Category Archives: Uncategorized

Raya Caruban Orchard Road


Kalau pulang ke rumah ayah ibu sendirian, saya lebih suka naik bus. Sangat tidak praktis dan tidak ekonomis bawa mobil untuk perjalanan sendirian seperti ini. Ada banyak bus yang melayani jalur Surabaya-Caruban 24 jam. Maka, jika hendak pulang ke kampung halaman di wilayah kabupaten Madiun ini, jam berapapun saya cukup pergi ke terminal Bungurasih dan kemudian memilih bus yang saya suka. Duduk di bangku bus sambil membaca buku atau menulis artikel di tombol qwerty handphone dan sekitar 3 jam kemudian saya sudah tiba di Caruban.

Langganan saya adalah bus Eka Patas. Bus bertujuan akhir Magelang ini saya pilih karena supirnya yang santun dan sopan di jalan. Tidak suka kebut kebutan, main serobot, ugal ugalan sebagaimana citra bus selama ini. Maka, di peron Bungurasih saya selalu memilih naik Eka walaupun untuk itu saya harus menunggu beberapa lama sampai bus berangkat. Bus ini berangkat sekitar setiap setengah sampai satu jam.

Saat pulangpun saya tetap setia dengan Eka. Bedanya, saya tidak bisa naik bus dari terminal seperti ketika berangkat. Bus Patas tidak berhenti di terminal. Maka, jika hendak pulang, saya berdiri di tepi jalan Raya Caruban yang dilalui Eka. Perhatian saya harus selalu tercurah pada bus yang lewat. Saat ada sebuah bus nampak dari kejauhan, saya harus dengan cermat menebak, yang lewat ini bus langganan saya atau bukan. Saya tidak boleh memberhentikan bus lain yang pada umumnya supirnya ugal ugalan dan menakutkan. Tetapi saya saya juga tidak boleh membiarkan begitu saja bus langganan saya terlewatkan. Harus benar benar cermat. Terlewat sekali saja bus langganan saya lewat, artinya saya harus menambah waktu setengah sampai satu jam berdiri manyun di tepi jalan raya. Sesuatu yang sangat tidak nyaman.


Halte Bus Orchard Road di suatu siang. Di jalan tersibuk Singapura ini, orang orang naik dan turun bus dengan rapi. Yang lain berdiri atau duduk menunggu bus yang akan dinaikinya datang. Sesekali mereka melihat layar display dengan tulisan warna merah menyala. Seluruh nomor rute bus yang melalui halte itu tertulis besar besar. Lengkap dengan hitungan mundur. Angka angka menunjukkan berapa menit lagi setiap nomor rute bus akan datang di halte itu. Maka, saya pun menunggu dengan santai. Tidak perlu kuatir nomor rute bus yang saya tunggu akan terlewat. Juga tidak perlu berkonsentrasi penuh memperhatikan setiap bus yang lewat. Cukup perhatikan layar display yang ada. Jika waktu yang tertulis mendekati angka nol, saya tinggal berdiri bersiap naik bus. Begitu papan display menampilkan angka nol, bus yang saya tunggu pun datang. Saya dan para penumpang lain naik bus dengan tertib. Tidak perlu berebut. Yang berdiri paling dekat dengan bus naik terlebih dahulu. Disusul dengan orang dibelakangnya dan seterusnya sampai seluruh orang berada di dalam bus.


Sama sama menunggu bus. Sama sama tidak ingin tertinggal bus. Tetapi suasananya sangat berbeda. Di Raya Caruban, saya harus berdiri di jalanan dengan perhatian penuh dalam waktu lama. Di Orchard Road saya bisa santai tanpa takut tertinggal bus yang akan saya naiki. Perbedaan suasana dan kenyamanan yang muncul karena perbedaan alat bantu. Perbedaan fasilitas.

Ya… kemudahan di halte bus Orchard road terjadi karena penggunaan alat berteknologi terkini. Papan display bisa memberi informasi kedatangan bus dengan menggunakan alat bantu GPS, geo positioning system. Dengan alat ini, keberadaan bus bisa dimonitor dari waktu ke waktu melalui perantara satelit. Posisi ini kemudian diproses oleh sistem informasi berbasis komputer dan dilaporkan melalui papan display berupa perkiraan waktu kedatangan bus. Sebuah inforamasi yang sangat akurat karena data bisa dikirim dan diproses secara real time. Dikirim, diproses dan dilaporkan setiap saat. Kita tinggal membacanya lewat layar display yang ada.

Pembaca yang budiman, alat seperti ini memang sangat membantu. Mengapa di Raya Caruban dan kota kota lain di negeri ini tidak tertarik memasangnya? Tentu bukan masalah kecanggihannya. GPS dan alat pendukungnya bisa dibeli. Saya kira juga bukan masalah harga. Harga sebuah pesawat GPS tidak mahal mahal amat. Tidak jauh berbeda dengan harga sebuah pesawat handphone. Harga komputer lengkap dengan software pemrosesan datanya pun juga tidak mahal mahal amat. Hanya satu saja yang dibutuhkan: responsif. Orchard Road dan Singapura sangat responsif. Raya Caruban dan kota kota lain di negeri ini terbukti kalah responsif. Anda bagaimana? Seperti Raya Caruban atau Seperti Orchard Road?

Tulisan Iman Supriyono ini pernah dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya, tahun 2010

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca juga catatan perjalanan inspiratif lainya:
Jamaah Salahuddin: Intangible Asset
Sudu: Miri Municipal Council
Manokwari: Menang Tanpa Pesaing
Moscow: Korporasi USA
Osh: Pasar Tradisional Kyrgistan
Uzbekistan: Agar Rupiah Laku Dimana-Mana
Ho Chi Minh: Kota Tanpa Mal
Pnom Penh: Hyundai
Makkah: Koperasi KPF
Singapura: Totalitas Melayani
Kuala Lumpur: TKI
Anjing Bangkok: Sahabat atau Musuh
Khao San Road: 7 Pagi 11 Malam
Palembang: Kewaspadaan Korporat
Nha Hang: Hijrah Tumbuh Berpresati
Tanjung Selor Tarakan: Cessna Grand Caravan
Simpadan Ligitan: Tuban

Anjing Bangkok: Sahabat atau Musuh?


Khao San Road adalah surga bagi para pelancong dari berbagai penjuru dunia. Datang ke Bangkok seolah belum lengkap kalau belum ke jalan yang 24 jam tidak pernah tidur ini. Inilah juga yang menjadi alasan saya untuk mendatanginya saat berkesempatan pergi ke ibu kota negeri hari hari ini sedang mengalami guncangan politik berkepanjangan ini.

Ada banyak hal yang menarik di Khao San Road. Yang menjadi incaran para pelancong backpacker tentu saja adalah harga yang sangat murah. Hotel, makanan, souvenir, dan apapun kebutuhan para pelancong dapat diperoleh dengan harga yang sangat bersahabat. Para pelancong bisa menginap di hotel dengan harga tidak sampai tidak sampai Rp 100 ribu dengan fasilitas cukup bagus dan bersih. Tentu saja bisa juga memilih hotel bertarif jauh lebih mahal menyesuaikan dengan kondisi dan kantong masing masing.

Makanan? Khao San road menyediakan menu makanan kelas kaki lima sampai restoran cukup mewah. Bahkan bagi pelancong muslim, tidak jauh dari kawasan ini terdapat warung masakan muslim dengan harga sangat menarik. Gulai kambing dengan daging porsi besar dapat dibeli dengan harga sekitar Rp 30 ribu. Bagi yang mau berhemat, satu porsi gulai masih sangat memadai bila dimakan berdua. Jadi cukup membeli satu porsi gulai dengan dua porsi nasi putih. Super murah, bergizi, dan dijamin halal. Pemilik warungnya adalah seorang muslim keturunan timur tengah.

Keramahan penduduk juga sangat menyenangkan. Walaupun jarang Anda temui orang Bangkok yang bisa berbahasa Inggris, tetapi mereka akan berusaha keras untuk bisa membantu para pelancong yang membutuhkannya. Para pedagang atau supir angkutan umum juga sangat jujur. Tidak ada yang mentang mentang melayani orang asing kemudian menaikkan harga suka suka. Semua harga adalah fair adanya. Inilah barangkali salah satu faktor penting pendukung posisi Bangkok dan Thailand pada umumnya sebagai salah satu tujuan wisata dunia.

♦♦♦♦
Saat kecil, saya tinggal di sebuah desa yang semua penduduknya muslim. Memang pada umumnya mereka tidak mengenal sholat. Keislaman mereka pada umumnya hanya sebatas status. Keislaman hanya terlihat jelas saat pernikahan atau kematian. Pada saat pernikahan penghulu akan memimpin prosesi akad nikah dengan cara islam. Pada saat kematian, pak modin akan memimpin upacara pemakaman dengan cara yang juga islam. Bahkan selama tujuh hari setelah kematian, tahlil masih dibacakan oleh pak modin bersama bersama crew nya.
anjing cute edit

Salah satu yang saya kenang pada masa kecil adalah tentang anjing. Di sekolah, pak guru agama selalu mengajarkan bahwa anjing adalah binatang najis. Bahkan najisnya pun termasuk najis yang berat. mugholadhoh. Najis jenis ini hanya bisa disucikan dengan tujuh kali basuhan. Salah satunya dengan tanah. Karena beratnya cara bersuci, anjing adalah binatang yang paling harus dijauhi. Ini membentuk sikap yang sangat anti anjing.

Warga desa memang semua muslim. Tetapi karena keislamannya hanya sebatas formalitas, maka ada saja satu dua warga desa yang memelihara anjing. Memang tidak banyak. Tetapi keberadaan beberapa ekor anjing di desa ini cukup memberikan nuansa tersendiri. Nuansa apa? Tentu saja nuansa anti anjing. Setiap berdekatan atau melihat anjing, rasa anti anjing muncul.

Orang orang pada anti anjing. Anjing pun demikian. Setiap melihat orang lewat, anjing selalu menyalak keras keras. Sorot mata dan penampilannya pun seolah siap menerkam lawan. Lengkap sudah. Orang orang pada benci anjing. Anjingpun pada benci orang orang.

♦♦♦♦
Apa hubungan Khao San Road Bangkok dengan anjing? Menarik sekali. Di Khao San Road dan bangkok pada umumnya, banyak sekali anjing berkeliaran. Tetapi nuansa anjing di Bangkok sangat kontras dengan anjing ada masa kanak kanak saya. Akan tetapi, anjingnya ternyata sangat berbeda. Tidak pernah dijumpai anjing menyalak di Bangkok. Anjingnya jinak jinak. Kurang lebih seperti sapi di Indonesia. Jinak, suka tidur tiduran, tidak berisik, tidak bersuara. Berbeda 180% dari anjing yang saya gambarkan pada masa kanak kanak di desa.

Ada pelajaran menarik dari anjing di Bangkok. Pelajaran tentang kehidupan. Apa yang ada di dalam pikiran kita sangat mempengaruhi respon lingkungan. Saat “dimusuhi”, anjing pun akan merespon dengan permusuhan. Inilah yang saya alami pada masa kanak kanak di desa. Sebaliknya, ketika dijadikan sahabat oleh orang orang bangkok yang memang pada umumnya tidak mengenal najis, anjing pun akan bersahabat dengan manusia.

Tentu saya tidak sedang bermaksud mendiskreditkan ajaran tentang anjing yang najis. Air kencing yang juga najis justru menginspirasi kreativitas berbagai desain WC dan urinoir. Dari yang sangat sederhana kelas WC umum di pasar becek sampai yang super mewah dengan kontrol otomatis di hotel hotel berbintang. Anjing pun bisa disikapi demikian. Saya pun juga tidak sedang mengajak Anda yang muslim untuk memelihara anjing. Sama sekali tidak. Saya sedang menyarankan bahwa sikap positif akan menjadikan lingkungan kita juga bersikap positif. Mengambil pelajaran dari anjing di Bangkok. Bagimana?

Tulisan Iman Supriyono ini pernah dimuat di majalah BAZ, terbit di Surabaya

Menu Langit Kalah Mahal


Menjelang magrib saya masuk gerbong Bima dalam kondisi perut hampir kosong. Tidak sempat makan dulu karena jadual acara sebelumnya yang sangat mepet. Jam 3 acara belum selesai sementara jam 5 sudah harus naik kereta dari stasiun Pasar Turi menuju Cirebon. Selesai rapat saya masih harus pulang mengambil tiket dan tas berisi segala perlengkapa bepergian. Waktu terasa sempit.

Maka, ketika ditawari makanan oleh kru kereta, saya pun tertarik. Apalagi menunya sesuai dengan kebiasaan saya: bistik daging sapi. Ada sayur yang cukup, ada daging, ada nasi. Bistik daging sapi mendekati empat sehat lima sempurna.

Saya sudah tahu makanan itu harus dibayar. Bukan fasilitas gratis. Maka, ketika menerimanya, saya pun bertanya harganya. Tetapi, petugas mengelak menjawab. “Nanti aja Pak bayarnya”. Petugaspun berlalu. Saya segera menyantapnya.

Selesai makan saya menikmati suasana dengan membaca majalah dan buku. Salah satu daya tarik kereta api dibanding bus adalah kenyamanan membaca ini. Apalagi untuk perjalanan sekitar 10 jam Surabaya Cirebon malam itu. Kebetulan juga tidak ada penerbangan ke kota di bagian timur Jawa Barat ini. Kalaupun naik pesawat lewat Jogja atau Bandung, toh tetap harus disambung dengan bus atau kereta api lagi.

Nasi bistik daging sapi Rp 38 000,-. Angka yang ditagihkan petugas kereta api itu mengejutkan saya. Sangat mahal untuk nasi sekepalan anak kecil, beberapa potongan buncis rebus, beberapa iris wortel, dua iris ketimun, dan daging tipis ukuran sekitar 5 x 10 cm. Apalagi pihak PT KA tidak menyediakan daftar harga yang bisa dibaca sebelumnya. Petugasnya pun mengelak menyebutkan harga sebelum saya menikmati menu itu.


Airbus 320 milik Air Asia itu mengudara dengan mulus dari Bandar Seri Begawan. Tanda sabuk pemakaian sabuk pengaman sudah dipadamkan. Tidak lama kemudian beberapa pramugari datang mendorong troli berisi aneka menu makanan. Penumpang yang telah memesan makanan bersama pembelian tiket dilayani terlebih dahulu. Sedangkan yang belum memesan bisa membaca daftar menu yang ada di depan kursi masing masing dan membeli makanan atau kesukaannya.

Untuk penerbangan dua jam lebih sore itu, asyik juga memasan makanan. Saya pun membuka daftar menu. Nasi lemak RM 10, Nasi Briyani ayam RM 10, ada juga aneka makanan minuman lain. RM 10 artinya sekitar Rp 28 ribu. Harga yang cukup menarik untuk menu yang dijual di lokasi dengan ketinggian sekitar 10 kilometer di atas permukaan laut itu. Saya pun akhirnya memesan salah satu menu, membayarnya, dan menikmatinya dengan puas.


Sudah tidak diragukan lagi bahwa saat ini kereta api bersaing dengan pesawat terbang. Tiket kereta api ekekutif Surabaya Jakarta dijual dengan harga sekitar Rp 300 ribu. Tiket pesawat pun banyak yang dijual dengan kisaran harga itu. Bahkan saya sering mendapatkan harga lebih murah.

Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah bistik-sapi.jpg

Persaingan tentu bukan semata masa masalah ongkos. Ada banyak aspek yang bisa menjadi titik persaingan. Menu makanan dalam perjalanan adalah salah satunya. Pengalaman saya makan di kereta api dan di Air Asia memberikan gambaran. Betapa kereta api telah kalah dalam layanan makanan ini. Air Asia memberi daftar menu lengkap yang bisa diakses oleh penumpang atau calon penumpang bahkan sebelum keberangkatan. Penumpang bisa memesan menu terlebih dahulu dengan aneka pilihan. Bahkan Air Asia memberikan harga diskon bagi penumpang yang memesan menu bersama pembelian tiket. Diskon ini diberikan karena pemesanan didepan memberi kepastian persediaan makanan dalam sebuah penerbangan. Tidak perlu ada makanan yang sudah dibawa mengudara (dan sudah memakan bahan bakar) tetapi ternyata tidak terjual.

Kereta api? Nampaknya masih lebih suka mencari pembeli khilaf. Penumpang yang terpaksa membeli karena tidak ada alternatif lain. Atau membeli dalam kondisi tidak tahu harganya yang mahal karena tidak ada daftar menu. Menu kereta api dijual di permukaan bumi dengan harga Rp 38 ribu. Menu Air Asia dijual di atas langit dengan harga sekitar Rp 28 ribu. Kereta api…..bagaimana bisa bersaing dengan pesawat? Kereta api….. menu langit pun kalah mahal!

Tulisan Iman Supriyono ini pernah dimuat di majalah Matan, terbit di Surabaya

Iffah: Pembantu Yang Naik Kelas


Kondisi ekonomi Iffah bisa terbaca dari ketidakbisaannya naik sepeda. Keluarganya di desa yang secara ekonomi memang lemah tidak memungkinkannya untuk belajar naik sepeda. Hingga usia menjelang dua puluh tahun saat ia bekerja sebagai seorang pembantu rumah tangga di rumah seorang tetangga saya, ia baru belajar naik sepeda. Belajarnyapun pada salah satu anak saya yang kebetulan juga baru belajar dan bisa naik sepeda. “Jangan takut, pandang ke depan”, itu salah satu “arahan” anak saya kepada Iffah yang sedang belajar naik sepeda.

Dalam keterbatasan ekonomi keluarganya, iffah masih beruntung. Ia sempat menamatkan pendidikannya hingga SMA. Maka, ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga dengan ijazah SMA. Bahkan bukan sekedar ijazahnya. Iffah benar benar menunjukkan bahwa dirinya berbeda dengan pembantu rumah tangga pada umumnya. Kemampuan komunikasi dan sosialisasinya bagus. Bukan hanya dengan majikan dan keluarganya. Bahkan dengan para tetangganya pun demikian.

Belum genap dua tahun bekerja sebagai pembantu, kembali iffah menunjukkan ketinggian visinya. Berbekal komunikasi baiknya dengan majikan, Iffah diberi kesempatan untuk melanjutkan jenjang penddiikannya. Kini ia telah terdaftar sebagai salah satu mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Surabaya. Sebagian dari gajinya sebagai pembantu dipakai untuk membayar SPP. Tentu ia tidak perlu membayar uang indekos dan makan. Semuanya tercukupi dari fasilitas standarnya sebagai seorang pembantu. Dan yang sangat memberi harapan….bila tidak aral melintang, empat tahun lagi ia akan lulus sebagai seorang sarjana.

Melihat visi dan latar belakangnya, saya yakin Iffah pun akan berbeda dengan kebanyakan sarjana pada umumnya. Ia akan tampil sebagai sarjana yang bukan sekedar urusan gengsi. Bukan sekedar menempelkan gelar. Ia akan tampil sebagai sarjana yang kaya akan pengalaman hidup. Sarjana yang bisa mengelola apa yang ada di depan mata dan merangkainya menjadi sebuah prestasi dan masa depan yang cemerlang. Saya yakin untuk itu.

&&&
Kasus penganiayaan TKW di luar negeri makin mengenaskan. Terakhir terjadi pada Sumiati di Saudi Arabia. Bibirnya digunting. Sebuah penganiayaan di luar batas kemanusiaan. Penganiayaan pada seorang perempuan tidak berdaya. Peristiwa yang sangat menyayat hati.

Kasus Sumiati memperpanjang dafar panganiayaan dan penderitaan para TKW di luar negeri. Belum lagi ditambah ketegaan orang orang Indonesia sendiri baik di dalam maupun luar negeri yang sering kali menjadikan para TKI dan TKW sebagai sapi perahan. Memperlakukna para penghasil devisa ini jauh diluar yang semestinya. Bahkan di bandara pun mereka sudah diperlaukan berbeda. Sampai sampai pemeriksaan pasport pun diberi jalur yang berbeda dengan penumpang pada umumnya. “Pengistimewaan” yang berkonotasi negatif.

Bagaimana solusinya? Solusi secara massif dan menyeluruh tentu ada di tangan pemerintah. Tetapi, saya yakin para pajabat yang punya kepedulian pun akan sangat pusing menghadapinya. Ada jutaan TKI di luar negeri. Jutaan juga yang ilegal. Maka…akan ada jutaan masalah yang tingkat kerumitannya tidak terbayangkan.

Sementara itu, sumber daya yang dimiliiki pemerintah untuk menyelesaikan permasalahan ini pun sangat terbatas. Maka, kita tidak bisa terlalu berharap pada solusi dari pemerintah. Dibutuhkan solusi yang bersifat swadaya masyarakat.

Bagaimana caranya? Iffah memberi inspirasi. Menjadi pembantu apalagi di luar negeri, tentu saja mengandung banyak peluang dan tantangan. Pengalaman pergaulan antar bangsa bagi para TKI atau TKW sebenarnya adalah sebuah peluang yang luar biasa. Jauh lebih luar baisa dari pada Iffah yang hanya bergaul di tingkat ibu kota propinsi yang tidak terlalu jauh dari tepat tinggalnya.

Kuncinya ada pada visi dan kemampuan komunikasi. Sejak kedatangannya dan bergaul dengan majikan dan para tetangga, Iffah sudah memperlihatkan perbedaannya. Iffah sudah menunjukkan visi dan kemampuan komunikasi yang tinggi. Menjadi pembantu baginya bukan tujuan akhir. Menjadi pembantu juga bukan keterpaksaan. Menjadi pembantu adalah pilihan sadar dan strategis untuk mencapai cita cita yang lebih tinggi. Menjadi pembantu adalah solusi antara. Bukan solusi permanen terhadap permasalahan ekonomi.

Solusi permanennya sedang digali dengan merangkak pada kelas sosial yang lebih tinggi di kampus. Persis seperti pengalaman banyak orang sukses yang melakukan peningkatan kelas sosial melalui jalur pendidikan. Iffah yang di dalam negeri bisa. Yang di luar negeri peluangnya tentu lebih besar. Menjadi pembantu di luar negegeri sebagi pilihan sadar dan strategis untuk menggapai cita cita yang lebih tinggi di masa yang akan datang. Bisa sambil kuliah seperti iffah. Bisa sambil memulai bisnis kecil keilan. Suatu saat pulang sebagai profesional expatriat. Pulang sebagai pebisnis antar bangsa. Bisa kan?

Tulisan Iman Supriyono ini pernah dimuat di majalah Muslim, terbit di Surabaya

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi
Atau ikuti KELAS KORPORATISASI

Bagi-bagi Sperma


Semua orang bergairah. Itulah suasana ballroom hotel Singgasana Surabaya malam itu. Lebih dari 200 orang pebisnis mencurahkan perhatian penuh kepada si pembicara. Penuh dengan antusiasme hingga akhir forum.

Siapa pembicaranya? Ada Pak Karwo Gubernur Jawa timur yang tampil pertama. Karena Pak Karwo adalah pejabat baru, Ia banyak mengungkap data data ekonomi. Peluang raksasa terbentang di depan mata. Jawa timur punya potensi dan sumber daya yang cukup untuk membangun kekutan ekonomi yang kokoh.

Setalah itu disusul oleh Pak Masfuk Bupati Lamongan pada kesempatan kedua. Pak Masfuk antara lain bercerita tentang pengelolaan wisata daerah. Selama ini ada kesan bahwa pengalola wisata selalu identik dengan kerugian. Menyedot dana pemerintah untuk proyak yang sering kali dianggap sangat sosial. Tidak bisa laba. Selalu rugi. Nah, Pak Masfuk berhasil membaliknya. Wisata Bahari Lamongan-WBL- adalah pembalikan dari sebuah pantai sepi menjadi kawasan wisata favorit. Yang menarik, dalam tiga tahun seluruh dana yang ditanam untuk membangunnya sudah kembali. Tahun keempat pemkab tinggal menimkati hasilnya. WBL pun dikenal luas masyarakat!

Yang terakhir alias ketiga adalah Pak Yoto, Bupati Bojonegoro. Belum genap dua tahun memimpin, masyarakat sudah merasakannya. Saya pernah diskusi dnegan pimpinan Bank Jatim cabang Bojonegoro yang mengakui tentan kinerja ini.

Ada yang menarik dari yang disampaikan Pak Yoto. Ia bercerita tentang bagaimana mendongkrak prestasi masyarakat yang dipimpinanya. Dia berpikir keras tentang bagaimana kebijakan ekonomi pemkab benar-benar bisa meendongkrak kemampuan ekonomi masyarakatnya. Bagaimana kemampuan finansial pemkab yang terbatas bisa didayagunakan untuk mendongkrak kemampuan ekonomi masyarakat.

Sebagaimana opini masyarakat, awalnya ia berpikir bahwa minyak yang mulai ditambang dan berporoduksi di Bojonegoro akan mendongkrak ekonomi rakyatnya. Tetapi, setelah dihitung kembali dengan cermat ternyata tidak. Paling hanya sebagian kecil masyarakat yang bekerja di sektor perminyakan yang bisa terdongkrak kinerja ekonominya. Itupun tidak mungkin seluruh pekerja perminyakan diambil dari Bojonegoro. Akan ada banyak tenaga kerja ahli minyak yang akan datang dari berbagai daerah. Kesimpulannya, tidak mungkin berharap dari minyak.

Dalam hati saya juga membenarkannya. Sudah banyak berita tentang tetap terpuruknya ekonomi masyarakat sekitar lokasi tambang yang mestinya sumber uang. Timika yang kaya akan tambang tembaga dan emas ekonomi raknyatnya tetap terpuruk. Muara Badak yang puluhan tahun mengalirkan minyak dan gas bumi jalan rayanya tetap berlubang lubang. Masih banyak lagi contoh seperti itu. maka….jangan terlalu berharap dari minyak.

Salah satu yang menarik perhatiannya adalah tentang peternakan kambing. Beternak kambing sudah menjadi tradisi warganya. Memelihara kambing bukan sesuatu yang aneh. Juga bukan sesuatu yang sulit. Masyarakat biasa melakukannya sambil lalu. Sambil bertani. Ada puluhan ribu kambing yang sudah dimiliki dan dipelihara masyarakat.

Apa yang bisa dilakukan untuk mendongkrak ekonomi masyarakat melalui kambing? salah satu faktor penting dalam kualitas dan produktifitas kambing adalah bibit kambing. Dengan pemeliharaan yang sama, bibit yang bagus akan menghasilkan kambing kambing yang lebih bagus.

Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah kambing-jantan.jpg

Bagaimana mengajari agar masyarakat memilih bibit kambing yang bagus? Tentu harus ada cara yang jitu. Pemerintah tidak boleh sekedar ngomong. Harus ada kebijakan yang konkrit dan efektif. Maka, andai saja pemerintah memiliki anggaran yang cukup, tentu masyareakat senang sekali bila diberi jatah bibit kambing unggul. Setiap keluarga sepasang bibit kambing unggul misalnya. Kenyataannya, pemerintah tidak memiliki dana yang cukup untuk membuat kebijakan seperti itu.

Berhentikah? Tidak. Pemkab Bojonegoro terus berfikir keras. Hasilnya, dibuatlah sebuah kebijakan murah meriah tapi efektif. Pemerintah tidak perlu memberi sepasang kambing unggul kepada masyarakat. Cukuplah pemerintah membeli pejantan pejantan unggul. Itupun tidak untuk dibagi-bagikan. Pejantan unggul tetap milik pemerintah.

Lalu bagaimana permsalahan bibit kambing unggul masyarakat? Ini ide jitunya: kambing kambing pejantan unggu yang dibeli pemerintah dijadikan sumber bibit unggul. Cukup diambil spermanya dan kemudian membagi bagikannya dalam bentuk sperma yang siap ditanamkan ke rahim kambing betina dengan teknologi kawin suntik. Gratis!

&&&
Pembaca yang antusias, dalam mencapai visi bisnisnya, seorang entrepreneur tentulah akan menghadapi banyak kendala. Kendala itu mungkin berupa kekurangan modal, tidak punya motor, tidak punya mobil, tidak punya mesin produksi, tidak punya akses ke jalur distribusi, tidak punya ruko untuk berjualan, dan sebagainya. Bahkan bisa jadi kendala itu bertumpuk tumpuk dan menimbulkan beban yang berat untuk melangkah.

Apakah harus berhenti? Tentu tidak boleh. Otak harus diputar. Berbagai alternatif harus tetap digali. Bagi bagi sperma kambing unggul ala Pak Yoto bisa dicontoh. Kendala keterbatasan uang di pemkab tidak boleh menjdi alasan untuk tetap membiarkan ekonomi masyarakat terpuruk. Sedikitnya anggaran juga tidak boleh menjadi alasan pembkab untuk membuat kebijakan ngomong doang. Pembkab tidak boleh hanya membuat wacana. Harus membuat kebijakan riil yang bertenaga. Powerfull.

Bagi bagi sperma adalah kebijakan powerfull dengan uang sekedarnya. Kekuatannya muncul dari kreatifitas menghadapi keterbatasan. Kekuatannya muncul dari ide jitu. Ide sederhana yang sebenarnya juga bukan sesutu yang baru. Teknologi kawin suntik untuk bibit kambing unggul sudah dikuasai para mantri dan petugas pemerintah terkait. Teknologinya juga sudah sangat tersedia. Maka….hanya perlu sedikit berfikir. Hanya perlu sedikit kreatif. Sedikit modal untuk membeli beberapa pejantan unggul sumber sperma unggul. Anda para entrepreneur menghadapi kendala? Ingatlah konsep bagi bagi sperma kambing ala Bojonegoro! Jangan berhenti!

Tulisan karya Iman Supriyono ini pernah diterbitkan di Majalah Muslim, terbit di Surabaya

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Baca Juga
Kawin Tak Syar’i: Mengapa Impor Sapi?
Korporatisasi Pertanian Edamame

Cheng Hoo


Begitu tiba di sebuah kota yang baru pertama saya datangi, salah satu yang menarik adalah citi tour. Berkeliling kota untuk mendapatkan berbagai hal menarik. Biasa, penulis memang harus punya banyak pengalaman sebagai bahan tulisan. Apalagi saya yang menekuni bidang finansial. Tulisan tentang uang tanpa bumbu bumbu hal hal menarik dalam perjalanan seperti itu tidak akan dibaca orang.

Di Palembang jangan lupakan jembatan ampera sambil menyantap pempek. Di Makasar jangan lupa Pantai Losari sambil menyantap pisang epe atau coto. Di Banjarmasin jangan lupa lari pagi di seputar Masjid Sabilal yang rindang dan cantik. Di Singapura jangan lupa Orchard Road sambil menikmati pecel di kedai jawa timur. Di Kuala Lumpur jangan lupa ke masjid India untuk sekedar mendapatkan cenderatamata murah meriah. Di Mataram jangan lupa pantai Senggigi yang cantik. City tour…..wisata kuliner.

Nah, maka kalau sedang kedatangan tamu dari luar kota, saya tidak lupa mengajaknya keliling kota. Tidak lupa menikmati makanan khas penuh legenda di kota tercinta. Termasuk ketika suatu saat seorang kawan dari Brunei Darussalam datang bertamu.

Andai saja saya bertanya kepada Anda, kemana saya harus mengajak tamu dari Brunei ini untuk keperluan city tour ini? Nah…..mungkin Anda akan mengajurkan wisata belanja di Tunjungan Plaza, Menikmati bangunan bersejarah heroik dengan makan di kafe Hotel Majapahit, bersantai di Taman Bungkul, atau mungkin berwisata rohani di Masjid Ampel. Yang lain? Nah…. saya punya tujuan wisata dalam kota yang sangat faforit untuk tamu Brunei ini. Juga untuk tamu tamu dari luar kota lain. Bukan bangunan tua berusia ratusan tahun. Juga bukan gedung yang besar dan megah. Bukan pula pantai yang elok. Tujuan faforit itu adalah sebuah masjid istimewa di tengah kota: Cheng Hoo.

Apa istimewanya Cheng Hoo? Masjidnya tidak besar. Kalau dipakai untuk sholat jamaah, mungkin kapasitasnya hanya sekitar atau bahkan tidak sampai menampung 50 orang. Kecil sekali. Mirip sebuah mushola. Tetapi, justru kecilnya inilah yang istimewa dan bisa menjadi bahan cerita oleh oleh khas dari Surabaya.

Mengapa kecil menjadi istimewa? Perhatikan masjid masjid lain yang lebih besar. Datanglah pada saat saat sholat wajib lima waktu. Begitu iqamat dikumandangkan dan imam memulai sholat, ada berapa orang yang ikut sholat dibelakangnya? Bandingkan dengan kapasitasnya. Berapa orang yang bisa ditampung oleh masjid itu seandainya diisi penuh? Berapa persen kapasitas yang terisi jamaah saat sholat wajib itu?
Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah masjid-cheng-hoo.jpg

Nah, Anda akan mendapati hampir setiap masjid dalam sholat wajib lima waktu berada dalam kondisi kosong. Sebagai gambaran, Masjid Al Akbar yang daya tampungnya ribuan jamaah paling banter hanya terisi tidak sampai seratusan orang dalam sholat rowatib berjsamaah. Pendayagunaan ruangannya tidak sampai 5 %. Artinya, lebih dari 95% kapasitasnya tidak terdayagunakan. Ruangan baru terisi agak banyak pada saat sholat jumat. Itupun juga tidak sampai 50% kapasitas. Ruangan baru benar benar terisi penuh mungkin pada saat sholat iedul qurban. Saya sebut mungkin karena maman saya belum pernah sholat di masjid terbesar di Jawa Timur ini. Jadi…mungkin hanya setahun sekali terisi penuh.

Cheng Hoo berbeda. Masjidnya kecil sehingga praktis hampir setiap sholat roawatib tingkat pendaya gunaan ruangannya maksimal. Ruang kosong saat sholat rowatib kecil karena memang masjidnya kecil. Lalu…bagaimana kalau sholat jum’at? Bukankah jamaahnya membludak sehingga ruangannya harus dibuat besar? Disinilah justru keistimewaan masjid yang dikelola PITI. Di tangan ormas yang awalnya adalah singkatan dari Persatuan Islam Tionghoa Indonesia, membuldaknya jamaah jumat ini dikelola dengan sangat cerdik. Pada hari jumat, halaman masjid yang berkali kali lipat lebih luas dari luasan masjid ini dipasangi tenda. Dengan naungan tenda inilah para jamaah sholat jum’at. Bahkan di tenda tenda itu juga dipasang TV monitor sehingga setiap jamaah bisa melihat khotib melalui TV monitor ini.

Di luar hari Jumat, tenda tenda ini dilepas. Halaman masjid kembali menjadi tanah lapang. Yang menarik, lapangan ini sudah dilengkapi dengan garis garis lapangan olah raga. Anda bisa memanfaatkannya untuk berlatih basket misalnya. Saya perhatikan memang banyak anak muda yang berlatih basket di halaman masjid bercat dominan merah ini. Tentu saja ini adalah potensi pendapatan tersendiri bagi masjid. Supaya tidak hanya menggantungkan biaya opersasional pada kotak infak saja.

Bukan hanya potensi pendapatan. Biaya pembangunan sebuah gedung adalah sebanding dengan luasannya. Makin luas, makin besarlah biaya yang dibutuhkan. Biaya ini dalam istilah akuntansi akan masuk pada pos biaya depresiasi. Makin luas sebuah masjid, makin besar pula biaya pembangunan dan depresiasinya. Cheng Hoo tidak. Ia hanya membutuhkan biaya pembangunan yang jauh lebih kecil dibanding kebutuhan ruangan pada hari jumat. Sebagian besar jamaah jumat sholat di tenda yang biasa pembeliannya tentu tidak ada apa apanya bila dibandingkan dengan biaya pembangunan masjid.

&&&

Inna al mubadziriina kaanu ikhwana asyayathiin. Sesungguhnya kemubadziran adalah saudaranya syetan. Ayat ke 27 dari surat Al Isra ini mengajari kita untuk berhati hati dengan pemborosan. Kalau makan, pastikan bahwa nasi dan lauk pauk yang sudah ada di piring kita habiskan. Nabi memberi contoh sempurna. Makanan yang menempel di jari pun dibersihkan tuntas. Jika tidak demikian, makanan akan terbuang. Mubadzir. Boros. Menjadi saudara setan.

Cheng Hoo yang dikelola kawan kawan PITI telah memberi contoh yang bagus. Bahkan dengan ukuran kecilpun tidak mengurangi fungsi syiar nya. Arsitektur yang cantik khas tiongkok jauh lebih menarik dari pada megahnya gedung. Jangan heran, masjid kecil ini justru menjadi icon baru surabaya. Icon citi tour. Icon wisata rohani. Tetap dengan dana pembangunan yang efisien. Mari belajar dari Masjid Cheng Hoo. Hilangkan kemubadziran. Ayo!

Tulisan karya Iman Supriyono ini pernah dimuat di majalah BAZ, terbit di Surabaya

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI

Baca juga:
Wakaf Modern Untuk Keabadian Amal dan Kemerdekaan Ekonomi 
Surga: ketika bisnis kerja ibadah dan bersenang-senang menjadi satu
Wakaf Korporat

Belajar Manajemen dari Dua TKI


Suatu sore menjelang magrib di depan menara kembar Petronas, Kuala Lumpur. Saya sedang bersantai menikmati suasana sekeluar dari stasiun kereta bawah tanah yang sekomplek dengan menara milik “pertaminanya” Malaysia itu. Sebagaimana kebiasaan yang selalu saya tumbuhkan untuk berkomunikasi dengan siapa saja, saya berbincang dengan seorang lelaki muda yang menurut saya berusia sekitar 30 tahun.

“Assalaamualaikum!”

Jawaban atas salam saya dan kalimat pertama yang keluar dari lelaki itu seolah langsung memberi tahu saya bahwa lelaki ini bukanlah warga asli KL. Logat bicaranya sangat saya kenal. Betul…ia adalah TKI asal jawa timur. Yaaa….ternyata masih tretan tibih…masih saudara sendiri.

Saya berusaha menangkap apa sebenarnya yang ada di benak lelaki muda ini. Apa yang ada di benaknya sedemikian hingga ia memutuskan untuk pergi jauh meninggalkan kampung halamannya dan bekerja di negeri seberang yang tentu saja mengandung berbagai risiko. Sayang, saya tidak menemukan sebuah gambaran yang jelas tentang apa yang akan dicapainya. Ia, sebut saja Mas Kuala, menjadi TKI tanpa arah yang jelas.

Perbincangan di depan salah satu gedung tertinggi dunia ini ini mengingatkan saya pada seorang TKI lain yang kini sukses membuka warung di depan kampus VEDC Batu. Mas Hari, begitu saya memanggil bos warung Bomba ini, merancang kepergiannya sebagai TKI menginggalkan keluarga dengan rencana yang mantap. Kisah dua TKI ini saya maksudkan untuk menjawab pertanyaan atau tepatnya keresahan seorang penanya terhadap kesuksesan usaha yang dirintisnya.

Sementara ia jauh dari keluarga, istrinya mengambil kursus memasak. Tujuannya jelas: membuka warung dengan modal yang dikumpulkan dari negeri seberang. Kini, apa yang menjadi gambaran masa depan telah dicapainya. Mas Hari sukses mengelola warung sekaligus sukses pula membuka rumah kos yang bersinergi dengan warungnya.

Apa yang membedakan Mas Kuala dengan Mas Hari? Jawabnya adalah manajemen. Perenungan dan pergaulan saya dengan perusahaan-perusahaan klien maupun rekanan SNF Consulting menyimpulkan bahwa ada tiga pilar manajemen yang paling penting: planning-organizing-controlling. Tiga pilar ini berfungsi seperti tiga kaki tripod yang menyangga sebuah kamera. Patahnya satu kaki saja sudah mengakibatkan kamera tidak bisa berdiri dengan tegak. Patahnya satu kaki menyebabkan tripod tidak berfungsi.

Manajemen diperlukan pada saat kita berhubungan dengan orang dan sumber daya lain dalam sebuah organisasi baik formal maupun informal. Keluarga Mas Hari dan Mas Kuala adalah salah satu contoh organisasi yang mutlak membutuhkan manajemen.

Mas Hari pergi ke Hongkong meninggalkan istri tercinta dengan planning jelas: membangun warung. Mas Hari bertugas mencari modal untuk membeli tanah, mendirikan bangunan warung diatasnya, membeli bahan baku, dan tidak kalah penting, mengkursuskan istrinya agar memiliki keahlian memasak yang istimewa. Sementara, sang istri menunggu di kampung halaman menyiapkan keahlian memasak dengan serius mengikuri kursus memasak.

Pada saat yang telah direncanakan, Mas Hari pulang dengan modal yang cukup untuk membeli lahan yang strategis di depan kampus VEDC, mendirikan bangunan warung diatasnya, dan membeli bahan baku. Pada saat yang sama sang istri sudah siap dengan keahlian istimewa. Inilah yang disebut organizing.

Selanjutnya, tentu saja dalam perjalanan, warung akan menghadapi berbagai masalah sebagaimana layaknya kehidupan manusia. Controlling dibutuhkan untuk mengendalikan warung untuk menghadapi liku liku bisnis mencapai tujuan bersama yang telah terpatri kuat dalam perencanaan.

Pembaca yang budiman, sampai pada tahap perencanaan, mungkin Anda tidak seekstrim Mas Kuala yang menjalani kehidupan tanpa rencana yang jelas atau orang jawa menyebutnya semprong ngglundhung. Mas Kuala telah kehilangan salah satu “kaki” tripod dan “kamera” nya pun jatuh.

Saya yakin Anda telah memiliki rencana yang cukup memadai. Permasalahan yang sering muncul adalah pada organizing. Mesinya, organizing membutuhkan komitemen seperti komitmen terhadap kalimat syahadat. Kalau Anda merencanakan tiga tahun lagi akan membuka warung, laksankan persis apa yang Anda rencanakan. Kalau Anda merencakan pada bulan pertama warung itu mendapatkan omset rata rata Rp 600 ribu perhari, laksanakan planning ini dengan komitmen penuh. Jangan pernah berhenti bekerja keras sehingga penjualan benar-benar mencapai Rp 600 ribu perhari, tidak kurang sepeserpun. Kurang dari Rp 600 ribu berarti tidak ada organizing. Kurang dari Rp 600 ribu berarti salah satu “kaki” tripod telah patah dan “kamera” Anda pun jatuh. Kurang dari Rp 600 ribu berarti tidak ada manajemen, yang ada adalah missmanajemen. Tidak perlu ada alasan. Tidak ada kompromi. Bagaimana? Anda-para investor-sudah bermanajemen?

Tulisan ini pernah dimuat di majalah Oase, terbit di Surabaya

Tangisan Rasa Ayam & Rasa Susu untuk Anak2 Miskin: Siter


Siter

Oleh Iman Supriyono, http://www.snfconsulting.com
Saat diundang untuk memberi masukan kepada salah satu fraksi di DPRD Jatim, hati saya campur campur. Satu sisi saya merasa asing dan buta dengan dunia politik. Hidup saya sepenuhnya beribadah melalui profesi sebagai konsultan di SNF Consulting. Sisi lain, hati saya berbunga-bunga. Bisa berdiskusi dengan para politisi. Walaupun tetap saja diskusinya tentang si Rupiah. Tentang anggaran.

Segeralah perhatian saya tercurah mata anggaran demi mata anggaran. Salah satu yang menarik bagi saya adalah kesehatan. Membaca mata anggaran ini, saya jadi ingat siter. Inilah salah satu kudapan faforit saya dan kawan kawan saat masih di SD. Kudapan pedesaan berupa biji trembesi. Kulitnya keras warna coklat. Di dalamnya ada isi berwarna kuning. Gurih. Siter kira kira adalah akronim dari isi trembesi.

Siter mengantarkan saya untuk membandingkannya dengan kudapan anak anak masa kini. Saya jadi ingin tahu. Apa yang saat ini dimakan anak anak usia TK SD sebagai tambahan terhadap menu kelas berat berupa nasi tiga kali sehari.
Maka, ide pun muncul. Segera saya datang ke sebuah warung di gang kecil sebuah kampung. Di dekat warung itu ada sebuah sekolah TK dan dua SD. Saya ambil setiap jenis kudapan yang dijajakan satu-satu. Setelah semua terkumpul, si penjual segera menghitung. Sekitar Rp 20 ribu untuk sekitar 40 jenis kudapan. Rata rata Rp 500 perbungkus.

Sesampai di rumah, segera saya buka bungkus demi bungkus kue tadi. Mencicipi kudapan jaman modern. Merek dan namanya macam macam. Tetapi hampir semuanya kurang lebih sama: sejenis biskuit atau kripik berbahan tepung dengan berbagai rasa.
Segera saya menghitung hitung. Dari Rp 500 harga kue, tentu kemudian dibagi bagi menjadi beberapa komponen. Coba kita kira-kira. Laba toko pengecer Rp 50. Honor sales yang mengedarkannya Rp 50. Laba pedagang perantara antara toko pengecer hingga pabrik Rp 100. Gaji pegawai pabrik, depresiasi mesin-mesin pengolah, harga kemasan, dan laba pabrik Rp 100. Maka, yang tersisa untuk bahan baku adalah Rp 200 perbungkus.

Pertanyaannya, bahan kue apa yang bisa dibeli dengan uang Rp 200? Jawabnya: tidak ada yang bisa dibeli kecuali: tepung, bahan perasa, bahan pewarna, dan bahan pengawet. Jadi kalaupun misalnya kue itu rasa coklat, tentu bukan coklat sebenarnya. Hanya perasa coklat saja. Kalau rasa keju, tentu bukan keju sebenarnya. Hanya rasa keju saja. Demikianlah pula untuk rasa jeruk, nanas, susu, manis, gurih, ayam, daging, dan sebagainya. Jangan membayangkan bahan-bahan bergizi dari uang dua ratus perak. Tidak ada coklat, keju, daging, ayam, jeruk, nanas atau bahan bahan sejenis yang bisa dibeli dengan uang Rp 200 perbungkus.

••••

Ingatan saya kemudian tertuju pada masyarakat kelas bawah. Para buruh pabrik, pedagang kecil, tukang becak, kuli bangunan dan sejenisnya. Mereka punya anak-anak kecil yang sedang sekolah di TK dan SD. Untuk buah hati, tiap hari mereka memberi uang saku. Lima ratus atau seribu rupiah tiap hari. Tapi bagi mereka, ini adalah bukti cinta dan harapan kepada buah hati yang sedang menuntut ilmu.

Untuk apa uang saku seribu atau lima ratus rupiah tiap hari? Tentu untuk beli kudapan di sekolah. Kudapan apa? Tidak lain adalah kudapan yang didalamnya berisi: tepung, perasa, pewarna dan pengawet. Gizi? Tentu kalah jauh dengan siter. Bahkan siter jauh lebih baik karena tidak mengandung pewarna, perasa, dan pengawet yang bila dikonsumsi tiap hari tentu sangat berbahaya.

Maka, bayangkan kualitas generasi mayoritas bangsa ini dua puluh atau tiga puluh tahun ke depan. Generasi yang ayah ibunya hanya berpendapatan UMR atau bahkan kurang. Di rumah makan seadanya. Ada uang kudapan barang seribu atau lima ratus rupiah perhari sama sekali tidak untuk menambah gizi. Berat sekali untuk membayangkan kualitas generasi.

Suram? Tidak juga. Harapan selalu ada. Dari mana harapan itu? Dari Anda para dermawan. Tentu juga dari anggaran pemerintah yang tidak salah alamat. Mendidik masyarakat bawah agar uang yang ada dibelanjakan makanan yang berkualitas tentu butuh daya upaya dan dana. Edukasi. Uang sedikit tentu lebih bergizi jika dibelikan pisang goreng, kacang, kedelai, koro, tempe goreng, dan sejenisnya….termasuk siter. BMH dan lembaga lembaga amal lain sudah berupaya. Anda para donatur adalah pendukungnya. Menyelamatkan generasi. Makin banyak donasi makin banyak pula generasi yang bisa diselamatkan. Ayo!

Tulisan ini pernah dimuat di majalah BMHNews, terbit di Surabaya

Praptodiharjo-Ann Nixon Cooper


Atlanta, Amerika Serikat. Ann Nixon Cooper sedang menyaksikan TV yang menyiarkan pidato kemengan Obama saat namanya disebut. Ann lahir tahun 1902 saat di jalan raya belum ada mobil. Di udara belum ada pesawat terbang. Bahkan Ann muda tak pernah ikut coblosan pemilu karena dua hal. Karena ia wanita dan karena ia kulit hitam.

Kini, 106 tahun kemudian, segalanya telah berubah. Ada mobil melaju jalan tol super mulus. Ada pesawat mengantarkan manusia lintas benua. Ada pesawat antariksa yang mengantarkan manusia ke bulan. Kini…Ia pun bisa ikut coblosan. Tanpa paku. Cukup dengan menyentuhkan jarinya di touch screen. Perubahan luar biasa. Tak terbayangkan saat masa kecilnya.

&&&

Semaki Kulon, Jogjakarta, 2008.  Praptodihardjo adalah seorang kakek delapan puluh tiga tahun yang masih segar bugar. Ia sedang menjaga toko pracangannya saat Ann disebut sebut oleh Obama dalam pidato kemenagannya. Di sela itu ia rajin ke masjid. Tugasnya adalah memastikan bahwa para jamaah dapat beribadah dengan baik. Ngepel agar lantai masjid tetap suci.

Karena lahir 23 tahun setelah kelahiran Ann di Shelbyville, Tennessee, Amerika Serikat, Prapto muda sudah suka bepergian ke luar kota naik bus atau kereta api. Mbah Prapto-demikian saya memanggilya- masih bisa bercerita dengan detail pengalamanya menjadi pedagang antar kota saaat masih muda. Surabaya dengan pasar wonokromonya adalah salah satu tempat faforitnya dalam berdagang.

Saya sangat terinspirasi oleh kisah Ann dalam pidato obama. Maka, pertemuan selepas sholat jum’at dengan Mbah Prapto pun jadi menarik. Saya bertanya tentang perubahan yang dialaminya.

Sebagaimana Mbah Ann, Mbah Prapto pun mengalami perubahan yang benar benar dirasakan. Saat muda dan suka bepergian dengan kereta api, ia tidak pernah menjumpai orang naik kereta api sampai menjejali atap. Tanpa takut risiko terjatuh dan mati. Kini, delapan puluhan tahun kemudian, ia biasa menjumpainya sehari hari di negeri ini.

Dulu, sungai manapun selauh mengalirkan air jernih dengan ikan besar besar. Air sehat untuk mandi. Bahkan untuk minum. Kini, sungai-sungai telah berubah. Air jernih berubah menjadi hitam pekat. ikan dan udang yang dulu bisa dinikmati masyarakat kini berubah menjadi smapah berbau tajam.

Dulu, mbah prapto remaja menyaksikan betapa para pemegang ijazah sekolah dasar saja sudah bisa bekerja menempati posisi bergengsi. Apalagi lulusan SMA. Apalagi yang sarjana. Kini… segalanya telah berubah. BPS melaporkan hampir 1,2 juta alumni pendidikan tinggi menganggur. Perubahan luar biasa.

Maka, seandainya anak anak perempuan kita diberkahi dengan umur panjang lintas abad sebagaimana Ann Nixon Cooper. Perubahan apa yang akan kita wariskan untuk mereka? Inilah pertanyaan retoris Obama dalam pidato kemenangannya yang menyebabkan ribuan orang menitikkan air mata haru.

Maka, seandainya anak anak kita dikaruniai tetap sehat sampai usia kepala 8 seperti Mbah Prapto, perubahan seperti apa yang akan mereka saksikan? Kereta api yang seperti apa? Sungai yang seperti apa? Lulusan perguruan tinggi yang seperti apa?

Kejujuran tanpa kompromi, kerja keras, dan keyakinan lah yang bisa mewariskan perubahan positif yang bermakna. Kata Obama: Yes we can! Kita bisa!

Tulisan Iman Supriyono ini pernah dimuat di majalah BMHNews, terbit di surabaya

Berebut Dengan Burung


Kampus ITS di Suatu pagi. Sudah menjadi kebiasaan, dua kali seminggu saya berolah raga. Lari pagi keliling kampus ITS adalah salah satu faforit saya. Menikmati kesegaran udara di kawasan Surabay timur dengan ditemani kicauan burung-burung di pepohonan. Badan berkeringat. Jiwa bersemangat. Segar…..

Ada yang menarik sepanjang menyusuri jalanan kampus. Tampak dikejauhan seorang ibu paruh baya berteriak teriak. Tanggannya menggerak-gerakkan orang orangan. Gerakan orang-orangan diikuti riuh rendah suara kaleng terpukul pukul pukul. Mirip pemukul lonceng. Bedanya, bila suara lonceng nyaman di telinga, suara kaleng ini justru memekakkan telinga. Sengaja. Tujuannya adalah untuk mengusir kawanan burung burung yang memakan bulir padi yang mulai menguning.

Sebuah adegan yang menarik. Saya dan banyak orang yang sedang lari pagi merasa senang dengan burung burung ini. Bahkan bila lama berada di luar kota, salah satu yang saya rindukan adalah kicauan burung burung ini. Menikmati kesegaran badan dengan cucuran keringat ditemani kicauan burung sepanjang jalan.

Lain lagi dengan ibu paruh baya ini. Ia sangat terganggu dengan keberadaan burung burung ini. Ia harus berteriak teriak keras keras. Kedua tangannya sibuk menggerak gerakkan orang orangan. Teriakannya menyiratkan emosi yang amat sangat. Siratan kejengkelan luar biasa terhadap keberadaan burung burung.
&&&
Genting highland suatu sore. Ini adalah sebuah kawasan wisata pegunungan yang digarap dengan sangat serius oleh negeri jiran. Di samping jalan mulus dua lajur tiap sisi dari Kuala Lumpur sampai puncak, para pelancong juga dimanjakan adanya hotel mewah lengkap dengan sarana hiburan super lengkap. Outdoor maupun indoor.

Begitu tiba meninggalkan mobil di tempat parkir, segera lah saya bersama tiga kawan menuju stasiun kereta gantung. Kereta pun berangkat mengantar saya dan rombongan menuju puncak. Naik di menyusuri pepohonan lebat di cela-cela puncak puncak bukit. Pekatnya kabut menambah kecantikan pemandangan.

Di cela kabut yang pekat, nampak dua jalur kereta yang menempel pada tiang tiang penyangga nan kokoh. Kereta yang saya naiki berada di jalur naik. Nampak di depan dan belakang kereta kereta lain yang juga ke arah puncak. Di arah sebaliknya, tampak kereta kereta yang meluncur turun.

Naik dan turunnya kereta gantung membawa sebuah harmoni. Kereta yang naik membutuhkan engeri untuk melawan gaya gravitasi bumi. Sebaliknya, kereta yang meluncur turun memiliki energi yang berasal dari gravitasi bumi juga. Mesin penggerak kereta tinggal mensinkronkan keduanya. Sinkronisasi ini menjadikan kebutuhan energi untuk menggerakkan kereta bisa dihemat. Energi dari kereta yang meluncur tutun dimanfaatkan untuk menarik kereta lain yang sedang mendaki.
&&&
Pembaca yang antusias, kawanan burung di ITS dan kereta gantung di Genting Highland mengajari kita tentang sebuah hikmah. Sesuatu yang tidak baik bagi kita ternyata bisa bermakna luar biasa baik bagi orang lain. Sesuatu yang kita rasakan sangat menyenangkan ternyata terasa sangat tidak menyenangkan bagi orang lain. Hikmah keseimbangan.

Menangkap hikmah burung dan kereta gantung akan menjadikan kita berdamai dengan kondisi apapun. Bayangkan suatu saat ketika sedang berlari pagi di ITS saya dan pelari pagi lain tidak mendapati satupun burung yang berkicau. Bagi saya ini adalah sebuah kehilangan. Sesuatu yang tidak menyenangkan. Tapi ketahuilah, ketiadaan burung yang entah pergi kemana merupakan nikmat tiada tara bagi ibu paruh baya yang padinya menguning tadi. Ketidaknikmatan bagi pelari pagi adalah kenikmatan bagi para petani pengusir burung.

Beban berat untuk menarik kereta gantung ke atas justru menjadi tenaga pengerem agar kereta lain bisa meliuncur kebawah dengan kecepatan yang aman. Pengereman kereta yang meluncur kebawah yang tentu saja membutuhkan energi ternyata adalah sebuah kemudahan untuk menarik kereta lain agar bisa mendaki bukit dengan tenaga yang ringan. Sulit bagi satu pihak adalah mudah bagi pihak lain. mudah bagi satu pihak adalah sulit bagi pihak lain. keseimbangan.

Dalam konteks prestasi kehidupan, hikmah ini akan membantu kita untuk menjadi orang yang tetap konsisten dalam mencapai sebuah tujuan. Kegagalan tidak menjadikan kita berhenti. Kegagalan bagi kita bisa dimaknai sebagai keberhasilan bagi orang lain. dalam sebuah perlombaan, kegagalan kita menjadi juara bisa dimaknai sebagai kegembiraan luar biasa bagi orang lain. Kegembiraan luar biasa bagi si pemenang. Penerimaan kita terhadap kegagalan bisa bermakna penerimaan kita akan kemenagnan orang lain.

Bila Anda berbisnis showroom mobil misalnya, kegagalan Anda menjual mobil adalah keberhasilan bagi showroom lain. Bersabar akan kegagalan penjualan bisa bermakna bersyukur karena ada showroom lain yang berhasil menjual mobil. Andai saja mobil kita laku, berarti konsumen itu tentu tidak membeli di showroom lain.

Bila Anda politisi yang gagal menjadi anggota dewan, Anda pun tidak layak larut dalam kesedihan. Kegagalan Anda bisa bermakna keberhasilan pesaing Anda untuk masuk menjadi anggota dewan. Bersyukurlah. Beri ucapan selamat kepada pesaing.

Maka…jangan bersedih terhadap kegagalan. Jangan berputus asa terhadap kegagalan. Sejatinya, Anda belum benar-benar gagal sebelum Anda berhenti untuk berusaha. Anda belum benar benar gagal apabila belum menyerah. Masih ada hari esok. Masih ada waktu untuk mencoba lagi. Bertahan sampai apa yang Anda targetkan tercapai. Ayo!

Tulisan karya Iman Supriyono ini pernah dimuat di majalah BMHNews, terbit di Surabaya

Diskusi lebih lanjut sekaligus membangun jejaring dengan para pelaku bisnis dan investasi? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi