Bluebird: Nilai Intangible Assetnya Minus


Anda kenal Blue Bird? Menurut Anda perusahaan ini bagus atau tidak? Intangible assetnya bagus atau tidak? Saya yakin Anda akan menjawab bahwa perusahaan ini bagus dengan intanggilble asset bagus.  Kecil kemungkinan Anda akan menjawab sebaliknya. Tapi bagaimanakah kenyataannya secara angka? Mari kita cermati.

Nilai pasar perusahaan taksi ternama ini saat penutupan transaksi di Bursa Efek Indonesia tanggal 1 Juli 2024 adalah Rp 3,69 triliun. Nilai buku sesuai laporan terbaru yaitu per tanggal 31 Maret 2024 adalah Rp 5,75 triliun. Secara matematis, nilai pasar adalah nilai buku ditambah dengan nilai intangible asset sebuah perusahaan. Dengan formula ini, nilai intangible asset Blue Bird adalah minus Rp 2,04 triliun.

Sesuai neraca terakhir,  si taksi biru ini memiliki uang kas sebesar Rp 1,1 triliun. Piutang usaha Rp 264 miliar. Aset tetap berupa armada dan peralatannya Rp 3.36 triliun. Aset tetap berupa tanah senilai Rp 2,07 triliun. Total aset adalah Rp 7,72 trilin. Total utang adalah Rp 1,98 triliun. Angka inilah rincian dari nilai buku sebesar Rp 5,75 triliun di atas. Aset-asetnya sangat meyakinkan. Tapi nilai intangible assetnya minus.

&&&

Apa akibat dari intangible asset yang minus? Kita bisa melihatnya dari angka Blue Bird secara lebih detail. Jumlah lembar saham yang telah diterbitkan Blue Bird saat ini adalah 2,50 miliar lembar dengan nilai nominal Rp 100. Dengan demikian nilai buku per lembar saham adalah Rp 2 298.

Jika hari ini BIRD menerbitkan saham baru di pasar maka harganya adalah Rp 1 495. Misalkan saja menerbitkan 0,25 miliar lembar alias 10% dari saham beredar saat ini, BIRD akan menerima dana sebesar Rp 374 miliar. Akibat dari penerbitan saham ini adalah nilai buku perusahaan akan meningkat menjadi Rp 6,12 triliun. Tetapi karena jumlah lembar saham menjadi 2,75 miliar lembar maka nilai buku per lembar saham menjadi Rp 2 225. Mengalami penurunan sebesar 3%.  Inilah yang mengalangi BIRD untuk tumbuh pesat melalui penerbitan saham baru. Harusnya dilusi justru meningkatkan nilai buku. Tapi ini sebaliknya.

Karena halangan itu, pertumbuhan perusahaan pun terdampak. Omzet tahun 2023 adalah Rp 4,42 triliun. Bandingkan dengan omzet tahun 2015 yang Rp 5,47 triliun. Justru mengalami penurunan. Nilai pasar pun begitu. Tahun 2015 nilai perusahaan adalah Rp 28,13 triliun. Saat ini tinggal Rp 3,69 triliun. Bukannya tumbuh tapi justru terpangkas sebesar 87%.

BIRD melakukan IPO tahun 2014. Laporan keuangan menunjukkan bahwa dari IPO itu perusahaan mencatatkan nilai agio saham sebesar Rp 2,51 triliun. Agio saham adalah hasil monetisasi intangible asset perusahaan saat itu. Agio saham alias tambahan modal disetor adalah selisih antara harga penjualan saham dengan nilai nominal saham saat penerbitan saham baru yaitu IPO pada saat itu. Setelah IPO BIRD belum pernah menerbitkan saham kembali. Wajar karena penerbitan saham justru menurunkan nilai buku.

&&&

Nilai Intangilble asset adalah hasil nyata dari corporate marketing sebuah perusahaan. Minusnya intangible asset menandakan hasil corporate marketing yang justru menggerogoti book value perusahaan. Dan itu terjadi pada Blue Bird. Sebuah perusahaan yang bisa dikatakantidak ada tandinganya di bisnis taksi tanah air.

Kok bisa? Narasi berikut ini bisa memberikan penjelasan. Dalam setahun terakhir ini paling tidak sebulan sekali saya datang ke Denpasar untuk rapat direksi perusahaan klien SNF Consulting.. Dari bandara mana pun menuju kota, Blue Bird adalah favorit saya. Termasuk saat dai bandara Ngurah Rai Denpasar setahun terakhir ini.

Di Ngurah Rai, Bllue Bird menggunakan armada mobil listrik BYD. Saya pun langganan naik mobil listrik dengan bodi seperti Nissan Evalia ini. Mobil yang sangat nyaman. Nah yang menarik, setiap datang ke konter Blue Bird di bandara pulau dewata ini, petugas konter selalu menawarkan tarip paket. Ke ke hotel Harris Cokroaminoto  yang berada di kota Denpasar misalnya ditawarkan Rp 240 ribu. Karena saya tahu bahwa Blebird selalu tersedia argo maka saya selalu minta pakai argo. Dan setiap naik biayanya adalah sekitar Rp 150 ribu.

Saya pernah protes kepada Blue Bierd melalui DM instagram akun resminya. Saya protes karena itu bukan karakter Blue Bird yang saya kenal selama ini. Blue Bird selalu melayani pelanggan dengan fair. Tidak menjebak konsumen seperti di bandara Denpasar. Orang yang tidak tahu akan menerima saja tawaran tarip paket dan membayar jauh lebih mahal dari pada tarif argometer.

Tidak hanya sekali saya protes. Bahkan saya beri link beberapa tulisan positif lama saya tentang Bluebird. Saya juga sudah sampaikan kalau tidak ada perubahan saya akan menuliskannya lagi. Tapi sampai terakhir saya ke Denpasar bulan lalu masih belum ada perubahan. Maka muncullah  tulisan yang Anda baca ini hehehehe.

Apa pelajarannya? Dalam kerangka corporate marketing 6C Balmer, Blue Bird melakukan kesalahan dalam 2 C yaitu poin  covenant dan constituencies. Covenant artinya adalah bahwa perusahaan akan memiliki nilai tinggi jika mampu menjadikan pelanggan memiliki loyalitas atau kesetiaan kepada merek sampai seperti loyalitas dalam agama. Dalam islam disebut alwala’. Puncak kesetiaan. Nah, komplain saya yang tidak ditanggapi positif akan mengganggu aspek coevent.

Constituencies artinya adalah bahwa seorang pelanggan selalu memiliki komunitas masing-masing. Saya misalnya punya komunitas korporatisasi dari kantor saya, SNF Consulting. Komunitas ini terdiri dari para CEO, direksi, komisaris, pendiri dan pemegang saham berbagai perusahaan. Komunikasi dijalin melalui grup-grup WA, telegram dan media sosial. Tulisan ini juga di posting di komunitas itu. lalu dibaca oleh para anggotanya. Nah, dengan tidak adanya tanggapan positif dari Bllue Bird terhadap DM saya tersebut, para anggota komunitas saya jadi tahu permasalahan ini. Tentu akan mempengaruhi persepsi mereka terhadap Blue Bird.

Reservasi seminar hubungi SNF Consulting

Demikianlah contoh bagaimana Blue Bird melakukan kesalahan dalam mengelola dua dari 6C corporate marketing. Inilah sebagian penjelasan dari mengapa nilai intangible asset Blue Bird rendah bahkan negatif. Ikuti terus tulisan-tulisan berikutnya tentang corporate marketing sebagai upaya manajemen menumbuhkan intangible asset.  Ikuti terus di web ini sampai pada seminar hasil riset SNF Consulting “Top 100 Intangible Aset Monetizing Company 2024 List” yang terjadwal tanggal 1 Agustus ini di Jakarta.

Artikel ke-451 karya Iman Supriyono ditulis di SNF Consulting house of management, Surabaya, pada tanggal 2 Juli 2024 dalam rangka persiapan semina “Top 100 Intangible Asset Monetizing Company 2024 list”

Baca juga
Buruknya Nilai Intangible Asset Ciputra

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Corporate Marketing: Pelajaran Dari Ciputra


Anda kenal Ciputra alias PT Ciputra Development Tbk.? Menurut Anda, perusahaan besutan Ir. Ciputra ini sukses atau tidak? Bagus atau tidak? Bagaimana kalau ada pernyataan bahwa ini adalah sebuah perusahaan yang gagal? Sebuah perusahaan yang dikelola dengan buruk? Anda percaya atau tidak?

Ciputra termasuk perusahaan baik atau buruk, mari kita lihat angkanya. Pada neraca akhir tahun 2023 perusahaan properti ini melaporkan total aset sebesar Rp 44,1 triliun. Aset tersebut terdiri dari kas setara kas sebesar Rp 10,6 triliun. Persediaan yaitu rumah atau bangunan untuk dijual sebesar Rp 12,1 triliun. Piutang sebesar Rp 1,9 triliun. Total aset lancar adalah Rp 25,7 triliun.

Aset tidak lancar terbesar adalah berupa dari tanah untuk pengembangan alias land bank sebesar Rp 7,6 triliun. Angka ini adalah berdasarkan harga perolehan.  Tanah ini sudah dibeli pada masa lalu sehingga tentu mengalami kenaikan nilai. Berdasarkan penilaian KJPP adalah Rp 26,8 triliun.

Aset tidak lancar terbesar kedua adalah berupa properti investasi Rp 5,2 triliun. Nilai tersebut adalah berdasarkan harga perolehan. Seiring waktu aset tersebut juga mengalami kenaikan nilai. Berdasarkan KJPP maka nilai wajar aset tersebut adalah Rp 13 triliun.

Aset tidak lancar terbesar ketiga adalah berupa aset tetap sebesar Rp 2,8 triliun. Karena aset dicatat berdasarkan perolehan pada masa lalu maka saat ini nilainya juga sudah meningkat. Sesuai penilaian KJPP nilai wajar saat ini adalah Rp 5,6 triliun.

Aset tidak lancar di luar tiga terbesar tersebut adalah Rp 2,5 triliun. Dengan demikian total aset tetap berdasarkan harga perolehan adalah Rp 18,4 triliun. Tapi jika 3 aset tidak lancar terbesar dihitung berdasarkan nilai wajar saat ini nilai ketiganya adalah Rp 45,4 triliun. Ditambah dengan aset tidak lancar selain tiga terbesar maka total nilai wajar aset tidak lancar adalah Rp 47,9 triliun. Ditambah aset lancar maka nilai wajar total aset Ciputra adalah Rp 73,6 triliun.

Total utang Ciputra pada akhir tahun adalah Rp 21,5 triliun. Dengan demikian nilai aset bersih berdasarkan nilai wajarnya adalah Rp 73,6 triliun dikurangi Rp 21,5 triliun yaitu Rp 52,1 triliun. Itulah nilai bersih jika aset-aset Ciputra dijual secara peretelan berdasarkan nilai wajar saat ini. Nilai wajar berdasarkan KJPP ini sudah naik 230% dari nilai aset bersih berdasarkan harga perolehan (nilai buku) yang sebesar Rp 22,6 triliun.

Berapa nilai Ciputra sebagai sebuah perusahaan? Mari kita amati. Jumlah saham yang telah diterbitkan dan disetor penuh adalah 18,5 miliar lembar. Harga per lembar saham saat saya menulis artikel ini (17/6/24) adalah Rp 1 125. Dengan demikian total nilai seluruh saham adalah Rp 20,8 triliun.

Nah, coba perhatikan sekali lagi. Seandainya Ciputra dipailitkan lalu aset-asetnya dijual sebagai tanah, properti investasi dan aset tetap ditambahkan uang kas, persediaan dan lain lain nilainya adalah Rp 73,6 triliun. Setelah dikurangi total utang sebesar Rp 21,5 triliun masih tersisa Rp 52,1 triliun. Tapi jika Ciputra dijual sebagai sebuah perusahaan nilainya adalah RP 20,8 triliun. Bahkan nilai jual sebagai perusahaan kalah dengan nilai aset bersih yang dihitung berdasarkan harga perolehan yang sebesar Rp 22,6 triliun. Maka, menurut Anda, sebagai sebuah perusahaan Ciputra baik atau buruk?

Corporete Marketing: Perusahaan yang secara finansial bagus belum tentu bernilai pasar bagus

Saya yakin Anda akan menjawab buruk. Nilai jual peretelan aset-aset Ciputra berupa tanah, bangunan dan gedung lebih tinggi dari pada nilai sebagai sebuah perusahaan. Bisa dikatakan bahwa nilai intangible asset Ciputra adalah negatif. Perusahaan seperti ini pertumbuhannya akan cenderung jelek. Pertumbuhan majemuk rata-rata tahunan (compounded annual growth rate, CAGR) nilai pasar Ciputra dalam sepuluh tahun terakhir adalah 0,86% (Juni 2014-Juni 2024). Artinya, jika Anda membeli saham Ciputra Rp 100 miliar pada Juni 2014 maka pada juni 2015 nilainya akan naik menjadi Rp 100,86. Juni 2016 menjadi 101,73 dan seterusnya tiap tahun tumbuh 0,86%.

&&&

Mengapa Ciputra yang secara umum dianggap sebagai perusahaan berkinerja jempolan tetapi nilai intangible assetnya justru minus? Penjelasannya ada pada apa yang disebut sebagai corporate marketing. Nilai intangible aset sebuah perusahaan adalah hasil dari sebuah proses manajemen yang disebut sebagai corporate marketing. Unsur pokoknya adalah pengelolaan apa yang oleh Balmer disebut sebagai corporate marketing mix alias 6C yaitu culture, character, communication, constituencies, covenant, dan conceptualisation. “Makhluk” apakah itu? Belajarlah dari Ciputra. Mau tidak mau Anda mesti mempelajari dan mengelolanya jika ingin perusahaan tempat Anda berkarya memiliki intangible asset besar. Jika Anda ingin perusahaan tempat Anda berkarya tumbuh pesat.

Hubungi SNF Consulting untuk reservasi

Artikel ke-450 karya Iman Supriyono ditulis untuk dan diterbitkan oleh Majalah Matan, terbit di Surabaya, edisi Juli 2024

Baca juga:
Blue Bird: Mengapa Intanble Assetnya Negatif?

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Korporasi Sebagai Distributor Rezeki


Semua manusia sudah dijamin rezekinya oleh Sang Khaliq. Saya kira Anda setuju dengan pernyataan ini. Bahkan bukan hanya manusia. Semua makhluk hidup sudah dijamin rezeki oleh-Nya. Cecak yang tidak bisa terbang tidak pernah kelaparan walaupun makanannya adalah nyamuk yang terbang. Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Demikian bagian awal ayat ke 6 Surat Hud.

Dalam konteks dunia bisnis, muncul pertanyaan menarik. Bagaimana kalau orang yang telah dijamin rezekinya itu bekerja sebagai karyawan sebuah perusahaan? Pertanyaan ini sangat wajar muncul karena perusahaan memang tempat jutaan umat manusia bekerja mencari nafkah. Untuk melihatnya lebih konkrit mari kita lihat laporan tahunan PT Indofood Sukses Makmur Tbk. tahun 2023.

Perusahaan produsen Indomie ini melaporkan memiliki  91 615 karyawan pert tanggal 31 Desember 2023. Rinciannya, karyawan tetap sejumlah 81 367 orang dan karyawan kontrak 10 248 orang.  Para karyawan ini tentu saja termasuk yang rezekinya dijamin oleh Allah SWT. Dengan asumsi mereka tidak memungkinkan untuk ada pekerjaan tambahan maka bisa dikatakan bahwa rezeki mereka dilewatkan perusahaan dengan kode saham INDF itu.

Berapa uang yang mereka terima dari Indofood tahun 2023? Total biaya gaji dan upah karyawan adalah Rp 5,26 triliun. Dengan jumlah karyawan sebagaimana tersebut di atas maka rata-rata gaji tahunan tiap orang adalah Rp 57,41juta. Dengan demikian maka gaji rata-rata per bulan adalah Rp 4,78 juta.

Bagaimana gaji tersebut didistribusikan? Ini adalah pertanyaan menarik terkait dengan konsep rezeki. Allah SWT adalah zat pemberi rezeki. Tentu saja Dia lah yang memiliki hak prerogatif tentang kadar rezeki tiap orang.  Siapa mendapatkan berapa adalah hak prerogatifnya. Siapa yang kaya siapa  miskin adalah hak prerogatifnya. Termasuk alasan mengapa si A kaya mengapa si B miskin adalah hak prerogatifnya.

Bagaimana gaji didistribusikan oleh Indofood? Secara alami perusahaan yang memiliki banyak karyawan seperti Indofood akan memiliki hierarki manajemen. Akan memiliki struktur organisasi dengan sekian level jabatan. Untuk apa? Tentu saja untuk memastikan bahwa setiap satuan pekerjaan bisa dilakukan dengan baik sesuai standar kualitas produk yang telah dijanjikan kepada konsumen. Agar Indomie yang dikonsumsi jutaan tetap sesuai standar.

Kontrol adalah variabel krusial. Puluhan ribu karyawan bekerja tentu harus ada kontrol dan pengawasan yang cukup. Maka, mau tidak mau akan ada level jabatan. Tiap level memiliki tanggung jawab yang berbeda-beda. Level paling atas memiliki tanggung jawab yang lebih tinggi. Puncaknya adalah direktur utama. Di Indofood, direktur utama memimpin dan mengontrol semua karyawan, baik langsung maupun tidak langsung. Memastikan baik langsung maupun tidak langsung bahwa seluruh karyawan bekerja untuk menghasilkan produk sesuai janji kepada pelanggan. Maka tentu saja direktur utama adalah orang yang mendapatkan gaji paling besar.

Siapa karyawan yang gajinya paling rendah? Tentu saja adalah mereka yang berada di hierarki paling bawah. Yaitu mereka yang bekerja menangani aktivitas langsung tanpa memiliki anak buah.  Dengan demikian mereka tidak memimpin. Mereka bukan manajer.  Tidak memiliki tanggung jawab untuk mengontrol atau mengawasi orang lain. Mereka hanya bertanggung jawab terhadap pekerjaan yang dilakukannya sendiri.

Lalu, di antara para pegawai hierarki paling bawah sampai direktur utama ada berapa level? Itulah seni manajemen. Makin sedikit jumlah level makin efisien. Tapi tidak bisa melampaui batas kemampuan para manajer untuk mengontrol bawahannya. Jika misalnya satu orang kemampuan maksimalnya mengontrol 10 anak buah, pekerjaan akan kacau jika dibebani mengontrol 11 orang atau lebih. Dalam bahasa inggris disebut sebagai span of control.

Siapa berada pada level jabatan mana dengan gaji berapa adalah keputusan manajemen sumber daya manusia perusahaan. Gaji adalah bagian dari rezeki-Nya. Maka, dalam konteks rezeki, perusahaan memiliki peran sebagai distributor rezeki. Manajemen sumber daya manusia yang berkualitas akan memastikan ketepatan distribusi rezeki. Tandanya adalah para karyawan puas dengan gaji yang diterimanya lalu loyal pada perusahaan. Pada akhirnya, pelanggan akan terlayani dengan baik. Pasar dan omzet akan tumbuh. Korporasi akan terus tumbuh. Bagaimana korporasi tempat Anda berkarya?

Artikel ke-449 karya Iman Supriyono ditulis untuk dan diterbitkan oleh Majalah Matan, terbit di Surabaya, edisi Juni 2024

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Jalan Buntu WIKA


Pada laporan keuangan 2023, PT Wijaya Karya Tbk. (WIKA) mencatat rugi tahun berjalan sebesar Rp 7,8 triliun. Angka tersebut naik drastis dibandingkan tahun lalu senilai Rp 12,6 miliar. Lebih ke belakang lagi tahun 2021 mencatatkan laba Rp 214 miliar dan tahun 2020 Rp 322 milliar. Nampak bahwa 2 tahun terakhir perusahaan kontraktor ini mengalami penurunan yang sangat drastis.

Apa yang terjadi pada BUMN karya ini? Mengutip laporan keuangannya, dari segi pendapatan sebetulnya ada peningkatan dari 21,4 triliun di tahun 2022 menjadi 22,5 triliun di tahun 2023. Lalu dari mana sumber kerugian besarnya? Dari bisnis utamanya yaitu kontraktor Wika mencatatkan pendapatan sebesar Rp 11,8 triliun. Naik dari tahun sebelumnya Rp 10,7 triliun. Beban pokok pendapatan adalah Rp 11 trilin. Tahun sebelumnya adalah Rp 9,7 triliun. Artinya, dari bisnis inti perusahaan ini masih mampu menciptakan laba kotor Rp 0,8 triliun, walaupun turun dari tahun sebelumnya yang Rp 1 triliun.

Segmen pendapatan terbesar kedua Wika adalah dari industri atau manufaktur. Nilainya adalah Rp 5 triliun. Turun dari tahun sebelumnya yang Rp 5,7 triliun. Segmen pendapatan ini berkontribusi menghasilkan laba kotor Rp 0,3 triliun. Turun dari tahun sebelumnya yang Rp 0,6 triliiun.

Segmen pendapatan ketiga adalah segmen energi dan industrial plant. Nilainya adalah Rp 4,1 triliun, turun dari 3,9 triliun pada tahun sebelumnya. Segmen ini berkontribusi menghasilkan laba kotor Rp 0,2 triliun. Tahun sebelumnya adalah Rp 0,4 triliun.

Dari tiga segmen terbesar tersebut Wika mengantongi laba kotor Rp 1,3 triliun. Walaupun turun dari tahun sebelumnya yang Rp 2 triliun, laba kotor ini masih bisa menutup biaya operasional perusahaan yang Rp 1 triliun. Masih ada laba sekitar Rp 0,3 triliun.

Lalu masalahnya di mana? Catatan tentang beban lain-lain tahun 2023 menginformasikan adanya kerugian penurunan nilai sebesar Rp 3,3 triliun dan penghapusan pekerjaan dalam proses konstruksi sebesar Rp 0,8 triliun. Total beban lain-lain adalah Rp 5,4 tiliun. Naik dari tahun sebelumnya yang Rp 1,3 triliun.

Kerugian lain-lain tersebut terjadi karena Wika terlalu berani memebelanjakan asetnya untuk investasi di luar bisnis intinya sebagai kontraktor. Kita lihat neracanya. Dari total aset Rp 66 triliun, porsi terbesar berada pada investasi ventura bersama Rp 12 triliun. Persediaan Rp 11,4 triliun yang didominasi oleh persediaan bisnis real estat sebesar Rp 9 triliun. Bandingkan aset piutang kepada pemberi kerja yang hanya Rp 2,3 triliun dan pekerjaan dalam proses proyek konstruksi yang Rp 4 triliun.

Bagaimana posisi struktur modalnya? Aset Wika tahun 2023 adalah 65,9 triliun. Menurun 13% dari 75 triliun di tahun 2022. Aset sebesar itu diperoleh dari ekuitas sebesar Rp 9,5 triliun. Sisanya sebesar Rp 56,4 triliun berasal dari utang. Rasio utang terhadap ekuitas adalah 5,9. Utangnya 5,9 kali lebih besar dibanding modal sendiri. Jelas sekali bahwa Wika membiayai investasi di luar bisnis kontaktor sebagai core competence nya dengan dana utang. Dan sebagai bisnis baru, wajar jika harus melalui proses pembelajaran yang berakibat rugi lain-lain sebagaimana angka di atas.

Bahaya atau tidak? Kita cermati laporan arus kas tahun ini. Arus kas operasionalnya minus sebesar Rp 2,89 triliun.  Penerimaan kas sebesar 23,7 triliun ternyata lebih tinggi dari pendapatan yang di laporan laba rugi dibukukan sebesar Rp 22,5 triliun. Salah satu penyebabnya adalah penurunan tagihan bruto pemberi kerja yang semula Rp 6,4 triliun posisi tahun lalu menjadi Rp 4 triliun pada tahun 2023. Artinya, Wika menagih piutang lebih kencang dari volume bisnisnya.

Setalah dikurangi dengan pembayaran kepada pemasok, gaji direksi dan karyawan, bunga dan pajak akhirnya kas operasional Wika minus Rp 2,89 triliun. Kondisinya hampir sama dibanding tahun lalu yang juga minus 2,88 triliun. Sementara itu, di sisi lain Wika juga harus menggelontorkan kas untuk investasi sebesar Rp 1,3 triliun. Minus sebesar itu ditambal dengan menambah utang sebesar 3 triliun dilihat dari penerimaan jangka pendeknya. Jelas sekali dalam 2 tahun terakhir kondisi kas Wika kobol-kobol. Bisa jadi kondisi di lapangan lebih parah karena bisa jadi ada kewajiban operasional yang terlambat di bayar sehingga belum dilaporkan pada arus kas operasional.

Utang jangka pendeknya banyak sekali bank. Sekedar menyebut beberapa diantaranya: Bank Mandiri 7,88 triliun, BNI 990 miliar, BRI 500 miliar, BSI 258 miliar, BTN 155 miliar, BTPN 1,4 triliun, HSBC 982 miliar dan masih banyak lagi.

Apakah tidak ada solusi? Jika mau alternatifnya adalah dengan menerbitkan saham baru. Menguangkan intangible asset untuk mendapatkan modal murah tanpa bunga. Mungkinkah? Mari kita lihat kemungkinannya. Nilai seluruh saham Wika hari ini adalah Rp 9,09 triliun. Pemerintah masih pegang 65%. Misalkan Wika menerbitkan saham baru sebesar 40% dari posisi saat ini, maka akan diperoleh dana sekitar Rp 3,63 Triliun. Masih jauh dari total utang Rp 56,4 triliun. Sudah begitu, langkah ini tidak mungkin akan bisa diterima karena dengan demikian pemerintah tinggal pegang saham sekitar 30%. Itupun belum cukup. Pemerinah harus terdilusi lebih dalam lagi. Pemerintah bukan lagi pemegang saham pengendali. Ini adalah pil pahit yang terlalu pahit.

Alternatif lainnya adalah dengan melego aset-aset non bisnis inti. Tetapi ini juga tidak mudah. Jika dipaksakan bisa jadi harganya akan jauh di bawah nilai buku. Menjadi kerugian yang tidak tanggung-tanggung. Ini juga pil pahit yang sangat pahit.

Begitulah kondisi BUMN ini. Seperti menghadapi jalan buntu. Menerbitkan saham tidak bisa menjadi jalan keluar. Sementara manajemen akan terus dipusingkan dengan membayar utang yang terus jatuh tempo akibat bisnis baru di luar core competence. Bisnis non kontraktor. Lalu bagaimana? Tuhan memberikan masalah selalu dengan solusinya. Harus ada pil pahit yang ditelan. Itu PR besar direksi akibat kesalahan strategi masa lalu. Saya yang bukan pemegang saham, direksi, atau karyawan Wika hanya bisa mengambil pelajaran tentang pentingnya fokus pada core competence. Anda bagaimana?

Ditulis di Jakarta pada tanggal 2 Mei 2024 oleh Reno Adrian, konsultan SNF Consulting.

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Kambing Investor Kecil


Minggu pagi selepas idul fitri. Saya dan junior sudah berada di Pasar Hewan Caruban. Tujuannya adalah untuk membeli seekor kambing. Bukan untuk saya, tapi untuk si yunior yang saat ini sedang duduk di bangku TK B. Si yunior membeli kambing dengan uang sendiri.

Anak TK B membeli kambing dengan uang sendiri? Ya betul. Si yunior memiliki uang yang cukup untuk membeli seekor kambing hasil uang “ang pao” hari raya pemberian om tante pakde bude kakek nenek dan handai taulan lainnya. Uang itu dikumpulkannya dan nilanya cukup untuk membeli seekor kambing betina.

Untuk apa kambing itu? Kambing kemudian dipelihara dan diperanakkan. Pemeliharaan tentu saja tidak dilakukan oleh si yunior. Melainkan dititipkan pada orang lain yang memang berprofesi sebagai pemelihara kambing. Lokasinya pada jarak sekitar 30 menit perjalanan bermobil atau bermotor dari lokasi pasar hewan.

Penitipan kambing dilakukan dengan skema bagi hasil. Dalam istilah setempat disebut paron. Paron berasal dari kata paro dalam bahasa jawa yang artinya dibagi dua. Dengan skema itu, setiap ada keuntungan dari kambing yang dipelihara akan dibagi dua. Separuh untuk pemilik kambing. Separuh untuk pemelihara.

Keuntungan dalam pemeliharaan kambing ada dua. Kenaikan harga kambing karena pertumbuhan dan lahirnya anak kambing. Kedua sumber keuntungan itu hasilnya dibagi dua antara pemelihara dan pemilik kambing. Sebuah sistem sederhana yang sudah berjalan turun temurun di kawasan Caruban dan sekitarnya, lokasi rumah orang tua saya.

Pada umumnya, seekor kambing betina akan beranak dua kali dalam setahun dengan masing-masing dua ekor. Dengan demikian, berdasarkan kebiasaan itu, seekor kambing indukan akan menghasilkan 4 anakan dalam setahun. Dua ekor hak pemilik indukan dan 2 ekor lainnya hak si pemelihara. Jika segala sesuatunya berjalan sesuai kebiasaan dan harapan, maka dalam waktu satu tahun seekor indukan kambing yang dibeli oleh si yunior akan berkembang menjadi 3 ekor.

&&&

Bank terbesar di negeri ini adalah Bank Mandiri. Laporan keuangan teraudit 2023 menyebut posisi aset pada akhir tahun adalah Rp 2 174 triliun. Sebagian besar dana itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan modal para pelaku bisnis dengan skema utang piutang.

Perusahaan investasi terbesar di tanah air adalah Saratoga. Laporan keuangan teraudit 2023 menyebut posisi aset pada akhir tahun adalah Rp 50,9 triliun. Sebagian besar aset itu adalah berupa saham pada berbagai perusahaan. Dana diterima oleh para pelaku bisnis dengan skema investasi ekuitas.

Bank dan perusahaan investasi keduanya memberi suntikan dana kepada perusahaan-perusahaan untuk modal ekspansi bisnis. Yang membedakan adalah skemanya. Bank dengan skema utang piutang. Perusahaan investasi melalui skema investasi ekuitas. Data di atas menunjukkan bahwa kekuatan pemasok dana utang piutang jauh lebih besar dibanding pemasok dana investasi ekuitas. Aset Bank Mandiri sekitar 40 kali lipat dibanding aset Saratoga. Hal ini mengakibatkan rasio utang dibanding ekuitas perusahaan cenderung tinggi. Risikonya juga tinggi.

Si kecil perlu belajar menjadi investor sejak dini.

Maka, dibutuhkan edukasi investor. Yang saya lakukan dengan si yunior di Pasar Hewan Caruban adalah dalam rangka itu. Si yunior belajar mengalokasikan uang kas  untuk investasi. Karena masih berumur 6 tahun maka saya berpikir tentang pendidikan investasi yang menarik bagi anak seusianya. Kambing adalah solusinya. Si yunior bergembira ria memilih, membeli dan kemudian memberi makan kambing. Apalagi nanti ketika kambing itu beranak. Tentu dia akan sangat gembira melihat anak-anak kambing yang lucu.

Secara finansial, kambing memberikan pelajaran tentang investasi dalam bentuk fisik kepada anak-anak. Perkembangan jumlah kambing dari satu ekor menjadi tiga ekor dalam satu tahun tentu sangat mudah diamati oleh anak usia TK B. Nanti pada saatnya tinggal diajari membaca laporan keuangan untuk kelak bisa berinvestasi seperti yang dilakukan oleh Saratoga. Kambing menjadi pelajaran bagi investor kecil. Harapannya kelak mampu menjadi investor sejati dalam rangka menumbuhkan berbagai perusahaan melalui skema ekuitas.

Artikel ke-448 karya Iman Supriyono ditulis untuk dan diterbitkan oleh Majalah Matan, terbit di Surabaya, edisi Mei 2024

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Prestasi CFC Setelah 30 Tahun IPO


PT Pioneerindo Gourmet International Tbk. alias CFC IPO pada tahun 1994. Saat itu perusahaan yang semula terwaralaba dari Pioneer Take Out USA ini menerbitkan  9 juta lembar saham nilai nominal Rp 1000 dengan harga Rp 5 100 per lembar sehingga mengantongi dana Rp 45,9 miliar.  Dana yang cukup besar ketika itu. Kini, 30 tahun setelah IPO, bagaimana prestasi CFC? Mari kita lihat beberapa poin penting atas kinerjanya. Saya akan menuliskannya dalam format poin-poin:

  1. Data yang masih tersedia cukup lengkap dari berbagai sumber adalah tahun 2007. Laporan keuangan teraudit tahun tersebut menyebut aset Rp 74 miliar dengan nilai buku  Rp 1 miliar, saldo rugi Rp 116 miliar, omzet Rp 160 miliar, laba Rp 163 juta, nilai pasar per lembar saham Rp 116, nilai pasar perusahaan Rp 27 miliar. Saldo rugi yang besar ini mencerminkan bahwa sepanjang perjalanan perusahaan sejak berdiri pada tahun 1983 diwarnai dengan prestasi yang tidak menyenangkan.
  2. Tahun 2023 aset Rp 329 miliar, nilai buku Rp 151 miliar, saldo laba Rp 22 miliar, omzet Rp 624 miliar, laba tahun berjalan Rp 18 miliar, nilai pasar per lembar saham (akhir tahun) Rp 2 590 dan nilai pasar perusahaan Rp 572 miliar. Saldo laba yang semula minus sudah berubah menjadi positif.
  3. Berdasarkan data tersebut, dapat diketahui bahwa pertumbuhan rata-rata majemuk (CAGR) selama 16 tahun (2007-2023) untuk aset adalah 9,8%, nilai buku 36,8%, omzet 8,9%, laba 34,2%, nilai pasar 21%. Angka-angkanya tidak sinkron antara satu indikator dengan indikator lain. Ini mengindikasikan perusahaan belum menemukan model bisnis yang tepat. Dalam kerangka SNF Consulting RPD (revenue and profit driver) perusahaan ini masih lemah.
  4. Untuk nilai pasar per lembar saham CAGR sejak IPO (1994) sampai saat ini (nilai per lembar saham Rp 1 395 dengan koreksi stock split) adalah minus 1,99%. Pertumbuhan minus artinya adalah penurunan.
  5. Investor yang masuk pada saat IPO hari ini mendapatkan hak laba per lembar saham (dengan koreksi stock split) sebesar Rp 36,355. Maka ROI investor IPO berdasar kinerja tahun 2023 adalah 0,7%. ROI nol koma setelah menunggu 30 tahun tentu bukan sesuatu yang menggembirakan. Apalagi nilainya justru menyusut.

Hari ini nilai pasar CFC adalah Rp 304 miliar. Dengan nilai buku sebagaimana tersebut di atas sebesar Rp 151 miliar maka nilai intangible aset CFC adalah 153 miliar. Dilihat dari sejarah perusahaan yang sudah berusia 41 tahun (CFC berdiri tahun 1883) maka angka itu kecil sekali. Tapi jika dilihat sebagai modal untuk melangkah ke depan angka itu adalah potensi yang sangat bernilai. Mampu eksis 41 tahun adalah prestasi tersendiri. Tapi, tantangannya adalah bagaimana mengoreksi strategi CFC yang selama ini dijalankan. Mesti dikoreksi karena terbukti mencatatkan kinerja tidak bagus sebagaimana pada angka-angka di atas. Untuk koreksi strategi, tentu dibutuhkan data internal yang cukup. Tapi paling tidak bagi Anda para pembaca ini adalah sebuah pelajaran bisnis yang sangat bernilai.

Artikel ke-447 karya Iman Supriyono ditulis di kantor pusat SNF Consulting, Sinarmas Land Plaza lantai 9, Jalan Pemuda 60-70 Surabaya, pada tanggal 18 April 2024

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Saratoga Rugi Rp 10 Triliun: Bahaya Tidak?


Laporan keuangan teraudit Saratoga tahun 2023 mencatatkan rugi tahun berjalan sebesar Rp 10 triliun. Gak bahaya ta? Apakah ini tidak membahayakan perusahaan investasi terdepan di negeri merah putih ini? Bagaimana bisa rugi sebesar itu? Saya akan menjelaskannya dengan format poin-poin.

  1. Sebagai perusahaan investasi, pendapatan Saratoga terdiri dari dua sumber utama. Sumber utama pertama adalah capital gain (lost) yaitu kenaikan (penurunan) harga saham yang dimiliki. Salah satu saham yang dipegang Saratoga adalah Adaro. Pada awal akhir tahun 2022 adalah Rp 3 850. Akhir tahun 2023 harganya turun menjadi Rp 2 380. Maka rugi setiap lembar saham Adaro adalah Rp 1 470.
  2. Sumber kedua adalah dividen. Adaro sebagai salah satu investee bagi Saratoga misalnya membagikan dividen sebesar Rp 199,98 rupiah per lembar saham.
  3. Sumber pertama memberikan Saratoga rugi sebesar Rp 13,81 triliun. Kerugian ini sebenarnya adalah berupa potensi. Saham yang dipegang ini tidak dijual sehingga tidak ada kerugian riil bagi Saratoga. Hanya saja, karena PSAK mengatur seperti ini maka kerugian harus diakui walaupun masih bersifat potensi.
  4. Atas dasar PSAK ini maka dalam 5 tahun terakhir berturut turut laba (rugi) dari sumber ini masing adalah laba Rp 6,2 triliun, laba Rp 8,4 triliun, laba Rp 24,4 triliun, laba Rp 3,7 triliun dan terakhir tahun 2023 rugi sebesar Rp 6,2 triliun
  5. Dari sumber utama kedua dalam 5 tahun terakhir Saratoga mengantongi Rp 2 triliun, Rp 768 miliar, Rp 1,66 triliun, Rp 2,6 triliun dan terakhir tahun 2023 Rp 2,8 triliun
  6. Beban usaha paling besar Saratoga adalah gaji sekitar 50 orang karyawannya. Dalam 5 tahun terakhir  biaya usaha secara berturut-turut adalah Rp 157 miliar, Rp 182 miliar, Rp 153 miliar, Rp 232 miliar dan pada tahun 2023 sebesar  Rp 222 miliar. Perhatikan bahwa angka ini jauh di bawah pendapatan dividen. Artinya, secara operasional Saratoga sangat sehat.
  7. Dengan modal PSAK seperti di atas, secara laporan keuangan akan lebih tepat jika kita juga membaca laporan arus kas. Arus kas operasional Saratoga sepanjang 5 tahun terakhir masing-masing adalah sebagai berikut: 675 miliar, Rp 367 miliar, minus Rp 362 miliar, Rp 3,7 triliun dan tahun 2023 sebesar Rp 1,4 triliun. Kas operasional bagi perusahaan investasi seperti. Saratoga adalah termasuk transaksi pembelian dan penjualan saham. Jadi ketika kas operasional minus bukan berarti perusahaan dalam bahaya. Kas operasional minus artinya Saratoga berinvestasi dengan kecepatan yang lebih tinggi dibanding perolehan kas dari penjualan saham dan pendapatan dividen
  8. Dari penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa rugi Rp 10 triliun atau tepatnya Rp 10,15 triliun bagi Saratoga bukanlah sebuah kondisi yang membahayakan apalagi kritis.
  9. Seiring dengan kerugian tersebut, aset Saratoga juga mengalami penurunan dari Rp 63,7 triliun pada akhir tahun 2022 menjadi Rp 50,9 triliun pada akhir tahun 2023. Ini juga bukan sesuatu yang membahayakan Saratoga. Mengapa? Karena Saratoga adalah perusahaan investasi, bukan trader saham. Saham dimiliki tidak untuk diperjual belikan karena naik turunnya harga di lantai bursa. Mereka memegang saham jangka panjang. Bahkan panjang sekali untuk menikmati pertumbuhan nilai, ROI dan dividennya.
  10. Hal serupa juga terjadi pada BlackRock, perusahaan investasi dengan aset kelolaan terbesar dunia. Akhir tahun 2021 aset kelolaannya USD 10,01 triliun alias Rp 160 ribu triliun. Tahun 2022 turun menjadi USD 8,59 triliun alias Rp 139 Ribu triliun. Nilainya menyusut alias rugi Rp 21 ribu triliun. Bahayakah? Tidak karena angka kerugian itu tidak dieksekusi. Hanya potensi rugi. Hanya fluktuasi pasar dan memang tahun 2023 nilainya naik lagi menjadi USD 10 triliun lagi.

Pembaca yang baik, demikianlah penjelasan tentang kerugian Saratoga. Rugi hanya dalam catatan yang memang mengikuti standar akuntansi mesti begitu. Tapi secara operasional tetap melimpah ruah. Tahun 2023 Saratoga membagi dividen sebesar Rp 1,013 triliun. Dengan demikian maka  Sandiaga Uno misalnya sebagai pemegang 21,51% saham menerima dividen sebesar Rp 217,9 miliar. Jauh lebih besar dari pada gajinya sebagai menteri heheehe. Pembaca yang baik, Anda sudah mendapatkan pelajaran?

Artikel ke-446 karya Iman Supriyono ditulis di kantor pusat SNF Consulting, Sinarmas Land Plaza lantai 9, Jalan Pemuda 60-70 Surabaya, pada tanggal 17 April 2024

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Arthur Andersen: Jujur atau Pailit


Arthur Andersen berdiri sebagai Andersen, DeLany & Co pada tahun 1913. Pendirinya adalah Arthur E Andersen dan Clarence DeLany. Arthur E Andersen adalah akuntan publik yang lulus Kellogg School of  Management di Northwestern University pada usia 23 tahun. Saat itu adalah akuntan publik termuda di Illinois. Tahun 1918 kantor akuntan publik tersebut berubah nama menjadi Arthur Andersen & Co.

Arthur E Andersen adalah tipologi akuntan sejati. Ia memimpin kantor akuntan yang didirikannya sampai akhir hayatnya pada tahun 1947. Semasa hidupnya ia adalah pendukung setia standar tinggi dalam pengauditan. Ia berprinsip bahwa tanggung jawab auditor adalah kepada investor, bukan kepada direksi perusahaan yang menyewanya.  Motonya adalah “berpikir jernih, bicara lurus”.

Tahun 2001 perusahaan raksasa Energi Enron diketahui melakukan penipuan akuntansi institusional dan sistematis kemudian pailit. Auditornya adalah Arthur Andersen. Kepercayaan publik kepada perusahaan auditor dengan karyawan pernah mencapai 28 ribu orang itu pun runtuh. Auditor yang bersama KPMG, Delloite, Ernst & Young dan PWC disebut sebagai big five ini pun pailit.

Nyaris semua perusahaan besar di berbagai penjuru dunia tidak bisa berpaling dari jasa big five itu untuk pemeriksaan laporan keuangannya. Sayang sekali, reputasi Arthur Andersen yang telah dibangun seabad lebih hancur luluh lantak karena sebuah kasus ketidakjujuran.

&&&

Pembaca yang baik, sebuah perusahaan tidak akan bisa tumbuh eksponensial tanpa dukungan investor secara terus-menerus. Investor hanya mau masuk perusahaan yang jujur. Secara teknis, jujur berarti bahwa antara fakta, legal, akuntansi dan pajak menjadi satu bahasa. Klop.

Untuk memastikan kejujuran sebuah perusahan, investor tidak mungkin melakukan pemeriksaan sendiri. Dibutuhkan peran auditor. Dalam rapat umum pemegang saham, para investor yaitu para pemegang saham memilih dan memutuskan siapa auditor yang akan dipakai untuk memeriksa laporan keuangan perusahaan.

Tentu saja para investor akan memilih auditor yang mereka percaya. Auditor yang mereka yakini mampu memeriksa dan memastikan bahwa laporan keuangan perusahaan yang disajikan oleh direksi sesuai dengan fakta.

Maka, begitu auditor yang telah dipilih melakukan pemeriksaan dan memberikan pendapat wajar tanpa perkecualian, para pemegang saham langsung bisa menjadikan laporan keuangan sebagai dasar pengambilan keputusan. RUPS pun berjalan dengan lancar dan sederhana. Inilah pentingnya kantor akuntan publik yang terpercaya. Baik dalam metode pengauditan maupun dalam integritas dan kejujurannya.

Maka, sebuah kantor akuntan publik sejatinya dibayar mahal karena integritas dan kepercayaan. Maka, jangan heran bila sekali saja ketahuan cedera,, kepercayaan langsung hilang. Order bernilai puluhan triliun pun melayang. Dan tentu saja akhirnya pailit seperti yang terjadi pada Arthur Andersen. Big five pun menyusut menjadi big four.

Pembaca yang baik, jujur adalah salah satu hikmah puasa yang paling penting. Yang tahu seseorang batal puasa atau tidak hanya yang bersangkutan dan tentu saja Allah SWT. Maka, orang yang berpuasa dengan baik sudah semestinya menjadi orang yang jujur. Mengatakan A faktanya memang A. Mengatakan B faktanya memang B. Seperti itulah juga semestinya sikap mental para auditor. Berpikir jernih, bicara lurus. Seperti prinsip Arthur E Andersen sang pendiri Arthur Andersen. Sayang penerusnya mengingkari prinsip ini. membuat pernyataan audit yang tidak sesuai fakta pada kasus Enron. Pailit adalah konsekuensinya. Maka, mari kita tetap pertahankan kejujuran. Agar tidak pailit.  Agar tidak pailit di dunia. Tidak juga pailit di akhirat. Aamin.

Artikel ke-445 karya Iman Supriyono di Masjid Arroyan, Galaxy Bumi Permai, Surabaya, pada tanggal 3 April 2024, untuk pwmu.co

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Astra Internasional, Masihkah Mengagumkan?


Laporan keuangan terlama yang masih tersedia di web resmi Astra Internasional adalah tahun 2008. Saat itu omzetnya adalah Rp 97 triliun. Omzet perusahaan terus tumbuh hingga pada tahun 2022 mencapai 301 triliun. Artinya, rata-rata pertumbuhan omzet tahunan astra secara kompon (CAGR, compounded average growth rate, rata-rata pertumbuhan tahunan majemuk) adalah 8,4%. Pertumbuhan yang kecil tidak jauh dari inflasi tahunan.

Aset akhir 2008 adalah Rp 81 triliun (pembulatan). Akhir tahun 2022 menjadi 413 triliun. Pertumbuhan rata-rata kompon tahunan dalam periode itu adalah 12,3%. Pertumbuhan aset lebih baik walaupun juga bisa digolongkan pertumbuhan yang lambat karena ada unsur inflasi. Tapi pertumbuhan aset yang lebih baik ini justru menunjukkan kemampuan Astra untuk mengubah aset menjadi pendapatan justru menurun seiring bertambahnya waktu.

Bagaimana pertumbuhan labanya? Laba tahun 2008 adalah Rp 9 triliun. Tahun 2022 adalah Rp 40 triliun. CAGR adalah CAGR 11,3%. Angkanya juga rendah.

Nilai pasar terlama yang masih tersedia secara online adalah tahun 2005 yaitu Rp 975 per lembar saham. Saat saya menulis artikel ini nilainya adalah Rp 5175. Jika dihitung pertumbuhannya dengan CAGR hasilnya adalah 9,72%.

&&&

Saya masih ingat betul suasana tahun 90-an. Astra Internasional adalah tempat kerja dambaan para alumni. Jangankan kerja di Astra. Bahkan kerja praktik di Astra pun sudah merupakan kebanggaan. Dambaan. Singkat cerita, Astra adalah perusahaan bonafid bagi para lulusan perguruan tinggi.

Bagaimana saat ini? Saya tanya kepada yunior di SNF Consulting yang baru lulus  beberapa tahun lalu dari fakultas teknik Universitas Indonesia. Suasana seperti yang saya rasakan tahun 90-an masih bertahan hingga saat ini. Artinya, Astra masih bertahan sebagai perusahaan impian para lulusan baru. Dambaan para fresh graduate.

Apa manfaatnya bagai Astra? Tentu saja adalah melimpahnya SDM terbaik. Ini sangat penting bagi sebuah perusahaan. Nah, dengan SDM seperti itu, mengapa Astra sepanjang belasan tahun ini ternyata tidak menghasilkan kinerja pertumbuhan yang meyakinkan? Mengapa tidak tumbuh pesat?

Sebagai bandingan, nilai pasar per lembar saham Starbucks Corporation tahun 1992 adalah USD 0,34. Saat ini nilainya adalah USD 94,13. Dengan demikian CAGR selama 32 tahun adalah 19,2%. Hampir 20% per tahun.

Mungkin Anda akan segera membantah, Starbucks kan berada pada industri yang berbeda dengan Astra? Kan tidak apple to apple? Betul sekali. Memang seperti itu. Tapi bagi para investor, CAGR adalah alat ukur super penting untuk berinvestasi di industri apapun. Pertumbuhan CAGR mencerminkan pertumbuhan ROI dan pertumbuhan capital gain. Juga pertumbuhan dividen. Ketiganya adalah variabel krusial dalam investasi.

Bagi Astra, akibat ketidaksukaan investor adalah cost of capital yang tinggi. Data saat saya menulis artikel ini, biaya modal dari sumber ekuitas Astra adalah 15,8%. Artinya, jika Astra hari ini menerbitkan saham senilai Rp 100 triliun untuk ekspansi bisnis misalnya, investor menghendaki imbal hasil Rp 15,8 triliun. Mahal sekali. Itulah Astra di mata para investor. Starbucks hanya sekitar 4%.

Bagaimana di mata para calon karyawan? Bagi mereka, CAGR adalah sejalan dengan pertumbuhan kesejahteraan. Bekerja di perusahaan dengan CAGR tinggi artinya pertumbuhan kesejahteraan juga tinggi. Demikian juga sebaliknya. Maka, CAGR juga merupakan variabel penting untuk memilih perusahaan sebagai tempat bekerja.

Apa artinya? Rendahnya CAGR dalam jangka panjang adalah membahayakan masa depan Astra. Dibutuhkan koreksi strategi dari apa yang selama belasan tahun ini telah dijalani perusahaan konglomerasi itu. Perbaikan seperti apa? Tidak mungkin untuk menganalisisnya secara lebih dalam kecuali dengan membaca data internal Astra. Dan tentu saja tidak mungkin ditulis dalam artikel singkat seperti ini. Apalagi Astra memiliki bisnis yang dari A sampai Z. Lalu untuk apa ditulis dalam artikel ini? Sebagai pembelajaran bagi Anda para pembaca agar tidak mudah silau dengan perusahaan yang sekilas tampak mengagumkan. Anda mendapatkan pelajarannya?

Membutuhkan layanan penyusunan Family Constitution? Hubungi SNF Consulting

Artikel ke-444 karya Iman Supriyono ini ditulis untuk dan diterbitkan oleh Majalah Matan edisi April 2024, terbit di Surabaya.

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Puasanya Investor dan Investee


Anda kenal merek ini? Filma, Gillete, Pampers, Pantene, Head & Shoulders, Ambipur, Oral-B, Vicks? Itu adalah beberapa merek milik raksasa consumer good Procter & Gamble alias P&G. Sebuah perusahaan yang didirikan oleh William Procter dan James Gamble tahun 1837 di USA.  Ada pelajaran menarik dari perusahaan barang-barang konsumsi terbesar dunia ini.  Pelajaran tentang puasa.

Pelajaran puasa? Iya. Puasa adalah ibadah ritual yang intinya adalah pengendalian diri. Menahan diri. Rutinitasnya adalah menahan diri untuk tidak makan minum dan melakukan segala sesuatu yang membatalkan puasa sejak terbit fajar sampai terbenam matahari. Hikmahnya adalah kemampuan orang yang berpuasa untuk menahan diri. Menahan diri untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu untuk tujuan besar di masa depan.

Nah, P&G adalah hasil proses panjang “puasa” alias pengendalian diri yang dilakukan oleh para pendiri sebagai investee dan para investor dalam jangka sangat panjang. Hasilnya saat ini P&G adalah perusahaan barang-barang konsumsi terbesar dunia. Mengalahkan Unilever. Perusahaan nomor 55 dunia dalam hal aset, omzet, laba dan nilainya. Unilever berada di urutan 104. Perusahaan sejenis dari RI tidak ada yang masuk 2000 besar.

Sebagaimana yang dicatat majalah Forbes, P&G tahun terakhir memiliki aset USD 118,85 miliar alias IDR 1 888 triliun. Omzetnya USD 80,97 miliar alias IDR 1 275 triliun. Labanya USD 14,32 miliar alias IDR  226 triliun. Nilai jika perusahaan ini dijual adalah  USD 367,76 miliar alias IDR 5 792 triliun. Lebih besar dari APBN RI tahun 2024 yang IDR 3 325 triliun.

Puasa seperti apa? Mari kita baca puasanya para investor (pemegang saham) dari data P&G. Misalnya hari ini Anda masuk sebagai pemegang saham P&G. Uang yang harus Anda siapkan untuk memiliki satu lembar saham saat ini adalah USD 161,21 alias IDR 2,54 juta. Dengan dana itu, berdasarkan laporan keuangan terakhir perusahaan yang di Surabaya memiliki pabrik minyak goreng Palmboom ini, Anda berhak atas laba sebesar USD 5,97 alias IDR 94 ribu. Dengan demikian imbal hasil investasi  ROI (return on invetment) Anda adalah 3,7%. Itu pun tidak seluruhnya dibagikan sebagai dividen. Dividennya hanya 2,33% alias Rp 59 ribu. Itulah hak Anda dalam setahun. Kecil sekali. Dibanding dengan deposito misalnya jauh lebih kecil. Misalnya saja Anda masuk dengan investasi Rp 100 juta, hak laba Anda hanya Rp 3,7 juta dalam setahun. Yang dibagikan sebagai dividen hanya Rp 2,33 juta dalam waktu satu tahun.

Kok mau? Mereka sedang puasa. Hal serupa juga dilakukan oleh investor yang telah membeli saham jauh-jauh hari sebelumnya. Misalkan saja investor yang masuk pada tahun 1984. Ketika itu harga selembar saham adalah USD 2,92 alias IDR 46 ribu dengan kurs hari ini. Saham yang Anda miliki tahun ini juga memiliki hak laba USD 5,97 alias Rp 94 ribu. ROI Anda adalah 204%. Hak dividen Anda adalah IDR 59 ribu alias 128%. Semua persentase adalah dalam jangka waktu satu tahun.

Misalkan Anda tahun itu berinvestasi dengan dana Rp 100 juta, tahun ini akan mendapatkan  hak laba Rp 204 juta yang mana Rp 128 juta dari hak itu dibagikan sebagai dividen tunai. Jika Anda menjual saham tersebut, hari ini nilainya adalah Rp 5,5 triliun. Naik 552 kali lipat dibanding uang yang Anda investasikan.

Bandingkan andai uang itu Anda depositokan. Rp 100 juta akan mendapatkan bagi hasil kurang lebih sekitar 5% setiap tahun. Jika deposito itu Anda ambil, hari ini nilainya tetap Rp 100 juta. Padahal uang Rp 100 juta tahun 1984 bisa Anda belikan 9 kg emas. Dengan nominal sama hari ini hanya mendapatkan kurang lebih 100 gram emas. Menyusut tinggal 0,11%.

&&&

Pembaca yang baik, Itulah puasa para investor P&G. Berani menahan diri untuk hanya mendapatkan hak laba kecil untuk membesarkan perusahaan. P&G menjadi seperti itu karena ada jutaan orang yang berpuasa berinvestasi membeli saham P&G. Oleh P&G uang itu digunakan untuk terus menambah merek-merek baru sebagai faktor kali alias revenue and profit driver (RPD) pertumbuhan perusahaan.

Apakah yang berpuasa hanya investor? Tidak. Para investee juga mesti puasa. Para pendiri perusahaan seperti ini juga rela puasa bertahun-tahun di awal. Caranya adalah dengan hanya hidup dari gaji sekedarnya sebagai direktur. Seluruh laba bertahun-tahun tidak pernah diambil sebagai dividen. Laba dibiarkan di perusahaan sebagai laba ditahan yang digunakan untuk pertumbuhan perusahaan. Bagi P&G pertumbuhan itu artinya adalah membuat atau mengakuisisi merek baru sebagai RPDB. Vicks adalah contoh merek yang dibuat sendiri. Gillete adalah contoh merek yang diperoleh dari akuisisi.

Bagaimana? Anda sudah mendapatkan pelajaran tentang hikmah puasa dalam bisnis? Puasa bagi investor dan investee? Puasa dalam menumbuhkan perusahaan? Ingat, 50% dari barang dan jasa yang dikonsumsi umat manusia di muka bumi ini dihasilkan oleh 2000 perusahaan terbesar di dunia. Salah satunya adalah P&G. Penguasaan produksi barang dan jasa adalah inti kekuatan ekonomi sebuah umat atau bangsa. Itulah mengapa Nabi SAW dulu ketika awal-awal hijrah ke Madinah memerintahkan para sahabat untuk membeli alias mengakuisisi sumur sebagai sumber pasokan air konsumsi untuk umat ketika itu. P&G adalah “sumur” era modern. Anda siap berpuasa untuk membuat “sumur” sekelas P&G? Semoga tahun ini adalah Ramadhan yang penuh hikmah bagi Anda untuk menjadi investor atau investee. Aamin.

Artikel ke-443 karya Iman Supriyono ini ditulis pada tanggal 19 Maret 2024 di lantai 5 hotel Luminor, pusat kota Purwokerto untuk pwmu.co.

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca juga:
Peredam Risiko Investasi Wakaf
Wakaf Modern Untuk Keabadian Amal dan Kemerdekaan Ekonomi
Konversi Kotak Infaq ke Kotak Wakaf
Kesalahan Wakaf Saham Dan Perbaikannya
Wakaf Untuk Beasiswa: Fulbright Dari Timur
Wakaf Moncer dengan Puasa Infaq
Wakaf Para Alumni untuk Adik Kelasnya
Wakaf Agar Rp 10 Triliun Tidak Melayang Tiap Tahun
Wakaf Uang
Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Umat dan Bangsa
Korporatisasi: Asal Muasal