Berkarya Hingga Akhir Hayat: Tidak Pensiun!


Iqro! Bacalah! Dalam konteks ayat ini, profesi manusia bisa dibagi menjadi 2 yaitu praktisi dan ilmuwan. Praktisi diwajibkan membaca untuk dipraktekkan dalam kehidupan praktisnya keseharian. Contoh: petani membaca buku-buku pertanian untuk diterapkan di sawah ladangnya agar makin produktif. Nelayan membaca buku-buku tentang teknologi penangkapan ikan untuk dipraktekkan pada kehidupan profesi kesehariannya agar makin produktif. Manajer membaca buku-buku manajemen agar bisa mengelola perusahaannya dengan makin efektif dan efisien.

Praktisi wajib membaca untuk dipraktekkan. Lalu siapa yang menyediakan bahan bacaan? Tidak lain adalah para ilmuwan atau akademisi. Tugas mereka adalah terus menerus melakukan penelitian menggali ilmu dan menuliskannya. Kewajiban membaca para praktisi tidak akan terlaksana kecuali ada tulisan para ilmuwan sebagai hasil penelitiannya. Maka, praktisi dan ilmuwan bekerja sama untuk melaksanakan perintah pertama dalam Al Qur’an.

jenazah crop lagi

Pastikan hanya kematian yang menghentikan keasyikan Anda untuk berkarya memberi manfaat bagi sesama. Pastikan pula setelah kematian datang karya itu masih terus memberi manfaat sebagai amal jariyah

Sebagai penulis, saya sangat terinspirasi oleh Peter Drucker. Menurut wikipedia, Ilmuwan manajemen ini sepanjang hidupnya telah 51 buku. Jika dihitung masa produktifnya, rata rata tiap 1,5 tahun pakar manajemen kelahiran 1909 ini menghasilkan 1 buku. Yang lebih menarik, buku terakhirnya terbit pada tahun 2008 padahal pria berdarah Yahudi ini telah meninggal pada tahun 2005. Luar biasa produktif sehingga kalau Anda belajar tentang manajemen, pastilah Anda akan akrab dengan karya Drucker. Bahkan ia seolah sudah menjadi “nabi” ilmu manajemen. Sangat produktif hingga akhir hayat. Andai saja dia seorang muslim…ilmunya akan menjadi amal jariyah yang pahalanya selalu mengalir karena sampai saat ini selalu dipakai dan diamalkan oleh masyarakat seluruh dunia!

•••

Bisnis sukses dan pensiun muda pada umur 40 tahun! Mungkin Anda pernah mendengar juga slogan seperti ini. Mungkin Anda mendengarnya pada sebuah event seminar motivasi entrepreneurship yang penuh gelora. Wajah wajah antusias disana sini. Membayangkan nikmatnya kesuksesan bisnis dan kemudian pensiun pada umur yang sangat muda. Empat puluh tahun!

perusahaan jalan bos jalan-jalan2

Berkarya untuk kemanfaatan bagi sesama sampai akhir hayat

Benarkah pensiun muda menjadi sebuah kabar gembira? Coba kita tengok sejarah para tokoh sejarah Islam. Nabi dan 4 khalifah penerusnya: Abu Bakar, Umar, Utsman dan ‘Ali. Kapan tokoh tokoh besar ini pensiun? Dan…sejarah mencatat, mereka semua tidak pernah pensiun. Mereka mengakhiri karyanya dalam kehidupan dunia ini adalah pada saat ajal menjemput. Bekerja dan berkarya sampai ajal tiba. Itulah kehidupan orang terbaik menurut penghuni bumi maupun penghuni langit. Teladan agung. Terus berkarya sampai kapanpun selama masih ada detak jantung karunia-Nya. Mensyukuri nikmat berupa kesempatan dari Nya dengan memanfaatkannya untuk berkarya.

Jadi, tidak ada konsep pensiun bagi nabi dan para sahabat terbaiknya. Produktif sampai akhir hayat! Drucker yang pakar manajemen melakukan ini dengan sangat baik. Ayah saya di kampung halaman, Hardjo Sentono, saat ini sudah berumur 74 tahun dan juga tetap produktif memelihara sapi, ayam sambil memproduksi brem, jajanan tradisional madiun. Saya menemukan hikmah lain dari orang seperti ayah saya ini: badan dan pikiran tetap prima karena selalu diasah tiap hari. Sampai saat ini ayah masih tangguh bepergian naik sepeda motor berboncengan dengan ibu kesana kemari. Bahkan malam hari gerimis pun masih lincah nyetir berkilo-kilo. Luar biasa!

•••

Nah, pelajaran dari nabi, para sahabat, Peter Drucker, dan ayah saya adalah: tidak ada pensiun! Anda yang para entrepreneur atau profesional bidang tertentu seperti saya yang penulis mungkin akan dengan mudah melakukannya. Lalu…bagaimana dengan para pekerja atau profesional tertentu yang suatu saat harus pensiun seperti notaris, tentara, polisi, pegawai negeri, guru, dan sebagainya? Ada beberapa persiapan yang harus dilakukan.

Cerdas Finansial Spiritual Menghadapi Masa Pensiun, buku karya ke 6 Iman Supriyono, bersama Moh Farid, mantan bupati Lamongan

Pertama adala persiapan kesehatan. Apapun profesi Anda, ada pensiun atau tidak, Anda harus selalu menjaga kesehatan sejak sekarang dengan melakukan pola hidup sehat: makan sehat dan disiplin olahraga. Ini adalah dalam rangka upaya maksimal untuk memastikan bahwa Anda tetap dalam keadaan sehat sampai saat Anda dipanggil-Nya. Agar tetap bisa produktif sampai akhir hayat.
masa jabatan CEO2

Kedua: persiapan aktivitas. Begitu pensiun, seorang tentara tidak aktif di dunia militer, seorang notaris tidak bisa lagi membuat akta, seorang polisi lalu lintas tidak bisa lagi mengatur lalu lintas di jalan. Demikian pula profesi lain yang sejenis. Maka, para pensiunan harus dari awal menyiapkan aktivitas pengganti kala pensiun. Caba pilih dari enam peran ini. Semaksimal aktivitas pengganti ini masih mendayagunakan keahlian yang telah dimiliki dan diasah dari bertahun tahun bekerja di bidangnya. Agar keahlian tersebut tetap bermanfaat untuk masyarakat banyak. Makin hari makin bermanfaat tanpa pernah ada kata menurun!

Ketiga: persiapan finansial. Bagi mereka para profesional atau pegawai, persiapan ini harus dilakukan sejak sekarang. Bahkan mestinya sejak gaji pertama dulu: mengelola gaji dengan rumus 10-10-80. Gaji bulanan dikelola dengan komposisi: 10% pertama untuk sosial keagamaan, 10% kedua untuk investasi persiapan masa depan termasuk pensiun, dan sisanya 80% untuk kehidupan sehari hari.

Ketiga persiapan ini insyaallah akan menjadikan Anda bisa terus berkarya dengan nyaman hingga akhir hayat…..apapun profesi Anda. Ilmuwan atau praktisi. Seperti Drucker, seperti ayah saya…dan ini yang paling penting: Agar seperti Rasulullah dan para sahabat agung khulafaurosyidin. Tetap berkarya dan sehat hingga akhir hayat. Tidak pensiun! Catatan: tulisan ini sebagian besar disarikan dari buku karya ke-6 penulis bersama Moh Farid, pensiunan bupati Lamongan, “Cerdas Finansial Spiritual Masa Pensiun”

Bergabung ke Grup WA SNF Consulting untuk tetap produktif sampai kapanpun

Ditulis oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting. Tulisan ini pernah dimuat di majalah Mulia, terbit di Surabaya

Pemain Band: Logika Asuransi


Saat sekolah SMP di kota kecil 6 kilometer dari kampung halaman, bisa bermain musik adalah salah satu tanda tingginya kelas sosial. Maka, sebagai anak desa tepi hutan yang sederhana, saat itu saya merasa berada di kelas sosial yang berada jauh dibawah Edy, Andri, Arif, dan Sapta. Mereka adalah beberapa kawan pemain band pada acara acara pentas musik di sekolah yang masih saya ingat. Mereka adalah beberapa contoh selebritis. Mereka kelas atas saat itu. Saya? Jangankan membayangkan bermain gitar dan memiliki gitar… bisa membeli sepeda angin untuk pergi pulang ke sekolah saja sudah sangat bersyukur.

Dua puluh empat tahun kemudian kawan kawan SMP mengadakan reuni. Tentu saja sebuah keindahan luar biasa bisa bertemu lebih dari separuh dari sekitar 300 kawan seangkatan. Tampak juga beberapa kawan yang dulu menjadi selebritis sekolah. Keindahan makin sempurna dengan hadirnya beberapa bapak ibu guru yang sekarang sudah sepuh. Berusia lanjut.

Sebagian dari kawan-kawan selebritis sekolah saat SMP

Asyik sekali bersenda gurau dengan kawan masa kecil. Salah satu topik pembicaraan yang sering muncul adalah kabar tentang kawan kawan yang tidak sempat hadir. Nah…dari pembicaraan ini saya memperoleh sebuah kabar penuh hikmah. Seorang kawan yang dulu menjadi pemain musik dan selebriti sekolah (tentu bukan salah satu dari nama yang saya tulis di atas) kini nasibnya berbalik. Saat remaja menajdi selebritis…24 tahun kemudian berada pada kelas ekonomi yang jauh dari selebritis. Bahkan untuk hadir di reuni saja tidak berani karena minder. Perubahan luar biasa: dari selebritis yang sangat pede menjadi orang bawah yang minder.

•••

“Saya Adi usia 36 tahun, jabatan saya sebagai manejer disalah satu perusahaan swasta. penghasilan 8 juta perbulan, anak 3 orang. anak pertama berusia 6 tahun, anak kedua berusia 4 tahun dan yang ketiga berusia 2 tahun. Sekarang banyak tawaran asuransi pendidikan anak, dengan model investasil. saya pengen merencanakan pendidikan anak saya tapi masih bingung. Pilihan perencanaan keungan untuk pendidikan anak itu seharusnya bagaimana?”

Ini adalah pertanyaan seorang pembaca. Kisah tentang kawan selebritis yang kemudian nasibnya berubah drastis menjadi kelas ekonomi bawah bisa memberi inspirasi jawaban. Kehidupan memang terkadang bisa menurun. Tidak selalu datar atau naik. Orang kaya bisa menjadi miskin. Orang sehat bisa sakit. Orang sehat bisa mati. Sering kali sakit dan kematian datang tanpa tanda tanda sama sekali. Diluar dugaan.

Saat risiko seperti itu terjadi, maka tentu terasa berat bagi yang mengalaminya. Maka…tolong menolong menjadi sesuatu yang sangat penting. Di desa-desa, setiap ada warga yang terkena musibah seperti itu, para tetangga berbondong bondong datang membantu. Ada yang membawa beras, gula, kopi, dan tidak jarang juga berupa uang. Model tolong menolong seperti inilah yang di jaman modern ini kurang lebih dilakukan dengan asuransi. Ribuan bahkan jutaan orang dari berbagai penjuru saling tolong menolong dalam menghadapi risiko dan musibah dengan dikoordinir oleh perusahaan asuransi.

Asuransi pendidikan, seperti yang ditanyakan oleh Pak Adi, pada dasarnya bukanlah murni asuransi. Asuransi pendidikan adalah gabungan dari dua hal yang dibendel jadi satu: asuransi dan investasi. Asuransi berfungsi sebagai pelindung alias sarana tolong menolong untuk menghadapi risiko risiko yang mungkin timbul. Persis seperti model tolong menolong yang ada di kampung kampung. Saat ada tetatangga yang sakit atau meninggal, Pak Adi atau Anda para pembaca menolongnya. Ini mirip premi asuransi. Anda tidak sakit atau terkena musibah tetapi mengeluarkan uang. Sebaliknya nanti kalau Anda menghadapi musibah akan ganti ditolong oleh warga kampung. Pertolongan ini persis cairnya klaim asuransi saat Anda menghadapai risiko musibah.

Jika ikut produk asuransi pendidikan, secara periodik Anda harus menyetor uang kepada perusahaan asuransi. Setoaran ini mengandung dua komponen: premi asuransi dan investasi. premi asuransi berfungsi mirip sumbangan kematian warga desa kepada siapapun yang mendapatkan musibah. Uang investasi akan dikelola oleh perusahaan investasi dan ditanamkan pada investasi yang pada umumnya berupa investasi sektor finansial seperti deposito, obligasi, saham atau mata uang asing dengan harapan mendapatkan imbal hasil alias return. Imbal hasil ini sebagian akan diambil oleh perusahaan asuransi sebagai bagi sumber pendapatan perusahaan dan sebagian lainnya akan dikembalikan kepada Anda sebagai bagi hasil. Uang inilah yang nanti akan diberikan kepada putra putri Anda sebagai biaya pendidikan.
Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah drum.jpg

Bukan hanya uang investasi dan bagi hasil yang menjadi hak Anda. Saat risiko terjadi, Anda juga akan mendapatkan uang pertanggungan seperti layaknya jika di kampung halaman Anda mengalami musibah juga akan dibantu oleh tetangga lain. Uang pertanggungan ini akan diberikan bersamaan dengan uang pendidikan yang diperoleh dari investasi. inilah yang akan diterima putra putri Anda saat mereka nanti membutuhkan uang sekolah sesuai dengan program yang Anda ikuti.

Terus bagaimana memilih tawaran dari berbagai perusahaan asuransi dan aneka paket asuransi yang ditawarkan? Pertama yang harus Anda lakukan adalah memilih perusahaan asuransi yang kredibel. Perusahaan asuransi yang amanah. Jangan sampaai keliru karena ini menyangkut kebutuhan dalam jangka panjang. Kebutuhan saat terjadi risiko. Bukan kebutuhan sekarang. Maka Anda harus memastikan bahwa kondisi perusahaan asuransinya benar benar bagus. Cari info mendetail perusahaan asuransi itu: track recordnya, laporan keuangannya dalam beberapa tahun terakhir, pemegang sahamnya, keluhan pemegang polis saat terjadi klaim dan sebagainya. Semuanya dengan mudah bisa diperleh dengan googling.

Bagaimana dengan pemilihan paketnya? Pilihlah yang sesuai dengan kondisi finansial Anda. Sesuaikan juga dengan prediksi kebutuhan dana pendidikan putra putri Anda. Cari titik temu antara keduanya.

Apakah harus berinvestasi di perusahaan asuransi? Tentu tidak. Asuransi tetap dibutuhkan tetapi investasinya bisa saja tidak di perusahaan asuransi. Bisa saja investasi dengan membeli properti secara kredit untuk disewakan misalnya. Karena melakukan dan mengelolanya sendiri, maka Anda tidak perlu memberi bagi hasil kepada perusahaan asuransi. Semua hasil Anda nikmati sendiri. Tetapi tentu membutuhkan upaya dan keahlian tersendiri. Maka….silakan pilih yang paling sesuai dengan kondisi.

Kehidupan selalu naik turun. Persis seperti yang dialami kawan SMP selebritis pemain band dalam pembuka tulisan ini. Seorang selebritis bisa “terbanting” dan turun menjadi kelas paling bawah. Disinilah perlunya tolong menolong. Disinilah perlunya asuransi. Disinilah perlunya investasi. Apapun yang Anda pilih. Ingat kawan SMP saya yang selebritis pemain band. Ambil pelajarannya. Bisa kan?

Tulisan Iman Supriyono ini pernah dimuat di majalah Mulia, terbit di Surabaya sekitar tahun 2012

Atap KRL: Usir!


“Jangan lupa pakai jaket tebal, kacamata hitam dan helm”. Ini adalah tips gurauan seorang kawan saat saya menyampaikan rencana untuk naik KRL-kereta rel listrik- salah satu moda transportasi publik di Jakarta. Tips kawan yang tidak ingin namanya diwebkan ini, katanya, diperlukan untuk mengamankan diri menghadapi suasana kereta. Informasinya tentang sarana transportasi yang kalau di negara negara maju “dibenamkan” di bawah permukaan tanah dan disebut MRT –mass rapid transport- ini sungguh membuat saya makin penasaran. Sangat ingin merasakan bagaimana suasana sebenarnya naik KRL yang selama ini hanya saya ikuti melalui berbagai bahan bacaan ini.

Sebenarnya saya sering ke Jakarta. Tetapi karena rute perjalanan dan jadual selama ini tidak pernah cocok dengan KRL, puluhan kali ke ibukota belum sekalipun berkesempatan menaikinya. Inilah yang bikin makin penasaran.

Maka, tibalah saat yang saya nantikan itu. Suatu pagi berada di kawasan tidak jauh dari Taman Mini. Jam 9 saya punya janji untuk menemui seorang kolega di Depok. Tepat sekali untuk naik KRL. Setelah memastikan lokasi stasiun terdekat maka jam setengah sembilan pagi saya sudah berada di stasiun KRL Tanjung Barat. Segeralah saya menuju loket, membeli tiket, dan menunggu kereta di peron.

Di peron, saya melihat bebera rambu yang menarik. Sepertinya tidak masuk akal. Sebuah papan cukup besar dengan gambar dan tulisan kontras berwarna paduan merah putih dan hitam: “dilarang duduk di atap” , “dilarang naik ke atap”. Sebuah larangan yang mestinya tidak perlu ada. Masak iya ada orang naik kereta dengan memanjat atap.

Beberapa saat menunggu, sebuah kereta dari arah Depok masuk stasiun. Tentu saya tidak naik kereta ini. Saya harus naik kereta yang berarah sebaliknya. Saya hanya mengamatinya. Dan…luar biasa. Kereta penuh sesak oleh penumpang. Lebih seru dari suasana bus antar kota saat menjelang lebaran. Manusia berdesakan di sekujur tubuh kereta. Bukan hanya di dalam gerbong…tetapi juga di atas atap dan bergelantungan di pintu-pintu.

Maka…rambu larangan naik dan duduk di atap kereta sebenarnya memang diperlukan. Rambu ituternyata masuk akal juga heheheh. Tetapi…rambu tinggallah rambu tanpa makna. Orang-orang tetap saja memenuhi sekujur kereta baik di dalam gerbong maupun di atas atap. Sangat Pantas saja kawan tadi menyarankan jaket tebal, kaca mata hitam dan helm untuk naik KRL. Mungkin dia sedang membayangkan saya naik kereta di atas atap hehehe…..

Larangan Duduk di Atap ala KRL Ibukota

Masih ada lagi keanehan lain. Pada sebuah gerbong tertulis besar-besar dan mencolok “Gerbong Khusus Wanita”. Saya perhatikan dengan seksama ternyata banyak pria yang berada di dalamnya. Setali tiga uang dengan rambu larangan duduk dan memanjat atap kereta. Rambu, gambar dan tulisan seolah tidak bermakna sama sekali. Sebuah pemandangan spektakuler di Stasiun KRL Tanjung Baru pagi itu.

Gerbong Khusus Wanita KRL: Para Wanita Harus Mengusir Pria Yang Nyelonong

Sekitar sepuluh menit menunggu, kereta jurusan Depok datang. Begitu berhenti, saya pun segera naik. Kondisnya relatif lengang. Ini terjadi karena jam jam pagi pada umumnya penumpang sedang berangkat kerja menuju pusat kota. Jadi saya naik kereta yang berarah kebalikan dari penumpang pada umumnya. Walaupun keretanya kusam dan lantai kereta sudah pada berlubang, secara umum perjalanan masih nyaman. Lengang. Tidak berdesakan.

•••

Bagi kita, mimpi akan transportasi publik yang bagus paling tidak terkendala oleh dua hal. Pertama adalah kecepatan pemerintah dalam membangun dan merawat fasilitas publik yang jauh tertinggal dari pertumbuhan masyarakat. Jalan bergelombang, bandara penuh sesak, kota-kota besar macet menjadi sesuatu yagn seolah sudah biasa. Ini menuntut peran pemerintah agar lebih baik dalam menerima dan mendayagunakan dana masyarakat secara efektif dan efisien bebas korupsi.

Kedua adalah kultur masyarakat. Saat saya memajang foto gerbong khusus wanita yang ternyata juga disesaki kaum pria seorang kawan alumni Al Azhar Mesir berkomentar. Katanya, jika ada pria yang nyelonong di gerbong wanita, para wanita Mesir akan beramai-ramai mengusirnya sampai keluar. Gerbong wanita pun berfungsi maksimal. Nah, ini yang harus kita tumbuhkan di tansportasi publik kita. Kesadaran untuk tidak menyalahgunakannya. Kesadaran untuk menaati aturan. Dan yang sangat penting, kesadaran untuk beramai-ramai menegur orang yang tidak menaati aturan. Hanya dengan cara ini transportasi publik kita makin lama makin bagus. Menjadi fasilitas publik yang murah, aman, nyaman dan membanggakan. Bukan memalukan seperti sekarang ini. Agar naik kereta tidak perlu memakai jaket tebal kaca mata hitam dan helm seperti saran kawan saya tadi. Maka….jika ada pria yang nyelonong masuk gerbong wanita….para wanita harus beramai-ramai mengusirnya. Seperti di Mesir. Usir!

Tulisan karya Iman Supriyono ini pernah dimuat di majalah BAZ, terbit di Surabaya.

Khao San Road: 7 Pagi 11 Malam


Khaosan Road Bangkok Agustus 2009. Sekitar jam 11 malam waktu setempat, seluruh barang bawaan sudah masuk kamar hotel. Setelah mandi dan badan terasa segar, agenda berikutnya adalah keluar untuk mencari beberapa kebutuhan. Di samping makan malam ada satu lagi kebutuhan pokok manusia modern yang harus saya penuhi: alat telekomunikasi. Memang saya membawa telepon seluler dari rumah. Roaming internasioanal pun sudah saya aktifkan. Bisa menerima dan mengirim telepon maupun SMS. Tetapi, harga roamingnya sangat mahal. Oleh karena itu saya segera mencari cari kartu perdana (SIM Card) prabayar lokal.

Saya pun berjalan menyusuri keramaian Khao san Road. Kiri kanan depan belakang pemandangan nyaris seragam. Para wisatawan bule berbaur dengan para pedagang kaki lima lokal yang menawarkan aneka makanan minuman dan souvenir. Tidak terlalu jauh berjalan, tampaklah sebuah minimarket yang sudah sangat saya kenal: 7 Eleven. Setahu jaringan convenience store global yang kalau di Indonesia mirip Alfamart atau Indomaret ini juga melayani keperluan telekomunikasi seluler. Melayani penjualan kartu perdana mapun isi ulang alias top up.

7 Eleven Khao San Road: Surga Backpacker Bangkok

Maka, saya pun segera saya masuk ke convenience store ini. Ternyata dugaan saya tepat. Petugas menyebutkan angka 100 Baht alias sekitar Rp 30 ribu untuk sebuah kartu perdana keluaran operator seluler lokal. Saya pun segera mengeluarkan uang termasuk untuk tambahan pulsa secukupnya. Maka…komunikasi pun lancar. Jauh lebih murah dari pada membayar biaya roaming internasional!

♦♦♦♦

Oax Cliff Texas pada suatu hari di tahun 1927. Tote’m, sebuah toko yang dikelolah oleh The Southland Ice Company berdiri. Toko ini berkonsep seperti apa yang di indonesia disebut sebagai toko pracangan atau toko kelontong. Toko kecil di kampung kampung yang menyediakan aneka kebutuhan bagi masyarakat sekitar.

Untuk keperluan ini, jam buka toko haruslah panjang. Memperhatikan kebutuhan masyarakat sekitar pada waktu itu, Tote’m buka mulai jam 7 pagi dan baru tutup pada jam 11 malam. Inilah asal usul nama “7 Eleven” yang secara resmi mulai digunakan 1946 dan bertahan hingga sekarang. Kini lebih dari 30 ribu outlet 7 Eleven melayani masyarakat dunia bukan dari jam 7 pagi hingga 11 malam lagi. Sesuai tuntutan jaman, 7 Eleven buka 24 jam nonstop. Di Khao San Road Bangkok saya menikmati layanan toko yang di Thailand franchiseenya adalah group Charoen ini.

Dari Texas, 7 Eleven nonstop 24 jam melayani dunia. Layanan total aneka kebutuhan masyarakat 24 jam: menjual makanan, minuman, sabun, sampo, jasa telekomunikasi termasuk fax, isi ulang pulsa, dll. Jepang, Taiwan, Thailand, Korea Selaltan, China, Hong Kong, Malaysia, Mexico, Singapura, Australia, Philippines, Norwegia, Swedia dan Denmark dilayani 24 jam oleh perusahaan yang kini berkantor pusat di Jepang itu.

♦♦♦♦

Bagaimana di Indonesia? Tampaknya jenis toko ala 7 Eleven juga makin menjadi kebutuhan masyarakat. Semakin padat sebuah kota, makin banyak saja orang yang tidak tidur hingga larut malam. Atau bahkan karena suatu alasan tidak tidur sepanjang malam. Orang orang ini tentu memiliki kebutuhan tertentu yang harus dilayani. Tidak bisa ditunda keesokan harinya. Maka, Indonesia pun makin membutuhkan convenience store yang buka 24 jam.

Di Caruban, kota kecil tempat saya lahir, ada sebuah toko lokal yang buka 24 jam. Bila sesekali pulang mudik dan malam-malam membutuhkan sesuatu, saya datang ke toko ini. Nuansanya persis 7 eleven di Bangkok, Singapura atau Malaysia. Lampunya terang benderang. Produk yang disediakan pun dipilih khas kebutuhan keseharian dalam 24 jam.

Saya tidak tahu apakah toko yang berada di lingkungan pasar Caruban ini pernah ke 7 Eleven di luar negeri atau tidak. Yang jelas, kebutuhan toko seperti ini memang ada. Setiap ada permintaan, selalu saja akan pebisnis yang menyediakannya. Inilah bisnis.

Bagaimana di kota Anda? Saya yakin Anda sangat mengenal Alfamart dan Indomaret. Kedua jaringan toko ini konsepnya sama dengan 7 Eleven. Melayani kebutuhan masyarakat secara maksimal. Beberapa diantara outletnya juga sudah buka nonstop 24 jam. Ini mungkin yang menjadi penyebab tidak atau belum bukanya 7 Eleven di Indonesia. Ada lebih dari 8000 outlet Alfamart dan Indomaret di negeri ini. Sudah cukup kokoh.

Tidak adakah peluangnya? Nampaknya masih terbuka. Kalaupun 7 Eleven belum gencar membuka outletnya disini, beberapa bulan terakhir ini di dekat rumah saya di Surabaya sudah berdiri 2 outlet Circle K, sebuah jaringan convenience store global pesaing 7 Eleven. Convenience store asal Amerika ini masuk ke pasar Indonesia tentu saja karena melihat masih ada peluang. Bagi Anda pebisnis toko kelontong alias pracangan, sudah saatnya melihat peluang ini. Adu cepat dengan 7 Eleven. Buka toko dari jam 7 pagi hingga 11 malam bahkan kemudian 24 jam. Ayo!

Tulisan ini pernah dimuat di majalah Muslim, terbit di Surabaya

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca juga:

Sejarah Korporasi Pisang Chiquita
Sejarah Bata dan Kalibata Batavile Batanagar
Sejarah Raket Yonex
Sejarah Heinekken Hadir di Indonesia
Sejarah Revlon dan Kepailitannya
Sejarah Korporasi
Sejarah Lions Club
Sejarah Hyundai versus Astra
Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Umat dan Bangsa
Korporatisasi: Asal Muasal
Sejarah Danone Dari Turki Usmani Hadir ke Indonesia
Sejarah Kalsiboard dan Etex Group
Sejarah Embraer si “PTDI” Brazil

Surga: Menyatunya Kerja, Ibadah & Bersenang-senang


Di Mega Kuningan, sekali lagi saya merasakan eksotisme ibu kota. Gedung-gedung pencakar langit menjulang rapi. Jalan dan ruang terbukanya elok serasi. Melengkapi kecantikan kawasan monas dan bundaran HI. Sesuatu yang sulit dicari tandingannya. Singapura yang sangat dikenal sebagai kota destinasi dunia pun tampaknya harus rela kalah cantik. Tentu ini adalah kesan pribadi saya yang sore itu berada di sebuah menara perkantoran tidak jauh dari Ritz Carlton, sebuah hotel yang pernah diledakkan oleh mereka yang tidak suka dengan barat. Ritz dan Kuningan pada umumnya adalah salah lokasi favorit para bule dan ekspat di ibu kota.
brosur merger akuisisi1

Tetapi sore itu saya tidak datang untuk mengagumi kawasan mega kuningan. Kedatangan saya adalah untuk bertemu seorang kolega. Ia bekerja pada sebuah perusahaan yang berkantor di kawasan yang kalau dilihat dari foto satelit googlemap memang sangat indah itu. Mendatanginya untuk berbincang santai. Menggali ide segar untuk bisnis. Yaa….itulah pekerjaan penulis yang bekerja di kantor konsultan kalau sedang senggang.

Pembicaraan mengalir dengan segar. Segelas iced thai tea menemani kesegarannya. Ada banyak inspirasi muncul. Salah satunya adalah sebuah fenomena menarik pada kolega yang posisinya sebagai general manager ini. Sudah sekian tahun terakhir ini perusahaan tempatnya bekerja dalam kondisi yang sangat sulit. Jangan bayangkan ada kemakmuran sekelas gedung gedung pencakar Kuningan. Sekedar gaji pun sulit. Tetapi ia ini tetap setia. Mengerjakan setiap urusan perusahaan dengan sepenuh tanggung jawab. Menghadapi setiap kesulitan dengan profesional. Sepenuh loyalitas. Tanpa berhitung rupiah. “Saya sendiri juga tidak tahu”, itulah pengakuan terhadap loyalitasnya yang luar biasa ini. Ia memang tidak bisa menyebutnya dengan jelas. Tetapi saya menangkap adanya sebuah nilai indah. Ya…sebuah nilai. Value.

••••

Riscon. Sebuah corporate brand yang pas ditinjau dari kacamata keunikan. Mudah dihafal. Bukan nama pasaran. Rasakan bedanya misalnya dengan nama-nama seperti ini: Abadi Sukses Sentosa, Bahtera Guna Sejahtera, Ekajaya Multiperkasa, Garda Surya Sakti dan nama nama perusahaan pada umumnya. Riscon sangat distinctive.

Riscon memang beda. Tetapi kali ini saya tidak sedang ingin menulis tentang nama. Saya justru ingin menulis tentang pengalaman bekerja dengan team manajemen Riscon dalam posisi saya sebagai personil SNF Consulting, kantor saya. Mereka pada umumnya punya loyalitas yang sangat tinggi kepada perusahaan. Bekerja nyaris tiap hari sampai larut malam dengan penuh semangat. Tanpa hitungan rupiah. Bahkan pada hari libur pun. Mencurahkan seluruh energi untuk kejayaan perusahaan. Untuk kejayaan bersama. Sesuatu yang kini telah dirasakan dan akan terus ditingkatkan.

Bersama Team Riscon: Ketika Bekerja, Beribadah dan Bersenang-senang Sudah Tidak Terbedakan

Apa rahasianya? Setelah sekian lama bergaul intensif lewat berbagai kesempatan rapat maupun di luar rapat, saya menemukan sebuah kata kunci: surga! Oooh…ada surga pada sebuah perusahaan yang bergerak sebagai pengembang perumahan? Pada sebuah perusahaan yang bermarkas di Jakarta yang dikenal dengan kehidupan dan persaingan yang super keras?

Justru disitulah sumber loyalitas itu. Pendiri Riscon yang memang saat kuliah adalah aktivis masjid kampus sangat menekankan kata kunci ini. Jalan berpikirnya sederhana. Jika ingin perusahaan maju, personil harus bekerja dengan sepenuh kekuatan. Dengan sepenuh waktu. Konsentrasikan seluruh energi untuk mencapai perusahaan yang unggul. Tanpanya perusahaan akan tergilas oleh roda persaingan yang sangat sangat keras. Jakarta boow….

Dalam kondisi bisnis yang keras, semua karyawan tetap ingin menggapai sukses di akhirat. Sementara waktu mereka telah habis untuk perusahaan. Maka tidak ada cara lain kecuali perusahaan didesain agar sekaligus menjadi jalan bagi para personilnya untuk menggapai sukses akhirat. Bekerja di perusahaan sebagai ibadah. Menggapai surga. Khas Riscon. Se-khas namanya.
Logo SNF Consulting dengan tag line studi kelayakan

Bentuk konkritnya? Memulai aktivitas pagi dengan tadzarus Al Qur’an di mushola, suara adzan dari mushola diperdengarkan ke setiap ruangan, seluruh karyawan dari office boy sampai dirut berbaur dalam barisan rapi setiap waktu adzan berkumandang, disediakan ustadz untuk memfasilitasi pengajian rutin intensif seluruh karyawan…dan masih banyak lagi. Itu yang sifatnya ritual formal. Yang lebih esensial? Kejujuran, keterbukaan, dan menjaga kepercayaan. Ini selalu ditunjukkan dan ditekankan pada setiap aktivitas bisnis keseharian. Maka…loyalitas pun berada pada titik tertinggi. Seluruh karyawan bekerja sepenuh hati. Menggapai kemakmuran di dunia…sekaligus beribadah menggapai surga-nya. Prestasi bisnis moncer… kehidupan religi memuncak.
ajal entrepreneur2

Bekerja dengan loyalitas penuh. Bekerja dengan totalitas. Kolega di keindahan pencakar langit Kuningan memilikinya. Kawan-kawan Riscon merasakannya. Perusahaan Anda memilikinya juga? Gapai dunia akhirat dalam satu paket.  Berjuang untuk kejayaan umat dan bangsa untuk mencapai ridha-Nya melalui perusahaan tempat kita beraktifitas. Di hiruk pikuk kerasnya kehidupan…..ada jalan menuju kemuliaan abadi. Jalan keutamaan. Surga!

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Baca juga: Perusahaan dakwah

Ditulis oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting. Tulisan ini pernah dimuat di majalah Matan, terbit di Surabaya, dengan ditambah dan diedit kembali

Rp 3 M: Mas Kawin Sang Teladan


Apa maskawin yang paling populer di sekitar Anda saat ini? Saya yakin Anda akan menjawab ini: seperangkat alat sholat. Ini pulalah jawaban jamaah pengajian di halaman masjid kampus Unmuh Ponorogo pagi itu. Saya mananyakannya dari mimbar yang persis membelakangi masjid. Sebuah kesempatan pada acara rutin mingguan yang selalu dihadiri oleh dua ribuan jamaah.

Pertanyaan lanjutannya: kenapa memilih seperangkat alat sholat? Jawaban standarnya: karena ingin menjadi kelaurga yang sakinah mawaddah wa rohmah. Pasangan suami istri manapun tentu mengharapkan ini. Seperangkat alas sholat diharapkan menjadi simbul visi bersama untuk mencapainya. Semangat berdua untuk tujuan yang mulia dunia akhirat.

Sekarang coba pertanyaan ini Anda jawab: pasangan siapa yang sepanjang sejarah umat manusia bisa menjadi teladan dalam mencapai sakiah wawaddah wa rohmah? Saya yakin jawabnya juga akan kompak: Muhammad SAW dan Khodijah Al Kubro.

Pertanyaan lanjutan untuk Anda: apa mas kawin pasangan Muhammad SAW Khodijah al Kubro saat menikah? Nah…menurut Syafi’i Antonio dalam bukunya Muhammad Supermanager Superleader maskawinnya adalah 100 ekor onta dan 2 kg emas. Jika dinilai dengan uang sekarang, onta muda besar jantan harganya sekitar Rp 25 juta. Emas per gram anggap saja Rp 250 ribu. Maka total onta senilai Rp 2,5 Milyar dan Emas Rp 500 juta. Total maskawin senilai Rp 3 Milyar. Itulah teladan dari keluarga yang diakui oleh penghuni bumi dan langit sebagai keluarga sakinah mawaddah warohmah. Bukan seperangkat alat sholat.

Maka…Anda para gadis atau yang memiliki anak gadis, nanti kalau ada calon suami atau calon menantu bertanya tentang mas kawin, jawab saja begini. Wahai calon suami/menantuku, tentunya engaku mengiginkan keluarga sakinah mawaddah wa rohmah seperti keluarga Muhammad SAW dan Khodijah Al Kubro. Maka untuk urusan maskawin, kalian bertanyalah pada para ulama apa maskawin sejoli idola dunia akhirat itu. Contoh saja maskawin itu ndak perlu ditambah tambah. Hehehehe…. para hadirin yang memadati halaman kampus itu pun pada ketawa lebar

•••

“….Saya Adi di Malang punya anak Putri berumur 6 tahun daputra 3 tahun. Saya sebagai bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil. Melalui rubrik ini saya ingin bertanya: bagaimana cara membimbing anak-anak kami agar kelak nanti mereka bisa cerdas secara finansial. Apa yang harus kami lakukan?”. Kisah tentang maskawin Nabi di atas bisa menjadi inspirasi bagi pertanyaan salah seorang pembaca majalah ini.

Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah onta-kawanan.jpg

Maskawin nabi: 100 ekor onta alias kendaraan terbaik ketika itu plus 2 kg emas

Sungguh, tulisan di atas serius. Jadi kalau ingin kelaurga sakinah mawaddah wa rohmah, meneladani Nabi adalah kuncinya. Meneladani kelaurga nabi adalah kuncinya. Meneladani proses pernikahan nabi adalah kuncinya. Dan tentu….meneladani maskawin pernikahan juga bagian dari kuncinya.

Mungkin Anda, khusunya para pemuda, akan keberatan. Uang dalam ukuran juta saja rasanya sudah berat bagi seorang pemuda lajang. Apalagi harus ukuran milyard. Tiga milyard lagi. Tentu sangat berat. Benarkah memberatkan? Saya yakin kisah pernikahan Muhammad SAW itu bukan tanpa pelajaran. Setiap detik kehidupan teladan agung ini adalah pelajaran bagi kita para pengikutnya. Maka…pelajarannya adalah bagaimana saat masih pemuda umur 25 tahun bisa memberi maskawin dengan nilai Rp 3 M. Pelajaran berharga tentang pendidikan anak. Muhammad SAW memulai belajar mencari nafkah saat umur sekitar 8 tahun. Mencari nafkah dnegan memelihara kambing dalam bimbingan pamannya.

Saya pernah bertanya ke kawan-kawan ITS yang sangat menguasai matematika untuk menghitung. Seorang anak pada umur 8 tahun membeli sepasang kambing jantan betina dari uang saku yang dikumpulkannya. Kambing itu dipelihara dan beranak pinak tanpa disembelih atau dijual. Pada umur 25 tahun, si anak menikah. Bisakah anak ini membayar maskawin senilai Rp 3 Milyar? Hitungan matematika dengan memperhatikan seluruh risiko termasuk sakit, mati dan mandulnya kambing menjawab kompak: Bisa. Bahkan: keciiiiil….

Maka…jawaban untuk pertanyaan pak Adi adalah: ajari anak anak untuk mencari nafkah dengan cara sederhana sejak dini. Apa saja yang penting tidak membuatnya merasa terbebani. Seandainya hidup di desa, memelihara dan menggembalakan kambing adalah aktivitas sederhana yang menghasilkan uang sekaligus sangat menyenangkan. Kita bisa mencari cara lain sesuai dengan situasi dan kondisi sekitar.

Sejak kapan? Sejak umur 8 tahun kalau meneladani Muhammad SAW. Bahkan pada umur 12 tahun beliau belajar berdagang ke Syam. Sebuah negeri yang jaraknya sekitar 3 bulan pejalanan naik onta saat itu alias sekitar 2 jam dengan pesawat terbang jaman sekarang. Inilah pelajaran keteladanan Muhammad SAW yang pagi itu saya sampaikan di halaman masjid kampus terbesar di Ponorogo. Pelajaran untuk pak Adi pembaca majalah ini. Pelajaran untuk kita semua: berbisnis sejak dini dan memperluas cakrawala perdagangan ke luar negeri. Jauh meninggalkan negeri dan kota kelahirannya di Makkah. Rp 3 M untuk meneladani Muhammad SAW ….bukan dengan seperangkat alat sholat…..bisa kan?

Tulisan Iman Supriyono ini pernah dimuat di majalah Mulia, terbit di Surabaya

FSQ: Mengapa Financial Spiritual Quotient?


Seorang tokoh pendidikan anak nasional ditangkap polisi. Demikianlah berita mengejutkan pada saat saya sedang asyik menyelesaikan tulisan untuk buku ini. Tokoh yang identik dengan sekolah belasan cabang ini ditangkap karena dilaporkan telah menggelapkan beberapa mobil milik relasinya.

Anak sulung saya yang baru saja masuk kelas 1 SMP benar-benar terkejut. Ia setengah tidak percaya bahwa tokoh yang sangat dikenalnya ini ditangkap polisi. Ia heran, orang yang selama ini dikenal sangat baik dan selalu tampil menarik di media yang dibacanya ini bisa ditangkap polisi atas dugaan kasus kriminal.

Saya pun heran, bagaimana mungkin orang yang sudah membangun dan merintis karir puluhan tahun sejak mahasiswa bisa terperosok pada sebuah permasalahan berat. Permasalahan yang kemudian menyebabkannya menjadi tahanan polisi. Rasanya tidak logis. Susah-susah membangun karir bertahun-tahun, seketika hancur begitu saja.

Informasi dari koran, tokoh ini diduga telah salah dalam mengambil keputusan keuangan. Kesalahan keputusan yang berakibat kerugian yang tidak sedikit. Sampai-sampai rumah tinggalpun harus dijual. Terpaksa tinggal di rumah kontrakan. Luar biasa.

Kecerdasan finansial dibutuhkan dimanapun oleh siapapun. Seorang guru membutuhkan kecerdasan finansial baik ketika ia di sekolah maupun ketika di rumah. Seorang polisi membutuhkan kecerdasan finansial baik ketika sedang menjalankan tugasnya maupun ketika sedang bercengkerama bersama keluarga. Seorang eksekutif perusahaan membutuhkan kecerdasan finansial baik ketika sedang membuat keputusan bisnis, ketika sedang bermain golf bersama koleganya, ataupun ketika sedang berada di supermarket untuk keperluan pribadinya. Seniman, atlet, dokter, dosen, pejabat, jaksa, hakim, pengacara, pedagang beras, pedagang bakso keliling, investor, bankir, konsultan dan profesi apapun membutuhkan kecerdasan finansial.

Setiap hari, sadar atau tidak, Anda pun selalu membuat keputusan-keputusan finansial. Membeli mesin produksi, membeli teknologi informasi, mereparasi komputer, membeli tanah, membeli bangunan, membayar premi asuransi, membangun perusahaan baru, membeli makanan, membeli pakaian, naik pesawat, dan masih banyak lagi adalah sekedar menyebut beberapa contoh keputusan finansial. Anda bisa memutuskannya untuk keperluan perusahaan yang Anda miliki, perusahaan tempat Anda bekerja, kantor pemerintah tempat Anda berkarya, yayasan masjid yang Anda kelola, sekolah tempat Anda mengajar, dan juga sudah tentu keluarga Anda. Semuanya akan menanggung akibat atau merasakan manfaat dari keputusan finansial yang Anda ambil.

Berita lain menyebutkan: dua puluh dua kasus korupsi berpotensi merugikan negara Rp 2,72 Trilyun (headline Bisnis Indonesia, 23 Mei 2005). Koran bisnis ternama ini kemudian memberikan beberapa contoh kasus yang membentuk angka 2,72 Trilyun Rupiah ini: Investasi reksa dana PGN, pengadaan barang Indofarma, jasa konsultasi SDM di PT AP I, sewa crane di JICT, kelebihan pembayaran ke pejabat PELINDO III, pengadaan customer information system PLN, pembelian kapal Korea ASDP, Pengadaan TI BRI, pembelian gedung SIEMENS oleh Pupuk Kaltim, pengadaan kapal Caraka Jaya Niaga III Jakarta Lloyd, pengadaan dua unit kapal tunda Pelindo II dan sebagainya. Bahkan koran ini juga menyebutkan bahwa terdapat penyimpangan Biaya Haji Rp 59,88 Milyar.

Data yang diekspos koran bisnis ini terjadi pada perusahaan-perusahaan pelat merah. Yang menarik, yang disebut adalah nama perusahaan-perusahaan yang kapitalisasinya sangat besar di bidangnya masing-masing. Artinya, korupsi merupakan penyakit yang menjangkiti pelaku bisnis utama negeri ini, bukan pelaku pinggiran.

Bagi kita, menyadari adanya sebuah penyakit merupakan modal dasar. Para dokter menyarankan agar kita melakukan general check up. Sebisa mungkin secara rutin setiap periode tertentu agar apabila ada penyakit bisa diketahui secara dini. Dengan demikian bisa dilakukan terapi secara dini sebelum penyakitnya menjalar dan membahayakan tubuh.

Demikian juga dengan penyakit perusahaan. Organisasi bisnis apapun, tidak peduli milik pemerintah ataupun milik swasta bahkan perorangan juga perlu dideteksi secara dini. Berbagai informasi tentang aneka korupsi di perusahaan BUMN juga merupakan deteksi dini terhadap penyakit perusahaan. Bahkan, karena BUMN masih menjadi porsi besar dalam kapitalisasi perusahaan di negeri ini, penyakit yang telah terdeteksi di BUMN juga memberi harapan baru akan upaya penyembuhan. Penyembuhan yang berhasil juga berarti bangkitnya negeri ini dari aneka macam keterpurukan ekonomi yang selama ini diderita.

Dalam waktu yang kurang lebih bersamaan, wacana tentang good corporate governance juga mulai mengemuka. Para praktisi bisnis di perusahaan-perusahaan terkemuka dunia benar-benar sadar tentang pentingnya mengelola perusahaan dengan cara yang baik. Mengelola perusahaan dengan standar etika dan hukum.

FSQ adalah sebuah konsep aplikatif yang didesain untuk membantu Anda memahami mekanisme finansial dari setiap keputusan Anda. Bukan sembarang mekanisme finansial, tetapi mekanisme finansial yang ditempatkan di atas landasan kokoh kecerdasan spiritual. Konsep ini akan membantu Anda untuk memahami aspek finansial spiritual dari setiap keputusan Anda.

FSQ memang mengukur kapasitas individu dalam membuat keputusan yang berkonsekuensi finansial. Sungguhpun demikian, tidak ada keluarga, perusahaan, organisasi, pemerintah daerah, atau negara yang maju dan kokoh kecuali didukung oleh individu-individu berkualitas. FSQ adalah pembelajaran menjadi individu berkualitas di berbagai posisi.

FSQ karya ke-4 Iman Supriyono: Mengapa Kecerdasan Finansial Spiritual? Mengapa Financial Spiritual Quotient?

Salah satu bahasan penting dalam buku ini adalah tentang perhitungan numerik untuk mengukur FQ seseorang. Bila Anda pernah membaca buku saya terdahulu, mungkin Anda bertanya- tanya, mengapa perhitungan FQ dimasukkan kembali pada pembahasan buku ini? mengapa tidak menggunakan rumusan terdahulu saja?

Perlu Anda ketahui, rumusan pengukuran FQ memang senantiasa saya kembangkan dari waktu ke waktu melalui aplikasi dan penelitian terus-menerus. Rumusan pertama kali muncul pada buku pertama saya yang berjudul Meningkatkan Kecerdasan Finansial si Buah Hati. Rumusan pertama ini kemudian saya kembangkan dan sempurnakan dalam buku Persiapan Finansial Menjelang Pernikahan.

Rumus pada buku kedua ini memang sudah lebih sempurna dari pada rumus pada edisi pertama. Namun demikian, baik rumus pada buku pertama maupun buku kedua masih belum menggunakan rumusan numerik matematis yang kontinyu. Keduanya masih menggunakan angka indeks yang diskrit.

Pada buku ketiga, Cerdas Finansial dirumah dikantor dan di masjid, saya sudah menggunakan rumus matematis numerik dan kontinyu. Rumus pada buku ketiga ini memang sederhana dan cukup memenuhi kebutuhan pemahaman tentang bagaimana seseorang mengukur kecerdasan finansialnya.

Namun demikian, seiring dengan aplikasi yang saya gunakan ketika menghadapi klien di kantor saya, SNF Consulting, ternyata rumusan ini masih mengandung kelemahan yang harus disempurnakan. Untuk maksud inilah buku yang sedang Anda baca ini muncul dengan penyempurnaan rumusan numerik pengukuran FQ.

Kelemahan rumusan FQ pada buku ketiga ketika diaplikasikan di lapangan adalah pendekatan laba rugi yang kurang fleksibel. Kurang fleksibel terutama untuk kepentingan simulasi dalam training FSQ. Untuk keperluan itu, rumus pada buku ketiga ini telah disempurnakan dalam buku ini.

Penyempurnaan ini telah diaplikasikan dalam setiap kesempatan yang ada baik dalam training FSQ maupun ketika menghandle perusahaan klien SNF Consulting. Dengan demikian, perhitungan FQ yang digunakan dalam buku ini adalah rumus numerik yang sudah diaplikasikan dalam kurun waktu hampir tiga tahun setelah terbitnya buku yang memuat rumus generasi terdahulu.

Diambil dari pendahuluan buku FSQ (Financial Spiritual Quotient) karya Iman Supriyono, yang juga menjadi materi training FSQ yang sudah terlaksana lebih dari 100 angkatan di dalam dan luar negeri

Teri: Negeri Bahari Importir Ikan


Ayah saya pernah bercerita. Pada masa kecilnya, kondisi ekonomi serba sulit. Salah satu kisah kesulitannya adalah justru khas anak anak. Bila sesekali pergi ke pasar, ibu nya-nenek saya- tetap pingin menyenangkan anak-anaknya dengan oleh oleh seadanya. Oleh oleh ini bisa menjelaskan tentang betapa kesulitan hidup waktu itu.
Sebungkus ikan teri asin mentah. Itulah oleh-oleh yang dikenang oleh ayah. Di sini justru terdapat gambaran sempurna tentang kesederhan orang-orang yang tinggal di sebuah pedesaan kabupaten Madiun yang jauh dari pantai. Saya sendiri baru pertama kali melihat laut pada saat akhir kelas 6 SD saat mengikuti rombongan pariwisata sekolah naik truk barang ke pantai Popoh Blitar.

Mungkin Anda akan segera bertanya. Ikan teri mentah sebagai oleh oleh-oleh? Terus bagaimana menikmatinya? Kata ayah, selain ikan teri, nenek akan membeli seikat merang (tangkai bulir padi) kering. Di rumah, merang itulah yang akan diguanakan untuk membakar ikan teri . Tinggal ambil korek, nyalakan apinya, bakar ujung merang, api menyala, ikan teri ditaruh di atasnya. Beberapa saat kemudian, ikan teri bakar siap disantap. Sebuah kenikmatan yang luar biasa bagi ayah jaman itu. Sekitar 60-an tahun yang lalu



Selasa, 22 Pebruari 2011. Pagi ini saya bersedih lagi untuk kesekian kalinya saat membuka halaman 6 harian Bisnis Indonesia. Indonesia mengimpor ikan teri dan lele. Bagaimana tidak bersedih. Sebauh negeri yang lautnya sangat luas ternyata adalah importir ikan laut. Asal impornya dari Malaysia, Myanmar, Pakistan. Total volume impor adalah 143 ribu ton pertahun alias sekitar 2,5% total kebutuhan ikan nasional.

Bukan hanya itu. di samping kiri judul tersebut, Bisnis Indonesia juga memuat tulisan berjudul “Karut Marut Sektor Pergaraman Nasional”. Pada tulisan itu harian bisinis terkemuka nasional ini memuat data detail tentang industri garam. Fakta yang menyedihkan: bangsa kepulauan ini ternyata adalah importir garam. Pad tahun 2011 ini pemerintah mengalokasikan akan mengimpor garam sebesar 217 ribu ton dari total kebutuhan nasional sekitar 1,2 juta ton.

teri bakar

Teri dibakar dengan merang

Ada banyak variabel yang menjadi penyebab. Salah satunya, sebagaimana analisis di Bisnis Indonesia tadi, adalah kebijakan pemerintah. Sebagai contoh, untuk masalah garam penetapan harga oleh pemerintah adalah Rp 325 per kilogram. Tentu sanggat tidak menarik memproduksi dengan susah payah dan kemudian dijual dengan harga seperti itu.

Tetapi, menyalahkan pemerintah-walaupun pemerintah memang salah- bukanlah sesuatu yang baik bagi para entrepreneur. Yang lebih baik adalah dengan inovasi untuk tetap bisa eksis dengan kondisi seperti apapun. Rp 325 memang kecil. Tetapi coba kalau Anda memiliki lahan garam yang luas dengan menggunakan teknologi modern dan alat-alat berat dengan produksi 100 ribu ton setahun. Dengan angka ini Anda akan mendapatkan omset penjualan Rp 32,5 Milyar setahun. Andai Anda mendapatkan laba bersih 10% saja dari omset itu, setahun masih bisa mengantongi Rp 3,25 Milhyar. Dengan angka ini Anda sudah termasuk kelompok orang orang kaya negeri ini.

Lho terus bagaimana caranya? Justru itu lah PR yang selalu menarik dan menantang bagi para petani garam yang berjiwa entrepreneur. Bila PR ini terkerjakan dengan baik, maka kita tidak akan perlu lagi mengimpor garam. Toh bahan bakunya kan tidak perlu membayar. Cukup mengambil dari laut. Itu pulalah yang dilakukan oleh para petani garam Australia sebagai negara asal impor garam kita. Sangat menyedihkan karena laut yang diambil garamnya oleh Australia sama persis dengan laut kita. Sama sama samudra Hindia!

Membaca angka-angka impor ikan teri dan garam saya jadi ingat kembali kisah ayah tentang oleh oleh ibundanya pada masa kanak-kanak. Ikan teri asin. Andai ayah saya menikmatinya sekarang, beliau tentu akan sangat terkejut. Terkejut karena tahu bahwa ikan teri dan garam pengasinnya adalah produk impor. Oalah…..wong ndeso wae kok jajanane barang impor….. Duh…orang desa saja kok kudapannya makanan impor. Ya Allah…ampunilah kami!

Bagaimana solusinya? Seperti di dunia peternakan di link ini.

Tulisan karya Iman Supriyono ini pernah dimuat di majalah BAZ, terbit di Surabaya

Mantap Ndak Kuliah: Entrepreneur dari SMK


Mantap Ndak Kuliah

oleh: Iman Supriyono, konsultan dan penulis buku buku bisnis pada SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com

Seperti biasa, sekitar seperempat jam sebelum jam-J, saya sudah datang. Kali ini saya ada janjian di sebuah restoran dengan seseorang yang belum pernah ketemu. Lewat SMS, seseorang yang memperkenalkan diri sebagai Nungki ini adalah pembaca buku tulisan saya, Guru Goblok Ketemu Murid Goblok. Ia ingin diskusi lebih lanjut tentang buku ke-7 saya itu.

Sambil menunggu, saya memesan minuman dan menyalakan laptop. Karena sedang dalam detik-detik terakhir deadline penulisan buku, sore itupun saya langsung membuka file dan menambhkan tulisan di beberapa bagian buku. Dengan aktivitas seperti ini saya ndak terlelu peduli si Nungki datang tepat waktu ataupun terlambat. Saya tetap asyik bekerja. Inilah cara saya untuk berdisiplin dalam setiap janjian dengan siapapun tanpa harus kehilangan waktu akibat molornya partner janjian.

Sekitar jam 4 persis seorang remaja berjilbab datang. Setelah saya tanya nama dan keperluannya, ia pun akhirnya duduk. Segelas minuman yang dipesannya kemudian menjadi teman ngobrol santai.

Pertama-tama ia menceritakan jati dirinya. Nungki adalah alumni sebuah SMK di bidang tata busana. Saat lulus sekolah dua tahun lalu, ia memutuskan untuk tidak kuliah. Seluruh keluarganya sebenarnya menentang keputusan ini. Tatepi pilihannya sudah mantap. Uang pemberian orang tuanya yang mesinya bisa dipakai untuk biaya kuliah, sebagaian dipakainya sebagai modal usaha. Sebagian sisanya dipakai untuk biaya kursus busana di lembaga pendidikan busana nasional terbaik.

Ada sesuatu yang menurut saya luar biasa dari sosok Nungki ini. Ia masih muda. Baru lulus SMK dua tahun lalu. Berarti usianya sekitar 20 tahun. Tetapi, jiwanya sangat matang. Keputusannya untuk tidak kuliah di tengah masyarkat yang mengagung agungkan pendidikan formal merupakan sebuah keputusan besar. Saya sebut keputusan besar karena pilihan ini bukan disebabkan oleh masalah finansial. Ia dan orang tuanya bisa membiayai kuliahnya. Tetapi bagi Nungki, kuliah kalah menarik dengan menekuni bisnis yang juga menjadi hobinya di dunia tata busana. Ia memilih mengembangkan usaha di bidang pakaian pengantin.

Di bidang yang ditekuninya,ia sudah punya palanggan yang fanatik. Bukan sekedar membeli untuk dirinya. Para palenggannya banyak yang kemudian memberi referensi kepada orang lain untuk juga menjadi pelanggan nungki. Inilah yang menjadikan gadis komunikatif ini tidak kesulitan pasar. Ini juga yang menjadikan langkahnya untuk menjadi seorang entrepreneur sejak remaja menjadi sangat kuat. Kuliah di perguruan tinggi kalah menarik baginya.

ttt

Pembaca yang baik, hari-hari ini masyarakat mengalamai apa yang saya sebut sebagai sekolah overdosis. Masyrakat berbondong-bondong bersekolah di berbagai jenjang pendidikan. Bahkan perndidikan sarjana saja tidak cukup. Banyak yang rela berkorban waktu uang dan kesempatan dengan bersekolah sampai jenjang master dan doktor. Tidak peduli apapun pekerjaanya.

Lulus SMK menjadi entrepereneur sukses.....bisa!

Ini adalah sebuah kesalahan. Mestinya, pendidikan sarjana, master apalagi doktor adalah diperuntukkan bagi mereka yang memiliki minat dan kapasitas untuk bekereja di bidang akademik. Menjadi ilmuwan. Lihatlah, setiap mashasiswa s1 pada akhir kuliahnya akan diberi tugas membuat skripsi. Untuk keperluan ini , mahasiswa akan membuat sebuah penelitian dan kemdian menuliskannya. Maka, akativitas ini tidak lebih tidak kurang adalah aktivitas ilmuwan. Menemukan sebuah permalahan, membuat hipotesis atau preposisi dengan melakukan studi pustaka, menguji hipotesis atau proposisi dengan penelitian lapangan auapun laboratori, dan kemduian mebuat kesimpulan. Yang seperti ini, sejatinya adlaah proses menemukan sebuah teori baru. Menemukan ilmu baru.

Nah, menemukan teori baru adalah pekerjaan para ilmuwan. Pertanyaannya, mungkinkan semua orang kuliah sarjana dan menjadi ilmuwan? Data statistik menyebut, ada sejuta lebih lulusan perguruan tinggi yang nganggur. Mengapa? Salah satu penyebab pentingnya adalah overdosis sekolah tadi. Kalau memang tidak ada bakat, potensi dan minat yang tinggi untuk menjadi ilmuwan, tidak perlulah sekolah sampai sarjana. Tidak perlu belajar menjadi peneliti. Tidak perlu belajar menghasilkan ilmu. Yang diperlukan adalah ilmu praktis. Ilmu untuk menjadi praktisi.

Masyarat pun tidak membutuhkan banyak ilmuwan. Mungkin sekitar 1 persen penduduk sudah terlalu banyak. Yang penting mereka benar-benar ilmuwan. Tandanya adalah selalu melakukan penelitian dan kemudian menuliskan hasilnya dalam buku sesuai dengan bidang yang ditekuninya. Buku inilah yang nanti akan dibaca oleh masyarakat dan diterapkan sesuai dengan bidangnya masing masing. Ilmuwan yang “memproduksi” ilmu yang bermanfaat untuk masyrakat banyak. Bermanfaat bagi para praktisi.

Nungki telah berada pada jalan yang benar. Ia telah memilih menjadi seorang praktisi. Seorang entrepreneur. Uang pendidikannhya dialokasikan untuk belajr menjadi praktisi. Tidak perlu belajar meneliti melalui skripsi sarjana. Tidak ada gunanya. Sia-sia. Mubadzir. Ia tidak berminat menjadi ilmuawan. Ia ingin dan bahkan sudah menjadi entrepreneur. Ia ingin sukses sebagai entrepreneur di bidang busana pengantin. Sama sekali tidak membayangkan menjadi serang peneliti seperti yang dipelajari saat menulis skripsi. Mantap ndak kuliah. Hidup Nungki!

tulisan ini pernah dimuat di majalah muslim, terbit di surabaya

Kanzen: Jangan Menyerah!


Sebenarnya sore itu saya sudah tidak terlalu antusias untuk pergi. Sampai hari dimana final itu digelar, saya belum mendapatkan undangan untuk datang sebagai finalis. Berarti walaupun malam itu saya berada di arena final, saya hanya ingin tahu siapa yang menjadi finalis kontes pidato berbahasa Inggris Madiun terbuka itu. Hanya ingin tahu pemenang dari lomba yang diikuti oleh para pelajar dan mahasiswa dari Madiun dan beberapa kabupaten sekitarnya itu.

Sepeda motor lah satu-satunya kendaraan yang cocok untuk bepergian malam sekitar 25 km dari desa yang belum ada jaringan listrik seperti saat itu. Apalagi pulangnya tentu sudah larut malam. Di rumah memang ada sebuah sepeda motor. Honda super cup 700 warna merah. Tetapi motor yang sehari hari dipakai kakak itu STNK nya sedang bermasalah. Akhirnya saya pun meminjam motor tetangga. Honda Prima warna hitam. Lebih baru dan lebih gagah.

Sekitar setengah jam perjalanan dengan Honda, saya sudah berada di kota Madiun. Perjalanan sangat lancar. Jadual final lomba masih sejam lagi. Sambil mengisi waktu, saya pun sempat mampir ke rumah kos seorang kawan yang saat babak penyisihan sebelumnya menjadi supporter. Berbincang santai sebelum final dimulai. Bahkan saya sempat membantunya mempelajari beberapa soal fisika. Memanfaatkan waktu sebelum akhirnya tiba di arena lomba dan mendapatkan kejutan masuk top five kejuaraan yang cukup bergengsi kala itu. Walaupun sayang sekali undangan finalis yang dikirim lewat pos itu terlambat datang dan baru datang setelah final berlalu karena desa saya tidak terjangkau pak pos.  Fleksibilitas transportasi yang tidak mungkin dilakukan tanpa sepeda motor.

&&&

Sepeda motor telah menjadi bagian penting kehidupan masyarakat. Di desa yang belum terjangkau fasilitas kendaraan umum, motor telah menjadi nadi ekonomi masyarakat. Apalagi dengan kemudahan fasilitas kredit, motor pun makin terjangkau. Lebih banyak masyarakat yang mampu membeli dan kemudian mendapatkan manfaat yang luar biasa untuk aktivitas kesehariannya.

Pada tahun 2011, lebih dari 8 juta sepeda motor terjual di negeri ini. Memang bagi kota besar, tingginya populasi sepeda motor bisa menjadi penanda rendahnya kualitas transportasi publik. Tetapi bagi masyarakat desa, tingginya angka ini menunjukkan makin menggeliatnya ekonomi dan mobilitas masyarakat.

Helm Pertama: Motor menjadi sarana sangat sangat vital saat merintis kehidupan keluarga sekaligus menjadi mahasiswa teknik mesin ITS. ini adalah helm pertama pelengkap motor itu.

Jika harga rata rata sebuah sepeda motor lebih dari Rp 10 juta, maka angka penjualan tahunan sepeda motor itu berkorelasi dengan omset lebih dari Rp 80 triliun. Tentu bukan angka yang kecil. Pertanyaannya, siapa yang menikmati fulus sebesar itu? Bisa dipastikan mereka adalah merek merek luar negeri: Honda, Yamaha, Suzuki asal jepang adalah tiga besar yang telah bertahun tahun menikmatinya.

Kue sebesar itu selalu dinikmati oleh korporasi asing.  Itulah kenyataan yang sampai saat ini masih terjadi. Bagi yang memiliki semangat untuk menjayakan negeri ini di dunia bisnis, tentu ini sebuah fakta yang meresahkan. Seperti juga keresahan pada hampir semua sektor yang kondisinya serupa.

Bukan berarti sama sekali tidak ada upaya membendungnya. Di dunia sepeda motor, Kanzen yang dibidani oleh mantan dirut Astra Rini Soemarno telah mencobanya sejak tahun 2000. Mengibarkan merek dan desain sepeda motor lokal di tengah dominasi merek Jepang.

Bagaimana hasilnya? Menurut detik.com, pada tahun 2011 Kanzen membukukan penjualan 382 unit. Jauh di bawah Honda dan Yamaha yang masing masing telah membukukan penjualan 4,2 dan 3,1 juta unit. Tampak sekali beratnya kondisi Kanzen. Jika rata-rata harga motor Rp 10 juta, kanzen hanya membukukan angka penjualan Rp 3,8 Milyar setahun. Angka ini tentu jauh sekali dengan investasi ratusan miliar yang telah ditanam untuk membangun perusahaan.

kanzen

Kanzen dan Bu Rini M Soemarno yang mantan Presdir Astra: Jangan Menyerah!

Beratnya kondisi kanzen makin terlihat dari hilangnya situs resmi http://www.motorkanzen.com. Biaya untuk menghidupkan web yang hanya beberapa ratus ribu mestinya tidak terlalu berat bagi sebuah perusahaan yang asetnya bernilai ratusan miliar. Tetapi faktanya web resmi Kanzen saat ini sudah tidak aktif dan bahkan ditawarkan kepada siapa saja yang mau membelinya.

Pembaca yang baik, perjuangan untuk menggeser dominasi asing di sektor sepeda motor memang tidak mudah. Kanzen yang digawangi oleh Rini Soemarno yang mantan CEO perusahaan otomotif besar pun terseok. Bahkan dari berbagai sumber web, banyak SDM Kanzen yang jebolan berbagai industri otomotif nasional.

Lalu apakah kita harus angkat tangan? Tentu tidak. Angkat tangan sama artinya dengan membiarkan negeri ini makin kebobolan dalam dunia bisnis antar bangsa yang analog permainan bola ini. Kita tentu sangat berharap orang-orang desa yang akan pergi ke kota bisa naik motor karya bangsa sendiri. Bukan naik Honda, Yamaha atau Suzuki. Tetapi naik motor karya para entrepreneur maupun corpopreneur yang peduli. Saya membayangkan suatu saat nanti kalau ada anak desa yang akan pergi ke kota untuk mengikuti lomba pidato bahasa Inggris, masuk top five, dan mampir belajar ke rumah kos kawannya tidak perlu naik motor Jepang. Bisa naik motor nasional. Bisa naik Kanzen. Bisa naik “adik-adik” alias generasi penerus Kanzen. Kanzen….Jangan menyerah!

Baca Juga: Bagaimana mulai mendirikan sebuah perusahaan di era start up ini?

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Tulisan ini juga dimuat di majalah Muslim, terbit di Surabaya, dengan diedit kembali oleh penulis.