Deep Dive Mengamankan RPD: CEO Sejati Ala Jack Welch


John Francis Welch Jr. alias Jack Welch lahir tahun 1935. Menjalani proses pendidikan sambil bekerja, ia menyelesaikan program sarjana, master dan akhirnya doktor bidang teknik kimia dari University of Illinois pada usia 25 tahun.  

Sejak lulus pada tahun 1960 ia langsung berkarir di General Electric. Di perusahaan besutan Thomas Edison ini, posisi pertamanya adalah junior chemical engineer di pabrik plastik. Tahun 1961 sempat mau keluar dari perusahan dengan nick name GE ini karena merasa tidak cocok dengan lingkungan kerjanya. Tapi GE merayu dia dengan membuatkan anak perusahaan yang sesuai dengan yang dinginkannya. Akhirnya ia bertahan. Kariernya tumbuh cemerlang sampai akhirnya menjadi CEO pada 1981. Menempati karier tertinggi pada usia 46 tahun alias setelah 21 tahun menjadi karyawan GE. CEO termuda sepanjang sejarah GE.

Kepemimpinannya di GE sangat istimewa. Posisi manajerial tertinggi itu didudukinya selama 20 tahun. Ia benar-benar menjalani apa yang disebut sebagai CEO Life Cycle oleh Citrin dan kawan-kawan dalam Harvard Buseness Review. Menjalani siklus honeymoon, sophomore trap, recovery dan complecency trap selama 10 tahun pertama masa jabatan. Dilanjutkan dengan 10 tahun kedua sebagai golden years. Hasilnya, nilai (market value) GE melesat dari USD 12 miliar saat ia mulai menjabat menjadi USD 410 miliar saat ia pensiun. Luar biasa.

&&&

Mendongkrak nilai perusahaan 34 kali lipat selama 20 tahun. Apa rahasianya? Maka, menarik sekali untuk membaca buku tulisannya “Jack Straight from the Gut”. Salah satu poin penting yang dituliskannya pada buku terbitan 2001 itu adalah deep dive. Menyelam dalam.

Jack Welch melakukannya misalnya ketika mendapatkan komplain dari pelanggan tentang kualitas tabung untuk peralatan CT scan dan X ray. Dimulai tahun 1993, ia telah serius memperhatikan salah satu produk unggulan GE ini. Ia serius berdiskusi dengan pelanggan di berbagai kota. Mereka mengakui keunggulan mesin buatan GE. Tetapi mengeluh tentang kualitas tabung, salah satu komponen utama alat itu.

Mengamati lebih dalam, Jack mendapati bahwa tabung tersebut hanya mampu bertahan untuk 25 000 kali pemakaian. Sementara tabung produk pesaing mampu digunakan untuk dua kali lipatnya. Kelemahan tabung itu selama ini telah tertutup oleh kekuatan sistem teknologi CT.

Dengan deep dive, Jack menemukan dan menangani langsung masalah itu. Segera ia datang langsung ke Milwaukee, lokasi pabrik tabung. Dengan menyelam kedalam, ia menilai bahwa pabrik tabung selama ini telah diperlakukan seperti anak yatim. Kalah jauh dengan fasilitas produksi untuk komponen ultrasound yang hanya terpisah dinding.

Untuk menanganinya, ia minta agar masalah kualitas tabung ini langsung dilaporkan kepadanya. Segala keperluan untuk perbaikannya dibicarakan dan didukungnya secara penuh. Ditargetkan agar tabung mampu digunakan untuk 100 ribu kali. Empat kali dari kondisi sekarang. Untuk itu ia dukung penuh dengan sumber daya yang dibutuhkan. Baik kebutuhan personel maupun dananya.

Ia minta agar laporan mingguan produksi tabung dikirim langsung melalui fax ke dirinya. Saat itu belum ada email. Dengan slogan “Tabung adalah jantung dari sistem” ia mempertahankan pengiriman laporan mingguan itu selama 4 tahun. Ia terus merespon laporan itu dengan kebijakan yang tepat. Juga dengan semangat yang menyala. Tahun kelima, kemampuan tabung telah meningkat menjadi 200 ribu kali pemakaian. Dengan menerapkan six sigma, usianya bahkan menjadi 500 ribu kali pemakaian dan menjadi standard industri pada tahun 2000.

&&&

Dalam kerangka corporate life cycle, deep dive harus dilakukan oleh seorang CEO untuk menangani revenue and profit driver (RPD). Mengapa demikian? RPD adalah jantung hidup mati perusahaan. Adalah jantung pertumbuhan perusahaan. CT scan dan X ray adalah RPD bagi GE. Kegagalan dalam RPD adalah alarm kematian bagi sebuah perusahaan.

Pada sebuah kesempatan, sebagai konsultan saya pernah berdebat seru dengan dewan direksi sebuah perusahaan klien SNF Consulting. Dengan berbagai cara, saya berargumentasi keras bahwa sang CEO harus menyelam dalam. Harus langsung menangani RPD nya yang sedang bermasalah. RPD-nya tidak mampu menghasilkan laba untuk mendukung pencapaian ROE dan ROI perusahaan.

Saya sampaikan bahwa selama ini kebijakan yang digerakkan dari kantor pusat tidak efektif untuk semua titik RPD. Saya buktikan dengan data internalnya bahwa sejauh ini strategi kantor pusat apapun tidak bisa meningkatkan kinerja RPD yang bermasalah. Singkat cerita, Si CEO ngotot tetap menangani masalah dari kantor pusat. Dan karena tidak ada titik temu, SNF Consulting pun angkat tangan. Tidak melanjutkan kerja sama sebagai management sparring partner bagi klien tersebut.  Pantauan dari jauh menunjukkan bahwa si CEO tetap ngotot tidak mau melakukan deep dive dan kinerja perusahaan pun terus menurun.

&&&

Pembaca yang baik, seorang CEO harus mampu dan mau melakukan deep dive. RPD adalah jantung dari core competence sebuah perusahaan. Dengan demikian maka deep dive memperbaiki kinerja RPD adalah langkah top urgent. Jack Welch mampu melakukannya. Kemampuan  ini dimungkinkan karena memang ia pernah berada di posisi menjadi garda depan RPD perusahaan. Itu dilakukan saat menjadi junior chemical engineer pada tahun awal kariernya di GE.

Pelajari bagaimana deep dive sebagai seorang CEO sejati melalui KELAS CEO DIREKSI KOMISARIS. Info dan Pendaftaran http://www.klikwa.net/snfconsulting

Mampu dan mau. Kemauan dimungkinkan karena sorang CEO memang bertugas mengelola dan memastikan RPD tetap efektif sebagai titik keunggulan daya saing perusahaan. Howard Shultz, CEO Starbucks, pernah kembali mengambil kendali perusahaan setelah sebelumnya mundur dari posisi CEO. Keputusannya pegang kemudi lagi itu karena pertumbuhan pendapatan existing store memburuk. Pendapatan perusahaan masih tumbuh, tapi pertumbuhannya hanya diperoleh dari gerai baru. Dari new build store. Ini masalah bagi perusahaan dengan RPD berupa gerai seperti Starbucks ini. Kembali menjadi CEO adalah cara Howard untuk melakukan deep dive.

Untuk para CEO atau dewan direksi, apa RPD perusahaan Anda? Sudahkah Anda benar-benar memahami RPD tersebut? Sudahkah Anda membuktikan pemahaman tersebut dengan deep dive menyelesaikan maslah RPD? Ingat bahwa RPD perusahaan bisa kehilangan taji di pasar yang berubah. Pandemi ini menjadi batu uji untuk menjadi seorang CEO sejati.. Anda siap deep dive?

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI

Baca Juga
Jean Paul Agon CEO L’oreal


Artikel ke-341 karya Iman Supriyono ini ditulis sambil WFH di Surabaya pada tanggal 21 Juli 2021

9 responses to “Deep Dive Mengamankan RPD: CEO Sejati Ala Jack Welch

  1. Deep dive itu kan seperti blusukan ya cak Im ?

  2. Ping-balik: Faktor Kali Alias RPD | Korporatisasi

  3. Ping-balik: Pedal Gas: Revenue & Profit Driver | Korporatisasi

  4. Ping-balik: Corong Menuju RPD | Korporatisasi

  5. Ping-balik: Funneling Marketing: Corong RPD | Korporatisasi

  6. Ping-balik: N250 & Kemustahilan Habibie | Korporatisasi

  7. Ping-balik: Rebranding: Ya atau Tidak? | Korporatisasi

  8. Ping-balik: Rebranding Jangan Sembarangan | Korporatisasi

Tinggalkan Balasan ke Korporatisasi Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s