Harapan Bank Syariah Indonesia, Nyata atau Fatamorgana?


Bank Syariah Indonesia (BSI) hadir dengan sambutan yang luar biasa. Penuh opmisme. Harapan tinggi diletakkan dipundaknya. Pertanyaannya, apaka BSI akan mampu memenuhi harapan itu? Atau hanya fatamorgana? Mari kita cermati. Saya akan menuliskannya dalam bentuk poin-poin. Semua angka adalah ditampilkan sesuai kaidah pembulatan.

  1. Sebagaimana dokumen resmi rencana mergernya, ada tiga bank perserta merger. Masing -masing adalah  Bank BRI Syaraiah (BRIS) dengan aset Rp 50 triliun, ekuitas Rp 5 triliun, dan laba Rp 122 miliar.  Bank Syariah Mandiri (BSM) dengan asat Rp 114 triliun, ekuitas Rp 10 triliun, dan laba Rp 726 miliar.  Bank BNI Syariah (BNIS) dengan aset Rp 51 triliun, ekuitas Rp 5 triliun, laba Rp 230 miliar. Semua angka adalah berdasar laporan semester pertama 2019
  2. Berdasarkan dokumen tersebut juga, bank hasil merger menurut angka pro forma akan memiliki aset Rp 215 triliun, ekuitas Rp 20 triliun, dan laba Rp 1 triliun.
  3. Begitu besarkah hasil penggabungan itu? Mari kita bandingkah dengan perbankan nasional. Bank Mandiri beraset Rp 1 236 triliun, ekuitas Rp 190 triliun, dan laba Rp 16 triliun. Bank BRI aset Rp 1 288 triliun, ekuitas Rp 191 triliun, laba Rp 21 triliun. Bank BCA aset Rp 870 triliun, ekuitas Rp 160 triliun, dan laba Rp 14 triliun. Tampak sekali dibandingkan dengan tiga pemain utama industri pergankan tanah air itu BSI masih sangat kecil
  4. Mungkin ada yang akan memprotes bahwa perbandingan itu tidak apple to apple. BRI, Mandiri dan BCA kan bukan bank syariah? Justru itu tantangannya. Bagaimana bank syariah berperan tidak kalah dengan bank konvensional di percaturan industri perbankan negeri ini
  5. Bagaimana jika dibandingkan dengan bank syariah global? Menutur data yang dikutip www.thasianbanker.com, bank syariah terbesar dunia adalah Al Rajhi bank dari Saudi Arabia dengan aset USD 111,3 miliar alias Rp 1 565 triliun, ekuitas USD 13,8 miliar (Rp 194 triliun) dan laba USD 1,3 miliar (Rp 18 triliun). Terbesar kedua adalah Dubai Islamic Bank dengan aset USD 80,3  miliar, ekuitas USD 9,9 miliar dan laba USD 577 juta. Kedua sampai kesepuluh masing masing adalah Kuwait Finance House, Maybank Islamic, Qatar Islamic Bank, Alinma Bank, Abu Dhabi Islamic Bank, Masraf Al Rayan, Al Baraka Banking Group, dan CIMB Islamic Bank.  Malaysia hadir dengan dua banky yaitu Maybank Islamic dan CIMB Islamic. CIMB Islamic beraset USD 26,1 miliar (Rp 367 triliun), ekuitas USD 1,6 miliar (Rp 22 triliun), laba USD 49  juta (Rp 689 miliar).
  6. Untuk menyamai aset CIMB syariah, sesuai angka di atas, BSI harus menambah aset sebesar Rp 152 triliun. Dengan asumsi syarat kecukupan  modal minumum (CAR) 12%, maka untuk mencapai aset seperti CIMB Islamic dibutuhkan modal (ekuitas) sekitar Rp 44 trilun.
  7. Dengan posisi ekuitas sebagaimanadi atas yang Rp 20 triliun, masih dibutuhkan tambahan ekuitas Rp 24 triliun untuk bisa mengejar CIMB Islamic. Padahal, jika laba tahunan diasumsikan sama dengan laba semesteran, maka tiap tahun BSI akan memperoleh laba Rp 2 triliun. Jika laba tersebut tetap dan tidak pernah diambil sebagai dividen dibutuhkan wakatu 12 tahun untuk bisa mengejar CIMB Islamic. Jikapun laba naik, tidak mungkin akan bisa dicapai dalam waktu 4 tahun kedepan yaitu tahun 2025 sebagaimana yang selama ini didengung-dengungkan. Padahal yang dikejar dalam waktu sepanjang itu juga terus berlari
  8. Tidak adakah cara lain untuk mencapatakn tambahan modal sebesar Rp 24 triliun itu dalam wakktu dekat? Sebenarnya ada. Kapitalisasi pasar BSI saat ini adalah Rp 111 triliun. Jika BSI melakukan penerbitan saham baru (rights issue) sebesar 22% saham, akan diperoleh Rp 24 triliun. Persis seperti yang dibutuhkan untuk mengejar CIMB Islamic dalam perhitungan di atas.
  9. Dan tentu saja pelaksanaannya tidak bolehh sekali rights issue. Tetapi dilakukan bertahap supaya lebih optimal. Misal tahap perama 10% dengan memperoleh dana Rp 11 triliun. Dana itu diputar dulu untuk meningkatankan aset. Genjott program promosi agar masyarkat menyimpan uangnya di                 BSI. Dengan demikian laba akan meningkat. Selanjutnya, right issue tahap kedua dengan menerbitkan 10% saham pereolehannya sudah akan jauh lebih tinggi ari pada tahap pertama. Efeknya akan seperti bola salju.
  10. Sayang seribu sayang, tradisi rights issue tidak berlaku di dunia korporasi indonesia pada umumnya. Perusahaan-perusahaan Indonesia masih bermindset mempertahankan keberadaan pemegang saham pengendali. BRI, BNI, Mandiri dan BTN yang sudah lebih lama IPO pun tidak punya tradisi rights issue. Jangan heran jika misalnya BRI yang jauh lebih tua dari Maybank tapi asetnya hanya sekitar separuh Maybank.
  11. Masih banyak yang memandang right issue BUMN sama dengan menjual aset negara. Takut. Pandangan ini salah total. Tapi masih banyak yang berpersepsi seperti ini. OJK pun masih mengatur bahwa bank harus memiliki pemegang saham pengendali. BSI tidak bisa seperti CIMB yang sudah tidak lagi ada pemegang saham pengendali. Yang sudah mencapai fully corporatized dalam 8 step corporate life cycle. Yang tidak tidak perlu lagi takut hilangnya pengendalian karena melakukan rights issue.
  12. Dengan mindset seperti itu, right issue BSI itu hanya sekedar fatamorgana. Perkembangan BSI akan menunggu akumulasi laba. Itupun tidak akan sepenuhnya karena negara butuh dividen untuk APBN. Laba tidak bisa diharapkan untuh menjadi pemicu pertumbuhan. Kecuali ada perubahan paradigma dalam waktu singkat. Ada revolusi mindset menjadi korporatisasi. Semoga.
Harapan BSI, fatamorgana atau nyata?

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Baca juga:
Corporate Life Cycle
Korporatisasi Langkah Demi Langkah
Korporatisasi: Asal Muasal
SWF: investment company BUMN

*)Artikel ke-311 karya Iman Supriyono ini ditulis di kantornya, SNF Consulting, pada tanggal 5 Pebruari 2021

23 responses to “Harapan Bank Syariah Indonesia, Nyata atau Fatamorgana?

  1. Saya baca artikel Bpk dari linkedin. Kebetulan saya bekerja di Bank Indonesia sebagai komite adhoc perwakilan BI, dalam merger Bank Syariah Indonesia. Sebetulnya wacana untuk rights issue sudah diakomodasi dalam corporate plan BRIS dan BNIS, karena ada event merger maka otomatis akan dikonsolidasikan corporate plan existing dengan BSM termasuk rencana right issue tersebut.

    • Terimakasih telah membaca tulisan saya. Semoga BSI bisa tumbuh dengan memanfaatkan intangible assetnya melalui rights issue terus menerus sampai membesar sekelas bank Mandiri

    • Bismillah…
      Alhamdulillah masih ada yg berfikir progresif positif menanggapi tulisan saran yth mas Supriyono ini. Semoga niat baik nan ikhlas ini Alloh catat se khhoirul amal.
      Publik tunggu IMPLEMENTASI dari WACANA ” corporate plan ” BSI ini.
      Langka nya KEJUJURAN dan NIAT & KOMITMEN di negeri ini ( + 62 ) masih jadi HANDICAP apapun yg di PLANNING kan.
      Barakallohu fikum mas Supriyono. Wassalamu’alaykum.

  2. Semoga hidup tanpa riba

  3. Ping-balik: Waskita di Tepi Jurang: Koreksi Diri Atau Mati? | Korporatisasi

  4. Ping-balik: Bagaimana Gadjah Tunggal – Sjamsul Nursalim Mengembalikan Rp 4,58 T? | Korporatisasi

  5. Ping-balik: Waskita Beton Digugat Pailit: Induk Sakit Anak pun Sakit | Korporatisasi

  6. Ping-balik: Garuda Tanpa Mudik: Utang Melebihi Aset | Korporatisasi

  7. Ping-balik: Vaksin Covid: Yunior-Senior Astra Zeneca-Kimia Farma | Korporatisasi

  8. Ping-balik: Mengapa Unicorn Kita Dikuasai Asing? | Korporatisasi

  9. Ping-balik: Gedung Saja Tidak Cukup: Menara 165 Colliers | Korporatisasi

  10. Ping-balik: Pancasila Versus Al Quran, Pilih Mana? | Korporatisasi

  11. Ping-balik: Garuda Masker Lima: Masalah Tata Kelola | Korporatisasi

  12. Ping-balik: Garuda, Inalum, Pertamina : Direksi & Komisaris Lalai? | Korporatisasi

  13. Ping-balik: Giant Tutup: Sulitanya Menemukan Kembali RPD | Korporatisasi

  14. Ping-balik: BTS Meal McD: Tantangan Langkah Kedelapan CLC | Korporatisasi

  15. Ping-balik: Cristiano Ronaldo Merugikan Coca Cola? | Korporatisasi

  16. Ping-balik: Utang Segunung: Pusingnya Direksi Garuda | Korporatisasi

  17. Ping-balik: Simalakama Garuda: Pailit Atau Korporatisasi? | Korporatisasi

  18. Ping-balik: Peredam Risiko Investasi Wakaf | Korporatisasi

  19. Ping-balik: Scale Up: Betulan atau Omong Doang? | Korporatisasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s