Karyawan Yang Bikin Bos Kerja Keras: Bisnis Bukan Sekedar Mencari Uang


Karyawan Yang Bikin Bos Kerja Keras

Oleh: Iman Supriyono
Konsultan dan penulis buku2 bisnis pada SNF Consulting, http://www.snfonculting.com

Awal Ramadhan ini saya kedatangan tamu dari luar kota. Tidak ada yang istimewa dengan tamu ini. Kecuali, ia adalah seorang nasrani.. Sebagaimana layaknya tamu, saya harus menjamu. Termasuk untuk makan siang. Menarik. Orang puasa menjamu orang tidak puasa.

Menjamu makan siang saat sedang puasa sering saya lakukan saat puasa sunnah. Kemana? Warung-warung pada tutup. Setelah mencari-cari, pilihan jatuh sebuah kafe di komplek Toko Buku Petra Togamas, Pucang, Surabaya. Tamu saya yang tidak puasa ini memang sahabat lama bos jaringan toko buku yang mulai menasional dengan 14 outlet ini. Terjadilah sebuah pertemuan segi tiga yang gayeng: tamu luar kota yang nasrani, Pak Johan si bos Togamas yang juga nasrani, dan saya yang puasa.

Nikmat sekali. Begitu nampaknya mereka berdua menikmati kopi hangat. Karena sedang puasa dan kebetulan memang bukan peminum kopi, saya hanya senang melihat mereka berdua merasakan kenikmatan kopi. Menikmati pemandangan kawan yang menikmati kopi.

Terjadilan perbincangan panjang (kali) lebar (= luas….). Topiknya beragam. Tetapi, karena kami bertiga adalalah orang yang dipertemukan melalui dunia buku, sedikit-sedikit pembicaraan selalu kembali ke…. buku.

■■■■
Suatu sore di ruang meeting sebuah toko dan service komputer di Shah Alam. Ada sesuatu yang menarik seusai pembicaraan tentang kerjasama bisnis. Seorang karyawan perusahaan kecil ini tampak berjalan santai menuju tempat parkir. Perempuan muda berkerudung ini pulang kerja dengan sedan proton baru.

■■■■
Bagaimana memiliki perusahaan yang para karyawannya mampu pergi pulang kantor bermobil bagus? Itulah pertanyaan menarik yang jawabnya saya temukan dari Pak Johan, bos jaringan toko buku nasional 14 outlet ini. Jawaban ini juga sekaligus menjadi pemicu luar biasa bagi kawan kawan para entrepreneur untuk maju.

Bersama Cak Johan Budhie Sava: Tetap kerja keras untuk sukses seluruh karyawan

Sebenarnya, dari kacamata kebutuhan finansial individu, nampaknya Pak Johan sudah tidak perlu lagi kerja keras untuk mengumpulkan uang. BMW mulus pun selalu menjadi teman di perjalanan.

Togamas Terus Tumbuh Luar Biasa: Karya Tak Kenal Henti Cak Johan Budhie Sava

Lalu mengapa harus tetap bekerja keras? Saya bisa berhenti, tetapi karyawan saya tidak. Itulah jawaban Pak Johan. Maksudnya, para karyawan tentu punya keinginan untuk naik mobil bagus seperti wanita berkerudung karyawan toko komputer di Shah Alam tadi. Bahkan mereka juga pada pingin punya rumah cukup bagus tidak jauh dari tempatnya bekerja. Kalau kerjanya di Surabaya, jangan sampai rumanya di Surabaya Coret. Jauh dari Surabaya.

Bagaimana caranya? Tentu gajinya harus tinggi. Caranya? Tidak ada lain kecuali toko buku harus berekspansi. Dengan cara ini akan banyak karyawan yang mendapatkan promosi jabatan. Staf biasa menjadi supervisor. Supervisor menjadi kepala toko, dan seterusnya. Ini hanya mungkin kalau Togamas berkembang. Selalu menambah jumlah outlet. Selalu tumbuh omset penjualannya. Inilah yang membuat Pak Johan tidak bisa berhenti. Asyik bekerja keras. Agar para karyawan bisa punya rumah di kota dan naik mobil bagus. Bos merasa nikmat. Karyawan merasa nikmat. Yang melihatpun nikmat. Senikmat menyaksikan kawan nasrani minum kopi di kafe Petra Togamas di hari hari puasa. Bagaimana perusahaan Anda?

Tulisan ini pernah dimuat di majalah Matan, terbit di Surabaya, juga menjadi bagian dari buku karya ke 7 penulis, “Guru Goblok Ketemu Murid Goblok”

Phnom Penh – Ho Chi Minh: Hyundai


18022012(048)

Bersantai di tepi sungai Mekong, Phnom Penh

Sopaco Tourist. Itulah operator bus yang saya pilih untuk perjalanan dari Phom Penh pagi itu. Seperti jadual yang tertera di tiket, jam 10 pagi bus telah siap untuk mengantarkan para penumpang menuju Ho Chi Minh City. Sengaja saya memilih perjalanan lewat darat untuk bisa menyaksikan secara langsung dua negeri komunis bertetangga ini: Kamboja dan Vietnam.

Begitu berada di depan bus, hati saya berbisik: andai saja saya pemegang paspor Korea Selatan, tentu saya bangga sekali saat itu. Mengapa? Bus yang akan saya naiki berlogo Hyundai. Ya…Hyundai menjadi merek yang sangat banyak dijumpai berkeliaran di jalan-jalan negeri pagoda ini. Bus yang akan saya tumpangi pagi ini adalah salah satu dari yang banyak itu. Tentu saya tidak bangga karena saya bukan orang Korea Selatan.

•••

Jika Anda berada di luar negeri, tentu akan merasakan betapa sulitnya menemukan sesuatu yang bisa membanggakan dari negeri tercinta ini. Orang jepang dengan mudah menemukan Honda, Toyota, Sony, Mistubishi, Ajinomoto, dan masih banyak lagi di berbagai negeri. Orang Amerika dengan mudah menemukan McDonalds, KFC, Ford, Chevrolet, Microsoft, Intel, Boeing, Citibank dan masih banyak lagi. Banyak sekali bangsa bangsa besar yang sukses menjadikan produknya digemari di berbagai penjuru dunia. Lalu Indonesia bagaimana? Kita justru sering harus malu karena negeri ini dikenal di berbagai negara di dunia sebagai sumber tenaga kerja kasar buruh pabrik dan pembantu rumah tangga. Rasanya tidak mungkin untuk memembanggakannya di berbagai penjuru dunia.

Bus Hyundai Phom Penh – Ho Chi Minh City: Bikin Orang Korea Bangga di Negeri Orang

Di Kamboja dan Vietnam saya menemukan Hyundai di berbagai penjuru jalan raya. Bus, sedan, MPV, atau minibus bermerek Hyundai dengan mudah bisa ditemukan di jalan-jalan. Bagaimana caranya? Ini yang menarik untuk dipelajari. Korea masuk ke menyeruak ke pasar mobil global dalam kondisi Barat (Eropa, Amerika) dan Jepang yang sudah sangat digdaya. Yang menarik adalah bagaimana Korea bisa mencari celah untuk menundukkkan dunia.

Barat menguasai pasar mobil bermesin mewah bermesin besar. Volkswagen asal Jerman tampil luar biasa kuat diantaranya dengan merek merek Audi, Bentley, Bugatti, Lamborghini dan Porsche yang sangat terkenal sebagai mobil ber cc besar. Harganya pun sangat premium. General Motor asal negeri paman sam tampil diantranya dengan Cadillac dan Chevrolet yang juga sangat melegenda. Toyota? Saya kira saya tidak perlu menjelaskan lebih detail lagi. Barat kokoh di pasar mobil mobil ber cc besar. Jepang raja untuk mobil ber cc kecil. Mereka adalah raksasa raksasa otomotif global yang begitu digdaya. Lalu…masih adakah peluang untuk pemain baru seperti Korea?Ternyata Korea sangat cerdik melihat peta persaingan industri mobil. Korea tidak melihat melihat dari cc besar atau cc kecil dari raksasa otomotif yang sudah ada. Korea meilhat barat dan Jepang sebagai raksasa otomotif dengan produk tahan lama. Dipakai 20 tahun pun mobil barat dan Jepang masih tetap dalam kondisi prima. Tentu usia yang didesain panjang mengandung konsekuensi harga yang juga mahal. Celah inilah yang ditangkap korea: mobil dengan desain usia pendek dan demikian harganya pun murah. Ya…Korea unggul karena mobilnya murah hasil dari desain umur ekonomis yang hanya sekitar 5 tahun.

srikaya vietnam

Srikaya jumbo di pasar Benh Tanh  HCMC

Peta persaingan ini misalnya bisa dilihat dari sedan Toyota Vios dan Hyundai Avega. Keduanya adalah sedan kelas kecil dengan kapasatas mesin sekitar 1,5 liter. Sebagai produk standard Jepang, Vios akan tetap nyaman dikendarai sampai usia belasan bahkan dua puluh tahun. Bagaiman dengan Avega? Usia lima tahun pastilah lampu depannya sudah tidak bening lagi. Cat nya pun dijamin sudah pudar! Tetapi ternyata Avega menyeruak. Avega laris manis. Mengapa? Karena harganya yang juga hanya separuh harga Vios yang lebih dari Rp 200 juta. Avega tidak jauh dari Rp 100 juta.

Apakah konsumen tidak melihat umurnya yang hanya bertahan 5 tahun sebagai kelemahan? Ini jaman baru. Jaman milenial. Jaman dimana tekonologi dan selera desain masyarakat selalu berkembang dan berubah dengan cepat. Maka, mudah sekali mencari orang yang tiap dua atau tiga tahun ganti mobil. Inilah pasar Avega. Bagaimana hasilnya? Hyundai menjadi produsen mobil terbesar nomor 4 dunia dibelakang Toyota, General Motor dan Volkswagen. Orang korea pun bangga kalau pergi ke berbagai penjuru. Vietnam, Kamboja, Amerika, Indonesia dan masih banyak lagi.

logo tag line korporatisasi animasi awan

Korporatisasi: Hyundai membiayai ekspansinya ke berbagai negara dengan dana murah yang diperoleh melalui proses korporatisasi

Negeri ini perlu cerdik dan bekerja keras agar kita bisa bangga kalau suatu saat berada di luar negeri. Mengibarkan Sang Merah Putih di berbagaai bangsa.  Demikian juga Anda dalam bisnis dan kehidupan pada umumnya. Cerdik mencari celah seperti yang dilakukan oleh Hyundai. Seperti yang pagi itu saya nikmati melalui Sopaco Tourist dari Phom Penh dan tiba sebelum magrib di Ho Chi Minh City Kita pasti bisa!

*)Artikel ini ditulis oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting dan pernah dimuat di majalah Matan, terbit di Surabaya dengan judul “Phnom Penh-Ho Chi Minh”

Merger & Akuisisi: Air Mata Haru untuk Ann Nixon Cooper


“Pemilu kali ini memiliki banyak hal baru luar biasa yang akan dikenang oleh generasi anak cucu. Tetapi malam ini ingatan saya justru tertuju pada seorang perempuan di sebuah TPS di Atlanta. Sekilas perempuan ini juga tidak berbeda dengan jutaan orang lainnya yang antri berbaris menunggu giliran mencoblos. Kecuali suatu hal. Perempuan itu, Ann Nixon Cooper, telah berusia 106 tahun. Ia lahir pada jaman perbudakan. Zaman ketika belum ada mobil di jalan raya dan pesawat terbang di langit. Zaman ketika seseorang seperti dirinya tidak dapat mencoblos dengan dua alasan. Karena ia seorang wanita dan karena warna kulitnya……..”

“Amerika telah melalui perjalanan panjang. Tetapi masih banyak hal yang harus dikerjakan. Maka paad malam ini, mari bertanya pada diri kita sendiri. Andai saja anak anak kita kelak dikaruniai umur seabad lebih. Andai saja anak-anak saya dikarunia umur seperti Ann Nixon Cooper. Perubahan seperti apa yang akan mereka saksikan? Kemajuan seperti apa yang akan kita buat?….”

■■■
Itulah terjemahan potongan satu satunya pidato presiden yang menjadikan saya terharu. Menitikkan air mata. Serius. Perlu Anda ketahui, saya tidak termasuk orang yang melankolis. Jarang sekali air mata mengalir. Apa lagi untuk sebuah pidato dari seorang presiden negeri yang sering bikin hati dongkol. Pidato presiden negeri saya sendiri, Bung Karno, Pak Harto, Pak Habibie, Gus Dur, Bu Mega, dan Pak SBY, belum ada yang berhasil melelehkan air mata. Mengapa justru pidato Obama?

Ada banyak alasan. Tetapi, kisah tentang Ann Nixon Cooper yang dipakai Obama untuk menjelaskan tentang sebuah perubahan dari abad ke abad itulah yang sangat menyentuh. Perubahan dari sebuah negeri perbudakan, pelecehan terhadap wanita, perang antara penduduk asli Indian dengan kulit putih asal Eropa, menjadi sebuah negeri dengan ekonomi terkuat dunia.

Secara orang per orang, kemampuan warga amerika mencari duit berada pada urutan ke 12. Menurut IMF, mereka rata rata bisa mencari duit sekitar sebesar Rp 40 juta per kepala per bulan. Qatar misalnya jauh mengungguli Amerika. Petrodollar ini berada di urutan ke 3 dengan sekitar Rp 80 juta per kepala per bulan. Amerika juga kalah dengan Denmark, Swedia, Swiss, dan Belanda. (Indonesia? Hanya sekitar Rp 1,5 juta perbulan).

Lalu, mengapa Amerika jadi negara terkaya dunia? Tidak lain adalah karena Amerika berpenduduk 301 juta orang. Bandingkan dengan Qatar yang hanya 800 ratusan ribu orang. Tidak genap satu juta. Maka, kumpulan kemampuan 301 juta orang di Amerika mampu menjadikannya sebagai negeri terkaya dengan Produk Domestik Bruto lebih dari USD 13 Triliun. Kumpulan dari ranking ke 2-5 yaitu Jepang, Jerman, Cina dan Inggris baru setara dengan Amerika. Itulah gambaran kekuatan negeri kecintaan Ann Nixon Cooper.

Semangat menggalang kekuatan bisa kita adopsi di dunia bisnis. semangat bergabung, bersatu, alias merger. Nestle misalnya, sepanjang sejarah perjalanan 142 tahun sejak berdiri berkali kali melakukannya. Nestle kini adalah hasil merger dengan beberapa perusahaan sejenis secara bertahap. Anglo-Swiss Condensed Milk Co, Peter Cailler Kohler Chocolats Suisses S.A., Maggi, dan Ursina-Franck adalan beberapa perusahaan yang telah merger dengan Nestle yang kini beromzet lebih dari Rp 900 triliun per tahun ini.

ann nixon cooper

Ann Nixon Cooper: Inspirasi untuk merger dan akuisisi

Sebagai gambaran, Muhammadiyah di Jawa Timur punya lebih dari 900 sekolah, puluhan perguruan tinggi, puluhan rumah sakit, ratusan unit koperasi jasa keuangan mikro syariah BTM dan BPR dan masih banyak lagi. Belum lagi secara nasional. Sayang selama ini masih terpisah-pisah walaupun tentu sudah ada koordinasi. Andai saja ada merger, akan ada sebuah rumah sakit dengan unit layanan luas di berbagai daerah. Tentu dengan satu rekening bank sehingga kekuatan finansialnya menjadi sangat besar. Akan ada koperasi BTM besar tidak kalah dengan bank besar.

Carrefour Indonesia: Menjadi terbesar dengan akuisisi dan merger Alfa Gudang Rabat

Bagaimana caranya? Dua atau lebih badan hukum bisnis bisa melebur menjadi satu dengan mekanisme merger. Atau yang lebih sederhana: perusahaan yang lebih besar membeli saham mayoritas dari perusahaan yang lebih kecil alias melalui jalan akuisisi. Cara ini misalnya pernah dilakukan oleh Carrefour Indonesia dengan membeli saham mayoritas PT Alfa Retailindo pemilik jaringan supermarket Alfa Gudang Rabat. Setelah dibeli, brand Alfa Gudang Rabat kemudian diubah menjadi Carrefour. Dimerger! Dengan cepat, Carrefour menjadi ritel terbesar di tanah air melalui akuisisi Alfa Gudang Rabat.

Apa keuntungan bagi Alfa group? Alfamart langsung melejit menjadi jaringan minimarket terbesar di tanah air setelah dana segar dari Carrefour dikucurkan. Yang besar dijadikan kecil kecil dalam jumlah jauh lebih banyak. Konsentrasi pada minimarket dengan menjual supermarket. Transaksi akuisisi yang menjadikan baik Carrefour maupun Alfamart menjadi terbesar.

Alfamart: menjadi yang terbesar pada bisnis minimarket setelah akuisisi dan merger sister company-nya, Alfa Gudang Rabat, oleh Carrefour Indonesia

Anda mungkin sudah sangat tertarik untuk Merger dan Akuisisi. Pertanyaannya…terus uangnya dari mana? Pemegang saham dari perusahaan yang dibeli bisa memasukkan dananya ke perusahaan yang lebih besar sebagai modal disetor baru. Semacam tukar guling saham untuk membentuk sebuah perusahaan yang lebih besar. Tentu dengan menyelesaikan segala urusan administrasi, legalitas dan pajaknya.

Merger dan akuisisi akan mempermudah jalan sebuah perusahaan menjadi terbesar. Super power. Seperti Nestle. Seperti Amerika. Ini tentu saja juga berlaku untuk perusahaan milik Anda para pengusaha. Mari merger! Mari akuisisi! Anda akan merasakannya! Seperti apa yang dirasakan Ann Nixon Cooper yang melelehkan air mata haru. Coba renungkan: Andai dikarunia umur panjang 106 tahun, Anak Anda akan merasakan perkembangan seperti apa? Adakah titik air mata haru karenanya? Nampaknya kita harus ikut semboyan Obama: Yes We Can! Akuisisi kita bisa! Merger kita bisa!

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya, dengan tambahan dan editing seperlunya.

Konglomerat: Memperkuat atau Melemahkan Negeri?


Apa yang ada di benak Anda begitu mendengar seseorang disebut sebagai konglomerat? Saya yakin, banyak dari Anda yang kemudian membayangkan sebagai orang kaya raya. Memang seperti inilah gambaran tentang konglomerat yang selama ini beredar. Konglomerat adalah orang kaya raya. Pengusaha sukses yang uangnya banyak, mobilnya mewah, rumahnya besar di tempat yang sangat strategis, perusahannya banyak.

Begitu hebatnya seorang konglomerat, sampai-sampai orang membayangkan betapa senangnya menjadi seorang konglomerat. Bukan hanya kekayaan yang menyenangkan. Betapa banyaknya konglomerat yang kemudian dengan mudah mendapatkan posisi strategis di pemerintahan. Apalagi pada jaman reformasi. Terbuka akses bagi siapa saja untuk menjadi pejabat politik termasuk bagi para pengusaha. Sesuatu yang dulu tidak pernah terjadi. Lengkaplah sudah gambaran betapa hebatnya seorang konglomerat.



Di buku “Anda Jago Kandang Atau Kelas Dunia?”, tulisan ke-8 saya, Anda bisa membaca gambaran tentang 2000 perusahaan terbesar dunia versi Forbes. Ada beberapa hal menarik. Salah satunya adalah tentang industri yang digeluti oleh perusahaan perusahaan tersebut. Yang dimaksud industri dalam dunia bisnis adalah kumpulan perusahaan-perusahaan yang berbisnis dengan bidang yang sama. Bukan industri dalam pengertian pabrik atau perusahaan yang memproses bahan baku menjadi bahan jadi.

Terdapat 26 industri. Masing-masing adalah aerospace & defense, banking, business services & supplies, capital goods, chemicals, conglomerates, construction, consumer durables, diversified financials, drugs & biotechnology, food markets, food, drink & tobacco, health care equipment & svcs, hotels, restaurants & leisure, household & personal products, insurance, materials, media, oil & gas operations, retailing, semiconductors, software & services, technology hardware & equip, telecommunications services, trading companies, transportation, dan utilities.

brosur merger akuisisi1

Merger dan akuisisi adalah salah satu layanan stratejik dari SNF Consulting

Dari 26 industri tersebut, semuanya menggambarkan sebuah bidang bidang tertentu. Anda tentu dengan mudah menangkap apa yang dimaksud dengan arospace & defence misalnya. Tentu dengan mudah Anda bisa membayangkan bahwa Boeing atau Airbus berada di industri itu. Anda juga bisa dengan mudah membayangkan bahwa Marloboro berada pada indusri drink & tobacco. KFC berada pada industri restourants & leisure.

Yang menarik adalah kelompok conglomerates. Apa maksudnya? Tidak lain adalah perusahaan yang bergerak pada bermacam-macam bidang. Contoh perusahaan pada kelompok ini adalah General Elecrtic. Perusahaan yang didirikan pertengahan abad lalu oleh Thomas Alpha Edison ini bergerak di bidang-bidang antara lain: produksi bola lampu merek GE sejak ditemukan oleh edison, mesin pesawat, lokomotif, peralatan medis, kartu kredit, pembiayaan barang industri, televisi (CNBC) dan masih banyak lagi. Berbagai macam bisnis dimasukinya. Inilah yang dimaksud conglomerates dalam daftar 2000 perusahaan terbesar dunia versi Forbes ini. Lengkapnya terdapat 42 perusahaan alias 2,1 % dari 2000 perusahaan yang masuk dalam kelompok conglomerates Lainnya, yaitu, 958 perusahaan alias 97,9% perusahaan bergerak pada satu bidang tertentu.

Logo SNF Consulting dengan tagline korporatisasi efek star

Korporatisasi adalah layanan orisinil SNF Consulting

Ternyata, mayoritas perusahaan terbesar dunia bukanlah konglomerat. Mereka memilih satu bidang saja kemudian ditekuni dan diekspansikan ke seluruh dunia. Contoh yang sangat familiar dengan siapa saja adalah Yum Brands yang berbisnis puluhan ribu restoran bernama KFC, Pizza Hut dan A&W di seluruh dunia termasuk Indonesia. Hanya berbisnis restoran tetapi assetnya sekitar Rp 150 trilyun beroperasi 24 jam di seluruh dunia. Inilah jalan 97,9 % perusahaan kelas dunia versi Forbes

konglomerat juga: tukang semir sepatu dan pengasong  yang juga menyewakan payung saat hujan 🙂

Bagaimana konglomerat di negeri ini? Sebutan konglomerat untuk setiap pebisnis sukses adalah sebuah kesalahan. Di tingkat global hanya 2,1 % yang konglomerat. Di negeri ini pun tidak semua pengusaha sukses adalah konglomerat. Konglomerat bukan jalan para kelas dunia. Konglomerat bukan jalan untuk menjadikan produk dan merek negeri ini menyebar ke seantero dunia. Maka….jangan sebut lagi setiap orang kaya sebagai konglomerat. Agar pengusaha negeri ini tidak hanya menjadi jago kandang. Agar resotoran-restoran di negeri ini tidak tertarik untuk menjadi konglomerat dan “mempertahankan” kekalahan menghadapi KFC, Pizza Hut dan A&W yang spesialis. Bayangkan betapa banggannya bila bepergian ke luar negeri di negara manapun kita menjumpai produk dan merek ngeri ini berkibat tinggi. Pengangkat harga diri negeri.

Bagaiman jika sudah terlanjut menjadi perusahaan konglomerasi? Saatnya untuk berenah diri. Saatnya untuk mengibarkan Sang Merah Putih tinggi-tinggi. Caranya? Lakukan tranformasi menjadi investment company.

tranformasi konglomerasi menjadi investment company3

Transformasi dari konglomerasi menjaadi investment company adalah salah satu layanan SNF Consulting berbaasis konsep korporatisasi

Investment company adalah perusahaan yang pendapatannya murni dari dividen dan capital gain. Tidak ada pendapatan dari menjual produk berupa barang atau jasa seperti pada operating company. Fokusnya pada value. Perusahaan seperti ini lah yang kemudian akan mampu menyelesaikan penguasaan start up dan unicorn lokal oleh asing. Saatnya membangun negeri. Saatnya mengibarkan sang merah putih di berbagai penjuru dunia. Hubungi SNF Consulting untuk tranformasi dari konglomerasi menjadi Investment Company. Anda spesialis atau konglomerat?

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Baca juga:
Korporatisasi Langkah Demi Langkah
Perusahaan Dakwah
Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Umat dan Bangsa
Korporatisasi: Asal Muasal

*)Artikel ini ditulis oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting,  pernah dimuat di majalah Matan, terbit di Surabaya, lalu ditambah dan diedit kembali oleh penulis. 

Koperasi Rp 9 Ribu Triliun: Rabobank


Rek ayo rek…mlaku-mlaku nang Tunjungan….. Lagu suroboyoan ini menjadi catatan sejarah bahwa dulu Jalan Tunjungan adalah tempat perbelanjaan utama Surabaya. Toko aneka kebutuhan berderet-deret.

Kini memang agak bergeser. Tunjungan center yang pada akhir tahun 80-an sangat ramai sekarang ditinggalkan konsumen. Siola dan Toko Nam juga sudah tutup.

Jalan Tunjungan memang masih menjadi jalan protokol. Tetapi, aktivitas bisnis dan belanjanya sudah berkurang. Tunjungan Plaza yang sampai sekarang masih menjadi salah satu simbol kawasan belanja utama tidak terletak di Jalan Tunjungan walaupun masih di kawasan itu juga.

Jalan Tunjungan adalah simbol perjuangan. Juga simbol sejarah kota. Sayang sekali bila kemudian menjadi kawasan mati. Maka, kita harus berterima kasih kepada mereka-mereka yang masih setia meramaikan jalan legendaris ini.

rabo bank

Koperasi Bisa: Rabobank Koperasi Kelas Dunia Aset 9 ribu Triliun

Di Jalan Tunjungan kini masih berdiri kokoh hotel Majapahit. Hotel yang dulu bernama Yamato ini adalah saksi sejarah perjuangan Bangsa. Dulu, Arek-arek Suroboyo pernah menyobek warna biru pada bendera Belanda merah putih biru menjadi merah putih.Hotel Majapahit tetap setia menjaga jiwa Jalan Tunjungan. Dari dulu sampai sekarang. Termasuk mempertahankan bentuk bangunannya.

Kita juga harus berterima kasih kepada Rabobank. Bersama hotel Majapahit, Rabobank adalah salah satu kantor yang turut berperan dalam mengisi geliat Jalan Tunjungan hingga saat ini. Rabobank? Ketika saya menyebut nama ini dalam diskusi di situs perkawanan dunia maya Facebook, banyak yang sambil berkelakar menyatakan bahwa Rabobank tentu tidak jauh berbeda dengan Bank Selasa, Bank Kamis, Bank Minggu dan sejenisnya. Mirip-mirip dengan Pasar Minggu, Pasar Senen, Pasar Rabu yang masing masing hanya buka pada hari Minggu, Senin dan Rabu. Lokal banget.

Pembaca yang antusias, bila pendapat Anda tentang Rabobank juga seperti itu, Anda keliru. Rabo Bank bukan perusahaan lokal. Rabobank adalah sebuah bank yang berasal dari Negeri Belanda. Bank kelas dunia dengan aset secara global sekitar Rp 9 000 Triliun Rupiah. Bisa membayangkan? Jika seluruh bank di Indonesia bergabung menjadi satu dan dikalikan 4, barulah setara dengan aset Rabobank. Jadi, aset seluruh bank di Indonesia hanyalah seperempat dari aset Rabobank. Benar-benar raksasa.

♦♦♦

Menurut UUD 45 sebagai landasan berdirinya negeri ini, koperasi diposisikan sebagai institusi ekonomi yang paling direkomendasikan. Dalam desain Bung Hatta sebagai bapak koperasi dan para konseptor negeri ini, koperasi adalah bentuk badan usaha yang dianggap paling sesuai dengan jati diri bangsa.

Lalu apa hubungan koperasi dengan Rabobank? Koperasi tidak bisa dipisahkan dari Rabobank. Kenapa? Karena Rabobank telah membuktikan bahwa koperasi tidak seperti citra masyarakat saat ini. Koperasi bisa menjadi sesuatu yang ideal sebagaimana konsep para pendiri bangsa ini. Rabobank adalah bank raksasa global yang berasal dari dua koperasi.

Sejarah bermula ketika pada tahun 1989 di Negeri Belanda berdiri The Coöperatieve Centrale Raiffeisen-Bank in Utrecht dan the Coöperatieve Centrale Boerenleenbank in Eindhoven. Keduanya adalah koperasi yang menyadari akan pentingnya sinergi untuk menghadapi persaingan bisnis global. Maka, pada tahun 1972 keduanya bergabung (merger) menjadi Rabobank. Nama Rabo diambil dari nama depan keduanya (Raiffeisen dan Boerenleenbank).

Kekuatan sinergi inilah yang kemudian terbuktikan di panggung bisnis global. Dengan ekspansi terus- menerus, Bank koperasi ini telah beroperasi di 46 negara di dunia. Indonesia adalah salah satu negeri yang dilayani bank berkaryawan lebih dari 60 ribu orang ini. Maka….jika suatu saat Anda melalui jalan Tunjungan Surabaya, lihatlah ke kanan jalan. Pandanglah Rabobank dan ingatlah Semangat Koperasi Bung Hatta. Setelah itu lihat ke kiri sampai di Hotel Majapahit ingatlah semangat juang arek-arek Suroboyo. Sayang sekali yang tampil adalah koperasi dari Belanda. Koperasi kita? Ayo!

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Baca Juga: Mengapa koperasi kita kerdil?

Tulisan ini adalah salah satu bagian inspiring box pada buku “Anda Jago Kandang atau Kelas Dunia?”, karya ke-8 penulis

Ternyata Aku Jago Kandang – Dari Pendahuluan Buku “Anda Jago Kandang atau Kelas Dunia”


Ternyata Aku Jago Kandang

oleh Iman Supriyono
-Dari Pendahuluan Buku “Anda Jago Kandang atau Kelas Dunia?”, Karya ke-8 Penulis-

Suatu pagi di awal tahun 78. Hari itu adalah pertama kali saya masuk sekolah. SD Negeri Kaliabu I, Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun. Kawan-kawan sudah duduk di bangkunya masing-masing. Saya sendiri yang belum. Hati saya begitu galau.

Suasananya asing. Seperti inikah sekolah yang sebelumnya saya rindukan? Saya stress. Berdiri sendirian di antara kawan-kawan yang sudah pada duduk. Saya pun memutuskan untuk pulang kembali ke rumah sambil membawa sepotong jagung rebus yang saya beli dari pedagang di depan sekolah. Tak terasa…air mata meleleh. Sebuah kegagalan penyesuaian diri di lingkungan baru pada hari pertama sekolah.

Iman saat SMP, duduk di baris depan, nomor 3 dari kanan

Iman saat SMP, duduk di baris depan, nomor 3 dari kanan

Setiba di rumah ibu terkejut. Buah hatinya pulang sebelum waktunya. Lebih terkejut lagi ketika mendapati air mata membasahi pipi. Ada apa gerangan. Anak laki-laki kok menangis.

Saya jelaskan apa yang terjadi. Masih dengan linangan air mata. Dengan penuh empati, ibu segera mengantarkan saya kembali ke sekolah. Membantu buah hatinya menghadapi permasalahan yang tak sanggup ditanggungnya sendiri.

Tiba di sekolah ibu menuju ruang guru. Menghadap seorang ibu guru. Dijelaskannya apa yang dialami buah hatinya. Dijelaskan juga tentang “kecengengan” buah hati laki-lakinya. Ibu minta tolong bu guru untuk masalah si buah hatinya.

Singkat kata, saya diantar masuk ke dalam kelas. Dengan keberadaan ibu dan ibu guru, dengan mudah saya mendapatkan bangku. Duduk berdua dengan seorang kawan. Ibu meninggalkan kelas setelah memastikan buah hatinya tidak ada lagi masalah di lingkungan barunya

Hati saya bertanya. Tadi saya begitu sulit mendapatkan tempat duduk. Kini, bersama ibu dan ibu guru, mengapa semuanya jadi begitu mudah? Betapa lemahnya diri ini.

Hari pertama di sekolah memang berat. Air mata menjadi saksi. Hari-hari selanjutnya tentu tidak seperti hari pertama. Akrab dengan satu demi satu kawan di kelas. Penyesuaian demi penyesuain terjadi. Hasilnya? Setiap menerima raport saya selalu juara kelas!

Luar biasa. Itulah perasaan yang berkecamuk di dada saya setiap mendapatkan penghargaan atas prestasi akademik. Saya juara! Saya jagoan! Mengalahkan semua kawan-kawan di kelas! Kawan-kawan yang pada hari pertama sekolah mengacuhkan saya dan membuat saya menangis.

Benar-benar hebatkah? Hahaha…. jangan bayangkan ini sebuah kehebatan. Saya merasa hebat murni karena adanya mental jago kandang. Menjadi jago dengan tingkat persaingannya tidak ketat. Menjadi jagoan di sebuah SD yang para muridnya selalu bertelanjang kaki di sekolah. SD yang jika muridnya akan buang hajat harus pergi ke sungai. SD yang sangat sederhana. Menjadi jagoan di kandang yang sempit. Jago kandang!

Saya bersyukur karena setamat SD berkesempatan masuk SMP. Teman-teman SD lebih banyak yang tidak berkesempatan seperti saya. Inilah yang menghentikan kesombongan saya. SMP Negeri 1 Caruban adalah tempat berkumpulnya para juara dari SD-SD di beberapa kecamatan. Maka, saya jauh terkalahkan oleh kawan-kawan yang berasal dari kota.

Anda Jago Kandang atau Kelas Dunia - Buku ke 8 Iman Supriyono

Anda Jago Kandang atau Kelas Dunia - Buku ke 8 Iman Supriyono

Bahkan mungkin saya benar-benar nampak sebagai anak udik. Ndesit dalam bahasa Jawa. Jika musim hujan, tiba di sekolah hampir selalu dalam keadaan kotor setelah bergelut di jalanan berlumpur hampir 6 kilometer. Saya pun menjadi bahan olokan kawan-kawan. Menjadi bulan-bulanan.

Bukan hanya masalah lumpur. Olokan kawan-kawan merembet ke mana-mana. Apapun yang ada pada diri saya menjadi bahan olokan. Benar-benar membuat saya down.

Suasana seperti hari pertama di SD kembali saya rasakan. Tangisan kegalauan itu muncul lagi walaupun air mata tidak menetes. Tangisan di dalam hati. Tega-teganya mereka mengolok-olok seperti itu.

Segala sesuatunya berubah saat saya kelas 2. Prestasi akademik mulai membaik. Percaya diri juga tumbuh dengan ikut karate. Puncaknya….. suasana berkembang seperti ketika di SD. Saat ujian akhir, saya mendapatkan ranking dua. Mengalahkan lebih dari 300 orang kawan seangkatan. Jago lagi!

SD dan SMP terlalui dengan penuh dinamika. Dari tangisan kejatuhan mental sampai menjadi juara. Menjadi jagoan. Bagaimana dengan SMA? Yang ini saya merasa lebih hebat lagi. Benar-benar jago. Selama tiga tahun selalu ranking atas. Di kelas 1 menjadi ketua kelas. Kelas 2 menjadi ketua OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) dan pimpinan redaksi majalah sekolah. Kelas 3 ketua kelas lagi. Sering ditunjuk mewakili sekolah dalam berbagai event. Tingkat kabupaten maupun propinsi. Selalu jagoan. Selalu menang. Dari hari pertama sekolah sampai lulus!

Sebagai pimpinan redaksi majalah sekolah, saya dipercaya oleh bapak-ibu guru untuk megang kunci ruang stensil. Majalah memang digandakan dengan mesin stensil. Padahal, semua soal yang akan diujikan juga selalu dicetak di ruang stensil. Artinya, bapak ibu guru percaya bahwa saya tidak akan berbuat curang dengan membaca soal-soal ujian di ruang stensil. Apalagi membocorkannya kepada orang lain. Sebuah gambaran sempurna tentang jagoan! Jago tingkat SMA

&&&

Lulus SMA, saya masuk ITS. Di kampus teknologi ini saya tersadar. Saya tidak ada apa-apanya. Memang saya pernah punya IP 3,11. Indeks prestasi yang ketika itu tertinggi no 2 di kampus. Tapi itu hanya sekali. Lainnya pas-pasan. Bahkan ada yang nol koma.

Di luar dunia akademik, prestasi aktivitas pun tak terlihat. Kegiatan kemahasiswaan yang saya geluti tidak sukses. Datar-datar saja. Dalam perenungan, saya menggugat diri sendiri. Mana Iman Supriyono yang dulu ketua OSIS? Mana Iman Supriyono yang dulu Pimred Majalah? Mana Iman Supriyono yang dulu ranking satu?

Satu sisi, renungan gugatan diri ini bisa dipandang sebagai bukti kekalahan. Bukti keterpurukan prestasi. Tapi sisi lainnya, itu adalah renungan keterbukaan. Tanda tentang makin luasnya cakrawala. Jauh lebih luas dari pada sebelumnya. Tidak lagi merasa jago. Apalagi ternyata hanya jago kandang.

Keluasan cakrawala adalah modal utama. Energi penting untuk bangkit. Berproses menuju kelas lebih tinggi. Kelas yang berisi “murid-murid” yang jauh lebih berkualitas. Kelas dunia.

Lain cita-cita, lain realitas. Cita-cita begitu tinggi. Realitas masih jauh dari harapan. Jauh dari kelas dunia. Tetapi, sesederhana apapun, proses pencapaian telah dimulai. Bendera telah dikibarkan. Makin lama makin dekat.

Perjalanan memang masih sangat panjang. Benar-benar panjang. Tetapi ketika pulang kampung dan berjumpa kawan-kawan SD, saya sangat bersyukur. Banyak kawan-kawan yang sampai saat ini masih berada di “kandang” yang sama. “Kandang” yang saya huni tiga puluh tahun lalu. Nyaris sama sekali tanpa perubahan.

Inilah hikmah. Energi jiwa yang menyala. Kekuatan baru yang muncul di antara tantangan berat dan rasa syukur. Tantangan berat untuk membawa SNF Consulting, kantor konsultan yang saya bangun, mencapai visinya. Menjadi kantor konsultan yang dipercaya peru
sahaan-perusahaan kelas dunia. Rasa syukur karena tidak lagi merasa sebagai jagoan. Jago kandang yang mengalahkan Paimin, Jari, Jani, Marsidi, Waimun, Darmiati, Mainah, Jinem, Sardi, Karmi, Sarimin, Wiji, Yatimun, Sarmat, Saiman, Waiman, dan kawan- kawan SD lainnya.

—-
Ingin membaca isi lengkap buku ini? Pesan langsung ke SNF Consulting melalui SMS ke 081 931 510 532 gratis ongkos kirim (syarat berlaku). Harga Rp 48 Ribu

Curhat: Kartini


Mengapa Kartini dipilih menjadi pejuang kesetaraan perempuan Indonesia? Ini adalah sebuah pertanyaan yang sering muncul di sebuah situs jejaring sosial internet yang saya gemari sekitar tanggal 21 april tahun lalu. Sebuah pertanyaan yang sangat wajar mengingat adanya beberapa catatan sejarah tentang para pejuang perempuan selain Kartini. Cut Nyak Dhien misalnya. Pejuang wanita ini ikut secara langsung melawan penjajah belanda. Keberanian dan jiwa kepahlawanannya bahkan melebihi kebanyakan para pria. Ia mendampingi Teuku Umar suaminya melawan penjajah. Saat sang suami gugur di medan laga ia meneruskan perlawanan itu walaupun dalam kondisi sakit sebelum akhirnya ditangkap Belanda. Pejuang dari Aceh ini jauh lebih nyata dalam upaya mensejajarkan kaumnya di hadapan kaum adam. Melihat fotonya saja saya sudah merasakan aroma keberanian dan ketegasan ini hidup luar biasa dari perempuan kelahiran tahun 1848 ini.

Ada lagi Malahayati. Tidak tanggun- tanggung, perempuan kelahiran 1585 ini adalah seorang pimpinan angkatan laut kesultanan Aceh semasa kepemimpinan Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah IV. Masa perjuangannya pun jauh sebelum Kartini lahir. Jika disetarakan dengan struktur kepangkatan angkatan laut modern saat ini, ia adalah seorang laksamana. Maka, Malahayati sudah benar-benar berjuang dalam penyataraan diri kaumnya terhadap pria. Bukan sekedar wacana, tetapi sudah berupa tindakan nyata. Bahkan hasil nyata.

kartini – habis gelap terbitlah terang

Masih ada Dewi sartika. Juga masih adai Nyai Walidah Ahmad Dahlan. Jika ditelusuri sejarah peranannya dalam peejuangan kaum perempuan, niscaya kita akan mendapatkan peran yang luar biasa dari kedua dan pahlawan nasional ini. Menurut saya jasanya secara riil bisa mengungguli Kartini

Lalu mengapa Kartini? Pikiran saya pun terus berputar untuk menemukan jawabannya. Dan….jawaban itupun akhirnya ketemu. Karena ini adalah murni hasil olah pikir saya sendiri, jawaban ini tentu bisa dinilai sangat subyektif.

Ada dua jawaban. Yang satu versi sangat santai dan satunya lagi cukup serius. Yang versi santai berhubungan dengan budaya kegemaran curhat orang Indonesia. Kartini dikenal karena surat-suratnya kepada beberapa sahabatnya kaum perempuan Belanda. Kalau dibaca dengan agak santai, surat-surat kepada Rosa Abendanon dan sahabat-sahabat lain itu isinya kurang lebih adalah sebuah curhat.

Dan….karena orang Indonesia gemar curhat (hehehe…. maaf….jika anda tidak setuju dengan pernyataan subyektif saya ini, berarti anda termasuk perkecualian… heheheh), maka Kartini disukai menjadi pahlawan emansipasi. Kartini suka curhat. Sesuatu yang tidak dilakukan okeh Malahayati, Dewi Sartika, Cut Nyak Dhien maupun Nyai Walidah Ahnad Dahlan. Hehehe….namanya saja pikiran subyektif dan santai Anda sangat diijinkan untuk tidak setuju.

Jawaban yang serius? Kartini diakui sebagai pahlawan emansipasi karena dia menulis. Yang ditulis memang hanya berupa surat pribadi. Surat kepada para sahabat. Tetapi, Sesederhana apapun, tulisan akan mengabadikan pemikirannya. Akan mengabadikan ide ide pencerahan yang diusungnya. Apalagi ide itu kemudian dibukukan. Mengalirlah pemikiran itu sampai’kapanpun. Saya senang terhadap jawaban ini karena saya dan Kartini sesama penulis….heheheh. Kartini menulis surat, saya menulis artikel, kolom media masa, dan buku. Sama-sama penulis.

Apalagi saya menemukan fakta yang menarik. Belum pernah ada orang yang membeli buku dan kemudian sengaja merusaknya. Kalaupun pembeli buku akhirnya tidak pernah membaca buku yang dibelinya karena sebuah alasan tertentu, dia tetap akan menyimpan buku itu di lemari atau rak yang terhormat di rumah atau kantornya. Suatu saat nanti akan ada saja orang yang melihat dan akhirnya tertarik untuk membacanya. Mungkin kawannya, anaknya, cucunya, tetangganya, anak tetanggnya, kawan anaknya atau yang lain. Pembaca inilah yang akan mengabadikan pemikiran si penulis. Dan ingat, tidak ada bangsa maju kecuali masyarakatnya gembar membaca. Iqro!

Maka…jika ingin pemikiran, gagasan atau pengalaman Anda diabadikan orang dari generasi ke generasi….menulislah. Bahkan sekalipun tulisan itu hanya sebuah surat pribadi atau curhat seperti yang dilakukan oleh Kartini. Jika tulisan itu menarik, nanti akan ada orang lain yang membukukannya. Jika kualitasnya bagus, pemikiran Anda akan menginspirasi banyak orang seperti Kartini. Atau paling tidak menginspirasi anak cucu Anda sendiri. Jika disertai niat iklas, Anda akan mendapatkan pahala yang pahalanya terus mengalir. Dan….jika buku itu laris terjual….anda akan mendapatkan royalti yang banyak. Mau curhat?

Tulisan ini pernah dimuat di majalah Baz, terbit di Surabaya

Hibiscus Rosa Sinensis: Kenapa Harus Konsultan Asing?


Dalam keterbatasan suasana pedesaan, hasrat akan keindahan selalu saja muncul. Sesuatu yang alami. Maka ketika pelajaran keterampilan home industry di bangku SMP mengajarkan cara mencangkok tanaman, hasrat keindahan itu seolah menemukan momentum. Pada hari yang telah ditentukan, kawan-kawan sekelas datang ke sekolah membawa hasil cangkokannya masing masing. Setelah dinilai oleh Pak Rijanto, guru keterampilan ketika itu, mereka pada bertukar hasil cangkokan. Berangkat saya membawa cangkokan jambu biji, pulang membawa pulang cangkokan bunga sepatu.

Hibiscus Rosa Sinensis di halaman rumah ibu inspirasi logo SNF Consulting

Cangkokan tanaman yang dalam bahasa latin disebut Hibiscus Rosa-Sinensis ini kemudian saya tanam di sudut halaman rumah. Karena tanahnya yang subur, tidak terlalu lama bunga warna merah segar mekar diantara dedaunan hijau berseri. Sebuah paduan warna yang sangat eksotis. Merah segar di tengah rerimbunan hijau berseri. Saya suka sekali menikmati keindahannya saat matahari mulai memancarkan sinarnya di pagi hari saat embun di sekujur bunga dan daunnya belum lagi kering. Sesuatu yang tetap sering saya lakukan bahkan ketika sudah era kamera digital. Saya sempat mengabadikan merah hijaunya dalam balutan embun dan sinar mentari pagi dengan fasilitas makro kamera digital saku. Keindahan yang nyaris sempurna.

•••

Boston Consulting Group adalah salah satu perusahaan konsultan manajemen terbesar di dunia. Entitas bisnis yang didirikan oleh Bruce D Henderson pada tahun 1963 ini saat ini menurut wikipedia beroperasi di 42 negara. Di Indonesia BCG berkantor di Sampoerna Strategic Square di kawasan prestisius Jakarta. Total BCG beroperasi dengan 70 kantor di berbagai kawasan prestisius dunia.

Masih menurut wikipedia, pada tahun 2010 BCG mengantongi omset USD 3,05 Milyar alias hampir Rp 30 triliun. Pendapatan itu diperoleh baik dari segmen perusahaan profit maupun dari organisasi non profit termasuk pemerintahan. Dengan pendapatan ini BCG mampu menjadi gantungan pijakan berkarir bagi lebih dari 4 500 konsultan manajemennya di seluruh dunia.

Di dunia bisnis konsultan, disamping BCG dunia mengenal nama nama besar seperti Arthur D. Little yang juga berasal dari Boston dan kini beroperasi di 20 negara dengan 1000 konsultan. Dunia bisnis juga tidak asing dengan nama Booz Allen Hamilton Inc., McKinsey & Company, Inc., PricewaterhouseCoopers, KPMG, Ernst and Young, dan Deloitte Touche Tohmatsu. Empat yang terakhir adalah perusahaan akunting yang kemudian juga masuk sektor konsultasi manajemen secara umum.

Itulah bisnis konsultasi manajemen. Kehadiran mereka dibutuhkan dalam percaturan manajemen modern, baik organisasi profit maupun non profit oriented.  Termasuk di tanah air. Perusahaan-perusahaan dan organisasi  besar negeri ini ketika membutuhkan konsultan, pastilah melirik mereka mereka. Mereka pun merespon dengan mendekati pasar. Membuka kantor di negeri ini. Bahkan di lokasi lokasi prestisius. Lambang prestisiusnya bisnis mereka. Jika kita berfikir tentang negeri ini, tentulah kita risau dengan dominasi mereka. Inilah salah satu yang melatarbelakangi lahirnya SNF Consulting, perusahaan konsultan tempat saya beraktivitas. Tidak ingin dominasi asing terus menerus mencengkeram sektor bisnis ini.

Korporatisasi

Korporatisasi adalah layanan unggulan SNF Consulting di tengah suasana bisnis di tanah air yang masih debt minded dengan tagline “untuk unggul dari generasi ke generasi”

Mas Iman mendirikan konsultan manajemen apa sudah berpengalaman mengelola perusahaan atau organisasi besar? Pertanyaan ini sering muncul dari kawan kawan tentang SNF Consulting, Saya biasanya menjawabnya dengan analogi pelatih tinju dan petinju. Siapapun pasti mengenal petinju legendaris Muhammad Ali. Ali tidak bisa menjadi juara dunia kecuali dengan latihan yang baik. Siapa dibalik latihan yang baik itu? Tidak lain adalah Angelo Dundee. Dia adalah pelatih tinju dibalik kesuksesan Ali. bahkan ia juga pelatih bagi para juara dunia lain: Sugar Ray Leonard, José Nápoles, George Foreman, Jimmy Ellis, Carmen Basilio, Luis Rodriguez dan Willie Pastrano. Dundee sendiri tidak pernah menjadi pemain tinju. Apalagi menjadi juara dunia kelas berat. Tetapi Dundee adalah pelatih tinju hebat. Pelatihnya para juara dunia.

Sinarmas land

Gedung Sinarmas Land, Lantai 9,  Jl. Pemuda 60-70 Surabaya,  kantor pusat SNF Consulting

SNF Consulting tidak menjual pengalaman menjadi CEO para konsultannya. Yang dijual adalah keahlian dalam riset, data, dan analisis manajemen. Tema besarnya adalah korporatisasi. Layanan ini diberikan oleh SNF Consulting dengan tidak memposisikan diri sebagai “Muhammad Ali” alias pemain. Juga bukan sebagai “Angelo Dundee” alias pelaatih alias coach. SNF hadir dengan memposisikan diri sebagai sparring partner. Sebagai lawan latih.  Pemeran yang tidak pernah dikenal seperti Ali ataupun Dundee. Tetapi kehadirannya adalah sesuatu yang wajib bagi Ali dalam setiap sesi persiapan menjadi juara dunia.

MSP1

Layanan management sparring partner dari SNF Consulting

SNF Consulting hadir sebagai management sparring partner. Menjadi “lawan pukul memukul” dengan para direksi di meja meeting. Tujuannya untuk memastikan direksi sebagai pemegang tampuk pimpinan perusahaan sudah mengambil keputusan yang tepat dalam proses korporatisasi perusahaan. Dalam membangun keunggulan perusahaan dari generasi ke generasi.

SNF House Of Management:  Logo SNF Consulting bermakna pertumbuhan dalam harmoni. Tiga titik merah yang semakin membesar simbol dari pertumbuhan. Warna merah dan hijau seperti warna bunga sepatu di rerimbunan daunnya adalah lambang harmoni. Tumbuh pesat melalui korporatisasi dalam suasana harmoni.

Demikianlah kerja  konsultan manajemen.  Seperti sparring partner dalam dunia  tinju. Demikianlah pula SNF Consulting, tempat saya berkarya. Semangat terus mekar indah mendukung lahirnya “petinju-petinju” hebat. Semangat itu terangkum dalam warna merah hijau logo SNF Consulting yang terinspirasi oleh keindahan bunga sepatu di halaman depan rumah saat remaja dulu. Merah merekah di rerimbunan hijau daunnya. Sinkronisasi semangat membara dalam sebuah harmoni keindahan. Inilah pekerjaan konsultan manajemen. Obor kebangkitan ekonomi negeri ini untuk melepaskan diri dari dominasi asing tetap harus dibingkai dalam langkah yang terstruktur.  Dibingkai sebagai salah satu pilar dari enam pilar kekuatan ekonomi umat dan bangsa. Dibingkai dalam sebuah konsep perusahaan dakwah  yang bekerja untuk rahmat bagi seluruh alam. Dibingkai dalam manajemen yang cantik. Secantik Hibiscus Rosa-Sinensis.

Tulisan Iman Supriyono ini juga dimuat pada majalah matan, terbit di surabaya, edisi maret 2012

Cessna 208 B: Tanjung Selor-Tarakan


Acara saya di Tarakan sudah terselesaikan menjelang magrib. Praktis dari malam sampai jadual keberangkatan pesawat pulang ke surabaya keesokan harinya kosong. Saya sengaja mengambil penerbangan tengah hari dari pada penerbangan pertama yang jam 6 pagi. Tujuan saya supaya pagi tidak terlalu tergesa gesa. Juga saya merencanakan untuk mencari sesuatu yang baru di tarakan yang bisa menjadi sumber inspirasi.

Setelah mencari-cari informasi kesana kemari, akhirnya saya menemukan hal menarik: mengunjungi Tanjung Selor. Ini adalah sebuah kota kecil di pantai Pulau Kalimantan yang berhadapan dengan Pulau Tarakan tempat acara saya berlangsung.

Segeralah saya mencari informasi: angkutan umum apa yang bisa saya tumpangi dari Tarakan di pagi pagi menuju Tanjung Selor dan kemudian kembali dari tanjung selor sampai di tarakan tidak ketinggalan penerbaangan saya menuju surabaya yang terjadual pukul 12.50 waktu setempat.

Yang perlu saya pastikan terlebih dahulu tentu saja adalah perjalanan kembali dari Tanjung Selor ke Tarakan. Setelah kontak dengan seorang kawan yang tinggal di Tanjung Selor, sekitar jam 8 pagi waktu setempat saya mendapat kepastian bahwa ada penerbagnan Susi Air dari Tanjung Selor ke Tarakan pukul 10.45 waktu setempat.

Langung saja saya ngontak panitia Tarakan untuk minta diantarkan ke pelabuhan penyebarangan. Setelah tanya kepada petugas akhirnya saya naik speedboat kecil yang mau berangkat dengan hanya membawa 4 penumpang. Karena sudah ada 2 penumpang lain, saya membayar untuk 2 penumpang. Rp 150 ribu saya keluarkan dari kantong dan speedboat pun melaju kencang menuju Tanjung Selor.

Saya memilih speedboat kecil ini karena jadual perjalanannye fleksibel. Asal penumpang sudah cukup langsung berangkat. Berbeda dengan speedboat besar yang memang memiki jadual tertentu. Saya harus menunggu satu jam lagi untuk naik speedboat besar. Sesuatu yang tidak mungkin mengingat waktu saya yang pendek hari itu.
Sekali perjalanan speedboat mendapatkan omset minimal sekitar Rp 300 ribu. Saya tanyakan kepada pengemudinya, setiap hari rata rata dua kali perjalanan pergi pulang sehingga omsetnya kira kira Rp 1,2 juta. Angka ini adalah sekitar 4,8% dari harga pembelian speedboat yang Rp 25 juta. Atau dalam sebulan diperoleh omset sebesar Rp 36 juta alias 144% harga speedboat.

&&&

Pukul 10.45 saya sudah memasang sabuk keselamatan di bangku paling depan kabin Cessna 208B yang akan terbang dari Bandara Tanjung Harapan di Tanjung Selor menuju Bandara Juwata Tarakan. Di belakang Pilot dan Kopilot asal Inggris dan Skotlandia yang menerbangkan pesawat berpenggerak baling baling total ada 11 penumpang lain yang juga telah siap terbang. . Jadi kali ini pesawat buatan pabarikan di Wichita, Kansas, Amerika Serikat yang dioperasikan Susi Air itu hanya tersisa satu bangku kosong yang taripnya dijual Rp 200 ribu itu.

susi air

Susi Air adalah sebuah maskapai spesialis pesawat pesawat kecil. Maskapai yang dikomandani oleh Susi Pujiastuti ini saat ini mengoperasikan total 28 unit pesawat yang sejak terbang pertama kali tahun 1982 itu telah diproduksi sekitar 2000 unit hingga saat ini. Pesawat yang nama lengkapnya Cessna 208B Grand Caravan ini mampu terbang dengan kecepatan jelajah sekitar 317 km/jam. Cocok sekali untuk penerbangan jarak pendek seperti dari ibu kota Kabupaten Bulungan ke Tarakan ini. Hanya perlu waktu 20 menit.

Sebelas penumpang menghasilkan Rp 2,2 juta sekali perjalanan. Jika pesawat ini sehari bisa melakukan 10 kali penerbangan seperti Tanjung Selor Tarakan ini maka diperoleh omset sekitar Rp 22 juta sehari. Angka ini adalah 1,1% dari harga pesawat sekitar Rp 20 Milyar. Dalam sebulan diperoleh omset Rp 660 juta alias 33% dari harga pembelian pesawat.

Prosentase ini jauh lebih kecil dari pada angka milik speedboat. Tetapi yang membedakannya, pengemudi speedboat hanya memiliki 1 unit, sedangkan Susi air memiliki 28 unit Cessna 208 B. Susi juga masih meiliki pesawat-pesawat kecil lain aneka jenis. Secara kasaran, omset seperti ini sangat mungkin mendatangkan laba bagi operatornya. Maka, pulau pulau dan kota kecil seperti Tarakan dan Tanjung Selor memiliki potensi bisnis transportasi yang cukup menarik. Susi Air berhasil menangkap peluang ini. Cessna sebagai produsen pesawat juga mampu menangkapnya. Bahkan Pilot dan kopilot yang asal Inggris dan Skotlandia pun mendapatkan Cipratan duitnya. Siapa menyusul?

Tulisan ini dimuat di majalah Matan edisi Pebruari 2012, terbit di Surabaya

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca juga:

Sejarah Bata dan Kalibata Batavile Batanagar
Sejarah Raket Yonex
Sejarah Heinekken Hadir di Indonesia
Sejarah Revlon dan Kepailitannya
Sejarah Korporasi
Sejarah Lions Club
Sejarah Hyundai versus Astra
Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Umat dan Bangsa
Korporatisasi: Asal Muasal
Sejarah Danone Dari Turki Usmani Hadir ke Indonesia
Sejarah Kalsiboard dan Etex Group

Sumpyuh: Jalan Rusak Yang Tak Kunjung Tuntas


Sumpyuh

oleh Iman Supriyono, http://www.snfconsulting.com

Pak Abdullah Shahab, dosen senior Teknik Mesin ITS yang juga seorang ustadz, dalam sebuah ceramahnya pernah bercerita tentang sebuah penelitian. Walaupun lulusan Prancis ini ahli metalurgi, ceritanya bukan penelitian tentang logam. Justru sebuah penelitian sederhana tentang salah satu jenis lebah yang dalam bahasa jawa disebut sumpyuh. Jenis lebah berbadan ramping yang biasanya membuat rumah dari tanah berbentuk gundukan setemgah oval menempel di pada dinding tembok atau kayu.

Rumah oval digunakan oleh sumpyuh untuk menyimpan telor yang akhirnya akan menetas. Sebelum telornya menetas, sumpyuh mempersiapkan seluruh keperluan calon anaknya termasuk makanan. Semuanya dimasukkan lewat lubang kecil di bagian atas rumah dan si supyuh tidak memasuki rumah ovalnya. Aktivitas rutinnya: terbang mencari makanan, memasukkan hasil pencarian makanan ke lubang di bagian atas rumah ovalnya, dan terbang lagi dan seterusnya.

Penelitian perilaku sumpyuh dilakukan dengan melubangi bagian bawah rumah oval. Lubang dibuat sedemikian rupa sehingga manakanan yang dimasukkan lebah melalui lubang atas akan terjatuh. Makanan tidak tersimpan di dalam rumah oval lebah.

Sumpyuh: melakukan pekerjaan sia sia terus menerus tiada henti

Apa yang dilakukan sumpyuh setalah rumahnya dilubangi bagian bawahnya? Ia tetap bekerja seperti sedia kala. Terbang mencari makanan. Memasukkannya melalui lubang atas rumahnya. Terbang lagi. Begitu seterusnya tanpa henti walaupun makanan yang “disimpan” nya tidak akan bisa dinikmati anak anaknya setelah menetas. Makanan itu selalu terjatuh.

ttt

Beberapa hari lalu saya ada lewat di jalan raya Babat Lamongan. Saya lumayan sering melalui jalur ini untuk berbagai keperluan pekerjaan. Maka, apa yang terjadi di jalan itu cukup menggoda “keusilan” pikiran saya untuk menulisnya.

Kalau Anda melalui kawasan itu sejak sekitar dua tahun yang lalu, tentu Anda akan mendapati banyak alat berat sedang bekerja. Menggali jalan lama sedalam sekitar 30-40 centimeter dengan escavator. Membuang tanah galian dengan dumptruck. Mengisinya kembali dengan tanah berpasir batu. Meratakannya dengan buldozer. Mengeraskanya dengan roller. Melapisinya dengan campuran pasir aspal. Meratakannya dengan grader. Mengeraskan dan menghaluskannya dengan roller. Itulah rutinitas perbaikan jalan negara ini. Harapan akan adanya jalan yang mulus sedang di depan mata.

Muluskah jalan Babat-Lamongan? Hehehe….nampaknya harus menunda kembali harapan untuk jalan yang mulus sehingga mobil bisa melaju dengan kecepatan hampr100 km per jam seperti jalan jalan antar kota di Malaysia misalnya. Kok? Ternyata, jalan yang selesai diperbaiki sudah banyak yang berlubang dan tidak mulus lagi pada saat alat alat berat yang mengerjakannya masih beroperasi tiap hari. Perbaikannya belum selesai, jalannya sudah rusak lagi.

ttt

Saya bukan insinyur sipil. Saya juga bukan operator alat berat konstruksi jalan. Pun saya bukan arsitek jalan. Saya orang awam dalam urusan ini. Saya yakin, orang yang lewat di jalan Babat Lamongan lebih banyak yang awam tentang konstruksi jalan dari pada yang memahaminya. Awam seperti saya.

Sebagai orang awam, otak saya tidak bisa mencernanya. Bagaimana jalan yang baru diperbaiki kok sudah rusak lagi. Karena orang awam, kemudian muncul obrolan khas orang awam juga dengan kawan sekantor yang sedang memegang kemudi. Intinya: prasangka buruk. Mark up nilai proyek, pelaksanaan proyek tidak sesuai spek, korupsi. Sekali lagi….ini pandangan saya yang sangat awam tentang kontruksi jalan.

Betulkah prasangka buruk saya? Saya juga tidak bisa menjawab. Mudah mudahan salah. Hanya saja, efeknya langsung terasa dan sangat jelas: menggerus kepercayaan. Menggerus kepercayaanya kepada pemerintah sebagai pemungut pajak yang kemudian menggunakannya untuk membangun dan memperbaiki jalan. Bahkan gerusan kepercayaan ini bisa menjalar ke berbagai sektor. Bisa merembet ke hilangnya kepercayaan terhadap peraturan pemerintah, rambu lalu lintas, aparat penegak hukum, sistem politik, sistem pendidikan, sistem perpajakan dan sebagainya. Bahaya kan?

Lalu harus bagaimana? Yang jelas, sebagai bangsa kita tidak boleh berperilaku seperti sumpyuh di bagian awal tulisan ini. Sumpyuh terus menerus bekerja tanpa peduli bahwa yang dikerjakannya sia sia. Memperbaiki jalan yang segera rusak adalah mirip si sumpyuh yang memasukkan makanan di rumah oval yang berlubang. Anak lebah akan mati kelaparan. Bagaimana nasib anak negeri? Maka….hindari perilaku ala si sumpyuh. Untuk negeri merah putih yang dulu didirikan oleh para syuhada dengan nyawa dan darah, bisa kan?

tulisan ini pernah dimuat di majalah Baz terbit di Surabaya