Science and Technloogy for Industrial Development. STAID. Itulah beasiswa impian saya saat menempuh bangku SMA. Sudah membayangkan betapa bahagianya melalui musim dingin di Jerman, Perancis, Inggris, Jepang atau USA di sela-sela proses pembelajaran. Sudah bekerja keras untuk persiapannya. Belajar bahasa Inggris secara serius. Menyiapkan segala macam piagam dan sertifikat pendukung. Dan tentu berdoa dengan segala kekhusukan. Tapi takdir berkata lain. Saya gagal dalam seleksi beasiswa besutan pak Habibie itu.
Tapi alhamdulillah mimpi itu terbayar oleh para bocil. Si sulung lulus cemerlang dari sastra Mandarin jianxi Normal Universitu, RRC. Si nomor dua lulusan terbaik aktuaria Universiti Sains Malaysia. Si nomor tiga juga lulusan terbaik juga dari akuntansi Vietnam National University. Ketiganya adalah lulusan SMA dari negeri jiran. Si nomor empat mendapatkan kesempatan belajar sastra Rusia Kazan Federal university Rusia. SI kembar sedang belajar ilmu psikologi di Sivas University Turki dan Desain Komunikasi Visual Kutahya University, Turki. Dua adiknya, masih SMP dan SD, yang kini dalam asuhan ibu sambungnya, insyaallah juga akan mengikuti jalur pendikan kakak-kakaknya.
Bagi saya, menyekolahkan para bocil ke luar negeri pada jenjang S1 bahkan SMA bukan untuk ganti paspor. Tapi untuk meneladani nabi Muhammad SAW yang pada usia remaja sudah belajar di negeri yang jauh dari tanah airnya. Meneladani seorang ayah yang mengirim Ahmad Dahlan remaja belajar di Saudi yang kemudian melahirkan Muhammadiyah. Meneladani seorang ayah yang mengirim Hasyim Asyari remaja ke Saudi yang kemudian melahirkan NU. Mereka semua melakukan itu sebelum pesawat terbang menjadi alat transportasi antar negara. Sebelum ada WA yang bisa menjadi sarana komunikasi antar negara. Komunikasi masih melalui surat yang dikirim lewat perjalanan darat atau laut yang memakan waktu berbulan-bulan.
Alhamdulillah berbekal pendidikan luar negeri mereka bisa menjalani berkarir dengan baik di negeri ini. Mereka bekerja bukan semata karena ilmunya, tapi juga karena ketangguhan yang terbentuk saat belajar menghadapi berbagai tantangan berat di negeri orang, penguasaan mereka terhadap bahasa dan budaya negeri tempat mereka belajar, serta tentu saja jejaring dengan negeri tempat mereka belajar.
Saya menyekolahkan anak-anak ke luar negeri bukan dengan beasiswa LPDP. Bukan beasiswa pemerintah RI. Tapi murni hasil kerja keras banting tulang jungkir balik saya bersama ibunya anak-anak. Sebagian juga dari beasiswa prestasi dari negara tempat mereka belajar. Tentu semua adalah bentuk dari rezeki dari-Nya. SNF Consulting, consulting firm yang saya dirikan pimpin, adalah sarananya.

Saya menyekolahkan anak-anak ke luar negeri bukan agar mereka ganti paspor. Tapi agar mereka bisa berkontribusi besar bagi sesama. Tentu juga bagi negeri merah putih ini. Alhamdulillah saat ini yang sudah pada lulus semua tetap berpaspor RI. Bekerja di RI. Membayar pajak untuk RI.
Memang negeri ini banyak sekali masalah. Korupsinya. Tipu tipunya. Suapnya. Manipulasi hukumnya. Mengambil hak orang lain. Mengambil hak publik untuk kepentingan pribadi. Dan segala keberengsekan itu dipertontonkan di depan umum.
Tapi saya dan ibunya anak-anak selalu menekankan agar anak-anak tetap menjadi orang baik walaupun harus sendirian. Tetap jujur walaupun semua orang menipu. Tetap tidak mengambil hak orang lain walaupun semua orang mencuri. Paling tidak itulah kontribusi untuk perbaikan di negeri ini. Tidak terlarut pada keburukan yang sudah berurat berakar sedemikian rupa. Syukur-syukur bisa mengajak orang sekitarnya untuk menjadi orang baik juga. Agar makin banyak orang baik di negeri tercinta ini. Karier dan ekonominya baik. Jaringan internasionalnya baik. Dan tentu saja agamanya baik. Meneladani Rasulullah SAW. Meneladani Kiai Ahmad Dahlan. Meneladani Kiai Hasyim Asyari. Aamin. Tanpa harus ganti paspor.
Tulisan ke 504 Iman Supriyono ini ditulis pada tanggal 22 Februari 2026 dalam perjalanan kereta api Mutiara Timur dari Surabaya untuk agenda meeting klien SNF Consulting di Banyuwangi keesokan harinya.
Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi
Baca Juga:
Berbisnis sejak bangku sekolah: Kardus Kardus Besar
Bangku Kosong: Pendidikan Terbaik
Menang Melawan si Curang









