Investasi Telkom ke Goto: Strategic Fool?


Sebagaimana berita yang viral, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. (TLKM) berinvestasi pada PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (AKAB) melalui PT Telkomsel (TSEL). TSEL merupakan anak perusahaan TLKM. Bagaimana sebenarnya investasi tersebut? Berapa nilainya? Tepatkah investasi itu? Baik atau burukkah investasi seperti itu? Saya akan menjelaskannya dengan bentuk poin-poin

  1. Untuk jelasnya informasi tersebut, mari kita baca laporan keuangan triwulan pertama 2022 TLKM. Pada neraca sisi aset, per tanggal 31 Maret 2022 TLKM melaporkan adanya aset berupa penyertaan jangka panjang pada instrumen keuangan sebesar Rp 13,447 Trilun.   Tentang aset itu berikut ini kutipan catatan atas laporan keungan TLKM

    “Pada tanggal 16 November 2020, Telkomsel mengadakan perjanjian dengan AKAB untuk investasi dalam bentuk Obligasi Konversi (“CB”) tanpa bunga sebesar US$150 juta (setara dengan Rp2.116 miliar per 31 Desember 2020). CB tersebut akan jatuh tempo pada tanggal 16 November 2023. Investasi pada CB oleh Telkomsel tersebut dengan model bisnis yang tujuannya bukan untuk mengumpulkan arus kas kontraktual dan bukan semata-mata pembayaran pokok dan bunga atas pokok yang terhutang, sehingga CB diklasifikasikan sebagai FVTPL (fair value through profit or loss). Opsi beli saham preferen memberikan hak kepada Telkomsel untuk membeli saham preferen tambahan dari AKAB. Opsi beli saham preferen memberikan hak kepada Telkomsel untuk membeli tambahan saham preferen dari AKAB sebesar US$300 juta dan dapat dieksekusi dalam waktu 12 bulan setelah tanggal efektif pada harga US$5.049 per saham. Opsi beli saham preferen adalah derivatif dan dicatat pada FVTPL.

    Pada 17 Mei 2021, AKAB dan PT Tokopedia merger menjadi PT GoTo Gojek Tokopedia (“GoTo”). Merger ini membuat Telkomsel mengeksekusi CB sesuai dengan perjanjian CB, di mana CB akan dikonversi menjadi saham. Berdasarkan perjanjian CB, GoTo akan membayar total jumlah konversi kepada Telkomsel, dan setelah menerima jumlah konversi tersebut, Telkomsel harus segera membayar jumlah konversi kepada GoTo sesuai dengan Perjanjian Pemesanan Saham.

    Pada tanggal 18 Mei 2021, Telkomsel telah menandatangani Perjanjian Pembelian Saham untuk memesan 29.708 lembar saham konversi atau sebesar US$150 juta (setara dengan Rp2.110 miliar) dan 59.417 lembar saham tambahan dari opsi pembelian saham atau senilai US$300 juta (setara dengan Rp4.290 miliar).
    Berdasarkan perubahan akta pada tanggal 19 Oktober 2021, GoTo melakukan stock split dan mengubah jumlah kepemilikan saham Telkomsel dari 89.125 lembar saham menjadi 23.722.133.875 lembar saham.

    Per tanggal 31 Maret 2022, Telkomsel menilai nilai wajar investasi di GoTo dengan menggunakan nilai penawaran saham GoTo pada saat IPO sebesar Rp338 per saham. Jumlah kerugian yang belum direalisasi dari perubahan nilai wajar investasi Telkomsel pada GoTo pada tanggal 31 Maret 2022 adalah sebesar Rp881 miliar disajikan sebagai kerugian yang belum direalisasi dari perubahan nilai wajar atas investasi dalam laporan laba rugi konsolidasian.  Investasi pada ekuitas juga termasuk investasi MDI, pada berbagai perusahaan start-up yang bergerak di bidang informasi dan teknologi. Penambahan investasi pada periode berjalan oleh MDI berjumlah sebesar Rp698 miliar. Investasi pada ekuitas ini diklasifikasikan sebagai FVTPL. Jumlah kerugian yang belum direalisasi dari perubahan nilai wajar investasi MDI pada tanggal 31 Maret 2022 adalah sebesar Rp5 miliar dan disajikan sebagai kerugian yang belum direalisasi dari perubahan nilai wajar atas investasi dalam laporan laba rugi konsolidasian.”
  2. Dengan demikian, penempatan dana TLKM pada Goto adalah bukan sekedar rumor. Tetapi sudah terkonfirmasi dalam laporan keuangan perusahaan. Selanjutnya, mari kita kupas, apakah penempatan dana tersebut merupakan strategi yang tepat? Setidaknya ada dua tinjauan
  3. Tinjuan pertama adalah tinjuan TLKM sebagai sebuah operating company (OC). Ketika membeli saham perusahaan lain, sebuah operating company mestinya adalah membeli sampai menjadi pesaham pengendali. Tujuannya adalah akuisisi dalam rangka memperbesar revenue and provit driver (RPD) sebagai bentuk ekspansi.  
  4. Akuisisi dilakukan oleh sebuah perusahaan terhadap perusahaan lain dengan RPD sama yang ukurannya lebih kecil. Dengan demikian aset, omzet, dan laba bisa dikonsolidasikan. Perusahaan yang sahamnya dibeli menjadi anak perusahaan (subsidiary). Transaksinya disebut akusisisi. Dengan demikian direksi telah menjalankan tugas stratejiknya untuk menguatkan eksistensi perusahaan. Menumbuhkan empat ukuran utama perusahaan yaitu omzet, laba, aset dan nilai (market value) perusahaan.  
  5. Bahkan ketika sebuah OC mengakuisisi perusahaan yang telah tercatat di lantai bursa, sisa saham milik publik akan dibeli habis melalui tender offer dengan harga yang lebih tinggi dari pada harga pasar. Tujuannya agar semua pemegang saham publik mau menjual sahamnya kepada si pengakuisisi. Selanjutnya perusahaan yang diakusisi akan di delisted dari lantai bursa.  Seperti inilah yang telah dilakukan Danone ketika mengakuisisi dan kemudian mendelisted Aqua. Demkian juga ketika Nutricia mengakuisisi Sari Husada (susu SGM). Idem ketika IHH Health (Malaysia) mengakuisisi dan men-delisted MOunt Elizabeth Hospital (singapura). Danone, Nutricia dan IHH mengakuisisi perusahaan yang RPD nya sama.
  6. Pembelian saham Gojek dan kemudian menjadi Goto dilakukan dengan prosentase kecil. Yang tepat dan harus melakukan hal ini mestinya adalah sebuah investing company (IC). IC selalu dan terus menerus melakukan hal ini dalam rangka rumus investasi “jangan menaruh telur pada satu keranjang”. Bahkan IC selalu mengalokasikan asetnya untuk ditempatkan pada start up yang masih rugi. Step kedua dalam corporate life cycle.  Biasanya mereka mengalokasikan tidak sampai 1% asetnya untuk masuk start up. Itupun dimasukkan pada banyak start up. BlackRock misalnya juga masuk ke Goto. Tetapi nilainya super kecil dibanding aset perusahaan investasi terbesar dunia yang aset kelolaanya sekitar Rp 140 ribu triliun ini. Satu persen aset BlackRock bernilai sekitar Rp 1400 triliun
  7. TLKM adalah sebuah OC dengan RPD infrastruktur telekomunikasi beserta cakupan wilayah yang dilayani. Mestinya TLKM tidak membeli saham Goto. Tetapi membeli mayoritas saham perusahaan sejenis di berbagai negara. Seperti ketika Oredoo mengakuisisi Indosat. Atau ketika Axiata mengakuisisi XL. Harusnya Telkom mengakuisisi perusahaan-perusahaan sejenis di berbagai negara. Menjadi operator telekomunikasi global. Menjadi korporasi sejati di bidang telekomunikasi. Mengibarkan sang merah putih di berbagai penjuru dunia.
  8. Tinjaun kedua adalah pengaruh terhadap kinerja keuangan. Kinerja penting bagi sebuah perusahaan yang sudah menemukan RPD seperti TLKM adalah adanya linieritas antara aset, omzet dan laba. Mari kita lihat angkanya. Tahun 2021 laba tahun berjalan TKLM adalah Rp 33,95 triliun. Asetnya adalah Rp 277,18 triliun. Dengan demikian setiap triliun aset menghasilkan laba Rp 122 miliar.  Dengan standar ini, aset Rp 13,447 triliun yang ditanamkan sebagai penyertaan itu mestinya menghasilkan laba Rp 1,6 triliun. Tentu saja standar ini tidak tercapai karena Goto sampai saat ini masih rugi. Kita juga tidak bisa memastikan kapan Goto akan  laba. Atau bahkan terdapat risiko besar Goto mengalami pailit. Kepailitan start up adalah hal biasa. Jika ini terjadi IC seperti Blackrock akan aman aman saja. Mereka sudah mengamankan diri dengan portofolio investasi keci-kecil pada ribuan perusahaan di berbagai negara.  Tapi OC seperti TLKM akan menderita. Kinerja finansialnya akan terganggu.
  9. Dua tinjauan diatas menunjukkan bahwa masuknya dana TLKM ke Goto adalah sebuah kesalahan stratejik. Apakah ini merupakan sebuah strategic fool? Bagaimana pendapat Anda?

Artikel ke-369 karya Iman Supriyono ini ditulis di SNF Consulting House of Management, Surabaya, 13 Juni 2022

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca juga:
Rugi PLN dan Pertamina Rumor atau Fakta?
Pertamina Campakkan Rupiah, Dimana Nasionalisme?
Menjadi Korporasi Sejati
Garuda, pailit atau korporatisasi?
Krakatau Steel: Tercekik Utang

Raja Utang: Mengapa Bunga Bank Selangit?
Garuda: Utang Melebihi Aset

Daftar http://www.klikwa.net/snfconsulting

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s