Bank Jago Melangit: Karena Kinerja?


Bagaimana bisa nilainya naik fantastis? Kenaikan itu hasil gorengan para bandar atau memang sesuai kondisi perusahaan? Apakah Bank Jago berkarakter seperti perusahaan startup? Apakah bank Jago sukses menghadapi disrupsi? Ini adalah beberapa pertanyaan menarik. Saya akan menjawabnya dalam bentuk poin-poin.

Kelas Korporatisasi: Info dan pendaftaran http://www.klikwa.net/snfconsulting
  1. Sejak dulu kala, bank memiliki 2 segmen pendapatan. Segmen pertama adalah interest based income. Pendapatan ini berfilosofi menyemai. Seeding. Bank mendanai para pelaku bisnis untuk pertumbuhan mereka. Para pelaku bisnis menggunakan dana itu untuk scale up dengan melakukan copy paste terhadap RPD nya.  Bank konvensional mendapatkan pendapatan bunga atas dana tersebut. Bank syariah mendapatkan bagi hasil atau margin dari pendanaan tersebut. Para nasabah berkewajiban mengembalikan dana beserta bunga atau bagi hasilnya sesuai kesepakatan.
  2. Menurut saya, segmen pertama ini tidak akan terkena disrupsi. Mengapa? Dalam hal ini bank adalah perantara antara dua pihak yaitu masyarakat yang memiliki idle money jangka pendek dan para pelaku bisnis yang butuh scale up dengan membangun gergaji korporatisasi. Idle money jangka pendek misalnya adalah uang yang sudah disiapkan oleh orang uta untuk pendaftaran sekolah putra putrinya tahu depan. Masyarakat tidak mungkin disimpan di bawah bantal. Sementara perusahaan yang butuh dana untuk scale up juga tidak bisa langsung meminjam kepada masyarakat luas. Terlalu ribet. Jadi fungsi finansial intermediary ini tetap akan berjalan dengan kondisi apapun. Termasuk bank syariah. Yang berubah nanti hanya teknis pelayannya saja yang mungkin akan makin banyak berbasis digital.
  3. Segmen kedua adalah fee based income. Disebut juga non iterest based income. Bank memberi layanan kepada customer. Atas layanan itu bank mengenakan fee tertentu. Contoh layanan yang menjadi sumber fee based income bank misalnya adalah tranfer antar bank, biaya administrasi bulanan, pembayaran listrik, air, cicilan leasing, pulsa, paket data dan sebagainya. Segmen kedua ini juga tidak akan terdisrupsi. Justru akan makin berkembang dengan berkembangnya uang digital. Hanya saja model pelayanannya akan makin berbasis digital.
  4. Mari kita lihat bagaimana Jago dalam dua segmen pendapatan itu. Laporan keuangan semester pertama 2021 Jago melaporkan pendapatan bunga Rp 160 miliar.  Naik dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp 41 miliar.  Dilihat dari profil neracanya, posisi kredit yang diberikan kepada pihak ketiga adalah Rp 1,92 triliun. Kredit kepada pihak berelasi Rp 250 miliar. Angka kredit kepada pihak ketiga hanya 19% dari total aset yang Rp 10,09 triliun. Jadi tidak sampai 1/5 yang produktif untuk mengatrol pendapatan seeding ini.  Memang angkanya meningkat 4 kali lipat dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Tapi masih terlalu kecil untuk dikatakan bahwa Jago serius dalam memperoleh segmen pendapatan yang menjadi gacoan semua bank di negeri ini.
  5. Ketidakseriusan dalam interest based income juga bisa dibaca dari masuknya tabungan, deposito dan giro. Total hanya Rp 1,20 triliun. Padahal dengan ekuitas Rp 8,12 triliun dan aturan CAR yang ada, mestinya Jago berpotensi untuk menerima dana Rp 67 triliun dari akun ini. Jelas sekali betapa Jago membiarkan potensi pendapatan besar di segmen interest income berlalu begitu saja.
  6. Pada umumnya sebuah perbankan, revenue and profit driver (RPD)-nya adalah modal inti dalam istilah OJK. Nilai angkanya hampir sama dengan ekuitas. Tambahan ekuitas bagi sebuah bank adalah seperti tambahan gerai pada sebuah perusahaan resto. Pada perusahaan resto yang bagus, tambahan gerai akan langsung meningkatkan pendapatan dan laba dengan risiko kegagalan yang rendah. Inilah RPD. Pada perusahaan perbankan yang bagus pada umumnya, setiap tambahan modal inti akan langsung memicu peningkatan dana pihak ketiga yang ujung ujungnya adalah peningkatan pendapatan dan laba dengan tingkat kegagalan rendah. Itulah RPD bank. Jika tingkat kegagalan perusahaan resto adalah rugi dan tutupnya gerai, kegagalan pada perusahaan perbankan adalah NPL atau NPF pada bank syariah. Jika RPD adalah ibarat pedal gas, maka NPL adalah ibarat pedal rem. CEO bisa tancap gas sesukanya dengan catatan NPL nya aman. Tancap gas dengan rem pakem. Tapi hal ini tidak dilakukan oleh Jago.
  7. Mungkin hal tersebut adalah disengaja sesuai dengan konsep bank digital yang diusungnya. Mari kita lihat dari segmen fee based income. Ada pendapatan administrasi pinjaman Rp 2,45 miliar dan pendapatan administrasi dana pihak ketiga Rp 147 juta, dan pendapatan lain-lain Rp 175 juta. Ternyata juga kecil sekali. Tidak signifikan dibanding pendapatan bunga. Artinya, konsep bank digital yang usungnya juga belum tercermin dari kinerja keuangan semester pertama tahun 2021 ini
  8. Sebagai gambaran, bank yang dikenal piawai dalam fee based income adalah BCA. Semester pertama 2021 ini BCA membukukan non interest income Rp 10,60 triliun. Angka itu adalah 1/3 dari pendapatan bunga yang Rp 32,96. Angka non interest income BCA sudah cukup untuk menanggung seluruh beban karyawan yang sebesar Rp 6,98 triliun. Angka non interest income juga sudah lebih dari cukup untuk menanggulangi beban penyisihan kerugian penurunan nilai aset Rp 6,55 triliun. Artinya, risiko yang muncul dari kredit yang disalurkan oleh BCA sudah terlindungi oleh pendapatan non bunga.
  9. Perbandingan dengan BCA ini menunjukkan bahwa konsep bank digital yang diusung Jago juga belum jalan di lapangan. Maka, suntikan modal besar yang kini belum terdayagunakan bisa dipandang bahwa Jago adalah seperti sebuah perusahaan startup. Masih sedang mencari bentuk. Sedang mencari RPD yang tepat. Mencari model bisnis.
  10. Gelontoran modal dari menguangkan intangible asset sungguh luar biasa. Modal disetornya Rp 1,38 triliun. Kecil sekali dibanding agio sahamnya yang Rp 7,10 triliun. Agio saham adalah cara perusahaan menguangkan intangible asset melalui penerbitan saham baru dengan harga jauh lebih besar dari nilai nominal.  Memperhatikan nilai pasar saat ini yang sebesar Rp 219,48 triliun, berarti nilai intangible asset yang diakui oleh para investor adalah Rp 211,36 triliun. Andai saat ini Jago butuh tambahan modal lagi dan menerbitkan 10% saham baru dan dijual pada harga pasar, akan dihasilkan uang sekitar Rp 21,95 triliun. Luar biasa kekuatan modalnya.  Tetapi sayang belum diikuti dengan mendayagunakan kekuatan tersebut untuk scale up dengan melakukan copy paste  RPD. Saat ini sedang dalam proses menemukannya. Kita lihat saja apa yang dilakukan Jago setelah ini.

Kembali pada pertanyaan di awal tulisan ini, Anda sudah bisa menjawabnya sendiri kan? Untuk lebih detail, ikuti acara Bincang Santai Korporasi berikut ini

Bincang Santai Korporasi, Kamis malam, gratis dari SNF Consulting. Daftar http://www.klikwa.net/snfconsulting

Klik untuk bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi
Klik untuk cek jadwal terdekat Kelas Korporatisasi

Baca Juga
Glorifikasi IPO Kioson
IPO Bukalapak Prospektif atau Buang Uang
Kepailitan Startup OFO Bike Hiring
Tesla Laba Setelah 16 Tahun Rugi
Corporate Life Cycle dalam Merger GoTo
Valuasi Merger Gojek Tokopedia
Sequoia VC Sejati

Artikel ke-349 karya Iman Supriyono ini ditulis di rumahnya di Surabaya pada tanggal 11 Agustur 2021

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s