Aroma Indonesia di Mount Elizabeth


Orchard Road awal Juli 2008. Di kawasan tersibuk Singapura ini saya belum kehilangan “kemadiunan”. Setelah hampir seminggu meninggalkan Surabaya, “darah” Madiun mulai muncul. Apa itu? Tidak lain adalah kerinduan menyantap pecel. Kenapa? Saat masih di Madiun, pecel adalah menu wajib tiap hari. Begitu tinggal Surabaya, warung pecel madiun bertebaran. Maka….di Orchard Road pun pecel tetap dirindu. Dan…alhamdulillah…. Ada pecel bercitarasa Madiun di sana. Klop. Inilah aroma Indonesia di Orchard Road.

Sebagai kawasan belanja utama, Orchard Road kini makin sering menjadi saksi detik-detik terakhir kehidupan tokoh-tokoh tanah air. Terakhir adalah bos Gudang Garam. Sebelumnya ada ekonom Syahrir.
Pecel daun jati1

Shopping? Tentu bukan. Berburu pecel? Tentu juga bukan. Hari-hari terakhir kehidupan kok shopping. Apalagi berburu pecel. Mereka berobat. Kenapa harus di kawasan belanja tersibuk negeri pimpinan BG Lee ini? Tidak lain adalah karena di sana ada Mount Elizabeth Hospital. Jaringan rumah sakit swasta global yang makin hebat. Kini tidak kurang dari 2800 bed dikelola jaringan rumah sakit yang terdaftar di Singapore Stock Exchange dengan nama Parkway Health Limited ini.

■■■

Mount Elizabeth ternyata kental beraroma Indonesia. Menjadi tempat favorit berobat bagi kalangan atas Indonesia. Kebetulan juga, lokasi warung pecel di Orchard Road tidak jauh dari rumah sakit yang segrup dengan Gleneagles Hospital ini. Dan ada lagi yang lebih Indonesia. Rumah sakit yang terjangkau jalan kaki dari stasiun bawah tanah MRT ini didirikan pada tahun 1976 oleh Goh Cheng Liang dan Agus Nursalim. Nama pertama adalah orang Singapura. Nama kedua? Tentu mudah ditebak. Indonesia bangeets. Dan memang, Agus Nursalim adalah pengusaha Indonesia.

Sekitar 2 jam penerbangan dari Mount Elizabeth Hospital ada Rumah Sakit Muhammadiyah Gresik. Rumah sakit 70 bed (bandingkan dengan 2800 bed milik Parkway Health) ini memang 100% Indonesia. Tetapi saya membayangkan. Kalau Agus Nursalim bisa membangun tulang punggung Parkway Health yang beraset SGD 1,1 Milyar (lebih dari Rp 6 Triliun) di negeri orang, mengapa rumah sakit tempat berkarir Dokter Tjatur dan kawan-kawan ini tidak?

Iman Mount Elizabeth Hospital

Ada aroma Indonesia di Mount Elizabeth Hospital

Di Surabaya kini ada RS Siloam Gleneagles, sister company Mount Elizabeth Hospital. Metamorfosis RS Budi Mulia ini adalah salah satu layanan Parkway Health. Tentu rumah sakit di Raya Gubeng ini juga turut menyumbang pendapatan Parkway Health yang dalam laporan tahun 2007 tercatat S$ 869 Juta atau lebih dari Rp 4 Triliun ini. Fakta yang semakin memperkeras harapan kepada RS Muhammadiyah Gresik wa akhwatuha, dan saudara-saudaranya dari Indonesia.

Bagaimana caranya? Saat menyelesaikan tulisan ini, saya dengan SNF Consulting diminta untuk memberi sedikit inspirasi kepada RS Muhammadiyah gresik. Yang saya pikirkan, ternyata Mount Elizabeth, Gleneagles, dan rumah sakit-rumah sakit kelas dunia lain selalu berbadan hukum seperti apa yang di Indonesia disebut Perseroan Terbatas. PT. Dalam catatan SNF Consulting, PT adalah badan hukum yang paling aman terhadap konflik internal. PT lebih bisa memusatkan energi untuk berekspansi melayani masyarakat sedunia.

Harapan saya…dokter Tjatur dan kawan kawan seprofesi terinspirasi oleh Agus Nursalim. Bukan sekedar membawa aroma Indonesia di Orchard Road. Lebih dari itu, membawa Indonesia melalui RS Muhammadiyah ke kancah global. Yakin! Bersyarekat kita bisa!

Tulisan karya Iman Supriyono  ini pernah dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya

Perusahaan Dakwah: Korporatisasi


Sepulang dari sebuah perjalanan seminggu lebih dari luar kota yang jauh, dua hari saya praktis tidak keluar rumah. Kecuali ke kantor yang jaraknya juga hanya 7 menit jalan kaki dari rumah. Efeknya, dua hari saya tidak membutuhkan uang sama sekali. Bahkan uang receh sekalipun. Akibatnya, dua hari saya tidak mencari-cari dompet.

Pada hari ketiga, barulah saya membutuhkan uang untuk sebuah keperluan. Saya pun mencari-cari dompet. Di saku belakang celana memang ada. Tetapi bukan dompet ini yang saya cari. Saya memang memiliki dua dompet. Satu dompet berisi surat surat, kartu ATM, dan sejenisnya. Satu lagi dompet berisi uang. Dompet inilah yang ada di saku belakang. Ini saya sengaja untuk menjaga agar dompet berisi surat-surat tidak perlu sering-sering keluar dari saku yang menjadikannya lebih berisiko terjatuh atau hilang. Yang saya cari-cari adalah dompet yang berisi uang.

anak miskin belajar

Perusahaan dakwah menerbitkan saham secara terus-menerus untuk tumbuh. Inilah yang memberi tempat bagi masuknya dana wakaf yang dividennya kemudian digunakan untuk biaya pendidikan dan kepentingan sosial lain.

Setelah saya cari-cari kesana kemari, dompet itu tidak juga ketemu. Jadilah saya berpikir. Dimanakah gerangan kemungkinan terjatuhnya dompet itu? saya kemudian punya ide menelpon taksi. Ya, dari bandara saya naik taksi dan membayar taksi dengan uang yang ada di dompet ini. maka, sangat mungkin dompet itu terjatuh di taksi.

Siang itu, begitu mencatat hal ihwal kehilangan dompet saya dan data-data yang masih saya ingat, petugas penerima telepon taksi berjanji untuk memprosesnya. Ia berjanji akan kembali menghubungi saya jika sudah ada perkembangan. Sebuah awal layanan yang menyenangkan dan memenangkan.

Sore harinya, hanya beberapa jam kemudian, petugas sudah menelepon kembali. Ia mengabarkan bahwa dompet saya sudah bisa diambil di kantornya sewaktu-waktu. Malam harinya saya meluncur ke alamat yang disebut oleh petugas di ujung telepon. Begitu menunjukkan KTP dan mengisi sebuah formulir sederhana, dompet saya sudah kembali ke tangan lengkap dengan uang yang tersimpan di dalamnya. Tidak berkurang sedikitpun. Bahkan ketika saya menawarkan imbalan jasa, petugas tadi dengan ramah menolaknya. Sebuah mental yang luar biasa baik di tengah dekadensi moral yang semakin terasa.

•••

Blue Bird. Itulah taksi yang telah menyelamatkan dompet saya. Sebuah dompet yang memang isinya hanya uang. Benar-benar hanya uang. Sama sekali tanpa kartu identitas apapun di dompet ini. Bahkan sekedar kartu nama pun tidak.

Artinya, bisa saja pengemudi taksi yang menemukan dompet saya itu berpikir bahwa ini bukan barang yang terlalu dibutuhkan oleh pemiliknya. Memberi nama saja tidak. Mungkin ini memang barang remeh-temeh sehingga tidak perlu dikembalikan.

Tetapi ternyata tidak. Pak supir yang menemukan dompet saya langsung melaporkannya ke kantor tempatnya bekerja. Dompet saya lalu disimpan di petugas layanan pelanggan. Dan begitu saya melapor kehilangan dompet, tak lama kemudian dompet itu bisa kembali dengan selamat dan utuh kepada saya.

mendidik ribuan supir menjadi orang jujur adalah sebuah karya dawah luar biasa

mendidik ribuan sopir menjadi orang jujur adalah sebuah karya dakwah luar biasa

Saya sempat menyampaikan pengalaman kehilangan dompet ini melalui sebuah media sosial internet. Banyak kawan yang menanggapi bahwa pengalaman dengan seperti yang saya rasakan juga pernah dirasakannya dengan taksi yang sama. Berbagai sumber yang pernah saya terima juga mengatakan demikian. Blue Bird telah berhasil mendidik para supirnya untuk menjadi orang jujur. Bukan hanya satu dua orang. Berhasil mendidik puluhan ribu orang!

•••

Saya terus-menerus melakukan sebuah riset tentang bagaimana sebuah perusahaan mampu menjadi sarana untuk membina para karyawannya agar makin bertakwa. Bertakwa dalam konteks kehidupan nyata baik di dalam maupun di luar perusahaan. Berkontribusi memberi kemanfaatan bagi umat manusia. Apa yang kemudian saya sebut sebagai perusahaan dakwah. Sejauh ini, berikut ini adalah beberapa karakteristik penting perusahaan dakwah:

Pertama, kualitas ketakwaan karyawan dan keluarganya selalu meningkat. Makin lama berada di perusahan mereka akan makin dekat dengan Sang Khaliq. Makin dirasakan manfaatnya oleh semua

Kedua, disamping makin bagus kapasitas manajerialnya, makin tinggi posisi karyawan dalam struktur organisasi perusahaan, makin tinggi pula ilmu dan kualitas pengamalan ajaran agamanya, baik secara ritual maupun aplikasi keseharian. Jika para karyawan berkumpul untuk sholat berjamaah misalnya, yang paling pantas menjadi imam adalah direktur utamanya karena dialah yang paling bagus bacaan Qur’annya, paling dalam ilmu agamanya, dan paling bagus pengamalan agamanya.

Ketiga, customer, supplier, atau siapapun yg berinteraksi dengannya merasakan kesejukan, kejujuran, ketakwaan dan kemudian terinspirasi untuk melakukan hal yang sama bahkan lebih baik

Keempat, perusahaan dakwah selalu berkontribusi untuk perbaikan kejujuran, kebaikan, dan ketakwaan masyarakat. Ini dilakukan baik melalui program-program CSR formal perusahaan maupun secara non formal melalui interaksi para karyawan perusahaan itu dengan masyarakat luas.

Kelima, selalu tumbuh omset,  aset, dan wilayah operasinya melampaui batas-batas negara karena melakukan proses korporatisasi baik melalui lantai bursa maupun di luar lantai bursa. Pertumbuhan aset dan omset adalah  sebagai tanda bahwa setiap personil perusahaan adalah orang-orang yang bersyukur yang selalu ditambah nikmatnya. Pertumbuhan melampaui batas-batas negara adalah bentuk aplikasi dari ajaran agama yang universal melampaui batas-batas negara.

Keenam, perusahaan dakwah merupakan pembayar pajak yang taat sebagai salah satu bentuk kontribusi perusahaan terhadap masyarakat yang merupakan aplikasi dari ajaran bahwa sebaik- baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya.

Ketujuh, perusahaan dakwah melakukan proses korporatisasi baik di dalam maupun di luar lantai bursa sedemikian hingga memberi tempat yang luas bagi masuknya dana wakaf (endowment fund) yang dividennya digunakan untuk membiayai aktivitas sosial kebajikan. Untuk itu pertumbuhan perusahaan harus berada pada level keempat pertumbuhan. Teknisnya, saham secara legal formal dimiliki oleh nadzir wakaf yang tersertifikasi oleh BWI.

Diantara tujuh karakteristik perusahaan dakwah, karakteristik nomor tujuh adalah yang bersifat paling riil dan terukur. Ukurannya matematis eksak yaitu: berapa persen saham yang dimiliki oleh nadzir wakaf. Semakin besar persentasenya, semakin besar pula lah proporsi manfaat langsung dari kinerja finansial perusahaan untuk kepentingan sosial. Dividennya akan digunakan untuk biaya operasional lembaga penerima manfaat wakaf (mauquf  alaih)

Masih banyak lagi karakter positif yang harus dimiliki oleh sebuah perusahaan dakwah di luar 7 poin di atas. Riset tentang hal ini masih terus berlangsung.

Syirkah korporatisasi1

Korporasi adalah syirkah modern dengan basis ekuitas yang memberi ruang untuk masuknya dana wakaf sebagai saham melalui penerbitan saham baru

Apakah karakteristik tersebut bisa diwujudkan secara seketika? Tentu tidak. Perusahaan perlu berproses menuju kesana. Yang penting, perusahaan dakwah telah menjadi visi dan misi sebagai bagian tak terpisahkan dari strategic plan perusahaan dalam jangka panjang. Proses pelaksanaannya dilakukan mengikuti road map yang telah disusun perusahaan untuk mencapai visinya dengan berpegang teguh pada misi yang telah ditetapkan.

Perusahaan berbadan  hukum perseroan terbatas yang berkarakter profit oriented bisakah menjadi institusi dakwah? Kenapa tidak? Sampai saat ini, perseroan terbatas lah yang telah terbukti mampu menjadi format badan hukum paling eksis dan terus tumbuh menjadi wadah bagi jutaan bahkan milyaran orang di seluruh dunia untuk berkarya dan memberi manfaat bagi sesama tanpa mengenal sekat-sekat bangsa. Badan hukum yayasan atau ormas yang selama ini banyak dipakai sebagai institusi dakwah tidak bisa mengalahkan eksistensi perseroan terbatas baik dalam jumlah orang yang berkarya di dalamnya apalagi pada aset dan peran ekonominya. Maka, para aktivis dakwah perlu berfikir alternatif dengan menjadikan perseroan terbatas sebagai format institusi dan badan hukum dunia modern untuk mewadahi aktivitas dakwah pada berbagai sektor kehidupan. Dengan demikian akan ada perusahaan dakwah yang bergerak di bidang produksi semen, komputer, consumer goods, mobil, pabrik pesawat terbang, maskapai penerbangan, pariwisata, operator telepon, pabrik tempe, ritel modern, salon kecantikan, dan sebagainya dan sebagainya. Nazir wakaf menjadi pemegang saham dari perusahaan-perusahaan itu.

Maka, orang yang menanamkan uangnya sebagai modal alias saham pada sebuah perusahaan dakwah akan terus-menerus menerima pahala kebaikan selama perusahaan masih beroperasi. Apalagi para donatur wakaf (waqif)-nya Demikian pula tenaga yang dicurahkan oleh para karyawan untuk membangun dan membesarkannya. Pemegang saham, komisaris, direksi dan karyawan menjadikan perusahaan sebagai sarana bekerja sama dan tolong menolong secara permanen untuk berkarya dalam kebaikan dan takwa.  Tidak ada majikan tidak ada buruh.  Yang ada adalah taawanu alal birri wa taqwa. Tolong menolong membangun sistem manajemen organisasi amal kebajikan, ketaqwaan dan amal jariyah.  Inilah cara untuk menjadikan uang ditangan, tenaga, waktu dan pikiran agar bermanfaat secara luas tanpa batas waktu. Sudah saatnya kita mencapainya.  Menjadi entrepreneur pendiri. Menjadi corpopreneur. Menjadi investor sebagai pemegang saham. Menjadi waqif.   Menjadi karyawan atau profesional yang bekerja tak kenal lelah tak kenal waktu sampai akhir hayat untuk sebuah perusahaan yang akan menjadi amal jariyah. Perusahaan dakwah!

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI

Baca juga:
Wakaf Modern Untuk Keabadian Amal dan Kemerdekaan Ekonomi 
Surga: ketika bisnis kerja ibadah dan bersenang-senang menjadi satu
Wakaf Korporat

*)Tulisan ini dimuat di majalah Mulia, terbit di Surabaya, dengan editing dan penambahan di beberapa bagian. Konsep perusahaan dakwah perlu pemahaman dasar tentang apa yang disebut sebagai Desakralisasi Harokah

Embraer: “PT DI” Dari Brazil


Artikel ini ditulis di kabin Boeing 747 400 dalam sebuah penerbangan Jakarta-Jedah. Pesawat yang dioperasikan oleh lions air ini mampu mengakut 500-an penumpang sekali jalan. Ada yang menonjol dari para penumpang. Mereka pada umumnya berkelompok dalam rombongan-rombongan. Dari identitas yang tertulis baik pada tas maupun pakaian yang dikenakan, tampak sekali bahwa mereka adalah robongan umroh. Suasana umroh ini semakin terlihat dari busana yang digunakan oleh para pramugari yang tidak seperti pramugari pada umumnya. Mereka mengenakan seragam dengan kerudung. Pramugari berjilbab.

Ya…ibadah umroh telah menjadi sumber omset bagi perusahaan penerbangan. Ibadah ummat islam ini telah menjadi penggerak bisnis penerbangan. Pertanyaannya, bagaimana kemampuan ummat Islam untuk menangkapnya ? Coba kita cermati beberapa peluang itu.

Yang pertama adalah pesawat pengangkut. Boeing 747 adalah pesawat buatan Amerika yang populer untuk penerbagnan jarak jauh ribuan kilometer seperti jakarta Jedah ini. Alternatifnya saat ini adalah Airbus A380 buatan konsorsium Eropa Airbus. Dua perusahaan ini tidak mungkin diklaim sebagai peran ummat islam dalam menangkap peluang bisnis ini.

Kedua adalah perusahaan penerbangan operator pesawat. Boeing 747 yang saya tumpangi kali ini dioperasikan oleh Lion Air. Perusahaan penerbangan dengan perrtumbuhan paling agresif di tanah air ini adalah buah karya Rusdi Kirana. Dari berbagai sumber yang ada, saya juga tidak pernah menemukan tanda tanda bahwa perusahaan berpenumpang terbanyak di tanah air ini adalah karya seorang muslim.

•••••

Sukhoi tiba tiba sangat terkenal di seantero negeri. Penyebabnya adalah jatuhnya pesawat Superjet 100 buatan pabrikan asal Rusia itu di Gunung Salak Bogor. Pesawat dengan kapasitas sekitar 100 penumpang yang didesain untuk unggul di segemennya ini ternyata justru jatuh saat dipamerkan kepada calon konsumen.

Seberapa menarik bisnis pesawat kelas Superjet 100? Pertanyaan ini menjadikan kita melirik sebuah negeri yang mungkin selama ini “hanya” dikenal melalui sepak bola: Brazil! Kata kawan penghobi bola yang duduk di bangku di samping saya, Brazil setara dengan raksasa bola seperti Jerman, Belanda, Spanyol, Itali, Argentina, Belanda dan sekelasnya. Saya sendiri tidak hobi bola sehingga tidak bisa memberi justifikasi untuk penilaian kawan ini.

Nah, ternyata, Brazil bukan hanya unggul di perbolaan. Brazil unggul juga di dunia produksi pesawat dengan Embraernya. Menurut Wikipedia, Embraer adalah produsen produsen pesawat komersial terbesar no 3 di dunia. Yang menempati posisi diatasnya tentu saja adalah raksasa Boeing asal Amerika dan Airbus asal Eropa. Dengan peringkat ini, ternyata Brazil jauh lebih bisa disebut di sektor produksi burung besi berteknologi tinggi ini dari pada di sektor bola.

Keunggulan embraer berada pada segmen yang tidak bertempur head to head dengan Boeing dan Airbus. Embraer unggul pada segmen pesawat berpenumpang sampai sekitar 100 orang seperti Superjet 100 nya Sukhoi. Dan memang Sukhoi masuk segmen pasar ini karena melihat peta persaingan yang masih lebih mudah dikuasai dari pada harus bermain di segmen pesawat lebih besar yang sudah disapu habis oleh Airbus dan Boeing.

Berikut ini adalah catatan prestasi Embraer: Sejak 1996 hingga 2010 menyelesaikan order pesawat komersial sejumlah 4, 32, 60, 96, 160, 161, 131, 101, 148, 141, 130 , 169, 204, 244, 246 unit. Tahun 2011 lalu omset perusahaan yang berdiri sejak 1969 ini adalah USD 5,2 Milyar alias sekitar Rp 50 Trilyun.

Embraer KLM

Salah satu produk unggulan Embraer adalah E Jet yang sekelas dengan Sukhoi Superjet 100. Pesawat dengan varian tipe E-170, E-175, E-190 dan E-195 ini hingga januari 2012 telah terkirim 802 unit dengan harga sekitar Rp280 Milyar untuk tipe E 170 dan Rp 450 Milyar untuk tipe E 190. Hingga januari 2012 Embraer harus menggenjot kapasitas produksinya untuk menyelesaikan 249 unit pesawat yang sudah dipesan oleh berbagai negara dengan opsi tambahan 695 unit. Luar biasa!

Pembaca yang baik, ingat Brazil dengan Embraernya, saya jadi ingat PT DI. Produsen pesawat asal Bandung ini sebenarnya memiliki potensi yang besar. CN 235 sebagai salah satu produk unggulannya hingga kini telah terjual lebih dari 230 unit. Lebih dari 60 unit diantaranya hingga kini dipakai oleh Turki. Bahkan Amerika dan Perancis pun hingga kini masih mengoperasikan pesawat berkapasitas 40 penumpang ini. Kalau Brazil yang selama ini hanya kita kenal di dunia bola bisa menjadi juara 3 dalam dunia produksi pesawat komersial dengan Ebraer, mestinya kita juga bisa. Agar potensi bisnis ibadah umroh dan haji juga bisa dinikmati juga oleh umat Islam. Semoga!

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca juga:

Sejarah Bata dan Kalibata Batavile Batanagar
Sejarah Raket Yonex
Sejarah Heinekken Hadir di Indonesia
Sejarah Revlon dan Kepailitannya
Sejarah Korporasi
Sejarah Lions Club
Sejarah Hyundai versus Astra
Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Umat dan Bangsa
Korporatisasi: Asal Muasal
Sejarah Danone Dari Turki Usmani Hadir ke Indonesia
Sejarah Kalsiboard dan Etex Group

Tulisan ini dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya

Roti: Hikmah Dibalik Keprihatinan


Tentang roti sebenarnya adalah cerita yang mengandung unsur keprihatinan. Prihatin karena roti adalah salah satu makanan yang makin populer di negeri ini sebagai salah satu aternatif makanan pengganti nasi. Makanan selingan mengurangi ketergantungan pada beras yang hingga kini memang kita masih harus mendatangkannya dari Thailand atau Vietnam. Kepopuleran roti berarti adalah ketergantungan pada gandum yang hanya bisa ditanam di negeri-negeri subtropis. Gandum yang sehari-hari kita kenal melalui roti (dan tentu saja mie instan maupun tepung terigu) selama ini memang 100% kita impor dari negeri-negeri subtropiss seperti Amerika Serikat, Turki, Australia dan lain lain. Inilah sisi keprihatinan roti. Niat hati ingin melepaskan ketergantungan pada impor beras ternyata berubah menjadi ketergantungan impor gandum. Lepas dari mulut harimau masuk ke mulut buaya. Tetapi…. seprihatin apapun, jika kita jeli tentu kita bisa mengambil pelajaran menarik.

Pelajaran tentang roti itu berasal dari sebuah perusahaan yang sahamnya di bursa efek jakarta dicatat dengan kode “ROTI”. Bagi Anda yang tidak begitu mengenal lantai bursa, saya yakin paling tidak Anda sangat mengenal perusahaan ini melalu produknya berupa roti bermerek Sari Roti. Sebuah produk yang sangat mudah dijumpai pada supermarket dan minimarket yang tersebar dimana-mana.

sari roti

Tampil mengisi kekosongan merek nasinal produk roti

Apa pelajaran dari Sari Roti? Saya masih ingat belasan tahun lalu di Surabaya banyak sekali merek dengan produk seperti apa yang sekarang diproduksi oleh Sari Roti. Tiap pagi armada mereka berupa sepeda atau motor berkeliling kampung dan perumahan warga untuk menawarkan roti tawar dan sejenisnya. Beberapa merek yang saya masih ingat misalnya: Fran’s, Roti Tjwan Bo, Suzana. Ada juga tidak punya armada keliling tetapi produknya sangat dikenal di toko-toko yaitu Ramayana. Itu adalah beberapa merek lokal. Hanya dikenal di cakupan geografi yang kecil. Di daerah lain juga muncul merek-merek roti lokal dengan cakupan goegrafis yang juga kecil.

Seiring dengan pertumbuhan kepergian orang ke luar daerah karena makin mudahnya transportasi, untuk berbagai produk masyarakat merasa tidak cukup hanya dengan keberadaan merek lokal. Orang Jakarta yang sedang melancong ke Surabaya dan membutuhkan roti tidak familiar dengan merek-merek roti lokal. Sebaliknya juga orang Surabaya yang bepergian ke Jakarta dan membutuhkan roti tidak nyaman membeli roti merek setempat karena tidak dikenalnya. Makin hari ketidaknyamanan ini makin tumbuh seiring dengan booming penerbangan murah. Makin banyak saja orang yang bepergian ke berbagai daerah untuk berbagai kepentingan. Maka, kebutuhan akan adanya merek roti yang dikenal secara nasional makin tinggi. Disinilah Sari Roti berperan. Mengisi kekosongan kebutuhan masyarakat.

Keberadaan Sari Roti sebagai merek nasional mendapatkans sambutan luar baisa dari masyarakat. Ini terbaca misalnya dari pertumbuhan omset tiga tahun terkahir: Rp 612 M pada tahun 2010, Rp 813 M tahu 2011 dan terakhir Rp 1,190 pada tahun 2012. Pertumbuhan pasar yang mencerminkan sebuah antusiasme untuk ukuran omset yang mulai menapak bilangan Trilyun.

Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah roti.jpg

Antusiasme Sari Roti juga nampak sekali dari laporan arus kas perusahaan yang mengklaim menggunakan teknologi Jepang ini. Pada tahun 2012 perusahaan bernama lengkap PT Nippon Indosari Corporindo ini menanamkan investasi senilai Rp 429 Milyar. Perusahaan yang berdiri sejak 1995 ini membiayai investasi itu dengan kas hasil operasinya Rp 189 M dan kekurangannya dari pinjaan pihak lain. Investasi lebih banyak dibiayai dari dana pinjaman dari pada dana internal hasil operasi perusahaan. Sebuah cermin dari semangat ekspansi yang tinggi untuk makin mengokohkan diri sebagai satu satunya merek nasional untuk roti.

Bagaimana nasib merek-merek lokal? Tentu masih ada celah untuk tetap eksis. Tetapi tentu pertumbuhan mereka tidak bisa dibandingkan dengan yang merek nasional. Nah, Anda para praktisi bisnis bisa mengambil perlajaran dari Sari Roti. Ada peluang untu produk atau jasa apapun untuk tampil sebagai merek nasional. Merek yang dikenal dan tersebar secara nasional. Ada peluang Ekpansi!

**Tulisan Iman Supriyono ini pernah dimuat pada majalah Matan, terbit di Surabaya

Tisu Bekas


Sore itu jalan Bali lengang. Sengatan mentari di puncak musim kemarau nampaknya telah mencegah banyak orang untuk keluar rumah atau kantor. Jalanan lengang. Lalu lintas di jalan yang berada di tengah kota Surabaya ini pun lancar. Mengemudi pun jadi santai.

jorok aaah……

Jalanan memang panas. Tetapi, lengangnya jalan telah menjadi pendingin tersendiri. Alunan lagu lagu santai dari sebuah radio FM pun makin mendinginkan hati. Dalam suasana seperti itu, tiba-tiba saja saya terkejut oleh meluncurnya beberapa potong tisue bekas dari jendela sebuah mobil persis di depan saya. Tangan seorang dari dalam mobil mewah Land Cruiser hijau metalik B 58 CU telah melemparkan begitu saja tisu bekasnya ke jalanan.  

♦♦♦♦

Beberapa petugas sedang membersihkan selokan. Aneka sampah telah dibersihkan dari saluran air yang menembus perkampungan padat di pinggiran surabaya itu. Tas plastik, kemasan sabun cuci, bekas kemasan aneka kue, minuman, makanan dan bermacam bahan bahan bekas berbahan plastik telah dibersihkan. Selokan pun nampak bersih.
Beberapa saat selokan masih tampak bersih. Tetapi ternyata kondisi itu tidak bertahan lama. Segeralah tumpukan sampah memenuhi sekujur selokan. Semuanya berasalal dari masyarakat penghuni kampung nan padat itu. Mereka membuang sampah begitu saja ke selokan. Kerja petugas kebersihan seolah tak bermakna. Sia-sia.
♦♦♦♦
Pembaca yang antusias, tidak ada seorangpun yang nyaman dengan sampah dan kotoran. Kita mandi untuk menghilangkan ketidaknyamanan karena badan yang kotor. Ketidaknyamanan karena pakaian kotor telah “menyuruh” kita untuk menanggalkannya dan menggantinya dengan yang bersih. Ketidaknyamanan karena rumah yang kotor telah menggerakkan kita untuk menyapu, mengepel, atau membayari pembantu rumah tangga untuk melakukannya. Itulah tanda bahwa sebagai manusia, kita dibekali dengan insting dan perasaan dasar untuk menghindar dari kotoran. Menghindar dari sampah.

Apa yang dilakukan oleh pengendara atau penumpang land cruiser di jalan Bali tidak lain terdorong karena perasaan atau insting itu. Mereka tidak nyaman sampah memenuhi ruangan di dalam mobil mewahnya. Mereka tidak suka tisue bekas yang mungkin telah dipakai untuk mengelap ingus atau korotan-kotoran yang menjijikkan lain tetap berada dalam mobil yang harganya berbilang milyar itu. Maka, mereka pun membuanya.

Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah tisu-bekas.jpg

Demikian juga yang dilakukan oleh warga kampung. Mereka tidak ingin tumpukan sampah berserakan di dalam rumahnya. Apalagi kebanyakan kampung itu brerisi rumah-rumah kecil. Rumah-rumah petak mereka yang sempit tentu sangat terganggu dengan sampah. Maka, mereka pun membung sampah keluar rumah. Membebaskan rumah dari ketidaknyamanan.

Sayang, mereka tidak sadar bahwa ulah mereka telah mengakibatkan orang lain merasa tidak nyaman. Bukan hanya satu atau dua orang. Yang dibuat tidak nyaman adalah masayarakat luas yang melintas jalan itu. Yang dibuat tidak nyaman adalah masyarakat yang berada di sekitar selokan itu. Memindahkan ketidaknyamanan pribadi menjadi ketidaknyamanan orang lain. Memindahkan ketidaknyamanan pribadi menjadi ketidaknyamanan bersama.

Pembaca yang antusias, perilaku seperti itu bisa juga terjadi dalam dunia bisnis. Mencari keuntungan dengan mengganggu orang lain. Dalam skala kecil bentuknya bisa seperti apa yang dilakukan para pedagang kecil pinggiran sungai, trotoar, taman kota dan tempat tempat umum lain. Dalam skala besar misalnya bisa berupa pabrik kimia yang begitu saja membuang air limbah di sungai. memikirkan keuntungan pribadi dan merugikan orang lain. Pebisnis raja tega. Seperti pembuang sampah di selokan kampung kumuh pinggiran Surabaya itu. Seperti pembuang tisue dari Land Cruiser mewah itu. Jangan ah!

Tulisan Iman Supriyono ini pernah dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya

Gedung Saja Tidak Cukup: Menara 165 Colliers


Raya TB Simatupang Jakarta Oktober 2012. Di tengah kemacetan lalu lintas Jakarta, jelang maghrib mobil yang saya tumpangi sudah terparkir rapi di halaman Menara 165. Sebuah gedung yang oleh para penggagasnya dimaksudkan sebagai simbol tonggak kebangkitan moral bangsa. Sederhananya: bangsa yang jaya dengan berpegang teguh pada nilai-nilai moral dan keluhuran. Tulisan “Allah” di puncak gedung yang terlihat indah seperti mahkota raja menjadi penegas simbolisme ini.

Tapi tujuan saya ke gedung berlantai 25 itu tidak ada hubungannya dengan simbolisme gedung. Bersama direktur sebuah perusahaan klien SNF Consulting, kantor saya, kedatangan sore itu bertujuan untuk mencari ruang yang bisa disewa. Ruangan yang nantinya akan difungsikan sebagai kantor untuk klien yang bergerak di bidang pengambang properti itu.

Di lobi gedung, seorang petugas front office melayani dengan ramah. Terjadilah dialog singkat tentang kondisi sekilas gedung. Beberapa informasi awal untuk calon penyewa. Walaupun belum memadai, informasi itu cukup membantu memberikan gambaran sebelum petugas marketing datang. Sambil menunggu, sempat juga saya mengamati suasana di lobi gedung yang di salah satu sisinya terdapat sebuah kafe itu.

menara-165-2

Menara 165 dengan manajemen Colliers

Tak lama kemudian petugas marketing datang. Connie I Nurhayati. Itulah nama perempuan berambut panjang itu sebagaimana yang saya baca dari kartu nama berlogo Colliers International itu. Karena memang menjadi tugasnya, ia bisa menjelaskan dengan detail segala sesuatu tentang gedung yang pengelolaannya dipercayakan kepada perusahaan tempatnya bekerja yang berpusat di Seattle-USA. Tentang harga sewanya, tentang service charge, tentang listrik, telepon, dapur, keamanan, perusahaan-perusahaan lain yang sudah berkantor di gedung ini, dan sebagainya. Termasuk tentang keberadaan lantai 25 yang semula didesain untuk masjid dan kemudian diubah hanya menjadi mushola internal dengan alasan keamanan bagi para penyewa. Untuk memantapkan, sebelum berpamitan saya pun diajaknya untuk meninjau ruangan yang masih kosong dan tersedia untuk di sewakan di salah satu lantai.
•••

Pembaca yang baik, apa yang Anda tangkap dari suasana pada tulisan singkat di atas? Bisa bermacam-macam. Tetapi saya akan mengajak Anda merenung tentang satu hal penting: uang saja tidak cukup. Lho, apa hubungannya? Saya mengajak Anda merenungkan hal ini karena kebetulan saya pernah mengikuti training ESQ. Disamping materi inti tentang ESQ, pada training itu saya memperoleh informasi cukup detail tentang gedung Menara 165. Sebuah gedung yang dibangun dengan militansi tinggi untuk sebuah tujuan mulia. Gelang plastik warna putih yang melingkar di pergelangan tangan para trainer menjadi simbolnya. Gelang yang tidak akan dilepas sebelum gedung kebanggaan itu benar-benar berdiri berdiri tegak dan berfungsi.

Dengan perjuangan yang panjang dan pengumpulan dana dari puluhan atau bahkan ratusan ribu alumni ESQ, akhirnya gedung itu pun berdiri. Bahkan kini sudah beroperasi. Sore itu saya melihat beberapa ruangan yang sudah aktif dimanfaatkan sebagai kantor. Sebuah keberhasilan yang harus diapresiasi. Tentu gelang plastik itu kini sudah dilepas oleh team ESQ.

Hanya ada yang sedikit mengganjal: mengapa Colliers? Mengapa Mbak Connie tidak berjilbab? Mengapa masjid di lantai 25 beralih fungsi sebagai mushola internal? Ganjalan yang menjadi sebuah pelajaran. Pelajaran bahwa membangun gedung secara fisik saja tidak cukup. Dibutuhkan brand dan kemampuan manajerial yang kredibel untuk mengelola gedung supaya dipercaya para penyewa yang di kawasan Simatupang banyak berkantor perusahaan-perusahan pertambangan kelas dunia. Itu semua ada pada Colliers International yang memang sudah berjaringan global dan profesional di bidangnya sejak tahun 1976.

Karena Colliers yang mengelola –bukan keluarga besar ESQ sebagai pembangun dan pemilik gedung- tentu saja segala sesuatunya ditentukan berdasarkan standar perusahaan global berkaryawan lebih dari 15 ribu itu. Mbak Connie sebagai sales yang tidak berjilbab –bahkan cenderung berpakaian minim, tidak seperti tradisi tim ESQ- dan dianulirnya fungsi masjid pada lantai 25 menurut hemat saya termasuk bagian dari standar keamanan Colliers. Hikmahnya: mari membangun kemampuan manajerial, kepercayaan dan merek! Idealisme saja tidak cukup. Memiliki gedung saja tidak cukup. Uang saja tidak cukup. Mari bekerja keras meraih kepercayaan manajerial dan merek unggul seperti yang telah dimiliki oleh Colliers!

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Baca juga:
Korporatisasi perusahaan keluarga
Korporatisasi menghindari pseudo CEO
Waskita Beton digugat pailit: anak sakit induk sakit
Harapan BSI, nyata atau fatamorgana
BUMN berjamaah merger akuisisi
Wika gali lobang tutup lobang
SWF antara harapan dan belenggu
Corporate life cycle
Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Umat dan Bangsa
Korporatisasi: Asal Muasal

Artikel ini pernah dimuat di majalah BAZ, terbit di Surabaya, dengan judul “Colliers”, ditulis oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting

Jagongan Manten: Tradisional Yang Mendunia


Jagong Manten

Oleh Iman Supriyono, konsultan dan penulis buku2 bisnis pada SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com

Surabaya Oktober 2012. Jam setengah tujuh persis saya dan istri sudah berada di Grand City untuk acara resepsi pernikahan itu. Di komplek perbelanjaan megah itu saya sebenarnya merasa tidak nyaman karena tidak bisa menghadiri sholat isya berjamaah saat adzan berkumandang. Kenikmatan harian lima waktu petang itu rela saya tinggalkan. Khusus untuk sebuah acara menarik. Resepsi pernikahan putra seorang sahabat dan juga senior di Majelis Ekonomi PWM Jatim, Pak Najikh.

Di samping faktor Pak Najikh, acara ini sangat menarik karena dari undangannya sudah nampak sesuatu yang berbeda. Jika pada umumnya hajatan seperti bermodel standing party, acara kali ini lain. Formatnya round table. Pada undangan sudah tertera di meja mana kita harus memposisikan diri.

Begitu tiba di meja yang telah ditentukan dan acara dimulai, saya jadi teringat dengan gaya hajatan di kampung halaman kala resepsi pernikahan saya hampir dua puluh tahun lalu. Ketika itu di kampung belum dikenal model standing party. Orang-orang menyebutnya jagongan manten. Suasananya mirip-mirip round table. Para undangan duduk santai di kursi sambil ngobrol santai dengan sesama tamu. Di depan kursi ada meja dengan aneka hidangan khas orang desa. Tamu pun menikmati hidangan dengan hiburan yang juga khas orang desa: musik gamelan jawa.

Di acara Pak Najikh itu, spirit jagongan-nya terasa. Para tamu juga terlihat asyik ngobrol santai, makan dan menikmati hiburan. Yang agak berbeda dengan suasana di desa adalah jenis hidangan dan hiburannya. Hidangannya menu modern dengan hiburan juga musik modern. Kehadiran Tompi dan Soimah nampak sekali membuat para tamu undangan terhibur.

••••

An inspiring wedding reception. Saya jadi terinspirasi oleh suasana di Grand City malam itu. Bersama istri saya terinspirasi tentang acara serupa yang suatu saat nanti insyaallah pasti akan digelar. Ada 7 yunior yang suatu saat nanti pasti menikah. Bahkan bisa jadi tidak lama lagi karena si sulung sudah kuliah.

jagongan manten impian
jagongan manten impian

Ada inspirasi sederhana, ada pula yang serius. Yang sederhana saya ingin nanti resepsi pernikahan yunior tidak ikut gaya standing party. Ingin ikut gaya jagongan manten khas orang desa. Seperti acara pak Najikh dengan sedikit perbedaan pada musik dan menunya: khas jawa. Gamelan jawa dengan menu wong ndeso. Musik kesukaan sejak kecil yang makin jarang bisa dinikmati melalui pagelaran live. Menunya: telo godhog, kacang godhog, soto, rawon, pecel… dan sejenisnya.

Inspirasi yang serius saya sangat terkesan dengan kehadiran tamu dari berbagai negara malam itu. Tentu ini terkait dengan si pengantin pria yang memang lulusan perguruan tinggi di Amerika. Tentu saja para sahabat dekatnya yang berasal dari berbagai negara akan senang bisa datang ke resepsi pernikahan di negeri lain hitung-hitung sambil rekreasi.

Keberadaan tamu asing juga sangat terkait dengan bisnis sang tuan rumah yang memang produknya sebagian besar diekspor. Tentu kolega bisnisnya dari berbagai negara juga banyak. Merekalah yang malam itu datang menjadi tamu resepsi. Itulah kenapa sambutan dalam acara itu disampaikan dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Saya memimpikan sebuah resepsi bercitarasa tradisional jawa dengan format jagongan. Bukan standing party. Tamu dari berbagai negara terhibur dengan musik gamelan yang bernilai seni tinggi nan menghibur. Untuk itu sambutan maupun pembawa acara harus menyampaikannya dalam beberapa bahasa. Itulah keinginan saya. Anda ingin juga?

Pertanyaannya, bagaimana mengubah mimpi menjadi sebuah kenyataan? Jawabnya: kita harus berbisnis kelas dunia. Berbisnis dengan kolega dari berbagai negara. Anak-anak kita juga harus belajar ke luar negeri sehingga teman-teman mereka akan berasal dari berbagai negara. Tentu keduanya perlu kerja keras. Saya sedang bekerja keras untuk pengembangan bisnis. Termasuk pengembangan ke luar negeri. Yunior yang kini kuliah di RRC diharapkan bisa menjadi pemicu kerja keras ini. Kerja keras menjadi kelas dunia tanpa menghilangkan identitas diri. Simbolnya adalah sebuah resepsi pernikahan dengan tamu dari berbagai negara. Jadualnya diatur sedemikian rupa sehingga para hadirin tetap bisa sholat berjamaah di masjid begitu adzan berkumandang. Bahasa pengantarnya Indonesia-Inggris-Arab-Mandarin dengan musik dan menu khas jawa ala jagongan manten. Semoga!

tulisan ini dimuat di majalah Matan, terbit di Surabaya.

Jabal Nur: Sampah & Visi Bisnis Kelas Dunia


Celana training, kaos, sepatu ket, topi, dan dua botol air minum sudah siap. Mentari belum meninggi ketika pendakian menuju puncak siap dimulai pagi itu. Suasana hati riang sekali demi akan mendaki. Kesukaan lama yang semakin jarang terealisasi. Sibuk dan sulitnya mencari kawan yang tidak sibuk menjadi alasan. Sangat tidak asyik jika harus mendaki sendirian.

Pagi itu di depan mata nampak berdiri kokoh gunung bagu cadas. Gunung Nur alias Jabal Nur sebutanya. Sebuah gunung yang menurut wikipedia berketinggian 642 meter. Sebuah gunung yang bagi umat Islam sangat istimewa karena di puncaknya terdapat Gua Hira. Sebuah gua dimana Nabi SAW mererima wahyu pertama.

Puncak Jabal Nur memang istimewa. Tidak heran bila pagi itu pendakipun sudah menyemut. Jalur pendakian yang sudah dibangun dengan undakan bersemen dipenuhi para pendaki dengan aneka warna kulit, laki perempuan, tua muda.

Yang tidak pernah lupa dibawa oleh pendaki adalah botol air minum. Ini tentulah terkait dengan udara yang panas menyenagat khas alam gurun topis. Tidak peduli hari masih pagi. Bahkan banyak diantaranya yang membawa lebih dari satu botol. Saya pun membawa dua botol. Satu botol air putih, satu lagi botol jus jeruk. Keduanya baru keluar dari kulkas sebuah toko. Dingin segar di tengah terik menyengat mentari pagi.

Langkah demi langkah terangkai. Sebotol minuman habis. Melangkah lagi. Sebotol lagi habis saat langkah belum lagi sampai puncak. Tidak heran bila kios minuman yang ada di beberapa titik pendakian selalu dipadati pembeli. Mendaki yang menguras tenaga dipadu dengan udara yang menyengat menjadi pemicunya. Efek sampingnya: sampah botol minuman berserakan di sepanjang jalur pendakian. Dari kaki gunung sampai Gua Hira di puncaknya.

Pemerintah sudah menyediakan beberapa tempat sampah untuk menampungnya. Akan tetapi nampaknya banyak orang tidak sadar akan kebersihan. Membuang membuang botol bekas kemasan minuman sembarangan. Jadilah jalur pendakian mirip dengan tempat sampah berundak. Penuh sampah dari kaki gunung sampai Gua Hira. Astaghfirullah.

•••

Pemerintah memanglah pihak yang paling bertanggung jawab menjaga agar lingkungan tetap bersih dan indah. Pajak yang dibayarkan oleh masyarakat sebagiannya memang harus dialokasikan untuk kepentingan bersama ini. Maka semestinya masyarakat tinggal menikmati hasil kerja keras mereka melalui pembayaran pajak. Menikmati lingkungan yang asri. Obat pelipur pelunak hati.

Tetapi apa daya, pemerintah negari manapun tidak selalu berkemampuan baik. Kemampuan memegang tanggung jawab itu sering kali terganggu oleh praktik korupsi dan mismanagement. Jadilah sampah berserakan bukan pemandangan aneh di berbagai negara. Juga di Jabal Nur.

Apakah kita hanya diam? Dengan membayar pajak, diam pun sebenarnya juga sudah berperan. Rupiah yang dibayarkan melalui pajak adalah peran itu. Tetapi tentu saja akan lebih baik jika kita bisa berperan lebih.

Apa peran lebih itu? Dalam kacamata para entrepreneur dan profesional bisnis di berbagai perusahaan, peran itu terangkum dalam sebauh terminologi: corporate social responsibility alias CSR. Tanggung jawab sosial perusahaan. Tanggung jawab sosial untuk berperan lebih (tidak sekedar dengan membayar pajak) untuk perbaikan masyarakat secara terus-menerus.

Sampah di Jabal Nur – Gua Hira membutuhkan kehadiran SNF Consulting dan perusahaan-perusahaan kelas dunia lainnya. Foto: koleksi pribadi

Maka, ketika melihat sampah berserakan jabal nur, terselip sebuah visi dan niat menggairahkan: menjadikan perusahaan tempat saya berkarir, SNF Consulting, berkemampuan CSR mengatasinya. CSR dengan memberikan program edukasi budaya bersih bagi masyarakat muslim seluruh dunia yang sedang berrziarah ke tanah suci. Mendidik budaya mejaga lingkungan sebagai karunia-Nya yang luar biasa. Untuk kebersihan tanah jabal nur, tanah suci, dan untuk “oleh-oleh” saat pulang ke negerinya.

Saya begitu galau melihat gunung sangat bersejarah itu penuh sampah. Saya yakin Anda pun demikian. Akan tetapi Makah sangat jauh dari domisili perusahaan saya yang di Surabaya. Jauh juga dari domisili perusahaan Anda. Maka, CSR itu baru bisa teralisasi dengan mudah bila perusahaan kita juga beroperasi di Saudi. Beroperasi di Saudi pun tentu tidak bisa langsung. Harus didahului dengan beroperasi di negeri-negeri terdekat. Artinya, dibalik mimpi peran CSR edukasi masyarakat muslim seluruh dunia itu juga terselip visi untuk membangun sebuah perusahaan berkelas dunia. Mari kita tolong-menolong untuk mencapainya. Duhai Jabal Nur…tunggu peran kami. Duhai Dzat Penguasa Jabal Nur….tolonglah kami.

Tulisan ini pernah dimuat di majalah Matan, terbit di Surabaya

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Atau ikut KELAS KORPORATISASI

Baca juga:

Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Umat dan Bangsa
Korporasi Pancasilais Nasionalis
Perusahaan Dakwah: Hayyu
Menjadi Korporasi Sejati

Kang Di: Persahabatan Indah Dunia Akhirat


Sore itu baru saja saya mendapatkan berita sedih dari kampung halaman. Ibu saya sedang berduka. Air matanya meleleh. Dukanya begitu mendalam. Duka karena ditinggalkan seorang anggota keluarga di luar kota. Sumadi, begitu nama almarhum, meninggal dunia beberapa saat sebelum saya memulai menggerakkan jemari menulis untuk kolom ini.

Tetapi duka ibu kali ini bukan sembarang duka. Bukan sembarang lelehan air mata. Saya bisa merasakannya dalam pembicaraan telepon sore ini. Yang meninggal memang saudara sepupu. Tetapi bukan sembarang saudara. Kang Di, demikian almarhum biasa dipanggil, sejak kecil tinggal di nenek saya yang tidak lain adalah ibunda dari ibu saya. Praktis almarhum adalah kawan bermain ibu saya. Kawan berbagi suka dan duka dalam kondisi ekonomi seadanya sebagai orang desa sederhana. Sebuah ikatan kekeluargaan sekaligus persahabatan.

Persahabatan

Menurut cerita keluarga yang mendampingi, saat saat menjelang ajalnya, Kang Di menanyakan keberadaaan ibu. Kang Di menunggu kehadirannya saat menjelang ajal tiba. Tentulah kehadiran yang sangat bermakna bagai almarhum. Tetapi sayang karena terpisah kota ibu baru bisa datang saat Kang Di sudah tiada. Makin deraslah air mata ibu.

•••

Setelah berjuang keras menembus kemacetan lalu lintas Jakarta, mobil yang saya kemudikan tiba juga di halaman sebuah rumah besar. Ini adalah pertama kali saya bertandang ke rumah mewah bercat putih di komplek perumahan Permata Hijau di Ibu kota ini. Karena GPS di hand phone saya sedang tidak berfungsi, menemukan alamat ini adalah hasil dari perjuangan beberapa kali bertanya dan keblasuk di jalanan. Maka, tiba di rumah Pak Zain, begitu nama lelaki 70 tahun ini dipanggil, adalah sebuah kenikmatan luar biasa.

Pak Zain dan istri menyambut dengan hangat. Mereka berdua adalah sahabat karib almarhum ayah mertua saya. Dengan demikian ia tentu saja juga sahabat karib ayah orang yang pagi itu ada di samping saya, istri saya. Pertemuan silaturahim ini menjadi istimewa karena Pak Zain baru mendengar kabar meninggalnya ayah mertua saya setelah hampir setahun kepergiannya. Sambutanannya begitu hangat. Cara memanggil saya pun menunjukkan betapa dekatnya keluarga ini dengan ayah mertua. Ia mamanggil saya persis seperti cara ayah mertua memanggil. Langsung nama. Tidak didahului sapaan bapak, mas, bang atau apapun. Cukup panggil nama: Iman

Pertemuan berlangsung asyik panjang lebar. Di sela pembicaraan saya sempat menanyakan bagaimana kisahnya hingga bisa mencapai prestasi ekonomi yang hebat. Diapun kemudian berkisah tentang sebuah cara alami untuk tumbuh dari bawah. Banyak menolong orang. Orang-orang yang pernah ditolongnya kemudian menjadi sahabat karib. Sampai akhirnya ada salah satu orang yang ditolong itu mendapatkan posisi bagus dalam percaturan ekonomi nasional. Posisi bagus inilah yang kemudian menariknya terbawa dalam pusaran ekonomi utama nasional. Persahabatan hangat yang berbuah prestasi ekonomi.
•••
Pembaca yang baik, memiliki prestasi ekonomi tentulah menjadi harapan semua orang. Surat An Nisa ayat 9 mengajarkan agar kita tidak meninggalkan generasi yang lemah. Yang dimaksud generasi lemah menurut Tafsir Ibnu Katsir adalah lemah ekonomi. Maka mengupayakan agar generasi penurus memiliki kekuatan ekonomi yang kokoh adalah bagian penting dari perjuangan agama.

Bagaimana menggapai kekuatan ekonomi? Persahabatan adalah salah satu kuncinya. Pak Zain merasakan bagaimana persahabatan yang dirangkai dengan menolong orang lain mengantarkannya pada posisi ekonomi yang kuat. Tentu tidak tepat kalau menolong orang lain didasari dengan harapan untuk memperolah imbalan ekonomi. Namun demikian efek positif ekonomis dari persahabatan tentu juga tidak perlu dihindari.

Kebaikan persahabatan yang tulus tidak hanya pada kehidupan di dunia. Persabatan Ibu dengan Kang Di memberi pelajaran berharga. Begitu mendengar berita duka itu, saya dan keluarga langsung menggelar sholat ghoib untuk jenazah Kang Di. Bagi seorang yang meninggal, didoakan oleh orang lain melalui sholat adalah sebuah bantuan yang tidak tergantikan dengan apapun. Sore itu saya sekeluarga sebagai anak dari sahabat Kang Di mendoakannya. Inilah nilai persahabatan yang tembus sampai kehidupan akhirat. Mari belajar tentang hikmah bersahabat dari Pak Zain dan Kang Di. Persahabatan dunia akhirat. Kang Di….kasih sayang-Nya menyertaimu di negeri abadi…dari kami anak cucu sahabat karibmu. Aamiin.

Tulisan ini dimuat di majalah Mulia, terbit di surabaya

Sensei Munzaid: Obituari Untuk Seorang Guru Pengukir Jiwa


Ruang kelas IF SMP Negeri I Caruban pada suatu pagi tahun 1984. Saya duduk di bangku terdepan sayap kanan. Persis di dekat pintu keluar kelas. Bu Daliyanti sedang memberikan pelajaran Bahasa Indonesia. Suasana kelas agak gaduh karena suatu hal.

IMG-20190722-WA0026

Pak Munzaid bersama para muridnya. Foto kiriman Bu Handa, guru Bahasa Indonesia  yang juga banyak belajar dari Pak Munzaid

Tiba-tiba Bu Daliyanti yang sabar itu menunjukkan sedikit kemarahannya. Ketika itu saya juga terlarut pada suasana tidak konsen. Tiba-tiba seorang kawan yang duduk persis di belakang saya menyampaikan bahwa bu Daliyanti memanggil saya untuk maju. Karena tidak tahu, saya pun maju. Begitu tiba di dekatnya, Bu Daliyanti menanyakan untuk apa saya maju ke depan kelas. Kawan-kawan pun bersorak menertawai. Barulah saya sadar telah terperangkap keusilan kawan. Malu di depan kelas bermerah wajah. Maju di depan kelas padahal tidak dipanggil oleh bu guru. Malu diusili kawan belakang bangku.

•••

September 2012. Sore itu seorang kawan mengirim SMS. Ia menanyakan kebenaran sebuah berita duka. Pak Munzaid, guru kami saat di SMP, meninggal dunia. Segera saya crosscheck berita ini. Dan ternyata memang betul. Pak Munzaid telah berpulang menghadap-Nya.

Ingatan saya kembali menerawang di bangku kelas IF bersama kawan-kawan sekelas. Saat sering menjadi sasaran usil kawan-kawan. Masa-masa rendah diri sebagai anak desa sederhana. Saat sakit hati menjadi korban usil tanpa ada yang membela dan juga tidak bisa membela diri.

Orang bilang roda berputar. Suasana kelas IF saat awal awal berada di bangku SMP berubah 180 derajat pada saat-saat terakhir saya berada di sekolah terbaik di kota kecil Caruban ini. Pada hari-hari terakhir di kelas 3A, saya mendapatkan kehormatan luar biasa saat dipanggil maju di depan seluruh siswa sebagai peraih nilai ujian akhir (ketika itu namanya EBTANAS) tertinggi ke-2. Nomor 2 dari sekitar 300-an kawan seangkatan. Prestasi yang sangat melambungkan optimisme ketika itu.

Dihormati. Percaya diri. Tidak lagi menjadi sasaran usil. Tidak lagi menjadi bulan-bulanan. Bahkan bekal percaya diri ini berlanjut ketika berada di bangku SMA. Tahun pertama berseragam celana abu-abu saya dipiliha oleh kawan-kawan menjadi ketua kelas. Tahun kedua dipilih menjadi ketua OSIS. Tetap dengan prestasi akademik tinggi.

Siapa yang paling berjasa di balik proses pembelajaran dari minder menjadi percaya diri? Tidak lain adalah Pak Munzaid. Yaa… beliau adalah pembina ekstra kurikuler karate. Melalui sentuhan keguruan beliau di lapangan sekolah yang difungsikan sebagai dojo karate, rasa percaya diri saya tumbuh. Menggeser rasa minder dan pesimisme. Perlahan pula prestasi akademik terkerek secara menakjubkan.

karateka kecil editMental Karateka Mental Entrepreneur Dari Pak Munzaid

Sore itu, sosok guru olah raga berbadan tambun berambut ikal nan berwibawa itu seolah hadir kembali. Sosok yang ikhlas mengajar dalam kondisi keterbatasan ekonomi khas seorang guru jaman itu. Saya masih ingat, ekstra kurikuler karate ketika itu bisa diikuti oleh para siswa tanpa pungutan bayaran serupiah pun. Tentu tidak ada uang kami para murid yang mengalir ke Pak Munzaid sebagai pelatihnya.

Saat menyelesaikan tulisan ini, saya sempat berkomunikasi dengan seorang adik kelas yang juga siswi beliau baik melalui mata pelajaran olah raga maupun dojo karate. Komentarnya, “Pak Munzaid menjalankan perannya sebagai guru dengan pendekatan yang sangat disukai murid-muridnya. Beliau bisa memposisikan diri sejajar dengan murid utamanya yang kurang perhatian atau bandel. Kalo bercanda dengan kami-kami para muridnya, beliau tidak pernah marah walaupun dianggap setara layaknya seorang kawan bermain. Tapi kalau sedang mengajar, beliau serius dan berwibawa. Beliau serius saat latihan karate. Bahkan kesukaan bercanda yang sangat khas Pak Munzaid tidak pernah terlihat di dojo karate. Kami merasakannya sebagai pendidikan mental. Murid-muridnya para karateka bukanlah orang sembarangan”

Sebuah kesan yang tetap terukir di sanubari setelah seperempat abad terpisah waktu. Bagi siswi yang kini Bu Notaris ini, Pak Munzaid tentu bukan sembarang guru. Pilihan karir sebagai notaris yang pastilah membutuhkan keberanian khas seorang entrepreneur ini tentu tidak bisa lepas dari pendidikan mental karate Pak Munzaid.

Saya sendiri bukan termasuk murid istimewa bagi beliau. Murid kebanyakan saja. Tetapi, jiwa keguruan beliau telah menyentuh sanubari saya secara mendalam. Sentuhan itu telah mengikis rasa rendah diri dan menggantinya dengan percaya diri. Sebuah modal luar biasa untuk prestasi di bangku sekolah. Juga modal luar biasa bagi kehidupan di kemudian hari sebagai seorang entrepreneur melalui SNF Consulting tempat saya berkarya hingga kini. Saya merasakannya sebagai sentuhan edukatif luar biasa dari Pak Munzaid. Sentuhan mental karateka dari Sensei Munzaid. Saya yakin, kini semuanya telah menjadi kiriman pahala yang tidak pernah terputus dalam belaian kasih sayang-Nya. Ilmu yang bermanfaat sebagai amal jariyah. Doa kami para murid untukmu Sensei Munzaid. Aamiin.

Bacaan-bacaan pemicu amal jariyah Anda
Wakaf Korporat
Peredam Risiko Investasi Wakaf
Wakaf Modern Untuk Keabadian Amal & Kemerdekaan Ekonomi
Konversi Kotak Infaq ke Kotak Wakaf
Kesalahan Wakaf Saham Dan Perbaikannya
Wakaf Untuk Beasiswa: Fulbright Dari Timur
Wakaf Moncer dengan Puasa Infaq
Wakaf Para Alumni untuk Adik Kelasnya
Wakaf Agar Rp 10 Triliun Tidak Melayang Tiap Tahun
Wakaf Uang
Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Umat dan Bangsa
Korporatisasi: Asal Muasal

Klik untuk bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI

Tulisan Iman Supriyono ini juga dimuat di Majalah Baz, terbit di Surabaya, dengan judul “Sensei Munzaid”