Ibarat Langit dan Sumur: Tahun Baru Hijriyah Vs Masehi


Tahun Baru Hijriah Vs Masehi

Oleh Iman Supriyono, konsultan pada SNF Consulting http://www.snfconsulting.com

Tiga puluh satu Desember beberapa tahun lalu saya sengaja keluar rumah. Ledakan petasan dan tiupan terompet bersahutan tiap penghujung tahun bikin penasaran. Maka, malam itu – sekali seumur hidup-saya keluar rumah untuk sebuah malam tahun baru. Sekedar ingin tahu.

Tujuan saya adalah pusat kota Surabaya. Sesampai kawasan Basuki Rahmat, saya seolah tidak percaya dengan apa yang terlihat. Lautan manusia menyemut memenuhi jalanan. Mobil dan motor berbaur dengan pejalan kaki. Suasananya mirip rapat akbar partai besar yang dihadiri puluhan ribu orang. Tua, muda, remaja, anak-anak, laki-laki, perempuan, semua berbaur dengan penuh keceriaan. Tiupan terompet dan ledakan petasan yang sebelumnya hanya saya dengar dari kejauhan, kini berada di depan saya. Dahsyat!!!

Sembilan januari 2008 ini selepas isya saya berada pada sebuah acara penyambutan tahun baru. Acara diisi dengan ceramah dari seornag ustadz dilanjutkan dengan nonton film Al Risalah. Film lama yang berisi sejarah perjuangan nabi menyebarkan Islam di Makkah dan Madinah.

Kontras dengan tahun baruan di Jalanan, Acara di hall sebuah pesantren di kawasan Surabaya ini hanya dihadiri oleh puluhan orang. Tidak sampai seratus orang. Tidak ada terompet. Tidak ada petasan. Tidak ada keceriaan. Suasananya tidak beda jauh dengan pengajian-pengajian yang bisa kita jumpai di masjid-masjid atau kampung-kampung.

Dua penyambutan tahun baru yang kontras luar biasa. Yang hingar bingar dengan kehadiran puluhan ribu orang adalah tahun baru masehi alias miladiah. Yang datar dan dihadiri puluhan orang adalah tahun baru hijriah.

Tahun masehi dalam bahasa inggris disebut AD, singkatan dari Anno Domini, tahun kelahiran tuhan. Tentu saja tuhan menurut keyakinan mereka. Tahun yang diyakini sebagai kelahiran Christ diambil sebagai permulaan perhitungan dan disebut AD alias Anno Domini. Tahun-tahun sebelumnya disebut Before Christ disingkat BC.

Tahun hijriah hijriah dimulai saat peristiwa Hijrah Nabi SAW bersama sahabatnya dari Makkah menuju Madinah. Hijrah yang menjadi tonggak sejarah perkembangan Islam yang luar biasa dijadikan penanda penanggalan kaum muslimin.

Pertanyaannya, mengapa terjadi kontras sedemikian rupa? Mengapa jauh berbeda ibarat langit dan sumur sat? (sumur sat = sumur yang telah kosong airnya. Langit dan bumi kurang jauh untuk melukiskan perbedaan keduanya). Bahkan sebagian besar kaum muslim pun lebih suka bergembira dengan tahun baru masehi dari pada hijriah. Kaum muslimin lebih suka bergembira dengan tahun penanda kelahiran tuhan (Anno Domini, Christ, Kristus) dari pada peristiwa heroik Hijrah.

Atas perbedaan super kontras ini, saya merenung. Ada banyak jawaban. Tetapi yang paling kuat adalah sehubungan dengan bidang yang saya geluti sehari-hari: Bisnis. Semua perusahaan yang ada di negeri ini, dan juga di negeri-negeri lain seantero dunia, menjadikan tahun Anno Domini sebagai kalender kerja. Awal tahun dimulai pada 1 januari dan akhir tahun terjadi pada 31 Desember.

Dalam dunia bisnis, target tahunan adalah sesuatu yang sangat penting. Sebuah perusahaan disebut well managed manakala target selalu dicapai. Maka, hari-hari menjelang 31 desember adalah hari-hari spot jantung. Hari hari mengejar berbagai target. Ini terjadi pada hampir semua perusahaan, organisasi non profit, maupun pemerintahan.

Maka…katika 31 Desember semua target terlampaoi….kegembiraanpun meluap. Karena hampir semua orang bergembira pada saat yang sama, jadilah apa yang saya saksikan di kawasan Basuki Rahmat menjadi sesuatu yang logis.

Kapan tahun baru hijriah kita rayakan dengan meriah? Tentu saja pada saat hijriah telah menjadi kalender harian bisnis perusahaan-peruhaan, pemerintahan dan organisasi sosial. Kalender program. Kalender manajerial. Kalender pembukuan. Kapan? Menunggu kiprah Anda para pebisnis muslim meraksasa dengan asset kelas ratusan atau ribuan trilyun. Anda sudah berperan?

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya

Bumbu Tajam Mengelabuhi Lidah Kelas Bawah: Rawon Cumi


Rawon Cumi

oleh Iman Supriyono, konsultan pada SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com

rawon cumi

rawon cumi

Ada sebuah analisis menarik tentang selera kuliner. Secara umum cita rasa makanan dapat digolongkan menjadi dua. Kelompok pertama adalah kuliner berbumbu kental tajam kelas berat. Bisa dengan rempah rempah atau karena pedasnya cabe. Yang termasuk kelompok ini misalnya adalah masakan india yang aroma rempahnya sangat menyengat. Sup tom yam nya thailand juga termasuk pada kelompok ini. Masakan padang, penyetan khas jawa timur, pecel, rujak cingur, rujak madura, lodeh, gudeg jogja, dan aneka sambel lain bisa dimasukkan pada golongan ini. Ibarat rokok, makanan seperti ini masuk pada kategori rokok kretek sekelas Djie Sam Soe, Djarum 76 atau Gudang Garam Surya. Kandungan tar dan nikotin tinggi.

Kelompok kedua adalah kuliner berbumbu ringan. Contoh masakan jenis ini adalah aneka sup, sayur asem dan sayur bening. Kuahnya bening hanya mengandung bumbu sedikit bumbu. Sedikit garam, sedikit gula, sedikit bawang merah bawang putih dan bebeapa bumbu lain pun sedikit. Cita rasa asli dari bahan makanan masih bisa dirasakan. Kubis masih terasa sebagai kubis, wortel masih terasa sebagai wortel. Jika diibaratkan rokok, makanan jenis ini bisa dikategorikan sebagai rokok berkadar tar dan nikotin rendah seperti A Mild atau LA Light.

Analisis ini menyebutkan bahwa ternyata pada umumnya menu kuliner dengan bumbu kelas berat pada umumnya digemari oleh bangsa bangsa atau masyarakat berekonomi menengah kebawah. Mengapa demikian? Karena masyarakat ekonomi menengah ke bawah tidak mampu membeli daging. Dengan cabe yang banyak, lidah tidak bisa membedakan mana daging mana tempe. Sama sama pedasnya. Sama-sama bikin keringat keluar dari sekujur tubuh. Seorang kawan menambahkan: bahkan irisan spon sandal jepit pun masih terasa nikmat karena pedasnya. Huahahaha…..

•••

Jika sesekali berada di Tuban, jangan lupa menikmati rawon cumi atau kare rajungan. Itulah pesan seorang kawan. Kebetulan suatu saat saya bersama si kawan berada di Tuban untuk sebuah  pekerjaan. Di saat santai, langsung saja saya ajak dia untuk bersama menikmati kuliner Tuban referensinya.

Salah satu yang ciri menu itu, menurut kawan tadi, adalah pedasnya yang minta ampun. Saya tetap tertarik karena lidah saya sejak kecil terbiasa makan pecel madiun yang jug dikenal pedas dibanding pecel dari daerah lain. Saya bahkan merasa tertantang. Sepedas apa sih rawon cumi dan kare rajungannya?

Menu yang saya pilih adalah rawon cumi. Sepiring irisan cumi dengan kuah warna hitam khas rawon lengkap dengan sepering nasi pun terhidang. Perut yang sedang lapar membuat kelenjar air liurpun berproduksi deras. Segeralah saya menikmatinya.

Saya coba mengambi seiris cumi. Memang pedas. Saya coba lagi…pedasnya makin tajam. Sampai kira kira lima iris. Seluruh ketahanan pedas saya jebol. Keringat mengalir deras nyaris dari sekujur tubuh. Hampir menyerah. Tetapi saya buru buru ingat bahwa mubadzir adalah saudara syetan. Maka saya harus menghabiskannya. Saya pun mencoba lagi setelah “beristirahat” beberapa saat untuk menetralisir efek pedasnya dengan mengelontor mulut dengan air putih. Tetapi saya hampir benar-benar menyerah sampai saya ingat kebiasaan para ibu saat menyuapi anak anak dengan makanan yang pedas: membasuh makanan dengan air putih. Maka air putih dari botol AMDK besar bukan hanya saya minum, justru saya habiskan untuk “mencuci” irisan cumi cumi agar hilang bumbu pedasnya. Teknik yang mujarab untuk menaklukkan pedasnya rawon cumi sampai ludes.

Yang saya heren, warung itu sangat laris. Saya amati para tamu lain sangat menikmati menu super pedas ini. Bahkan tampak mereka menghisap hisap irisan cumi dengan ekspresi penuh kenikmatan. Kita bisa membaca mereka sebagai sebuah segmen tersendiri dalam kuliner. Segmen penggemar pedas ekstrim. Bentuk aplikatif dari strategi fokusnya Porter. Memilih segmen tertentu di pasar dan melayaninya dengan sangat baik menurut karakter segmen itu.

Saya memang akhirnya tidak kembali lagi ke warung ini karena tidak kuat pedasnya. Saya bukan segmen pedas ekstrim kelas rawon cumi tuban. Tetapi, para penggemer pedas ekstrim ini justru ketagihan. Apakah mereka berasal dari kalangan masyarakat konomi menengah ke bawah seperti analisis kuliner di atas? Hehehe….nampaknya analisis ini juga ada kelirunya. Tidak mungkin lah masyarakat ekonomi menengah kebawah berlangganan rawon cumi. Harganya bukan kelas bawah!

Tulisan ini pernah dimuat di majalah Muslim, terbit di Surabaya

Kurban Kontemporer: Menerjemahkan semangat Ibrahim AS dalam konteks kekinian


Kurban Kontemporer

Oleh Iman Supriyono, penulis buku2 manajemen keuangan dan entrepreneurship. Tulisan ini adalah materi Khutbah Iedul Adha di Halaman Parkir Plasa Marina Surabaya. bagian bertulisan Arab dari teks ini tidak ditampilkan di blog ini.

Jamaah sholad Ied rohimakumullah, hari ini kita berhari raya kurban. Pengorbanan Nabi Ibrohim AS adalah teladan yang agung bagi kita semua. Ketika itu beliau mengurbankan putra tercintanya Ismail dengan menyembelihnya. Tentu saja hari ini kita tidak lagi perlu menyembelih anak anak kita. Maka…mari kita terjemahkan semangat berkurban Nabiullah Ibrahim As dalam kehidupan kontemporer kekinian. Kehidupan kita hari ini. Untuk itu mari kita merenung dengan beberapa situasi berikut ini

• Sosok I adalah seorang mahasiswa sebuah perguruan tinggi yang sedang berhalangan untuk menghadiri kuliah. Kali ini adalah kuliah terkahir. Sebelumnya untuk mata kuliah hari ini ia sudah tidak hadir beberapa kali. Kalau hari ini ia tidak masuk maka kehadiranya kurang dan akibatnya tidak boleh mengikuti ujian. Maka si mahasiswa menghadapi suasana dilematis. Ia bisa titip absen kepada kawan kawanya dan berarti bisa ikut ujian. Atau ia bertahan tidak titip absen dan akibatnya ia tidak bisa ikut ujian.
Dilema pengorbanan terjadi. Memilih titip absen dan akhirnya bisa ikut ujian dan berpeluang lulus adalah mengurbankan keimanan ketaqwaan mereka. Mengurbankan kejujuran. Mengurbankan Allah SWT.
Tidak titip absen adalah mengurbankan keikutsertaan ujian. Mengorbankan peluang lulus. Pilih mana….mempertahankan keimanan ketaqwaan dengan mengurbankan peluang lulus atau mempertahankan peluang lulus dengan mengurbankan keimanan

• Sosok 2 adalah seorang kepala sekolah yang sekolahnya mendapatkan dana bantuan dari pemerintah untuk pengadaan laboratorium bahasa. Tertulis bahwa lab tersebut bernilai Rp 100 juta. Karena kondisi tertentu, ternyata ia tahu bahwa uang yang benar benar menjadi lab bahasa hanya sekitar Rp 50 juta. Sosok 2 menghadapi sebuah dilema. Pilihannya, Ia tetap menandatangani laporan proyek ini dengan mengorbankan kejujuran dan Tuhannya, atau, ia tidak menandatanganinya dan bersiap untuk mengadapi risiko dipecat dari jabatanya

• Sosok 3 adalah seorang polisi lalu lintas yang berangkat ke bekerja dengan tangisan anaknya yang belum membayar uang sekolah. Tiba di tempat tugas, seorang pengendara melanggar peraturan lalu lintas. Si pelanggar menawarkan uang damai agar tidak jadi di tilang. Saat itu Sosok 3 menghadapi dilema pengorbanan. Mengorbankan kejujuran dan Tuhannya untuk menerima uang damai dan memenuhi tangisan anaknya. Atau, mengorbankan rasa iba akan tangisan anaknya untuk tetap menilang si pelanggar agar uang denda nanti masuk kas negara untuk membangun jalan, jembatan, dan fasilitas publik lainnya.

• Sosok 4 adalah seorang pimpinan proyek di sebuah instansi. Sebuah proyek yang bernilai milyaran rupiah baru saja selesai. Suatu sore kontraktor yang mengerjakan proyek mendatanginya dan memberikan sebuah amplop berisi uang tunai puluhan juta rupiah. Si kontraktor datang pada saat yang tepat karena saat itu Sosok 4 sedang kehabisan dana untuk renovasi rumah pribadinya. Maka sebuah dilema pengorbanan sedang diujikan. Menolak uang hadiah karena ia tahu bahwa Nabi SAW melarang hadiah yang seperti ini dan mengorbankan penyelesaian renovasi rumah pribadinya. Atau alternatifnya, ia mengorbankan ajaran Nabi SAW untuk menerima uang hadiah dan menyelesaikan biaya renovasi rumah pribadinya.

Allahuakbar walillaahilhamd! Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, 4 suasana diatas adalah sebuah gambaran kekinian tentang pengorbanan. Gambaran tentang pengorbanan kontemporer. Tentang dilema dan pengorbanan yang dahulu juga dihadapi oleh Nabi Ibrahim AS. Ia harus memilih mengorbsankan putra tersayangnya Ismail untuk menggapai ridlo Allah SWT. Atau alternatifnya, ia mempertahankan putra tersayangnya Ismail dan mengorbankan ketakwaanya kepada Allah SWT. Dalam suasana seperti itu, Ibrohim AS mengambil keputusan benar. Keputusan tepat. Keputusan pengorbanan teladan. Mengorbankan putra tersayangnya dan meraih Ridlo Allah SWT. Mari kita meneladaninya dalam bentuk pengorbanan kontemporer. Allahu Akbar!

Dalam kehidupan, umat manusia selalu akan selalu dihadapkan pada pilihan pilihan. Kondisi yang dilematis. Kondisi yang menuntut pilihan tentang apa yang harus dibela dan apa yang harus dikorbankan. Dalam kondisi seperti ini, seseorang akan diketahui keimanan yang sesungguhnya.

Rasulullah SAW dalam shohih Bukhori 2475, dan muslim 57 bersabda, “laa yasriku saariku hina yasriku wa huwa mu’min”. Seorang pencuri tidak akan mencuri pada saat dia masih beriman. Seorang tidak bisa dalam waktu yang sama mencuri sekaligus beriman. Kalau sedang beriman tentu dia tidak mencuri. Kalau mencuri tentu dia tidak beriman.

Hadits nabi ini bisa kita renungkan dalam suasana yang tergambar di atas. Sosok 1 yang seorang mahasiswa tidak mungkin titip absen padahal dia sedang beriman. Ia juga tidak mungkin beriman padahal ia sedang titip absen. Sosok 2 yang seorang kepala sekolah tidak mungkin beriman pada saat ia menandatangani laporan palsu. Sebaliknya ia juga tidak mungkin menandatangani laporan palsu pada saat ia beriman. Sosok 3 yang polisi tidak mungkin beriman saat ia menerima uang damai dari pelanggar lalu lintas. Sebaliknya, pelanggar lalu lintas juga tidak mungkin beriman pada saat ia membayar uang damai kepada polisi. Sosok 4 yang pimpinan proyek sebuah instansi tidak mungkin beriman pada saat ia menerima uang hadiah dari kontraktor, sesuatu yang dilarang tegas oleh Nabi SAW. Ia juga tidak mungkin menerima hadiah yang dilarang oleh Nabi padahal ia sedang beriman.

Saudaraku muslim yang dimuliakan Allah SWT, mari kita berhati hati dalam kehidupan. Berhati hati dalam menghadapi pilihan pilihan dilematis. Jangan sampai keimanan kita terputus putus gara gara kita salah menentukan pilihan dalam suasana dilematis yang membutuhkan pengorbanan. Jangan sampai keimanan kita putus nyambung putus nyambung putus nyambung. Na’udzu billah!

Ma’asyirol Muslimin arek-arek Surabaya rahimakumullah. Pada bulan ini Nopember tahun 1945, Bung Tomo dan arek arek Suroboyo telah meneladani Ibrahim AS. Bung Tomo dan kawan kawan menghadapi dilema. Memilih membela kebenaran kemerdekaan dengan risiko mengorbankan nyawa sendiri. Atau memilih menuruti kemauan musuh dengan mengorbankan kebenaran dan Tuhannya. Maka dengarkan kembali kata-kata Bung Tomo berikut ini, “Selama banteng banteng Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membikin secarik kain putih, merah dan putih maka selama itu tidak akan kita mau menyerah kepada siapapun juga…. Allahu akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Merdeka!”

Bung Tomo dengan gagah berani memilih kebenaran. Memilih kemerdekaan. Siap berkurban. Bahkan siap berkurban nyawa sendiri. Tetapi ketahuliah saudaraku mu’min. Ternyata orang yang berani mati justru tidak mati mati. Bung Tomo tidak mati di medan tempur Nopember 45. Yang mati ternyata adalah Jendral Mallaby. Musuh Bung Tomo dan arek arek Suroboyo. Dan ternyata Bung Tomo yang berani mati justru matinya di tanah suci. Bukan di medan perang. Ini tentu saja pertolongan Allah SWT. Tidak berbeda dengan pertolongan Allah SWT kepada Nabi Ibrahim yang siap mengorbankan putra tercintanya Ismail. Pertolongan dengan domba.

Ma’asyirol muslimin rohimakumullah. Di hari kurban ini marilah kita merenung tentang nasib saudara saudara kita di Palestina. Beberapa hari lalu ada 1000 warga Palsetina tahanan israel yang dibebaskan oleh pemerinah zionis Israel. Ini mungkin menggembirakan. Tetapi ketahuilah bahwa 1000 orang itu dibebaskan dengan imbalan dibebaskannya 1 orang tentara israel yang ditahan di Palestina. Satu orang yahudi setara dengan 1000 orang muslim. Itulah kondisi kita hari hari ini. Kondisi kontemporer.

Secara pertempuran, kualtias kita 1/1000 orang israel. Bagaimana secara ekonomi? Pendaptan rata rata masyrakat kita saat ini kurang lebih nilainya sama dengan 1/26 pendapatan rata rata orang Amerika, 1/13 pendapatan orang Israel, 1/20 orang Singapura. Ternyatalah bahwa secara ekonomi kualitas kita juga jauh dibawah kualitas orang orang non muslim. Mengapa? Ada banyak jawaban. Yang saya sampaikan hari ini adalah permasalahan pengurbanan. Kita kurang melakukan pengurbanan sedemikian hingga kualitas kita juga jauh dari standard. Pengurbanan adalah ciri orang besar. Tidak ada tokoh besar yang hidupnya tidak dilalalui dengan pengorbanan.

Negeri ini membutuhkan pengorbaanan. Masyarakat membutuhkan pengorbanan. Ummat membutuhkan pengorbanan. Bukan untuk melawan Inggris seperti pada jaman Bung Tomo. Bukan untuk melawan Belanda. Juga bukan untuk menyembelih anak anak kita seperti pada Nabi Ibrohim. Hari ini kita berkurban untuk menyelamatkan masyarakat. Menyelamatkan ummat. Itulah pengorbanan kontemporer. Menyelamatkan negeri yang dulu diperjuangkan dengan pengurbanan darah para syuhada.

Allahu akbar. Allahu Akbar. Allahu akbar Walillahilhamd. Kita menangis karena ternyata negeri yang merdeka tahun 45 ini telah jauh kalah dengan “adik adiknya”. Dalam banyak hal kita kalah dengan Malaysia yang merdeka tahun 1957 alias 12 tahun setelah Indonesia. Dalam banyak hal kita juga kalah jauh dengan Singapura yang merdeka tahun 1965 alias 20 tahun setelah Indonesia. Bahkan kita menjadi babu mereka. Untuk mengejar kekalahan ini, kita tidak bisa mencapainya kecuali dengan pengorbanan. Pengorbanan khususnya pada saat kita menghadapi suasana suasana dilematis.

Jamaah rohimakumullah, begitu meninggalkan tempat sholat kita pagi ini, kita semua akan menghadapi ujian ujian pengorbanan kontemporer. Yang langsung kita hadapi adalah antrian meninggalkan tanah lapang ini menuju rumah masing masing. Masihkah kita bisa melakukan pengorbanan kontemporer dengan memberikan kesempatan kepada orang lain yang berhak untuk berjalan terlebih dahulu? Bisakah kita melakukan pengorbanan kontemporer dengan mematuhi rambu lalu lintas dan marka jalan sebagai bentuk kesepakatan bersama? Siapa yang dahulu dahulukanlah. Jangan memotong hak orang lain. Itulah dasar antrian yang tertib. Itulah pengorbanan kontemporer.

Esok kita akan kembali bekerja. Masihkah kita bisa berkurban kontemporer dengan tetap berpegang teguh pada nilai nilai kebenaran? Tidak mengambil hak orang lain? Melindungi hak orang lain? Bekerja profesional?

Plasa Marina Surabaya

Di akhir khutbah ini, mari kita memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar kita dikaruniai jiwa berkorban seperti yang pernah dikaruniakan kepada nabiullah Ibrohim AS. Mari kita memohon dikaruniai keyakinan tentang adanya domba pengganti atas pengorbanan Nabri Ibrahim AS. Mari memohon kepadanya agar kita selalu yakin akan pengganti yang jauh lebih besar dari-Nya manakala kita rela berkorban untuk tetap memilih Allah SWT sebagai satu satunya sesembahan. Mari memohon keyakinan akan balasan yang lebih besar atas pengorbanan prestasi akademik, gengsi, jabatan, uang atau apapun demi tauhid kita kepada Nya.

Penang Second Bridge: Satu Jembatan Laut Tidak Cukup


Penang Second Bridge

oleh Iman Supriyono, konsultan bisnis pada SNF Consulting

Suatu sore sekitar sepuluh tahun yang lalu. Bus yang saya tumpangi dari Kuala Lumpur berjalan merambat di jembatan sepanjang hampir 15 kilometer itu. Lalu lintas di enam lajur jembatan itu padat sekali. Menuju dan dari jembatan sama padatnya.

Itulah Penang. Seorang sahabat warga pulau kecil menggambarkan kemajuannya dengan perbandingan properti. Harga tanah di Penang saat itu kurang lebih tiga kali lebih mahal dari pada tanah di Seberang Perai Utara dan Seberang Perai Selatan. Keduanya adalah wilayah di semenanjung malaysia yang berdekatan dan secara administratif berada dalam wilayah negara bagian (seperti Propinsi di Indonesia) Pulau Penang.

Perkembangan Pesat Penang juga terlihat dari gedung gedung pencakar langit yang bertumbuhan di pulau berlokasi di sebelah utara kota Medan itu. Bahkan USM yang berada di Minden –sebuah kawasan di pulau itu adalah salah satu perguruan tinggi yang masuk pada ranking atas perguruan tinggi global. Tahun 2004 USM diposisikan pada ranking 111 perguruan tinggi global oleh Times Higher Education. Tahun the 2010 QS Asian University rankings menempatkan USM pada posisi no 69. January 2011, the Webometrics Ranking of World Universities menempatkan USM pada posisi no. 2 universitas di Malaysia nomor 5 di Asia Tenggara dan dan nomor 428 di dunia.

Penang tumbuh pesat, sampai sampai kemacetan di Jembatan penghubungnya pun sudah tidak bisa ditolerir. Pemerintah setempat pun memutuskan membangun jembatan kedua yang pengerjaannya sudah dimulai sejak 2008. Target semula jembatan sepanjang 24 kilometer bernilai 2,6 Milyar Ringgit (Sekitar Rp 7 Trilyun) itu selesai tahun 2011 ini. Tapi nampaknya terget ini sulit tercapai dan akhirnya diundur setahun. Artinya, tahun 2012 nanti Penang memiliki jembatan laut kedua: Penang Second Bridge.

•••

Kaki jembatan suramadu suatu senja. Sekitar setengah jam sebelumnya saya baru saja menyelesaikan sholat magrib berjamaah di sebuah masjid di kawasan Bangkalan. Di kaki jembatan itu saya siapkan selembar kertas, sebuah ballpoint dan handphone sebagai pengukur waktu. Sebuah survay kecil kecilan mengikuti rasa ingin tahu. Saya alokasikan waktu 15 menit untuk menghitung mobil yang masuk dan keluar Jembatan laut sepanjang sekitar 4 km ini. Lima belas menit berikutnya untuk menghitung jumlah motor.

Hasilnya: dalam seperempat jam ada 133 mobil lewat dan seperempat jam berikutnya ada 285 motor lewat. Tarif mobil adalah Rp 30 ribu dan motor Rp 3 ribu. Jika dianggap selam 24 jam kondisinya selalu seperti itu maka sepanjang tahun uang yang terkumpul adalah Rp 169,768,800,000. Jika investasi jembatan dianggap Rp 4 Trilyun, angka itu setara dengan 4,2% setahun. Seandainya investasi Suramadu menggunakan dana bank komersial, angka itu belum cukup walau hanya sekedar membayar bunga. Biaya operasional untuk gaji karyawan dan lain lain maupun depresiasi belum dihitung. Apalagi pengembalian pokok pinjaman. Apalagi lalu lintas pada malam atau dini hari tentu jauh lebih sepi dari kondisi saat survay itu saya lakukan.

Kepadatan lalu lintas Suramadu perlu digenjot. Bagaimana caranya? Sekedar perbandingan: ongkos toll jembatan masuk ke Penang dengan mobil sedan atau sekelasnya adalah RM 7 alias sekitar Rp 20 ribu rupiah. Keluar dari penang tidak perlu membayar toll alias gratis. Rp 20 ribu untuk pergi pulang alias sepertiga tarip jembatan Suramadu yang Rp 60 ribu pergi pulang. Karena murahnya, wajar kalau jembatan Penang macet. Break event point pun mudah tercapai. Maka… mudah saja bagi investor untuk membangun jembatan kedua yang jauh lebih panjang dan butuh uang lebih banyak. Mau Universitas Trunojoyo di Bangkalan semaju USM? Mau harga tanah di Madura naik tiga kali lipat tanah Surabyaa? Mau jembatan suramadu kedua? Jembatan Penang bisa menjadi inspirasi. Bagi Anda para pengambil kebijakan negeri. Juga bagi siapapun yang ingin maju. Penang Second Bridge!

Tulisan ini dimuat di majalah matan, terbit di surabaya, edisi nopember 2011

Catatan tambahan:  data riil pendapatan (revenue) jembatan suramadu tahun 2011 adalah Rp 171,5 Milyar dengan 13 505 000 unit kendaraan setahun [jawa pos, 6 januari 2012, bersumber dari PT Jasamarga Cabang Surabaya]

P: Responsif Dengan Emoticon


Bahwa negeri ini bertabur pahlawan heroik sudah tidak bisa dibantah lagi. Ibu pertiwi mendapatkan kaemerdekaan pada tahun 1945 dari tetesan darah para syuhada. Pekik takbir menjadi penderu semangatnya. Sepuluh nopember 45 di Surabaya sudah dikenal gaungnya. Jendral Mallaby pun tewas disana. Sepanjang sejarah umat manusia, tidak pernah ada seorang jendral tewas di medan tempur kecuali di Surabaya. Luar biasa.

Kemerdekaan Indonesia menginspirasi negara negara sekitar. Malaysia merdeka 12 tahun kemudian. Singapura 20 tahun setelah itu. Brunai 40 tahun dibelakangnya. Ada yang menarik, ternyata prestasi ekonomi Malaysia, Singapura dan Brunai saat ini lebih moncer dari pada Indonesia. Tidak perlu data statistik berderet untuk membuktikannya. Ada jutaan warga negeri ini yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di ketiga negera tetangga “adik adik” indonesia itu.

Kenapa kakak bisa kalah oleh adik? Tentu ada banyak faktor. Ada banyak penyebab. Tetapi ada sesuatu yang bisa dijadikan renungan. Indoensia merdeka melalui perebutan kekuasaan. Bagaimana dengan Malaysia, Singapura dan Brunai? Mereka berbeda. Kemerdekaan “adik-adik kita” ini diperoleh tanpa tetesan darah. Kemerdekaan mereka diperoleh melalui meja perundingan.

Duduk bersama di meja perundingan dan memperoleh kemerdekaan mungkin nampak kurang heroik. Tetapi dalam mengisi kemerdekaan, kemampuan duduk bersama untuk berkomunikasi dan bernegosiasi ternyata lebih dibutuhkan. Mengisi kemerdekaan membutuhkan manajemen. Komunikasi dan negosiasi adalah tulang punggung manajemen.

&&&

“Mengapa tidak datang?”

“Saya ada acara keluarga yang sudah dirancang jauh jauh hari”

“Tapi ini kan acara langka? Sudah dua puluh tahun lebih lho kita tidak ketemu?”

“Mau gimana lagi :)”

“Panitia kok ndak datang. Nyuruh orang lain datang. Dirinya sendiri ndak datang”

“:P”

&&&

Di atas adalah kutipan sebuah obrolan lewat internet alias chating saya dengan seorang kawan tentang acara reuni SMP pada suatu lebaran.  Perhatikan kutipan terakhirnya. Titik dua dirangkai dengan huruf P. Ini adalah sebuah gambaran tentang sebuah keahlian mendasar dalam berkomunikasi: responsif. Merespon dengan cepat apapun pesan komunikasi yang disampaikan oleh lawan bicara kita. Kebalikan dari responsif adalah lambat, lelet, atau telmi.

Titik dua dengan huruf P adalah salah satu bentuk emoticon alias simbul tentang suasana emosi tertentu. Ada banyak ungkapan perasaan yang bisa disimbulkan. Titik dua dirangkai dengan kurung tutup mewakili senyuman. Titik dua dirangkai dengan kurung buka menunjukkan ungkapan emosi sedih. Titik dua dengan hurup P simbul ekpresi seseorang yang sedang sedikit menjulurkan lidah atau yang dalam bahasa jawa disebut melet dalam bahasa jawa. Ini adalah simbul sikap sedikit tidak suka tanpa harus marah. Cukup untuk menunjukkan bahwa yang bersangkutan merespon dengan cepat apa yang disampaikan oleh lawan bicara.

Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah melet.jpg

Makna emoticon huruf P dirangkai dengan titik dua di depannya.

Responsif membuat lawan bicara merasa nyaman. Sebaliknya, lambat atau bahkan menghilang tanpa respon membuat lawan bicara tidak nyaman atau bahkan marah. Di dunia bisnis, responsif dibutuhkan oleh Anda yang harus  berkomunikasi dengan pelanggan atau calon pelanggan misalnya. Ini adalah keahlian komunikasi dasar bagi Anda yang berprofesi di sektor marketing. Atau Anda yang mewakili perusahaan tempat Anda bekerja dalam berkomunikasi dengan perusahaan lain.

Kita perlu belajar berkomunikasi yang baik. Agar makin bisa bernegosiasi. Agar makin banyak deal bisnis yang terjadi. Agar makin bagus prestasi ekonomi yang kita capai. Agar negeri ini bisa mengejar ketertinggalan ekonomi dengan adik-adiknya. Kemerdekaan pun bisa diperoleh dengan komunikasi yang baik tanpa tetesan darah. Apa lagi hanya “sekedar” deal bisnis.  Responsif. Komunikatif. Walaupun mungkin hati tidak suka. Walau hanya dengan titik dua dan hurup P. Bisa kan?

Tulisan ini dimuat di Majalah Muslim edisi oktober 2011, terbit di Surabaya, dengan sedikit diedit kembali.

Klik untuk bergabung Grup Telegram  atau Grup WA Korporatisasi
Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Sampingan

Baca lebih lanjut

Hanamasa: Dari Jepang kah?


Hanamasa

oleh Iman Supriyono, konsultan pada SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com

Kalau sedang santai di Palembang, yang sangat menyenangkan adalah jalan ke kampung-kampung. Apalagi kalau bukan menikmati sensasi suasana menu pempek. Warung pempek di kampung kampung Palembang menjamur seperti warung pecel di pagi hari di surabaya. Menikmati pempek di palembang asyiknya seru seprti menikmati pecel di pagi hari di Surbaya.

Palembang memang benar benar asyik dengan pempeknya. Maka, saya pun sesekali rindu suasa dan kenikmatannya. Solusinya? Yang paling asyik tentu pergi ke Palembang. Tetapi ini akan menjadi sangat konyol kalau hanya demi pempek. Bayangkan berapa harga tiket penerbangan surabaya palembang pergi pulang hanya untuk seporsi pempek. Tiketnya bisa hampir dua juta rupiah. Pempeknya tidak sampai sepuluh ribu. Tentu sangat tidak proporsional.

Padahal, jalan jalan seperti itu sering kali menjadi inspirasi luar biasa untuk tulisan-tulisan saya. Trus bagaimana? Ternyata di Surabaya ada solusi asyik juga. Di Ngagel Jaya Selatan, tiap malam ada warung pempek yang cukup ramai. Kelezatanya tidak kalah dengan yang di Palembang. Barang kali satu satunya kekurangannya adalah karena ia di Surabaya sehingga menjual pempek sendirian. Tidak ada warung sekitar yang menjualnya. Tidak seperti di kampung-kampung di Palembang yang pernah saya rasakan sensasinya.

Maka, malam itu, sepulang dari sebuah rapat dan kebetulan agak senggang, saya mampir ke warung ini. Kebetulan perjalanan pulang dari tempat rapat melalui Jalan Ngagel Jaya Selatan. Jadilah wisata kuliner murah meriah: seporsi pempek palembang di Surabaya. Rasa ikannya, kekenyalan tepungnya, cita rasa cuka di sausnya….mak nyus betul!

Malam itu, kebetulan si bos pemilik warung pempek sedang ada di tempat. Jarang jarang orang ini tampak di warungnya. Kalau saya lagi disana, lebih sering dilayani oleh anak buahnya. Si bos yang badannya super tambun ini jarang berada di tempat. Maka malam itu saya sempatkan menyapanya sambil menanyakan ini dan itu. Dan…malam itu saya mendapatkan informasi menarik: si bos pempek ini ternyata arek suroboyo asli. Pempek palembang yang dijual oleh arek Suroboyo asli. Bisa!



Anda kenal Pizza Hut? Pasti Anda akan menjawab ya. Anda tahu bahwa pizza adalah makana itali? Saya juga yakin Anda menjawab ya. Tahukah Anda bahwa Pizza Hut adalah restoran Amerika? Nah, yang ini saya tidak terlalu yakin. Kemungkinan besar Anda akan menyangka bahwa Pizza Hut adalah restoran Itali seperti menunya. Tetapi ketahuilah bahwa sangkaan ini salah. Yang betul, pizza hut adalah restoran Amerika yang menjual menu Itali.

Anda tahu pecel madiun? Kalau Anda orang Jawa, saya yakin sangat mengenalnya. Apalagi kalau Anda penggemar pecel. Nah, di dekat rumah saya di kawasan Mulyosari Surabaya ada sebuah warung pecel madiun yang cukup laris. Citarasanya nikmat sehingga saya juga sering membelinya. Tetapi, ada yang menarik. Ternyata penjual pecel ini bukan orang Madiun. Penjualnya justru orang Lamongan. Kecele kan?

Anda tahu Hanamasa? Saya yakin Anda mengenalnya. Anda tahu bahwa syabu syabu dan yakiniku yang dijual hanamasa adalah menu jepang? Saya yakin Anda juga sudah paham. Dan saya yakin, Anda akan menyangka bahwa Hanamasa adalah merek jepang. Persis seperti McDonalds yang merek yang dari Amerika. Dan ketahulah bahwa persangkaan Anda ini salah. Hanamasa adalah restoran milik Teddy Thohir yang mantan karyaan astra. Asli Indonesia.

Pembaca yang bersemangat, Pempek Palembang Ngagel Jaya Selatan, Pizza Hut, Hanamasa dan Pecel Madiun Mulyosari memberi pelajaran. Ketekunan, keahlian, kesungguhan dan manajemen yang basik bisa menembus sekat sekat kedaerahan. Orang lamongan bisa memasak pecel madiun yang lebih nikmat dari pada menu yang sama karya orang Madiun. Orang Amerika bisa memasak pizza yang lebih kesohor dari pada orang Italia sendiri. Orang Indonesia bisa memasak shabu shabu dan yakiniku yang lebih termashur dari pada orang jepang sendiri. Arek suroboyo bisa menghadirkan kelezatan pempek dan tidak kalah dengan orang Palembang.

Bagaimana dengan namanya? Sekedar gambaran, Saya baru berkomunikasi SMS dengan seorang kawan lulusan program doktor Jepang yang masih suka wira wiri Surabaya-Jepang. Katanya, Hanamasa adalah nama kampung yang sangat umum di Jepang. Hampir setiap kota ada nama itu. Persis seperti nama nama ini di jawa: Sumberejo, Sidomulyo, Kauman, dan sejenisnya. Ada hampir di setiap kota. Jika dijadikan merek restoran, tidak akan ada yang protes. Saya kira demikianlah dengan Hamamasa. Bisa kan?

tulisan ini pernah dimuat di majalah Muslim, terbit di Surabaya

Endless Romance – Khutbah Nikah Yang Membuat Air Mataku Meleleh Bahagia


endless romanceEndless Romance-Khutbah Nikah Yang Membuat Air Mataku Meleleh Bahagia

Oleh Iman Supriyono, konsultan pada SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com. Tulisan ini dambil dari buku FSQ, karya ke-4 Iman.  Ini adalah  sebuah khutbah nikah yang disampaikan oleh Iman sesaat menjelang Sri Budi Arti, adik kandungnya, melangsungkan akad nikah di sebuah masjid di kampung halamannya, Kaliabu-Caruban-Madiun dengan Eko Sukamto, seorang pelaut santri.

Dik Sri Budi dan Dik Eko, Sebentar lagi kalian akan menghadapi saat yang paling bermakna dalam hidup
Saat dimana Kalian akan mengikat janji Untuk melaksanakan sunnah Nabi Sebagaimana yang disebut dalam sebuah hadits…

Dari Anaw r.a., katanya, beberapa orang sahabat nabi saw bertanya kepada para istri beliau tentang amal ibadah beliau ketika sedang bersunyi diri. Setelah mendapat jawaban, maka diantara para sahabat itu ada yang berkata, “Aku tidak akan pernah kawin!” sebagian lagi berkata “Aku tidak akan makan daging”, yang lain berkata pula “Aku tidak akan tidur di atas kasur.” Mendengar ucapan-ucapan para sahabat itu, Nabi SAW serta merta memuji dan menyanjung Allah SWT lalu beliau bersabda:”Bagaimanakah cara berfikir mereka sehingga mereka berujar begini dan begitu. Padahal aku sendiri shalat, tidur, puasa, berbuka dan bahkan aku menikah. siapa yang benci kepada sunnahku, dia tidak termasuk golonganku

Menempuh rumah tangga atas niat karena Ilahi semata
Untuk melengkapi setengah agama. Renungkan dan camkan dalam hati. Nikah kalian ini adalah ibadah, sebagaimana sholat adalah ibadah, puasa adalah ibadah
Ingatlah Firman Allah dalam Surat Adzariat ayat 56

“Tidaklah aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku”

Bahkan dengan memahami ayat ini,
Ketika Dik Eko berangkat berlayar untuk mencari nafkah (Eko berprofesi sebagai pelaut), Itupun adalah ibadah Kerjakanlah ibadah ini sebagaimana mengerjakan sholat, zakat, puasa dan sebagainya. Kerjakan dengan penuh keikhlasan kepada Ilahi. Semata-mata demi ridlonya di alam akhirat nanti

Dik Sri Budi dan Dik Eko,
Pada saat haji wada’, haji perpisahan, haji terakhir yang dilakukan Rasulullah Muhammad SAW, beliau menyampaikan beberapa pesan yang tentunya sangat penting. Rasul membuka pesannya dengan perkataan “Ayyuhannaas…isma’u qoulii….”

“Wahai manusia sekalian! Perhatikanlah kata-kataku ini! Aku tidak tahu, kalau-kalau sesudah tahun ini, dalam keadaan seperti ini, tidak lagi aku akan bertemu dengan kamu sekalian untuk selamanya…!”

Salah satu pesan penting Beliau saat itu adalah

“… Takutlah kepada Allah dalam memperlakukan kaum wanita, karena kalian mengambil mereka sebagai amanat Allah dan kehormatan mereka dihalalkan bagi kalian dengan nama Allah. Sesungguhnya kalian mempunyai hak atas para istri kalian dan mereka pun memiliki hak atas kalian. Hak kalian atas mereka adalah mereka sama sekali tidak boleh memasukkan orang yang tidak kalian sukai ke dalam rumah kalian. Jika mereka melakukan hal itu maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak membahayakan. Sedangkan hak mereka atas kalian adalah kalian harus memberi nafkah dan pakaian kepada mereka secara baik. Maka perhatikanlah perkataanku wahai manusia, sesungguhnya aku telah sampaikan…”

Pesan itu dirangkai dengan,
“….ada masalah yang yang sudah jelas kutinggalkan di tangan kamu, yang jika kamu pegang teguh, kamu takkan sesat selama-lamanya: Kitabullah dan Sunnah Rasulullah..”
Pada waktu itu pulalah Rasulullah membacakan ayat 3 dari surat Al Maidah
“Hari inilah kusempurnakan agamamu ini untuk kamu sekalian, dengan Kucukupkan nikmat-Ku kepada kamu, dan yang Ku sukai Islam inilah sebagai agama kamu”

Dik Sri Budi dan Dik Eko
Abu Bakar menitikkan air matanya ketika mendengarkan ayat itu dibaca. Camkan betul-betul pesan Nabi ini
Pesan yang membuat hati seorang tokoh sejarah dan dijamin masuk surga sekelas Abu Bakar pun menitikkan air matanya

Dik Sri Budi dan Dik Eko saudaraku..
Setelah melangsungkan akad nikah
Hari-hari kalian insya Allah adalah hari-hari yang sangat indah. Begitu indah dan manisnya sampai-sampai orang menyebutnya sebagai bulan madu.
Tapi ingatlah,
Keindahan itu akan diikuti dengan semakin terlihatnya kelemahan diantara kalian berdua.
Dik Sri Budi akan semakin mengetahui kelemahan Dik Eko
Begitu pula sebaliknya

Berkenaan dengan hal ini
Saya teringat ketika dalam sebuah pengajian tentang pernikahan,
Seorang peserta perempuan bertanya kepada sang ustadz tentang suami ideal
‘Suami ideal adalah yang agamanya baik, kaya raya, dari keturunan dan keluarga terhormat, dan wajahnya tampan’
demikian jawab sang ustadz
tetapi kemudian ustadz ini berpesan kepada penanya
‘Tetapi hendaklah kalian berkaca, apakah kalian juga seorang istri yang ideal sehingga menuntut suami yang ideal’

Bagi sebagian pasangan pengantin baru
Kelemahan demi kelemahan ini bisa menjadi masalah yang besar
Tetapi
Yang beruntung adalah
Pasangan yang menghadapi setiap permasalahan dan kelemahan pasangannya dengan senantiasa menyadari komitmen dan niat yang lurus
Niat pernikahan yang semata-mata untuk mencari ridlo Allah SWT,
Bukan hanya sekedar kebutuhan biologis
Bukan hanya sekedar kebutuhan psikologis
Bukan pula hanya sekedar kebutuhan ekonomis
Walaupun
Kebutuhan-kebutuhan itu semua akan terpenuhi dengan sendirinya melalui sebuah pernikahan yang dibangun berdasarkan ajaran Islam yang kalian perjuangkan.

Adikku berdua,
Salah satu tujuan pernikahan adalah agar terwujudnya generasi baru yang sholeh-sholehah
Berkualitas dunia akhirat
Langkah untuk mencapai tujuan itu diawali dengan hubungan suami istri
Rasulullah mengajarkan kepada kita sebuah do’a
Yang apabila dibacakan sebelum berhubungan suami istri,
Insya Allah anak yang akan dilahirkanya akan dilindungi dari godaan syaiton sebagaimana hadits Muslim berikut
“Allohumma janibna syaithon Wa janibi syaiton ma rozaqtanaa”

‘Ya Allah, jauhkanlah kami dari syaiton, dan jauhkanlah dari syaiton apa yang Engkau rizkikan kepada kami (anak)’

Dik Sri Budi,
Berusahalah untuk berbuat baik dan menunaikan hak suamimu kelak hingga suatu saat nanti, bila Allah SWT mentakdirkan dik Sri Budi untuk dipanggil-Nya terlebih dahulu dan kami para sahabatmu datang kerumahmu maka Dik Eko akan mengatakan “Dik Sri Budi adalah wanita terbaik yang pernah aku temui, Dia Adalah Istri sholehah dan ibu teladan bagi anak-anakku”
Bila Dik Sri Budi telah melakukan yang terbaik untuk Dik Eko dan ternyata Dik Eko kurang berkenan di hati Dik Sri Budi, mintalah hak Dik Sri Budi kepada penguasa Dik Eko, Allah SWT”

Dik Eko,
Sebagaimana istrimu juga telah berbuat baik, berusahalah untuk menjadi suami terbaik yang kalian mampu sedemikian rupa hingga kelak apabila Allah SWT mentakdirkan Dik Eko untuk dipanggil-Nya terlebih dahulu, maka ketika kami mendatangi rumahmu dik Sri Budi akan mengatakan “Mas Eko adalah laki-laki terbaik yang pernah saya temui, ia adalah Suami sholeh dan bapak teladan bagi anak-anakku!

Terakhir. Selamat berlabuh dengan bahtera rumah tangga yang kokoh dalam perjuangan untuk menegakkan kalimat Allah dan kebenaran di muka bumi. Bila di depan ada karang yang menghalang dan ombak menyerang, hadapilah dengan tenang dan kembalikan kepada Allah dan Rasulnya. Semoga kelak kita bersama akan berbahagia dalam naungan ridlo dan surganya, Amin.

Selanjutnya, perkenankanlah kami para sahabatmu yang hadir di Masjid yang suci ini untuk mendoakan pernikahan kalian berdua.

Yaa Allah, satukanlah hati mereka berdua sebagaimana kesatuan antara hati Muhammad Rasulullah SAW dengan Bunda Khodijah. Jadikanlah kesatuan hatinya sebagai bekal untuk menggapai ridlomu di jalan kebenaran dan dakwah untuknya. Jadikanlah kesatuan hatinya sebagai bekal untuk mengarungi kehidupannya hingga hembusan nafasnya yang terakhir. Hembusan nafas khusnul khotimah. Amiiin.

Rusdi Kirana & First to Fly Boeing 737 900 ER: di Jogja Juga!


first to fly boeing 737 9004r

Di Jogja Juga!

Oleh Iman Supriyono, konsultan bisnis pada SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com

Tampangnya tampak gagah. Warnanya yang biru putih membuatnya jelas berbeda. Badanya bongsor. Tambahan winglet pada ujung kedua sayapnya menjadikan pesawat ini makin tampak menonjol di lahan parkir Bandara Hasanuddin. Itulah kali pertama saya melihat Boeing 737 900ER. Pesawat yang menjadikan Lion Air sebagai maskapai first to fly. Lion air adalah maskapai pertama yang menerbangan pesawat gagah ini. Posisinya seperti Singapore Airlines-populer disebut SQ- yang dipercaya sebagai maskapai first to fly untuk Airbus A380. Lion oleh Boeing, SQ oleh Airbus. Lion pesawat kapasitas sekitar 200 penumpang. SQ pesawat berkapasitas lebih dari 500 penumpang. Lion dan SQ sama sama first to fly.

Memandang B 737 900 ER membuat ingatan tertuju pada Rusdi Kirana. Dialah yang membidani dan membesarkan Lion hingga hari ini. Ada banyak hal menarik dari Rusdi dan Lion. Tetapi ada satu hal yang saya ingin ungkap lewat tulisan ini.
Dalam sebuah wawancara degan media, Rusdi punya kebiasaan kerja yang luar biasa. Tiap hari pada umumnya ia baru meninggalkan kantor pada sekitar jam 2 pagi. Sebuah gambaran akan semangat kerja yang luar biasa. Bekerja dengan jam kerja lebih dari dua kali lipat jam kerja orang pada umumnya. Kebiasaan ini tentu tidak bisa dipisahkan dari Lion air yang berprestasi seperti yang sekarang bisa disaksikan oleh siapapun. First to fly B 737 900ER.

♦♦♦♦

Pagi itu udara Jogja hangat. Pertengahan musim kemarau. Mungkin banyak orang menyebutnya panas. Bagi saya hangat saja. Toh suhunya masih pada kisaran 30-an derajad celcius. Kalo sudah dekat dekat 100 baru disebut panas. Maka….jam 8 pagi saya putuskan untuk berolah raga. Tidak perlu terlalu serius. Cukup jalan agak cepat aja menyusuri keramaian jalanan. Kehangatan sinar mentari turut mempercepat cucuran keringat. Segar!

Bagi banyak orang, bersantai di hotel menunggu jadual mungkin terasa lebih asyik. Bisa sambil baca koran, nonton teve, sambil menikmati teh atau kopi hangat. Tetapi saya memilih yang lain memilih berkeringat. Salah satu alasanya adalah ingatan saya tentang Lion Air dan Rusdi Kirana.

Bila pingin sukses, seorang wirausahawan dituntut untuk mengerahkans segala daya dan kekuatan. Tidak jarang pengusaha dituntut untuk bekerja lebih dari dua kali lipat jam kerja normal. Rusdi Kirana telah membuktikannya di Lion Air. Kerja kerasnya berbuah pertumbuhan maskapai penerbangan besutannya. Dari tidak ada apa apa menjadi makapai nomor satu di kelasnya. Bahkan dilihat dari jumlah penumpang, Lion bersaing ketat dengan Garuda sebagai maskapai yang jauh lebih berpengalaman.

Untuk bisa bekerja keras, tentu saja badan harus bisa diajak kompromi. Stamina harus prima. Salah satu kebutuhan untuk menjaga stamina adalah olah raga. Kata seorang kawan dokter, dibutuhkan minimal dua kali seminggu berolah raga masing masing satu jam untuk membakar lemak di dalam tubuh. Lemak yang tiap hari masuk melalui makanan dan minuman akan menyumbat pembuluh darah dan menjadikan stamina menurun jika tidak dibakar. Bahkan pada kondisi lebih parah akan mengakibatkan stroke. Maka, walaupun sedang bepergian di luar kota, olah raga dua kali seminggu harus jalan. Sesuatu yang logis. Sesuatu yang sangat ilmiah.

Walaupun sangat ilmiah dan logis, nyatanya tidak banyak orang yang mau disiplin berolah raga. Maka, sebenarnya ada cara lain untuk tetap bestamina prima tanpa harus berolah raga. Bagaimana? Gampang. Cukup dengan tidak mengkonsumsi makanan atau minuman yang mengandung lemak. Jangan makan tempe goreng, daging, susu, mentega, telor, sayur yang bersantan, daging, ikan dan sejenisnya.

Saya masih suka menyantap peyeknya pecel, tempe goreng dipenyet sambal tomat trasi, daging empal, ikan patin, alpukat, masakan padang, sayur lodeh manisah, kacang goreng, segelas susu hangat, roti bakar lengkap dengan mentega keju, dan sebagainya. Saya juga masih ingin kerja keras seperti Rusdi Kirana atau para pengusaha sukes lain. Jika dikaruniai umur panjang hingga 90-an tahun, saya juga ingin seperti Almarhum Pak Muhammad Noer mantan Gubernur Jatim yang masih memimpin 5 yayasan. Atau seperti mendiang “nabinya ilmu manajemen” Peter Drucker yang masih berkarya hingga detik detik terakhir kehidupannya. Maka….tidak ada cara lain kecuali berolah raga. Dimanapun kapanpun. Di Jogja juga!

tulisan ini pernah dimuat di majalah Matan, terbit di Surabaya

 

Daun Jati: Tekun Kerja Keras Tak Cukup


Jam empat sore saya sudah meninggalkan hotel. Jika jalan lancar, biasanya sekitar jam 9 malam sudah sampai rumah di bagian timur kota Surabaya. Artinya, perjalanan kali ini melewati jam makan malam.

Ada beberapa tempat favorit makan malam pada jalur Tuban Surabaya. Nah, sore itu saya dan romongan memilih sebuah warung tenda di depan Pasar Baru Tuban dengan menu istimewa: Kepalan Manyung. Menu yang selalu saya rindukan manakala lama tidak pergi ke Tuban.

Karena jika sedang di Tuban sering makan menu lezat ini, sebenarnya kepala manyung bukanlah sesuatu yang baru. Sudah menjadi semacam rutinitas memanjakan lidah. Tetapi naluri kepenulisan saya muncul ketika melihat ada seorang ibu tua asyik menjajakan dagangannya di teras pasar. Dagangannya ini yang menarik bagi saya: daun jati.

Kanapa daun jati menarik? Ada banyak alasan. Yang pertama, masa kanak-kanak saya tinggal di sebuah desa tepi hutan jati pada jaman dimana plastik belum sepopuler saat ini. Praktis daun jati menjadi salah satu barang penting masa itu. Daun jati adalah pembungkus nasi pecel hangat dengan aroma khas. Daun jati juga pembungkus tempe yang juga tiada dua. Aroma daun jati yang terkena panas hasil fermentasi jamur tempe memberikan aroma nikmat. Masih banyak lagi fungsi daun jati sebagai pembungkus aneka makanan maupun bahan makanan di kampung halmaan ketika itu. Pendek kata, daun jati memiliki nilai ekonomi yang sangat strategis.

Itulah kenapa salah satu hisaan masa kanak kanak saya adalah pengalaman mencari daun jati di hutan dan kemudian menjualnya ke warung warung untuk pembungkus aneka makanan. Anak ingusan yang belajar mencari uang dengan berjualan daun jati. Pengalmaan yang sangat indah yang ternyata kelak saya rasakan sebagai pendidikan entrepreneurship luar biasa ala anak desa.

Segeralah saya mencari cara yang manis untuk berbicang dengan pedangan daun jaati itu. Saya pun mengeluarkan uang lembaran seribuan rupiah untuk membeli daun jagi. Maksud saya, daun jati mau saya bawa pulang ke surbaya sebagai bahan cerita kepada anak anak saya tentang perkembangan tekonolgi pengemasan. Dari kemasan daun jati menajdi kemasan plastik. Nah, ternyata betul. Seribu rupiah untuk membeli daun jati menjadi pembuka komunkkasi yang manis dengan sang ibu tua pedangannya yang kemudian memperkenalkan diri sebagai Mbok Siti.

Puluhan tahun bekerja keras dengan tekun pun tidak cukup

Mbok Siti sudah sejak umur 15 tahun berdang daun jati di pasar itu. Kalau sekarang ia berumur sektiar 60 tahun, berarti ia telah berdagang selama 45 tahun. Selama hampir setengah abad itu Mbok Siti menjalani ritme aktivitas sebagai berikut: jam lima pagi berangkat ke hutan untuk memetik daun jati dengan galah. Sampai sekitar jam 8 ia sudah mendapatkan seeikat besar daun jati untuk digendong pulang ke rumah. Sampai di rumah ia segera berangkat ke hutan lagi untuk mencari segendongan daun jati lagi. Tahap kedua pencarian daun jati ini terselesaikan sekitar tengah hari.

Setiba di rumah, Mbok Siti segera bergegas mencari mobil tumpangan untuk membawa dua ikat daun jati ke pasar. Ia tidak mungkin menggendong dua ikat daun jati yang ketika saya coba angkat kira kira seberat 50-60 kg itu. Untuk pengangkutan ini Mbok Siti harus membayar sekitar Rp 10 ribu. Itupun tidak semuah kendaraan umum yang lewat mau ditumpangi Mbok Siti.

Jam 5 sore Mbok siti sudah tiba di pasar dan kemudian menjajakan barang dagangannya sampai sektiar jam 5 pagi. Praktis seluruh aktivitasnya mulai dari memetik sampai menjual daun jati dikerjakan dalam waktu 24 jam penuh. Maka, begitu daun jati habis terjuial iapun pulang ke rumah untuk istirahat secukupnya. Keesokan harinya, jam 5 pagi ia harus berangkat memulai lagi siklus pekerjaaannya.

Berapa pendapatan Mbok Siti? Setiap putaran, omset penjualan 2 ikat daun jati adalah sekitar Rp 50 ribu. Dipotong ongkos transport dan makan selama berjualan kira kira ia masih menyisakan uang Rp 35 ribu hasil kerja 24 jam. Dengan ritme seperti itu, dua hari sekali Mbok Siti menerima uang Rp 35 ribu alias Rp 17.500 sehari. Hanya senilai sekitar setengah UMR!

Rp 17.500 sehari! Itulah kehidupan Mbok Siti selama hampir setengah abad. Menjalani hidup yang secara finansial makin sulit dan berat. Mengapa omset penjualannya tidak meningkat? Mengapa pasarnya tidak diperluas? Mengapa tidak diekspor? Mengapa Mbok Siti yang pekerja sangat keras tidak prestasi ekonominya tetap kelas bawah? Pelajaran apa yang bisa Anda petik? Apa bedanya dengan pengalaman masa kanak kanak saya yang juga berjualan daun jati sebagi sebuah pembelajaran entrepreneurship yang saya rasakan luar biasa? Semoga kita bisa memetik pelajarannya: daun jati! Bahwa kerja keras dan ketekunan puluhan tahun saja tidak cukup. Dibutuhkan ilmu. Berproses menapaki satu demi satu dari 8 langkah corporate life cycle.

Tulisan karya Iman Supriyono ini pernah dimuat di majalah BAZ, terbit di Surabaya

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Atau ikut KELAS KORPORATISASI

Baca juga:

Bagaimana Merintis Bisnis?
Corporate Life Cycle
Modal Alfamart Mengejar Indomaret

Modal Murah Mitra Keluarga Menyalip Siloam
Pedal Gas Revenue and Profit Driver
RPD Sebagai Faktor Kali
RPD Sebagai Peredam Risiko Investasi Wakaf
Giant Tutup: Sulitnya Menemukan Kembali RPD
Deep Dive Sang CEO Mengamankan RPD
RPD Sebagai Salah Satu Tahap Corporate Life Cycle