Uang Kasur Uang Kasir Pak Sis


Sebut saja PT DEF. Sebuah perusahaan makanan klien SNF Consulting, kantor konsultan dimana saya beraktivitas.  Sebagaimana perusahaan lain, setelah penandatanganan perjanjian menjadi klien, saya pun mengikuti rapat direksi rutin bulanan. Seperti biasa juga, rapat-rapat awal selalu bicara tentang arah masa depan perusahaan. Wajar karena memang yang saya ikuti adalah rapat direksi. Sesuai nama, direksi itu menentukan direction alias arah perusahaan. 

Pisahkan uang kasir dan uang kasur

Saya suka memicu visi besar klien pada saat rapat awal seperti ini. Saya sampaian tentang bagaimana sejarah tumbuh kembang perusahaan-perusahan yang kini menguasai pasar dunia. Memperhatikan milestone lengkap dengan aspek keuagannya. Menjadi benckmark proses tumbuh kembang perusahaan.

Puncaknya adalah menjadi apa yang disebut sebagai fully corporatized company. Korporasi sejati. Cirinya ada 3. Pertama menguasai pasar lebih dari 100 negara sehingga tahan terhadap risiko politik karena rata-rata omzet dari tiap negara tidak lebih dari 1%. Kedua tidak ada lagi pemegang saham pengendali sehingga semua dijalankan sesuai sistem. Tidak ada raja. Ketiga jika membutuhkan modal untuk ekspansi, investor mau diberi imbal hasil 2-3% per tahun. Perusahaan yang bukan hanya mejadi sekedar tempat mencari duit. Lebih dari itu, menjadi sarana membangun manfaat yang seluas-luasnya bagi sesama tanpa pandang sekat bangsa maupun agama. Menjadi sarana beribadah.

Setelah itu, rapat berikutnya adalah tentang sistem manajemen. Yang selalu menjadi bahasan dasar adalah sistem akuntansi. Nah, di poin ini PT DEF amburadul. Akuntan tidak pernah bisa membuat laporan yang memadai. Mengapa? Karena sang bos tidak bisa memisahkan antara uang pribadi dangan uang perusahaan. Uang perusahaan diambil untuk membeli banyak aset pribadi. Mustahil akuntan bisa bekerja.

Selamat jalan Pak Sis. Terima kasih atas segala kebaikanmu. Ridho Ilahi membersamaimu. Surga untukmu. Aamin yaa Rabb

Maka, agenda rapat bulan-bulan selanjutnya adalah perbaikan masalah dasar ini. Langkah-langkah menuju perubahan sudah diputuskan.  Siap dilaksanakan. Tetapi sayang, keputusan rapat selalu gagal dieksekusi karena sang bos tidak berubah. Uang pribadi dan uang perusahaan tetap camput. Singkat cerita, proses konsultasi pun berhenti. Tidak ada gunanya keputusan rapat sebagus apapun jika tidak ada eksekusi.

&&&

Ada uang kasur. Ada uang kasir. Untuk sukses, seorang pengusaha harus mampu memisahkan keduanya. Itu adalah nasihat super penting dari Almarhum Pak Marmin Siswoyo, saya memanggilnya Pak Sis. Sebuah bahasa yang sangat memudahkan siapa saja untuk menangkapnya.

Jika nasihat itu diterjemahkan secara operasional, maka PT DEF pada awal tulisan ini tidak akan menghentikan proses konsultasi. Konsultan bisa menjadi sparting partner tim direksi PT DEF untuk membangun sistem akuntansi yang akurat untuk pengambilan keputusan stratejik.

Tapi apa boleh buat. Terlalu berat untuk meninggalkan kebiasaan lama. Kebiasaan yang menghasilkan banyak aset properti pribadi dari hasil laba perusahaan. Perusahaan sekedar menjadi sapi perah. Tidak bisa tumbuh mengikuti corporate life cycle menjadi perusahaan sejati sebagaimana deskripsi di atas.

Jika nasihat Pak Sis ini dijalankan, itu akan menjadi pintu untuk melaksanakan nasihat Pak Sis berikutnya “Jika Anda memelihara ayam dan bertelur, jangan nikmati telur itu. Biarkan menetas menjadi banyak ayam”. Uang perusahaan adalah “telur” yang harus “menetas” untuk pertumbuhan eksponensial perusahaan. Seperti Pak Sis yang bisnis telur ayamnya juga tumbuh membesar.

Pembaca yang baik, ada uang kasir. Ada uang kasur. Pisahkan secara tegas. Demikian nasihat dahsyat mantan ketua PDM Kabupaten Blitar yang telah berpulang Nopember 2021 ini. Mari  kita praktikkan nasihat yang kerap disampaikan di berbagai kesempatan itu. Allahummarhamhu. Agar bisnis tumbuh menjadi korporasi sejati. Agar bisa meneladani kedermawanan Pak Sis yang luar biasa. Agar menjadi amal Jariyah. Aamin.

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Bacaan-bacaan pemicu amal jariyah Anda
Wakaf Korporat
Peredam Risiko Investasi Wakaf
Wakaf Modern Untuk Keabadian Amal & Kemerdekaan Ekonomi
Konversi Kotak Infaq ke Kotak Wakaf
Kesalahan Wakaf Saham Dan Perbaikannya
Wakaf Untuk Beasiswa: Fulbright Dari Timur
Wakaf Moncer dengan Puasa Infaq
Wakaf Para Alumni untuk Adik Kelasnya
Wakaf Agar Rp 10 Triliun Tidak Melayang Tiap Tahun
Wakaf Uang
Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Umat dan Bangsa
Korporatisasi: Asal Muasal

Artikel ke-357 karya Iman Supriyono ini ditulis sebagai obituari untuk Pak Marmin Siswoyo, mantan ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Blitar. Tulisan ini juga dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya, edisi Desember 2021

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s