Pooling


Sudu: Miri Municipal Council


Seorang sahabat sedang dirawat di rumah sakit. Kabar yang saya terima ia sedang menderita hepatitis. Sebuah penyakit yang cukup serius. Gara gara penyakit ini tidak jarang seseorang menemui ajalnya. Karenanya, masyarkat yang memiliki kemampuan finansial tinggi sampai sampai harus mengeluarkan dana milyaran rupiah untuk operasi ganti hati. Ganti lever. Upaya inipun belum tentu berhasil. Cak Nurcholis Majid adalah contoh operasi ganti hati yang gagal dan kemudian menemui ajal tidak berapa lama setelah operasi.

Sepengetahuan saya yang bukan ahli kesehatan, hepatitis adalah penyakit menular. Maka, sebelum berangkat ke rumah sakit saya sempatkan diri untuk menelepon seorang kawan dokter. Dari kawan inilah saya mendaptkan informasi agak detail tentang penyakit hepatitis. Yang penting terkait dengan rencana bezoek saya ke rumah sakit adalah bahwa penyakit bahaya ini menular lewat saluran pencernaan. Maka, kawan dokter berpesan agar setelah berinteraksi dengan pasien segera cuci tangan dengan sabun sebelum beraktivitas lain.

Bismillah….berbekal saran dokter itu saya segera meluncur ke rumah sakit. Menjalani sunnah terhadap sahabat yang sedang diuji-Nya dengan penyakit berat. Tiba di kamarnya segera saya salami di pembaringannya, berbincang memberi semangat kepadanya, dan tidak lupa mendoakannya. Setelah cukup, saya pun berpamitan kepadanya dan keluarganya. Dan…tidak lupa masuk kamar mandi cuci tangan sebelum meninggalkan rumah sakit. Mengikuti saran dokter.

♦♦♦♦

Jaman makin modern. Banyak keluarga yang suami istri sama sama bekerja. Maka, sering kali keluarga tidak sempat memasak untuk memenuhi kebutuhan makanan. Atau kalaupun ada pembantu yang memasak di rumah, jam makan siang tentu tidak mudah untuk bisa pulang makan di rumah. Maka, makan di restoran atau warung makan menjadi solusi.

Apalagi di negara negara yang tingkat pengangguran sudah rendah atau hampir nol. Sangat sulit untuk bisa mendapatkan pembantu. Kalaupun bisa, dibutuhkan anggaran besar untuk gajinya. Maka, makin jarang keluarga yang memasak makanan di rumah. Hari hari adalah makan di warung. Makan di restoran. Di Singapura misalnya, pada jam jam makan, pagi, siang maupun malam, pusat pusat makanan (food court) selalu dipenuh pelanggan. Makan di warung atau restoran adalah cara yang sangat efisien untuk memenuhi kebutuhan makanan. Efisien bagi pembeli karena waktu dan tenaganya lebih bisa dikonsentrasikan untuk bekerja dan berprestasi. Efisien juga bagi pengelola warung karena volume masakan yang besar. Mass production.

Siapun bisa makan di restoran. Sehat maupun sakit. Coba bayangkan apa yang terjadi jika seorang yang mengidap penyakit hepatitis makan di restoran. Tentu amat logis bila kemudian virus yang berasal darinya menempel di cendok yang dipakainya. Tentu saja cendok itu kemudian dicuci oleh petugas restoran. Tetapi, siapapun tahu bahwa virus itu ukurannya kecil. Tidak nampak oleh mata telanjang. Tentu tidak mudah menghilangkan virus dari cendok. Siapapun yang kemudian menggunakan cendok ini untuk menikmati menu restoran kegemarannya akan sangat berisiko tertular penyakit hepatitis. Sesuatu yang sangat membahayakan!

Logika tentang penyakit seperti yang tertulis di atas tentu sudah banyak diketahui orang. Faktanya, penggemar makanan di warung atau restoran tidak surut. Bahkan dari tahun ke tahun bisnis ini makin ramai seiring dengan perkembangan ekonomi dan pendapatan masyarakat. Maka, risiko penyebaran penyakit hepatitis dan penyakit penyakit lain yang menular lewat jalur saluran pencernakan akan makin meningkat. Bagaimana solusinya?

♦♦♦♦

“Semua pengendali makanan mesti: (1) memakai apron dan penutup kepala. (2) menyediakan air panas untuk perkakas seperti sudu dll sebelum digunakan. MMC. Hotline 085-424-111”. Ini adalah tulisan dalam bahasa melayu yang terpampang di sebuah papan besar di food court Terminal Bus Miri, kota di Malaysia Timur yang berbatasan dengan Brunei Darussalaam. Apron adalah kain penutup dada para petugas restoran yang dalam bahasa kita sering disebut clemek. Sudu adalah sebutan cendok dalam bahasa Melayu. MMC, Miri Municipal Council, adalah si pemasang papan itu yang dalam masyarakat kita disebut dengan pemerintah kota (pemkot).

Pembaca yang budiman, pemerintah Miri mewajibkan pengusaha restoran menyediakan segelas air panas untuk mensterilkan cendok sebelum dipakai oleh pelanggan restoran. Maka, saat makan di Miri, disamping sepiring makanan dan segelas minuman, pelayan restoran juga menyediakan segelas air panas. Cendok dan garpu dibenamkan di gelas air panas ini. Sebuah upaya yang cerdas dari pemerintah setempat untuk melindungi warganya yang makan di warung dari berbagai penularan penyakit lewat jalur pencernakan.

Kelihatannya sepele. Tetapi sesungguhnya ini adalah upaya yang sangat besar. Biasya operasi ganti hati sekitar Rp 3 Milyar bisa dihemat dengan segelas air panas ini. Harga segelas air panas tentu tidak ada apa apanya dibanding Rp 3 Milyar. Kalaupun tidak ganti hati, biaya perawatan di rumah seperti sahabat yang saya bezoek tadi juga besar. Kebijakan gelas air panas untuk sudu dari MMC memang cerdik. Bisa menjadi teladan bagi para pengusaha restoran, pemkot ataupun pemkab. Ayo!

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah BAZ, terbit di Surabaya

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Atau ikut KELAS KORPORATISASI

Baca juga:
Pelesir: Pasar Osh Kyrgistan
Agar Rupiah Diterima di Uzbekistan
Nha Hang: Hijrah dan Tumbuh Berprestasi
Khao San Road 7 Pagi 11 Malam
Korporasi USA di Moscow

Kak Mala: Totalitas Melayani


Begitu lembaran 10 Dolar masuk ke mesin Cash Deposit Machine (CDM), EZ link card itu langsung saya ambil. Kartu prabayar mirip kartu ATM itu langsung saya bawa ke pintu peron. Pintu peron akan terbuka otomatis dengan menempelkan kartu ini pada alat yang tersedia. Tetapi, saya tertahan karena pintu peron tidak bisa terbuka. Saya coba di pintu lain karena kuatir kalau-kalau pintu yang akan saya lewati ini lagi rusak. Ternyata tidak. Hasilnya sama. Pintu tetap bergeming.

Saya pun segera menuju konter customer service yang berada tidak jauh dari mesin CDM tempat saya melakukan isi ulang kartu EZ tadi. Setelah saya sampaikan masalahnya, seorang petugas perempuan berparas India melayani dengan cekatan dan ramah. Kartupun diperiksa. Diketahuilah bahwa saldo kartu saya tidak cukup untuk membuka pintu peron. Sepuluh Dolar Singapura yang masukkan melalui mesin CDM belum tertambahkan ke saldo kartu.

Mala, nama petugas costomer service itu, meminta saya menunjukkan struk CDM. Saya tidak bisa memenuhi permintaannya karena saya tidak mengambil struk yang keluar dari mesin. Saya tidak merasa perlu mengambilnya karena selama ini tidak pernah mengalami masalah dengan isi ulang kartu yang bisa digunakan untuk membayar ongkos kereta, bus, dan lain lain ini. Selama ini pengisian ulang selalu sukses. Maka, kak Mala pun tidak bisa langsung menambahkan saldo SGD 10 ini karena untuk ini diperlukan nomor transaksi yang tercetak di struk CDM yang tidak bisa saya tunjukkan.
Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah tempat-sampah.jpg

Saya pun kembali ke mesin CDM. Tetapi sayang, struk yang saya cari sudah tercampur dengan ribuan srtuk lain di tong sampah besar. Saya pun datang kembali ke Kak Mala dengan tangan hampa. Pikir saya, relakan saja uang yang setara dengan lebih dari 6 lembaran sepuluh ribu rupiah ini melayang.

Betul, Kak Mala pun tetap tidak bisa saldo untuk kartu saya. Tetapi saya diminta untuk mengisi sebuah formulir laporan. Data nama, nomor paspor, nomor kartu prabayar yang bermasalah, nomor telepon lokal milik seorang kawan warga Singapore saya masukkan. Setelah saya menandatangani dan menyerahkannya, kak Mala pun dengan ramah menerimanya. Ia berjanji untuk membantu saya menyelesaikan masalah saya secepatnya.

Setelah mengisi ulang lagi secara manual SGD 10 melalui Kak Mala,  saya meninggalkan konter layanan pelanggan dan melakukan aktivitas lain seperti yang telah saya rencanakan. Pergi kesana kemari tetap dengan bus atau kereta bawah tanah dengan kartu prabayar yang sangat murah dan nyaman. Begitulah sampai akhirnya malampun tiba.

Selepas sholat isya, saya menerima berita dari Kak Mala melalui telepon. Ia menyampaikan bahwa masalah kartu saya sudah terselesaikan. Ia mempersilakan saya untuk sewaktu waktu datang ke konternya. Saldo SGD 10 sudah bisa ditambahkan.

Keesokan harinya saya datang ke konter kak Mala dan menyerahkan kartu lengkap dengan kopi form laporan. Dalam sekejap kartu diproses dengan komputer. SGD 10 pun tertambahkan.

Sambil menerima kembali kartu dan menyampaikan ucapan terima kasih, saya jadi penasaran. Bagaimana Kak Mala bisa menyelesaikan permasalahan dengan cepat. Tidak sampai 24 jam. Saya tanyakan hal itu kepadanya. Saya pun mendapatkan jawaban yang sungguh di luar dugaan. Kak Mala mencari struk CDM transaksi saya dari tong sampah. Berarti ia telah memeriksa ribuan struk kecil ukuran sekitar 2×4 cm di sebuah tong sampah besar. Ia membaca satu demi satu nomor kartu yang tercetak di struk dan mencocokannya dengan nomor kartu saya. Ia melakukannya dengan tekun sampai ketemu. Ketulusan dalam pelayanan saya tangkap terpancar dari tutur kata dan raut wajahnya. Untuk layanan ini saya sama sekali tidak ditarik bayaran. Bahkan saya juga tidak disuguhi wajah cemberut karena kesalahan saya tidak menyimpan struk transaksi. Jiwa layanan yang sempurna.

&&&
Pembaca yang baik, salah satu misi penting kita dalam kehidupan ini adalah memberi makna dan manfaat kepada sesama. Khoirunnasi anfauhum linnaas. Sebaik baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama. Demikian sabda nabi yang sangat populer. Untuk misi ini kita harus memahami tentang kebutuhan orang lain. Memberi manfaat artinya memenuhi kebutuhan ini.

Transportasi adalah kebutuhan dasar setiap manusia. Maka, bekerja dalam sektor transportasi adalah salah satu cara untuk memberi makna dan manfaat kepada sesama. Dengan kata lain, bekerja di sektor transporatasi seperti yang dilakukan oleh Kak Mala di stasiun kereta bawah tanah Kranji Singapura adalah sebuah ibadah. Sebuah cara untuk memberi makna hidup yang memberi manfaat kepada sesama.

Karena dikerjakan sebagai ibadah, keseriusan pelayanan adalah sebuah keniscayaan. Keseriusan tanpa pamrih seperti yang dilakukan oleh Kak Mala bisa disejajarkan dengan kekhusukan sholat. Sholat yang baik adalah yang khusuk. Thuma’ninah. Gerakan yang tenang cermin hati yang khusuk. Maka, pelayanan yang total dan serius sampai harus bergulat dengan ribuan struk di tempat sampah adalah puncak “kekhusukan” dalam ibadah pelayanan.

Dengan cara inilah Singapura menjadi magnet dunia. Negeri pulau kecil yang baru merdeka 20 tahun setelah kemerdekaan Indonesia ini tampil sebagai salah satu negara maju kelas dunia. Sejajar dengan negara negara yang sudah berdiri ratusan tahun sebelumnya seperti Inggris, Belanda, Jerman, Swiss, Amerika dan sebagainya. Inilah salah satu rahasia mengapa seorang supir taksi di Singapura rata rata berpendapatan belasan juta rupiah perbulan. Simbol akan kemakmuran sebagai hasil kerja jutaan Kak Mala-Kak Mala di negeri Singa. Kita juga bisa!

Tulisan Iman Supriyono ini pernah dimuat di majalah Yatim, terbit di Surabaya

Tanda Tangan: Bisa Dibaca atau Abstrak?


Untuk memberikan inspirasi bagi tim manajemen sebuah perusahaan, saya membuka laporan keuangan Nucor. Nama yang asalnya merupakan singkatan dari Nuclear Corporation ini adalah sebuah perusahaan produsen baja besar di Amerika. Pabrikan yang dirintis sejak tahun 1897 ini Forbes dimasukkan pada urutan ke 517 perusahaan terbesar di dunia.

Banyak hal yang menarik dari perusahaan ini. Yang paling fenomenal adalah kekuatan team. Sepanjang sejarahnya, perusahaan berkali kali mengalami goncangan. Tercatat beberapa bisnis yang pernah digeluti Nucor: mobil, pemotong rumput, perlengkapan nuklir. Baja adalah yang terakhir dan mengantarkannya meraih kejayaan hingga saat ini.

tanda tangan edit

Tanda tangan tokoh-tokoh besar dunia, termasuk proklamator RI, bisa dibaca dengan jelas. Bisa menjadi inspirasi bagi para orang tua untuk mengajari tanda tangan kepada anak-anak mereka.

Ada tiga orang yang membutuhkan tanda tangan pada laporan keuangan terbarunya. Masing masing adalah Daniel R DiMicco sebagai Chairman, President & Chief executive Officer, Terry S Lisenby sebagai Chief Financial Officer, Treasurer & Executive Vice President, dan terakhir Peter C Browning sebagai lead director.

Ada yang menarik dari tanda tangan ketiga orang ini. Tanda tangan Daniel adalah berupa tulisan huruf sambung miring ke kanan yang masih terbaca dengan jelas berbunyi: daniel R dimicco. Tanda tangan Terry juga demikian. Masih bisa dibaca dengan jelas namanya: Terry S Lisenby. Hanya saja ia lebih suka menuliskannya miring ke ke kiri. Peter? Ia bergaya tulisan miring ke kanan mirip mirip tulisan orang orang tua kita yang mendapatkan pendidikan jaman belanda. Juga jelas terbaca: Peter c Browning.

Apa daya tarik tanda tangan ini? Bagi masyarakat Barat, tentu tidak ada yang istimewa. Sama dengan tanda tangan orang Barat pada umumnya. Berupa tulisan sederhana yang masih jelas terbaca namanya.

Baru istimewa kalau dibaca oleh kita kita orang Indonesia. Mengapa? Coba amati. Tanda tangan kita pada umumnya adalah berupa tulisan abstrak. Coba amati tanda tangan Anda sendiri. Siapa nama Anda? Masih bisakah orang lain membaca nama Anda hanya melalui tanda tangan itu? Coba pula Anda amati daftar hadir di berbagai acara. Berapa persen tanda tangan yang masih bisa terbaca dengan jelas nama pemiliknya?

••••
Bisnis adalah tentang kepercayaan. Transaksi bisnis apapun tidak mungkin terjadi tanpa adanya saling kepercayaan dari pihak pihak yang terlibat. Pembeli percaya bahwa barang yang dibelinya benar benar sesuai dengan harga yang dibayarkannya. Penjual percaya bahwa pembeli membayar sesuai dengan yang disepakatinya. Tidak ngemplang. Tidak juga dengan uang palsu misalnya.

Sehubungan dengan kepercayaan ini, ada analisis menarik tentang tanda tangan. Analisis ini saya dengarkan dari pembicara sebuah seminar. Tanda tangan masyarakat barat terbaca karena mereka saling percaya. Yakin bahwa tidak ada orang lain yang memalsukan tanda tangannya. Sebaliknya, masyarakat kita gagal membangun rasa saling percaya. Khawatir kalau kalau tanda tangannya dipalsukan oleh orang lain. Maka…tanda tanganpun harus dibuat rumit. Bahkan abstrak. Agar orang lain tidak mudah menghafalkannya. Agar orang lain sulit untuk memalsukannya.
masa jabatan CEO2

Tanda tangan petinggi Nucor memberikan inspirasi. Inspirasi tentang rasa saling percaya. Inspirasi tentang loyalitas. Inspirasi tentang kebersamaan. Inspirasi tentang kekuatan team. Inilah yang mampu mempertahankan perusahaan dalam gejolak bisnis yang ekstrim. Perubahan lingkungan bisnis yang memaksa perusahaan untuk berganti haluan secara total. Mobil…pemotong rumput….nuklir…baja. Apapun rancangannya, rasa saling percaya adalah pengikatnya. Inilah juga yang menjadi kesimpulan Jim Collin dalam bukunya Good to Great yang merupakan hasil penelitian terhadap perusahaan-perusahaan yang telah eksis puluhan bahkan ratusan tahun. Nucor adalah salah satunya. Anda percaya orang lain? Orang lain percaya Anda?

Tulisan ini pernah dimuat di majalah Matan, terbit di Surabaya

Raya Caruban Orchard Road


Kalau pulang ke rumah ayah ibu sendirian, saya lebih suka naik bus. Sangat tidak praktis dan tidak ekonomis bawa mobil untuk perjalanan sendirian seperti ini. Ada banyak bus yang melayani jalur Surabaya-Caruban 24 jam. Maka, jika hendak pulang ke kampung halaman di wilayah kabupaten Madiun ini, jam berapapun saya cukup pergi ke terminal Bungurasih dan kemudian memilih bus yang saya suka. Duduk di bangku bus sambil membaca buku atau menulis artikel di tombol qwerty handphone dan sekitar 3 jam kemudian saya sudah tiba di Caruban.

Langganan saya adalah bus Eka Patas. Bus bertujuan akhir Magelang ini saya pilih karena supirnya yang santun dan sopan di jalan. Tidak suka kebut kebutan, main serobot, ugal ugalan sebagaimana citra bus selama ini. Maka, di peron Bungurasih saya selalu memilih naik Eka walaupun untuk itu saya harus menunggu beberapa lama sampai bus berangkat. Bus ini berangkat sekitar setiap setengah sampai satu jam.

Saat pulangpun saya tetap setia dengan Eka. Bedanya, saya tidak bisa naik bus dari terminal seperti ketika berangkat. Bus Patas tidak berhenti di terminal. Maka, jika hendak pulang, saya berdiri di tepi jalan Raya Caruban yang dilalui Eka. Perhatian saya harus selalu tercurah pada bus yang lewat. Saat ada sebuah bus nampak dari kejauhan, saya harus dengan cermat menebak, yang lewat ini bus langganan saya atau bukan. Saya tidak boleh memberhentikan bus lain yang pada umumnya supirnya ugal ugalan dan menakutkan. Tetapi saya saya juga tidak boleh membiarkan begitu saja bus langganan saya terlewatkan. Harus benar benar cermat. Terlewat sekali saja bus langganan saya lewat, artinya saya harus menambah waktu setengah sampai satu jam berdiri manyun di tepi jalan raya. Sesuatu yang sangat tidak nyaman.


Halte Bus Orchard Road di suatu siang. Di jalan tersibuk Singapura ini, orang orang naik dan turun bus dengan rapi. Yang lain berdiri atau duduk menunggu bus yang akan dinaikinya datang. Sesekali mereka melihat layar display dengan tulisan warna merah menyala. Seluruh nomor rute bus yang melalui halte itu tertulis besar besar. Lengkap dengan hitungan mundur. Angka angka menunjukkan berapa menit lagi setiap nomor rute bus akan datang di halte itu. Maka, saya pun menunggu dengan santai. Tidak perlu kuatir nomor rute bus yang saya tunggu akan terlewat. Juga tidak perlu berkonsentrasi penuh memperhatikan setiap bus yang lewat. Cukup perhatikan layar display yang ada. Jika waktu yang tertulis mendekati angka nol, saya tinggal berdiri bersiap naik bus. Begitu papan display menampilkan angka nol, bus yang saya tunggu pun datang. Saya dan para penumpang lain naik bus dengan tertib. Tidak perlu berebut. Yang berdiri paling dekat dengan bus naik terlebih dahulu. Disusul dengan orang dibelakangnya dan seterusnya sampai seluruh orang berada di dalam bus.


Sama sama menunggu bus. Sama sama tidak ingin tertinggal bus. Tetapi suasananya sangat berbeda. Di Raya Caruban, saya harus berdiri di jalanan dengan perhatian penuh dalam waktu lama. Di Orchard Road saya bisa santai tanpa takut tertinggal bus yang akan saya naiki. Perbedaan suasana dan kenyamanan yang muncul karena perbedaan alat bantu. Perbedaan fasilitas.

Ya… kemudahan di halte bus Orchard road terjadi karena penggunaan alat berteknologi terkini. Papan display bisa memberi informasi kedatangan bus dengan menggunakan alat bantu GPS, geo positioning system. Dengan alat ini, keberadaan bus bisa dimonitor dari waktu ke waktu melalui perantara satelit. Posisi ini kemudian diproses oleh sistem informasi berbasis komputer dan dilaporkan melalui papan display berupa perkiraan waktu kedatangan bus. Sebuah inforamasi yang sangat akurat karena data bisa dikirim dan diproses secara real time. Dikirim, diproses dan dilaporkan setiap saat. Kita tinggal membacanya lewat layar display yang ada.

Pembaca yang budiman, alat seperti ini memang sangat membantu. Mengapa di Raya Caruban dan kota kota lain di negeri ini tidak tertarik memasangnya? Tentu bukan masalah kecanggihannya. GPS dan alat pendukungnya bisa dibeli. Saya kira juga bukan masalah harga. Harga sebuah pesawat GPS tidak mahal mahal amat. Tidak jauh berbeda dengan harga sebuah pesawat handphone. Harga komputer lengkap dengan software pemrosesan datanya pun juga tidak mahal mahal amat. Hanya satu saja yang dibutuhkan: responsif. Orchard Road dan Singapura sangat responsif. Raya Caruban dan kota kota lain di negeri ini terbukti kalah responsif. Anda bagaimana? Seperti Raya Caruban atau Seperti Orchard Road?

Tulisan Iman Supriyono ini pernah dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya, tahun 2010

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca juga catatan perjalanan inspiratif lainya:
Jamaah Salahuddin: Intangible Asset
Sudu: Miri Municipal Council
Manokwari: Menang Tanpa Pesaing
Moscow: Korporasi USA
Osh: Pasar Tradisional Kyrgistan
Uzbekistan: Agar Rupiah Laku Dimana-Mana
Ho Chi Minh: Kota Tanpa Mal
Pnom Penh: Hyundai
Makkah: Koperasi KPF
Singapura: Totalitas Melayani
Kuala Lumpur: TKI
Anjing Bangkok: Sahabat atau Musuh
Khao San Road: 7 Pagi 11 Malam
Palembang: Kewaspadaan Korporat
Nha Hang: Hijrah Tumbuh Berpresati
Tanjung Selor Tarakan: Cessna Grand Caravan
Simpadan Ligitan: Tuban

Anjing Bangkok: Sahabat atau Musuh?


Khao San Road adalah surga bagi para pelancong dari berbagai penjuru dunia. Datang ke Bangkok seolah belum lengkap kalau belum ke jalan yang 24 jam tidak pernah tidur ini. Inilah juga yang menjadi alasan saya untuk mendatanginya saat berkesempatan pergi ke ibu kota negeri hari hari ini sedang mengalami guncangan politik berkepanjangan ini.

Ada banyak hal yang menarik di Khao San Road. Yang menjadi incaran para pelancong backpacker tentu saja adalah harga yang sangat murah. Hotel, makanan, souvenir, dan apapun kebutuhan para pelancong dapat diperoleh dengan harga yang sangat bersahabat. Para pelancong bisa menginap di hotel dengan harga tidak sampai tidak sampai Rp 100 ribu dengan fasilitas cukup bagus dan bersih. Tentu saja bisa juga memilih hotel bertarif jauh lebih mahal menyesuaikan dengan kondisi dan kantong masing masing.

Makanan? Khao San road menyediakan menu makanan kelas kaki lima sampai restoran cukup mewah. Bahkan bagi pelancong muslim, tidak jauh dari kawasan ini terdapat warung masakan muslim dengan harga sangat menarik. Gulai kambing dengan daging porsi besar dapat dibeli dengan harga sekitar Rp 30 ribu. Bagi yang mau berhemat, satu porsi gulai masih sangat memadai bila dimakan berdua. Jadi cukup membeli satu porsi gulai dengan dua porsi nasi putih. Super murah, bergizi, dan dijamin halal. Pemilik warungnya adalah seorang muslim keturunan timur tengah.

Keramahan penduduk juga sangat menyenangkan. Walaupun jarang Anda temui orang Bangkok yang bisa berbahasa Inggris, tetapi mereka akan berusaha keras untuk bisa membantu para pelancong yang membutuhkannya. Para pedagang atau supir angkutan umum juga sangat jujur. Tidak ada yang mentang mentang melayani orang asing kemudian menaikkan harga suka suka. Semua harga adalah fair adanya. Inilah barangkali salah satu faktor penting pendukung posisi Bangkok dan Thailand pada umumnya sebagai salah satu tujuan wisata dunia.

♦♦♦♦
Saat kecil, saya tinggal di sebuah desa yang semua penduduknya muslim. Memang pada umumnya mereka tidak mengenal sholat. Keislaman mereka pada umumnya hanya sebatas status. Keislaman hanya terlihat jelas saat pernikahan atau kematian. Pada saat pernikahan penghulu akan memimpin prosesi akad nikah dengan cara islam. Pada saat kematian, pak modin akan memimpin upacara pemakaman dengan cara yang juga islam. Bahkan selama tujuh hari setelah kematian, tahlil masih dibacakan oleh pak modin bersama bersama crew nya.
anjing cute edit

Salah satu yang saya kenang pada masa kecil adalah tentang anjing. Di sekolah, pak guru agama selalu mengajarkan bahwa anjing adalah binatang najis. Bahkan najisnya pun termasuk najis yang berat. mugholadhoh. Najis jenis ini hanya bisa disucikan dengan tujuh kali basuhan. Salah satunya dengan tanah. Karena beratnya cara bersuci, anjing adalah binatang yang paling harus dijauhi. Ini membentuk sikap yang sangat anti anjing.

Warga desa memang semua muslim. Tetapi karena keislamannya hanya sebatas formalitas, maka ada saja satu dua warga desa yang memelihara anjing. Memang tidak banyak. Tetapi keberadaan beberapa ekor anjing di desa ini cukup memberikan nuansa tersendiri. Nuansa apa? Tentu saja nuansa anti anjing. Setiap berdekatan atau melihat anjing, rasa anti anjing muncul.

Orang orang pada anti anjing. Anjing pun demikian. Setiap melihat orang lewat, anjing selalu menyalak keras keras. Sorot mata dan penampilannya pun seolah siap menerkam lawan. Lengkap sudah. Orang orang pada benci anjing. Anjingpun pada benci orang orang.

♦♦♦♦
Apa hubungan Khao San Road Bangkok dengan anjing? Menarik sekali. Di Khao San Road dan bangkok pada umumnya, banyak sekali anjing berkeliaran. Tetapi nuansa anjing di Bangkok sangat kontras dengan anjing ada masa kanak kanak saya. Akan tetapi, anjingnya ternyata sangat berbeda. Tidak pernah dijumpai anjing menyalak di Bangkok. Anjingnya jinak jinak. Kurang lebih seperti sapi di Indonesia. Jinak, suka tidur tiduran, tidak berisik, tidak bersuara. Berbeda 180% dari anjing yang saya gambarkan pada masa kanak kanak di desa.

Ada pelajaran menarik dari anjing di Bangkok. Pelajaran tentang kehidupan. Apa yang ada di dalam pikiran kita sangat mempengaruhi respon lingkungan. Saat “dimusuhi”, anjing pun akan merespon dengan permusuhan. Inilah yang saya alami pada masa kanak kanak di desa. Sebaliknya, ketika dijadikan sahabat oleh orang orang bangkok yang memang pada umumnya tidak mengenal najis, anjing pun akan bersahabat dengan manusia.

Tentu saya tidak sedang bermaksud mendiskreditkan ajaran tentang anjing yang najis. Air kencing yang juga najis justru menginspirasi kreativitas berbagai desain WC dan urinoir. Dari yang sangat sederhana kelas WC umum di pasar becek sampai yang super mewah dengan kontrol otomatis di hotel hotel berbintang. Anjing pun bisa disikapi demikian. Saya pun juga tidak sedang mengajak Anda yang muslim untuk memelihara anjing. Sama sekali tidak. Saya sedang menyarankan bahwa sikap positif akan menjadikan lingkungan kita juga bersikap positif. Mengambil pelajaran dari anjing di Bangkok. Bagimana?

Tulisan Iman Supriyono ini pernah dimuat di majalah BAZ, terbit di Surabaya

Menu Langit Kalah Mahal


Menjelang magrib saya masuk gerbong Bima dalam kondisi perut hampir kosong. Tidak sempat makan dulu karena jadual acara sebelumnya yang sangat mepet. Jam 3 acara belum selesai sementara jam 5 sudah harus naik kereta dari stasiun Pasar Turi menuju Cirebon. Selesai rapat saya masih harus pulang mengambil tiket dan tas berisi segala perlengkapa bepergian. Waktu terasa sempit.

Maka, ketika ditawari makanan oleh kru kereta, saya pun tertarik. Apalagi menunya sesuai dengan kebiasaan saya: bistik daging sapi. Ada sayur yang cukup, ada daging, ada nasi. Bistik daging sapi mendekati empat sehat lima sempurna.

Saya sudah tahu makanan itu harus dibayar. Bukan fasilitas gratis. Maka, ketika menerimanya, saya pun bertanya harganya. Tetapi, petugas mengelak menjawab. “Nanti aja Pak bayarnya”. Petugaspun berlalu. Saya segera menyantapnya.

Selesai makan saya menikmati suasana dengan membaca majalah dan buku. Salah satu daya tarik kereta api dibanding bus adalah kenyamanan membaca ini. Apalagi untuk perjalanan sekitar 10 jam Surabaya Cirebon malam itu. Kebetulan juga tidak ada penerbangan ke kota di bagian timur Jawa Barat ini. Kalaupun naik pesawat lewat Jogja atau Bandung, toh tetap harus disambung dengan bus atau kereta api lagi.

Nasi bistik daging sapi Rp 38 000,-. Angka yang ditagihkan petugas kereta api itu mengejutkan saya. Sangat mahal untuk nasi sekepalan anak kecil, beberapa potongan buncis rebus, beberapa iris wortel, dua iris ketimun, dan daging tipis ukuran sekitar 5 x 10 cm. Apalagi pihak PT KA tidak menyediakan daftar harga yang bisa dibaca sebelumnya. Petugasnya pun mengelak menyebutkan harga sebelum saya menikmati menu itu.


Airbus 320 milik Air Asia itu mengudara dengan mulus dari Bandar Seri Begawan. Tanda sabuk pemakaian sabuk pengaman sudah dipadamkan. Tidak lama kemudian beberapa pramugari datang mendorong troli berisi aneka menu makanan. Penumpang yang telah memesan makanan bersama pembelian tiket dilayani terlebih dahulu. Sedangkan yang belum memesan bisa membaca daftar menu yang ada di depan kursi masing masing dan membeli makanan atau kesukaannya.

Untuk penerbangan dua jam lebih sore itu, asyik juga memasan makanan. Saya pun membuka daftar menu. Nasi lemak RM 10, Nasi Briyani ayam RM 10, ada juga aneka makanan minuman lain. RM 10 artinya sekitar Rp 28 ribu. Harga yang cukup menarik untuk menu yang dijual di lokasi dengan ketinggian sekitar 10 kilometer di atas permukaan laut itu. Saya pun akhirnya memesan salah satu menu, membayarnya, dan menikmatinya dengan puas.


Sudah tidak diragukan lagi bahwa saat ini kereta api bersaing dengan pesawat terbang. Tiket kereta api ekekutif Surabaya Jakarta dijual dengan harga sekitar Rp 300 ribu. Tiket pesawat pun banyak yang dijual dengan kisaran harga itu. Bahkan saya sering mendapatkan harga lebih murah.

Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah bistik-sapi.jpg

Persaingan tentu bukan semata masa masalah ongkos. Ada banyak aspek yang bisa menjadi titik persaingan. Menu makanan dalam perjalanan adalah salah satunya. Pengalaman saya makan di kereta api dan di Air Asia memberikan gambaran. Betapa kereta api telah kalah dalam layanan makanan ini. Air Asia memberi daftar menu lengkap yang bisa diakses oleh penumpang atau calon penumpang bahkan sebelum keberangkatan. Penumpang bisa memesan menu terlebih dahulu dengan aneka pilihan. Bahkan Air Asia memberikan harga diskon bagi penumpang yang memesan menu bersama pembelian tiket. Diskon ini diberikan karena pemesanan didepan memberi kepastian persediaan makanan dalam sebuah penerbangan. Tidak perlu ada makanan yang sudah dibawa mengudara (dan sudah memakan bahan bakar) tetapi ternyata tidak terjual.

Kereta api? Nampaknya masih lebih suka mencari pembeli khilaf. Penumpang yang terpaksa membeli karena tidak ada alternatif lain. Atau membeli dalam kondisi tidak tahu harganya yang mahal karena tidak ada daftar menu. Menu kereta api dijual di permukaan bumi dengan harga Rp 38 ribu. Menu Air Asia dijual di atas langit dengan harga sekitar Rp 28 ribu. Kereta api…..bagaimana bisa bersaing dengan pesawat? Kereta api….. menu langit pun kalah mahal!

Tulisan Iman Supriyono ini pernah dimuat di majalah Matan, terbit di Surabaya

Iffah: Pembantu Yang Naik Kelas


Kondisi ekonomi Iffah bisa terbaca dari ketidakbisaannya naik sepeda. Keluarganya di desa yang secara ekonomi memang lemah tidak memungkinkannya untuk belajar naik sepeda. Hingga usia menjelang dua puluh tahun saat ia bekerja sebagai seorang pembantu rumah tangga di rumah seorang tetangga saya, ia baru belajar naik sepeda. Belajarnyapun pada salah satu anak saya yang kebetulan juga baru belajar dan bisa naik sepeda. “Jangan takut, pandang ke depan”, itu salah satu “arahan” anak saya kepada Iffah yang sedang belajar naik sepeda.

Dalam keterbatasan ekonomi keluarganya, iffah masih beruntung. Ia sempat menamatkan pendidikannya hingga SMA. Maka, ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga dengan ijazah SMA. Bahkan bukan sekedar ijazahnya. Iffah benar benar menunjukkan bahwa dirinya berbeda dengan pembantu rumah tangga pada umumnya. Kemampuan komunikasi dan sosialisasinya bagus. Bukan hanya dengan majikan dan keluarganya. Bahkan dengan para tetangganya pun demikian.

Belum genap dua tahun bekerja sebagai pembantu, kembali iffah menunjukkan ketinggian visinya. Berbekal komunikasi baiknya dengan majikan, Iffah diberi kesempatan untuk melanjutkan jenjang penddiikannya. Kini ia telah terdaftar sebagai salah satu mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Surabaya. Sebagian dari gajinya sebagai pembantu dipakai untuk membayar SPP. Tentu ia tidak perlu membayar uang indekos dan makan. Semuanya tercukupi dari fasilitas standarnya sebagai seorang pembantu. Dan yang sangat memberi harapan….bila tidak aral melintang, empat tahun lagi ia akan lulus sebagai seorang sarjana.

Melihat visi dan latar belakangnya, saya yakin Iffah pun akan berbeda dengan kebanyakan sarjana pada umumnya. Ia akan tampil sebagai sarjana yang bukan sekedar urusan gengsi. Bukan sekedar menempelkan gelar. Ia akan tampil sebagai sarjana yang kaya akan pengalaman hidup. Sarjana yang bisa mengelola apa yang ada di depan mata dan merangkainya menjadi sebuah prestasi dan masa depan yang cemerlang. Saya yakin untuk itu.

&&&
Kasus penganiayaan TKW di luar negeri makin mengenaskan. Terakhir terjadi pada Sumiati di Saudi Arabia. Bibirnya digunting. Sebuah penganiayaan di luar batas kemanusiaan. Penganiayaan pada seorang perempuan tidak berdaya. Peristiwa yang sangat menyayat hati.

Kasus Sumiati memperpanjang dafar panganiayaan dan penderitaan para TKW di luar negeri. Belum lagi ditambah ketegaan orang orang Indonesia sendiri baik di dalam maupun luar negeri yang sering kali menjadikan para TKI dan TKW sebagai sapi perahan. Memperlakukna para penghasil devisa ini jauh diluar yang semestinya. Bahkan di bandara pun mereka sudah diperlaukan berbeda. Sampai sampai pemeriksaan pasport pun diberi jalur yang berbeda dengan penumpang pada umumnya. “Pengistimewaan” yang berkonotasi negatif.

Bagaimana solusinya? Solusi secara massif dan menyeluruh tentu ada di tangan pemerintah. Tetapi, saya yakin para pajabat yang punya kepedulian pun akan sangat pusing menghadapinya. Ada jutaan TKI di luar negeri. Jutaan juga yang ilegal. Maka…akan ada jutaan masalah yang tingkat kerumitannya tidak terbayangkan.

Sementara itu, sumber daya yang dimiliiki pemerintah untuk menyelesaikan permasalahan ini pun sangat terbatas. Maka, kita tidak bisa terlalu berharap pada solusi dari pemerintah. Dibutuhkan solusi yang bersifat swadaya masyarakat.

Bagaimana caranya? Iffah memberi inspirasi. Menjadi pembantu apalagi di luar negeri, tentu saja mengandung banyak peluang dan tantangan. Pengalaman pergaulan antar bangsa bagi para TKI atau TKW sebenarnya adalah sebuah peluang yang luar biasa. Jauh lebih luar baisa dari pada Iffah yang hanya bergaul di tingkat ibu kota propinsi yang tidak terlalu jauh dari tepat tinggalnya.

Kuncinya ada pada visi dan kemampuan komunikasi. Sejak kedatangannya dan bergaul dengan majikan dan para tetangga, Iffah sudah memperlihatkan perbedaannya. Iffah sudah menunjukkan visi dan kemampuan komunikasi yang tinggi. Menjadi pembantu baginya bukan tujuan akhir. Menjadi pembantu juga bukan keterpaksaan. Menjadi pembantu adalah pilihan sadar dan strategis untuk mencapai cita cita yang lebih tinggi. Menjadi pembantu adalah solusi antara. Bukan solusi permanen terhadap permasalahan ekonomi.

Solusi permanennya sedang digali dengan merangkak pada kelas sosial yang lebih tinggi di kampus. Persis seperti pengalaman banyak orang sukses yang melakukan peningkatan kelas sosial melalui jalur pendidikan. Iffah yang di dalam negeri bisa. Yang di luar negeri peluangnya tentu lebih besar. Menjadi pembantu di luar negegeri sebagi pilihan sadar dan strategis untuk menggapai cita cita yang lebih tinggi di masa yang akan datang. Bisa sambil kuliah seperti iffah. Bisa sambil memulai bisnis kecil keilan. Suatu saat pulang sebagai profesional expatriat. Pulang sebagai pebisnis antar bangsa. Bisa kan?

Tulisan Iman Supriyono ini pernah dimuat di majalah Muslim, terbit di Surabaya

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi
Atau ikuti KELAS KORPORATISASI

Bagi-bagi Sperma


Semua orang bergairah. Itulah suasana ballroom hotel Singgasana Surabaya malam itu. Lebih dari 200 orang pebisnis mencurahkan perhatian penuh kepada si pembicara. Penuh dengan antusiasme hingga akhir forum.

Siapa pembicaranya? Ada Pak Karwo Gubernur Jawa timur yang tampil pertama. Karena Pak Karwo adalah pejabat baru, Ia banyak mengungkap data data ekonomi. Peluang raksasa terbentang di depan mata. Jawa timur punya potensi dan sumber daya yang cukup untuk membangun kekutan ekonomi yang kokoh.

Setalah itu disusul oleh Pak Masfuk Bupati Lamongan pada kesempatan kedua. Pak Masfuk antara lain bercerita tentang pengelolaan wisata daerah. Selama ini ada kesan bahwa pengalola wisata selalu identik dengan kerugian. Menyedot dana pemerintah untuk proyak yang sering kali dianggap sangat sosial. Tidak bisa laba. Selalu rugi. Nah, Pak Masfuk berhasil membaliknya. Wisata Bahari Lamongan-WBL- adalah pembalikan dari sebuah pantai sepi menjadi kawasan wisata favorit. Yang menarik, dalam tiga tahun seluruh dana yang ditanam untuk membangunnya sudah kembali. Tahun keempat pemkab tinggal menimkati hasilnya. WBL pun dikenal luas masyarakat!

Yang terakhir alias ketiga adalah Pak Yoto, Bupati Bojonegoro. Belum genap dua tahun memimpin, masyarakat sudah merasakannya. Saya pernah diskusi dnegan pimpinan Bank Jatim cabang Bojonegoro yang mengakui tentan kinerja ini.

Ada yang menarik dari yang disampaikan Pak Yoto. Ia bercerita tentang bagaimana mendongkrak prestasi masyarakat yang dipimpinanya. Dia berpikir keras tentang bagaimana kebijakan ekonomi pemkab benar-benar bisa meendongkrak kemampuan ekonomi masyarakatnya. Bagaimana kemampuan finansial pemkab yang terbatas bisa didayagunakan untuk mendongkrak kemampuan ekonomi masyarakat.

Sebagaimana opini masyarakat, awalnya ia berpikir bahwa minyak yang mulai ditambang dan berporoduksi di Bojonegoro akan mendongkrak ekonomi rakyatnya. Tetapi, setelah dihitung kembali dengan cermat ternyata tidak. Paling hanya sebagian kecil masyarakat yang bekerja di sektor perminyakan yang bisa terdongkrak kinerja ekonominya. Itupun tidak mungkin seluruh pekerja perminyakan diambil dari Bojonegoro. Akan ada banyak tenaga kerja ahli minyak yang akan datang dari berbagai daerah. Kesimpulannya, tidak mungkin berharap dari minyak.

Dalam hati saya juga membenarkannya. Sudah banyak berita tentang tetap terpuruknya ekonomi masyarakat sekitar lokasi tambang yang mestinya sumber uang. Timika yang kaya akan tambang tembaga dan emas ekonomi raknyatnya tetap terpuruk. Muara Badak yang puluhan tahun mengalirkan minyak dan gas bumi jalan rayanya tetap berlubang lubang. Masih banyak lagi contoh seperti itu. maka….jangan terlalu berharap dari minyak.

Salah satu yang menarik perhatiannya adalah tentang peternakan kambing. Beternak kambing sudah menjadi tradisi warganya. Memelihara kambing bukan sesuatu yang aneh. Juga bukan sesuatu yang sulit. Masyarakat biasa melakukannya sambil lalu. Sambil bertani. Ada puluhan ribu kambing yang sudah dimiliki dan dipelihara masyarakat.

Apa yang bisa dilakukan untuk mendongkrak ekonomi masyarakat melalui kambing? salah satu faktor penting dalam kualitas dan produktifitas kambing adalah bibit kambing. Dengan pemeliharaan yang sama, bibit yang bagus akan menghasilkan kambing kambing yang lebih bagus.

Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah kambing-jantan.jpg

Bagaimana mengajari agar masyarakat memilih bibit kambing yang bagus? Tentu harus ada cara yang jitu. Pemerintah tidak boleh sekedar ngomong. Harus ada kebijakan yang konkrit dan efektif. Maka, andai saja pemerintah memiliki anggaran yang cukup, tentu masyareakat senang sekali bila diberi jatah bibit kambing unggul. Setiap keluarga sepasang bibit kambing unggul misalnya. Kenyataannya, pemerintah tidak memiliki dana yang cukup untuk membuat kebijakan seperti itu.

Berhentikah? Tidak. Pemkab Bojonegoro terus berfikir keras. Hasilnya, dibuatlah sebuah kebijakan murah meriah tapi efektif. Pemerintah tidak perlu memberi sepasang kambing unggul kepada masyarakat. Cukuplah pemerintah membeli pejantan pejantan unggul. Itupun tidak untuk dibagi-bagikan. Pejantan unggul tetap milik pemerintah.

Lalu bagaimana permsalahan bibit kambing unggul masyarakat? Ini ide jitunya: kambing kambing pejantan unggu yang dibeli pemerintah dijadikan sumber bibit unggul. Cukup diambil spermanya dan kemudian membagi bagikannya dalam bentuk sperma yang siap ditanamkan ke rahim kambing betina dengan teknologi kawin suntik. Gratis!

&&&
Pembaca yang antusias, dalam mencapai visi bisnisnya, seorang entrepreneur tentulah akan menghadapi banyak kendala. Kendala itu mungkin berupa kekurangan modal, tidak punya motor, tidak punya mobil, tidak punya mesin produksi, tidak punya akses ke jalur distribusi, tidak punya ruko untuk berjualan, dan sebagainya. Bahkan bisa jadi kendala itu bertumpuk tumpuk dan menimbulkan beban yang berat untuk melangkah.

Apakah harus berhenti? Tentu tidak boleh. Otak harus diputar. Berbagai alternatif harus tetap digali. Bagi bagi sperma kambing unggul ala Pak Yoto bisa dicontoh. Kendala keterbatasan uang di pemkab tidak boleh menjdi alasan untuk tetap membiarkan ekonomi masyarakat terpuruk. Sedikitnya anggaran juga tidak boleh menjadi alasan pembkab untuk membuat kebijakan ngomong doang. Pembkab tidak boleh hanya membuat wacana. Harus membuat kebijakan riil yang bertenaga. Powerfull.

Bagi bagi sperma adalah kebijakan powerfull dengan uang sekedarnya. Kekuatannya muncul dari kreatifitas menghadapi keterbatasan. Kekuatannya muncul dari ide jitu. Ide sederhana yang sebenarnya juga bukan sesutu yang baru. Teknologi kawin suntik untuk bibit kambing unggul sudah dikuasai para mantri dan petugas pemerintah terkait. Teknologinya juga sudah sangat tersedia. Maka….hanya perlu sedikit berfikir. Hanya perlu sedikit kreatif. Sedikit modal untuk membeli beberapa pejantan unggul sumber sperma unggul. Anda para entrepreneur menghadapi kendala? Ingatlah konsep bagi bagi sperma kambing ala Bojonegoro! Jangan berhenti!

Tulisan karya Iman Supriyono ini pernah diterbitkan di Majalah Muslim, terbit di Surabaya

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Baca Juga
Kawin Tak Syar’i: Mengapa Impor Sapi?
Korporatisasi Pertanian Edamame

Cheng Hoo


Begitu tiba di sebuah kota yang baru pertama saya datangi, salah satu yang menarik adalah citi tour. Berkeliling kota untuk mendapatkan berbagai hal menarik. Biasa, penulis memang harus punya banyak pengalaman sebagai bahan tulisan. Apalagi saya yang menekuni bidang finansial. Tulisan tentang uang tanpa bumbu bumbu hal hal menarik dalam perjalanan seperti itu tidak akan dibaca orang.

Di Palembang jangan lupakan jembatan ampera sambil menyantap pempek. Di Makasar jangan lupa Pantai Losari sambil menyantap pisang epe atau coto. Di Banjarmasin jangan lupa lari pagi di seputar Masjid Sabilal yang rindang dan cantik. Di Singapura jangan lupa Orchard Road sambil menikmati pecel di kedai jawa timur. Di Kuala Lumpur jangan lupa ke masjid India untuk sekedar mendapatkan cenderatamata murah meriah. Di Mataram jangan lupa pantai Senggigi yang cantik. City tour…..wisata kuliner.

Nah, maka kalau sedang kedatangan tamu dari luar kota, saya tidak lupa mengajaknya keliling kota. Tidak lupa menikmati makanan khas penuh legenda di kota tercinta. Termasuk ketika suatu saat seorang kawan dari Brunei Darussalam datang bertamu.

Andai saja saya bertanya kepada Anda, kemana saya harus mengajak tamu dari Brunei ini untuk keperluan city tour ini? Nah…..mungkin Anda akan mengajurkan wisata belanja di Tunjungan Plaza, Menikmati bangunan bersejarah heroik dengan makan di kafe Hotel Majapahit, bersantai di Taman Bungkul, atau mungkin berwisata rohani di Masjid Ampel. Yang lain? Nah…. saya punya tujuan wisata dalam kota yang sangat faforit untuk tamu Brunei ini. Juga untuk tamu tamu dari luar kota lain. Bukan bangunan tua berusia ratusan tahun. Juga bukan gedung yang besar dan megah. Bukan pula pantai yang elok. Tujuan faforit itu adalah sebuah masjid istimewa di tengah kota: Cheng Hoo.

Apa istimewanya Cheng Hoo? Masjidnya tidak besar. Kalau dipakai untuk sholat jamaah, mungkin kapasitasnya hanya sekitar atau bahkan tidak sampai menampung 50 orang. Kecil sekali. Mirip sebuah mushola. Tetapi, justru kecilnya inilah yang istimewa dan bisa menjadi bahan cerita oleh oleh khas dari Surabaya.

Mengapa kecil menjadi istimewa? Perhatikan masjid masjid lain yang lebih besar. Datanglah pada saat saat sholat wajib lima waktu. Begitu iqamat dikumandangkan dan imam memulai sholat, ada berapa orang yang ikut sholat dibelakangnya? Bandingkan dengan kapasitasnya. Berapa orang yang bisa ditampung oleh masjid itu seandainya diisi penuh? Berapa persen kapasitas yang terisi jamaah saat sholat wajib itu?
Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah masjid-cheng-hoo.jpg

Nah, Anda akan mendapati hampir setiap masjid dalam sholat wajib lima waktu berada dalam kondisi kosong. Sebagai gambaran, Masjid Al Akbar yang daya tampungnya ribuan jamaah paling banter hanya terisi tidak sampai seratusan orang dalam sholat rowatib berjsamaah. Pendayagunaan ruangannya tidak sampai 5 %. Artinya, lebih dari 95% kapasitasnya tidak terdayagunakan. Ruangan baru terisi agak banyak pada saat sholat jumat. Itupun juga tidak sampai 50% kapasitas. Ruangan baru benar benar terisi penuh mungkin pada saat sholat iedul qurban. Saya sebut mungkin karena maman saya belum pernah sholat di masjid terbesar di Jawa Timur ini. Jadi…mungkin hanya setahun sekali terisi penuh.

Cheng Hoo berbeda. Masjidnya kecil sehingga praktis hampir setiap sholat roawatib tingkat pendaya gunaan ruangannya maksimal. Ruang kosong saat sholat rowatib kecil karena memang masjidnya kecil. Lalu…bagaimana kalau sholat jum’at? Bukankah jamaahnya membludak sehingga ruangannya harus dibuat besar? Disinilah justru keistimewaan masjid yang dikelola PITI. Di tangan ormas yang awalnya adalah singkatan dari Persatuan Islam Tionghoa Indonesia, membuldaknya jamaah jumat ini dikelola dengan sangat cerdik. Pada hari jumat, halaman masjid yang berkali kali lipat lebih luas dari luasan masjid ini dipasangi tenda. Dengan naungan tenda inilah para jamaah sholat jum’at. Bahkan di tenda tenda itu juga dipasang TV monitor sehingga setiap jamaah bisa melihat khotib melalui TV monitor ini.

Di luar hari Jumat, tenda tenda ini dilepas. Halaman masjid kembali menjadi tanah lapang. Yang menarik, lapangan ini sudah dilengkapi dengan garis garis lapangan olah raga. Anda bisa memanfaatkannya untuk berlatih basket misalnya. Saya perhatikan memang banyak anak muda yang berlatih basket di halaman masjid bercat dominan merah ini. Tentu saja ini adalah potensi pendapatan tersendiri bagi masjid. Supaya tidak hanya menggantungkan biaya opersasional pada kotak infak saja.

Bukan hanya potensi pendapatan. Biaya pembangunan sebuah gedung adalah sebanding dengan luasannya. Makin luas, makin besarlah biaya yang dibutuhkan. Biaya ini dalam istilah akuntansi akan masuk pada pos biaya depresiasi. Makin luas sebuah masjid, makin besar pula biaya pembangunan dan depresiasinya. Cheng Hoo tidak. Ia hanya membutuhkan biaya pembangunan yang jauh lebih kecil dibanding kebutuhan ruangan pada hari jumat. Sebagian besar jamaah jumat sholat di tenda yang biasa pembeliannya tentu tidak ada apa apanya bila dibandingkan dengan biaya pembangunan masjid.

&&&

Inna al mubadziriina kaanu ikhwana asyayathiin. Sesungguhnya kemubadziran adalah saudaranya syetan. Ayat ke 27 dari surat Al Isra ini mengajari kita untuk berhati hati dengan pemborosan. Kalau makan, pastikan bahwa nasi dan lauk pauk yang sudah ada di piring kita habiskan. Nabi memberi contoh sempurna. Makanan yang menempel di jari pun dibersihkan tuntas. Jika tidak demikian, makanan akan terbuang. Mubadzir. Boros. Menjadi saudara setan.

Cheng Hoo yang dikelola kawan kawan PITI telah memberi contoh yang bagus. Bahkan dengan ukuran kecilpun tidak mengurangi fungsi syiar nya. Arsitektur yang cantik khas tiongkok jauh lebih menarik dari pada megahnya gedung. Jangan heran, masjid kecil ini justru menjadi icon baru surabaya. Icon citi tour. Icon wisata rohani. Tetap dengan dana pembangunan yang efisien. Mari belajar dari Masjid Cheng Hoo. Hilangkan kemubadziran. Ayo!

Tulisan karya Iman Supriyono ini pernah dimuat di majalah BAZ, terbit di Surabaya

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI

Baca juga:
Wakaf Modern Untuk Keabadian Amal dan Kemerdekaan Ekonomi 
Surga: ketika bisnis kerja ibadah dan bersenang-senang menjadi satu
Wakaf Korporat