maka aturan pembayaranpun harus dibuat jelas. Agar tidak ada celah penyimpangan. Agar tidak ada celah penyebab hilangnya pendapatan bagi perusahaan. Agar perusahaan bisa membiayai aktivitas dan investasi armadanya dengan baik. Ujung ujungnya, layanan kepada para penumpang lebih mudah, aman dan nyaman.

Pengalamana naik bus saat kanak kanak bersama ayah ibu bisa menjadi pelajaran menarik. Lebih menarik manakala dibandingkan dengan suasana di SBS Transit Singapura. Bus yang saya naiki bersama ayah ibu tidak memberikan batasan yang jelas tetnang siapa yang boleh tidak membayar, siapa yang harus membayar dengan diskon, dan siapa yang harus membayar penuh. Membayar dan tidaknya hanya ditentukan oleh kesan kondektur terhadap penumpang anak anak. Bila dirasa masih kecil digratiskan. Bila dianggap agak besar bayar saparuh. Bila dianggap dewasa membayar penuh. Keputusannya murni didasarkan pada kesan. Tidak ada standar yang jelas.

SBS Transit di Negeri Singa sangat berbeda. Seorang anak cukup berdiri di dekat dinding bus yang ditempeli stiker ukur. Bandingkan tinggi anak anak dengan angka yang tertera. Bila tinggi anak kurang dari 0,9 meter gratis. Bila lebih tinggi dari 0,9 meter tetapi kurang dari 1,2 meter membayar dengan diskon. Lebih dari itu membayar penuh. Tidak perlu kesan. Tidak perlu tawar menawar dengan penumpang. Semua jelas. Semua tegas. Ini mungkin menjadi salah satu faktor yang menjadikan SBS transit bisa melayani penumpang dengan sangat bagus. Tidak ada bus jelek. Semua bagus. Pendingin udaranya sejuk. Jadual keberangkatan dan kedatangan tepat waktu. Tidak ada bus ngetem menunggu penumpang penuh. Ongkosnya murah. Penumpang dan masyarakat senang. Negeri pun maju. Angka 0.9 dan 1.2 bisa menjadi inspirasi. Anda bagaimana?

tulisan ini pernah dimuat di majalah Yatim, terbit di Surabaya

Toyota Camry Mobil Dinas Ketua PW Muhammadiyah Jatim: L 1 MH


L 1 MH

Oleh: Iman Supriyono, strategic finance specialist pada SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com

Saat saat pergantian menteri 2009 lalu, saya berada di Jakarta. Kebetulan ada seorang kawan yang menjadi tim salah satu menteri baru. Karena persahabatan, saya diundang untuk mengikuti dari dekat aktivitas team secara intensif.

Ada yang menarik dalam aktivitas mereka. Kendaraan operasional menteri dan teamnya adalahToyota Fortuner dan Land Cruiser Cygnus. Fortuner memang “tidak terlalu mewah”. Tapi, tentu tidak ada yang menyangsikan kemewahan Land Cruiser Cygnus. Saya pun bertanya, mengapa harus memakai kendaraan semewah ini?

Berdasarkan penuturan mereka, jawabannya ada pada dua pengalaman. Pertama adalah kinerja di jalan raya. Kendaraan harus bisa melaju dalam iring iringan terkawal. Mobil yang kurang bagus sering kesulitan mengikuti laju rombongan. Kedua adalah masalah kebiasaan masyarakat. Untuk masuk sebuah lingkungan tertentu, terkadang masyarakat akan “melecehkan” mobil “murahan”. Untuk menghindarkan menteri dari “pelecehan” yang secara teknis bisa mengganggu ini, dibutuhkan mobil bagus.

♦♦♦♦

Beberapa kawan pengusaha persyarikatan (Muhammadiyah) di Surabaya berbisik-bisik saat kijang lama menajdi kendaraan operasional Ketua PWM Jatim. Kijang tidak representatif untuk pemimpin ummat sekelas ketua PWM, begitu mungkin dalam benak mereka. Maka…tidak perlu rapat serius. Bisik-bisik sudah cukup untuk mendatangkan Toyota Camry baru warna hitam dengan plat L 1 MH. Representatif untuk pemimpin ummat. Tampil elegan, prima dalam kinerja.

♦♦♦♦

Pembaca yang budiman, para pengusaha adalah salah satu pilar pertama dari dua pilar kekuatan ekonomi persyarikatan. Dalam sejarah pendiriannya, kaum pengusaha telah menjadi faktor penting. Itulah kisah masa lampau. Beberapa kawan pengusaha yang berbisik untuk untuk sebuah Camry ketua PWM adalah kisah masa kini. Dulu berperan, kini apa lagi.

Memang, sehari hari para pengusaha bekerja keras untuk membesarkan usaha milik sendiri. Sama sekali tidak ada milik persyarikatan disana. Tetapi, potensi itu kemudian dengan mudah diwujudkan sebagai penyokong persyarikatan pada saat dibutuhkan. Zakat, infaq, shodaqoh, atau donasi menjadi mekanisme yang tepat.

Pilar kedua adalah lembaga ekonomi milik persyarikatan. Contoh dari pilar ini adalah rumah sakit, perusahaan aneka bidang, BTM (Baituttamwil Muhammadiyah), koperasi, sekolah, dan perguruan tinggi yang dimiliki oleh persyarikatan atau organisasi otonomnya. Karena dimiliki oleh persyarikatan, maka pada dasarnyu seluruh asetnya adalah milik persyarikatan.

Untuk pilar pertama, majelis ekonomi dituntut untuk memiliki program dalam menumbuhkan jiwa entrepreneur pada genarasi muda kader persyarikatan. Bekerjasama dengan majelis dikdasmen dan majelis dikti, majelis ekonomi perlu membuat program untuk menyemaikan bibit entreprenur sejak bangku sekolah. Caranya bisa dilakukan dengan mendesain bersama proses pembelajaran entrepreneurship dan memasukkan pada kurikulum formal yang ada.

Bukan hanya itu, program pembelajaran untuk memacu pertumbuhan entreprener baru juga bisa ditempuh degan memberi pelatihan kepada para guru. Tujuannya adalah agar guru mampu memberikan proses pembelajaran entrepreneurship melalui hidden curriculum. Dengan model ini, apapun mata pelajaran yang dibawakan oleh guru, akan selalu mengandung pembelajaran entreprenurship bagi para siswa.

Pilar pertama juga berkaitan dengan para kader dan warga persyarikatan yang selama ini telah berkarya sebagai entreprenur. Kepada kader ini, persyarikatan melalui majelis ekonomi perlu memiliki program untuk memacu pertumbuhan bisnis mereka. Program ini harus mampu memacu kinerja para entrepreneur kader persyarikaan, baik yang sedang merintis maupun yang sudah mapan. Terus mengembangkan usaha tanpa henti.

Kepada entreprenur yang sedang merintis, majelis ekonomi bisa memfasilitasi hubungan mereka dengan para seniornya untuk proses pembelajaran dan pertumbuhan. Mengupayakan sinergi bagi mereka untuk menangkap peluang pasar yang lebih besar. Bahkan perlu adanya program yang bisa membantu mereka mendapatkan akses finansial untuk pengembangan usaha.

Kepada entrprepreneur yang sudah mapan, persyarikatan perlu program untuk memberikan lingkungan kondusif. Lingkungan yang mampu mendorong mereka untuk tetap fokus dalam mengembangkan bisnis hingga berkelas nasional dan kemudian global. Pada tingkat ini, ekspansi bukan semata mata untuk mencari uang. Kebutuhan finansial mereka sudah terpenuhi. Maka, diperlukan motifasi pertumbuhan yang lebih berbasis nilai nilai akidah untuk lebih bermanfaat bagi sesama. Keahlian yang telah terbukti dalam mengelola bisnis perlu terus menerus dikembangkan untuk memperbesar perusahaan.

Persyarikatan harus memperhatikan bahwa pada level seperti ini, para entreprenur rawan untuk tergoda aktivitas lain yang mengganggu fokus bisnis. Politik adalah yang sangat potensial mejadi penggoda. Menggiurkan. Namun harus disadari bahwa dengan aktif berpolitik, keahilan bisnis yang telah dipelajari bertahun-tahun akan sia sia. Potensi untuk menumbuhkan bisnis menjadi perusahaan berkelas nasional dan bahkan global akan terpasung. Jika ini terjadi, jangan kecewa bila satu demi satu ekonomi bangsa ini jatuh ke tangan perusahaan dan orang asing.

Untuk pilar kedua, tantangannya adalah konsolidasi potensi ekonomi yang masih berserakan. Intinya, bila selama ini kekuatan ekonomi yang ada masih berdiri sendiri sendiri dengan skala kecil, dibutuhkan program untuk mensinergikan kekuatan yang ada melalui merger atau strategi lain. Tujuannya adalah untuk menjadikannya sebagai sebuah istitusi bisnis besar dengan brand yang dikenal luas masyarakat.

Unit bisnis keuangan mikro yang pada umumnya berbentuk koperasi memiliki potensi sangat tinggi untuk disinergikan. Persyarikatan dapat mengambil inspirasi dari pengalaman Rabo Bank, bank berkelas dunia dengan nilai asset sekitar Rp 9000 Trilyun (Bandingkan dengan total aset seluruh bank di negeri ini yang belum jauh dari angka Rp 2000 Trilyun). Bank asal Belanda ini pada mulanya adalah dua koperasi. The Coöperatieve Centrale Raiffeisen-Bank in Utrecht dan the Coöperatieve Centrale Boerenleenbank in Eindhoven. Keduanya berdiri tahun 1989. Dengan kesadaran akan perlunya sinergi untuk daya saing global, pda tahun 1972 keduanya bergabung (merger) menjadi Rabo Bank. Nama Rabo diambil dari nama depan keduanya (Raiffesesen dan Boerenleenbank). Kini, Rabo Bank beropersi pada 46 negara di dunia, salah satunya Indonesia, dengan lebih dari 60 ribu karyawan.

Untuk pilar kedua ini, PWM Jawa Timur misalnya juga telah memiliki sebuah badan usaha yang telah beroperasi dengan kinerja menyenangkan. Sebagai rintisan, perseroan terbatas milik PWM Jawa Timur ini memanfaatkan sekolah sekolah dalam naungan majelis dikdasmen sebagai captive market. Produknya antara lain adalah buku pelajaran dan seragam sekolah.

Pembaca yang budiman, perkembangan terkini dari dua pilar ekonomi di atas telah memberikan bukti awal. Setidaknya, ini memberikan rasa percaya diri yang cukup. Selanjutnya, dibutuhkan kerja keras untuk mencapainya. Agar para pengusaha kader persyarikatan merasa ringan untuk makin banyak lagi L 1 MH dalam bentuk lain. Agar missi dakwah yang mulia juga terbungkus dengan kemasan mulia. Da’i yang kelas menteri bahkan presiden. Agar BTM-BTM berkembang seperti Rabo Bank. Agar persyarikatan berkontribusi besar dalam membangun masyarkat sejahtera dunia akhirat. Anda harus berperan. Saya juga. Teladani kisah L 1 MH. Ayo!

Tulisan ini dimuat pada buku 1 abad Muhammadiyah, diterbitkan oleh PW Muhammadiyah Jawa Timur. Penulis adalah wakil ketua Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan PW Muhammadiyah Jatim

Indosat Singapore Qatar: BUMN Juga


BUMN Juga

oleh Iman Supriyono, konsultan bisnis pada SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com

Lantai 4 gedung Indosat Regional Kalimantan di suatu pagi. Forumnya adalah training Financial Spiritual Quotient alias FSQ. Ini adalah training yang materinya didasarkan pada buku FSQ, tulisan ke 4 saya. Saat itu saya sedang mengajak peserta untuk mendiskusikan ketergantungan ekonomi negeri ini terhadap negara negara asing. Ketergantungan yang sangat kompleks. Ketergantungan terhadap berbagai produk teknologi canggih sampai pada produk produk sederhana dan remeh temeh.

Pesawat terbang, berbagai mesin pabrik, server komputer dengan kapasitas proses data tingkat tinggi adalah beberapa contoh ketergantungan pada produk berteknologi canggih. Bukan hanya itu, negeri ini juga sangat tergantung pada produk yang tidak menuntut teknologi canggih seperti kedelai, garam, gandum, beras, dan sebagainya. Produk kebutuhan dasar yang teknologinya sudah sangat dikenal masyarakat luas.

Yang tidak kalah menyedihkan adalah ketergantungan modal. Setiap ada perusahaan besar yang sahamnya dilepas, pembelinya nyaris selalu investor asing. Salah satu yang sangat terasa misalnya saja adalah sektor perbankan. Saat ini beberapa satu demi satu perbankan nasional terbeli asing. Sekedar menyebut beberapa: Bank CIMB Niaga, Commonwealth Bank, Bank HSBC, Citibank, Rabobank, DBS bank, Standard Chartered. Ini adalah bank bank asing yang kini beroperasi di negeri ini. Cara yang paling sering terjadi adalah akuisisi atas bank lokal yang membutuhkan suntikan modal. Begitu modal masuk dan pembeli saham asing menguasai mayoritas saham, dengan mudah mereka dapat mengubah nama bank lokal menjadi nama asing sesuai dengan keinginan mereka. Bagaimana solusinya? Itulah pertanyaan besar yang membutuhkan jawaban proaktif.

♦♦♦♦♦

Qatar Telecomunication. Membaca namanya, dengan mudah Anda akan menangkap bahwa ini adalah sebuah perusahaan asal Qatar, sebuah negara di Timur Tengah. Tidak salah, perusahaan yang juga disebut dengan nama QTel ini memang berdiri pada tahun 1987 dan sahamnya tercatat di Bursa Efek Qatar (Qatar Exchange) sejak tahun 1998. Kini seluruh saham QTel bernilai sekitar 21 Milyar Riyal Qatar atau sekitar Rp 60 T.

Membaca namanya juga, tentu Anda dengan mudah menebak bahwa perusahaan ini bergerak di sektor telekomunikasi. Betul, produk utama perusahaan ini adalah layanan telekomunikasi baik fix line (telepon rumah) maupun telepon seluler. Sampai saat ini, perusahaan ini telah melayani lebih dari 60 juta konsumen di 15 negara. Hingga kini Qtel masih terus menambah negara negara jangkauan layanannya.

♦♦♦♦

Di Indosat, diskusi tentang solusi ketergantungan ekonomi terhadap asing menjadi makin tepat. Mengapa? Tidak lain adalah karena posisi Indosat sendiri. Dulu, Indosat adalah perusahaan BUMN. Dengan perkembangan situasi ekonomi yang ada, saham mayoritas Indosat sempat dikuasai oleh sebuah perusahaan milik pemerintah Singapura. Kini, saham mayoritas Indosat dikuasai oleh Qatar Telecom, sebuah BUMN juga. Ya, Indosat kini dimiliki oleh sebuah perusahaan milik pemerintah Qatar. BUMN juga. Bedaya, kalau dulu Indosat adalah BUMN Indonesia, kemudian menjadi BUMN Singapura, kini posisi terakhir adalah BUMN Qatar.

Solusinya? Tentu tidak bisa diselesaikan dengan nasionalisme konvensional. Tidak juga dengan nasionalisme politis. Solusinya harus berkarakter bisnis. Dalam kerangka FSQ, solusinya adalah menjadikan para karyawan Indosat memiliki kemampuan investasi. Gaji bulanan yang relatif besar harus diprioritaskan untuk memupuk kekuatan berinvestasi. Bahkan secara umum peran ini juga bisa dilakukan oleh karyawan perusahaan manapun dengan gaji seberapapun. Kita bisa belajar dari orang Yahudi yang selalu menyisihkan 10% dari gaji bulanannya untuk investasi. Andai saja masyarakat kita bisa melakukannya secara konsisten dalam jangka panjang, tidak akan diperlukan lagi kehadiran modal asing di negeri ini. tidak perlu lagi menjual BUMN ke pemodal asing. Walaupun pihak asing itu BUMN juga. Bisa!

tulisan ini pernah dimuat di majalah Matan, terbit di Surabaya

Barelang dan Jembatan Terpanjang Dunia


Dari Bandara Hang Nadim, Batam, saya langsung “dibawa” oleh rombongan kawan-kawan penjemput untuk jalan-jalan. Tidak sembarang jalan-jalan. Kali ini saya dan rombongan akan jalan-jalan melintasi jembatan laut yang menyambungkan lima pulau sekaligus: Batam-Setoko-Rempang-Galang-Galang Baru. Jembatan yang dibangun sebagai bagian dari proyek pengembangan Batam dan pulau pulau sekitarnya tersebut dimaksudkan untuk “nebeng” dan bahkan menyaingi kemajuan Singapura sejak jaman Habibie.

Lengang. Itulah kesan kuat selama menyusuri jalan mulus yang bersambung dengan jembatan yang dikenal sebagai jembatan Barelang (singkatan dari Batam-Rempang-Galang) itu. Kontras dengan jalanan di dalam kota Batam yang padat dan mulai tampak macet.

Segeralah muncul pertanyaan dalam hati saya: apa manfaat jembatan spektakuler ini? Apa manfaat dari proyek yang menelan duit yang tidak sedikit ini? Alangkah naifnya bila duit milyaran bahkan trilyunan rupiah hanya menjadi semacam hiasan. Hanya menjadi sarana bersantai muda mudi dan keluarga di sore hari selepas kerja hari-hari libur.

Betapa tidak, sepanjang perjalanan yang menyita waktu sekitar satu jam menyusuri pulau Setoko, Rempang, Galang dan Galang Baru, di kiri kanan jalan hanya ada lahan kosong atau sedikit hutan yang masih tersisa. Nyaris tidak ada denyut ekonomi berupa pusat perbelanjaan, pertokoan, pabrik atau sejenisnya. Tidak nampak hiruk pikuk bisnis dan transaksi.

Para pembaca yang dermawan, ada sebuah pelajaran menarik dari Jembatan Barelang. Ternyata, keberadaan fasilitas fisik tidak menjamin sebuah kemajuan. Jembatan dan jalan yang mulus tidak mengubah pulau Setoko, Rempang, Galang dan Galang baru menjadi sebuah pulau yang makmur sebagaimana yang diinginkan. Jembatan Barelang tidak secara otomatis mampu merembeskan kemakmuran yang ada di Batam. Jembatan Barelang tidak secara otomatis menjadikan Setoko, Rempang, Galang dan Galang baru sebagai magnit bagi investor dan pendatang sebagaimana yang terjadi di Batam.

Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah iman-barelang.jpg

Jembatan Barelang menjadi lokasi berswafoto yang menarik. Menjadi background foto termahal di dunia 🙂 Foto koleksi pribadi penulis.

Dimana letak kesalahannya? Mari kita mencoba menjawabnya dari kacamata manajemen keuangan. Dalam kaca mata ini, terdapat pertanyaan paling mendasar. Asset apa yang harus dibeli? Ini adalah sebuah pertanyaan investasi yang sangat menentukan. Pertanyaan yang akan menentukan nasib sebuah satuan atau entitas ekonomi pada masa yang akan datang. Pertanyaan yang akan menentukan maju mundurnya kondisi ekonomi seseorang, sebuah keluarga, sebuah perusahaan, sebuah pulau, sebuah kabupaten, sebuah propinsi, negara, atau organisasi apapun.

Jawaban yang tepat terhadap pertanyaan mendasar ini akan meningkatkan nilai (finansial) sebuah entitas ekonomi. Sebaliknya, jawaban yang salah akan menurunkan nilai (fiinansial) sebuah entitas ekonomi. Paling tidak, kesalahan akan mengakibatkan nilai (finansial) sebuah entitas ekonomi stagnan. Tidak naik dan tidak turun.

Jembatan pulau Penang di Malaysia adalah contoh yang tepat. Dengan jembatan laut sepanjang lebih dari 15 km ini, Pulau Penang menjadi menyatu dengan Semenanjung Malaysia. Kesatuan yang ditunjang dengan berbagai kelebihannya sebagai sebuah pulau kecil, Penang maju pesat. Harga tanah melonjak jauh lebih mahal dari tanah di Semenanjung Malaysia. Universiti Sains Malaysia (alamamater Yusril Ihza Mahendra) yang berlokasi di kawasan Minden, Pulau Penang, tampil sebagai salah satu perguruan tinggi ternama berkelas dunia. Menjelang ramadhan tahun 2005 saja, saya merasakan kepadatan dan kemacetan lalu lintas di atas jembatan spektakuler ini pada jam pulang kerja. Pemerintah Malaysia pun sudah mulai mewacanakan untuk membangun dua jalur tambahan sepanjang jembatan untuk menampung arus kendaraan yang makin padat.

Dalam skala perusahaan, kesalahan menjawab pertanyaan ini pernah dilakukan oleh sebuah perusahaan operator telepon seluler ketika akhir dekade 90-an mengusung teknologi AMPS. Perusahaan yang mengoperasikan telepon seluler dengan nomor awalan 082 ini akhirnya harus gigit jari ketika teknologi AMPS kemudian kalah dengan teknologi GSM yang hingga kini berada di puncak kejayaan.

Pada awal kemunculannya, sebuah handphone dengan teknologi AMPS laku dijual dengan kisaran harga Rp 20 juta. Begitu muncul GSM sebagai teknologi baru yang lebih bagus dan jauh lebih murah, harga handphone berbasis AMPS pun jatuh. Saya masih ingat betul karena sempat membeli handphone AMPS pada saat-saat akhir kehidupan perusahaan ini dengan harga tidak sampai 1 % harga awal. Berbagai upaya pemasaran akhirnya tidak mampu menjaga kelangsungan hidup perusahaan ini. Ujung-ujugnya bangkrut. Investasi pun melayang.

Dalam level individu atau keluarga, Anda akan dengan mudah mencari contoh. Mike Tyson, si petinju leher beton, bisa menjadi contoh. Uang milyaran rupiah yang diperoleh dari hasil bertanding sebagai juara dunia sejati tidak dibelanjakan dengan tepat. Tidak bisa meningkatkan nilai finansial dari asset-asset yang dimiliki diri dan keluarganya. Bahkan kini ia menghadapi berbagai permasalahan termasuk utang-utangnya yang menggunung pada saat “leher beton”nya sudah tidak laku lagi

Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah suramadu.jpg
.Pembaca yang baik, pada saat ini di di negeri kita telah dibangun sebuah jembatan laut terpanjang di dunia bernama Suramadu. Betul, terpanjang di dunia. Tentu saja bukan terpanjang bentangannya karena jembatan yang menghubungan Surabaya dan Pulau Madura ini hanya sekitar 5,5 km. Hanya sepertiga Jembatan Pulau Penang yang 15,5 km. Tetapi, Jembatan Suramadu tetap yang terpanjang di dunia. Terpanjang masa pembuatannya. Desain sudah dibuat sejak tahun 90 dan baru selesai pada tahun 2009 alias butuh waktu hampir 20 tahun.

Tepatkah investasi “jembatan terpanjang di dunia” versi Indonesia ini? Yaa…semoga saja. Kita tunggu apa yang akan terjadi pada pulau Madura. Yang lebih penting bagi Anda, cermatlah dalam menjawab pertanyaan mendasar manajemen keuangan. Cermatlah dalam membeli aset (baca: berinvestasi). Jangan mencontoh Jembatan Berelang! Jangan mencontoh handphone AMPS! Jangan mencontoh Mike Tyson! Contohlah Jembatan Pulau Penang! Apa yang akan Anda beli?

Tulisan Iman Supriyono ini pernah dimuat di majalah Oase, terbit di Surabaya tahun 2011 dengan judul “Suramadu: Jembatan Laut Terpanjang di Dunia”

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca juga catatan perjalanan inspiratif lainya:
Jamaah Salahuddin: Intangible Asset
Sudu: Miri Municipal Council
Manokwari: Menang Tanpa Pesaing
Moscow: Korporasi USA
Osh: Pasar Tradisional Kyrgistan
Uzbekistan: Agar Rupiah Laku Dimana-Mana
Ho Chi Minh: Kota Tanpa Mal
Pnom Penh: Hyundai
Makkah: Koperasi KPF
Singapura: Totalitas Melayani
Kuala Lumpur: TKI
Anjing Bangkok: Sahabat atau Musuh
Khao San Road: 7 Pagi 11 Malam
Palembang: Kewaspadaan Korporat
Nha Hang: Hijrah Tumbuh Berpresati
Tanjung Selor Tarakan: Cessna Grand Caravan
Simpadan Ligitan: Tuban

 

“Terpaksa” Waralaba


Jam sebelas lebih sekian Air Asia sudah mendarat di Ngurah Rai. Terbang dari Bangkok dengan jadual tepat waktu. Karena mau pulang ke Surabaya, saya harus menunggu pesawat lanjutan. Masih cukup lama. Check in belum dibuka. Maka…saya pun mencari cari tempat yang paling pas untuk menunggu.

Setelah mengamati kondisi sekitar…segeralah saya menemukan tempat yang kelihatanya menarik. Sebuah gerai ayam goreng populer dimana mana. Kentucky Fried Chiken alias KFC. Saya pun segera mengambil tempat duduk dan menyalakan lap top. Dengan lap top yang hidup, saya bisa bertahan duduk berjam jam tanpa jenuh sedikitpun. Cocok untuk menunggu pesawat lanjutan yang belum tentu tepat waktu.

Karena saat itu hari pertama ramadhan dan saya sedang berpuasa, sebenarnya saya tidak butuh makanan atau minuman apapun. Saya sudah makan sahur cukup kenyang di bandara Swarnabhumi di Bangkok sesaat sebelum chek in. Masih cukup energi untuk bertahan sampai buka puasa sore harinya. Tetapi saya sungkan. Masak duduk di KFC berjam jam sama sekali tidak membeli sesuatu. Akhirnya saya pun antri di counter untuk memesan dua potong ayam goreng dengan satu botol air minum dalam kemasan. Sekotak ayam goreng dan sebotol air minum saya taruh begitu saja di meja dekat lap top sampai ceck in buka. Saat berada di taksi dari juanda menuju rumah…adzan magrip pun tiba….saatnya menikmati ayam goreng dari Ngurah Rai.

♦♦♦♦

San Bernardino, California, akhir 1940-an. Dick and Mac McDonald sedang mencari cara untuk mengembangkan restorannya yang tiap tahun telah menghasilkan USD 200 ribu. Dalam pencariannya, ia menemukan sebuah konsep yang sama sekali baru. Konsep yang berbasis kecepatan layanan, volume besar dan harga murah. Jika orang lain pada umumnhya menjual burger dengan harga 30 sen, McDonald menjual dengan harga separohnya saja. Hanya 15 sen.

Strategi baru McDonald tepat. Restonya menjadi makin ramai. Ketika itu, tidak aneh bila 150 an orang antri mendapatkan layanan restoran yang kemudian juga dikenal dengan sebutan McD ini. Kisah tentang keberhasilan ini menyebar ke seantero negeri. Dengan dimuatnya kisah keberhasilan McD pada artikel utama majalah American Restaurant tahun 1952, ada sekitar 300 permintaan waralaba dari seluruh negeri. Neil Fox adalah yang beruntung terpilih sebagai terwaralaba (franchisee) pertama McD. Waralaba pertama ini kemudian menjadi model bagi pengembangan waralaba selanjutnya.

Perkembangan McD pesat sejak Ray Krok, seorang salesman berusia 52 tahun mendirikan McDonald’s System, Inc. Perusahaan besutan Krok ini adalah pemegang ekslusif hak franchisee McD. Sebuah perusahaan dengan motor seorang sales yang tidak pernah berhenti mencari produk unggulan. Bahkan ketika sudah berada pada usia yang kebanyakan orang sudah lebih suka untuk pensiun dan bersantai di rumah.

Menurut laporan keuangan tahunan terakhirnya, McD memiliki 31 967 outlet yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Dari jumlah itu, 6 502 outlet dimiliki sendiri, sedangkan 31 25 465 outlet dioperasikan orang lain dalam bentuk waralaba. Dengan kata lain, dari 6 outlet McD yang diambil secara acak, 5 diantaranya adalah milik orang lain melelui skema waralaba. Satu banding lima.

Bagaimana hasil duitnya? Total omset outlet waralaba adalah sebesar USD 54 Milyar alias sekitar Rp 540 Trilyun. Dari omset yang kira kira seperti seluruh pajak yang diterima pemerintah RI dalam setahun ini, berapa yang mengalir ke kantong McD sebagai pemilik merek? Laporan keuangan 2008 menyebut angka USD 6,9 Milyar alias sekitar Rp 69 Trilyun. Jadi, itulah pendapatan yang diterima McD dari 25 ribu lebih outlet waralabanya di seluruh penjuru dunia.

Mungkin Anda membayangkan betapa enaknya McD. Tidak usah investasi, tidak usah repor repot mengoperasikan. Cukup “tempel merek” dan Rp 69 Trilyun mengalir tiap tahun. Benarkah demikian? Tentu tidak semudah itu. McD harus tetap menjaga agar kualitas dan standar layanan di seluruh outlet itu sama. Tentu ini membutuhkan biaya. Bahkan ketika yang dilakukan hanya sekedar berkunjung saja ke outlet outlet, itupun sudah membutuhkan biaya besar.

Tapi, apa memang waralaba benar benar enak? Coba kita bandingkan dengan outlet yang dimiliki dan dikelolanya sendiri. Dari 6 ribu lebih outlet yang dimiliknya, McD memperoleh pendapatan USD 16,5 Milyar alias Rp 165 Trilyun. Jadi, walaupun outlet sendiri hanya berjumlah 1/5 outlet waralaba, tetapi pendapatannya lebih dari 2 kali lipat pendapatan outlet waralaba. Atau dengan kata lain, pendapatan warlaba adalah sekitar 1/3 dari pendapatan total McD.

♦♦♦♦

Pembaca yang antusias, mungkin Anda kemudian bertanya. Kalau memang ternyata pendapatan waralaba relatif kecil dibanding pendapatan dari outlet sendiri, mengapa McD tetap mengembangkan outlet waralabanya? Bahkan bukan hanya McD. KFC tempat saya duduk santai menunggu pesawat di Ngurah Rai juga merupakan outlet waralaba. Pemilik mereknya adalah Yum! Brand yang bermarkas di Amerika. Terwaralabanya adalah PT Fast Food Indonesia yang bermarkas di Jakarta.

Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah mc-donald-resto-pertama.jpg

Tentu ada juga nilai lebihnya. Banyaknya outlet yang menyebar ke seluruh penjuru dunia akan menjadi promosi tersendiri. Semua orang dari berbagai penjuru dunia mengenalnya. Ketika perut lapar di Hougang Plaza Singapura dan mencari tempat makan misalnya, saya tidak mengenal restoran apapun kecuali KFC. Maka, tanpa ragu saya langsung menuju KFC dan memesan ayam goreng. Inilah efek marketing yang saya rasakan dan dikehendaki oleh para pemilik merek restoran waralaba global.

Jadi, di dunia ini tidak ada sesuatu yang sempurna. Segala sesuatu pasti punya kekurangan dan kelebihan. Kita sebagai manusia begitu. Perusahaan juga begitu. Waralaba sebagai sebagai sebuah metode bisnis pun begitu. Ada kekurangan dan kelebihan.

Pertanyaannya, kapan sebuah sebuah merek bisnis mesti diwaralabakan? Ada beberapa catatan penting. Waralaba pertama hanya boleh dibuka saat Anda sudah pernah membuka beberapa outlet dan tingkat kegagalanya masih bisa ditolerir. Misal saja Anda sudah membuka 10 outlet. Dari outlet tersebut 3 diataranya sepi dan kemudian ditutup. Maka berarti ada risiko kegagalan 30%. Artinya, dari sebuah outlet baru yang Anda dirikan, peluang keberhaslannya adalah 70%. Angka ini harus Anda beritahukan kepada calon terwaralaba agar dia bisa menghitung tentang untung ruginya membuka outlet waralaba merek Anda. Jika menurutnya angka kegagalan 30% ini masih bisa ditolelir, maka transaksi bisa dilanjutkan.

Bagaimana untuk outlet outlet waralaba selanjutnya? Ada baiknya Anda belajar dari Starbucks, raja waralaba warung kopi yang juga dari Amerika. Prinsipnya, Starbucks hanya membuka outlet waralaba bila “terpaksa”. Artinya, jika perusahaan masih punya modal atau bisa pinjam bank dan tidak ada kendala teknis, maka membuka outlet sendiri menjadi prioritas utama. Yang dimaksud kendala teknis ini misalnya adalah aturan undang undang di sebuah negara yang tidak memperbolehkan dibukanya restoran oleh perusahaan asing. Jika demikian, solusinya adalah mencari partner lokal yang bisa membuka outlet dengan sistem sewa merek alias waralaba.

Kendala teknis misalnya juga bisa berasal dari otoritas bandara. Terkadang, otoritas bandara tidak mengijinkan pihak lain membuka restoran di wilayahnya. Jika demikian kondisinya, maka Starbucks akan mempersilakan pihak bandara membuka sendiri gerai kopinya. Starbucks cukup menyewakan mereknya melalui skema waralaba. Waralaba menjadi sarana untuk tetap berkembang dalam kondisi apapun. Majuuuu!

Tulisan Iman Supriyono ini pernah dimuat di majalah Yatim, terbit di Surabaya, tahun 2011

Artikel ke-390 karya Iman Supriyono ini ditulis di SNF Consulting House of Management pada tanggal 11 November 2022

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Atau ikut KELAS KORPORATISASI

Baca juga:

Modal Alfamart Mengejar Indomaret
Modal Murah Mitra Keluarga Menyalip Siloam
Pedal Gas Revenue and Profit Driver
RPD Sebagai Faktor Kali
RPD Sebagai Peredam Risiko Investasi Wakaf
Giant Tutup: Sulitnya Menemukan Kembali RPD
Deep Dive Sang CEO Mengamankan RPD
RPD Sebagai Salah Satu Tahap Corporate Life Cycle

Belajar Ke Luar Negeri: Meneladani Nabi



Hotel Sheraton Surabaya di suatu pagi ramadhan. Hari itu di hotel mewah ini sedang berlangsung seleksi tahap kedua calon penerima beasiswa SMA dari kementerian pendidikan Singapura. Saya datang mengantar si sulung. Ada sekitar seratus lima puluhan anak peserta. Bersaing untuk memperebutkan beasiswa tingkat SMA dari negeri kecil kaya ini. Uang sekolah, asrama, makan, uang saku, tiket dari surabaya ke Singapura pergi pulang semua gratis.

Ada yang menarik dari tes ini. Di sore hari ketika menjemput si sulung, saya tanya ini dan itu, termasuk tentang sholatnya. Panitia memberi waktu istirahat antara jam dua belas sampai jam satu siang. Karena sedang puasa, waktu istirahat sepenuhnya dipakai untuk sholat di mushola hotel. Saat saya tanya tentang berapa peserta tes yang sholat, jawabnya menarik. Hanya ada 6 anak yang sholat dhuhur. Tidak sampai 10%. Padahal bulan ramadhan biasanya orang cenderung lebih rajin sholat.

Setelah saya pelajari asal usul anak-anak yang pagi itu mengikuti tes, saya mendapatkan jawaban sangat logis. Sebagian besar peserta tes tersebut berasal dari sekolah nasrani. Tentu mereka tidak ikut puasa ramadhan. Tentu mereka tidak sholat. Sesuatu yang wajar.

♦♦♦♦♦

Jalan Mayjend Sungkono Surabaya di suatu pagi. Bersama si sulung saya sedang mencari SMA di luar negeri. Di jalan yang berlokasi di Surabaya barat ini terdapat kantor Edlink, agen berbagai sekolah dan perguruan tinggi luar negeri. Hasilnya? Nihil. Melengkapi ketidakberhasilan atas upaya mencari sekolah sebelumnya. Bahkan saya sudah pernah keliling dari satu sekolah ke sekolah di negeri singa. Tetap gagal.

Ada banyak kendala. Salah satu kendala yang pasti muncul adalah masalah administrasi antar negara. Student pass. Pernah misalnya si sulung sudah mengikuti tes di sebuah sekolah Islam di Singapura. Tes lolos. Begitu mengurus student pass, yang ada adalah kegagalan. Pemerintah setempat tidak memberikan ijin kepada si sulung untuk bersekolah di negerinya. Memang ada  murid luar negeri di sekolah itu, tetapi mereka adalah anak-anak yang orang tuanya berada di Singapura. Sekolah dengan visa dependend.  Berbeda dengan sulung saya yang orang tuanya tidak di Singapura.

Edlink yang memang sudah berpengalaman mengirim para pelajar ke luar negeri punya banyak alternatif sekolah. Tetapi ada sebuah kendala teknis yang tidak mungkin ditembus. Sekolah-sekolah di luar negeri yang diageni Edlink pada umumya tidak memperbolehkan muridnya memakai jilbab. Sesuatu yang wajar karena pada umumnya yang diageni adalah sekolah sekolah non  muslim. Tentu anak saya tidak bisa masuk karena sehari-hari ia berjilbab.

♦♦♦♦♦

Dua peristiwa kecil di atas menggambarkan tentang kecilnya animo pelajar muslim terhadap pendidikan luar negeri. Untuk kasus di Edlink, barang kali bisa dimaklumi karena alasan biaya mahal. Tetapi tentu hal ini tidak berlaku untuk suasana di Hotel Sheraton. Semua biaya gratis. Tetapi kenapa tidak banyak pelajar muslim yang tertarik dan mengikuti seleksi ini?

Saya makin bersedih manakala membaca sejarah nabi SAW. Pada umur 12 atau 13 tahun, beliau sudah belajar ilmu dagang di Syam. Sekitar 2000 km meninggalkan negeri asalnya di Makkah. Memang ketika itu Muhammad SAW muda tidak belajar di sekolah formal.  Tidak ada sekolah formal ketika itu. Yang ada adalah sekolah alam. Sekolah masyarakat. Belajar berdagang langsung dari masyarakat.

Saya makin tercengang karena ketika itu Makkah jauh lebih maju dari pada Syam. Makkah adalah pusat kebudayaan dunia. Mengapa harus belajar di sebuah negeri yang kalah maju? Hikmah yang sungguh luar biasa. Belajar ke luar negeri telah menjadi bagian penting dari sejarah kehidupan calon pemimpin dunia akhirat ini. Bahkan di negeri yang kurang maju sekalipun. Di luar negeri Muhammad SAW kecil belajar perdagangan, budaya, bahasa, lingkungan, kekuatan fisik menghadapi para penyamun di padang pasir, keahlian ilmu astronomi memprediksi cuaca padang pasir agar tidak terjebak badai gurun yang ganas, dan sebagainya. Semuanya dilakukan pada usia 12 atau 13 tahun.

Malangnya, umat Islam hari ini tidak terlalu tertarik meneladaninya. Edlink yang lebih banyak melayani para pelajar non muslim bukan masalah deskriminasi. Memang tidak ada pelajar muslim yang tertarik sekolah ke luar negeri. Justru orang-orang non muslim yang meneladani nabi SAW. Tiap tahun ribuan orang belajar di berbagai negara. Ada yang dengan beasiswa. Sebagian besar tetap dengan biaya sendiri.

Sebegitu mahalkah sekolah di luar negeri? Pengalaman si sulung bisa menjadi perbandingan. Kini ia menempuh pendidikan di kelas 5 alias kelas terakhir di sebuah Sekolah Menengah swasta Islam di Johor Bahru Malaysia. Di negeri jiran ini, SMP dan SMA menjadi satu dengan nama sekolah menengah selama 5 tahun. Biaya uang pangkal di Sekolah Menengah Islam Hidayah di Johor Bahru adalah sekitar MYR 1750. Tidak sampai Rp 6 juta. Biaya bulanan (SPP, makan, asrama) adalah MYR 625. Tidak sampai Rp 2 juta. Biaya tiket pesawat surabaya Johor pada hari-hari biasa tidak sampai Rp 1 juta pergi pulang. Biaya pembelian buku pelajaran pada awal semester lengkap sekitar MYR 300. Tidak sampai Rp 1 juta rupiah. Bandingkan dengan uang pangkal di sekolah-sekolah Islam favorit di tanah air. Sekedar Contoh, uang pangkal SMP berasrama (boarding school) Nurul Fikri di Serang, Banten, adalah sekitar Rp 14 juta. Meneladani Nabi, bisa kan?

tulisan ini pernah dimuat di majalah Yatim, terbit di Surabaya.

Partai Pecel Aja: Vico-Badak


Suatu pagi di Mass Hall Vico Muara Badak, Kalimantan Timur. Matahari masih bersembunyi ketika para karyawan perusahaan gas dan minyak ini bergegas makan pagi. Pertengahan April 2009 saya ikuti ritme ini sebagai tamu. mengisi perut berpagi pagi untuk engeri berkarya seharian.

Setelah melalui mesin scanner verifikasi masuk ruang makan, saya melihat macam macam-menu yang tersedia. Yang segera menarik hati adalah pecel. Kecambah, kacang panjang, kubis, peyek, dan tentu saja sambel pecel. Menu kecintaan. Hanya orang madiun dan sekitarnya saja yang merasakan kecintaan ini.

Saya lihat banyak juga karyawan Vico yang memilih menu ini. seorang karyawan yang persis duduk di kursi sebelah saya harus ganti piring baru untuk menu ini. Menu di piring pertama telah dilahapnya. Sebuah piring baru diambilnya untuk mengambil pecel seperti yang ada di piring saya. Ternyata pecel menjadi faforit juga di Vico.

■■■■■

Dulu, 2 lembar pasfoto 3×4 cm dalam sebuah amplop cukup untuk melamar sebuah pekerjaan. Itu dulu ketika pengangguran belum marak. Ketika belum ada lebih dari 1,1 juta lulusan pendidikan tinggi yang menganggur. Dulu sekali.

Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah parte-pecel.jpg

Kini, jaman telah berubah. Hampir setiap sisi kehidupan berubah. Teknologi misalnya, telah menjadikan apa apa yang dulu terasa jauh menjadi dekat. Jarak ribuan kilometer bisa ditempuh dalam waktu singkat. Telekomunikasi murah juga menjadikan orang yang terpisah jarak ribuan kilometer bisa ngobrol dengan murah meriah. Begitu dekatnya sehingga orang orang yang berjauhan menjadi asyik berkomunikasi dan melupakan orang orang yang secara fisik berdekatan. Mendekatkan yang jauh. Menjauhkan yang dekat.

Salah satu perubahan itu adalah dalam hal lamaran kerja. kini, dibutuhkan ribuan foto ukuran 3 x 4 meter dengan berbagai pose untuk mendapatkan perkerjaan. Foto itu pun tidak lagi cukup dimasukkan amplop atau map. Melainkan harus dipajang di jalanan dan tempat tempat strategis agar bisa dilihat banyak orang. Orang orang inilah yang kemudian akan memberi “pekerjaaan” dengan menyontreng si pemilik foto pada saaat pemilihan umum.

Begitu tingginya minat “pencarian pekerjaan” melalui foto foto besar ini seampai sampai semua enegi tercurah kesana. Para aktivis pemuda di kampus maupun di luar kampus berbondong bondong masuk ke dunia politik. tingkat persaingan perebutan kursi jabatan politik sangat tinggi. Minat masuk ke dunia bisnis dan kewirausahaan sangat rendah.

■■■■■
Menurunkankan syahwat politik masyarakat dan kembali kerja kerja kerja! inilah visi Parte Penggemar Nasi Pecel Indonesa, PPNPI. Menggelorakan semangat bekerja. Semangat berkarya. Semangat membangun kesejahteraan masyarakat.

Tentu saja PPNPI bukan sebuah partai sebenarnya. PPNPI hanyalah sebuah partai anekdot. PPNPI tidak pernah terdaftar di KPU. Murni anekdot. Itu pun anekdot saya sendiri. Anekdot untuk melawan arus pemikiran masyarakat yang menjadikan politik sebagai panglima. Menjadikan politik sebagai sesuatu yang mendapatkan perhatian luar biasa.

Sementara itu sebenarnya masyarakat lebih membutuhkan konsentrasi ekonomi. konsentrasi membangun kesejahteraan. Sesuatu yang tidak mungkin dicapai tanpa kerja keras dan curahan perhatian ekstra.

Ingat! Kemampuan rata rata masyarakat indonesia dalam membangun kesejahteraan sangat rendah. Jika diukur dengan product domestic bruto per kapita, 25 orang Indonesia baru setara dengan satu orang Amerika. Tiga belas orang Indonesia baru setara dengan satu orang Israel. Dua puluh orang Indonesia baru setara dengan satu orang Singapura. Bahkan kita berada di bawah negara negara yang mungkin Anda pun tidak mengenalnya: bhutan, samoa, tonga, dan Congo.

Maka, mari bekerja keras. Jangan gunakan pasfoto 3×4 meter untuk “melamar” pekerjaan. Bahkan jangan lagi melamar pekerjaan. Sudah terlalu banyak pengangguran di negeri ini. enam puluh persen sarjana menganggur. Itulah judul sebuah berita di Harian Kompas januari lalu. Maka….mari bekerja keras untuk membangun ekonomi. Agar jutaan sarjana pengangguran itu bisa bekerja dan ijazahnya tidak sia sia. Turunkan syahwat politik, alihkan pada gairah membangun ekonomi negeri. Partai? PPNPI aja deh! Seperti di kantin Vico itu lho…hehehehe

Tulisan ini pernah dimuat di majalah Muslim, terbit di Surabaya

Baca juga
Haruskah Pengusaha Masuk Politik?
Perusahaan Nasionalis Pancasilais
Korporasi Pejuang Bangsa
Politisi Full Time dan Nafkahnya
Bank Pengibar Merah Putih di 18 Negara

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Atau ikut KELAS KORPORATISASI

Guru Goblok Ketemu Murid Goblok: Dua Puluh Tahun untuk Si Cumlaude


Minggu lalu saya hadir pada acara peluncuran sebuah buku. Mission Ini Possible. Itulah judul buku yang menjadi “pemeran utama” acara ini. Sebuah buku yang lahir dari pengalaman pribadi penulisnya. Pengalaman malang melintang Misbahul Huda dalam bisnis percetakan nasional.

Bukan seperti peluncuran buku pada umumnya. Peluncuran kali ini benar benar dikemas serius. Disiarkan oleh JTV. Penuh hiburan. Tidak kurang dari dalang wayang suket Slamet Gundono. Dalang humoris yang tiap minggu mengisi kolom wayang di Jawa Pos dengan nama pena Slametg.

Saya diundang dengan sebuah tugas sederhana: mengajukan pertanyaan. Sebagaimana layaknya peluncuran buku, tentu acara ini juga ada sesi diskusi. Tanya jawab seputar isi buku. Karena kemasan acaranya didesain penuh daya tarik, maka pertanyaannya pun harus menarik. Wajib menarik.

Sebuah permintaan yang menyenangkan. Memang, setiap ikut diskusi, seminar, atau forum apapun, saya selalu mewajibkan diri untuk mengajukan pertanyaan menarik. Pertanyaan yang memacu kreasi penjawab. Pertanyaan yang menjadikan forum lebih hidup. Saat di bangku sekolah pun, saya pegang kuat kuat sebuah prinsip. Seorang guru atau dosen tidak akan saya biarkan berlalu dari depan kelas kecuali sudah saya beri sebuah pertanyaan.

Setalah Pak Huda memaparkan bukunya, saya pun mencari-cari ide. Apa kira kira pertanyaan yang menarik. Munculah sebuah gagasan. Selama acara terungkap bahwa si penulis yang mengundang saya adalah sarjana elektro UGM yang lulus dengan predikat cumlaude. Otaknya encer bangeeets.

Menariknya, ia selalu menekankan tentang proses pembelajarannya yang panjang. Belajar pada seorang guru sekaligus Sang Bos: Dahlan Iskan. Belajar mulai dari dari nol dua puluh tahun lalu hingga menjadi direktur utama PT Temprina Media Grafika dan PT Adiprima. Masing masing adalah perusahaan percetakan dan produsen kertas grup Jawa Pos beraset bilangan Triliun dengan ribuan karyawan.

Dua puluh tahun? Ya. Apa hasilnya? Pak Huda menyatakan bahwa ia pun baru berani memberi angka 95 untuk prestasinya. Belum 100. Inilah sebuah kontradiksi menarik. Seorang cumlaude teknik elektro dari perguruan tinggi besar paling senior di tanah air membutuhkan waktu 20 tahun untuk menangkap pelajaran dari gurunya. Pertanyaannya: siapa yang “goblok”, gurunya atau muridnya? Dua puluh tahun amat?

Karena kebetulan Sang Guru juga hadir sebagai pembahas, pertanyaan ini dijawab sekaligus oleh keduanya. Murid-guru yang sama sama maniak pecel madiun. Jawabanya juga sangat menarik. Si murid menjawab bahwa begitulah perbedaan antara belajar teori (di kampus) dan belajar praktek (membangun perusahaan dari nol hingga berkelas nasional). Belajar teori cepat, belajar praktek tentu jauh lebih lambat. Sang Guru menjawab bahwa dirinyalah yang “goblok”. Ia mendidik tak terstruktur. Mendidik tanpa metode seperti yang diajarkan di fakultas pendidikan.

Pembaca yang antusias, beginilah memang proses membesarkan sebuah perusahaan. Butuh waktu lama. Bahkan lama bangeeeets. Nestle butuh waktu 142 tahun untuk menyajikan Dancow, Nescafe, Carnation, Susu Cap Nona, dan lain lain seperti yang bisa Anda nikmati saat ini. Gerhard Philips butuh waktu 118 tahun untuk bisa memenuhi kebutuhan aneka lampu listrik bagi warga seluruh seluruh dunia sejak merintis usahanya pada 1891 di Eindhoven Negeri Belanda. Liem Seeng Tee butuh waktu 95 tahun untuk menyajikan Djie Sam Soe dan A Mild sejak merintisnya di Surabaya pada tahun 1913. Berpuluh puluh tahun dan bahkan ratusan tahun dengan ketekunan dan fokus luar biasa. Anda sudah fokus? Anda sudah berapa tahun?

Tulisan ini pernah dimuat di majalah Matan, terbit di Surabaya