Tradisi BUMDES Sebagai Investing Company


Ekonomi desa sedang seksi. Kenapa? Karena ada dana desa yang digelontorkan pemerintah. Seiring dengan itu muncullah konsep BUMDES. Badan usaha milik desa. 

FB_IMG_1570516022626

Pertanian adalah salah satu sektor yang bisa menjadi investee BUMDES. Foto koleksi pribadi penulis saat mencangkok tanaman buah Lengkeng

Muncullah berbagai upaya untuk membangun BUMDES. Lebih tepatnya upaya untuk mencoba-coba format atau model bisnis yang tepat. Trial and error.
Pertanyaannya, haruskah trial and error? Haruskah buang-buang uang untuk coba-coba? Tidak adakah format yang sudah terbukti dan tinggal melanjutkan? Saya akan menjelaskannya dalam format poin-poin:

  1. Bicara BUMDES adalah bicara perusahaan. Ada dua kelompok besar perusahaan. Operating dan Investing Company. Saya sudah menuliskannya dengan dengan detail. Silakan baca di link ini.
  2. Di desa-desa seperti di desa saya di Madiun, sejak dulu kala sudah dikenal kepemilikan desa atas aset berupa tanah. Di desa saya disebut tanah bengkok. Karakternya tidak kurang tidak lebih adalah sebuah investment company alias IC. Kepemilikan aset oleh desa yang manfaatnya digunakan untuk kebutuhan desa tersebut. Di desa saya semua perangkat desa diberi kompensasi berupa pemanfaatan tanah bengkok. Kepala desa misalnya diberi hak memanfaatkan 7 hektar sawah selama masa jabatannya. Sawah ini bisa ditanami sendiri ataupun bisa juga disewakan oleh si kepala desa.
  3. Tanah tersebut mengandung paling tidak 2 manfaat. Manfaat pertama adalah bagi pemerintahan desa yaitu sebagai biaya gaji bagi perangkat desa. Manfaat kedua adalah bagi masyarakat desa berupa lapangan kerja untuk menggarap sawah itu
  4. Jika desa mendapatkan dana dari anggaran negara, secara sederhana bisa dikelola seperti tanah desa. Dibelikan aset yang bisa bermanfaat baik bagi pemerintah desa maupun bagi masyarakat tanpa ada dengan risiko yang sangat kecil. Nyaris tanpa risiko

    pekerja desa

    BUMDES sebagai investment company  berperan penting dalam membesarkan pelaku ekonomi di  pedesaan melalui korporatisasi

  5. Aset yang dibeli bisa properti seperti tanah desa bisa juga aset lain sebagaimana layaknya sebuah IC yaitu saham atau obligasi/sukuk berbagai perusahaan. Silakan baca link ini untuk portofolio investasi sebuah IC.
  6. Jika besar, BUMDES yang besar akan menjadi perusahaan seperti Temasek Holding nya pemerintah Singapura atau Khazanah Holding-nya Malaysia
  7. Mengapa harus IC dan tidak boleh OC? Paling tidak ada empat alasan. Pertama, OC mengandung risiko rugi dan pailit. Apalagi yang bersifat rintisan dan skala kecil. Tidak stabil, tidak ada sistem manajemen, dan cenderung mudah bangkrut. Uang desa akan hilang. Ini sangat tidak baik untuk dana milik negara atau milik masyarakat banyak
  8. Kedua, OC bersaing dengan OC lain yang sejenis. Jika membangun toko kelontong misalnya, BUMDES akan bersaing head to head dengan toko kelontong milik warga desa. Ini tentu tidak fair karena desa adalah pengayom masyarakat. Bagaimana bisa mengayomi jika harus bersaing.
  9. Hanya IC yang tidak bersaing dengan perusahaan manapun. IC akan menjadi mitra perusahaan lain manapun. IC lain maupun OC. Dengan sesama IC ia akan berpartner masuk sebagai pemegang saham OC sebagai investee. Prinsipnya tidak mau menaruh “telur” di satu keranjang. Dengan OC bidang apapun ia akan menjadi investor.
  10. Ketiga, desa adalah wasit bagi para pelaku ekonomi di desa itu. Tentu tidak fair jika wasit juga merangkap pemain. Pertandingannya pasti akan buruk dan tidak menarik
  11. Keempat, adalanya dilema OC. Untuk sukses dan terbangun sistem, sebuah OC butuh melakukan korporatisasi. Jika tidak dilakukan perusahaan akan kerdil atau tercekik utang seperti Pertamina, Inalum, Garuda, Krakatau Steel, dll. Kalah dalam persaingan. Jika dilakukan ujung-ujungnya juga akan menjadi perusahaan full public company dan tidak lagi menjadi BUMDES. Seperti DHL yang semula BUMN Jerman atau Embraer BUMN Brazil kini menjadi fully public company Tanpa pemegang saham pengendali
  12. Maka, hanya IC format yang tepat bagi BUMDES. Lalu, bagaimana langkah-langkah untuk mewujudkannya? Langkah pertama adalah pembentukan badan hukum BUMDES sesuai undang-undang. Tanda sederhana selesainya langkah pertama ini adalah adanya rekening bank atas nama BUMDES tersebut
    Logo SNF Consulting dengan tagline korporatisasi efek star
  13. Langkah kedua adalah mulai berinvestasi. Pedoman penting bagi IC adalah aman-aman-aman-hasil. Pengelola IC yaitu direksinya harus benar-benar faham konsep portofolio investasi. SNF Consulting bisa menjadi sparring partner direksi untuk keperluan ini
  14. Langkah ketiga adalah terus membesarkan BUMDES dengan kebijakan surplus pada anggaran desa. Pendapatan lebih besar daripada beban. Surplusnya untuk menambah aset BUMDES. Seperti anggaran pemerintah Singapura. Surplusnya diinvestasikan untuk menambah aset Temasek.

Demikian tulisan saya tentang BUMDES. Kembali ke tradisi tanah bengkok alias tanah desa alias tanah ganjaran.  Tradisi yang sesuai dengan ilmu korporatisasi modern.  Anda kepala desa? Atau perangkat desa? Atau pengelola BUMDES? Selamat mempraktekkan.

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Artikel ke-228 ini ditulis dalam perjalanan di Toll Malang- Surabaya oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting

DMU Sebagai Investing Company: Connecting the Dots


Tulisan saya pada artikel ke-222 situs ini telah  membahas bagaimana ekonomi sebagai pilar ketiga Persyarikatan Muhammadiyah dirintis. Format logisnya adalah sebuah investment company. Almarhum Pak Afghon Anjasmara telah meletakkan dasarnya. Bagaimana selanjutnya? Bagaimana sebuah investment company seperti DMU bisa berperan dalam connecting the dots bagi unsur-unsur kekuatan ekonomi yang kini masih berserakan?

Pertanyaan-pertanyaan itu muncul terpicu oleh kehadiran saya pada acara peringatan 25 tahun KML Food yang kemudian di-rebranding  menjadi Kelola Group. Acaranya sungguh membanggakan. Pak Anwar Abbas ketua PP Muhammadiyah  pun naik panggung. Penyanyi Rossa dan Judika hadir untuk menghibur undangan.

IMG_20190909_192515-min (1)

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Anwar Abbas pada acara rebranding KML Food menjadi Kelola Group. Foto koleksi pribadi penulis

Kelola Group  bisa dipandang sebagai sebuah dot dalam pilar ketiga Perserikatan. Mengapa? Tidak lain adalah karena perusahaan yang produknya diekspor ke puluhan negara ini didirikan dan dikelola oleh Pak Nadjik, ketua Majelis Ekonomi PP Muhammadiyah. Sebelumnya adalah ketua Majelis Ekonomi PWM Jawa Timur.

Dalam kategorisasi operating company (OC)-investing company (IC), perusahaan yang telah memiliki lebih dari 65 pabrik pengolahan seafood ini adalah sebuah OC. OC yang tumbuh pesat tidak bisa tidak akan membutuhkan kehadiran IC. Hubungannya adalah seperti DMU-MJB Pharma yang telah saya tulis pada periode lalu. Hubungan mutualistik.

Hubungan mutualistik itu paling tidak bisa dijelaskan dalam aspek finansial. OC akan tumbuh pesat jika bisa berinvestasi jauh lebih besar dari pada labanya. Sari Roti adalah contoh yang tepat untuk di copy paste. Penguasa pasar roti nasional ini misalnya tahun 2017 mengantongi laba Rp 135 milyar. Tahun 2018 Rp 127 miliar. Dua tahun tersebut Sari Roti menggelontorkan dana masing-masing Rp 369 milar dan Rp 367 milar. Masing-masing 2,7 kali laba dan 2,9 kali laba. Bisa dibulatkan sebagai 3x laba. Investasinya adalah membangun pabrik baru untuk masuk pada wilayah baru.

Kebijakan makin menjadi-jadi tahun ini.  Semester pertama 2019 ini labanya Rp 79 miliar. Kas yang digelontorkan untuk investasi adalah Rp 288 miliar alias 3,6 kali laba. Bisa dibulatkan 4x laba. Itulah mengapa Sari Roti hadir sangat masif di pasar. Boikot netizen terkaitt aksi 212 dulu tidak berpengaruh signifikan.

Apakah dengan ekspanasi yang super kencang itu pemegang saham benar-benar mengetatkan ikat pinggang tanpa mengambil dividen sama sekali? Tidak. tahun 2017 dividennya Rp 69 milar. Tahun 2018  Rp 36 milar. Masing-masing 51% dan 28% dari laba. Pemegang saham tetap bisa menikmati investasinya.

Lalu dari mana Sari Roti memperoleh dana untuk membangun pabrik dimana-mana tersebut? Tidak lain adalah dari menerbitkan saham baru. Mengundang investor yaitu perusahaan-perusahaan IC untuk berinvestasi. Tahun 2017 Sari Roti menerbitkan saham baru (rights issue) dan memperoleh dana sebesar Rp 1,308 triliun. Rp 500 milar dari dana itu digunakan untuk  melunasi utang. Selebihnya untuk membangun pabrik. Utang perlu dilunasi untuk melicinkan cash flow.  Perusahaan pun akan makin lincah bergerak di pasar.

Nah, pola pengembangan Sari Roti yang saya sebut korporatisasi inilah yang juga dilakukan oleh MJP Pharma yang saya tulis edisi lalu.  MJB sebagai OC menerbitkan saham sebesar 10%. Saham tersebut dibayar oleh IC. IC nya tidak  lain adalah adalah DMU yang sahamnya sepenuhnya dimiliki Muhammadiyah. Nah, jika MJB bisa bersinergi dengan DMU, tentu saja Kelola Group juga bisa. Bahkan lebih bisa karena pendiri Kelola Group bukan orang lain bagi Muhammadiyah.

Di kalangan Persyarikatan ada banyak dot yang juga bisa dikembangkan melalui sinergi OC-IC. Ada Jatinom sebagai perusahaan peternakan di Blitar. Ada Awam yang selama ini dikenal sebagai jaringa ritel yang kuat di Babat dan sekitarnya. Ada  Wardah yang juga dikenal luas sebagai kosmetik yang sedang naik daun. Ada hotel Sofyan yang dikenal sebagai perintis hotel syariah di negeri ini. Ada Parahita sebagai lab medis ternama. Masih banyak lagi dot yang bisa dikembangkan dengan mengoptimalkan peran DMU sebagai IC.

Lalu dari mana DMU memperoleh dana? Sebagai awalan DMU telah melakukannya dengan baik melalui tangan dingin Pak Afghon almarhum. Selanjutnya ada satu lagi pintu yang harus dibuka oleh Persyarikatan untuk memperkuat pilar ketiga ini yaitu dana wakaf. Pelaksanaannya bisa ditempelkan pada Lazizmu atau bisa juga membuat lembaga wakaf yang baru. Kerjanya adalah mengumpulkan dana wakaf sperti yang dilakukan oleh Universitas Al Azhar dari Kairo hingga mampu menggratiskan uang kuliah hampir untuk seluruh mahasiswanya. Aset wakaf itu kemudian dikelola oleh DMU dan diinvestasikan ke MJB Pharma, Kelola Group, Wardah, Lab mesis Parahita, Hotel Sofyan, Awam dan sebagainya sebagai OC. Menjadi investee bagi DMU. Mereka pun akan tumbuh pesat dengan investasi 3x laba atau lebih tanpa dibebani bunga dan tampa mengembalikan pokok. Tumbuh makin pesat. Mereknya makin kuat. Pasarnya makin luas. Kelak akan hadir dengan di berbagai negara. Melayani konsumen di berbagai negara. Dan yang penting, para karyawan perusahaan-perusahaan itu akan merasakan bahwa sebagian dari laba mereka akan dikontribusikan untuk kepentingan sosial keagamaan. Praktek teknis dari konsep bekerja sebagai ibadah. DMU berperan besar dalam connecting the dots. Saat itulah pilar ketiga benar-benar dirasakan oleh masyarakat dunia. Semoga. Aamin.

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

*)Artikel ke-227 ini ditulis oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting. Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Matan edisi Oktober 2019, terbit di Surabaya

 

Cak Man dan Visi Besar PDAM Surabaya


Perusahaan air minum modern. Itulah visi PDAM Surabaya pada rencana jangka panjang terbarunya. Narasinya: warga Surabaya minum air langsung dari kran PDAM. Air PDAM mengalir 24 jam  dengan tekanan 7 meter. PDAM menyingkatnya dengan 7/24.  Tekanan ini cukup untuk memasok kebutuhan mesin cuci yang ditaruh di lantai 2 rumah-rumah warga. Tanpa pompa di rumah-rumah. Tanpa tandon. PDAM modern sebagai bagian dari kota Surabaya yang modern. Modern city. Smart city.

Visi itu adalah buah dari diskusi panjang nan serius. Saya merasakan denyutnya karena menjadi bagian dari “SNF Consulting inside” di PDAM Surabaya. SNF Consulting menjadi sparring partner team manajemen PDAM dalam perumusan roadmap. Visi adalah bagian pentingnya. Bukan sembarang visi. Tapi Visi yang inspiratif, menggerakkan, sederhana, mudah dicerna,  dan powerfull. Sekali baca langsung hafal. Merasuk ke dalam jiwa. Harus demikian karena visi dituntut berfungsi untuk menyatukan arah seluruh sumber daya.

kran minum

Modern water company

Visinya sudah powerful. Paralel dengan jati diri Surabaya sebagai kota modern. Taman-taman sekelas kota modern Singapura telah hadir jauh sebelumnya. Bus Suroboyo juga sudah memulai debutnya. Jalur pedestriannya rapi jali.  Maka, kehadiran perusahaan air modern di Surabaya adalah sebuah keniscayaan. Kudu iso! Harus bisa!

Ada visi ada misi. Jika visi adalah pernyataan tentang masa depan, misi adalah pernyataan eksistensi. Misi adalah jawaban atas pertanyaan mengapa sebuah perusahaan harus hadir di dunia. Misi adalah alasan eksistensi.  Mengapa  PDAM Surya Sembada harus hadir ke dunia ini sementara dimana-mana sudah ada perusahaan sejenis?

Visi dan misi juga berbeda dalam  hal karakter. Visi harus mudah di hafal  luar kepala dengan sekali baca. Bangun tidur pun orang langsung bisa menyebut visi dengan lancar tanpa salah. Bagaimana misi? Sangat berbeda. Misi bersifat menyatu dalam jiwa. Tidak perlu dihafal. Tidak perlu disebut-sebut juga. Visi adalah jati diri. Membedakan sebuah perusahaan dengan perusahaan lain mana pun.

Dengan definisi seperti itu maka jati diri PDAM haruslah diambil dari jati diri arek Suroboyo. Egaliter, blak-blakan, terbuka, apa adanya, to the point. Itulah rekomendasi SNF Consulting untuk misi alias jati diri PDAM.

Sebagai orang yang terlahir di Madiun, secara pribadi saya merasakan karakter Surabaya itu sejak menjadi mahasiswa ITS. Di ITS, seorang guru besar pun dipanggil pak atau bahkan cak. Tanpa embel-embel prof. Sementara di kampus lain saya sering terdengar sebaliknya. Berani memanggil guru besar tanpa sapaan prof bisa tidak lulus kuliah heheheh. Misalnya saja, kami di ITS tetap memanggil Prof Dr. Muhammad Nuh, DEA  yang mantan mendikbud itu dengan sapaan egaliter Pak Nuh atau Cak Nuh. Itulah Surabaya. Egaliter dengan kinerja top.

Keberadaan direktur utama PDAM yang juga alumni ITS sangat mendukung untuk jati diri ini. Cak dan ning adalah sapaan umum di alumni ITS. Sangat egaliter. Maka, direktur utama yang nama lengkapnya. Mujiaman Sukirno itu cukup disapa Cak Man. Cak adalah sapaan egaliter. Man adalah nama yang juga suroboyo bangeeets. Tepat sekali jika kawan-kawan PDAM menyapa direkturnya dengan sapaan Cak Man. Egaliter dan PDAM bangeets.

Dengan jati diri egaliter itu, siapapun bisa menyampaikan informasi kepada pucuk pimpinan dengan mudah. Karyawan PDAM paling bawah pun bisa santai berkomunikasi dengan direktur utamanya. Dalam kerangka sistem informasi manajemen, yang seperti ini akan menjadi alat kontrol terhadap informasi formal yang masuk kepada direksi melalui jalur hirarki organisasi. Sifatnya by pass. Dan dengan demikian seorang CEO atau direktur utama tidak akan termakan informasi ABS alias asal bapak senang. Hasil akhirnya, CEO akan makin mudah mengontrol eksekusi strategi dan program perusahaan.

cak man

Cak Man bersama arek-arek PDAM Surya Sembada Surabaya. Foto koleksi pribadi Cak Man

PDAM butuh eksekusi yang sangat bagus. Sembodo! Persis seperti yang tertera dalam nama perusahaan. PDAM Surya Sembada.  Sembada adalah serapan dari bahasa Jawa yang artinya cocok antara kata, penampilan dan kinerja. Tidak bisa dibayangkan bagaimana anak buah Cak  Man harus berubah super duper drastis. Selama ini PDAM biasa mengerjakan proyek peremajaan pipa sepanjang sekitar 10 km per tahun. Harus berubah menjadi 150 km per tahun. Kenaikan kinerja 15 kali tentu bukan main-main. Luar biasa. Tentu saja sangat berat. Tetapi itu adalah syarat mutlak untuk sebuah perusahaan air minum modern.

Peremajaan 10 km/tahun artinya membiarkan pipa PDAM akan berumur 600 tahun baru diremajakan. Sementara 150 km/tahun artinya menjaga pipa PDAM agar sudah diganti dalam usia maksimum sekitar 40 tahun. Umur pipa maksimum 40 tahun lah yang akan membuat air di kran langsung diminum dan 7/24.  Bukan 600 tahun. Arek-arek PDAM bisa. Sembodo! Tentu di bawah komando Cak Man tukang ledenge Suroboyo sebagai kepala pasukan. PDAM bisa!

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Untuk lebih detail baca Juga PDAM Versus Aqua

*)Artikel ke-226 ini ditulis di Surabaya pada tanggal 5 Oktober 2019 oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting

Menjadi Ortu Era Milenial Monopolistik


Orang tua (ortu) Era kolonial. Ortu era peralihan. Ortu era milenial. Itu urutan yang pas untuk menggambarkan tiga era yang akan saya tulis berikut ini. Ortu era kolonial terwakili oleh sosok bernama Suro Sentono. Siapa dia? Tidak lain adalah kakek saya yang lahir awal abad 20. Sekitar tahun 1910-an. Beristrikan mbah Samiyah, mbah Suro memiliki 5 anak. Kelimanya bersekolah dan tinggal di desa yang sama dengan ayah ibunya. Saat masa tua hingga meninggal, semua anaknya berada di dekatnya. Jangkauan traveling anak-anak hanya di kota-kota sekitar. Ketika itu naik kereta api, bus atau kadang-kadang jalan kaki. Demikian cerita ayah atau pakde-paklik saya.

iman n 4 gadis

Didik anak-anak milenial dengan baik dan biarkan mereka memiliki masa depannya masing-masing. Kita bersiap  untuk tetap asyik dengan dunia kita dan menjadi orang tua bahagia mandiri sampai akhir hayat.  Foto koleksi pribadi bersama anak-anak.

Ortu era peralihan terwakili oleh Hardjo Sentono. Tidak lain adalah ayah saya. Saya dan saudara-saudara menempuh SD di desa yang sama dengan SD mereka. Menempuh SMP dam SMA di kota kecamatan yang sama dengan mereka. Menempuh pendidikan tinggi di kota-kota yang lumayan jauh. Saya misalnya di Surabaya. Setelah berkeluarga sebagian besar saudara-saudara saya tinggal di kota yang relatif jauh. Ada yang di Surabaya. Ada yang di Jakarta. Hanya satu yang tinggal di dekat rumah. Jadi sudah mulai berbeda dengan generasi kolonial.

Ortu era milenial ya saya ini. Anak pertama sejak SMA sudah di negeri tetangga. Kuliah di negeri yang bahasa dan tulisannya saya sama sekali tidak faham. Dengan kultur yang berbeda sama sekali dengan dirinya yang muslim berkerudung panjang. Anak kedua ketiga mencontoh kakaknya. Anak keempat perempuan lulus SMP belajar bahasa Thailand di Bangkok sendirian. Saat ada urusan visa harus keluar ke Laos juga sendirian. Periode berikutnya ke Kamboja. Tetap sendirian. Hingga si bontot nomor delapan sepertinya tidak akan berbeda dengan kakak-kakaknya.

Pada era kolonial atau peralihan dunia bisnis bersuasana monopoli. Bisnis-bisnis utama dikuasai negara. Atau dikuasai perusahaan yang mendapatkan mandat monopoli dari  negara. Masyarakat dipaksa oleh regulasi untuk hanya bisa membeli barang atau jasa dari perusahaan monopoli.

mbah abu numpak motor

Mbah Hardjo Sentono dan Mbah Ngaisah, pasangan orang tua era peralihan

Era milenial ditandai dengan suasana bisnis yang monopolistik. Seperti monopoli. Tetapi bukan monopoli. Coba cek shampo yang dipakai anak gadis Anda. Tanya mereknya apa. Tanyakan maukah jika diganti dengan merek lain. Jawabannya bisa ditebak: tidak mau. Alasannya macam macam. Salah satunya adalah ketidakcocokan rambutnya. Rambut rontok. Jadilah fanatik dan hanya mau memakai merek tertentu. Bukan karena peran pemerintah.. Tetapi karena kepercayaan pada merek.

Saya yakin, Anda pun begitu. Fanatik dengan sistem operasi Android misalnya. Atau iOS-nya IPhone. BBM ditinggalkan dan mati. Nokia dengan Symbiannya  juga mati. Tidak ada negara yang mampu memaksanya. Yang “memaksa” adalah loyalitas Anda sendiri pada merek yang Anda pakai.

Perusahaan bisa memiliki merek yang monopolistik karena mampu membangkitkan modal murah nyaris tanpa batas untuk berekspansi lintas negara melalui korporatisasi. Android dan iOS dipakai hampir di semua negara di dunia. Tentu kemudian mereka hadir dan beroperasi di nyaris semua negara di dunia.

Dalam suasana bisnis yang monopolistik dunia, seorang karyawan yang berprestasi akan dimutasikan atau berdinas di berbagai negara. Karyawan pemerintah pun demikian. Negara selalu seiring dengan pergerakan bisnis perusahaan-perusahaan. Dengan demikian, jika putra putri Anda yang sudah bekerja tidak berdinas di berbagai negara bisa ditebak karirnya tidak baik. Karir tidak baik berimbas pada kondisi keuangan yang tidak baik pula.

Hal yang sama juga berlaku untuk putra putri Anda yang memilih karir sebagai entrepeneur. Perusahaan milenial baru lahir pun sudah harus berkembang melampaui batas-batas negara. Jualan kebab gerobak saja beroperasi di banyak negara seperti Baba Rafi. Maka, jika putra putri Anda yang berkarir sebagai entrepreneur tidak wira-wiri ke berbagai negara bisa diduga juga perusahaan yang dibesutnya juga tidak cocok dengan jamannya. Tidak berkembang.

Itulah era milenial. Para ortu era milenial cenderung akan ditinggalkan anak-anaknya sejak bangku sekolah. Dan tentu berlanjut hingga karir mereka. Mengharap mereka tetap tinggal di dekat Anda sama dengan menghalangi karir mereka. Menghalangi tuntutan jaman mereka. Menghalangi kesejahteraan mereka.

Saya setuju dengan ungkapan bu menteri Sri Mulyani pada sebuah kesempatan. Experience lebih penting bagi anak-anak milenial dibanding aset. Maka, jangan heran jika gaji atau pendapatan awal mereka tidak dibelikan motor atau mobil. Tetapi dibelikan tiket pesawat untuk traveling kesana kemari. Sesuatu yang sangat berbeda dengan orang tua mereka.

Minggu lalu saya iseng membuka paspor anak kedua sebelum kembali ke kampus. Nyaris 48 halaman paspornya penuh dengan stempel imigrasi berbagai negara. Jauh lebih penuh dari pada passpor  ayah ibunya. Bagaimana tidak wong acara bakti sosial kampus aja di Vietnam. Jauh meninggalkan negeri tempat kampusnya berada.

Logo SNF Consulting dengan tag line korporatisasi

Memang selalu ada orang yang melampaui jamannya. Atau sebaliknya, tertinggal jauh dari jamannya. Orang seperti ayah bundanya KH Hasyim Asyari, KH Ahmad Dahlan atau Bung Hatta adalah contoh yang mendahului  jamannya. Bagaimana tidak ketika putra-putri Mbah Suro Sentono masih sekolah di desa tempat kelahirannya putra putri beliau sudah di sekolahkan ke negeri-negeri yang perjalanannya harus ditempuh berbulan-bulan dengan angkutan ketika itu. Hasilnya ya seperti kita rasakan sekarang: NU, Muhammadiyah dan Republik ini.

Contoh yang tertinggal dari jamanya ya tidak sedikit. Kawan-kawan SD saya  banyak juga yang anak-anaknya masih sekolah dan tinggal di desa yang sama. Desa Kaliabu, kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun.

Lalu apa persiapan agar kita menjadi ortu yang tidak ketinggalan jaman di era milenial? Paling tidak ada lima poin. Pertama adalah bekal pendidikan dasar dari rumah yang cukup untuk anak anak. Pendidikan agama baik secara simbolik maupun secara substansi. Pendidikan simbolik bagi seorang muslim adalah menjaga sholat lima waktu. Berjamaah di masjid bagi anak laki-laki. Berkerudung syar’i bagi anak perempuan. Hatinya terikat dengan masjid. Pendidikan substansi paling tidak ada dua hal. Jujur dalam segala hal dan tidak mau mengambil sesuatu di luar hak. Dengan dua ini anak-anak akan dipercaya dan disukai oleh orang-orang sekitarnya dimanapun mereka berada. Karirnya akan bagus.

Kedua adalah kenalkan mereka dengan kawan-kawan Anda lintas agama, lintas etnis dan lintas bangsa. Dengan demikian Anda pun harus punya kawan-kawan lintas agama, lintas etnis, dan lintas bangsa. Bagi yang muslim pegang salah satu ayat Al Qur’an bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa bersuku-suku itu untuk saling mengenal. Bukan untuk saling membanggakan diri apalagi merendahkan suku atau bangsa lain. Ini yang akan membuat buah hati Anda terbuka wawasannya dan siap berkarir bagus di suasana monopolitsik.

Jika Anda tidak atau belum melakukan pengenalan itu, paling tidak jangan halangi anak-anak untuk bergaul yang demikian. Jika Anda masih ragu untuk melepasnya bergaul secara luas, berarti Anda belum yakin dengan pendidikan dasar pada poin pertama di atas. Segera perbaiki diri. Jangan merasa terlalu tua untuk memperbaiki diri.

Ketiga, Anda nanti akan menua dengan lokasi yang jauh dari anak-anak. Maka sejak sekarang harus menabung persiapan berupa menjaga kesehatan. Cara sederhananya adalah dengan menjaga makan dan disiplin olah raga. Paling tidak seminggu dua kali masing-masing 60 menit menurut saran kawan saya yang dokter. Kerjakan dengan disiplin. Jika tidak Anda akan mudah sakit-sakitan di masa tua. Tentu Anda akan menderita jika sakit dalam kondisi jauh dari anak-anak.

Padahal anak-anak Anda punya karir sendiri-sendiri yang seperti saya gambarkan di atas. Tentu anak yang baik akan  mudah datang ke rumah Anda. Tidak ada kendala finansial untuk membeli tiket dan mendatangi Anda. Tetapi tentu tidak bisa tiap hari. Mereka memiiki anak anak. Mereka memiliki karir sendiri-sendiri.

Menjaga makan dan disiplin berolah raga secara sunnatullah (ilmiah) akan membuat Anda sehat hingga akhir hayat. Sakit hanya sebentar menjelang meninggal. Almarhum ibu mertua saya adalah contoh yang baik. Hingga menjelang akhir hayat rajin senam pagi. Rajin puasa. Rajin sholat tahajut. Suka bepergian dengan ringan ke rumah putra putrinya di luar kota. Sakit hanya sekitar sebulan menjelang meninggal di usia 70 tahun lebih. Meninggalnya pun sangat well prepared. Barang-barang rumah tangga yang dianggapnya penting sudah dikirim ke putra putrinya sebelum sakit dan akirnya meninggal. Saya dikirimi pesawat televisi karena memang saya tidak pernah membeli televisi. TV kiriman ibu itu pun nyaris tidak pernah dinyalakan karena sehari-hari memang keluarga saya biasa tanpa TV sejak pernikahan.

Keempat, Anda harus memiliki investasi. Di era milenial bentuknya adalah saham di berbagai perusahaan. Targetnya pada usia pensiun pendapatan dari dividen sudah cukup untuk biaya hidup sehari-hari. Tidak perlu merepotkan anak-anak untuk urusan ini. Biarkan anak-anak fokus membesarkan dan mendidik cucu-cucu Anda agar sukses dunia akhirat. Kita menjadi orang tau mandiri agar tidak berharap kiriman uang dari mereka. Setelah meninggal bahkan saham dan dividen kita akan menjadi warisan bagi si buah hati.

Kelima, Anda harus punya aktivitas positif yang menyenangkan sampai akhir hayat. Ibu mertua saya aktif di berbagai komunitas di kampung halamannya. Salah satunya ya itu tadi komunitas senam pagi para lansia. Dengan demikian Anda tidak akan merasa kesepian walaupun  hidup jauh dari anak anak. Jika kangen tinggal pesan  tiket untuk mengunjungi anak atau cucu yang jauh di luar kota bahkan luar negeri. Uangnya dari hasil investasi. Bagaimana? Asyik kan? Anda siap menjadi ortu era milenial?

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

*) Atikel ke-225 ini ditulis pada tanggal 14 September 2019 di Surabaya oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting

N250 & Kemustahilan Habibie


Pak Habibie berpulang. Sebagai orang yang selama ini jauh dari kekuasaan, saya tidak punya hubungan pribadi dengan beliau. Beliau di puncak kekuasaan. Saya rakyat biasa. Selama ini berfoto dengan pejabat politik dan penguasa pun saya hindari. Dan saya sudah bertekad untuk terus seperti itu. Itulah jati diri ilmuwan yang saya hayati.

Tetapi saya juga seperti rakyat Indonesia pada umumnya. Merasa dekat dengan beliau. Saat beliau diangkat jadi presiden, hati saya berbunga bunga. Saya pernah bekerja keras 3 tahun saat di bangku SMA demi mengejar fasilitas beasiswa Science and Technology for Industrial Development (STAID) besutan beliau. Beasiswa kuliah sains dan teknologi di perguruan-perguruan tinggi top di dunia. Sudah mendaftar. Sudah ikut tes. Tetapi gagal.

Tapi saya tetap kuliah di bidang teknologi. Teknik Mesin ITS. Saya mengambil mata kuliah pilihan Aerodinamika. Dan kemudian mengambil tugas akhir alias skripsi bidang itu. Merancang sayap pesawat terbang. Seperti keahlian pak Habibie. Walaupun akhirnya berkarir sebagai konsultan manajemen, saya tetap mencintai dunia pesawat. Setiap terbang saya selalu peduli dengan pesawat yang saya naiki. Selalu antusias membaca tentang pesawat. Apalagi tentang perusahaan produsen pesawat terbang. Inilah keahlian yang saya tekuni.

N250 edit1

Intangible asset berupa kepakaran Pak Habibie belum pernah diuangkan menjadi modal murah melalui korporatisasi sampai beliau wafat

NKRI memiliki perusahaan pesawat terbang yang produknya dipakai oleh masyarakat dunia. Inilah kira-kira mimpi pak Habibie. Tepatnya: perusahaan prinsipal pesawat terbang. Munculnya CN 235 lalu N250 lalu N 2130 sudah tepat sebagai langkah menuju cita cita itu. Sebelumnya sudah dimulai dengan memproduksi pesawat lisensi dari Cassa dan beberapa prinsipal lain. Logika dasarnya tidak berbeda dengan perusahaan prinsipal mobil seperti tulisan saya tentang Esemka.

Sebagaimana kita tahu, apa yang dirintis pak Habibie tumbang seiring dengan krisis moneter 1998. IMF sebagai pihak yang membantu pemerintah RI untuk keluar dari krisis melarang pasokan dana kepada PTDI alias IPTN ketika itu. Pengembangan N250 pun berhenti hanya sampai pada penerbangan perdana.

Maka, IMF menjadi kambing hitam tumbangnya mimpi Habibie. Apakah benar demikian? Setelah mempelajari pola keberhasilan perusahaan prinsipal pesawat, saya menyimpulkan bahwa salah besar jika kita mengkambinghitamkan IMF.

Coba pelajari APBN kita sejak Orde Lama. Kita konsisten memilih kebijakan APBN defisit. Defisit ditambal dengan utang. Artinya, tiap tahun utang pemerintah kita terus-menerus meningkat. Sampai saat ini kita belum ada wacana yang kuat untuk mengubah pilihan kebijakan APBN dari defisit menjadi surplus.

Dengan kebijakan defisit, adalah konyol jika kita menggunakan duit utangan untuk investasi membangun perusahaan prinsipal pesawat terbang.  Mari belajar dari Embraer. Perusahaan ini lahir sebagai BUMN Brazil. Usianya pun sebaya PTDI. Kini posisinya adalah produsen pesawat komersial ketiga di dunia. Hanya kalah oleh Airbus dan Boeing.

Aset Embraer dalam laporan terbarunya (2018) adalah USD 11,293 miliar alias Rp 158 triliun. Inilah kira-kira uang yang harus dimiliki oleh PTDI untuk menjadi prinsipal pesawat sekelas Embraer. Untuk  menjadikan N250 dan N2130 tersedia di bandara-bandara utama dunia. Memposisikan N250 dann N2130 sebagai revenue and profit driver alias RPD. Agar pesawat-pesawat itu bisa kita beli tiketnya lewat aplikasi pemesanan online.

Dari mana asal uang sebesar itu, Embraer mendapatkanya dari proses korporatisasi. menerbitkan saham terus menerus untuk “menjual” intangible asset. Saham pemerintah pun terus menerus terdilusi. Inilah satu satunya sumber dana yang mungkin bagi pengembangan sebuah perusahaan prinsipal. Dana murah. Investor hanya minta dividen kecil. Paling sekitar 1-3% per tahun. Bahkan pada perusahaan start up sama sekali tidak minta dividen. Pokoknya pun tidak diminta kembali. Mereka hanya berharap capital gain jangka panjang. Persis seperti investor properti yang tiap bulan harus nyicil bertahun-tahun dan propertinya dibiarkan nganggur.

Tidak mungkin uang tersebut diperoleh dari utang. Baik perusahaan berutang secara langsung. Ataupun pemerintah yang utang melalui APBN dan disuntikkan sebagai ekuitas kepada IPTN. Duit utang yang berbunga dan pokoknya harus dikembalikan dalam jangka waktu tertentu tidak layak digunakan untuk pengembangan perusahaan prinsipal. Sesuatu yang mustahil.

Maka, sudah benar IMF meminta menyetop kucuran dana APBN kepada IPTN. Tidak layak dana utang digunakan untuk investasi ekuitas. Tetapi bukan berarti PTDI harus berhenti. Mestinya PTDI membuka keran bagi investor seperti Embraer. Uang Rp 158 triliun itu kecil bagi 250 juta rakyat Indonesia. Tinggal buka kerannya.

Kini pak Habibie telah berpulang. Akankah kita lanjutkan kemustahilan itu? Berharap bisa kemana-mana naik pesawat PTDI. Tetapi tetap bersikukuh mau membiayainya dengan utang? Tidak. Berikan kesempatan Pak Habibie menikmati amal jariyah jerih payahnya merintis IPTN. Beri kesempatan pak Habibie menerima kiriman amal jariyah atas ilmu bermanfaatnya saat jutaan orang di seluruh dunia naik pesawat PTDI. Urutan langkah dari lisensi-CN235-N250-N2130 sudah betul. Tinggal carikan duitnya seperti yang dilakukan oleh Embraer melalui korporatisasi. dengan menguangkan intangible asset jerih payah pak Habibie. Semoga kita diberi kekuatan untuk menyingkirkan kemustahilan Habibie. Naik N250 dan N2130 yang dioperasikan oleh Garuda, Lions, Singapore Airlines, Ittihad, Delta Airlines, Silk Air, dan lain dan lain lain. Semoga. Aamin.

Klik untuk bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca Juga
Mengapa riset kita mandul?
RPD Sebagai Peredam Risiko Investasi Wakaf
RPD Sebagai Pedal Gas
Giant Tutup: Sulitnya Menemukan Kembali RPD
Deep Dive Sang CEO Mengamankan RPD
RPD Sebagai Salah Satu Tahap Corporate Life Cycle
Faktor kali alias RPD

*)Artikel ke-224 ini ditulis pada tanggal 12 September 2019 oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting

Esemka & Mimpi Mobnas: Pelajaran Tesla & Hyundai


Isu mobil nasional (mobnas) tidak pernah sepi dari perhatian. Bukan hanya sekarang. Sejak jaman Pak Harto pun demikian. Demikianlah karakter isu bisnis jika bercampur dengan nasionalisme. Plus bercampur dengan politik. Makin seru.

Tetapi sebagai penulis manajemen yang terus bekerja mengedukasi masyarakat, saya melihat ada celah positifnya. Kepedulian publik terhadap Esemka bisa menjadi pintu masuk untuk edukasi. Publik peduli. Lalu membaca. Sebagai penulis saya menyediakan konten manajerial yang benar. Publik pun faham. Dan itulah yang nanti dalam jangka panjang akan menjadi bahan bakar pertumbuhan bisnis dan ekonomi bagi negeri ini. Termasuk mobil nasional.

images (1)

Toyota Kijang kotak:  tidak bisa disebut mobil nasional karena menggunakan merek Toyota. Gambar dari http://www.gridoto..com

Nah, bagaimana sebenarnya tentang mobil nasional ini? Mengapa kita selalu gagal hingga saat ini? Mengapa Esemka juga (bisa dipastikan) gagal sebagai mobnas? Bagaimana solusinya? Saya akan menjawabnya dengan benchmark perusahaan-perusahaan terbaru yang sukses muncul sebagai “mobnas” di negaranya masing masing. Tesla dan Hyundai. Selamat menyimak

  1. Perusahaan produsen mobil bisa dibagi menjadi dua: prinsipal dan non prinsipal
  2. Ciri prinsipal: menjual dengan produk yang didesain sendiri dengan merek sendiri. Desain ini mencakup seluruh, sebagian besar, atau paling tidak pada suku-suku cadang utama
  3. Yang tidak memenuhi syarat itu tidak disebut prinsipal. Astra International misalnya walaupun memproduksi dan menjual mobil dan motor dengan jumlah jutaan unit per tahun tetapi tidak bisa disebut prinsipal. Yang dijual adalah mobil merek Toyota atau Daihatsu. Motornya merek Honda. Toyota, Daihatsu dan Honda lah yang menjadi prinsipal. Astra membayar royalti kepada mereka
  4. Apa akibatnya jika merek sendiri tetapi tidak mendesain sendiri? Tentu saja harus izin kepada perusahaan lain yang memiliki desain tersebut dan harus membayar royalti. Ujung-ujungnya akan meningkatkan harga jual. Produk tidak akan kompetitif di pasar
  5. Komponen mobil ada banyak. Ribuan. Masing-masing harus diproduksi massal. Produksi massal butuh minimum kuantitas. Paling tidak sekitar 30 ribu biji.
  6. Karena akan diproduksi massal maka riset dan pengujian untuk desain ribuan suku cadang tersebut harus memadai. Agar tidak ada cacat produksi yang merugikan baik secara finansial maupun bagi persepsi pasar kelak ketika produk dilepas ke pasar
  7. Dengan demikian, tentu dibutuhkan dana yang tidak sedikit untuk menjadi perusahaan prinsipal. Contoh perusahaan prinsipal mobil terbaru adalah Tesla dari USA. Posisi aset Tesla pada laporan tahun terakhir (2018) adalah USD 29,7 milar alias Rp 416 triliun. Padahal sampai saat ini Tesla “hanya” punya empat tipe mobil yaitu Roadster, Model X, Model Y dan Model 3. Artinya, untuk satu tipe mobil dibutuhkan aset sekitar Rp 104 triliun
  8. Uang sebesar itu tidak bisa diperoleh dari utang. Karena jika utang cost of capitalnya terlalu tinggi dan tidak bisa menderita kerugian belasan tahun seperti yang terjadi pada Tesla.
  9. Tesla berdiri tahun 2003. Meluncurkan tipe pertamanya, Roadster, pada tahun 2008. Butuh waktu 5 tahun untuk berdiri, melakukan riset sampai bisa menjual produk ke pasar. Tentu ini semua butuh uang dengan pendapatan nol.
  10. Sampai usianya yang ke 15 tahun yaitu tahun 2018 Tesla masih menderita kerugian walaupun penjualan terus meningkat. Tahun 2018 omzet Tesla adalah USD 21,4 miliar (Rp 300 triliun) dengan menjual 191 ribu unit. Omzet meningkat 83% dari tahun sebelumnya. Tahun 2017 juga meningkat 68% dari tahun sebelumnya.
  11. Dengan penjualan sebesar itu, tahun 2018 Tesla masih membukukan rugi sebesar USD 1,062 miliar alias Rp 15 triliun. Akumulasi kerugian Tesla sejak berdiri adalah USD 5,3 miliar alias Rp 74 triliun. Bagaimana tahun ini? tahun depan? Apa sudah laba? Kita tunggu saja laporannya
  12. Kerugian seperti itu tidak mungkin dilakukan jika duit Tesla diperoleh dari utang. Yang mungkin hanya dari setoran modal para pemegang saham. Para investor jangka panjang. Mereka tidak seperti bank. Mereka tidak minta bunga. Juga tidak minta pengembalian uang pokok. Hanya berharap dividen dan meningkatnya nilai saham (value) kelak pada masa depan
  13. Apakah investor (pemegang saham Tesla) tidak takut rugi? Tidak. rugi bagi investor sudah diperhitungkan dan sudah dimitigasi. Mereka adalah investment company dengan dana kelolaan yang besar. Pemegang saham terbesar Tesla adalah Baillie Gifford dengan 15,9%. Urutan berikutnya adalah adalah Fidelity, Price T Rowe, Vanguard, dan Morgan Stanley. Total ada 901 perusahaan. Semuanya adalah investment company. Plus jutaan investor individual.
  14. Investment company hanya mengalokasikan sekitar 0,1-0,3% dari dana kelolaan untuk ditanam di perusahaan start up seperti Tesla. Itupun disebar ke berbagai start up. Yang 99,7-99,9% ditanam di perusahaan-perusahaan yang sudah mapan yang tiap tahun laba dan membagikan dividen. Billie Gifford misalnya dana kelolaannya adalah USD 262 miliar alias sekitar Rp 3 677 triliun. Nilai saham di Tesla kini sekitar Rp 77 triliun. Tentu saja nilai saat masuk tidak sebesar itu.
  15. Hubungan antara Tesla dengan banyak investment company ini membentuk pola yang saya sebut sebagai korporatisasi
  16. Itulah pengalaman Tesla menjadi prinsipal mobil. Nanti mungkin akan ada pertanyaan. Tesla kan mobil listrik? Esemka kan bukan mobil listrik? Jawabnya: mobil listrik atau mobil BBM itu hanya masalah satu komponen inti: motor penggerak. Yang lainnya sama. Itulah kenapa dalam dokumen resmi perusahaan Tesla tidak memposisikan diri bersaing di pasar mobil listrik. Tesla memposisikan diri bersaing di pasar mobil secara keseluruhan. Pesaing Tesla adalah Ford, General Motor, Honda, Toyota, Hyundai dan perusahaan-perusahaan prinsipal mobil lainnya. Realitas bisnis dan pasar memang menuntut yang seperti ini
  17. Tesla tampil sejak awal memposisikan diri sebagai perusahaan prinsipal mobil. Konsekuensinya rugi pun ditanggung. Investor hingga saat ini masih percaya walaupun sudah 15 tahun tetap rugi. Inilah kuncinya. Bagaimana memiliki konsep bisnis yang jelas, masuk akal dan prospektif dalam hitungan investor.
  18. Pertanyaannya, tidak adakah cara lain untuk menjadi prinsipal selain seperti cara Tesla? Saya kira saat ini ini adalah satu-satunya alternatif yang mungkin. Berbeda dengan dulu saat Hyundai memulai bisnis yaitu tahun 1967.

    Hyundai Atoz

    Hyundai bisa menjadi pelajaran bagi cita-cita mobil  nasional

  19. Hyundai muncul sebelum era internet. Dimulai dengan memproduksi Ford Cortina yang mulai dipasarkan tahun 1968. Sebelum era internet, orang belum bisa mendapatkan informasi dengan mudah bahwa yang dibuat Hyundai sebenarnya adalah lisensi dari Ford. Maka Hyundai masih bisa menjual mobil lisensi tersebut dengan sukses
  20. Hasil kesuksesan mobil lisensi kemudian digunakan untuk investasi menjadi prinsipal. Tahun 1976 diluncurkan Hyundai Phony. Pasar domestik bisa diraih. Bahkan tahun itu juga Hyundai sudah mengekspor produknya sebagai perusahaan prinsipal mobil ke Ekuador. Hyundai sukses merintis bisnis prinsipal mobil dengan lisensi sebagai awalan
  21. Bisakah cara Hyundai dilakukan saat ini? Tidak bisa. Saya tidak ragu sama sekali dengan jawaban ini. Mengapa? Karena internet begitu mudahnya. Munculnya meme perbandingan antara mobil Pick Up Esemka dengan mobil Changan adalah the power of internet. Bahkan masyarakat dimanapun bisa tahu bahwa Changan ditawarkan melalui internet. Harga terpampang dengan jelas. Ini merupakan iklan negatif Esemka akibat era internet dan media sosial
  22. Itulah mengapa Tesla hadir dengan cara baru. Seperti dulu juga dilakukan oleh prinsipal pendahulunya semisal Toyota atau Ford. Hadir dengan hasil desain dan riset sendiri sejak awal. Hadir di pasar dengan keunggulan milik sendiri sejak awal
  23. Bagaimana dengan Timor, Maleo, Bimantara, Perkasa, Fin Komodo dan terakhir Esemka? Timor, Bimantara dan Esemka polanya adalah seperti Hyundai. Sebagaimana penjelasan di atas, cara ini tidak bisa dilakukan di era internet dan media sosial. Hanya cocok di era Hyundai.
  24. Bersama dengan Hyundai sebenarnya kita ada Astra yang memproduksi dengan lisensi Toyota. Bedanya, setelah sukses memproduksi dan menjual mobil Toyota Astra tidak beranjak dari posisi penerima lisensi. Astra tidak melakukan riset dan desain untuk meluncurkan mobil dengan merek sendiri. Ini tidak bisa dipisahkan dengan proses korporatisasi Astra yang mandeg.  Ini perbedaannya dengan Hyundai. Hyundai melakukan proses korporatisasi seperti Tesla untuk mendapatkan modal jangka panjang dalam jumlah besar dengan cost of capital yang rendah.
    Logo SNF Consulting dengan tag line korporatisasi
  25. Perkasa sudah hadir dengan merek, riset dan desain sendiri. Bahkan sudah diproduksi. Tetapi kehabisan nafas karena tidak membuka kran sumber modal melalui korporatisasi seperti Tesla. Ingat, satu modal mobil butuh modal yang dalam pengalaman tesla sekitar Rp 104 triliun
  26. Maleo hadir dengan merek sendiri lengkap dengan risetnya. Tetapi belum pernah sampai ke pasar. Tentu ada masalah modal juga di dalamnya
  27. Bagaimana dengan Fin Komodo? Perusahaan besutan alumni ITS dan IPTN ini sudah hadir ke pasar dengan strategi niche marketing. Mengambil bagian dari segmen kecil berupa mobil off road dengan merek dan hasil riset sendiri. Produk sudah diterima pasar. Ini adalah strategi yang sudah tepat. Tinggal mau atau tidak melakukan langkah selanjutnya: mendatangkan modal besar seperti yang dilakukan oleh Tesla
  28. Jika tidak mau, kondisinya tidak akan berbeda jauh dengan almamater pendirinya: IPTN. Unggul dalam riset dan SDM, tetapi tidak ada modal yang cukup. Sepanjang saya naik pesawat, belum pernah ketemu sekalipun pesawat produk IPTN atau PTDI di bandara. Apalagi naik. Berbeda nasib dengan perusahaan sebayanya: Embraer. Embraer kini adalah produsen pesawat komersial terbesar ke-3 di dunia. Hanya kalah dengan Airbus dan Boeing.
  29. Bagaimana dengan upaya Pak Dahlan Iskan di bidang mobil listrik beberapa waktu lalu? Yang dilakukan baru sebatas riset awal. Perusahaannya pun belum terbentuk.  Apalagi sampai memikirkan dana ratusan triliun seperti Tesla. Masih jauh.
  30. Walaupun seumur dan sama sama berdiri sebagai BUMN, PTDI berbeda dengan Embraer. Bedanya adalah pada proses mendatangkan modal besar dengan cost of capital rendah yaitu korporatisasi. Embraer melakukan. PTDI tidak

Bagaimana, sudah mendapatkan gambaran bagaimana mewujudkan mimpi mobil nasional dengan cara yang tepat? Republik ini memanggil para pelaku industri permobilan untuk tampil seperti Elon Musk di Tesla. Semoga cak Ibnu Susilo dari Fin Komodo terpanggil. Tentu saja harus didukung oleh perusahaan investasi seperti Saratoga yang juga melakukan proses pembesaran terus-menerus. Republik ini juga memanggil Anda siapa saja dengan profesi apa saja untuk berperan menjadi investor. Munculnya perusahaan investasi besar seperti Baillie Gifford tidak mungkin tanpa budaya investasi masyarakat. Ayo sambut panggilan Republik ini sesuai posisi kita masing-masing.  Saya dan SNF Consulting mengedukasi masyarakat melalui tulisan dan menyiapkan para pelaku bisnis dan perusahaan investasi melalui layanan konsultasi manajemen. Anda siap?

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

*)Artikel ke 223 ini ditulis di Kota Pahlawan pada tanggal 10 September 2019 oleh Iman Supriyono, konsultan senior dan CEO SNF Consulting

Pilar Ketiga Muhammadiyah: Obituari Afghon Anjasmara


Pendidikan, kesehatan, ekonomi. Itulah tiga pilar Muhammadiyah. Pilar pendidikan sudah sangat mapan. Ada lebih dari 150 perguruan tinggi. Ada ribuan sekolah berbagai tingkatan di seluruh Indonesia. Bahkan juga di negara-negara lain. Walaupun tidak ada hubungan struktural organisatoris, sekolah Muhammadiyah di Singapura misalnya sudah sangat mapan. Saya pernah datang dan berdiskusi panjang dengan pengelola sekolah di kawasan Geylang tersebut.

Sebagaimana karakter Muhammadiyah, pendidikan juga bersifat non profit. Lembaga pendidikan menerima pendapatan dari uang sekolah para siswa dan pendapatan-pendapatan lain. Pendapatan digunakan untuk membiayai operasional sekolah seperti gaji guru, perawatan bangunan, kebersihan dan lain lain. Selisih antara seluruh pendapatan dengan seluruh beban biaya ini disebut laba alias profit. Sifat non profit maksudnya adalah bahwa profit yang diperoleh dari lembaga pendidikan tidak boleh diambil oleh siapapun. Tidak boleh ada seperti apa yang dalam badan hukum PT disebut dividen.

Pilar kesehatan bagai Muhammadiyah juga telah memliki sejarah panjang. Belakangan memang rumah sakit bisa berbadan hukum PT. Artinya laba dari penyelenggaraan rumah sakit bisa diambil oleh pemegang saham sebagai dividen. Tetapi karena tetap boleh  berbadan hukum non profit maka rumah-rumah sakit Muhammadiyah tetap bisa melayani masyarakat. Bahkan terus berkembang dimana-mana. Di Jawa Timur saja ada lebih dari 30 rumah sakit.

Pilar ketiga adalah ekonomi. Ini adalah sesuatu yang baru bagi Muhammadiyah. Karakternya berbeda dari dua pilar sebelumnya. Pendidikan dan kesehatan bersfat non profit, ekonomi bersifat profit. PT adalah badan hukum yang paling banyak berperan dalam produksi barang dan jasa yang dibutuhkan masyarakat luas. Laba dari sebuah PT adalah hak pemegang saham dan bisa diambil dalam bentuk dividen.

Perbedaan karakter inilah yang menuntut proses pembelajaran bagi Muhammadiyah. Prosesnya pun tidak mudah. Bank Persyarikatan misalnya, adalah contoh kegagalan proses pembelajaran yang traumatis. Kegagalan Bank Persyarikatan saat itu bahkan berisiko menyeret para pimpinan Muhammadiyah ke meja hijau. Memang masalah bisa terselesaikan dengan baik. Tidak sampai ke pengadilan. Tetapi efek traumanya masih terasa hingga saat ini.

Kegagalan jaringan mini market Markaz juga bagian dari proses pembelajaran itu. Saya sempat membaca buku panduan operasional Markaz yang sangat lengkap. Sebagai orang konsultan manajemen, saya menilai konsep itu sudah sangat memadai. Tetapi masalah utamanya bukan konsep itu. Markaz pun gagal. Namanya tinggal kenangan.

$$$

Masjid Universitas Muhammadiyah Gresik menjelang Dhuhur. Datang ke masjid memenuhi panggilan adzan bukan hal istimewa. Saya berusaha menjaganya dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi kali ini tidak biasa. Saya menempuh perjalanan lebih dari 30 km untuk mencapai masjid itu. Keistimewaan itu datang karena sebuah nama: Afghon Anjasmara. Biasa dipanggil Pak Afghon. Ya. Kedatangan saya di masjid kawasan GKB itu adalah untuk ikut sholat jenazah almarhum Pak Afghon yang meninggal sehari sebelumnya.

Hasil gambar untuk afghon anjasmoro

Afghon Anjasmara, berbaju putih, bersama anak buahnya di PT DMU. Foto koleksi DMU

Pak Afghon adalah direktur pertama PT Daya Matahari Utama. Saham perusahaan yang juga dikenal dengan nama DMU itu  sepenuhnya dimiliki Muhammadiyah. Sebuah perusahaan yang didirikan dengan semangat untuk membangun pilar ketiga oleh PWM Jawa Timur.

Sebagai direktur pertama DMU, Pak Afghon adalah orang yang secara langsung terjun memimpin proses pembelajaran Pilar ketiga. Bekalnya tidak kurang. Sebelumnya Pak Afghon lama menjadi direktur utama salah satu anak perusahaan PT Semen Indonesia. Jadi, tentang pernak-pernik bagaimana menjalankan sebuah perusahaan bukanlah hal baru bagi Pak Afghon.

Mas Mufid, salah satu anak buah Pak Afghon di DMU menceritakan bagaimana pak Afghon bekerja.  Sebagaimana peran direktur pada umumnya  lelaki asli Gresik itu menjalankan dua tugas kedirekturannya dengan baik. Tugas stratejik maupun tugas administratif.

Tugas stratejik direktur adalah bagaimana perusahaan yang dipimpimnnya eksis. Sebagai perusahaan baru tentu tugas ini tidak mudah. DMU harus bekerja keras bangkit dari beban sejarah  PT Daya Matahari Jatim (DMJ). DMJ adalah besutan PWM Jatim  yang berakhir dengan kerugian. Dari posisi itulah Pak Afghon memulai membangun eksistensi DMU. Bukan dari nol. Tapi dari minus.

Eksistensi secara teknis artinya perusahaan memperoleh laba. Inilah yang dikerjakan oleh Pak Afghon dengan baik. Sekolah-sekolah Muhammadiyah yang bertebaran di Jawa Timur digarap sebagai captive market. Seragam sekolah, buku, alat tulis dan aneka kebutuhan sekolah menjadi bidikan awal. DMU pun sukses memperoleh laba sejak tahun-tahun awal kehadirannya di dunia bisnis.

Tugas administratif direktur adalah mengelola, mencatat dan membukukan setiap pergerakan aset perusahaan. Mencatat satu demi satu. Tidak boleh ada satupun yang terlewat. Akuntansi menjadi alatnya. Mas Mufid menceritakan betapa telaten dan sabarnya Pak Afghon mengajari anak buahnya yang nol pengalaman. Laporan keuangan pun bisa diterbitkan sesuai standar akuntansi.

Pak Afghon meletakkan dasar peran DMU sebagai sebuah holding company. Contoh bagus dari konsep ini adalah apa yang dilakuan oleh Harvard Management Company (HMC). Berbeda dengan operating company, holding company tidak menjalankan operasional perusahaan. Tidak memproduksi barang ataupun jasa. Tidak juga memperoleh pendapatan dari produk tersebut. Pendapatannya berasal dari investasi aset yang dimilikinya. Sebagian besar asetnya adalah berupa saham di berbagai perusahaan lain.

Menangkap peluang captive market sekolah-sekolah memang bukan aktivitas sebuah holding company. Tetapi tanpa ini maka DMU tidak akan eksis sebagai perusahaan. Tidak ada uang untuk menggaji karyawan. Tidak ada laba untuk bekal menjadi sebuah holding company alis investment company. Meletakkan dasar inilah yang telah dilakukan dengan sangat baik oleh Pak Afghon.

pilar ketiga muhammadiyah

Infus Emjebe dari PT Emjebe Pharma, salah satu investee PT DMU sebagai pilar ketiga Muhammadiyah yang dirintis oleh Almarhum Afghon Anjasmara

Apakah dasar itu telah cukup kuat? Pak Abdullah Smith membuktikannya. Setahun setelah ditinggalkan Pak Afghon, direktur kedua DMU ini memulai peran sebagai holding company. DMU masuk sebagai pemegang saham Emjebe Pharma pada tahun 2015. DMU menyetor dengan 500 lembar saham masing-masing berharga Rp 10 juta. Total Rp 5 miliar. Saat itu total saham Emjebe adalah 5000 lembar sehingga posisi DMU adalah pemegang saham 10%.

Perusahaan yang digawangi dedengkot infus pak Bambang Koestoyo itu berkembang begitu pesat. Pengalamannya lama sebagai tangan kanan Otsuka adalah jaminan. Otsuka adalah raja infus dunia. Bahkan sebelum 15 tahun di perusahaan Jepang itu, Pak Bambang juga sudah malang melintang di Colgate Palmolive, Corning Glass, Johnson & Johnson dan lain-lain. Pendek kata, Emjebe adalah pilihan tepat bagi DMU. Sebagai investing company  aktivitas keseharian adalah memilih dan memasukkan dananya sebagai saham di perusahaan investee seperti Emjebe itu.

Holding company harus memilih perusahaan yang melakukan korporatisasi secara terus-menerus. Setelah DMU masuk, MJB masih terus menerbitkan saham baru untuk ekspansi. Tentu masuknya pesaham baru harus membayar agio saham yang lebih besar. Harga saham terus naik. Penerbitan saham terakhir Emjebe sudah pada harga Rp 25 juta. Sudah naik 2,5 x lipat dari harga saat DMU masuk. Artinya, investasi DMU di Emjebe nilainya sudah naik menjadi Rp 12,5 milyar.  Ada capital gain Rp 7,5 milyar dalam waktu 4 tahun.

logo tag line korporatisasi animasi awan

Korporatisasi: konsep pilar ketiga butuh  keterbukaan para pengusaha Muhammadiyah untuk melakukan korporatisasi pada perusahaan yang didirikannya

Nilai total Emjebe berdasarkan harga penerbitan saham terakhir adalah Rp 192 miliar lebih. Lima ratus lembar saham DMU adalah setara dengan kepemilikan 6,5%.  Beginilah investee DMU. Terus tumbuh dengan korporatisasi. Meningkatkan omzet, laba, pendapatan dan nilainya. DMU sebagai investor menikmati capital gain dan hak atas laba yang makin meningkat.

Siapa pembeli infus Emjebe? Dengan kualitasnya yang standar Eropa, pesaing Otsuka ini punya keunggulan di pasar. Rumah-rumah sakit mana pun kenal standar itu. Potensinya masih sangat besar termasuk di rumah-rumah sakit Muhammadiyah dimana-mana.

Ayah saya sempat beberapa kali dirawat di RSI Madiun. Infus di RS milik Muhammadiyah itu belum menggunakan Emjebe. Ini adalah potensi pasar yang luar biasa bagi Emjebe. Pak Bambang akan terus memimpin ekspansi untuk bisa menangkapnya. Tentu dengan modal berskema korporatisasi. Terus-menerus menerbitkan saham. Kelak 500 lembar saham DMU tidak lagi setara dengan 6,5%. Prosentase akan terus turun.  Tetapi nilai akan makin meningkat lagi. Karakter investment company memang maunya persentase Tidak menaruh telor pada satu keranjang. Mempercayakan sepenuhnya pengelolaan pada manajemen investee sesuai tata kelola perusahaan modern.

$$$

Ketua Majelis Ekonomi PP Muhammadiyah Pak Muhammad Nadjikh  juga punya kesan mendalam tentang pak Afghon. Saat Majelis Ekonomi PP Muhammadiyah mengembangkan mini market Markaz, bersama Pak Nadjikh Pak Afghon mengumpulkan modal untuk mendirikan sebuah gerai Markaz. Pah Afghon berkontribusi sekitar 150 juta dari kebutuhan investasi Rp 500 juta. Saat itu Pak Nadjikh belum memimpin Majelis Ekonomi PP Muhammadiyah.

Sebenarnya mendirikan Markaz bagi Muhammadiyah memang tidak tepat. Markaz adalah operating company. Mestinya  investing company seperti DMU. Seperti HMC-nya Harvard. Ketidaktepatan ini berbuntut bubarnya Markaz. Investasi pribadi pak Afgon bersama pak Nadjikh melayang. Tetapi hilangnya uang ini adalah bukti nyata dukungan pak Afghon bagi pilar ketiga Muhammadiyah. Dukungan dengan jiwa dan harta sekaligus.

Selepas sholat jamaah dhuhur siang itu, pak Afghon dilepas oleh keluarga, handai taulan, dan para sahabatnya melalui prosesi sholat jenazah yang singkat tetapi bermakna dalam. Saya dan Pak Smith berada di shaf-shaf yang memenuhi masjid kampus itu. Mendoakan untuk Pak Afghon. Menguatkan diri agar mampu melanjutkan apa yang telah dirintis Pak Afghon sebagai orang pilar ketiga. Agar DMU menjadi investment company yang sekelas HMC. Yang pendapatan dividennya mampu menopang sebagian besar biaya layanan pendidikan dan kesehatan Muhammadiyah. Agar kaum lemah bisa bersekolah dan berobat secara gratis dengan layanan terbaik. Agar menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir bagi Pak Afghon sebagai orang pilar ketiga. Aamin.

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

*)Artikel ke-222 ini ditulis oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting. Tulisan juga dimuat di Majalah Matan edisi September 2019, terbit di Surabaya

 

 

 

 

 

 

 

 

Direktur & Komisaris: Tugas Stratejik & Administratif


Di perusahaan-perusahaan banyak terjadi kesalahan atau kerancuan antara peran atau tugas direktur  (jamak: direksi atau dewan direksi) dengan komisaris (jamak: dewan komisaris). Apa sebenarnya peran dan tugas direksi? Apa peran dan tugas  komisaris?  Ikuti poin-poin ini.

photo

Tepatnya penataan peran direksi dan komisaris  memungkinkan perusahaan terus eksis dan sahamnya bisa diwariskan dari generasi ke generasi.  Foto: koleksi pribadi lokasi di Gunung Bromo

  1. Paling tidak ada dua tugas utama direksi yaitu tugas stratejik dan tugas administratif. Tugas stratejik direksi adalah bekerja agar perusahaan semakin eksis dari waktu ke waktu. Secara lebih teknis tugas ini adalah bekerja dengan sepenuh kekuatan agar perusahaan terus tumbuh dalam empat ukuran utama perusahaan: laba, omzet, aset dan nilainya.
  2. Tugas administratif direksi adalah mengelola setiap pergerakan aset perusahaan dan melaporkannya satu demi satu sesuai dengan standar akuntansi. Ini bukan tugas ringan. Tetapi direksi tidak harus mengerjakannya sendiri. Ia harus mendelegasikan tugas itu kepada para karyawan melalui job description dan SOP.
  3. Sebagai pengawas, komisaris paling tidak juga memiliki dua tugas terkait dengan dengan tugas direksi tersebut. Tugas stratejik dan administratif
  4. Tugas stratejik komisaris adalah melakukan pengawasan terhadap tugas stratejik direksi. Artinya, komisaris bertanggung jawab untuk melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan tugas stratejik direksi
  5. Tugas administratif komisaris adalah melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan tugas administratif direksi.
  6. Tugas komisaris bukan hal ringan. Mengawasi itu seperti polisi lalu lintas yang diam di pos pantau pinggir jalan. Para pengemudi tidak perlu melapor kepada polantas. Tetapi polantas akan terus mengamati gerak-gerik para pengemudi. Jika ada kesalahan, tanpa laporan si pengemudi polantas akan langsung meniup peluitnya dan memproses pelanggar sesuai aturan yang berlaku.
  7. Di berbagai perusahaan terjadi salah kaprah atau kerancuan peran komisaris. Yang paling umum adalah komisaris diposisikan sebagai atasan direksi. Bentuk teknisnya: direksi wajib mendapatkan persetujuan komisaris dalam pengambilan keputusan. Jika ini yang terjadi, maka fungsi pengawasan hilang. Komisaris telah menjalankan tugas eksekusi yang mestinya menjadi tugas direksi. Dan direksi telah mengalihkan tugas sebagai eksekutif kepada komisaris. Direksi hanya menjadi “tukang bikin proposal”. Keputusannya ada pada komisaris.  Perusahaan yang biasanya menggaji direksi dengan gaji tinggi akan sangat dirugikan. Perusahaan menanggung risiko besar karena tidak adanya pengawasan.
  8. Bayangkan situasi begini. Dalam sebuah keputusan tertentu, komisaris telah menandatanganinya. Belakangan setelah keputusan dijalankan ternyata komisaris menjumpai adanya kesalahan pada keputusan tersebut. Dalam kondisi seperti itu, apakah komisaris akan berani mengungkapnya di depan RUPS? Tentu akan berat. Bagaimana bisa mengungkap kesalahan sendiri. Disebut kesalahan sendiri karena si komisaris sudah setuju dengan bukti kuat berupa tanda tangan
  9. Tegasnya, komisaris tidak boleh menandatangani keputusan yang menjadi tanggung jawab direksi. Tapi komisaris wajib mengawasinya. Dengan demikian komisaris harus mengetahui secara persis bagaimana direksi menjalankan tugas administratif maupun tugas stratejik
  10. Maka jika direksi berbuat menyimpang baik secara administratif maupun stratejik, komisaris dapat menegur atau memberi nasihat baik secara lisan maupun secara tertulis. Teguran atau nasihat tertulis akan menjadi bukti kuat bahwa komisaris telah menjalankan tugas pengawasannya. Baik pengawasan stratejik maupun pengawasan administratif
    kelas-ceo-05-komisaris-atasan-direksi
  11. Dengan peran yang jelas seperti di atas, maka direksi dan komisaris telah diposisikan benar-benar setara. Setara karena sama-sama dipilih, ditunjuk dan diberi mandat oleh pemegang saham melalui RUPS. Setara karena tidak ada satu pihak yang menjadi atasan pihak lain. Setara karena tidak ada pihak yang harus melapor kepada pihak lain
  12. Lalu bagaimana komisaris bisa menjalankan tugasnya dengan baik? Jelas sekali bahwa tanggung jawab pengawasan komisaris tidak bisa dilaksanakan sambil lalu. Butuh sepenuh tenaga untuk melakukannya dengan baik. Untuk keperluan itu komisaris dapat membentuk dan mengangkat komite audit. Komisaris dapat menugasi komite audit untuk bekerja full time tiap hari menjalankan fungsi pengawasan. Pengawasan stratejik maupun pengawasan administratif.
  13. Selanjutnya, direksi dan komisaris berkewajiban membuat laporan pelaksanaan tugasnya masing-masing. Direksi membuat laporan manajemen dan keuangan dengan audit akuntan publik. Komisaris membuat laporan pengawasan. Laporan-laporan itu akan dibahas di RUPS sebagai dasar keputusan para pemegang saham untuk memperpanjang atau menghentikan para direktur dan para komisaris lalu menunjuk penggantinya
  14. Muncul pertanyaan, apakah direksi berwenang mutlak untuk mengambil keputusan stratejik maupun administratif? Tidak. direksi juga harus diberi batasan. Dalam undang undang PT disebutkan bahwa direksi diberi mandat untuk melakukan transaksi sampai nilai 50% aset bersih perusahaan. Lebih dari batas itu direksi harus meminta izin kepada RUPS. Sekali lagi kepada RUPS, bukan kepada komisaris. Angka 50% ini bisa digeser oleh RUPS
  15. RUPS memang bisa saja mendelegasikan wewenang terkait persetujuan tindakan direksi ini kepada komisaris. Tetapi jika ini dilakukan, 50% aset bersih perusahaan akan dikelola tanpa pengawasan. Mengapa? Sebagaimana penjelasan sebelumnya, komisaris telah berubah fungsi menjadi direksi.
  16. Mungkin ada yang bertanya, enak sekali direksi diberi wewenang seperti itu? Tidak. Setiap wewenang mengandung tanggung jawab dan konsekuensi. Sebagaimana Undang-Undang, direksi dan komisaris bertanggung jawab terhadap kerugian perusahaan bisa sampai pada harta pribadinya. Berbeda dengan pemegang saham yang hanya bertanggung jawab sebatas modal yang telah disetorkannya.
  17. Tanggung jawab sampai harta pribadi direksi dan komisaris ini memang bukan otomatis. Tetapi melalui keputusan pengadilan. Tapi para kreditur dan pemegang saham tentu saja tidak tinggal diam jika haknya dilanggar. Untuk BUMN ada menteri BUMN yang bisa memerankannya dengan baik. Undang-undang kepailitan memberi mereka akses mudah untuk menuntut direksi dan komisaris di pengadilan.

Dengan demikian, tata kelola perusahaan berjalan dengan baik. Perusahaan terhindar dari fenomena Pseudo CEO yang merugikan seluruh stake holdernya.  Investor yaitu para pemegang saham dapat “duduk manis” menerima dividen dan capital gain. Risiko pun termitigasi dengan baik.  Perusahaan siap melakukan proses korporatisasi. Siap menjual intangible assetnya kepada para investor. Mampu mendapatkan sumber modal murah nyaris tanpa batas untuk melakukan akuisisi. Mampu menjalankan riset yang produktif sebagai perusahaan prisipal.  Sudah jelas? Bagaimana perusahaan tempat Anda berkarya?

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

*)Artikel ke-221 ini ditulis di Surabaya oleh Iman Supriyono, konsultan dan CEO SNF Consulting

Menguangkan Intangible Asset: Sari Roti


Intangible asset. Saya yakin kalangan bisnis sering mendengar dan menggunakan istilah itu. Bagaimana membangun intangible asset? Bagaimana mengubah intangible asset menjadi uang tunai? Ikuti penjelasan berikut ini:

gadis muslimah makan roti

Ketika makan pagi dengan roti tawar menjadi budaya, Sari Roti menikmatinya sebagai pasar dan sebagai intangible asset yang bisa diuangkan menjadi modal murah

  1. Kalau perusahaan Anda membeli mesin, maka akan ada uang yang dikeluarkan. Ada bukti transaksi yang valid dan legal. Dengan mudah bukti transaksi tersebut dibukukan dengan sistem akuntansi. Mesin akan ditampilkan di neraca beserta nilainya. Inilah tangible asset.
  2. Tetapi, kalau para karyawan perusahaan Anda bekerja keras membenahi sistem manajemen maka hasil kerja mereka tidak bisa dimasukkan ke dalam akuntansi. Memang tidak ada bukti transaksi. Pun tidak ada uang yang keluar untuk pekerjaan itu. Mereka sedang membangun apa yang disebut intangible asset.
  3. Contoh intangible asset lain: kekuatan merek, hubungan kuat dengan pemasok, hubungan kuat dengan distributor, kekuatan team riset, lokasi yang premium, dan sebagainya.
  4. Ada dan dirasakan secara nyata dalam perusahaan. Tetapi tidak muncul dalam akuntansi. Itulah sifat intangible asset. Yakin perusahaan Anda terus membangun intangible asset kan?
  5. Kabar baiknya, ada cara untuk mengubah intangible asset menjadi uang kas. Menjadi tangible asset. Dan uang tersebut bisa dipakai untuk membeli tangible asset baru. Atau untuk membangun intangible asset lebih lanjut.
  6. Sebagai gambaran, mari kita perhatikan Sari Roti. Laporan keuangan terbarunya menunjukkan bahwa nilai total aset penguasa pasar roti tanah air itu adalah Rp 4,408 triliun. Total utangnya adalah Rp 2,500 triliun. Dengan demikian aset bersihnya (aset dikurangi utang, ekuitas) adalah Rp 1,908 triliun.
  7. Dengan jumlah lembar saham sebesar 6.186.488.888 lembar maka nilai aset bersih per lembar saham adalah Rp. 308 per lembar saham.
  8. Harga saham Sari Roti hari ini adalah Rp 1.315 per lembar. Dengan demikian bisa dibaca bahwa nilai dari intangible asset Sari Roti adalah Rp 1.315 dikurangi Rp. 308 alias Rp 1.007 per lembar saham.
  9. Secara total perusahaan nilai intangible asset adalah sebesar nilai seluruh perusahaan (market cap) Rp 8,14 triliun dikurangi aset bersih 1,908 triliun yaitu Rp 6,23 triliun. Perhatikan bahwa nilai intangible asset lebih besar yaitu 3,3 kali dari tangible asset.
  10. Bagaimana Sari Roti menguangkan intangible assetnya? Jika saat ini Sari Roti menerbitkan saham baru sebesar 1 miliar lembar maka publik investor akan menyerapnya dengan harga Rp. 1.315 per lembar. Sesuai harga pasar. Sari roti akan mendapatkan Rp 1,315 triliun. Rinciannya, Rp. 308 miliar adalah untuk membayar tangible asset dan sisanya yaitu Rp. 1,007 triliun untuk membayar intangible asset.
  11. Saham baru 1 miliar lembar itu setara dengan 13,9% dari total saham setelah penerbitan saham baru. Inilah persentase dilusi kepemilikan si pemegang saham lama. Dilusi yang dibonusi Rp. 1,007 triliun dari total Rp. 1,315 triliun.
  12. Apakah dilusi tersebut tidak merugikan pemegang saham? Tentu saja tidak. Rp 1,007 triliun itu kedudukannya dalam perusahaan adalah seperti laba ditahan. Menjadi hak seluruh pemegang saham. Lama maupun baru. Artinya, pemegang saham lama berhak sebesar 86,1% dari angka itu. Pemegang saham baru 13,9%. Angka ini persis seperti proporsi kepemilikan dari pemegang saham baru.
  13. Setelah masuk di perusahaan, uang itu akan digunakan untuk modal ekspansi. Meluaskan pasar dan meningkatkan kapasitas produksi yaitu membangun pabrik baru. Otomatis akan meningkatkan laba perusahaan. Peningkatan laba akan dinikmati oleh seluruh pemegang saham dengan komposisi 86.1 % dinikmati pemegang saham lama dan 13,9% dinikmati pemegang saham baru. Dilusi itu nikmat.
  14. Pertanyaannya, kenapa pemegang saham baru mau membeli saham yang nominalnya (par value, nilai di akta perusahaan) Rp. 20 dengan harga Rp. 1.315 alias 66x dari harga saham yang dibayar oleh pendiri? Tidak lain adalah karena adanya intangible asset tadi. Penghargaan terhadap pengalaman, merek, kekuatan manajemen, kekuatan hubungan dengan pemasok, kekuatan saluran distribusi dan lain-lain yang tidak bisa dicatat secara akuntansi.
  15. Pertanyaan lebih lanjut, mengapa pemegang baru tetap mau membeli padahal tahu bahwa ROI pada harga tersebut adalah hanya 2,9%? Tidak lain adalah karena investor melihat adanya potensi capital gain yang besar. Sejarahnya, PT. Nipon Indosari Corpindo berdiri tahun 1995. Artinya, harga Rp. 20 per lembar saham tahun 1995 kini, 24 tahun kemudian, naik menjadi 66x. Naik 66 x lipat dalam waktu 24 tahun. Investasi properti pun kalah. Dulu Rp. 20 kini Rp 1.315. Dengan stabilitas pertumbuhan omzet dan laba Sari Roti, pertumbuhan seperti itu dipercaya oleh investor juga akan terjadi pada masa yang akan datang. Ini memungkinkan karena Sari Roti terus menerus menerbitkan saham baru untuk ekspansi seperti selama ini.
    Ikuti kelas MENGUANGKAN INTANGIBLE ASSET via Zoom. Daftar: https://wa.me/62813584447267
  16. Itulah kenapa Sari Roti terus menerus menerbitkan saham baru untuk pengembangan perusahaan. Tahun 2017 menerbitkan 1,125 miliar lembar saham baru (setara dengan 18% total saham setelah penerbitan saham baru) dengan harga Rp. 1.275 sehingga total menerima Rp. 1,434 triliun. Dalam prospektusnya dana tersebut akan digunakan untuk membangun 4-6 pabrik baru.
  17. Penerbitan saham baru terus menerus adalah proses korporatisasi. Bisa dilakukan baik di lantai bursa maupun di luar lantai bursa. Hasilnya adalah perusahaan fully public companyPerusahaan yang terbebas dari fenomena pseudo CEO. Perusahaan yang mampu menghadapi fenomena crowding effect. Perusahaan yang mampu menghadapi fenomena career choice effect. Perusahaan yang mampu mengakuisisi. Bukan diakuisisi.  Silakan baca link-link tersebut untuk bahasan lebih detail.
Peran ingangible asset

Demikianlah cara menguangkan intangible asset. Artinya, perusahaan yang tidak pernah menerbitkan saham baru selain saham pendiri berarti perusahaan tersebut tidak pernah menjual intangible assetnya kepada investor. Karena tidak pernah dijual maka juga tidak pernah diketahui berapa nilai intangible assetnya. Rugi kan? Perusahaan Anda bagaimana? Sudah seperti Sari Roti?

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Baca juga:Intangible asset yang membakar habis tangible asset

*)Artikel ke-220 ini ditulis di Jakarta oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting

ROI: Pertumbuhan Pesat & Salah Kaprahnya


Banyak yang salah menyebut dan memaknai Return on Investment (ROI).  Salah kaprah dalam istilah jawa. Silakan baca penjelasan ini:

FB_IMG_1562579638511

Seperti mendaki gunung, mendayagunakan ROI dalam korporatisasi adalah berat di awal. Tetapi semua akan terbayar setelah mencapai puncak. Foto: puncak gunung Welirang, koleksi pribadi

  1. Sebagai gambaran, misalkan sebuah perusahaan pemilik merek resto menawarkan peluang investasi dengan nilai Rp 300 juta. Prinsipal tersebut menjanjikan (berdasarkan proyeksi) bahwa si investor tiap tahun akan menerima uang dari investasi tersebut sebesar Rp 100 juta. Dengan demikian dalam tiga tahun uang Rp 300 juta akan kembali. Dikatakan bahwa ROI adalah 3 tahun. Ini adalah contoh penggunaan istilah ROI yang salah
  2. Mestinya yang tepat adalah Payback Period (PBP). PBP 3 tahun artinya investasi sebesar Rp 300 juta yang dikembalikan Rp 100 juta per tahun. Akan kembali total dalam waktu 3 tahun. Pengembalian 100 juta per tahun itu tidak peduli apa dari laba atau laba plus depresiasi. Dalam analisis PBP yang diperhitungakan adalah aliran kas dari investasi. Tidak peduli perhitungannya seperti apapun
  3. Jika investasi resto tersebut misalnya termasuk didalamnya sewa bangunan selama 5 tahun dan perjanjian kerjasama antara investor dan prinsipal juga 5 tahun berarti setelah 3 tahun si investor akan menerima Rp 100 juta per tahun alias total Rp 200 juta. Setelah itu investasi bisa dihentikan atau dilanjutkan (dengan memperpanjang sewa bangunan dll) sesuai kesepakatan antara prinsipal dan investor
  4. PBP digunakan untuk menganalisis investasi yang berbatas waktu. Ada awal ada akhirnya. Sifatnya proyek.
  5. Lalu bagaimana penggunaan ROI? Secara konsep, ROI digunakan untuk investasi yang tidak berbatas waktu. Waktunya selamanya. Karenanya si investor tidak memikirkan kapan uangnya akan ditarik kembali.
  6. Contoh penggunaan ROI yang tepat adalah saat seorang investor masuk sebagai pemegang saham sebuah perusahaan yang menerbitkan saham baru.
  7. Misalkan ABC adalah perusahaan ritel yang telah memiliki dan mengoperasikan 20 mini market. Katakan total aset ABC adalah Rp 25 milyar. Dari 20 gerai yang dioperasikan perusahaan mengantongi omzet 10 Milyar dengan laba 800 juta rupiah (per tahun). ABC telah berusia 20 tahun sejak pendiriannya. Sepanjang usia tersebut ABC sepenuhnya tumbuh dari modal setor pendirinya ditambah laba yagn tidak dibagikan (laba ditahan) dan utang bank sesuai kapasitas agunan yang dimilikinnya. Katakan total utangnya Rp 5 miliar sehingga ekuitasnya adalah Rp 20 miliar.
    Logo SNF Consulting dengan tag line korporatisasi
  8. Titap tahun rata-rata hanya membangun 1 gerai baru. Lambat sekali untuk ukuran pertumbuhan sebuah perusahaan. Lambat karena hanya mengandalkan uang dari si pendiri dan utang. Katakan 20 tahun lalu pendiri menyetor uang Rp 400 juta untuk mendirikan PT ABC berupa 400 lembar saham @ Rp 1 juta
  9. Untuk lebih cepat, maka tahun depan ABC merencanakan ekspansi 5 gerai baru. Satu gerai dari kas internal dan selebihnya (4 gerai) dari investor dengan mekanisme menerbitkan saham baru
  10. Untuk keperluan itu perusahaan menyusun proposal. Dengan adanya gerai baru tersebut tahun depan akan memperoleh laba Rp 1 miliar.
  11. Investor DEF sepakat masuk sebagai pesaham baru. Setelah berunding, disepakati bahwa DEF akan menyetor Rp 5 miliar dengan mendapatkan 50 lembar saham. Artinya DEF membayar 100 juta per lembar.
  12. Dari Rp 100 juta tersebut, yang dibukukan sebagai saham adalah Rp 1 juta. Selebihnya sebesar Rp 99 juta adalah agio saham alias tambahan modal disetor alias additional paid in capital (APIC). Agio saham adalah untuk menghargai intangible asset seperti merek, pengalaman, jaringan dengan pemasok, kekuatan sistem manajemen dan sebagainya. Jadi menerbitkan saham baru bagi ABC adalah cara menjual intangible asset tersebut untuk menghasilkan modal ekspansi. Perusahaan yang tidak pernah melakukannya berarti tidak pernah menjual intangible asset  yang telah dengan susah payah dibangunnya bertahun-tahun dengan keringat dan air mata
  13. Dengan transaksi tersebut, nilai ABC sebagai perusahaan adalah Rp 100 juta dikalikan total lembar saham yaitu 450 lembar alias Rp 45 miliar. Nilai perusahaan meningkat pesat berkali-kali lipat dari nilai bukunya. Nilai seperti ini tidak akan pernah terjadi pada perusahaan yang tidak menerbitkan saham baru. Ibarat kenaikan harga rumah atau properti yang tidak pernah dijual.
  14. Dengan jumlah lembar saham yang dibayarnya, DEF akan memiliki hak 50/450 alias 11% dari laba Rp 1 miliar sebagaimana yang diproyeksikan. Angka 450 adalah jumlah lembar saham setelah penerbitan saham baru.  Rinciannya,  50 lembar dipegang oleh DEF dan 400 lembar tetap dipegang oleh pendiri ABC. Dengan demikian proporsi kepemilikan tersebut maka hak laba DEF adalah Rp 111 juta.
  15. Dengan hak laba itu maka dikatakan bahwa ROI investasi DEF dalam investasi saham mini market ABC adalah Rp 111 juta dibagi Rp 1 milyar alias 11,1 %.
  16. Apakah Rp 111 juta itu diterima oleh DEF sebagai uang kas? Tidak. Yang diterima adalah dividen. Biasanya laba tidak semua diambil sebagai dividen. Untuk perusahaan yang ekspansif, umumnya hanya sekitar 20-30% laba yang dibagi menjadi dividen. Katakan ABC membagi 30% laba. Rp 300 juta sebagai dividen
  17. Dengan pembagian dividen tersebut maka DEF akan menerima 11,1 % alias sebesar Rp 33 juta. Jika dibagi degnan investasi Rp 1 miliar maka divident yield investasi ABC adalah Rp 33 juta dibagi Rp 1 miliar alias 3,3%. Angka ini sudah sangat bagus bagi sebuah investasi saham.
  18. Muncul pertanyaan, mengapa 3,3% dikatakan sangat bagus? Padahal kalau didepositokan bisa mendapatkan 6% per tahun. Jawabanya karena adanya capital gain yang bisa diharapkan. Capital gain adalah kenaikan harga saham saat dibeli dan saat dijual di kemudian hari. Sebaliknya, deposito malah nilainya termakan inflasi. Investasi saham itu seperti investasi properti. Insvetor rumah yang menyewakan asetnya hanya memperoleh uang sewa sekitar 3% per tahun dari nilai rumah.
  19. Dalam kasus ABC, saat didirikan harga saham hanya Rp 1 juta. Persis sama antara nilai nominal (par value) dengan nilai pasar (market value). Tetapi 20 tahun kemudian untuk saham yang par value-nya tetap Rp 1 juta investor DEF mau membayar Rp 100 juta. Naik 100x lipat dalam 20 tahun.
  20. Jika ingin menikmati hasil kerjanya, pendiri ABC bisa menjual sebagian sahamnya dengan harga kurang lebih Rp 100 juta per lembar kepada orang lain. Menjual 10 lembar saja sudah akan menerima Rp 1 miliar. Menerima capital gain sebagai cara menikmati hasil bisnis tanpa mengganggu kas dan pertumbuhan perusahaan
  21. Mengapa untuk investasi saham ABC si DEF tidak perlu memperhatikan PBP? Karena investasinya jangka panjang. Dan jika ia ingin uangnya kembali sewaktu waktu bisa menjual saham yang dimilikinya dengan harga yang bagus seperti yang contoh penjualan saham si pendiri di atas.
  22. Perusahaan yang bagus akan terus menerus menerbitkan saham baru untuk ekspansi. Kas untuk investasi bisa berkali kali laba. Sebagai contoh pada ABC ini, laba hanya 800 juta atau naik Rp 1 miliar tapi investasinya 5 Miliar. Lima kali laba. Jika ini dilakukan tahun berikutnya ABC bisa membangun paling tidak 10 gerai dari penerbitan saham baru lagi. Ketika itu harganya sudah akan meningkat lagi karena labanya juga meningkat. Merek juga makin kuat karena gerainya makin menjamur.  Investor tetap akan memperoleh ROI paling tidak seperti yang diterima oleh DEF walaupun harganya meningkat. Inilah yang disebut proses korporatisasi. Menerbitkan saham secara terus menerus untuk ekspansi yang pesat.
  23. Tanggung jawab manajemen adalah mewujudkan apa yang telah dituangkan dalam proposal. Laba proyeksi Rp 1 Miliar harus benar-benar tercapai. Jika tidak investor akan kecewa. Inilah yang menyebabkan korporatisasi adalah sarana menguatkan manajemen.  Plan-execute-control!  Tanpa eksekusi perencanaan tidak akan ada artinya.

Bagaimana, Anda sudah menangkap apa perbedaan ROI dan Payback period? Sudah bisa menangkap nilai strategik memanfaatkan ROI untuk ekspansi perusahaan senilai 5x laba dalam setahun? Sudah bisa membayangkan bagaimana menggunakan ROI untuk mengembangkan perusahaan Anda?

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Baca juga: Korporatisasi langkah demi langkah

*)Artikel ke 219 ini ditulis pada tanggal 22 Agustus 2019 oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting