Jaranan: Dari Kampus Kelas Dunia


Jaranan

Oleh Iman Supriyono, konsultan dan penulis buku-buku manajemen pada SNF Consulting

Saya tidak tau persis apakah yang ditampilkan itu memang bernama tarian jaranan. Yang jelas alat tariannya adalah berupa papapan tipis berbentuk siluet jaran yang sejak kecil saya kenal sebagai jaranan. Sebuah hiburan panggung yang bagi kebanyakan orang mungkin sudah tidak menarik. Tetapi malam itu berbeda. Saya dan seluruh hadirin di auditorium Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya itu tampak sangat antusias. Tepuk tangannya membahana. Antusiasme pada pelantikan Rektor malam itu muncul karena seluruh penari adalah mahasiswa asing. Ya…mereka adalah warga berbagai negara yang sedang menempuh pendidikan di kampus dengan gedung-gedung megah di Surabaya Timur itu.

Sebagaimana disampaikan oleh Pak Zainuddin Maliki, mantan rektor yang malam itu menyerahkan jabatannya, UM Surabaya kini memang mendapatkan kepercayaan dari PP Muhammadiyah untuk mendidik para mahasiswa asing. Mereka berasal dari Burma, Thailand, Philipina dan beberapa negara Eropa Timur.

Saya menangkap antusiasme malam itu sebagai sebuah apresiasi atas prestasi kampus berlokasi di bilangan Sutorejo itu. Bukan sekedar prestasi membangun gedung megah. Tetapi sebuah prestasi membangun suasana pembelajaran kelas dunia. Pendidikan dimana para mahasiswa dari berbagai negara saling berinteraksi intensif. Saling belajar tentang banyak hal yang dibawa dari negerinya masing-masing. Sebuah pembelajaran yang luar biasa.

Saya menyebutnya luar biasa karena membaca sejarah. Ada keterkaitan yang erat antara lingkungan pendidikan antar bangsa dengan prestasi gemilang banyak tokoh besar. KH Ahmad Dahlan merasakannya dengan belajar di Makkah pada usia 15-20 tahun dan kini Muhammadiyah yang didirikannya meraksasa dengan puluhan ribu amal usaha. Obama yang lahir di Amerika merasakannya dengan belajar di SDN Menteng Jakarta dan kini menjalani masa jabatan kedua sebagai Presiden di negerinya. Muhammad SAW merasakannya saat umur 12 tahun menempuh perjalanan ribuan kilometer meninggalkan tanah airnya di Makkah untuk belajar di Syam dan sejarah kemudian mengakuinya sebagai tokoh tiada tandingan. Masih panjang sekali daftar orang-orang seperti ini yang tidak mungkin semuanya ditampilkan di tulisan ini.

UM Surabaya

Kampus Universitas Muhammadiyah Surabaya yang kini sedang getol membangun dan tumbuh

Bagi para mahasiwa, lingkungan antar bangsa akan menjadi proses pembelajaran yang luar biasa. Bagi UM, prestasi ini akan menjadi landasan dari prestasi berikutnya. Para mahasiswa itu tentu sebagaian besar akan pulang ke negerinya masing-masing. Karena pengalamannya terdidik secara internasional, sangat mungkin mereka nantinya akan menjadi orang sukses dan tokoh masyarakat. Pada saat itu mereka tentu akan tetap ingat almamater yang mendidiknya. Mereka akan ingat kawan-kawan kuliahnya yang ketika itu sebagaian pasti akan ada yang menjadi dosen di almamaternya. Ini akan membentuk jaringan internasional yang luar biasa. Salah satu manfaatnya tentu akan makin mempermudah bagi kampus yang sejak malam itu dipimpin oleh Pak Sukadiono itu untuk merekrut mahasiswa asing dari berbagai negara.

Makin menginternasional. Makin berpeluang menghasilkan tokoh-tokoh masyarakat sekelas Ahmad Dahlan atau Obama di berbagai belahan dunia. Makin memberikan lingkungan dan jarignan internasional kepada para mahasiwa lokal yang karena suatu dan lain hal tidak sempat belajar ke luar negeri. Mereka memang tidak ke luar negeri, tetapi kawan kuliah mereka berasal dari berbagai negara. Jaringan bisnis, karir, sosial dan dakwah mereka akan menyebar ke berbagai negara. Bahkan mereka bisa jadi akan menikah dengan kawan kuliah dari negeri yang jauh. Jaringan bisnis, karir, sosial dan dakwah internasional pun akan berakar makin dalam.

Melalui tulisan ini, saya sampaikan selamat bertugas kepada Pak Suko, demikian panggilan akrab rektor yang malam itu dilantik. Harapannya, saat pelantikan rektor baru empat tahun yang akan datang, para penari jaranannya makin beragam. Ada mahasiswa Bule, China, Arab, Indian, Jepang, Korea, Negro, dan masih banyak ragam lagi bergabung dalam tarian jaranan kolosal di auditorium yang lebih besar dan megah. Saya yakin Pak Suko bisa. UM Surabaya bisa. Jaranan aneka bangsa!

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya

Sekolah, Gelar Akademik dan Kuliah Doktor yang Sia-Sia


SD: Masuk Buta Huruf Keluar Bisa Baca
Mungkin ada sebagian dari Anda yang mendapatkan keterampilan membaca (dan menulis) melalui Taman Kanak-Kanak. TK.  Ini bisa terjadi pada Anda yang terlahir dan besar di tempat-tempat yang sudah relatif maju tingkat pendidikannya. Di kota-kota. Lingkungan sudah menyediakan sarana belajar sejak TK.

Mungkin ada sebagian yang lain memperoleh keterampilan membaca pada saat menempuh pendidikan tingkat Sekolah Dasar (SD). Fasilitas pendidikan Anda belum menyediakan tingkat Taman Kanak-Kanak. SD adalah sekolah pertama yang menjadikan Anda bisa membaca (dan menulis).

Renungan menariknya: sebuah proses pembelajaran yang baik akan memberikan perkembangan signifikan. Sebelum masuk TK Anda tidak bisa membaca (dan menulis) dan lulus TK dengan keahlian membaca. Sebelum masuk SD Anda tidak bisa membaca (dan menulis) dan lulus SD dengan keahlian membaca (dan menulis).

Keterampilan membaca benar-benar membuka jendela dunia. Anda bisa memahami nama jalan dan mencari alamat seseorang dengan membaca. Anda juga bisa berkomunikasi dengan rekan melalui SMS karena bisa membaca. Anda bisa menyimpan informasi tentang nomor telepon atau alamat rekan Anda melalui membaca-menulis. Anda bisa mengetahui berita melalui membaca koran. Pendek kata, membaca telah menjadikan jendela dunia terbuka.

Itulah contoh proses pembelajaran yang luar biasa. Sebelum sekolah Anda buta aksara, buta informasi, tidak bisa memahami isi buku, tidak memahami berita di koran, tidak bisa mencatat nomor telepon dan alamat kawan Anda. Berada dalam alam kegelapan.

Setelah sekolah (TK atau SD), semuanya terbuka. Cahaya telah menyinari kehidupan. Anda bisa berkomunikasi dengan SMS atau email, mencatat nomor telepon dan alamat kawan melalui phone book telepon seluler, mengetahui berita sehari-hari dengan koran, ke mana pun tidak takut tersesat.

Begitulah pendidikan yang berhasil. Terdapat perbedaan signifikan antara sebelum dan sesudah menempuhnya. Sebelum sekolah tidak bisa membaca, setelah sekolah jadi bisa membaca.
akademisi

Nah….sekarang coba renungkan: apa yang membedakan Anda antara sebelum dan sesudah memasuki jenjang pendidikan SMP? SMA? Perguruan tinggi? S1, S2, S3? Kalau ada perbedaan yang signifikan, berarti Anda telah berada di jalan yang benar. Kalau tidak ada, berarti selama ini proses pendidikan itu sia-sia.

Sesuatu yang sia-sia dilarang agama. Sesungguhnya kesia-siaan itu saudaranya setan, demikian Al Qur’an surat Al-Isro ayat 27. Maka, jangan biarkan waktu Anda sia-sia. Uang Anda sia-sia. Umur Anda sia-sia. Seolah-olah belajar tetapi tidak mendapatkan apa pun kecuali buang-buang waktu, usia, uang, tenaga, dan potensi.

Magister: lulus bisa nulis buku
Ini adalah jenjang pendidikan yang paling saya rasakan pengaruhnya setelah SD. Bukan berarti dari SD langsung magister. Habis SD langsung S2.

Tetap seperti orang lain. Dari SD saya belajar di SMP, SMA, Sarjana..dan barulah pasca sarjana. Magister. S2.

Apa perubahan yang signifikan itu? Sebelum belajar di jenjang ini saya tidak bisa menulis buku. Setelah lulus, tidak lama kemudian buku demi buku terbit. Yang sekarang Anda baca ini adalah buku ke-7 saya. Masih banyak buku yang sudah mulai saya kerjakan dan tersimpan di laptop. Insya Allah segera menyusul.

Bagaimana proses pembelajaran di jenjang magister ini hingga saya bisa nulis buku? Ada mata kuliah yang sangat berkesan dan saya pelajari serius: metodologi.

Mata kuliah ini mengajarkan konsep tentang bagaimana proses untuk menghasilkan ilmu pengetahuan. Pengetahuan dihasilkan melalui riset atau penelitian yang secara umum dibagi menjadi dua pendekatan: statistik dan alternatif. Pendekatan statistik sering juga disebut metode mainstream.

Saya mempelajari dua-duanya. Pendekatan statistik saya pelajari dengan membantu kawan-kawan yang membuat tesis dengan metode ini. Pendekatan non statistik alias alternatif saya pelajari serius dengan menerapkannya pada penulisan tesis saya.

Dengan cara ini, saya belajar sangat intensif dengan kedua metode pendekatan ini. Dengan pendekatan statistik berpraktek menerapkan analisis diskriminan, cluster, regresi linier berganda, path analysis dan sebagainya. Pada pendekatan non statistik saya menerapkan studi kasus dari Yin.

Proses pembelajaran berjalan dengan nyaris sempurna. Mempelajari teori, mempraktekkan, mengulang-ulang, menjadi kebiasaan, dan mendapatkan hasil. Saya merasakan dengan baik bagaimana proses menghasilkan ilmu. Pendekatan alternatif sebagai proses menghasilkan hipotesis dan pendekatan statistik sebagai proses menguji hipotesis. Hipotesis adalah asal-usul sebuah teori yang merupakan bagian penting dalam ilmu pengetahuan.

Maka, tidak lama setelah menyelesaikan tesis sebagai praktek pembelajaran metodologi penelitian, buku pertama lahir. Hingga saat ini, saya masih terus-menerus mengasah keahlian di bidang metodologi ilmiah ini. Buku demi buku akan menjadi penanda pembelajaran ini.

Inilah pendidikan yang baik: sebelum menempuh S2 saya tidak bisa menulis buku. Setelah S2 buku demi buku lancar meluncur ke masyarakat pembaca. Ada perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah proses belajar.

GG1

Buku tulisan ke-7 dari 9 buku tulisanku yang sudah terbit

Beberapa waktu lalu saya pulang ke rumah ibu di Madiun. Karena sebuah kebutuhan, saya kembali membuka sebuah lemari pakaian. Ada sesuatu yang menarik di balik pintu lemari yang dulu saya pakai menyimpan baju sewaktu masih kecil hingga remaja. Terdapat tanda tangan dan tulisan nama dibawahnya: Prof. Dr. Ir. Iman Supriyono, SE, MSc.

Apa yang tertulis semasa usia SMA itu adalah cermin semangat. Semangat untuk menempuh jenjang pendidikan hingga mentok. Semangat untuk menjadi akademisi hingga jenjang tertinggi: profesor doktor.

Semangat itu masih terasa saat awal-awal kelulusan dari program magister. Saat saya belum membuat proses perenungan mendalam dalam hal pembelajaran.

Tetapi, kini, saat saya telah merenungkan lebih mendalam tentang proses pembelajaran, semangat itu hilang. Paling tidak untuk saat ini. Saat di mana saya belum menemukan jawaban terhadap pertanyaan sederhana: apa perbedaan nyata dan konkrit, tentu saja bagi saya, antara sebelum dan sesudah sekolah doktor.

Sebelum sekolah magister tidak bisa menulis buku. Lulus sekolah magister bisa nulis banyak buku. Sebelum sekolah doktor tidak bisa apa, setelah sekolah doktor bisa apa? Itulah pertanyaan yang harus terjawab sebelum semangat untuk sekolah doktor kembali muncul.

Tidak baik sekolah dengan sia-sia. Tidak ada perbedaan signifikan antara sebelum dan sesudah menempuh proses pendidikan. Waktu, pikiran, biaya ratusan juta, sirna begitu saja tanpa adanya keahlian yang berarti.

Gelar? Haruskah gelar menjadi sesuatu yang diandalkan? Rasanya tidak. Alasannya sederhana. Gelar adalah bukti bahwa seorang mahasiswa telah berhasil melalui serangkaian ujian. Gelar adalah pengakuan akan prestasi seorang mahasiswa dari kampus tempatnya menuntut ilmu.

Menulis gelar di depan nama berarti menuliskan prestasi semasa menjadi mahasiswa. Prestasi masa lalu. Bukan prestasi sekarang. Haruskah berbangga dengan prestasi masa lalu?

Mestinya, yang lebih penting bagi seorang lulusan sebuah jenjang pendidikan adalah bukti berupa prestasi yang diakui masyarakat. Bukti bahwa seorang alumni sebuah lembaga pendidikan mengalami proses pembelajaran yang meningkatkan kapasitas nyata dan signifikan. Bagi saya, buku-buku yang dibaca masyarakat jauh lebih penting sebagai tanda keberhasilan proses pembelajaran magister dari pada ijazah atau gelar yang tertulis di kartu nama.

Bagaimana dengan ijazah? Perlakukan ijazah sebagaimana seharusnya ijazah diperlakukan. Dilaminating dan disimpan di lemari. Tidak perlu kesana-kemari ditunjukkan kepada orang lain. Cukup disimpan sendiri sebagai kenangan bahwa dulu saya pernah belajar di SD Negeri Kaliabu 1, SMP Negeri 1 Caruban, SMA Negeri 1 Caruban, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan Universitas Airlangga (UNAIR). Itu saja.

Tulisan ini diambil dari buku ke-7 ku “Guru Goblok Ketemu Murid Goblok, Hikmah Pembakar Jiwa Entrepreneur dari Abdul Rachim

Lacoste: Merek yang Bernilai Jauh Lebih Tinggi dari Produknya


Ini kisah tentang sepatu. Bukan sebuah dongeng. Bukan juga kisah fiktif. Melainkan sebuah kisah nyata tentang sepatu yang saat saya menulis di kabin pesawat dalam penerbangan Surabaya-Kupang ini pun sedang saya pakai.

Sebagai orang yang bekerja di bidang konsultan manajemen, memberikan presentasi materi tentang bisnis adalah salah satu pekerjaan yang menyenangkan. Termasuk dalam beberapa kesempatan diminta menjadi nara sumber tentang branding. Dalam forum yang biasanya dihadiri oleh para praktisi seperti ini tentu tidak elok kalau berpresentasi dilakukan tanpa daya tarik khusus. Nah, sepatu yang saya kenakan siang ini telah beberapa kali menjadi sumber daya tarik itu. Jadi bisa disebut sepatu yang multi fungsi. Berfungsi sebagai alas kaki untuk kehadiran di forum-forum resmi, juga berfungsi sebagai sarana presentasi.

Sebagai sarana presentasi, sepatu saya butuh pendamping. Untuk keperluan ini, biasanya saya meminjam beberapa sepatu peserta lain yang sama-sama sepatu formal dan terbuat dari kulit. Setelah ada beberapa sepatu, tiap peserta saya mengajak para peserta untuk bermain tebak-tebakan berhadiah. Seluruh peserta saya persilahkan membawa secarik kertas, mengamati tiap sepatu yang ada, menulis mereknya dan kemudian menebak berapa harga baru dari tiap sepatu tersebut. Tentu termasuk sepatu saya.

Karena sudah saya lakukan beberapa kali dengan peserta yang banyak, tentu saya tidak bisa menghafal apa saja merek sepatu yang pernah diikutkan tebak-tebakan ini. Yang masih saya ingat adalah rentang harganya. Berbagai merek tersebut, berdasarkan pengakuan pemiliknya, dibeli dengan rentang harga mulai bilangan puluhan ribu sampai juta rupiah. Yang menarik adalah kesalahan yang tebakan peserta. Ada yang menebak dengan kesalahan selisih harga sampai bilangan juta rupiah.

buaya

Buaya yang menjadi nama merek terkenal

Yang saya ingat misalnya ada kesalahan dalam menebak sepatu saya. Sepatu itu saya beli di Sogo Tunjungan Plaza Surabaya. Ketika itu kebetulan outlet milik jaringan ritel 7-Eleven Jepang itu ada program diskon sehingga sepatu yang dibandrol dengan harga Rp 2,5 juta itu bisa dibeli dengan harga separuhnya. Saya pun tidak perlu membayar tunai karena kebetulan sedang memegang voucher belanja dari sebuah produk yang nilainya cukup untuk membayar sepatu bermerek Crocodile itu. Memperhatikan tampilan sepatu yang memang modelnya standard itu banyak peserta yang menebaknya dengan harga sekitar Rp 250 ribu alias ada kesalahan tebak sekitar Rp 1 juta.

&&&

Pembaca yang baik, jaman modern ini orang begitu percayanya pada merek produk. Kepercayaan in mengakibatkan munculnya nilai dari sebuah merek. Sebagai contoh, sepatu yang saya gunakan sebagai permainan tebakan harga di atas pernah saya tunjukkan pada seorang pemilik perusahaan sepatu. Perusahaan Yang memproduksi sepatu kulit sendiri setelah sebelumnya ia bekerja sebagai ahli sepatu pada sebuah produsen sepatu besar.

Hasil gambar untuk crocodile singapore brand logo

Crocodile: Sepatu yang  mereknya jauh lebih mahal dari pada produknya

Setelah mengamati sepatu saya dengan seksama, ia bilang bahwa sepatu saya terbuat dari kulit dengan kualitas sangat bagus. Kualitas menyamakannya prima sehingga warna hitamnya tidak akan terkelupas. Sol sepatunya pun dari material yang sangat bagus sehingga dipakai lima tahun pun tidak akan aus. Lemnya pun berdaya rekat hebat sehingga tidak akan jebol bahkan andaikan ditarik dengan beban sekian ton. Jahitannya juga luar biasa bagus. Tapi, kata ahli safety shoes ini, sebagus-bagusnya sepatu saya, ia bisa menjualnya dengan harga tidak Rp 250 ribu sepasang dan sudah laba. Jadi ada selisih Rp 1 juta. Inilah nilai marek itu.

brandimg

Kerja panjang membangun kekuatan merek Crocodile dimulai dari sesuatu yang sederhana. Foto dari http://www.crocodileinternational.com

Mengapa nilai merek lebih tinggi dari harga sebenarnya bahkan sampai diluar jangkauan prediksi tebakan banyak orang? Itu tentu saja tidak lepas dari upaya branding yang dilakukan oleh Tan Hian Tsin di Singapura sejak tahun 1947.  Crocodile lahir di Singapura jauh sebelum negara kota itu lahir.  Dalam rentang waktu yang sangat panjang itulah kekuatan merek terus menerus dipupuk. Hasilnya bisa kita saksikan hari ini.

&&&

Sama-sama menggunakan logo buaya, di belahan dunia lain hadirlah merek Lacoste. Merek ini diambil dari nama belakang pendirinya. Rene Lacoste, itulah sang pemilik dan pencetus merek, sejak tahun 1933. Merek berlogo buaya dengan aksen warna hijau ini terus menerus dipupuk sejak kelahirannya.

Korporatisasi

Korporatisasi adalah cara perusahaan tumbuh pesat dengan mengubah intangible asset menjadi modal murah dan melimpah

Tidak hanya dari Perancis negeri asalnya, Lacoste juga terus menerus di branding dan di ekspor ke berbagai Negara. Dimulai dari ekspor ke Italia pada 1951 kini Lacoste sangat populer sebagai merek sepatu, baju, kaos, parfum, ikat pinggang dan berbagai aksesoris gaya hidup di berbagai Negara. Termasuk di Indonesia. Bahkan urusan produksi pun banyak diserahkan kepada pihak lain sedemikian sehingga perusahaan bisa fokus mengelola branding dengan kreativitas yang tinggi. Seperti Crocodile, Lacoste pun memiliki merek yang nilainya melampaui harga produknya.  Memiliki intangilble asset yang besar dan bisa menjadi uang untuk modal pertumbuhan perusahaan.  Seperti apa yang terjadi pada permainan tebakan tadi. Mari belajar dari Crocodile. Mari belajar dari Lacoste!

Baca juga: Menguangkan intangible asset ala Sari Roti.

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

*)Tulisan ini pernah dimuat di majalah Matan, terbit di Surabaya dengan diedit kembali oleh penulisnya, Iman Supriyono, CEO  SNF Consulting

Desakralisasi Harokah, Sakralisasi Islam


Desakralisasi Harokah

Oleh: Iman Supriyono, konsultan dan penulis buku-buku manajemen pada SNF Consulting

Pengertian:
Harokah (al-harokah) berasal dari kata dasar Haraka-Yahruku-Harkan yang secara kamus bermakna gerakan. Secara istilah harokah yang dimaksud pada tulisan ini adalah sekelompok orang yang memiliki kesamaan persepsi tentang permasalahan ummat Islam pasca khulafaur rosyidin dan mengorganisir diri dengan menyusun strategi dan mengeksekusinya melalui berbagai aktivtas yang oleh kelompoknya dipersepsikan bisa menjadi solusi terhadap masalah yang dihadapi. Contoh Harokah adalah Muhammadiyah (didirikan oleh KH Ahmad Dahlan di Indonesia tahun 1912, NU (didirikan oleh KH Hasyim Asyari di Indonesia tahun 1926, Jamaah Tabligh (didirikan oleh tahun 1926 oleh Mohammadi Ilyas di India), Ihwanul Muslimin (didirikan oleh Hasan Al Banna di Mesir tahun 1928), Hisbut Tahrir (dirikan oleh Taqiudin An Nabani di Al Quds tahun 1952), Hidayatullah (didirikan oleh Ust Abdullah Said di Indonesia tahun 1973), banyak sekali yayasan kecil di berbagai penjuru, dll dll.
• Desakralisasi berasal dari sakral. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, sakral berarti suci atau keramat. Desakralisasi dalam tulisan ini berarti mengurangi atau menurunkan tingkat anggapan bahwa harokah bersifat suci atau keramat sampai pada batas tertentu yang menjadikan komunikasi dan interaksi antar harokah menjadi lebih sehat dan produktif

Mengapa deskralisasi harokah?
• Adanya gejala fanatisme harokah yang berlebihan sehingga menimbulkan kerenggangan hubungan antar harokah yang sebenarnya bertujuan sama
• Adanya kecenderungan munculnya persepsi bahwa harokah bersifat sakral atau seolah-olah para pendiri dan pimpinan harokah mendapatkan mandat secara langsung dari pembawa risalah (Rasulullah SAW) sehingga bersifat suci, keramat, atau sakral dan tidak bisa diutak atik seperti tidak bisa diutak atiknya teks hadits atau ayat Al Qur’an
• Secara subyektif, tulisan ini adalah upaya kontribusi pemikiran manajemen harokah dari penulis yang memang selama ini menekuni riset manajemen baik organisasi profit maupun non profit dan menuliskannya pada buku-buku buku (sejauh ini telah terbit 9 buku) maupun artikel di berbagai media dalam payung SNF Consulting

Apakah sebuah harokah sakral?
• Untuk menjawabnya kita mesti membaca kembali sejarah kemunculan harokah (Islamiyah) sepanjang sejarah keberadaan ummat Islam dari permulaan disampaikannya ajaran ini hingga saat ini.
• Dalams sejarah, harokah islamiyah muncul sebagai sebuah ijtihad dari pada pendirinya untuk mengembalikan Islam pada masa keemasannya sesuai dengan persepsi para pendiri tersebut terhadap masalah ummat Islam dan strategi untuk menyelesaikannya.
• Semua pendirian harokah dilakukan atas dasar ijtihad murni. Tidak  ada satupun yang mendapat tugas langsung ataupun mandat dari Rasulullah SAW misalnya seperti Abdullah ibn Hudhafah As-Sahmi yang mendapatkan tugas langsung dari Nabi SAW untuk berdakwah ke Rum
• Dengan demikian tidak tepat bila harokah diposisikan sebagai sesuatu yang sakral
• Dalam kitab Fikh Dakwah, Syech Mushthafa Masyhur menyebut harokah sebagai jamaatu minal muslimin (bagian dari umat Islam secara keseluruhan), bukan jamiatul muslimin (umat Islam secaa keseluruhan) sehingga kebijakan atau instruksi apapun dari pimpinan harokah tidak bisa diberlakukan dan tidak mengikat bagi seluruh kaum muslimin. Instruksinya hanya mengikat kepada anggota harokahnya sesuai aturan internal yang disepakati oleh para anggota
• Bentuk badan hukum yang kini dipakai sebagai format resmi sebuah harokah (ormas, yayasan, parpol, PT atau apapun) semuanya adalah badan hukum modern yang dibuat berdasarkan undang undang negara tempat harokah tersebut berkedudukan. Bentuk badan hukum ini juga bersifat ijtihad dan tidak dikenal pada jaman Nabi SAW.

ilmuwan muslim

Harokah Islamiyah dimaksudkan sebagai sarana berkontribusi mewujudkan kejayaan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam

Apa konsekuensi dari ketidaksakralan harokah?
• Seseorang berinisiatif mendirikan sebuah harokah dan kemudian merekrut orang lain untuk bergabung tidak berbeda dengan seseorang yang mendirikan sebuah organisasi lain (perusahaan misalnya) yang diniatkan untuk mengatasi permasalahan ummat Islam
• Yang membedakan adalah karya apa yang dihasilkan dari pendiri tersebut melalui organisasi yang didirikannya yang bermanfaat bagi ummat Islam dan ummat manusia secara umum.
• Organisasi apapun secara fikih tidak memiliki catatan dosa ataupun pahala. Tidak akan dihisab di negeri akhirat. Yang berdosa atau berpahala adalah orang orang yang berada di organisasi tersebut.  Sebagai manusia mereka tidak suci dari dosa. Dengan demikian setiap keputusan atau strategi apapun yang ada pada sebuah harokah atau organisasi apapun kualitasnya kembali kepada sisi kemanusiaan para pengurus atau pemimpinnya yang tidak luput dari salah dan khilaf.

Pentingnya Harokah
• Dengan demikian apakah berarti harokah tidak diperlukan keberadaannya? Tidak. Harokah sangat diperlukan bahkan wajib adanya sebagai upaya yang teroganisir dari ummat Islam untuk mengembalikan kejayaan dan masa keemasan pada akhir jaman sebagaimana yang disampaikan dalam hadits Nabi
• Apakah seseorang harus bergabung dengan sebuah harokah? Menurut penulis berdasarkan literatur memang harus. Hanya saja tidak ada kewajiban bergabung ke harokah yang sudah ada. Mereka bisa saja mendirikan harokah sendiri dengan format legalitas ormas, parpol, yayasan, koperasi, perseroan terbatas atau apapun yang dipandangnya sesuai untuk mencapai tujuan kejayaan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam
• Apakah seseorang hanya boleh bergabung pada sebuah harokah secara eklusif dan pada saat bersamaan tidak boleh bergabung ke harokah lain? Pada hemat penulis tidak demikian. Seseorang bisa saja menjadi aktivis dari lebih dari satu kelompok yang bermaksud untuk mencapai kejayaan Islam. Misalnya bisa saja seseorang menjadi aktivis harokah X dan pada saat bersamaan juga aktif di harokah Y bahkan bisa juga ia sekaligus mendirikan PT Z yang diniatkan sebagai harokah  untuk mewadahi aktivitasnya memenuhi hajat hidup ummat Islam akan produk tertentu (busana, motor, mobil, buku, beras, jagung atau apapun yang bisa disetarakan dengan kebutuhan air pada jaman nabi yang atas tugas nabi dipenuhi oleh Usman bi Affan dengan mengakuisisi sumur milik seorang Yahudi)
• Pada saat masa kejayaan ummat telah kembali seperti pada jaman khulafaurosyidin, tiap harokah yang ada tetap berfungsi sebagaimana fungsi yang telah dijalankan sebelumnya dalam sebuah koordinasi yang padu

Sakralisasi Islam

Harokah perlu di desakralisasi dan selanjutnya segala sesuatunya kita kembalikan kepada Islam sebagai pedoman. Islamlah yang perlu disakralkan, dipegang erat-erat, dan dijadikan landasan juang untuk mencapai kebahagian dunia akhirat, untuk kemaslahatan bagi seluruh alam

Penutup
• Konsep desakralisasi harokah pada tulisan ini adalah pendapat pribadi penulis yang bisa mengandung kesalahan dan kelemahan
• Oleh karena itu dibutuhkan kritik dan masukan dari para pembaca untuk memperbaikinya dalam rangka kontribusi untuk
mencapai kejayaan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil alamin) tanpa memandang suku, golongan, agama atau perbedaan apapun dari penerima rahmat. Semoga bermanfaat.

 

Royalti Unilever: Gol Balasan


Lima ratus tiga puluh enam milyar. Rp 526 M. Itulah nilai uang royalti yang harus disetor oleh Unilever Indonesia atas pemakaian merek-merek milik Unilever NV Rotterdam tahun 2012 lalu. Itulah berita yang dirilis oleh Harian Bisnis Indonesia 9 April 2013. Jumlah itu masih ditambah dengan Rp 402 M sebagai biaya jasa. Total Rp 938 Milyar. Angkanya klop dengan laporan keuangan resmi eminten berkode UNLV yang menyebut total Rp 939,6 Milyar pada pos biaya royalti dan jasa. Selisih terjadi karena pembulatan.

Royalti harus dibayar karena Unilever Indonesia menggunakan merek-merek yang dimiliki Unilever NV Rotterdam. Ada banyak sekali merek yang hingga kini masih terus dipakai. Merek-merek milik perusahaan beromset 51 Milyar Euro itu sangat digemari masyarakat. Berikut ini beberapa diantaranya: Sunsilk, Lux, Axe, Rexona, Dove, Omo, Surf, Lipton, Blue Band, Walls, Paddle Pop, Royco, Sariwangi, Magnum, Pepsodent, Pond’s, Rinso, Sunlight, Close-up, Domestos, Vaseline, dan Lifebuoy. Saya hanya menuliskan merek yang dikenal disini. Masih banyak merek yang tidak dikenal atau tidak diedarkan di Indonesia.

Rp 939,6 M…..besar atau kecil? Mari kita bandingkan. Nominal itu setara dengan uang gaji UMR setahun dari 35 ribu lebih karyawan di Jakarta. Angka itu jauh lebih tinggi dari imbalan kerja dan remunerasi untuk karyawan Unilever Indonesia pada tahun yang sama sebesar Rp 140 Milyar. Besar sekali. Itulah uang yang harus ditanggung oleh konsumen atau masyarakat negeri ini untuk disetorkan ke Negeri Belanda sepanjang tahun 2012 lalu. Besarnya naik 25% dari angka tahun 2011 yang sebesar 754 Milyar. Makin tahun trend-nya terus naik. Makin tinggi.

unilever brand indonesia

Merek-merek milik Unilever NV Rotterdam yang harus dibayar royaltinya oleh para pemakai produk

Itupun baru Unilever NV. Masih banyak “kawan-kawan” perusahaan berkaryawan 171 ribu yang juga beroperasi di negeri ini. Bisa dibayangkan, tiap tahun trilyunan rupiah harus disetor ke negeri-negeri itu. Satu lagi ironi dari ibu pertiwi.
Syirkah korporatisasi1

♦♦♦

“Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengembang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan”.
ikan kecil ikan besar korporatisasi1

Ayat ke 17 dari Al Qur’an surat Ar-Ra’d (surat ke 13) ini memberi inspirasi hikmah luar biasa terhadap permasalahan royalti merek di atas. Yang bermanfaat kepada manusia akan tetap ada di bumi. Unilever yang berdiri di negeri Belanda pada tahun 1930 adalah salah satu contohnya. Pelajarannya: sebuah merek produk bisa bertahan di muka bumi puluhan tahun tentu karena merek (tentu bersama produk dengan segala atributnya) benar-benar bermanfaat bagi masyarakat. Bagi umat manusia. Jika tidak, merek itu tentu sudah almarhum. Sudah tertelan jaman. Mati.

Jutaan masyarakat Indonesia tiap hari mendapatkan manfaat terus-menerus dari sampo Sunsilk, sabun Lux, sabun Lifebuoy, pasti gigi Pepsodent, detergen Rinso, detergen Surf, sabun cuci Sunlight, margarin Blue Band dan masih banyak lagi. Jika dalam sebuah hadits Nabi SAW menyatakan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama, maka sebaik-baik merek (tentu beserta produk yang mengikutinya) adalah yang paling bermanfaat bagi umat manusia.

SNF Quote kapitalis2

Lalu…apakah dengan demikian berarti kita terima begitu saja mengalirnya uang trilyunan rupiah tiap tahun utuk royalti merek-merek asing itu? Kita terimanya sebagai sebuah takdir? Bagi Anda para pelaku bisnis tentu tidak bisa seperti ini. Ibarat main bola, saat ini gaawng kita telah kebobolan. Nah, cara terbaik untuk mengatasinya adalah dengan segera bangkit dan kemudian membalas lebih banyak memasukkan bola ke gawang lawan. Susun strategi yang jitu sampai pada eksekusinya. Fastabiqul khoirot. Berlomba-lomba dalam kebaikan. Berlomba membangun perusahaan yag mampu menghasilkan merek dengan produk yang bermanfaat kepada umat manusia di berbagai negara. Kita bangun anak perusahaan-anak perusahan untuk memasarkannya di berbagai negara. Kita susun program branding di berbagai penjuru dunia. Untuk akhirnya bisa mengalirkan uang royalti trilyunan tiap tahun ke induk perusahaan di negeri ini. Seperti aliran dana royalti dari unilever Indonesia kepada Unilever NV di negeri belanda. Persis. Hanya aranya kita balik. Nominalnya lebih besar. Itulah kemenangan yang elegan. Tentu butuh kerja keras dan cerdas. Gooool!

Tulisan karya Iman Supriyono ini pernah dimuat di majalah Matan, terbit di Surabaya dengan judul “Unilever” yang kemudian diedit dan delengkapi kembali oleh  penulis. 

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca juga:

Sejarah Bata dan Kalibata Batavile Batanagar
Sejarah Raket Yonex
Sejarah Heinekken Hadir di Indonesia
Sejarah Revlon dan Kepailitannya
Sejarah Korporasi
Sejarah Lions Club
Sejarah Hyundai versus Astra
Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Umat dan Bangsa
Korporatisasi: Asal Muasal
Sejarah Danone Dari Turki Usmani Hadir ke Indonesia
Sejarah Kalsiboard dan Etex Group
Sejarah Embraer si “PTDI” Brazil

Nha Hang: Hijrah Tumbuh & Berprestasi


Berada di kota manapun, yang selalu saya cari adalah masjid raya. Masjid terbesar di kota itu. Indah sekali bisa sholat sunnah selepas adzan dan selanjutnya sholat wajib begitu iqomah diperdengarkan. Keindahan tiada tara yang tidak tergantikan dengan apapun.

Maka, begitu selesai check in di sebuah hotel di kawasan Pham Ngu Lao, saya segera keluar berjalan kaki mencari masjid untuk sholat magrib dan isya secara jamak. Jalan kaki malam itu pun terasa indah. Ho Chi Minh yang tidak ada mall itu terasa sebagai sebuah mall besar. Rolex, Zara, Crocodile, dan merek-merek terkenal lain hadir berupa toko di pinggir-pinggir jalan dengan pedestrian-pedestrian lebar. Pedestrian telah menjadi semacam koridor mall yang penuh dengan pejalan kaki santai.

Setelah berjalan lumayan jauh dalam balutan kesegaran suasana, ketemulah sebuah masjid cukup besar. Sebuah bangunan dengan cita rasa India bertahun 1935. Segeralah saya mengambil air wudhu dan menunaikan sholat. Memang saya tidak sempat mendengarkan adzan isya malam itu karena datang sudah terlalu larut malam. Tetapi saya susun jadwal selanjutnya agar bisa maksimal menghadiri shalat jamaah di masjid itu selama tinggal di kota terbesar di vietnam ini. Sebuah keindahan tersendiri pada sebuah kota dimana keberadaan muslim sangat minoritas itu.

Masjid Nha Hang Ho Chi Minh City

Masjid Nha Hang Ho Chi Minh City

Dan benar. Masjid yang dibangun dan dikelola oleh komunitas muslim asal India itu benar benar menjadi oase selama keberadaan saya di kota yang dilintasi sungai Saigon itu. Bukan sekedar oase spiritual. Lebih dari itu, di sekitar masjid juga ada beberapa warung masakan halal. Ada ala malaysia, turki dan india. Sesuatu banget untuk dinikmati.

••••

Hari ahad lalu saya mengisi aktivitas senggang di sore hari dengan berkebun. Mempercantik taman kecil di depan kantor yang tidak jauh dari rumah. Perhatian saya tertuju pada sebuah rumpun bunga bakung. Membayangkan rumpun tanaman ini akan lebih baik bila diperluas. Alternatifnya: bisa membeli lagi bibit baru atau memecah rumpun itu menjadi bibit bibit bakung dan kemudian menanamnya kembali dengan area yang lebih luas. Alternatif kedua lah yang saya pilih. Segera saya dongkel dengan linggis rumpun itu. Saya pisah umbi demi umbi lengkap dengan daunnya sebagai bibit baru. Dan kemudian menanamnya kembali. Rumpun bakung itu pun kemudian menjadi hamparan bakung yang lebih luas. Tinggal menunggunya tumbuh dan beranak-pinak kembali seperti rumpun asalnya.

Pembaca yang baik, apa yang terjadi pada rumpun bakung ahad sore itu tepat sekali untuk menggambarkan keberadaan masjid India di Ho Chi Minh City. Umat Islam di India yang populasinya cukup besar adalah analog dengan bakung yang rumpunnya juga lebat. Umbi dan daunnya berjejal memenuhi hamparan tanah sempit. Memisah umbi umbi tersebut menjadi bibit dan kemudian menanamnya kembali di lahan kosong adalah penyebaran sebuah kebaikan. Ho chi Minh adalah “hamparan tanah kosong” yang siap ditanami “bibit-bibit bakung”. Itulah yang dilakukan oleh kaum muslimin India yang kemudian pada tahun 1935 membangun masjid yang kini berada tidak jauh dari hotel Sheraton itu.

Pembaca yang baik, itulah hikmah dari hijrah. Meninggalkan tanah kelahiran menuju kawasan lain untuk penyebaran kebaikan. Hijrah itulah yang 1434 tahun lalu dilakukan oleh Nabi SAW bersama para sahabat dari Makkah ke Madinah. Tonggak sejarah perkembangan Islam yang luar biasa. Hijrah itulah pula yang dilakukan oleh komunitas muslim india di masjid yang dalam bahasa setempat bernama Nha Hang itu.
Dan ternyata, hijrah itu mengandung manfaat luar biasa bagi saya dan para pelancong lain dari berbagai negeri. Tentu juga bagi warga lokal yang kemudian menjadi muslim. Bisa menikmati indahnya sholat jamaah di tengah komunitas mayoritas vietnam yang non muslim. Menikmati menu halal di sebuah komunitas yang tidak mengenal halal haram. Semua berkat hijrah. Jika Anda suatu saat berkesempatan ke Ho Chi Minh…jangan lupa datang ke masjid Nha Hang. Nikmati sensasi keindahan sholat jamaahnya. Nikmati kuliner halal di sekitarnya. Nikmati hasil hijrahnya. Nikmati Nha Hang!

*)Ditulis oleh Iman Supriyono, konsultan dan direktur SNF Consulting sebagai catatan perjalanan di Ho Chi Minh City, Vietnam. Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Mulia, terbit di Surabaya, dengan judul “Nha Hang

Ho Chi Minh: Kota Tanpa Mall


Hari masih pagi ketika saya keluar dari kamar sebuah hotel di tengah kota Ho Chi Minh. Pagi itu agenda saya memang jalan-jalan. City tour menikmati suasana kota yang baru pertama kali saya kunjungi itu. Di tangan sudah tersedia peta kota yang cukup informatif. Maka saya pun segera menuju Ben Tanh Market. Saya ingin menyaksikan bagaimana kondisi pusat perbelanjaan di kota terbesar Vietnam itu yang juga akrab disebut HCMC itu.

Begitu masuk dari pintu utama, yang menonjol adalah stan pakaian. Saya cek harganya kurang lebih seperti harga baju-baju di Indonesia. Terus berjalan menyusuri lorong pasar yang sangat terasa adalah kebersihannya. Bahkan ketika tiba di bagian pasar basah, kebersihan itu tetap terasa menonjol. Pedagang sayur, ikan, daging babi, ayam, semua menata dagangannya dengan rapi dan bersih. Saya pun meninggalkan pasar dengan membeli sawo dan srikaya yang ukurannya jumbo, kelapa muda yang sabutnya sudah dikupas dengan rapi, kaos T shirt dan gantungan kunci. Harganya semua mirip-mirip dengan harga di Indonesia. Suasana yang juga mirip pasar-pasar tradisional di Indonesia.

17022012(008)

Di taman, bukan di Mall: jalan-jalan, olah raga, bercengkerama dengan sahabat atau keluarga….. itulah HCMC

Bagaimana kalau ada orang membutuhkan barang-barang yang lebih berkelas? Jam tangan Rolex, baju bermerek Zara, tas LV misalnya? Tentu yang seperti ini tidak ada di pasar. Terus apakah orang HCMC tidak butuh barang seperti itu? Tetap butuh. Dimana membelinya?

Logo SNF Consulting dengan tag line korporatisasi

Kalau di Indonesia tentu dengan mudah kita bisa memperoleh barang barang branded seperti itu di mall-mall besar yang tersebar di seantero kota. Nah, HCMC agak berbeda. Di kota pusat bisnis Vietnam ini sama sekali tidak ada Mall. Lalu tidak adakah merek merek terkenal itu? Tetap ada. Merek merek terkenal seperti itu hadir di toko-toko pinggir jalan. Kemewahan interior untuk mamajang Rolex misalnya bisa diperoleh di sebuah toko tidak jauh dari Ben Tanh Market. Begitulah semua merek merek terkenal memiliki outlet di toko-toko pinggir jalan.

HCMC: olah raga pagi di taman kota yang luas indah segar dan gratis.....  bukan di gym nya mall yang bayar...

HCMC: olah raga pagi di taman kota yang luas indah segar dan gratis….. bukan di gym nya mall yang bayar…

Mungkin Anda membayangkan betapa tidak myamannya berbelanja barang mewah seperti itu di toko pinggir jalan. Tidak. Bayangan seperti itu tidak terjadi di HCMC. Tidak adanya mall justru menjadikan kota itu lebih mirip sebagai sebuah mall besar. Suasana ini terbentuk oleh taman-taman kota yang cantik dimana-mana. Pedestriannya walaupun tidak berkeramik seperti di Singapura tetapi nyaman dipakai jalan-jalan karena selalu diteduhi dengan pohon-pohon rindang berhias taman-taman kota nan elok nyaris dimanapun kita berada.

Suasana ini membentuk budaya masyarakat yang juga berbeda dengan Jakarta atau Surabaya misalnya. Tempat favorit untuk jalan-jalan kelarga di malam minggu kalau di Surabaya atau Jakarta pastilah ke mall dengan aneka barang bermerek dan food court yang nyaman. Di HCMC, masyarakat menikmati suasana santai dengan jalan-jalan di taman dan pedestrian kota. Yang mau berbelanja barang bermerk atau dan menikmati makanan bisa mampir di toko-toko di pinggiran jalan. Maka, tiap hari nyaris 24 jam pedestrian dan taman kota selalu dipadati masyarakat yang bersantai.

&&&&

Pembaca yang baik, keberadaan mall besar di kota memang dianggap menjadi penanda modernitas. Tapi itu ternyata bukan sesuatu yang mutlak. HCMC berhasil membangun kota tanpa mall yang justru menjadikan nyaris seluruh penjuru kota menjadi nyaman untuk jalan-jalan. Suasananya jadi mirip pesta kebun besar dimana-mana dan setiap saat.

Ho Chi Minh City: bersantai selepas senja di taman kota.... bukan di mall

Ho Chi Minh City: bersantai selepas senja di taman kota…. bukan di mall

Di HCMC, saya jadi ingat sebuah lagu lama berbahasa jawa suroboyoan… “Rek ayo rek mlaku mlaku nang tunjungan….”. Suasana jalan-jalan seperti yang digambarkan pada lagu itu ternyata dapat dinikmati dengan sempurna di Ho Chi Minh. Apapun kebutuhan warga kota disediakan dengan baik di Ho Chi Minh. Taman terbesarnya dengan lebar lebih dari 500 meter dan lebih panjang 2 km dipenuhi dengan fasilitas olahraga yang bisa dipakai siapa saja kapan saja. Maka jangan heran setiap saat ada saja masyarakat yang memanfaatkannya untuk olahraga menjaga kebugaran. Bahkan di tengah malam pun. Semuanya terjadi karena konsep sederhana: kota tanpa mall!

Ditulis oleh Iman Supriyono, konsultan dan direktur SNF Consulting. Tulisan ini pernah dimuat di majalah Baz, terbit di Surabaya, dengan judul “Tanpa Mall”

Batavia: Tauhid Kepailitan


Pailitnya sebuah perusahaan tentu sangat menyedihkan. Bagi pemilik maupun bagi para karyawan yang sudah bertahun-tahun bahu-membahu menjalankan roda bisnis. Traumatis. Saya pernah menemui karyawan yang sampai beberapa tahun tidak mau bekerja di perusahaan lain. Berharap perusahaan tempatnya bekerja yang sedang sekarat akan bangkit kembali. Demikianlah paling tidak yang saya amati dari perusahaan-perusahaan yang sedang terancam atau sudah dinyatakan pailit.

batavia

Pailit: Tauhid kepailitan Batavia

Akan tetapi, setraumatis apapun, setiap peristiwa selalu mengandung pelajaran. Proses kepailitan sebuah perusahaan sangat menarik untuk diamati. Sama menariknya dengan proses keberhasilan. Bahkan kepailitan lebih penting diamati. Bukan bersenang-senang diatas penderitaan lain. Tetapi semata-mata karena kepailitan jauh lebih sulit diekspose daripada kejayaan sebuah perusahaan. Tidak ada orang yang ingin dikenal karena kegagalannya.

Maka, ketika tersiar kabar bahwa Batavia Air terancam pailit, saya segera pasang mata pasang telinga. Peristiwa penting nan langka. Apalagi saya memang menaruh hobi pada dunia penerbangan dan pesawat. Saya yakin ribuan karyawan dan pemilik Batavia sedang bersedih dengan hari-hari berat. Tetapi pelajarannya tetap harus dipetik.

♦♦♦

Pembaca yang baik, beberapa bulan sebelum diputus pailit, Batavia sempat dikabarkan akan diakuisisi oleh Fersindo Nusaperkasa (Air Asia Indonesia) dan AirAsia (pusat). Tetapi Oktober 2012 maskapai asal Malaysia ini menyatakan mundur. Endingnya, ketoklah palu pailit oleh pengadilan niaga jakarta pusat. Penggugat adalah International Lease Finance Corporation (ILFC) sebagai perusahaan yang menyewakan pesawat dan gagal dibayar oleh Batavia.

Undang undang no 37 tahun 2004 tentang kepailitan menyebutkan bahwa pengadilan dapat memutus pailit sebuah perusahaan yang memiliki hutang kepada dua kreditur atau lebih dan tidak membayar sedikitnya satu hutang yang telah jatuh tempo. Pailit terjadi karena gagal membayar hutang. Inilah yang terjadi di Batavia. Padahal mestinya ekspansi bisa dibiayai melalui pintu ekuitas yang tidak mengandung risiko gugatan pailit seperti ini.

solusi utang dengan korporatisasi1

Korporatisasi dari SNF Consulting adalah cara perusahaan mendapatkan dana murah untuk ekspansi tanpa utang. Tanpa risiko gugatan pailit karena utang.

Mengapa gagal bayar? Secara umum tentu karena tidak ada dana. Mengapa tidak ada dana? Penyebabnya bisa bermacam-macam. Salah satunya karena aliran kas masuk dari operasi perusahaan tidak sesuai dengan rencana. Ini bisa terjadi karena proyeksi cash flow yang tidak tepat, kebijakan cash flow yang salah, kondisi pasar yang menurun, atau sebab-sebab lain. Tetapi isinya, arus kas masuk tidak cukup untuk menanggulangi kebutuhan kas keluar.

Apakah adanya masalah arus kas selalu identik dengan perusahaan yang rugi? Tidak selalu. Bisa saja sebenarnya laba tetapi penjualannya tidak tunai dan penagihannya seret. Jika demikian, laba hanya sekedar catatan nominal. Tidak sampai dinikmati berupa uang kas.

Bagaimana bisa terjadi? Salah satu kemungkinannya adalah karena kesengajaan. Perusahaan sengaja berekspansi. Perusahaan menambah investasi dengan maksud menggenjot pendapatan tetapi pasar tidak merespon sesuai harapan. Hal seperti inilah yang nampaknya terjadi di Batavia yang sebelumnya banyak berinvestasi untuk penambahan rute. Termasuk untuk angkutan jamaah haji yang kalah tender. Jika seperti ini yang terjadi maka sebenarnya masalah arus kas dan kepailitan adalah sisi risiko dari sebuah pertumbuhan.

Dalam persaingan bisnis yang ketat seperti dunia penerbangan, pertumbuhan adalah sebuah keharusan. Tumbuh atau mati! Perusahaan bisa memilih berekspansi untuk tumbuh dengan risiko jebol di cash flow dan pailit. Atau bisa juga stagnan dengan risiko yang juga mati karena terdesak pesaing-pesaingnya.

Maka…ekspansi adalah cara yang lebih heroik. Heroik secara bisnis, heroik pula secara spiritual. Bagi para praktisi bisnis yang bertauhid, ekspansi dan risiko terancam pailit yang menyertainya adalah salah satu cara untuk memenuhi syarat mendapatkan pertolongan-Nya.

Korporatisasi

Ayat 110 dari Surat Yusuf menyatakan, “Sehingga apabila para Rasul hampir-hampir berputus asa (tentang keimanan mereka) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada para Rasul itu pertolongan Kami….”. Pertolongan akan datang setelah ada kondisi “hampir-hampir putus asa”. Bahkan mungkin hampir bunuh diri (eh….sekali lagi “hampir bunuh diri” lho ya…bukan bunuh diri betulan hehehehe). Hampir diputus pailit….dan kemudian mengerahkan segala upaya dan doa untuk berkelit. Saat hampir putus asa…pertolongan-Nya pun datang. Inilah puncak kenikmatan tauhid bagi Anda para pelaku bisnis yang sejak awal meniatkannya sebagai bentuk ibadah. Ditolong-Nya saat terancam pailit. Terselamatkan. Heroik, bertauhid, sukses! Pintu untuk itu adalah korporatisasi. Tidak seperti Batavia yang telah diputus pailit oleh pengadilan. Semoga!

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Baca juga: Pelajaran kepailitan DAJK

Artikel ini ditulis Oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting. Tulisan ini juga dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya, ditambah dan diedit kembali oleh penulis. 

Aroma Indonesia di Mount Elizabeth


Orchard Road awal Juli 2008. Di kawasan tersibuk Singapura ini saya belum kehilangan “kemadiunan”. Setelah hampir seminggu meninggalkan Surabaya, “darah” Madiun mulai muncul. Apa itu? Tidak lain adalah kerinduan menyantap pecel. Kenapa? Saat masih di Madiun, pecel adalah menu wajib tiap hari. Begitu tinggal Surabaya, warung pecel madiun bertebaran. Maka….di Orchard Road pun pecel tetap dirindu. Dan…alhamdulillah…. Ada pecel bercitarasa Madiun di sana. Klop. Inilah aroma Indonesia di Orchard Road.

Sebagai kawasan belanja utama, Orchard Road kini makin sering menjadi saksi detik-detik terakhir kehidupan tokoh-tokoh tanah air. Terakhir adalah bos Gudang Garam. Sebelumnya ada ekonom Syahrir.
Pecel daun jati1

Shopping? Tentu bukan. Berburu pecel? Tentu juga bukan. Hari-hari terakhir kehidupan kok shopping. Apalagi berburu pecel. Mereka berobat. Kenapa harus di kawasan belanja tersibuk negeri pimpinan BG Lee ini? Tidak lain adalah karena di sana ada Mount Elizabeth Hospital. Jaringan rumah sakit swasta global yang makin hebat. Kini tidak kurang dari 2800 bed dikelola jaringan rumah sakit yang terdaftar di Singapore Stock Exchange dengan nama Parkway Health Limited ini.

■■■

Mount Elizabeth ternyata kental beraroma Indonesia. Menjadi tempat favorit berobat bagi kalangan atas Indonesia. Kebetulan juga, lokasi warung pecel di Orchard Road tidak jauh dari rumah sakit yang segrup dengan Gleneagles Hospital ini. Dan ada lagi yang lebih Indonesia. Rumah sakit yang terjangkau jalan kaki dari stasiun bawah tanah MRT ini didirikan pada tahun 1976 oleh Goh Cheng Liang dan Agus Nursalim. Nama pertama adalah orang Singapura. Nama kedua? Tentu mudah ditebak. Indonesia bangeets. Dan memang, Agus Nursalim adalah pengusaha Indonesia.

Sekitar 2 jam penerbangan dari Mount Elizabeth Hospital ada Rumah Sakit Muhammadiyah Gresik. Rumah sakit 70 bed (bandingkan dengan 2800 bed milik Parkway Health) ini memang 100% Indonesia. Tetapi saya membayangkan. Kalau Agus Nursalim bisa membangun tulang punggung Parkway Health yang beraset SGD 1,1 Milyar (lebih dari Rp 6 Triliun) di negeri orang, mengapa rumah sakit tempat berkarir Dokter Tjatur dan kawan-kawan ini tidak?

Iman Mount Elizabeth Hospital

Ada aroma Indonesia di Mount Elizabeth Hospital

Di Surabaya kini ada RS Siloam Gleneagles, sister company Mount Elizabeth Hospital. Metamorfosis RS Budi Mulia ini adalah salah satu layanan Parkway Health. Tentu rumah sakit di Raya Gubeng ini juga turut menyumbang pendapatan Parkway Health yang dalam laporan tahun 2007 tercatat S$ 869 Juta atau lebih dari Rp 4 Triliun ini. Fakta yang semakin memperkeras harapan kepada RS Muhammadiyah Gresik wa akhwatuha, dan saudara-saudaranya dari Indonesia.

Bagaimana caranya? Saat menyelesaikan tulisan ini, saya dengan SNF Consulting diminta untuk memberi sedikit inspirasi kepada RS Muhammadiyah gresik. Yang saya pikirkan, ternyata Mount Elizabeth, Gleneagles, dan rumah sakit-rumah sakit kelas dunia lain selalu berbadan hukum seperti apa yang di Indonesia disebut Perseroan Terbatas. PT. Dalam catatan SNF Consulting, PT adalah badan hukum yang paling aman terhadap konflik internal. PT lebih bisa memusatkan energi untuk berekspansi melayani masyarakat sedunia.

Harapan saya…dokter Tjatur dan kawan kawan seprofesi terinspirasi oleh Agus Nursalim. Bukan sekedar membawa aroma Indonesia di Orchard Road. Lebih dari itu, membawa Indonesia melalui RS Muhammadiyah ke kancah global. Yakin! Bersyarekat kita bisa!

Tulisan karya Iman Supriyono  ini pernah dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya

Perusahaan Dakwah: Korporatisasi


Sepulang dari sebuah perjalanan seminggu lebih dari luar kota yang jauh, dua hari saya praktis tidak keluar rumah. Kecuali ke kantor yang jaraknya juga hanya 7 menit jalan kaki dari rumah. Efeknya, dua hari saya tidak membutuhkan uang sama sekali. Bahkan uang receh sekalipun. Akibatnya, dua hari saya tidak mencari-cari dompet.

Pada hari ketiga, barulah saya membutuhkan uang untuk sebuah keperluan. Saya pun mencari-cari dompet. Di saku belakang celana memang ada. Tetapi bukan dompet ini yang saya cari. Saya memang memiliki dua dompet. Satu dompet berisi surat surat, kartu ATM, dan sejenisnya. Satu lagi dompet berisi uang. Dompet inilah yang ada di saku belakang. Ini saya sengaja untuk menjaga agar dompet berisi surat-surat tidak perlu sering-sering keluar dari saku yang menjadikannya lebih berisiko terjatuh atau hilang. Yang saya cari-cari adalah dompet yang berisi uang.

anak miskin belajar

Perusahaan dakwah menerbitkan saham secara terus-menerus untuk tumbuh. Inilah yang memberi tempat bagi masuknya dana wakaf yang dividennya kemudian digunakan untuk biaya pendidikan dan kepentingan sosial lain.

Setelah saya cari-cari kesana kemari, dompet itu tidak juga ketemu. Jadilah saya berpikir. Dimanakah gerangan kemungkinan terjatuhnya dompet itu? saya kemudian punya ide menelpon taksi. Ya, dari bandara saya naik taksi dan membayar taksi dengan uang yang ada di dompet ini. maka, sangat mungkin dompet itu terjatuh di taksi.

Siang itu, begitu mencatat hal ihwal kehilangan dompet saya dan data-data yang masih saya ingat, petugas penerima telepon taksi berjanji untuk memprosesnya. Ia berjanji akan kembali menghubungi saya jika sudah ada perkembangan. Sebuah awal layanan yang menyenangkan dan memenangkan.

Sore harinya, hanya beberapa jam kemudian, petugas sudah menelepon kembali. Ia mengabarkan bahwa dompet saya sudah bisa diambil di kantornya sewaktu-waktu. Malam harinya saya meluncur ke alamat yang disebut oleh petugas di ujung telepon. Begitu menunjukkan KTP dan mengisi sebuah formulir sederhana, dompet saya sudah kembali ke tangan lengkap dengan uang yang tersimpan di dalamnya. Tidak berkurang sedikitpun. Bahkan ketika saya menawarkan imbalan jasa, petugas tadi dengan ramah menolaknya. Sebuah mental yang luar biasa baik di tengah dekadensi moral yang semakin terasa.

•••

Blue Bird. Itulah taksi yang telah menyelamatkan dompet saya. Sebuah dompet yang memang isinya hanya uang. Benar-benar hanya uang. Sama sekali tanpa kartu identitas apapun di dompet ini. Bahkan sekedar kartu nama pun tidak.

Artinya, bisa saja pengemudi taksi yang menemukan dompet saya itu berpikir bahwa ini bukan barang yang terlalu dibutuhkan oleh pemiliknya. Memberi nama saja tidak. Mungkin ini memang barang remeh-temeh sehingga tidak perlu dikembalikan.

Tetapi ternyata tidak. Pak supir yang menemukan dompet saya langsung melaporkannya ke kantor tempatnya bekerja. Dompet saya lalu disimpan di petugas layanan pelanggan. Dan begitu saya melapor kehilangan dompet, tak lama kemudian dompet itu bisa kembali dengan selamat dan utuh kepada saya.

mendidik ribuan supir menjadi orang jujur adalah sebuah karya dawah luar biasa

mendidik ribuan sopir menjadi orang jujur adalah sebuah karya dakwah luar biasa

Saya sempat menyampaikan pengalaman kehilangan dompet ini melalui sebuah media sosial internet. Banyak kawan yang menanggapi bahwa pengalaman dengan seperti yang saya rasakan juga pernah dirasakannya dengan taksi yang sama. Berbagai sumber yang pernah saya terima juga mengatakan demikian. Blue Bird telah berhasil mendidik para supirnya untuk menjadi orang jujur. Bukan hanya satu dua orang. Berhasil mendidik puluhan ribu orang!

•••

Saya terus-menerus melakukan sebuah riset tentang bagaimana sebuah perusahaan mampu menjadi sarana untuk membina para karyawannya agar makin bertakwa. Bertakwa dalam konteks kehidupan nyata baik di dalam maupun di luar perusahaan. Berkontribusi memberi kemanfaatan bagi umat manusia. Apa yang kemudian saya sebut sebagai perusahaan dakwah. Sejauh ini, berikut ini adalah beberapa karakteristik penting perusahaan dakwah:

Pertama, kualitas ketakwaan karyawan dan keluarganya selalu meningkat. Makin lama berada di perusahan mereka akan makin dekat dengan Sang Khaliq. Makin dirasakan manfaatnya oleh semua

Kedua, disamping makin bagus kapasitas manajerialnya, makin tinggi posisi karyawan dalam struktur organisasi perusahaan, makin tinggi pula ilmu dan kualitas pengamalan ajaran agamanya, baik secara ritual maupun aplikasi keseharian. Jika para karyawan berkumpul untuk sholat berjamaah misalnya, yang paling pantas menjadi imam adalah direktur utamanya karena dialah yang paling bagus bacaan Qur’annya, paling dalam ilmu agamanya, dan paling bagus pengamalan agamanya.

Ketiga, customer, supplier, atau siapapun yg berinteraksi dengannya merasakan kesejukan, kejujuran, ketakwaan dan kemudian terinspirasi untuk melakukan hal yang sama bahkan lebih baik

Keempat, perusahaan dakwah selalu berkontribusi untuk perbaikan kejujuran, kebaikan, dan ketakwaan masyarakat. Ini dilakukan baik melalui program-program CSR formal perusahaan maupun secara non formal melalui interaksi para karyawan perusahaan itu dengan masyarakat luas.

Kelima, selalu tumbuh omset,  aset, dan wilayah operasinya melampaui batas-batas negara karena melakukan proses korporatisasi baik melalui lantai bursa maupun di luar lantai bursa. Pertumbuhan aset dan omset adalah  sebagai tanda bahwa setiap personil perusahaan adalah orang-orang yang bersyukur yang selalu ditambah nikmatnya. Pertumbuhan melampaui batas-batas negara adalah bentuk aplikasi dari ajaran agama yang universal melampaui batas-batas negara.

Keenam, perusahaan dakwah merupakan pembayar pajak yang taat sebagai salah satu bentuk kontribusi perusahaan terhadap masyarakat yang merupakan aplikasi dari ajaran bahwa sebaik- baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya.

Ketujuh, perusahaan dakwah melakukan proses korporatisasi baik di dalam maupun di luar lantai bursa sedemikian hingga memberi tempat yang luas bagi masuknya dana wakaf (endowment fund) yang dividennya digunakan untuk membiayai aktivitas sosial kebajikan. Untuk itu pertumbuhan perusahaan harus berada pada level keempat pertumbuhan. Teknisnya, saham secara legal formal dimiliki oleh nadzir wakaf yang tersertifikasi oleh BWI.

Diantara tujuh karakteristik perusahaan dakwah, karakteristik nomor tujuh adalah yang bersifat paling riil dan terukur. Ukurannya matematis eksak yaitu: berapa persen saham yang dimiliki oleh nadzir wakaf. Semakin besar persentasenya, semakin besar pula lah proporsi manfaat langsung dari kinerja finansial perusahaan untuk kepentingan sosial. Dividennya akan digunakan untuk biaya operasional lembaga penerima manfaat wakaf (mauquf  alaih)

Masih banyak lagi karakter positif yang harus dimiliki oleh sebuah perusahaan dakwah di luar 7 poin di atas. Riset tentang hal ini masih terus berlangsung.

Syirkah korporatisasi1

Korporasi adalah syirkah modern dengan basis ekuitas yang memberi ruang untuk masuknya dana wakaf sebagai saham melalui penerbitan saham baru

Apakah karakteristik tersebut bisa diwujudkan secara seketika? Tentu tidak. Perusahaan perlu berproses menuju kesana. Yang penting, perusahaan dakwah telah menjadi visi dan misi sebagai bagian tak terpisahkan dari strategic plan perusahaan dalam jangka panjang. Proses pelaksanaannya dilakukan mengikuti road map yang telah disusun perusahaan untuk mencapai visinya dengan berpegang teguh pada misi yang telah ditetapkan.

Perusahaan berbadan  hukum perseroan terbatas yang berkarakter profit oriented bisakah menjadi institusi dakwah? Kenapa tidak? Sampai saat ini, perseroan terbatas lah yang telah terbukti mampu menjadi format badan hukum paling eksis dan terus tumbuh menjadi wadah bagi jutaan bahkan milyaran orang di seluruh dunia untuk berkarya dan memberi manfaat bagi sesama tanpa mengenal sekat-sekat bangsa. Badan hukum yayasan atau ormas yang selama ini banyak dipakai sebagai institusi dakwah tidak bisa mengalahkan eksistensi perseroan terbatas baik dalam jumlah orang yang berkarya di dalamnya apalagi pada aset dan peran ekonominya. Maka, para aktivis dakwah perlu berfikir alternatif dengan menjadikan perseroan terbatas sebagai format institusi dan badan hukum dunia modern untuk mewadahi aktivitas dakwah pada berbagai sektor kehidupan. Dengan demikian akan ada perusahaan dakwah yang bergerak di bidang produksi semen, komputer, consumer goods, mobil, pabrik pesawat terbang, maskapai penerbangan, pariwisata, operator telepon, pabrik tempe, ritel modern, salon kecantikan, dan sebagainya dan sebagainya. Nazir wakaf menjadi pemegang saham dari perusahaan-perusahaan itu.

Maka, orang yang menanamkan uangnya sebagai modal alias saham pada sebuah perusahaan dakwah akan terus-menerus menerima pahala kebaikan selama perusahaan masih beroperasi. Apalagi para donatur wakaf (waqif)-nya Demikian pula tenaga yang dicurahkan oleh para karyawan untuk membangun dan membesarkannya. Pemegang saham, komisaris, direksi dan karyawan menjadikan perusahaan sebagai sarana bekerja sama dan tolong menolong secara permanen untuk berkarya dalam kebaikan dan takwa.  Tidak ada majikan tidak ada buruh.  Yang ada adalah taawanu alal birri wa taqwa. Tolong menolong membangun sistem manajemen organisasi amal kebajikan, ketaqwaan dan amal jariyah.  Inilah cara untuk menjadikan uang ditangan, tenaga, waktu dan pikiran agar bermanfaat secara luas tanpa batas waktu. Sudah saatnya kita mencapainya.  Menjadi entrepreneur pendiri. Menjadi corpopreneur. Menjadi investor sebagai pemegang saham. Menjadi waqif.   Menjadi karyawan atau profesional yang bekerja tak kenal lelah tak kenal waktu sampai akhir hayat untuk sebuah perusahaan yang akan menjadi amal jariyah. Perusahaan dakwah!

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI

Baca juga:
Wakaf Modern Untuk Keabadian Amal dan Kemerdekaan Ekonomi 
Surga: ketika bisnis kerja ibadah dan bersenang-senang menjadi satu
Wakaf Korporat

*)Tulisan ini dimuat di majalah Mulia, terbit di Surabaya, dengan editing dan penambahan di beberapa bagian. Konsep perusahaan dakwah perlu pemahaman dasar tentang apa yang disebut sebagai Desakralisasi Harokah