Setelah selesai check in di konter Uzbekistan Airways bandara International Tashkent, Uzbekistan, saya segera memeriksa isi dompet. Masih tersisa uang UZS 80 ribu lebih. Uang yang jika pesawat sudah terbang dan mendarat di Jakarta tidak akan bisa dipakai. Maka, saya pun segera mencari konter penukaran uang. Saya tanyakan apakah mereka punya mata uang Rupiah. Jawabnya sudah bisa saya tebak, “tidak ada!”. Jadilah saya tukarkan uang sisa itu dengan USD 9. Nilainya memang tidak terlalu besar. Tetapi lumayan karena saya masih punya uang USD lainnya. Lumayan daripada dibiarkan berupa UZS dan tidak akan ada penukaran uang yang mau menerimanya di Indonesia. Dengan membawa pulang berupa USD mudah sekali untuk merupiahkannya kembali jika telah tiba di tanah air. Atau membiarkannya untuk dipakai bepergian ke negara manapun pada kesempatan lain.
UZS Pecahan 100 ribu
USD dengan mudah diterima negeri antah berantah itu. Saya sebut antah-berantah karena di negeri yang menokohkan Amir Timur ini saya benar-benar merasa sebagai orang asing. Sama sekali tidak bisa memahami bahasa mereka. Sama sekali tidak bisa membaca tulisan mereka. Penerbangan dari Jakarta harus ditempuh sepanjang lebih dari 10 jam. Jauh sekali. Satu-satunya yang membuat saya masih merasa nyaman adalah karena Uzbekistan membebaskan visa bagi setiap pemegang paspor Republik Indonesia.

MRT Tashkent yang sudah hadir melayani masyarakat ibu kota Uzbekistan tersebut sejak 1977
Pertanyaannya, mengapa USD bisa dengan mudah diterima di negeri antah berantah itu? Tentu ada berbagai macam penjelasan dan alasan. Tetapi dari sekian macam alasan, ada satu alasan yang saya kira sangat penting dalam konteks bisnis, bidan kerja saya. Alasan itu adalah banyaknya produk, merek dan perusahaan USA yang hadir di negeri yang tidak punya laut itu.

Saat saya jalan kaki dari stasiun MRT bawah tanah menuju masjid Minor, salah satu masjid utama di kota itu, di kiri jalan saya jumpai sebuah gedung perkantoran berhalaman luas. Di bagian depan terpampang logo besar “British American Tobacco”, sebuah perusahaan USA. Di etalase-etalase minuman berbagai toko dengan mudah bisa dijumpai merek-merek Coca Cola, Fanta dan Pepsi. Pesawat Uzbekistan Airways yang saya naiki dari Bishkek Kyrgyzstan dan mendarat di Tashkent adalah Boeing 757. Di jalan-jalan kota yang tidak mengenal sepeda motor itu isinya didominasi mobil-mobil berlogo Chevrolet yang USA punya. Tentu masih banyak perusahaan dan merek USA lain yang hadir di kota yang bersih dan rapi ini. Semua perusahaan-perusahaan itu tentu membayar harga produk, royalti dan atau dividen kepada induknya di USA. Dan tentu saja mereka membayarnya dalam bentuk USD. Dan karena mereka menerima uangnya dari penjualan produk dan jasa dari pembeli lokal berupa UZS maka tentu saja uang itu harus ditukar dengan USD. Dan karena itulah maka USD menjadi mata uang yang dibutuhkan sehingga diterima luas di negeri antah berantah itu.

Tashkent: Taman luas nan indah di tengah kota Tashkent, Uzbekistan. Tampak patung Timur Lenk dan Hotel Uzbekistan, hotel terbesar di kota itu
Kondisi di Kyrgyzstan juga kurang lebih serupa. Saat saya membutuhkan uang untuk kebutuhan biaya hidup di Bishkek, ibu kotanya, kartu ATM saya yang diterbitkan bank di Indonesia bisa dipakai dengan mudah karena menggunakan jaringan Master atau Visa. Keduanya adalah jaringan pembayaran dari USA. Bahkan di ATM pun ada opsi menarik uang dalam bentuk USD atau KGC, mata uang setempat.

Tashkent International Airport yang berseri dengan bunga warna warni
Bagaimana dengan Rupiah? Yang jelas Rupiah tidak bisa dijumpai di konter penukaran uang Bandara Internasional Tashkent. Ini menunjukkan bahwa Rupiah tidak dikenal. Mengapa? Karena sepanjang penelusuran di pusat-pusat bisnis kota Tashkent maupun Bishkek saya belum menemukan produk, merek atau perusahaan Indonesia yang hadir disana. Itulah jika ke luar negeri dan membutuhkan persediaan uang lebih aman jika yang dibawa adalah USD.
Maka, jika kita mau Rupiah menjadi seperti USD diterima di Kyrgyzstan, Uzbekistan atau negara manapun, yang harus kita lakukan adalah bekerja keras agar perusahaan-perusahaan, merek-merek dan produk-produk asal Indonesia beroperasi dan dikonsumsi disana. Dengan demikian, ketika mereka membayar harga produk, dividen dan atau royalti maka mereka akan butuh Rupiah. Dan karena Rupiah dibutuhkan, maka mata uang kebanggaan RI ini akan dengan mudah diterima di masyarakat setempat.

Sungai indah dan bersih di samping Masjid Minor, tengah kota Tashkent, Uzbekistan
Perjalanan saya ke Kyrgyzstan dan Uzbekistan kali ini adalah dalam rangka itu. Nyales untuk produk yang kemana mana saya bawa untuk dijual. Tidak lain adalah layanan dan merek SNF Consulting sebagai sebuah consulting firm. Tentu bersama produk dan layanan klien-klien SNF Consulting. SNF Consulting punya tim konsultan yang berkedudukan dan berkewarganegaraan Kyrgyzstan. Semoga ini menjadi awalan yang kelak akan berbuah berupa diterimanya Rupiah di Bishkek maupun Tashkent. Dan peluangnya sangat besar ke belasan negara-negara eks Uni Soviet. Besar karena mereka semua menggunakan bahasa yang sama yaitu bahasa Rusia. Mereka memiliki kultur yang sangat diwarnai oleh Rusia. Tata kotanya juga sangat Rusia banget. Dan masih banyak lagi yang sangat terwarnai oleh Rusia. Perlu ditekankan bahwa tentulah ini tidak mudah. Tetapi saya sangat suka dengan sesuatu yang tidak mudah. Sangat tertantang. Sebagai mantan aktivis masjid kampus bahkan sangat exited karena mereka adalah negeri-negeri mayoritas muslim. Hidup di luar negeri tapi masih bisa menjaga sholat jamaah di masjid itu serasa berada di Mulyorejo, rumah saya di Surabaya. Senang sekali bisa jika berbisnis sembari berkontribusi untuk kebaikan masyarakat luas disana. Sebagai negara-negara baru, perusahaan-perusahaan mereka butuh bantuan untuk melakukan korporatisasi. Kelak Rupiah akan diterima dimana-mana. Semoga. Aamin.
Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram atau Grup WA SNF Consulting
Ditulis oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting, di Tashkent International Airport, 2 Mei 2019.



















