Koperasi Kelas Triliun: Bendera Campina


Milo suam. Ini adalah minuman yang paling saya sukai bila sedang di Malaysia atau Singapura. Apapun makanan yang saya pesan….minumnya milo suam. Suam adalah bahasa melayu untuk hangat. Milo? Apa lagi kalau bukan bubuk coklat merek Milo produk dari Nestle.

Saya memang menjadi penyuka Milo setelah sering ke Malaysia atau Singapura. Bukan karena fanatik. Tetapi memang sering kali tidak ada pilihan lain. saya tidak biasa biasa minum teh atau kopi. Kalau tidak jeruk hangat atau jus buah buahan, maka alternatifnya adalah Milo. Mula mula murni karena tidak ada alternatif. Lama lama suka juga!
kid drinking milk

Menurut lidah saya, di kedua negeri jiran ini, milo terasa berbeda. Terasa lebih nikmat. Kenikmatanya sungguh jauh berbeda dengan Milo di negeri ini. Saya pun kemudian tertarik untuk mempelajari. Mengapa Milo di negeri jiran jauh terasa lebih nikmat. Padahal sama sama Milonya. Produk yang sama dari pabrik yang sama. Bahkan kemasan nya pun sama.

Usut punya usut, ternyata ada perbedaan yang menarik. Di warung warung di malaysia atau Singapura, ketika memesan minuman Milo suam, Anda akan menerima segelas minuman yang komposisinya terdiri dari air hangat, gula, dan susu. Di sini, Milo hangat artinya adalah segelas air hangat dan gula tanpa susu. Kalau Anda menginginkan Milo hangat persis seperti Milo suam, di sini Anda harus memesan: Milo susu hangat.

♦♦♦
Empat sehat lima sempurna. Nasi, sayuran, lauk pauk, buah buahan adalah empat makanan untuk hidup sehat. Susu sebagai menu kelima akan menyempurnakannya. Itulah kampanye nasional yang dihafal mulai dari anak anak sekolah sampai orang dewasa. Slogan sederhana tentang bagaimana seharusnya setiap orang memenuhi kebutuhan nutrisi hariannya.

Empat sehat bisa dipenuhi dengan biaya sangat bervariasi. Buah misalnya dapat dipenuhi dengan Rp 2 ribu per kilogram atau bahkan kurang dari itu. akan tetapi, buah juga bisa berarti harga Rp 50 ribu per kilogram atau bahkan lebih. Semangka misalnya ada yang bisa Anda beli dengan kisaran harga Rp 2000 per kilogram. Buah kiwi, pear jenis tertentu dan durian adalah beberapa contoh buah dengan kisaran harga tertinggi.

Lauk pauk pun begitu. Sumber protein ini bisa berarti ikan mujair kecil kecil yang dijual dengan harga tidak sampai Rp 5 ribu per kilogram. Tetapi, daging kualitas terbaik baru bisa dibeli dengan harga Rp 60 ribu per kilogram bahkan lebih. Rentang harganya sangat amat bervariasi.
Lain empat sehat, lain lima sempurna. Susu sebagai kesempurnaan nutrisi bagi tubuh tidak memiliki rentang harga yang tinggi. Susu segar misalnya selalu dijual dengan harga sekitar Rp 6 ribu per liter. Tidak ada susu yang dijual misalnya dengan harga Rp 1000 per liter misalnya. Maka, untuk bisa mencapai kesempurnaan menu dengan susu, seseorang harus mengeluarkan anggaran yang relatif tinggi.

Alasan harga inilah bisa jadi mengakibatkan konsumsi susu di negeri ini relatif rendah. Tidak sampai seperlima dari konsumsi susu di Malaysia.PDB perkapita kita hanya sekitar 1/3 nya Malaysia atau 1/20 nya Singapura. Perbandingan ini juga bisa memberikan penjelasan tentang mengapa Milo di Malaysia selalu ditambah dengan susu. bahkan teh dan kopi pun begitu. Jika Anda memesan Teh di malaysia atau Singapura, otomatis Anda akan diberi hidangan teh lengkap dengan susu. kopi pun demikian. Bila yang Anda maksud adalah kopi atau teh tanpa susu, Anda harus memesan tea O (tea only) atau coffee O (coffee Only)

♦♦♦
FrieslandCampina adalah salah satu pemasok susu global. Produk koperasi hasil merger antara Koperasi Campina Jerman dengan Koperasi Friesland Negeri Belanda ini sangat kita kenal di negeri ini dengan produk susu bendera dan es krim campina. Dengan lebih dari 15 ribu peternak, FrieslandCampina menikmati omset tahunan sekitar Rp 120 Triliun. Dengan omset inilah koperasi ini menghidupi lebih dari 7000 karyawan dan lebih dari 20 ribu anggotanya (termasuk 15 ribu lebih peternak) beserta keluarganya.

Bukan hanya itu. Koperasi ini juga menjadi tulang punggung pemenuhan kebutuhan nutrisi global. Program empat sehat lima sempurna tentu tidak bisa dipisahkan dari Susu Bendera. Menggenjot tingkat konsumsi susu negeri ini agar tidak terlalu kalah jauh dengan malaysia tentu tidak lepas dari Susu Bendera. Kita berharap, suatu saat nanti memesan kopi, susu, atau coklat di warung warung negeri ini juga otomatis diberi susu seperti di Malaysia atau Singapura. Agar kualitas generasi muda ini sehat dan sempurna. Friesland Campina telah melakukannya sejak berdiri tahun 1979. Kapan Anda menyusul?

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Tulisan ini pernah dimuat di majalah matan, terbit di surabaya. juga bagian dari materi buku ke 8 penulis, “anda jago kandang atau kelas dunia”

Tiga Coretan Indah: Hajatan Tanpa Sumbangan


Surabaya april 2009. Sore ini indahnya tiada tara. Bukan karena pemandangan pepohonan menghijau. Bukan oleh putih deburan ombak pantai. Bukan pula karena sejuknya sebuah danau di alam pegunungan. Keindahan sore itu datang dari sebuah undangan. Saya menerima undangan resepsi pernikahan berwarna coklat muda dengan tulisan coklat tua nan artistik. Anggun.

Desainnya memang indah. Tetapi ada sesuatu yang jauh lebih indah: tiga gambar dengan coretan-coretan. Persis seperti coretan pada rambu lalu lintas yang menyatakan larangan. Gambar sepeda motor dicoret berarti sepeda motor dilarang masuk. Panah ke arah kanan dicoret berarti larangan belok kanan. Klakson dicoret berarti larangan membunyikan klakson.

Tiga gambar itu adalah kado, amplop, dan karangan bunga. Masing-masing dengan secuah coretan. Artinya, undangan itu menghendaki agar siapapun yang menerimanya hadir tanpa ketiganya. Tanpa membawa kado, tanpa membawa amplop berisi uang, dan tanpa membawa karangan bunga. Itulah undangan untuk pernikahan putri sulung Wali Kota Surabaya Bambang DH. Undangan pernikahan Aziza –Azmi.

■■■■
Bapak ibu saya kini adalah sepasang kakek nenek berusia 70 tahunan. Alhamdulillah dalam usianya yang lanjut keduanya tetap dikaruniai kesehatan yang luar biasa. Sehari hari bapak ibu masih asyik dengan binatang-binatang peliharaan khas orang desa: sapi, ayam, mentok dan angsa. Rutinitas selepas sholat subuh di pagi hari adalah memberi makanan binatang-binatang ini.

Di siang hari, ayah dan ibu masih punya kesibukan lain lagi: mengawasi beberapa pekerja memasak brem. Ini adalah aktivitas turun-temurun. Ini juga yang menjadi bekal kuliah saya dahulu. Hasil penjualan brem yang saya konsinyasikan di toko-toko di surabaya lah yang kemudian saya pakai untuk biaya kuliah.

Ayam, mentok, angsa dan brem lah yang telah “berjasa” memberikan aktivitas ayah ibu hingga kini. Tetap sehat dan bugar di usia senjat. Seluruh persendian masih tergerakkan. Tidak hanya berpangku tangan.

Banyak uang dong? Tidak juga. Secara bisnis, apa yang dilakukan ayah ibu adalah sesuatu yang sangat sederhana. Jauh dari kecepatan bisnis dunia modern ini. Bahkan dibandingkan dengan para tetangga pun, kecepatan bisnis bapak ibu kalah jauh dibandingkan dengan mereka-mereka yang jauh lebih muda. Memang mendapatkan uang. Tetapi kemanfaatan karena tetap aktif yang menjadikan sehat jauh lebih bermakna di usia senja.

Nah, dalam kesederhanaan finansial orang desa, ada saat tertentu yang cukup membebani. Datangnya adalah pada bulan-bulan favorit hajatan nikah. Pada saat itu, ayah ibu harus menyediakan uang dalam jumlah cukup besar -menurut ukuran kesederhanaan orang desa- untuk memberikan sumbangan kepada orang yang berhajat. Nyumbang memberatkan. Tidak nyumbang jadi bahan pembicaraan orang sedesa.

■■■■
Seorang kawan dari keluarga yang dekat dengan seorang mantan gubernur bercerita. Anggaran sumbangan resepsi pernikahan mantan gubernur bisa mencapai Rp 30 juta dalam sebulan. Angka itu terjadi pada bulan-bulan musim nikah. Bulan peak session pernikahan. Sesuatu yang wajar. Sumbangan kepada kolega sekelas kapolda atau mantan kapolda, pangdam atau mantan pangdam, pimpinan wilayah bank-bank besar dan sekelasnya tentu tidak cukup dengan amplop berisi selembar uang kertas Rp 50 ribuan. Inilah kolega para mantan gubernur.

Anda bisa membayangkan. Berapa gaji seorang gubernur? Berapa tahun masa jabatan seorang gubernur? Berapa uang yang bisa ditabungnya selama masa jabatan? Berapa “masa jabatan” seorang mantan gubernur? Ha ha ha…tentu akan melekat sampai akhir hayat. Lalu berapa anggaran sepanjang hayat untuk sumbangan atau hadiah resepsi pernikahan? Tentu besar sekali.

Maka…undangan pernikahan putri sulung Wali Kota Surabaya memiliki makna yang luar biasa. Luar biasa meringankan orang-orang kecil seperti ayah ibu saya di desa. Juga meringankan “orang-orang besar” sekelas seorang mantan gubernur.

Memang, Islam menyarankan memberikan hidangan kepada para undangan walimatul ursy. Hidangan untuk menandai sebuah peristiwa besar bagai mempelai berdua. Tentu saja hidangan yang masih dalam jangkauan kemampuan si empunya hajat. Bukan hidangan yang “dibeli” dengan kado atau sumbangan dari para undangan. Tidak perlu dipaksakan.

Anda akan menyelenggarakan resepsi pernikahan? Betapa indahnya bila resepsi itu seperti spirit walimatul ursy dalam Islam. Mengundang sanak saudara, kolega dan sahabat untuk menikmati hidangan. Undangan walikota Surabaya di atas bisa menjadi contoh. Undangan yang meringankan baik orang rakyat kecil maupun “orang besar”. Undangan yang menjadikan Anda yang berhajat berfikir realistis. Berfikir memanfaatkan uang yang dimilikinya. Bukan mengada-adakan sesuatu di luar kemampuan dengan mengharapkan kado dan sumbangan. Sebuah walimatul ursy yang indah.

Tulisan Iman Supriyono ini pernah dimuat di majalah BAZ, terbit di Surabaya.

Pooling


Sudu: Miri Municipal Council


Seorang sahabat sedang dirawat di rumah sakit. Kabar yang saya terima ia sedang menderita hepatitis. Sebuah penyakit yang cukup serius. Gara gara penyakit ini tidak jarang seseorang menemui ajalnya. Karenanya, masyarkat yang memiliki kemampuan finansial tinggi sampai sampai harus mengeluarkan dana milyaran rupiah untuk operasi ganti hati. Ganti lever. Upaya inipun belum tentu berhasil. Cak Nurcholis Majid adalah contoh operasi ganti hati yang gagal dan kemudian menemui ajal tidak berapa lama setelah operasi.

Sepengetahuan saya yang bukan ahli kesehatan, hepatitis adalah penyakit menular. Maka, sebelum berangkat ke rumah sakit saya sempatkan diri untuk menelepon seorang kawan dokter. Dari kawan inilah saya mendaptkan informasi agak detail tentang penyakit hepatitis. Yang penting terkait dengan rencana bezoek saya ke rumah sakit adalah bahwa penyakit bahaya ini menular lewat saluran pencernaan. Maka, kawan dokter berpesan agar setelah berinteraksi dengan pasien segera cuci tangan dengan sabun sebelum beraktivitas lain.

Bismillah….berbekal saran dokter itu saya segera meluncur ke rumah sakit. Menjalani sunnah terhadap sahabat yang sedang diuji-Nya dengan penyakit berat. Tiba di kamarnya segera saya salami di pembaringannya, berbincang memberi semangat kepadanya, dan tidak lupa mendoakannya. Setelah cukup, saya pun berpamitan kepadanya dan keluarganya. Dan…tidak lupa masuk kamar mandi cuci tangan sebelum meninggalkan rumah sakit. Mengikuti saran dokter.

♦♦♦♦

Jaman makin modern. Banyak keluarga yang suami istri sama sama bekerja. Maka, sering kali keluarga tidak sempat memasak untuk memenuhi kebutuhan makanan. Atau kalaupun ada pembantu yang memasak di rumah, jam makan siang tentu tidak mudah untuk bisa pulang makan di rumah. Maka, makan di restoran atau warung makan menjadi solusi.

Apalagi di negara negara yang tingkat pengangguran sudah rendah atau hampir nol. Sangat sulit untuk bisa mendapatkan pembantu. Kalaupun bisa, dibutuhkan anggaran besar untuk gajinya. Maka, makin jarang keluarga yang memasak makanan di rumah. Hari hari adalah makan di warung. Makan di restoran. Di Singapura misalnya, pada jam jam makan, pagi, siang maupun malam, pusat pusat makanan (food court) selalu dipenuh pelanggan. Makan di warung atau restoran adalah cara yang sangat efisien untuk memenuhi kebutuhan makanan. Efisien bagi pembeli karena waktu dan tenaganya lebih bisa dikonsentrasikan untuk bekerja dan berprestasi. Efisien juga bagi pengelola warung karena volume masakan yang besar. Mass production.

Siapun bisa makan di restoran. Sehat maupun sakit. Coba bayangkan apa yang terjadi jika seorang yang mengidap penyakit hepatitis makan di restoran. Tentu amat logis bila kemudian virus yang berasal darinya menempel di cendok yang dipakainya. Tentu saja cendok itu kemudian dicuci oleh petugas restoran. Tetapi, siapapun tahu bahwa virus itu ukurannya kecil. Tidak nampak oleh mata telanjang. Tentu tidak mudah menghilangkan virus dari cendok. Siapapun yang kemudian menggunakan cendok ini untuk menikmati menu restoran kegemarannya akan sangat berisiko tertular penyakit hepatitis. Sesuatu yang sangat membahayakan!

Logika tentang penyakit seperti yang tertulis di atas tentu sudah banyak diketahui orang. Faktanya, penggemar makanan di warung atau restoran tidak surut. Bahkan dari tahun ke tahun bisnis ini makin ramai seiring dengan perkembangan ekonomi dan pendapatan masyarakat. Maka, risiko penyebaran penyakit hepatitis dan penyakit penyakit lain yang menular lewat jalur saluran pencernakan akan makin meningkat. Bagaimana solusinya?

♦♦♦♦

“Semua pengendali makanan mesti: (1) memakai apron dan penutup kepala. (2) menyediakan air panas untuk perkakas seperti sudu dll sebelum digunakan. MMC. Hotline 085-424-111”. Ini adalah tulisan dalam bahasa melayu yang terpampang di sebuah papan besar di food court Terminal Bus Miri, kota di Malaysia Timur yang berbatasan dengan Brunei Darussalaam. Apron adalah kain penutup dada para petugas restoran yang dalam bahasa kita sering disebut clemek. Sudu adalah sebutan cendok dalam bahasa Melayu. MMC, Miri Municipal Council, adalah si pemasang papan itu yang dalam masyarakat kita disebut dengan pemerintah kota (pemkot).

Pembaca yang budiman, pemerintah Miri mewajibkan pengusaha restoran menyediakan segelas air panas untuk mensterilkan cendok sebelum dipakai oleh pelanggan restoran. Maka, saat makan di Miri, disamping sepiring makanan dan segelas minuman, pelayan restoran juga menyediakan segelas air panas. Cendok dan garpu dibenamkan di gelas air panas ini. Sebuah upaya yang cerdas dari pemerintah setempat untuk melindungi warganya yang makan di warung dari berbagai penularan penyakit lewat jalur pencernakan.

Kelihatannya sepele. Tetapi sesungguhnya ini adalah upaya yang sangat besar. Biasya operasi ganti hati sekitar Rp 3 Milyar bisa dihemat dengan segelas air panas ini. Harga segelas air panas tentu tidak ada apa apanya dibanding Rp 3 Milyar. Kalaupun tidak ganti hati, biaya perawatan di rumah seperti sahabat yang saya bezoek tadi juga besar. Kebijakan gelas air panas untuk sudu dari MMC memang cerdik. Bisa menjadi teladan bagi para pengusaha restoran, pemkot ataupun pemkab. Ayo!

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah BAZ, terbit di Surabaya

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Atau ikut KELAS KORPORATISASI

Baca juga:
Pelesir: Pasar Osh Kyrgistan
Agar Rupiah Diterima di Uzbekistan
Nha Hang: Hijrah dan Tumbuh Berprestasi
Khao San Road 7 Pagi 11 Malam
Korporasi USA di Moscow

Kak Mala: Totalitas Melayani


Begitu lembaran 10 Dolar masuk ke mesin Cash Deposit Machine (CDM), EZ link card itu langsung saya ambil. Kartu prabayar mirip kartu ATM itu langsung saya bawa ke pintu peron. Pintu peron akan terbuka otomatis dengan menempelkan kartu ini pada alat yang tersedia. Tetapi, saya tertahan karena pintu peron tidak bisa terbuka. Saya coba di pintu lain karena kuatir kalau-kalau pintu yang akan saya lewati ini lagi rusak. Ternyata tidak. Hasilnya sama. Pintu tetap bergeming.

Saya pun segera menuju konter customer service yang berada tidak jauh dari mesin CDM tempat saya melakukan isi ulang kartu EZ tadi. Setelah saya sampaikan masalahnya, seorang petugas perempuan berparas India melayani dengan cekatan dan ramah. Kartupun diperiksa. Diketahuilah bahwa saldo kartu saya tidak cukup untuk membuka pintu peron. Sepuluh Dolar Singapura yang masukkan melalui mesin CDM belum tertambahkan ke saldo kartu.

Mala, nama petugas costomer service itu, meminta saya menunjukkan struk CDM. Saya tidak bisa memenuhi permintaannya karena saya tidak mengambil struk yang keluar dari mesin. Saya tidak merasa perlu mengambilnya karena selama ini tidak pernah mengalami masalah dengan isi ulang kartu yang bisa digunakan untuk membayar ongkos kereta, bus, dan lain lain ini. Selama ini pengisian ulang selalu sukses. Maka, kak Mala pun tidak bisa langsung menambahkan saldo SGD 10 ini karena untuk ini diperlukan nomor transaksi yang tercetak di struk CDM yang tidak bisa saya tunjukkan.
Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah tempat-sampah.jpg

Saya pun kembali ke mesin CDM. Tetapi sayang, struk yang saya cari sudah tercampur dengan ribuan srtuk lain di tong sampah besar. Saya pun datang kembali ke Kak Mala dengan tangan hampa. Pikir saya, relakan saja uang yang setara dengan lebih dari 6 lembaran sepuluh ribu rupiah ini melayang.

Betul, Kak Mala pun tetap tidak bisa saldo untuk kartu saya. Tetapi saya diminta untuk mengisi sebuah formulir laporan. Data nama, nomor paspor, nomor kartu prabayar yang bermasalah, nomor telepon lokal milik seorang kawan warga Singapore saya masukkan. Setelah saya menandatangani dan menyerahkannya, kak Mala pun dengan ramah menerimanya. Ia berjanji untuk membantu saya menyelesaikan masalah saya secepatnya.

Setelah mengisi ulang lagi secara manual SGD 10 melalui Kak Mala,  saya meninggalkan konter layanan pelanggan dan melakukan aktivitas lain seperti yang telah saya rencanakan. Pergi kesana kemari tetap dengan bus atau kereta bawah tanah dengan kartu prabayar yang sangat murah dan nyaman. Begitulah sampai akhirnya malampun tiba.

Selepas sholat isya, saya menerima berita dari Kak Mala melalui telepon. Ia menyampaikan bahwa masalah kartu saya sudah terselesaikan. Ia mempersilakan saya untuk sewaktu waktu datang ke konternya. Saldo SGD 10 sudah bisa ditambahkan.

Keesokan harinya saya datang ke konter kak Mala dan menyerahkan kartu lengkap dengan kopi form laporan. Dalam sekejap kartu diproses dengan komputer. SGD 10 pun tertambahkan.

Sambil menerima kembali kartu dan menyampaikan ucapan terima kasih, saya jadi penasaran. Bagaimana Kak Mala bisa menyelesaikan permasalahan dengan cepat. Tidak sampai 24 jam. Saya tanyakan hal itu kepadanya. Saya pun mendapatkan jawaban yang sungguh di luar dugaan. Kak Mala mencari struk CDM transaksi saya dari tong sampah. Berarti ia telah memeriksa ribuan struk kecil ukuran sekitar 2×4 cm di sebuah tong sampah besar. Ia membaca satu demi satu nomor kartu yang tercetak di struk dan mencocokannya dengan nomor kartu saya. Ia melakukannya dengan tekun sampai ketemu. Ketulusan dalam pelayanan saya tangkap terpancar dari tutur kata dan raut wajahnya. Untuk layanan ini saya sama sekali tidak ditarik bayaran. Bahkan saya juga tidak disuguhi wajah cemberut karena kesalahan saya tidak menyimpan struk transaksi. Jiwa layanan yang sempurna.

&&&
Pembaca yang baik, salah satu misi penting kita dalam kehidupan ini adalah memberi makna dan manfaat kepada sesama. Khoirunnasi anfauhum linnaas. Sebaik baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama. Demikian sabda nabi yang sangat populer. Untuk misi ini kita harus memahami tentang kebutuhan orang lain. Memberi manfaat artinya memenuhi kebutuhan ini.

Transportasi adalah kebutuhan dasar setiap manusia. Maka, bekerja dalam sektor transportasi adalah salah satu cara untuk memberi makna dan manfaat kepada sesama. Dengan kata lain, bekerja di sektor transporatasi seperti yang dilakukan oleh Kak Mala di stasiun kereta bawah tanah Kranji Singapura adalah sebuah ibadah. Sebuah cara untuk memberi makna hidup yang memberi manfaat kepada sesama.

Karena dikerjakan sebagai ibadah, keseriusan pelayanan adalah sebuah keniscayaan. Keseriusan tanpa pamrih seperti yang dilakukan oleh Kak Mala bisa disejajarkan dengan kekhusukan sholat. Sholat yang baik adalah yang khusuk. Thuma’ninah. Gerakan yang tenang cermin hati yang khusuk. Maka, pelayanan yang total dan serius sampai harus bergulat dengan ribuan struk di tempat sampah adalah puncak “kekhusukan” dalam ibadah pelayanan.

Dengan cara inilah Singapura menjadi magnet dunia. Negeri pulau kecil yang baru merdeka 20 tahun setelah kemerdekaan Indonesia ini tampil sebagai salah satu negara maju kelas dunia. Sejajar dengan negara negara yang sudah berdiri ratusan tahun sebelumnya seperti Inggris, Belanda, Jerman, Swiss, Amerika dan sebagainya. Inilah salah satu rahasia mengapa seorang supir taksi di Singapura rata rata berpendapatan belasan juta rupiah perbulan. Simbol akan kemakmuran sebagai hasil kerja jutaan Kak Mala-Kak Mala di negeri Singa. Kita juga bisa!

Tulisan Iman Supriyono ini pernah dimuat di majalah Yatim, terbit di Surabaya

Tanda Tangan: Bisa Dibaca atau Abstrak?


Untuk memberikan inspirasi bagi tim manajemen sebuah perusahaan, saya membuka laporan keuangan Nucor. Nama yang asalnya merupakan singkatan dari Nuclear Corporation ini adalah sebuah perusahaan produsen baja besar di Amerika. Pabrikan yang dirintis sejak tahun 1897 ini Forbes dimasukkan pada urutan ke 517 perusahaan terbesar di dunia.

Banyak hal yang menarik dari perusahaan ini. Yang paling fenomenal adalah kekuatan team. Sepanjang sejarahnya, perusahaan berkali kali mengalami goncangan. Tercatat beberapa bisnis yang pernah digeluti Nucor: mobil, pemotong rumput, perlengkapan nuklir. Baja adalah yang terakhir dan mengantarkannya meraih kejayaan hingga saat ini.

tanda tangan edit

Tanda tangan tokoh-tokoh besar dunia, termasuk proklamator RI, bisa dibaca dengan jelas. Bisa menjadi inspirasi bagi para orang tua untuk mengajari tanda tangan kepada anak-anak mereka.

Ada tiga orang yang membutuhkan tanda tangan pada laporan keuangan terbarunya. Masing masing adalah Daniel R DiMicco sebagai Chairman, President & Chief executive Officer, Terry S Lisenby sebagai Chief Financial Officer, Treasurer & Executive Vice President, dan terakhir Peter C Browning sebagai lead director.

Ada yang menarik dari tanda tangan ketiga orang ini. Tanda tangan Daniel adalah berupa tulisan huruf sambung miring ke kanan yang masih terbaca dengan jelas berbunyi: daniel R dimicco. Tanda tangan Terry juga demikian. Masih bisa dibaca dengan jelas namanya: Terry S Lisenby. Hanya saja ia lebih suka menuliskannya miring ke ke kiri. Peter? Ia bergaya tulisan miring ke kanan mirip mirip tulisan orang orang tua kita yang mendapatkan pendidikan jaman belanda. Juga jelas terbaca: Peter c Browning.

Apa daya tarik tanda tangan ini? Bagi masyarakat Barat, tentu tidak ada yang istimewa. Sama dengan tanda tangan orang Barat pada umumnya. Berupa tulisan sederhana yang masih jelas terbaca namanya.

Baru istimewa kalau dibaca oleh kita kita orang Indonesia. Mengapa? Coba amati. Tanda tangan kita pada umumnya adalah berupa tulisan abstrak. Coba amati tanda tangan Anda sendiri. Siapa nama Anda? Masih bisakah orang lain membaca nama Anda hanya melalui tanda tangan itu? Coba pula Anda amati daftar hadir di berbagai acara. Berapa persen tanda tangan yang masih bisa terbaca dengan jelas nama pemiliknya?

••••
Bisnis adalah tentang kepercayaan. Transaksi bisnis apapun tidak mungkin terjadi tanpa adanya saling kepercayaan dari pihak pihak yang terlibat. Pembeli percaya bahwa barang yang dibelinya benar benar sesuai dengan harga yang dibayarkannya. Penjual percaya bahwa pembeli membayar sesuai dengan yang disepakatinya. Tidak ngemplang. Tidak juga dengan uang palsu misalnya.

Sehubungan dengan kepercayaan ini, ada analisis menarik tentang tanda tangan. Analisis ini saya dengarkan dari pembicara sebuah seminar. Tanda tangan masyarakat barat terbaca karena mereka saling percaya. Yakin bahwa tidak ada orang lain yang memalsukan tanda tangannya. Sebaliknya, masyarakat kita gagal membangun rasa saling percaya. Khawatir kalau kalau tanda tangannya dipalsukan oleh orang lain. Maka…tanda tanganpun harus dibuat rumit. Bahkan abstrak. Agar orang lain tidak mudah menghafalkannya. Agar orang lain sulit untuk memalsukannya.
masa jabatan CEO2

Tanda tangan petinggi Nucor memberikan inspirasi. Inspirasi tentang rasa saling percaya. Inspirasi tentang loyalitas. Inspirasi tentang kebersamaan. Inspirasi tentang kekuatan team. Inilah yang mampu mempertahankan perusahaan dalam gejolak bisnis yang ekstrim. Perubahan lingkungan bisnis yang memaksa perusahaan untuk berganti haluan secara total. Mobil…pemotong rumput….nuklir…baja. Apapun rancangannya, rasa saling percaya adalah pengikatnya. Inilah juga yang menjadi kesimpulan Jim Collin dalam bukunya Good to Great yang merupakan hasil penelitian terhadap perusahaan-perusahaan yang telah eksis puluhan bahkan ratusan tahun. Nucor adalah salah satunya. Anda percaya orang lain? Orang lain percaya Anda?

Tulisan ini pernah dimuat di majalah Matan, terbit di Surabaya

Raya Caruban Orchard Road


Kalau pulang ke rumah ayah ibu sendirian, saya lebih suka naik bus. Sangat tidak praktis dan tidak ekonomis bawa mobil untuk perjalanan sendirian seperti ini. Ada banyak bus yang melayani jalur Surabaya-Caruban 24 jam. Maka, jika hendak pulang ke kampung halaman di wilayah kabupaten Madiun ini, jam berapapun saya cukup pergi ke terminal Bungurasih dan kemudian memilih bus yang saya suka. Duduk di bangku bus sambil membaca buku atau menulis artikel di tombol qwerty handphone dan sekitar 3 jam kemudian saya sudah tiba di Caruban.

Langganan saya adalah bus Eka Patas. Bus bertujuan akhir Magelang ini saya pilih karena supirnya yang santun dan sopan di jalan. Tidak suka kebut kebutan, main serobot, ugal ugalan sebagaimana citra bus selama ini. Maka, di peron Bungurasih saya selalu memilih naik Eka walaupun untuk itu saya harus menunggu beberapa lama sampai bus berangkat. Bus ini berangkat sekitar setiap setengah sampai satu jam.

Saat pulangpun saya tetap setia dengan Eka. Bedanya, saya tidak bisa naik bus dari terminal seperti ketika berangkat. Bus Patas tidak berhenti di terminal. Maka, jika hendak pulang, saya berdiri di tepi jalan Raya Caruban yang dilalui Eka. Perhatian saya harus selalu tercurah pada bus yang lewat. Saat ada sebuah bus nampak dari kejauhan, saya harus dengan cermat menebak, yang lewat ini bus langganan saya atau bukan. Saya tidak boleh memberhentikan bus lain yang pada umumnya supirnya ugal ugalan dan menakutkan. Tetapi saya saya juga tidak boleh membiarkan begitu saja bus langganan saya terlewatkan. Harus benar benar cermat. Terlewat sekali saja bus langganan saya lewat, artinya saya harus menambah waktu setengah sampai satu jam berdiri manyun di tepi jalan raya. Sesuatu yang sangat tidak nyaman.


Halte Bus Orchard Road di suatu siang. Di jalan tersibuk Singapura ini, orang orang naik dan turun bus dengan rapi. Yang lain berdiri atau duduk menunggu bus yang akan dinaikinya datang. Sesekali mereka melihat layar display dengan tulisan warna merah menyala. Seluruh nomor rute bus yang melalui halte itu tertulis besar besar. Lengkap dengan hitungan mundur. Angka angka menunjukkan berapa menit lagi setiap nomor rute bus akan datang di halte itu. Maka, saya pun menunggu dengan santai. Tidak perlu kuatir nomor rute bus yang saya tunggu akan terlewat. Juga tidak perlu berkonsentrasi penuh memperhatikan setiap bus yang lewat. Cukup perhatikan layar display yang ada. Jika waktu yang tertulis mendekati angka nol, saya tinggal berdiri bersiap naik bus. Begitu papan display menampilkan angka nol, bus yang saya tunggu pun datang. Saya dan para penumpang lain naik bus dengan tertib. Tidak perlu berebut. Yang berdiri paling dekat dengan bus naik terlebih dahulu. Disusul dengan orang dibelakangnya dan seterusnya sampai seluruh orang berada di dalam bus.


Sama sama menunggu bus. Sama sama tidak ingin tertinggal bus. Tetapi suasananya sangat berbeda. Di Raya Caruban, saya harus berdiri di jalanan dengan perhatian penuh dalam waktu lama. Di Orchard Road saya bisa santai tanpa takut tertinggal bus yang akan saya naiki. Perbedaan suasana dan kenyamanan yang muncul karena perbedaan alat bantu. Perbedaan fasilitas.

Ya… kemudahan di halte bus Orchard road terjadi karena penggunaan alat berteknologi terkini. Papan display bisa memberi informasi kedatangan bus dengan menggunakan alat bantu GPS, geo positioning system. Dengan alat ini, keberadaan bus bisa dimonitor dari waktu ke waktu melalui perantara satelit. Posisi ini kemudian diproses oleh sistem informasi berbasis komputer dan dilaporkan melalui papan display berupa perkiraan waktu kedatangan bus. Sebuah inforamasi yang sangat akurat karena data bisa dikirim dan diproses secara real time. Dikirim, diproses dan dilaporkan setiap saat. Kita tinggal membacanya lewat layar display yang ada.

Pembaca yang budiman, alat seperti ini memang sangat membantu. Mengapa di Raya Caruban dan kota kota lain di negeri ini tidak tertarik memasangnya? Tentu bukan masalah kecanggihannya. GPS dan alat pendukungnya bisa dibeli. Saya kira juga bukan masalah harga. Harga sebuah pesawat GPS tidak mahal mahal amat. Tidak jauh berbeda dengan harga sebuah pesawat handphone. Harga komputer lengkap dengan software pemrosesan datanya pun juga tidak mahal mahal amat. Hanya satu saja yang dibutuhkan: responsif. Orchard Road dan Singapura sangat responsif. Raya Caruban dan kota kota lain di negeri ini terbukti kalah responsif. Anda bagaimana? Seperti Raya Caruban atau Seperti Orchard Road?

Tulisan Iman Supriyono ini pernah dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya, tahun 2010

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca juga catatan perjalanan inspiratif lainya:
Jamaah Salahuddin: Intangible Asset
Sudu: Miri Municipal Council
Manokwari: Menang Tanpa Pesaing
Moscow: Korporasi USA
Osh: Pasar Tradisional Kyrgistan
Uzbekistan: Agar Rupiah Laku Dimana-Mana
Ho Chi Minh: Kota Tanpa Mal
Pnom Penh: Hyundai
Makkah: Koperasi KPF
Singapura: Totalitas Melayani
Kuala Lumpur: TKI
Anjing Bangkok: Sahabat atau Musuh
Khao San Road: 7 Pagi 11 Malam
Palembang: Kewaspadaan Korporat
Nha Hang: Hijrah Tumbuh Berpresati
Tanjung Selor Tarakan: Cessna Grand Caravan
Simpadan Ligitan: Tuban

Anjing Bangkok: Sahabat atau Musuh?


Khao San Road adalah surga bagi para pelancong dari berbagai penjuru dunia. Datang ke Bangkok seolah belum lengkap kalau belum ke jalan yang 24 jam tidak pernah tidur ini. Inilah juga yang menjadi alasan saya untuk mendatanginya saat berkesempatan pergi ke ibu kota negeri hari hari ini sedang mengalami guncangan politik berkepanjangan ini.

Ada banyak hal yang menarik di Khao San Road. Yang menjadi incaran para pelancong backpacker tentu saja adalah harga yang sangat murah. Hotel, makanan, souvenir, dan apapun kebutuhan para pelancong dapat diperoleh dengan harga yang sangat bersahabat. Para pelancong bisa menginap di hotel dengan harga tidak sampai tidak sampai Rp 100 ribu dengan fasilitas cukup bagus dan bersih. Tentu saja bisa juga memilih hotel bertarif jauh lebih mahal menyesuaikan dengan kondisi dan kantong masing masing.

Makanan? Khao San road menyediakan menu makanan kelas kaki lima sampai restoran cukup mewah. Bahkan bagi pelancong muslim, tidak jauh dari kawasan ini terdapat warung masakan muslim dengan harga sangat menarik. Gulai kambing dengan daging porsi besar dapat dibeli dengan harga sekitar Rp 30 ribu. Bagi yang mau berhemat, satu porsi gulai masih sangat memadai bila dimakan berdua. Jadi cukup membeli satu porsi gulai dengan dua porsi nasi putih. Super murah, bergizi, dan dijamin halal. Pemilik warungnya adalah seorang muslim keturunan timur tengah.

Keramahan penduduk juga sangat menyenangkan. Walaupun jarang Anda temui orang Bangkok yang bisa berbahasa Inggris, tetapi mereka akan berusaha keras untuk bisa membantu para pelancong yang membutuhkannya. Para pedagang atau supir angkutan umum juga sangat jujur. Tidak ada yang mentang mentang melayani orang asing kemudian menaikkan harga suka suka. Semua harga adalah fair adanya. Inilah barangkali salah satu faktor penting pendukung posisi Bangkok dan Thailand pada umumnya sebagai salah satu tujuan wisata dunia.

♦♦♦♦
Saat kecil, saya tinggal di sebuah desa yang semua penduduknya muslim. Memang pada umumnya mereka tidak mengenal sholat. Keislaman mereka pada umumnya hanya sebatas status. Keislaman hanya terlihat jelas saat pernikahan atau kematian. Pada saat pernikahan penghulu akan memimpin prosesi akad nikah dengan cara islam. Pada saat kematian, pak modin akan memimpin upacara pemakaman dengan cara yang juga islam. Bahkan selama tujuh hari setelah kematian, tahlil masih dibacakan oleh pak modin bersama bersama crew nya.
anjing cute edit

Salah satu yang saya kenang pada masa kecil adalah tentang anjing. Di sekolah, pak guru agama selalu mengajarkan bahwa anjing adalah binatang najis. Bahkan najisnya pun termasuk najis yang berat. mugholadhoh. Najis jenis ini hanya bisa disucikan dengan tujuh kali basuhan. Salah satunya dengan tanah. Karena beratnya cara bersuci, anjing adalah binatang yang paling harus dijauhi. Ini membentuk sikap yang sangat anti anjing.

Warga desa memang semua muslim. Tetapi karena keislamannya hanya sebatas formalitas, maka ada saja satu dua warga desa yang memelihara anjing. Memang tidak banyak. Tetapi keberadaan beberapa ekor anjing di desa ini cukup memberikan nuansa tersendiri. Nuansa apa? Tentu saja nuansa anti anjing. Setiap berdekatan atau melihat anjing, rasa anti anjing muncul.

Orang orang pada anti anjing. Anjing pun demikian. Setiap melihat orang lewat, anjing selalu menyalak keras keras. Sorot mata dan penampilannya pun seolah siap menerkam lawan. Lengkap sudah. Orang orang pada benci anjing. Anjingpun pada benci orang orang.

♦♦♦♦
Apa hubungan Khao San Road Bangkok dengan anjing? Menarik sekali. Di Khao San Road dan bangkok pada umumnya, banyak sekali anjing berkeliaran. Tetapi nuansa anjing di Bangkok sangat kontras dengan anjing ada masa kanak kanak saya. Akan tetapi, anjingnya ternyata sangat berbeda. Tidak pernah dijumpai anjing menyalak di Bangkok. Anjingnya jinak jinak. Kurang lebih seperti sapi di Indonesia. Jinak, suka tidur tiduran, tidak berisik, tidak bersuara. Berbeda 180% dari anjing yang saya gambarkan pada masa kanak kanak di desa.

Ada pelajaran menarik dari anjing di Bangkok. Pelajaran tentang kehidupan. Apa yang ada di dalam pikiran kita sangat mempengaruhi respon lingkungan. Saat “dimusuhi”, anjing pun akan merespon dengan permusuhan. Inilah yang saya alami pada masa kanak kanak di desa. Sebaliknya, ketika dijadikan sahabat oleh orang orang bangkok yang memang pada umumnya tidak mengenal najis, anjing pun akan bersahabat dengan manusia.

Tentu saya tidak sedang bermaksud mendiskreditkan ajaran tentang anjing yang najis. Air kencing yang juga najis justru menginspirasi kreativitas berbagai desain WC dan urinoir. Dari yang sangat sederhana kelas WC umum di pasar becek sampai yang super mewah dengan kontrol otomatis di hotel hotel berbintang. Anjing pun bisa disikapi demikian. Saya pun juga tidak sedang mengajak Anda yang muslim untuk memelihara anjing. Sama sekali tidak. Saya sedang menyarankan bahwa sikap positif akan menjadikan lingkungan kita juga bersikap positif. Mengambil pelajaran dari anjing di Bangkok. Bagimana?

Tulisan Iman Supriyono ini pernah dimuat di majalah BAZ, terbit di Surabaya

Menu Langit Kalah Mahal


Menjelang magrib saya masuk gerbong Bima dalam kondisi perut hampir kosong. Tidak sempat makan dulu karena jadual acara sebelumnya yang sangat mepet. Jam 3 acara belum selesai sementara jam 5 sudah harus naik kereta dari stasiun Pasar Turi menuju Cirebon. Selesai rapat saya masih harus pulang mengambil tiket dan tas berisi segala perlengkapa bepergian. Waktu terasa sempit.

Maka, ketika ditawari makanan oleh kru kereta, saya pun tertarik. Apalagi menunya sesuai dengan kebiasaan saya: bistik daging sapi. Ada sayur yang cukup, ada daging, ada nasi. Bistik daging sapi mendekati empat sehat lima sempurna.

Saya sudah tahu makanan itu harus dibayar. Bukan fasilitas gratis. Maka, ketika menerimanya, saya pun bertanya harganya. Tetapi, petugas mengelak menjawab. “Nanti aja Pak bayarnya”. Petugaspun berlalu. Saya segera menyantapnya.

Selesai makan saya menikmati suasana dengan membaca majalah dan buku. Salah satu daya tarik kereta api dibanding bus adalah kenyamanan membaca ini. Apalagi untuk perjalanan sekitar 10 jam Surabaya Cirebon malam itu. Kebetulan juga tidak ada penerbangan ke kota di bagian timur Jawa Barat ini. Kalaupun naik pesawat lewat Jogja atau Bandung, toh tetap harus disambung dengan bus atau kereta api lagi.

Nasi bistik daging sapi Rp 38 000,-. Angka yang ditagihkan petugas kereta api itu mengejutkan saya. Sangat mahal untuk nasi sekepalan anak kecil, beberapa potongan buncis rebus, beberapa iris wortel, dua iris ketimun, dan daging tipis ukuran sekitar 5 x 10 cm. Apalagi pihak PT KA tidak menyediakan daftar harga yang bisa dibaca sebelumnya. Petugasnya pun mengelak menyebutkan harga sebelum saya menikmati menu itu.


Airbus 320 milik Air Asia itu mengudara dengan mulus dari Bandar Seri Begawan. Tanda sabuk pemakaian sabuk pengaman sudah dipadamkan. Tidak lama kemudian beberapa pramugari datang mendorong troli berisi aneka menu makanan. Penumpang yang telah memesan makanan bersama pembelian tiket dilayani terlebih dahulu. Sedangkan yang belum memesan bisa membaca daftar menu yang ada di depan kursi masing masing dan membeli makanan atau kesukaannya.

Untuk penerbangan dua jam lebih sore itu, asyik juga memasan makanan. Saya pun membuka daftar menu. Nasi lemak RM 10, Nasi Briyani ayam RM 10, ada juga aneka makanan minuman lain. RM 10 artinya sekitar Rp 28 ribu. Harga yang cukup menarik untuk menu yang dijual di lokasi dengan ketinggian sekitar 10 kilometer di atas permukaan laut itu. Saya pun akhirnya memesan salah satu menu, membayarnya, dan menikmatinya dengan puas.


Sudah tidak diragukan lagi bahwa saat ini kereta api bersaing dengan pesawat terbang. Tiket kereta api ekekutif Surabaya Jakarta dijual dengan harga sekitar Rp 300 ribu. Tiket pesawat pun banyak yang dijual dengan kisaran harga itu. Bahkan saya sering mendapatkan harga lebih murah.

Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah bistik-sapi.jpg

Persaingan tentu bukan semata masa masalah ongkos. Ada banyak aspek yang bisa menjadi titik persaingan. Menu makanan dalam perjalanan adalah salah satunya. Pengalaman saya makan di kereta api dan di Air Asia memberikan gambaran. Betapa kereta api telah kalah dalam layanan makanan ini. Air Asia memberi daftar menu lengkap yang bisa diakses oleh penumpang atau calon penumpang bahkan sebelum keberangkatan. Penumpang bisa memesan menu terlebih dahulu dengan aneka pilihan. Bahkan Air Asia memberikan harga diskon bagi penumpang yang memesan menu bersama pembelian tiket. Diskon ini diberikan karena pemesanan didepan memberi kepastian persediaan makanan dalam sebuah penerbangan. Tidak perlu ada makanan yang sudah dibawa mengudara (dan sudah memakan bahan bakar) tetapi ternyata tidak terjual.

Kereta api? Nampaknya masih lebih suka mencari pembeli khilaf. Penumpang yang terpaksa membeli karena tidak ada alternatif lain. Atau membeli dalam kondisi tidak tahu harganya yang mahal karena tidak ada daftar menu. Menu kereta api dijual di permukaan bumi dengan harga Rp 38 ribu. Menu Air Asia dijual di atas langit dengan harga sekitar Rp 28 ribu. Kereta api…..bagaimana bisa bersaing dengan pesawat? Kereta api….. menu langit pun kalah mahal!

Tulisan Iman Supriyono ini pernah dimuat di majalah Matan, terbit di Surabaya

Iffah: Pembantu Yang Naik Kelas


Kondisi ekonomi Iffah bisa terbaca dari ketidakbisaannya naik sepeda. Keluarganya di desa yang secara ekonomi memang lemah tidak memungkinkannya untuk belajar naik sepeda. Hingga usia menjelang dua puluh tahun saat ia bekerja sebagai seorang pembantu rumah tangga di rumah seorang tetangga saya, ia baru belajar naik sepeda. Belajarnyapun pada salah satu anak saya yang kebetulan juga baru belajar dan bisa naik sepeda. “Jangan takut, pandang ke depan”, itu salah satu “arahan” anak saya kepada Iffah yang sedang belajar naik sepeda.

Dalam keterbatasan ekonomi keluarganya, iffah masih beruntung. Ia sempat menamatkan pendidikannya hingga SMA. Maka, ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga dengan ijazah SMA. Bahkan bukan sekedar ijazahnya. Iffah benar benar menunjukkan bahwa dirinya berbeda dengan pembantu rumah tangga pada umumnya. Kemampuan komunikasi dan sosialisasinya bagus. Bukan hanya dengan majikan dan keluarganya. Bahkan dengan para tetangganya pun demikian.

Belum genap dua tahun bekerja sebagai pembantu, kembali iffah menunjukkan ketinggian visinya. Berbekal komunikasi baiknya dengan majikan, Iffah diberi kesempatan untuk melanjutkan jenjang penddiikannya. Kini ia telah terdaftar sebagai salah satu mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Surabaya. Sebagian dari gajinya sebagai pembantu dipakai untuk membayar SPP. Tentu ia tidak perlu membayar uang indekos dan makan. Semuanya tercukupi dari fasilitas standarnya sebagai seorang pembantu. Dan yang sangat memberi harapan….bila tidak aral melintang, empat tahun lagi ia akan lulus sebagai seorang sarjana.

Melihat visi dan latar belakangnya, saya yakin Iffah pun akan berbeda dengan kebanyakan sarjana pada umumnya. Ia akan tampil sebagai sarjana yang bukan sekedar urusan gengsi. Bukan sekedar menempelkan gelar. Ia akan tampil sebagai sarjana yang kaya akan pengalaman hidup. Sarjana yang bisa mengelola apa yang ada di depan mata dan merangkainya menjadi sebuah prestasi dan masa depan yang cemerlang. Saya yakin untuk itu.

&&&
Kasus penganiayaan TKW di luar negeri makin mengenaskan. Terakhir terjadi pada Sumiati di Saudi Arabia. Bibirnya digunting. Sebuah penganiayaan di luar batas kemanusiaan. Penganiayaan pada seorang perempuan tidak berdaya. Peristiwa yang sangat menyayat hati.

Kasus Sumiati memperpanjang dafar panganiayaan dan penderitaan para TKW di luar negeri. Belum lagi ditambah ketegaan orang orang Indonesia sendiri baik di dalam maupun luar negeri yang sering kali menjadikan para TKI dan TKW sebagai sapi perahan. Memperlakukna para penghasil devisa ini jauh diluar yang semestinya. Bahkan di bandara pun mereka sudah diperlaukan berbeda. Sampai sampai pemeriksaan pasport pun diberi jalur yang berbeda dengan penumpang pada umumnya. “Pengistimewaan” yang berkonotasi negatif.

Bagaimana solusinya? Solusi secara massif dan menyeluruh tentu ada di tangan pemerintah. Tetapi, saya yakin para pajabat yang punya kepedulian pun akan sangat pusing menghadapinya. Ada jutaan TKI di luar negeri. Jutaan juga yang ilegal. Maka…akan ada jutaan masalah yang tingkat kerumitannya tidak terbayangkan.

Sementara itu, sumber daya yang dimiliiki pemerintah untuk menyelesaikan permasalahan ini pun sangat terbatas. Maka, kita tidak bisa terlalu berharap pada solusi dari pemerintah. Dibutuhkan solusi yang bersifat swadaya masyarakat.

Bagaimana caranya? Iffah memberi inspirasi. Menjadi pembantu apalagi di luar negeri, tentu saja mengandung banyak peluang dan tantangan. Pengalaman pergaulan antar bangsa bagi para TKI atau TKW sebenarnya adalah sebuah peluang yang luar biasa. Jauh lebih luar baisa dari pada Iffah yang hanya bergaul di tingkat ibu kota propinsi yang tidak terlalu jauh dari tepat tinggalnya.

Kuncinya ada pada visi dan kemampuan komunikasi. Sejak kedatangannya dan bergaul dengan majikan dan para tetangga, Iffah sudah memperlihatkan perbedaannya. Iffah sudah menunjukkan visi dan kemampuan komunikasi yang tinggi. Menjadi pembantu baginya bukan tujuan akhir. Menjadi pembantu juga bukan keterpaksaan. Menjadi pembantu adalah pilihan sadar dan strategis untuk mencapai cita cita yang lebih tinggi. Menjadi pembantu adalah solusi antara. Bukan solusi permanen terhadap permasalahan ekonomi.

Solusi permanennya sedang digali dengan merangkak pada kelas sosial yang lebih tinggi di kampus. Persis seperti pengalaman banyak orang sukses yang melakukan peningkatan kelas sosial melalui jalur pendidikan. Iffah yang di dalam negeri bisa. Yang di luar negeri peluangnya tentu lebih besar. Menjadi pembantu di luar negegeri sebagi pilihan sadar dan strategis untuk menggapai cita cita yang lebih tinggi di masa yang akan datang. Bisa sambil kuliah seperti iffah. Bisa sambil memulai bisnis kecil keilan. Suatu saat pulang sebagai profesional expatriat. Pulang sebagai pebisnis antar bangsa. Bisa kan?

Tulisan Iman Supriyono ini pernah dimuat di majalah Muslim, terbit di Surabaya

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi
Atau ikuti KELAS KORPORATISASI