Bahaya IPO UKM


Belakangan muncul dorongan kuat agar UKM melakukan IPO.  Grup-grup wa, seminar, training dan media sosial komunitas entrepreneur menjadi tempat subur untuk mengelokannya.  Seolah semua sepakat. Padahal IPO UKM mengandung bahaya yang amat sangat. Bahkan ancaman besar. Apakah itu? saya akan menuliskannya dalam bentuk poin-poin.

Provokasi IPO UKM itu bahaya sekali. Bisa membuat seperti harimau yang lemah lunglai. Potensinya besar. Tapi terlemahkan karena tidak sadar bahaya.

  1. Batas atas sebuah usaha masuk dalam kategori UKM menurut peraturan pemerintah nomor 7 tahun 2021 tentang kemudahan, pelindungan, dan pemberdayaan koperasi dan usaha mikro, kecil, dan menengah adalah modal di luar tanah dan bangunan sebesar Rp 10 miliar atau penjualan maksimum Rp 50 miliar
  2. Perusahaan dengan aset dan omzet seperti di atas sangat berbahaya bila dipaksakan melakukan IPO. Apa bahayanya? Setidaknya ada 3 bahaya yang krusial. Bahaya pertama adalah pemborosan dilusi. Dilusi adalah menurunnya persentase kepemilikan saham pendiri. Pemborosan dilusi adalah kondisi di mana saham pendiri mengalami penurunan persentase lebih tinggi untuk menghasilkan jumlah uang tertentu.
  3. Gambarannya adalah sebagai berikut. Misalkan PT ABC bergerak di bidang restoran memiliki 10 gerai dengan aset Rp 10 miliar (Rp 1 miliar tiap gerai di mana semua gedung berasal dari sewa) laba Rp 3 miliar. Aset Rp 10 miliar menghasilkan laba Rp 3 miliar alias ROA (return on aset) 30% itu sudah super optimis.
  4. Jika PT ABC memiliki rasio harga saham terhadap laba (price to earning rasio, PER) 20 maka nilai pasar PT ABC adalah Rp 60 miliar. Angka PER 20 ini sudah sangat tinggi karena artinya ROI bagi investor adalah 5% (per tahun).
  5. Faktanya di lantai bursa ROI yang stabil pada angka 20 hanya dimiliki oleh perusahaan-perusahaan yang memiliki merek kokoh di pasar. Sekalas Astra Internasional saja PER nya hanya 8,94.  Indofood Sukses Makmur pun PER hanya 8,86. Jadi asumsi PER 20 itu adalah sangat amat tinggi. Artinya, hitungan nilai pasar (market capitalization) Rp 100 miliar bagi PT ABC sudah merupakan perkiraan super optimis
  6. Malangnya, dengan perkiraan super optimis pun angkanya masih kecil. Mari kita runut akibatnya. Dengan nilai pasar Rp 60  miliar maka penerbitan saham baru 10% dalam IPO hanya akan menghasilkan dana Rp 6 miliar. Angka ini akan tidak menarik bagi penjamin emisi. Akibatnya PT ABC akan dipaksa menerbitkan saham dengan persentase lebih tinggi agar menarik bagi penjamin emisi.  Misalkan 40 %. Dengan persentase ini maka perolehan dana IPO adalah Rp 24 miliar.  Inilah letak bahayanya. Pendiri PT ABC terdilusi 40% untuk mendapatkan dana Rp 24 miliar.
  7. Mengapa bahaya? Ada dua penjelasan.  Penjelasan pertama, dengan dilusi 40% maka PT ABC tinggal punya kesempatan dilusi lanjutan 10% (melalui rights issue) untuk mencapai titik kritis korporatisasi yaitu saat pendiri sudah tidak lagi menjadi pemegang saham pengendali. Mengapa harus ada dilusi lanjutan? Karena untuk bisa eksis dan tumbuh dari generasi ke generasi, sebuah perusahaan harus mencapai ukuran tertentu untuk terbentuknya sistem manajemen yang ditandai dengan adanya struktur organisasi dengan level jabatan lebih dari 20. Ini membutuhkan dana besar. Membutuhkan aset besar. Oleh karena itu sebuah perusahaan mestilah berhemat dilusi. Tumbuh eksponensial mengikuti kurva korporatisasi. Dengan cara ini, Afmamart misalnya, telah memperoleh dana dari lantai bursa sebesar Rp 2,5 T saat pendiri terdilusi 47%.
  8. Penjelasan kedua, PT ABC yang memiliki aset 10 miliar tiba-tiba mendapatkan tambahan aset Rp 24 miliar alias total aset menjadi 34 miliar. Tumbuh 340%. Ini seperti seorang yang biasa mengemudikan Toyota Agya tiba-tiba harus mengemudikan truk tonton. Risikonya sangat tinggi. Berbahaya.
  9. Dengan kebutuhan aset Rp 1 miliar per gerai, perolehan dana IPO tersebut akan menjadi 24 gerai. Perusahaan yang biasanya mengelola 10 gerai tiba-tiba bertambah 24 gerai alias total menjadi 34 gerai akan kocar-kacir dalam manajemennya. Ekspansinya akan sangat mengawur. Akibatnya ROA akan terganggu. Akan turun. Investor akan dirugikan. ROI yang dijanjikan saat IPO tidak akan tercapai.
  10. Bahaya kedua, dengan nilai pasar Rp 60 miliar maka saham PT ABC akan terombang-ambing di pasar. Sahamnya akan terombang-ambing seperti sebuah sampan yang berlayar di tengah samudera Atlantik yang ombaknya bisa mencapai ketinggian 10 meter bahkan lebih. Sampan akan tenggelam ditelan ombak. Melihat emiten di BEI saat ini, stabilitas harga saham baru akan tercapai jika nilai pasar (market cap) paling tidak bernilai Rp 10 triliun. Kurang dari itu pada umumnya akan menjadi mainan para trader. Baca tulisan saya tentang perampok budiman
  11. Terombang-ambingnya harga saham itu memicu munculnya efek lanjutan yaitu bahaya ketiga. Bahaya ketiga adalah PT ABC akan sulit melakukan rights issue sebagai langkah korporatisasi berkelanjutan untuk mejadi sebuah korporasi sejati. Sebagai gambaran, misalkan harga saat IPO PT ABC adalah Rp 100 per lembar saham. Setelah dilepas di pasar misalkan harganya menjadi Rp 75 per lembar. Harga inilah yang menjadi bahaya ketiga. PT ABC akan kesulitan rights issue. Jika dipaksakan para pemegang saham yang ada (existing share holder) akan rugi. Mengapa rugi? Karena akan terjadi penurunan book value

Itulah tiga bahaya besar sebuah perusahaan UKM yang melakukan IPO. Pertumbuhannya akan terhenti. Scale up nya akan berhenti. Plus masih ada bahaya lain yang justru lebih kronis. Apa itu? bahaya mindset. Memposisikan diri sebagai UKM adalah sebuah afirmasi negatif.  Aku akan mengikuti persangkaan hamba-Ku. Demikian sebuah hadits qudsi. Tuhan akan benar-benar menjadikannya sebagai UKM. Tidak pernah menjadi sebuah korporasi sejati.

Lalu apa solusinya? Saat masih kecil perusahaan tetap harus terus-menerus menerbitkan saham sebagai langkah untuk scale up. Terus melakukan korporatisasi. Hanya saja tempatnya mesti di luar lantai bursa alias private placement. Dilakukan secara B2B dengan investor. Terus menerus tumbuh eksponensial. Kapan melantai alias IPO? Kelak saat nilai pasarnya aman. Paling tidak kira-kira Rp 5-10 triliun. Makin besar makin bagus. Setelah IPO terus menerus melakukan righst issue sampai menjadi korporasi sejati. Menjadi korporasi yang mengibarkan merah putih ke berbagai negeri. Bisa!

Artikel ke-410 karya Iman Supriyono ini ditulis di Surabaya pada tanggal 7 Agustus 2023

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca Juga:

IPO RAFI yang penuh catatan
IPO Kioson yang lemah lunglai di tengah badai
IPO DPUM yang masuk jebakan
IPO Goto pertaruhan hidup mati
Delisting Bentoel sebagai sebuah keharusan


Prestasi Bisnis 78 Tahun Merdeka


Tanggal 8 bulan Juni ini majalah Forbes kembali meluncurkan daftar 2000 perusahaan terbesar dunia. Kriterianya ada 4: laba, omzet, aset dan nilai pasar.  Laba adalah selisih antara pendapatan dengan total biaya perusahaan. Omzet alias pendapatan adalah total nilai uang yang diperoleh sebagai hasil dari penjualan barang atau jasa yang diproduksi oleh perusahaan. Aset adalah uang atau apapun yang bernilai uang yang dimiliki oleh sebuah perusahaan. Nilai pasar adalah nilai uang seluruh saham perusahaan berdasarkan transaksi terakhir di lantai bursa.

Forbes mengurutkan perusahaan-perusahaan di lantai bursa berbagai negara dan memilih 2000 urutan teratas. Hasilnya, rangking pertamanya adalah JP Morgan Chase, sebuah bank investasi dari USA yang akar sejarahnya mulai hadir di muka bumi sejak tahun 1799. Perusahaan yang merupakan hasil merger dan akuisisi lebih dari  1200 perusahaan ini memiliki aset USD 3,744 triliun alias Rp 55 ribu triliun lebih. Nilai pasarnya USD 399,59 miliar alias Rp 5 844 triliun lebih.

Sebesar apa peran perusahaan-perusahaan dalam daftar Forbes itu pada ekonomi dunia?  Gabungan omzet dari 2000 perusahan tersebut adalah USD 50,8 triliun alias Rp 748 ribu triliun. Bandingkan dengan PDB total seluruh negara di dunia yang sekitar USD 101 triliun menurut Word Bank tahun 2022. Jadi 2000 perusahaan itu berkontribusi separuh dari total nilai barang dan jasa yang diproduksi umat manusia dan perusahaan dari berbagai negara. Bahkan banyak di antara produk-produk itu yang kemudian menjadi penanda sejarah umat manusia. Pesawat terbang, mobil, internet, media sosial, komputer, dan mobil listrik adalah beberapa contohnya.

Nah, begitu besarnya peran perusahaan-perusahaan itu bagi umat manusia. Lalu, bagaimana peran republik ini dalam konstelasi itu? Beruntung Forbes mengidentifikasi negara asal-usul perusahaan-perusahaan itu. Ada 8 perusahaan asal RI yang masuk daftar itu. Bank BRI pada urutan teratas dengan omzet USD 13,16 miliar, laba USD 3,45 miliar, aset USD 119,84 miliar dan nilai pasar 53,79 miliar.

Ranking kedua adalah bank Mandiri. Disusul BCA, Telkom, BNI, Bayan Resources, Adaro Energy dan terakhir adalah Garuda. Khusus untuk yang terakhir ini peru ditambahi catatan khusus.  Maskapai penerbangan pelat merah ini masuk daftar karena laba yang besar yaitu USD 3,67 miliar. Catatan khususnya adalah bahwa laba ini diperoleh dari pemotongan utang hasil negosiasi restrukturisasi utang dengan para kreditur. Jadi bukan mencerminkan mesin bisnis perusahaan. Justru mencerminkan masalah besar perusahaan.  Jadi dari 8 hanya 7 yang benar-benar mencerminkan kontribusi korporasi RI dalam percaturan produksi barang dan jasa global.

Delapan perusahaan dari 2000 perusahaan ranking Forbes.  Membanggakan kah? Menggembirakan? Atau justru sebaliknya? Untuk menjawabnya mari kita melihat negara-negara lain. Kita mulai dari negara terdekat yang berbatasan langsung dengan kita. Siapa lagi kalau bukan Singapura. Negeri pulau kecil yang luasnya setara dengan luas wilayah kota Surabaya ini menghadirkan 14 perusahaan. Ranking teratas diduduki oleh bank OCBC. Bank yang hadir di RI melalui akuisisi bank NISP ini beraset USD 417,5 miliar alias hampir 3,5 kali aset bank BRI. OCBC hadir di 54 kota di Indonesia dengan 200 cabang lebih. Sementara BRI hanya hadir dengan satu cabang  di negeri berpenduduk 5 juta orang ini.

Mari kita lihat negeri jiran berikutnya: Malaysia. Malaysia hadir dengan 8 perusahaan. Perusahaan urutan teratas dari negeri berpenduduk sekitar 25 juta ini adalah Maybank. Asetnya USD 216,17 miliar. Lebih dari 2x lipat aset BRI. Bank yang masuk ke RI melalui akuisisi Bank BII ini hadir di negeri merah putih dengan 356 cabang lebih. Bandingkan dengan BRI yang bahkan belum punya satu kantor cabang pun di Malaysia. Padahal BRI sudah hadir di muka bumi ini sejak 1895 sementara Maybank baru hadir tahun 1960. Umurnya baru separuh umur BRI.

Jangan bandingkan RI dengan USA yang hadir dengan lebih dari 600 perusahaan. Jangan juga bandingkan dengan RRC yang hadir dengan sekitar 350 perusahaan. Kita memang lebih kecil dalam hal jumlah penduduk dengan kedua raksasa ini. Kita juga kalah usia. Tapi kalau kalah dengan Singapura dan Malaysia, tentu tidak ada alasan pembenar. Kita merdeka lebih dahulu dari keduanya. Jumlah penduduk kita sekitar 10 kali Malaysia. Sekitar 50 kali singapura. Kita merdeka tahun 1945 sementara Malaysia baru merdeka tahun 1957 dan Singapura tahun 1965.

Nah, dalam usia kemerdekaan yang 78 tahun ini, mari kita gunakan kekalahan di atas sebagai pemicu semangat. Bagi pemerintah ini menjadi sarana berkaca diri memperbaiki regulasi yang lebih pro pertumbuhan korporasi dan bertumbuhnya budaya investasi masyarakat sebagai pendukungnya. Bagi para pelaku bisnis menjadi introspeksi untuk memperbaiki proses korporatisasi perusahaan tempatnya berkarya. Bagi masyarakat luas menjadi sarana menilai diri agar mampu mendorong pertumbuhan perusahaan-perusahaan di negeri ini dengan kontribusi sebagai investor. Yakin kita bisa. Merdeka!

Artikel ke-409 karya Iman Supriyono ini ditulis untuk Majalah Matan edisi Agustus 2023, terbit di Surabaya

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca Juga:
Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Umat dan Bangsa

Korporasi Nasionalis Pancasilais
Korporasi Pejuang 
Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi
Korporasi Pejuang Rupiah
Korporasi Raket Yonex

Sejarah Heinekken Hadir di Indonesia
Sejarah Revlon dan Kepailitannya
Sejarah Korporasi
Sejarah Lions Club
Sejarah Hyundai versus Astra
Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Umat dan Bangsa
Korporatisasi: Asal Muasal
Sejarah Danone Dari Turki Usmani Hadir ke Indonesia

Beasiswa LPDP: Dana Abadi atau Dana Menguap?


Menjadi lembaga pengelola dana bertaraf internasional guna menyiapkan SDM Indonesia yang berdaya saing global serta turut mendorong inovasi bagi terwujudnya Indonesia yang sejahtera, demokratis, dan berkeadilan. Itulah visi Lembaga Pengelola Dana Pendidikan alias LPDP sebagaimana yang dimuat dalam laporan keuangan teraudit tahun 2022. Mulia sekali. Bagus sekali. Sangat mungkin Anda atau orang-orang terdekat Anda adalah penerima beasiswa LPDP. Beasiswa belajar tingkat sarjana, master dan doktor baik di dalam maupun luar negeri.

Ada tiga poin misi LPDP. Pertama adalah mempersiapkan pemimpin dan profesional masa depan Indonesia melalui pembiayaan pendidikan. Kedua adalah mendorong riset strategis dan/atau inovatif yang implementatif dan menciptakan nilai tambah melalui pendanaan riset. Ketiga adalah menjamin keberlangsungan pendanaan pendidikan bagi generasi berikutnya melalui pengelolaan dana abadi pendidikan yang optimal

Sebuah organisasi bergerak sesuai visi dan misinya. Pergerakan organisasi tercermin dari laporan keuangannya. Mari kita lihat LPDP dari apa yang dilakukannya pada tahun 2022. Sudahkah bergerak sesuai visi dan misinya? Sudahkah LPDP mengelola dana abadi pendidikan dengan tepat sebagaimana layaknya institusi pengelola dana abadi internasional?  Mari kita cermati dari laporan keuangannya. Saya akan menuliskannya dalam format poin-poin. Angka-angka adalah pembulatan sesuai dengan aturan pembulatan matematika.

  1. Memperhatikan neracanya, aset terbesar LPDP adalah berupa investasi jangka panjang. Awal tahun 2022 (akhir tahun 2021) nilainya adalah Rp 99 triliun. Posisi akhir tahun adalah Rp 119 triliun. Aset pada posisi akhir ini adalah merupakan 94% dari total aset LPDP yang sebesar Rp 127 triliun.
  2. Aset lain yang signifikan adalah berupa investasi jangka pendek sebesar Rp 4 triliun pada akhir tahun. Angka tersebut naik dari Rp 3 triliun pada awal tahun. Dengan demikian total nilai investasi LPDP adalah Rp 123 triliun pada akhir tahun. Angka ini naik Rp 21 triliun dari  posisi awal tahun Rp 102 triliun. kenaikannya diperoleh dari diterimanya tambahan dana dari APBN.
  3. Ke mana aset-aset sebesar itu diinvestasikan? Investasi jangka panjang adalah berupa obligasi dan deposito. Rincianya, obligasi negara Rp 82 triliun, obligasi korporasi Rp 2 triliun dan deposito Rp 36 triliun. Investasi jangka pendek adalah berupa deposito senilai Rp 4 triliun. Dengan uraian ini maka bisa dikatakan bahwa seluruh dana abadi LPDP diinvestasikan dengan skema utang piutang.
  4. Ada dua kelompok utama dalam investasi yang tergambarkan dalam sisi kanan neraca entitas penerima dan investasi (investee). Sisi kanan neraca pada perusahaan atau entitas tempat dana diinvestasikan. Dua kelompok tersebut adalah utang piutang dan ekuitas.
  5. Karakteristik utama investasi skema utang piutang adalah tidak adanya pertumbuhan nilai aset yang diinvestasikan. Secara nominal nilainya konstan. Namun demikian karena nilai ditransaksikan dengan investee dalam bentuk mata uang maka ada variabel krusial yang mesti dipertimbangkan yaitu inflasi.
  6. Sepanjang tahun 2022 BPS mencatat bahwa nilai inflasi Rupiah adalah sebesar 5,51%. Dengan demikian total investasi BPJS Rp 102 triliun pada awal tahun 2022 secara nilai riil menyusut sebesar Rp 5,6 triliun. inilah nilai aset LPDP yang menguap sepanjang tahun 2022. Itu pun belum memperhitungkan dana investasi tambahan yang  LPDP sepanjang tahun 2022 yang sebesar Rp 21 triliun. Jika dianggap dana ini semua diterima di pertengahan tahun maka nilai yang digerogoti inflasi adalah 2,755% dari Rp 21 triliun yaitu Rp 578 miliar. Dengan demikian total penurunan nilai aset dari inflasi adalah  Rp 6,2 triliun
  7. Laporan laba rugi menunjukkan bahwa hasil investasi dana abadi sepanjang tahun 2022 adalah Rp 6,6 triliun. Dengan demikian hasil investasi bersih adalah Rp 6,6 dikurangi Rp 6,2 yaitu sebesar Rp 0,4 triliun alias Rp 400 miliar.
  8. Laporan laba rugi juga menunjukkan bahwa LPDP mengeluarkan dana untuk beasiswa senilai Rp 4,4 triliun. Beban lain yang signifikan adalah beban pegawai Rp 63 miliar dan beban perjalanan dinas Rp 27 miliar. Total beban adalah Rp 4,5 triliun.
  9. Dengan demikian hasil investasi bersih yang Rp 0,4 triliun tidak cukup untuk menanggung seluruh beban LPDP yang sebesar 4,5 triliun. Ada kekurangan Rp 4,1 triliun. Inilah hasil akhir kinerja pengelolaan dana abadi LPDP sepanjang tahun 2022 secara nilai riil (yaitu dengan memperhitungkan efek inflasi)
  10. Sejak LPDP berdiri tahun 2011 skema investasinya sama. Dengan demikian tiap tahun menguapnya dana abadi LPDP akibat inflasi itu juga terus menerus terjadi. Sesuaikah ini dengan visi LPDP? Visinya adalah menjadi pengelola dana abadi bertaraf internasional. Kinerja keuangannya justru nilai dana abadi menguap melalui inflasi. Jadinya bukan lagi dana abadi. Tapi dana menguap.
  11. Maka, andai pasokan dana dari APBN kepada LPDP dihentikan, secara riil tiap tahun kemampuan LPDP memberi beasiswa akan turun sebesar laju inflasi yang mana pada tahun 2022 adalah sebesar 5,51%. Nominalnya tetap. Tapi nilainya habis. Jumlah penerima beasiswa akan menurun sampai habis. Tidak lagi bisa disebut sebagai dana abadi
  12. Itulah kinerja pengelolaan dana abadi selama ini. Permasalahannya krusial dan sudah berlangsung selama 12 tahun. pertanyaannya, ke depan diperbaiki atau tidak? Harapannya tentu harus diperbaiki.
  13. Bagaimana perbaikannya? LPDP bisa belajar dari Harvard Management Company (HMC) yaitu lembaga pengelola dana abadi (endowment fund) milik Harvard University, USA.
  14. HMC berdiri tahun 1974 alias saat ini sudah berusia 49 tahun. Laporan keuangan tahun 2022 menunjukkan posisi aset investasi adalah USD 59,31 miliar alias Rp 889 triliun. Dari nilai tersebut yang ditempatkan melalui skema utang piutang yaitu berupa obligasi (bond) adalah USD 1,1 miliar (Rp 16 triliun) dan domestic fixed income USD 2,8 miliar (Rp 42 triliun). Total penempatan investasi berskema utang piutang (yang termakan inflasi) adalah USD 3,9 miliar alias 6,6% dari total aset investasi.  Selebihnya  penempatan pada aset yang tidak termakan inflasi. Target imbal hasil investasi HMC adalah 5%-5,5%  dari nilai pasar. Pencapaian tahun 2022 adalah 4,2%.
  15. HMC adalah pengelola dana abadi terbesar dunia. Mestinya ini menjadi benchmark bagi LPDP sesuai dengan visinya. Namun kenyataannya, sampai saat ini LPDP menempatkan seluruh aset investasinya dengan skema utang piutang yang termakan inflasi. Sementara HMC sebaliknya, sebagian besar asetnya ditempatkan melalui skema ekuitas alias saham yang tidak termakan inflasi. LPDP dan HMC berjalan ke arah yang berlawanan. HMC ke utara LPDP ke selatan. HMC ke timur LPDP ke barat. Seperti larik lagu “Pamit” nya Tulus….. kau menunggu datangnya malam saat ku menanti fajar….

Demikianlah kinerja LPDP.  Visinya mengelola dana abadi. Minimal nilainya tetap. Syukur-syukur bisa tumbuh seperti HMC. Moga LPDP segera bisa memperbaiki portofolio penempatan investasinya. Agar asetnya benar-benar menjadi dana abadi. Bukan dana menguap. Aamin.

Artikel ke-408 karya Iman Supriyono ini ditulis di bangku Kereta Sancaka dalam perjalanan Surabaya-Jogjakarta pada tanggal 19 Juli 2022.

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca Juga:
Dana Abadi Beasiswa ACR: RUPS dan Dividen Pertama

Hayyu x ACR: Perusahaan Dakwah
Peredam Risiko Investasi Wakaf
Wakaf Modern Untuk Keabadian Amal dan Kemerdekaan Ekonomi
Konversi Kotak Infaq ke Kotak Wakaf
Kesalahan Wakaf Saham Dan Perbaikannya
Wakaf Untuk Beasiswa: Fulbright Dari Timur
Wakaf Moncer dengan Puasa Infaq
Wakaf Para Alumni untuk Adik Kelasnya
Wakaf Agar Rp 10 Triliun Tidak Melayang Tiap Tahun
Wakaf Uang
Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Umat dan Bangsa
Korporatisasi: Asal Muasal

Biaya Politik Mahal: Bukan Masalah!


Halaman resmi Federal Election Commision, FEC, menampilkan data dana kampanye pilpres USA tahun 2020 sebagai berikut. Donal Trump menerima total dana kampanye sebesar USD 811 898 514,36. Singkatnya: USD 811,8 juta. Dengan kurs saat ini nilainya setara dengan IDR 12,1 triliun. Sumber dana berasal dari dua kelompok. Dari kontribusi perorangan sebesar USD 486,9 alias IDR 7,1 triliun. Dari kontribusi kepanitiaan resmi sebesar USD 310,3 juta alias IDR 4,6 triliun. “KPU” nya Paman Sam ini menjelaskan bahwa dana tersebut diterima dari 6,7 juta pendonor dengan data detail siapa saja pendonornya dan berapa kontribusinya. Dengan demikian rata-rata tiap pendonor berkontribusi USD 120 ,9 alias IDR 1,8 juta rupiah. Lebih lanjut FEC menampilkan bahwa Trump telah membelanjakan dana sebesar USD 808,8 juta alias IDR 12,04 triliun untuk kepentingan kampanyenya.

FEC menampilkan juta bahwa Joe Biden menerima total dana kampanye sebesar USD 1 074 179 976,03. Singkatnya USD 1,07 miliar alias IDR 15,93 triliun. Kelompok perorangan berkontribusi USD 823,1 juta alias IDR 12,3 triliun. Dari kepanitiaan resmi berkontribusi USD 243 juta alias IDR 3,6 triliun. Dana tersebut diterima dari 11,86 juta pendonor. Dengan demikian tiap pendonor berkontribusi rata-rata USD 91,9 alias IDR 1,4 juta. Lebih lanjut FEC mencatat bahwa Biden telah membelanjakan USD 1,07 miliar alias USD 15,93 triliun untuk kepentingan kampanyenya.

&&&

“Biaya kampanye mahal. Biaya politik mahal. Maka, para pebisnis kaya saja lah yang layak menjadi politisi. Yang layak menjadi anggota dewan. Yang layak menjadi bupati, walikota, gubernur atau presiden”. Ini adalah ungkapan yang sering kita dengar. Dan nyatanya, di negeri ini para pebisnis memang banyak yang maju pada pemilihan umum untuk menjadi pejabat politik.  

Benarkah memang demikian? Mari kita belajar dari negeri yang telah terlebih dahulu mengenal sistem politik demokrasi dengan pemilihan umumnya. Adalah Joe Biden, presiden Amerika Serikat alias USA saat ini. Federal Ellection Commision mempublikasikan laporan tentang dana kampanaye tokoh politik yang pernah jadi wakil presiden ini. 

Perhatikan lagi angka di atas. Bahwa di negeri adi daya ini biaya kampanye juga sangat mahal. Biden menghabiskan Rp 15,93 triliun untuk sukses jadi presiden. Angka ini lebih besar dari rivalnya, Donal Trump, yang membelanjakan Rp 12,04 triliun. Dan, hasilnya seperti yang sudah terjadi saat ini. Biden jadi presiden mengalahkan Trump.

Paling tidak ada tiga pelajaran yang bisa kita ambil dari angka-angka terkait kemenangan Biden tersebut. Pelajaran pertama, bahwa memang benar biaya pemilihan umum itu besar.  Tidak bisa dipungkiri bahwa Biden membelanjakan dana kampanye yang jauh lebih besar dari Trump. Maka, mereka yang memiliki dana besar bisa lebih berharap untuk menang dalam kontestasi demokrasi. Tapi jangan berhenti pada pelajaran ini. Masih ada pelajaran berikutnya.

Pelajaran kedua, politisi itu memperjuangkan kepentingan banyak orang. Tanda sederhana bahwa seseorang merasa kepentingannya diperjuangkan oleh politisi adalah kontribusi finansial. Mari perhatikan sumber dana kampanya jumbo Biden dan Trump. Biden memperoleh dana dari sumbangan 11,86 juta pendonor dengan rata-rata Rp 1,4 juta. Trump memperoleh dana dari 6,7 juta pendonor dengan donasi rata-rata Rp 1,8 juta. Bahwa kemenangan Bidan sudah tercermin dari jumlah orang yang memberikan donasi untuk kemenangan presiden pilihannya. Kemampuan menggalang dukungan finansial dari belasan juta orang tentu tidak main-main. Pelajaran ketiga, bahwa latar belakang pebisnis Trump tidak bisa mengalahkan kemampuan Biden dalam menggalang dukungan finansial dari kalangan masyarakat banyak. Ini menjadi penguat bahwa politisi sejati bukanlah pebisnis yang bermetamorfosis menjadi politisi karena kekuatan pundi-pundi uangnya. Politisi sejati adalah mereka yang memang memilih berkarir di dunia politik sejak muda. Seperti Biden. Bukan seperti Trump. Para pendiri bangsa ini juga bertabur orang-orang yang memilih karier di bidang politik sejak muda. Kelebihan orang yang murni politisi adalah tidak adanya conflict of interest dalam berkeputusan. Tidak ada kepentingan bisnis dalam keputusan politiknya.

Pembaca yang baik, jika Anda adalah politisi, tiga pelajaran di atas bisa menginspirasi Anda untuk meniti sukses karier di dunia politik. Jika Anda pebisnis, lebih baik Anda tekuni karier bisnis. Cukup bantulah kawan-kawan yang berkarir di politik dengan sumbangan dana kampanye.  Anda sendiri tetap fokus di bisnis. Bangunlah korporasi besar seperti pengusaha-pengusaha AS. Seperti Bill Gates yang produknya saya pakai menulis artikel ini. Atau seperti Zuckerberg yang aplikasinya saya pakai untuk menyelesaikan tulisan yang Anda baca ini. Biaya politik mahal bukan masalah!

Tulisan ke-407 Iman Supriyono ini ditulis untuk dan dimuat di Majalah Matan, edisi Juli 2023terbit di Surabaya, dengan sedikit pengeditan

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca Juga:
Sukarno Hatta dan Nafkah Politisi

Haruskah Pengusaha Masuk Politik
Bisnis PCR dan Hipokrasi Pengusaha Masuk Politik
Korporasi Nasionalis Pancasilais
Bank Pengibar Merah Putih di 18 Negara
Pejuang Dulu Pejuang Kini: Samudera Indonesia

Korporasi Pejuang Rupiah
Investor Arab atau Cina
Asing Aseng dan Analosi Sepak Bola dalam Dunia Bisnis

AACo dan Sapi Kurban


Sejarah Australia Agricultural Company, AACo, berawal tahun 1824 dengan berdiri sebagai perusahaan pengembangan lahan bantuan British Parliement Crown Grant seluas 1.000.000 acre (sekitar 400 ribu hektar)  di wilayah Port Stephens, New South Wales. Pada tahun 1831 sapi jantan Shorthorn diimpor dari Inggris untuk mengembangkan bisnis ternak. Pada tahun 1850, meskipun terjadi kekeringan, depresi, dan kehilangan banyak stok, jumlah domba perusahaan telah meningkat menjadi 114.118 ekor.  Jumlah sapi menjadi 8.306 ekor. Jumlah kuda menjadi 1.436 ekor. Selama Perang Dunia I terjadi kekurangan tenaga kerja yang besar terutama untuk produksi wol sehingga perusahaan beralih dari domba untuk meningkatkan produktivitas  ternaknya. Maka dimulailah proses penjualan ladang ternak selatan dan bergerak ke utara, membeli ladang ternak Headingly Station di Urandangie Queensland pada tahun 1916 dan Avon Downs di Northern Territory pada tahun 1921. Pada akhir Perang Dunia Kedua, AACo menjadi perusahaan khusus ternak sapi dan pada tahun 1950-an ternak sapi Santa Gertrudis diperkenalkan.  Pada tahun 1980-an, sapi Braham diperkenalkan ke lahan barudi kawasan Gulf, Australia. Pada tahun 1990, agregasi Goonoo dibentuk dan dikembangkan di Queensland Tengah, dan pada tahun 1994, tempat penggemukan berkapasitas 17.500 didirikan. Juga pada tahun 1994, dilakukan pembelian stasiun penangkaran Austral Downs di Northern Territory. Tahun 2006, AACo membeli peternakan Westholme, yang menandakan langkah serius bisnis daging sapi bermerek. Tahun 2014, AACo membuka Livingstone Beef, sebuah pabrik pemrosesan daging sapi canggih di selatan Darwin. Saat ini, AACo fokus pada produksi produk daging sapi premium untuk ekspor dan konsumsi domestik. Daging sapi kami memberi makan lebih dari 1.000.000 orang di seluruh dunia setiap hari.

&&&

Rp 31,6 triliun. Itulah angka hasil kajian ekonomi kurban yang diselenggarakan oleh Direktorat Kajian dan Pengembangan ZIS DSKL BAZNAS. Kajian yang hasilnya dipublikasikan pada bulan Juni 2022 ini menarik sekali. Bahwa ibadah kurban, sebagaimana juga ibadah-ibadah lain, selalu memunculkan potensi ekonomi. Ibadah haji dan umrah memunculkan bisnis hotel, penerbangan, katering, kain ihram, dan sebagainya. Ibadah salat memunculkan potensi bisnis sajadah, mukena, sarung, peci, dan sebagainya. Demikian juga ibadah kurban. Memunculkan potensi ekonomi yang tidak kecil.

Lebih lanjut kajian BAZNAS menyebut, potensi ekonomi kurban terdiri dari kebutuhan binatang kurban terdiri kebutuhan kambing sebesar 1,6 juta ekor dan sapi sebesar 521 ribu ekor.  Keduanya masing-masing bernilai Rp 9,3 triliun dan Rp 22,3 triliun. Pertanyaannya, siapa yang bisa memerangkap potensi sebesar itu? Data BPS menyebut bahwa nilai impor daging sapi dari Australia tahun 2021 bernilai  USD 389 juta alias IDR 5,7 triliun.

Di atas saya menuliskan sejarah sebuah perusahaan peternakan sapi. Australian Agricultural Company alias AACo namanya.  Sejarah tersebut saya ambil langsung dari web resmi perusahaan yang telah tercatat di Australia Stock Exchange ini. Perusahaan tertua Australia yang masih beroperasi hingga kini ini melaporkan omzet sebesar AUD 662 juta  alias IDR  6,5 triliun. Omzet didukung oleh persediaan sapi yang berjumlah sekitar 382 ribu ekor. Laporan tahunan juga menyebut bahwa ekspor sapi dan daging sapi adalah salah satu sumber pendapatan perusahaan.

Apa yang menarik? Bahkan perusahaan peternakan sapi dengan nilai pasar sekitar IDR 9 triliun itu pun belum mampu memenuhi seluruh potensi kebutuhan sapi di negeri ini. Nilai impor sapi atau daging sapi dari Australia hanya berkontribusi 44% dari total nilai impor sapi atau daging sapi negeri ini.

Apa artinya? Masih ada potensi untuk hadirnya perusahaan peternakan sapi sekelas AACo atau bahkan lebih besar lagi di Indonesia.  Kita mesti belajar dari perusahaan yang tahun lalu mampu menggaji direktur utama (CEO)-nya sebesar Rp 10 miliar ini. Cermati pelajaran-pelajaran penting dari sejarah 199 tahun eksistensi AACo. Pelajaran bahwa membangun perusahaan bukan pekerjaan sehari dua hari. Pelajaran bahwa perusahaan peternakan besar butuh lahan luas ratusan ribu hektar. Pelajaran bahwa dukungan pemerintah terhadap lahan yang luas adalah bagian penting dari fondasi perusahaan. Pelajaran bahwa perusahaan peternakan besar juga membutuhkan modal yang besar yang dikumpulkan dari banyak investor dan karenanya mesti hadir di lantai bursa. Pelajaran bahwa perusahaan besar butuh SDM tangguh sehingga juga membutuhkan gaji yang besar. Dan yang  paling penting adalah pelajaran bahwa bisnis sapi besar tidak bisa dilakukan oleh perorangan.  Hanya korporasi yang bisa melakukannya. Kita juga bisa!

Tulisan ke-406 Iman Supriyono ini ditulis untuk dan dimuat di Majalah Matan, edisi Juni 2023terbit di Surabaya

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca juga:

Sejarah Grameen Bank
Sejarah Bata dan Kalibata Batavile Batanagar
Sejarah Raket Yonex
Sejarah Heinekken Hadir di Indonesia
Sejarah Revlon dan Kepailitannya
Sejarah Korporasi
Sejarah Lions Club
Sejarah Hyundai versus Astra
Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Umat dan Bangsa
Korporatisasi: Asal Muasal
Sejarah Danone Dari Turki Usmani Hadir ke Indonesia
Sejarah Kalsiboard dan Etex Group
Sejarah Embraer si “PTDI” Brazil

Bankziska Grameen


Sejarah Grameen Bank berawal 1976 ketika Prof. Muhammad Yunus meluncurkan proyek penelitian tindakan yang mengkaji kemungkinan merancang sistem pembiayaan kalangan miskin pedesaan. Proyek kepala Program Ekonomi Pedesaan di Universitas Chittagong, Banglades itu dinamai  Bank Grameen. Grameen dalam bahasa Bangla artinya adalah pedesaan  atau desa.

Sebagai proyek penelitian, Grameen Bank beroperasi dengan tujuan-tujuan sosial.  Web resmi Grameen menyebut memperluas fasilitas perbankan untuk pria dan wanita miskin sebagai tujuan pertamanya. Menghilangkan eksploitasi orang miskin oleh rentenir sebagai tujuan kedua. Menciptakan peluang untuk wirausaha bagi banyak bagi pengangguran di pedesaan sebagai tujuan ketiga.  Keempat adalah membawa mereka yang kurang beruntung, kebanyakan perempuan dari rumah tangga termiskin, dalam program organisasi yang dapat mereka pahami dan kelola sendiri. Tujuan terakhir adalah membalikkan lingkaran setan kuno “penghasilan rendah, tabungan rendah & investasi rendah”, menjadi lingkaran kebajikan “penghasilan rendah, injeksi kredit, investasi, lebih banyak pendapatan, lebih banyak tabungan, lebih banyak investasi, lebih banyak pendapatan”.

Program tersebut menunjukkan kekuatannya di Jobra dan beberapa desa sekitarnya sepanjang tahun 1976-1979. Jobra adalah sebuah desa di dekat kampus Universitas Chittagong. Dengan dukungan dari bank sentral negara dan bank komersial nasional, proyek diperluas ke distrik Tangail pada tahun 1979. Tangail adalah sebuah distrik di utara Dhaka, ibu kota Bangladesh. Dengan keberhasilan di Tangail, proyek tersebut merambah ke beberapa kabupaten lain di Banglades. Oktober 1983, Proyek Grameen Bank diubah menjadi bank independen oleh undang-undang pemerintah.

Saat ini Grameen Bank dimiliki oleh kaum miskin pedesaan yang dilayaninya. Peminjam Bank memiliki 90% sahamnya, sedangkan 10% sisanya dimiliki oleh pemerintah. Laporan keuangan terbaru Grameen menunjukkan kinerja yang luar biasa. Posisi aset per 31 Desember 2021 adalah  BDT 295 miliar alias IDR 41,7 triliun.  Ekuitasnya adalah BDT 24,9 miliar alias IDR 3,5 triliun. Dengan demikian sebagai bank angka rasio kecukupan modalnya adalah sekitar 14%. Masih memenuhi syarat jika dipandang dari regulasi perbankan di Indonesia.

Dengan aset tersebut Grameen berhasil mengantongi pendapatan BDT 36,9 miliar alias IDR 5,2 triliun. Membayarkan bunga kepada penabung dan deposan sebesar BDT 17,8 miliar alias IDR 2,5 triliun.  Memberikan gaji dan tunjangan kepada lebih dari 21 ribu orang karyawan dan direksi sebesar BDT 12,5 miliar alias IDR 1,7 triliun. Dengan demikian gaji rata-rata tahunan Rp 80 juta per karyawan. Mencatatkan laba bersih sebesar BDT 493 juta alias IDR 70 miliar. Laba ini menurun jauh dari tahun sebelumnya yang BDT 2,9 miliar alias IDR 409 miliar. Penurunan kinerja tahun 2021 bisa jadi merupakan dampak dari pandemi.

Laporan arus kasnya menyebut dividen sebesar BDT 288 juta  alias IDR 40,7 miliar kepada pemegang saham yang antara lain terdiri lebih dari dari 9,5 juta orang nasabahnya yang. Menerima dana dari penerbitan saham baru sebesar BDT 8 juta alias IDR 1,1 miliar.  Ini menunjukkan bahwa Grameen tumbuh dengan proses yang disebut sebagai korporatisasi. Terus-menerus menerbitkan saham baru. Lebih dari 96% pemegang sahamnya adalah perempuan. Sebuah proses yang biasa dijalani oleh perusahaan berbadan hukum Perseroan Terbatas yang ingin membesar. Apalagi bank adalah perusahaan yang bersifat equity driven. Mustahil tumbuh pesat kecuali terus-menerus mendapat suntikan modal dari para investor yang membeli saham yang terus-menerus diterbitkan.

&&&

UMM Dome awal Ramadhan 1444 Hijriah. Di acara Kajian Ramadhan PWM Jawa timur itu saya bertandang ke stan Lazismu. Ada anjungan Bank Ziska. Informasi dari direkturnya menyebut bahwa Bankziska adalah singkatan dari bantuan keuangan berbasis zakat infak, sedekah dan dana sosial keagamaan lainnya. Buku company profilenya menunjukkan bahwa Bankziska bekerja seperti apa yang dikerjakan oleh proyek riset tindakan Profesor Muhammad Yunus di Bangladesh sebagaimana tulisan di atas.  Program yang mulai berjalan bulan September 2020 di Ponorogo itu itu hingga Februari 2023 telah melakukan 1729 kali pembiayaan dengan nilai IDR 1 miliar lebih. Direkturnya menyebut bahwa dengan konsep pembiayaan tanggung renteng Bankziska dapat menjaga tingkat pembiayaan bermasalah (non permforming finance, NPF dalam istilah perbankan syariah) nol persen. Kinerja awal yang luar biasa untuk sebuah program pengentasan kemiskinan dan jeratan rentenir dengan skema qord al hasan alias pinjaman tanpa bunga.

Bagaimana selanjutnya? Karena telah diawali dengan konsep seperti Grameen Bank, maka langkah selanjutnya juga tinggal copy &  paste. Termasuk format legal dengan badan hukum PT yang sahamnya sebesar 90% dimiliki oleh para nasabah yang semuanya berasal dari kalangan yang butuh bantuan ekonomi. Saham pemerintah di Grameen bisa diganti dengan saham persyarikatan di Bankziska. Jumlah pemegang saham yang terus tumbuh seiring dengan tumbuhnya nasabah bisa diwadahi dengan menjadi non listed public company dalam regulasi di negeri ini. Harapannya, kelak Bankziska akan sekuat Grameen Bank. Bisa!

Tulisan ke-405 Iman Supriyono ini ditulis untuk dan dimuat di Majalah Matan, edisi Mei 2023terbit di Surabaya

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca juga:

Sejarah Bata dan Kalibata Batavile Batanagar
Sejarah Raket Yonex
Sejarah Heinekken Hadir di Indonesia
Sejarah Revlon dan Kepailitannya
Sejarah Korporasi
Sejarah Lions Club
Sejarah Hyundai versus Astra
Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Umat dan Bangsa
Korporatisasi: Asal Muasal
Sejarah Danone Dari Turki Usmani Hadir ke Indonesia
Sejarah Kalsiboard dan Etex Group
Sejarah Embraer si “PTDI” Brazil

Aleksandrovskiy Sad: Menjaga ROA


Moskwa akhir April 2019.  Berada di kawasan sekitar Gereja Katedral Santo Basil adalah seperti berwisata ke masa lalu. Semua yang ada di depan mata adalah bangunan yang telah berumur. Istana Kremlin yang kokoh itu, pusat perbelanjaan, toko-toko, perkantoran, dan semua yang ada adalah karya arsitektural masa lalu.

Wisata ke masa lalu makin terasa ketika masuk stasiun kereta bawah tanah di kawasan Aleksandrovskiy sad alias Taman Alexander. Ornamen di eskalator, lampu-lampunya, lantainya, pilar-pilar bangunannya dan sepanjang mata memandang semuanya adalah hasil karya masa lampau. Membaca sejarah kereta bawah tanah, memang Moscow sudah mulai mengoperasikan kereta bawah tanah pertama kali pada tahun 1935.

Suasana berbeda baru terasa keluar dari stasiun bawah tanah Vystavochnaya di kawasan Moscow City. Semua bangunan baru. Mal, perkantoran, toko-toko, gedung pencakar langit, dan semua yang ada di depan mata adalah bangunan modern. Nuansanya tidak berbeda dengan gedung-gedung pencakar langit yang ada di kawasan Sudirman, Thamrin atau CBD Jakarta.

&&&

Kawasan stasiun kereta bawah tanah Aleksandrovskiy Sad dan Moscow City adalah dua kontras yang menarik. Satu sisi ada sebuah kebijakan kokoh untuk tetap mempertahankan bangunan warisan sejarah lintas abad. Jika hanya memandang ini, maka Moskwa bisa dipandang sebagai sesuatu yang tidak bergerak. Stagnan. Sesuatu yang tidak bisa mengikuti perkembangan jaman modern.

Akan tetapi, Moskwa seolah tidak mau membiarkan kesan itu muncul. Kawasan Moscow City adalah jawabannya. Dari keduanya justru ada sebuah pelajaran sangat menarik. Kemampuan mengikuti perkembangan jaman dilakukan secara bersama dengan kemampuan menjaga warisan sejarah. Ada yang dijaga tetap. Ada yang diubah sesuai dengan selera kekinian.

&&&

Mudahkah menjaga sesuatu agar tetap? Tidak mudah.  Urusan yang terlihat sepele saja kita sulit melakukannya. Misalnya saja adalah menjaga agar ketinggian badan agar tetap. Di Surabaya misalnya, karena ketinggian badan jalan Ngagel Jaya tidak dijaga tetap, rumah pahlawan nasional Cokroaminoto yang berada di sisi timur salah satu jalan utama Surabaya itu kini berposisi lebih rendah dari badan jalan. Akibatnya tentu saja air dari jalan dengan mudah membanjiri halaman dan lantai rumah. Untuk menyelamatkannya tentu harus direnovasi. Jika direnovasi tentu tidak bisa lagi bernilai sejarah seperti bangunan-bangunan di stasiun kereta api bawah tanah Taman Alexander dan sekitarnya. Jadi, walaupun secara konsep kita ini menghargai para pahlawan, tetapi melindungi rumah bersejarah mereka dari genangan air saja tidak bisa.  Nasib bangunan bersejarah di berbagai lokasi negeri ini akan sama dengan nasib rumah pahlawan Cokroaminoto  di Ngagel Jaya Surabaya jika kita tidak mampu menjaga ketinggian badan jalan.

Menikmati terik mentari di sekitar Sint Basil Catedral Moskwa dengan nuansa masa lalunya. Foto pribadi penulis.

Di dunia bisnis, penanda bahwa sebuah perusahaan sudah bisa didorong tumbuh eksponensial adalah ketika perusahaan itu sudah mampu mempertahankan apa-apa yang mesti dipertahankan. Sebagai contoh, fenomena tumbuh pesatnya Warunk Upnormal beberapa waktu lalu. Kini banyak gerainya pada tutup. Mengapa tutup? Tentu banyak alasan. Tapi perjalanan saya dari Moskwa memberi pelajaran penting. Warunk Upnormal tidak mampu menjaga apa-apa yang mestinya dijaga tetap.

Dalam kaca mata konsumen, yang harus dijaga tetap misalnya adalah desain gerai, menu, dan cita rasa, harga, standar layanan dan sejenisnya. Dari kaca mata manajemen, yang harus dijaga tetap adalah apa yang di dunia keuangan disebut return on asset alias ROA. Laba dibanding aset. Ini adalah salah satu penanda bahwa perusahaan telah menemukan Revenue and Profit Driver (RPD).

Misalkan sebuah perusahaan asetnya Rp 100 miliar dengan laba Rp 10 miliar per tahun. ROA 10%. Untuk scale up maka investor menyuntikkan dana misalnya sebesar Rp 50 miliar. Total aset menjadi Rp 150 miliar.  Ekspansi seperti ini akan aman jika perusahaan mampu mempertahankan ROA tetap 10%. Artinya labanya menjadi Rp 15 miliar. 

Misalkan tahun berikutnya investor menyuntikkan dana lagi Rp 100 miliar sehingga asetnya menjadi Rp 250 miliar.  Laba harus menjadi Rp 25 miliar sehingga ROA tatap 10%. Jika perusahaan sudah mampu menjaga ROA, maka jangan ragu untuk tumbuh pesat. Jangan ragu untuk scale up. Seperti hadirnya kota modern di kawasan Moscow City tanpa menghilangkan  warisan sejarah di stasiun kereta api bawah tanah Aleksandrovskiy Sad dan sekitarnya.  Bagaimana jika belum mampu? Jangan paksakan. Lakukan perbaikan dahulu agar tidak seperti tutupnya banyak gerai Warunk Upnormal. Perusahaan Anda bagaimana? Sudah mampu menjaga ROA? Sudah siap tumbuh eksponensial?

Tulisan ke-404 Iman Supriyono ini ditulis untuk dan dimuat di Majalah Matan, edisi April 2023, terbit di Surabaya

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca juga catatan perjalanan inspiratif lainya:
Mie Sedaap Manila
Jamaah Salahuddin: Intangible Asset
Sudu: Miri Municipal Council
Manokwari: Menang Tanpa Pesaing
Moscow: Korporasi USA
Osh: Pasar Tradisional Kyrgistan
Uzbekistan: Agar Rupiah Laku Dimana-Mana
Ho Chi Minh: Kota Tanpa Mal
Pnom Penh: Hyundai
Makkah: Koperasi KPF
Singapura: Totalitas Melayani
Kuala Lumpur: TKI
Anjing Bangkok: Sahabat atau Musuh
Khao San Road: 7 Pagi 11 Malam
Palembang: Kewaspadaan Korporat
Nha Hang: Hijrah Tumbuh Berpresati
Tanjung Selor Tarakan: Cessna Grand Caravan
Simpadan Ligitan: Tuban

ACR x Hayyu: RUPS & Dividen Pertama


Novotel Surabaya, 14 Maret 2023. Ini adalah acara RUPS Hayyu Beauty Clinic. Saya datang sebagai ketua Alkhirrijun Caruban Raya, ACR. Sebuah lembaga dana abadi (dana wakaf) untuk beasiswa adik-adik berprestasi. Alkhirrijun artinya alumni. Hati saya berbunga-bunga karena ini adalah RUPS pertama yang dihadiri oleh ACR sebagai investor.  Pertama karena memang Hayyu adalah perusahaan pertama dimana ACR berinvestasi dengan skema ekuitas. ACR adalah badan hukum legal formal sebagai pemegang saham yang tercatat di anggaran dasar Hayyu. ACR adalah salah satu pemegang saham Hayyu.

Hati saya berbunga-bunga sejak berangkat dari rumah bersama istri tercinta. Ada banyak penyebab saya untuk berbunga-bunga. Paling tidak ada lima. Pertama, sebagai RUPS pertama, ini tentu menjadi milestone luar biasa bagi ACR sebagai organisasi yang baru seumur jagung. Sebagai organisasi yang baru aktif dua tahun lalu. Apalagi ini adalah organisasi yang hadir dari alumni sekolah-sekolah dari sebuah kota kecil Caruban. Milstone bagi sebuah organisasi berbadan hukum perkumpulan yang bercita cita menjadi Fulbright dari timur ini. Ada lebih dari 40 alumni Fulbright yang telah menjadi presiden atau perdana menteri. Ada lebih dari 60 alumni Fulbright yang telah menjadi penerima hadiah nobel. ACR ingin seperti Fulbright.

Alasan kedua, RUPS ini menunjukkan bahwa sebagai investee bagi ACR, Hayyu telah berjalan dengan koridor legal standar korporasi modern. RUPS nya dihadiri oleh notaris setempat. Notaris melakukan verifikasi para peserta sebelum RUPS dimulai. RUPS baru dimulai setelah notaris menyatakan bahwa kuorum sudah tercapai secara sah. Dengan demikian setiap keputusan rapat merupakan dokumen legal yang menjadi fondasi kokoh bagi perjalanan Hayyu ke depan.

Alasan ketiga, sebagai investee bagi ACR, Hayyu juga menunjukkan standar tata kelola perusahaan modern secara finansial. Laporan keuangan yang disampaikan oleh direksi sudah diaudit oleh akuntan publik. Ini adalah laporan keuangan teraudit pertama bagi Hayyu dengan opini wajar dengan catatan.

Catatan satu-satunya adalah bahwa laporan  keuangan Hayyu belum memperhitungkan beban pasca kerja. Perhitungan beban seperti ini mestinya dilakukan oleh seorang aktuaris. Saya sangat mengerti hal ini karena kebetulan anak kedua saya berprofesi sebagai aktuaris.

Wajar dengan catatan satu sisi bukanlah merupakan opini terbaik dari akuntan publik. Opini terbaiknya adalah wajar tanpa perkecualian (WTP). Tapi melihat poin catatannya, ini justru menunjukkan kualitas opini akuntan publiknya. Memang bukan big four. Tapi tidak mengurangi kualitas opininya. Bagi Hayyu, catatan akuntan publik menjadi agenda manajemen tahun depan untuk melibatkan aktuaris dalam proses manajemennya. Dengan demikian tahun depan targetnya adalah WTP.

Standar tata kelola keuangan perusahaan modern juga tercermin dari para pemegang saham yang ada. Dua pemegang saham di luar pendiri adalah sebuah perusahaan investasi berprinsip syariah dan ACR. Sesuai road map Hayyu, kedepan Hayyu hanya menerima pemegang saham berupa perusahaan investasi dan pengelola dana wakaf sampai saat IPO. Ini adalah standar korporasi modern yang tumbuh secara berkelanjutan. IPO akan dilakukan kelak ketika ukuran perusahaan sudah mampu menampung dana IPO belasan triliun Rupiah dengan menerbitkan tidak lebih dari 10% saham. Setelah IPO perusahaan akan terus menerbitkan saham sampai menjadi korporasi sejati yang memiliki tiga karakter: tidak ada pemegang saham pengendali sehingga segala sesuatu murni berjalan secara sistem, menguasai pasar lebih dari 100 negara sehingga omzet dari satu negara berkontribusi tidak lebih dari 1% dari omzet perusahaan, cost of capital 2-3%. Perusahaan seperti ini tidak perlu kuatir terganggu oleh kebijakan ekonomi politik negara manapun.

Alasan keempat, dalam RUPS, Hayyu mempresentasikan business plan tahun ini dan road map perusahaan untuk lima tahun ke depan. Selama lima tahun ke depan, Hayyu telah menuangkan rencana pertumbuhan eksponensial perusahaan dalam hal laba, omzet, aset dan market value. Juga sudah ditampilkan rencana pertumbuhan ROI saham yang dipegang oleh ACR.

Sebagian peserta RUPS Hayyu sedang bercengkerama

Sesuai dengan laporan keuangan teraudit, ROI saham ACR hasil kerja perusahaan tahun 2022 adalah sekitar 6%.  Dalam road map perusahaan sudah disebutkan bahwa ROI itu akan naik sekitar 2x lipat setiap tahun. Dengan demikian rencana ROI sampai 5 tahun ke depan adalah sekitar 12%, 24%, 48%, 96% dan 192%. Pertumbuhan eksponensial itu didorong oleh pertumbuhan gerai yang juga eksponensial secara simultan bersamaan dengan pertumbuhan customer base tiap gerai.

Pertumbuhan eksponensial tidak mungkin terjadi tanpa tambahan modal yang juga eksponensial. Oleh karena itu, dalam road map nya  Hayyu berencana menerbitkan saham sebesar 5% tiap tahun.  Tiap tahun harga saham juga meningkat secara eksponensial seiring dengan kenaikan laba per lembar saham yang juga eksponensial. Dengan demikian Hayyu bisa membangun gerai baru dengan dana jauh lebih besar dari pada  labanya. Inilah yang disebut scale up.

Tidak cukup dengan penerbitan saham. Hayyu terus menjaga rasio utang. Menjaga keseimbangan antara nilai ekuitas yang terdorong oleh penerbitan saham secara terus menerus dengan pertumbuhan utang berskema syariah. Dalam road map nya, tahun 2027 adalah saat dimana perusahaan akan menerbitkan sukuk di lantai bursa untuk pertama kalinya.

Apakah pertumbuhan dalam road map Hayyu aman? sangat aman karena pertumbuhan sudah didasarkan pada satuan-satuan terkecil aset yang disebut sebagai revenue and profit driver (RPD). Di dalam RPD sudah dimasukkan angka tingkat kegagalan yang akurat dan anggaran untuk menanggulangi kegagalan tersebut. RPD juga sudah memasukkan analisis statistik berbasis normalitas data terhadap angka-angka yang menjadi fondasi pertumbuhan.

Apakah road map itu tidak mungkin berubah? Mungkin saja jika ada force majeure tertentu seperti pandemi yang baru berlalu. Tapi Hayyu menjalani pandemi dengan penyesuaian yang alhamdulillah bagus sehingga pandemi pun tetap mencetak laba. Kelak jika ada dinamika bisnis yang brutal seperti pandemi, Hayyu telah berpengalaman dan terus menyiapkan mitigasi risiko yang cukup.

Alasan kelima, ACR akan menerima dividen untuk pertama kalinya. RUPS memutuskan dividen dengan rasio 50% laba. Saat saya menulis artikel ini, dividen sesuai RUPS telah diterima di rekening ACR. Apa artinya? ACR telah mencapai tahap ketiga dari empat tahap siklus lengkap sebagai organisasi dana abadi (dana wakaf) beasiswa. Dana yang dikumpulkan oleh para anggota diinvestasikan sesuai portofolio modern dengan  benchmark endowment fund Harvard Unversity. Juga sesuai dengan benchmark perusahaan-perusaan investasi pada umumnya. Dan bagi ACR, seluruh investasi dipastikan tidak melanggar batasan syariat. Investasi Hayyu ini misalnya adalah dengan skema ekuitas yang berkarakter full profit and lost sharing.

Siklus ACR terdiri dari empat tahap. Tahap pertama dana iuran anggota masuk dalam rekening dana abadi (dana wakaf). Tahap kedua dana abadi (dana wakaf) diinvestasikan sesuai portofolio modern yang berprinsip aman-aman-aman-hasil. Tahap ketiga Hasil investasi dibagi dua: 90% untuk beasiswa dan 10% untuk operasional organisasi. Tahap keempat: para penerima anugerah beasiswa lulus kuliah, bekerja (berwirausaha) dan kemudian berubah status menjadi donatur dengan menjadi anggota ACR.

Tahap keempat dari siklus lengkap masih menunggu waktu. Ada 2 PB-ACR (Penerima anugerah beasiswa ACR) dari 11 PBACR yang kini telah kuliah di tahun pertama. Artinya, jika lancar, 5 tahun lagi kira-kira siklus utuh ACR akan tercapai. Siklus utuh adalah awal dari bola salju dana abadi (dana wakaf). Kakak berprestasi menyekolahkan adik berprestasi. Bukan kakak adik dalam pengertian hubungan darah. Tapi kakak adik dalam pengertian ukhuwah dan kebajikan.  Sahabat di sekolah, sahabat di surga. Itulah tag line ACR. Aamin.

Bagi Hayyu, posisi ACR adalah bentuk teknis dari konsep “Allah SWT menjadi pemegang saham”. Dana yang diinvestasikan ACR berasal dari iuran anggota yang telah diniati sebagai wakaf. Dana wakaf adalah milik Allah SWT. Saya yang bertanda tangan di akta notaris sebagai pemegang saham hanyalah sebagai pengelola. Bukan pemilik dana. Inilah yang menguatkan jati diri Hayyu sebagai sarana beribadah bagi para karyawan dan manajemen. Bukan sekedar mencari uang. Bismillah!

Tulisan ke-403 Iman Supriyono ini ditulis di SNF House of Management, Surabaya, pada tanggal 23 Maret 2023.

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca juga:
Hayyu x ACR: Perusahaan Dakwah
Kumowani: Blunder Nazir Sebagai Start Up
ACR X Hayyu: RUPS dan Dividen Pertama
Wakaf ACR: Fulbright Dari Timur
Wakaf Korporat: Model Bisnis Sociopreneur
Wakaf Uang
RPD: Peredam Risiko Investasi Wakaf
Wakaf Agar Rp 10 T Tidak Melayang Tiap Tahun
Wakaf Alumni: Sahabat di Sekolah Sahabat di Surga
Kesalahan Wakaf Saham dan Perbaikannya
Konversi Kotak Infaq ke Kotak Wakaf
Wakaf Modern: Keabadian Amal dan Pertumbuhan Ekonomi
Penyesalan Pemilik Aset
Investee Wakaf Berkualitas
Beasiswa LPDP: Dana Abadi atau Dana Menguap?
Hayyu x ACR: Perusahaan Dakwah
Peredam Risiko Investasi Wakaf
Wakaf Modern Untuk Keabadian Amal dan Kemerdekaan Ekonomi
Konversi Kotak Infaq ke Kotak Wakaf
Kesalahan Wakaf Saham Dan Perbaikannya
Wakaf Untuk Beasiswa: Fulbright Dari Timur
Wakaf Moncer dengan Puasa Infaq
Wakaf Para Alumni untuk Adik Kelasnya
Wakaf Agar Rp 10 Triliun Tidak Melayang Tiap Tahun
Wakaf Uang
Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Umat dan Bangsa
Korporatisasi: Asal Muasal

Starbucks Saudi: Sang Putri Menyelam


Bagi sebuah perusahaan, logo adalah sesuatu yang sakral. Logo adalah salah satu komponen utama pembentuk intangible asset.  Aset yang bisa diuangkan melalui penerbitan saham baru untuk mendapatkan dana untuk ekspansi dengan biaya modal (cost of capital) 2-3 % (per tahun). Merek adalah aset utama perusahaan.

Yang menarik, makin lama merek digunakan, nilainya juga akan makin tinggi. Ini konsisten dengan konsep classical condditioning dari Ivan Pavlov yang diterapkan dalam upaya branding perusahaan. Perubahan pada atribut merek akan mengganggu pembentukan intangible asset yang dalam konsep Pavlov bermakna sebagai terganggunya jumlah pengulangan.

Tapi terkadang perusahaan tidak bisa ideal. Lihat apa yang dilakukan oleh Starbucks di Saudi Arabia. Logo putri duyung bermahkota dengan rambut terurai panjang tentu tidak akan diizinkan di Saudi. Dan Starbucks harus memilih. Mempertahankan logo dan dengan demikian tidak bisa membuka gerai di Saudi. Atau mengalah dengan tidak menampilkan si putri duyung di mereknya.

Apa pilihan perusahaan gerai kopi terbesar di dunia itu?  Pilihannya adalah mengalah. Sang putri bermahkota mengalah. Caranya? Dengan menyelam ke dalam air. Agar masih terlihat maka menyelamnya masih menyisakan mahkota khasnya. Orang tetap masih mengenali sang putri dari mahkotanya. Selebihnya adalah siluet gelombang lautan berupa garis-garis paralel.

Logo Starbusks Saudi: Sang putri duyung yang menyelam hanya terlihat mahkota di atas gelombang laut.

Dalam branding, logo ditampilkan dengan beberapa versi adalah hal biasa. Kesulitan teknis dalam aplikasi di berbagai media menuntut kreativitas. SNF Consulting, kantor konsultan tempat saya berkarya, juga menerapkan ini pada logonya. Logo asli yang panjang tidak cocok untuk profile picture pada berbagai media sosial atau WA. Maka ada logo versi profile picture untuk ini. starbucks menyikapi regulasi Saudi seperti menyikapi kesulitan teknis ini. Bukan dianggap titik mematikan. Justru memunculkan kreativitas.

Logo SNF Consulting versi thumbnail dengan latar belakang logo versi lengkap.

Hasilnya? Nilai pasar Starbucks hari ini yang USD 113,92 miliar alias IDR 1738 triliun tidak bisa dilepaskan dari strategi mereka di Saudi itu. Tampil di tempat stratejik di halaman utama Masjid Nabawi dan persis di bawah menara jam Makkah tentu tidak bisa dilepaskan dari penguatan merek itu. Padahal nilai buku Starbucks saat ini adalah minus USD 8,70 miliar alias minus IDR 133 triliun. Artinya, nilai intangible assetnya adalah USD 122,62 miliar alias IDR  1872 trliun. Artinya, jika perusahaan menerbitkan saham sebesar 10% saja hari ini, investor akan berbondong-bondong menyetor uang IDR 17 triliun dengan berharap ROI 2,9% (per tahun). Uang murah sekali bagi kerajaan sang putri bermahkota dengan terurai panjang. Anda mendapatkan pelajarannya?

Tulisan ke-402 Iman Supriyono ini ditulis di SNF House of Management, Surabaya, pada tanggal 23 Maret 2023.

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca Juga
RPD Starbucks: Kegagalan Yang Baik
ROI Rubuan Persen Investor Starbucks
Terpaksa Waralaba
RPD Sebagai Peredam Risiko Investasi Wakaf
RPD Sebagai Pedal Gas
Giant Tutup: Sulitnya Menemukan Kembali RPD
Deep Dive Sang CEO Mengamankan RPD
RPD Sebagai Salah Satu Tahap Corporate Life Cycle
Faktor kali alias RPD
Merger Akuisisi Sebagai Transaksi RPD
Funneling Marketing Untuk RPD

Biaya Belajar atau Biaya Kebodohan: Pilih Mana?


Ini adalah pengalaman seorang pendiri perusahaan, sebut saja Suipo. Pengalaman rugi besar karena terlanjur mengambil langkah stratejik untuk perusahaan yang didirikannya tanpa terlebih dahulu memahami ilmunya dengan cukup. Tanpa ilmu yang dipahami sampai terang-benderang. Tanpa ilmu yang dipelajari sampai  laa roiba fiihi dalam terminologi Al Qur’an. Sampai tdak ada keraguan.

Suatu saat Suipo mengikuti Kelas Korporatisasi dan Kelas CEO dari SNF Consulting, perusahaan konsultan tempat saya berkarya. Di kelas ini dipelajari secara simulasi dan studi kasus bagaimana perusahaan menjalani proses langkah demi langkah untuk menjadi sebuah korporasi sejati. Proses yang disebut korporatisasi ini terdiri dari 8 langkah Corporate Life Cycle (CLC). Simulasi dan studi kasus menjadikan 8 langkah yang juga dilalui oleh perusahaan-perusahaan yang kini melayani berbagai negara menjadi terang-benderang. Laa roiba fiih. Tidak ada keraguan.

Dijelaskan juga melalui simulasi dan studi kasus bagaimana proses penerbitan saham secara terus menerus. Kapan mulai menerbitkan saham, berapa harganya, berapa persen penerbitannya, kapan menerbitkan saham lagi, demikian seterusnya sampai menjadi korporasi sejati. IPO hanya salah satu milestone dari perjalanan panjang perusahaan dalam mengukir sejarahnya.

Nah, saat ikut kelas ini, perusahaan yang didirikan Suipo sedang menjalani proses IPO. Karena sudah berjalan tentu saja tidak bisa dihentikan atau dibatalkan. Proses retrukturisasai sebelum IPO sampai IPO menjadikan Suipo tinggal memegang sekitar 30% saham. Proses resturkturisasi pra IPO dan iPO telah mendilusi saham Suipo sebesar sekitar 70%. Praktis perusahaan yang diririkan Suipo telah melalui titik kritis korporatisasi dengan kesalahan fatal. Fatal karena akan sulit dikoreksi. Kalaupun bisa akan memakan waktu yang lama dan biaya yang besar.

Dengan simulasi dan studi kasus di Kelas Korporatisasi, si Suipo dengan mudah memahami hal sangat mendasar dan  ilmiah. Andai saja dia melakukannya sesuai dengan road map dan tahapan yang tepat, dilusi 70% itu akan menghasilkan dana paling tidak  Rp 3 triliun.

Nah, ini menariknya. Mestinya Rp 3 triliun jadinya hanya Rp 70 miliar. Selisihnya, Rp 2,93 triliun itu adalah sebuah kehilangan potensi yang luar biasa. Kehilangan inilah yang disebut sebagai biaya kebodohan.

Sebagai bandingan, Alfamart misalnya. Saham founder saat ini sekitar 52%. Masih belum melalui titik kritis korporatisasi yaitu dilusi 50%. Berapa dana yang telah diperoleh melalui penerbitan saham? Laporan teraudit 2021 menunjukkan angka Rp 2,679 triliun. Ingat, ini pendiri baru terdilusi 48%. Belum sampai 70% seperti si Suipo tadi.

Anda pelaku bisnis? Anda entrepreneur? Anda pendiri perusahaan? Ingat bahwa setiap gerak-beriknya, setiap perusahaan akan dipaksa untuk membayar satu dari dua biaya: biaya belajar atau biaya kebodohan. Dan Anda harus tahu bahwa biaya kebodohan itu jauh lebih mahal dari pada biaya belajar. Ingat pengalaman Suipo. Anda pilih mana?

Karya ke-401 Iman Supriyono ini ditulis di SNF House of Management, Surabaya, pada tanggal 6 Maret 2023.

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca Juga
RPD Sebagai Peredam Risiko Investasi Wakaf
RPD Sebagai Pedal Gas
Giant Tutup: Sulitnya Menemukan Kembali RPD
Deep Dive Sang CEO Mengamankan RPD
RPD Sebagai Salah Satu Tahap Corporate Life Cycle
Faktor kali alias RPD
Merger Akuisisi Sebagai Transaksi RPD
Funneling Marketing Untuk RPD