From Third World To First. Bukunya sangat tebal. Jumlah halamannya: 778. Kofi Annan, George Bush, Margaret Thatcher, Jacques Chirac, Paul Keateng adalah beberapa dari banyak nama beken dunia yang memberi
endorsement untuk buku ini. Tentu bukan buku sembarangan. Sebuah buku penuh pelajaran berharga karya Lee Kwan Yew, tokoh di balik sukses luar biasa negeri kecil Singapura.
Banyak gambaran kesuksesan negeri yang luasnya seperti kota Surabaya ini. Sektor ekonomi adalah salah satu keberhasilan yang menonjol. Jika dihitung berdasarkan PDB, rata-rata warga Singapura mampu mencari uang sekitar Rp 30 juta perbulan. Bandingkan dengan Indonesia yang hanya sekitar Rp 2 juta perbulan. Padahal Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah. Sementara Singapura tidak punya apa-apa.
Kehebatan ekonomi negeri singa bahkan sampai masuk ke pelosok negeri ini. Coba saja perhatikan dunia perbankan. Di manapun berada, Anda akan dengan mudah menemukan keberadaan kantor bank DBS Buana dan OCBC NISP. Keduanya adalah metamorfosa dari Bank Buana dan bank NISP. Keduanya kini telah dimiliki dan dikelola oleh bank DBS dan OCBC, bank raksasa dari negeri singa.
Coba pula perhatikan berita tentang sakitnya tokoh-tokoh penting negeri ini. Hampir pasti selalu terkait dengan Singapura. Mengapa? Orang orang kaya negeri ini merasakan layanan medis yang bagus dari rumah sakit rumah sakit di Singapura. Maka, jangan heran misalnya baru baru ini kita membaca penyanyi terkenal Franky Sihalatua yang berobat di Singapura General Hospital. Sebelumnya banyak sekali tokoh nasional yang berobat ke Mount Elizabeth atau Gleneagles Hospital di Singapura.
Bagaimana negeri yang merdeka 20 tahun setelah indonesia ini kini bisa tampil begitu hebat? Membalik keadaan dari tidak ada apa-apa menjadi nomor satu? Lee Kwan Yew menjawabnya melalui buku berbahasa Inggris ini.
Kami tidak punya apa apa. Satu-satunya modal kami adalah kepercayaan. Maka, kami tidak boleh menghambur-hamburkan kepercayaan itu dengan korupsi dan mismanagement. Inilah prinsip dasar yang ditulis oleh Lee dalam bagian awal bukunya. Modalnya satu saja: kepercayaan. Dan yang lebih penting, bagaimana menjaga kepercayaan itu agar tidak pudar dan justru makin meningkat.
Bayangkan suasana berikut. Karena ada kerja bakti di sekolah, Anda bersama kawan-kawan sekelas membayar iuran Rp 5.000 tiap siswa untuk membeli nasi bungkus. Bendahara kelas yang diberi kepercayaan mengelola uang tersebut membeli nasi seharga Rp 4.500,-. Sisa uang Rp 500 per bungkus diambil sendiri secara diam diam.
Andai saja Anda adalah salah satu murid di kelas itu. Selama ini Anda percaya begitu saja kepada bendahara. Husnudhon. Percaya tentang kejujurannya sebagai teman sekalas. Percaya niatnya untuk suka rela tanpa pamrih dalam ikatan persahabatan teman-teman sekelas. Tiba-tiba suatu saat Anda mendapatkan informasi akurat tentang pengambilan sisa uang Rp 500,- tersebut. Bagaimana sikap Anda? Apakah selanjutnya Anda masih bisa percaya kepada bendahara kelas itu?
Sebuah negara pada dasarnya adalah sebuah “kelas besar”. Masing-masing “warga kelas” juga membayar “iuran” berupa aneka pajak dan retribusi. Bahkan pembayarannya dilakukan sebelum uang itu diterima. Seorang karyawan akan menerima gaji setelah dipotong pajak penghasilan yang besarnya 5-30% tergantung dari besarnya gaji. Uang itu diambil dulu sebagai “iuran kelas” sebelum diterima oleh si karyawan. Besarnyapun tidak tanggung -tanggung. Bisa sampai 30% alias hampir sepertiga gaji. Maka, “iuran kelas” nya pun luar biasa besar. Ratusan bahkan ribuan trilyun!
“kelas besar” pun melakukan “pembelian nasi bungkus”. Tentu saja angkanya juga trilyunan: membangun jalan raya, jembatan, gedung-gedung pencakar langit, bendungan, pelabuhan, bandara, dan sebagainya. Bagaimana kalau “bendahara kelas besar” itu juga mengambil uang “iuran kelas” secara diam-diam? Masihkah “warga kelas” percaya?
Itulah yang dijaga dengan ketat oleh Lee Kwan Yew. Maka, jangan heran dengan prestasi ekonominya. Bahkan bukan hanya prestasi ekonomi. Secara umum masyarakatnya juga lebih disiplin. Biarpun jam 2 malam sepi sendirian, seorang pengendara tetap akan berhenti bila lampu lalu lintas menyala merah. Mereka taat karena percaya kepada pemasang lampu merah. Siapa lagi kalau bukan Lee Kwan Yew dan penggantinya beserta anak buahnya. Itulah salah satu pelajaran penting dari From Third World To First. Dari negara ketiga menjadi negara pertama di dunia.
Maka, saya setuju sekali dengan cara RRC menyelesaikan ulah para “bendahara kelas” yang menodai kepercayaan: hukuman mati. Inilah yang menjadikan RRC bangkit menyalip Indonesia. Tetapi tentu saja harus ada sedikit penyesuaian. Bila di RRC hukuman mati dilakukan dengan ditembak, di Indonesia cukup memakai cutter kecil aja. Itupun pake cutter bekas yang sudah karatan. Biaya kecil untuk memotong leher para “bendahara kelas” yang menodai kepercayaan. Ini kira-kira baru seimbang dengan penghianatan terhadap pengorbanan lebih dari 200 juta “warga kelas” negeri ini melalui “iuran kelas” berupa pajak. Dirgahayu Indonesiaku?
tulisan ini pernah dimuat di majalah BAZ, terbit di Surabaya.






