Category Archives: Uncategorized

Renungan Jelang Ramadhan: Puasa 24 Jam Seumur Hidup


Puasa 24 Jam Seumur Hidup

oleh: Iman Supriyono, konsultan keuangan pada SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com

Ini adalah cerita seorang kawan pedagang sembako. Sehari hari ia bergelut dengan beras, gula, telor, garam, kopi, teh, dan aneka barang lain. Memenuhi aneka kebutuhan masyarakat. Sekaligus juga memenuhi kebutuhan nafkah keluarganya dengan laba yang diperoleh atas setiap dagangan yang terjual.

Sebagai seorang pedagang, kawan ini tahu benar tentang pasang surut dalam kehidupan. Persis roda yang berputar. Pasar sembako pun naik turun. Ada yang naik turunya bersifat acak. Sulit atau bahkan sama sekali tidak bisa diprediksi. Tetapi ada juga yang bersifat musiman dan bisa diprediksi. Ada musim sepi. Ada musim laris. Karena lokasi tokonya berada di daerah kampus, masa sepi akan datang tatkala musim libur panjang. Sekitar 2 bulan. Saat itu warung warung makanan sepi. Bahkan ada yang tutup. Maka, kebutuhan sembako pun juga turun drastis.

Kapan musim ramainya? Ini yang selalu dirasakannya setiap tahun: bulan ramadhan! Jadi, pada bulan suci ini, rejeki kawan ini benar benar memuncak. Beras laris. Gula apalagi. Garam, tepung agar agar, teh, kopi, susu, semuanya laris manis. Omset berlipat! Ramadhan adalah masa panen. Masa yang ditunggu tunggu.



Salah satu aspek pembelajaran penting dalam puasa adalah pengendalian diri. Sejak terbit fajar sampai magrib, seorang yang berpuasa tidak mengendalikan diri untuk tidak makan, minum dan melakuan perbuatan perbuatan lain yang membatalkan puasa.

Siapa yang bisa mengontrol makan minum seseorang? Di tempat ramai, puasa seseorang bisa “dikontrol” oleh orang lain. Orang akan malu untuk makan dan minum saat puasa karena ada kawan saat di kantor. Di rumah orang akan malu makan minum karena ada ayah, ibu, suami, istri atau orang lain. Tetapi, bagaimana ketika ia sendirian di kamar? Siapa yang bisa mengontrol makan dan minumnya? Inilah latihan pentingnya. Mengendalikan diri untuk tidak melakukan sesuatu yang membatalkan puasa walaupun tidak ada satupun orang lain. Berlatih mengendalikan diri hanya karena Allah SWT semata.

Pertanyaannya, apakah Allah SWT hanya ada pada saat seseorang puasa? Tentu tidak. Allah SWT ada setiap saat di ruaang manapun. Dia ada di kamar, pasar, terminal, bandara, mall, kantor, toko, masjid, mushola dan dimanapun. Maka, kemampuan pengendalian diri seseorang tidak dibatasi saat puasa. Pengendalian diri dengan keyakinan pengawasan Allah SWT ada dmanapun dan kapanpun. Dua puluh empat jam seumur hidup!

Maka, orang yang berpuasa mestinya adalah orang yang paling pintar dalam mengendalikan diri. Cukuplah Allah SWT sebagai alasan untuk melakukan atau tidak melakukan sesutu. Tidak perlu orang lain. Kalau hikmah ini sampai masuk pada sektor finansial, efeknya akan sangat luar biasa. Tidak ada korupsi, tidak ada mark up, tidak ada makelar kasus, tidak ada partai yang menerima uang sogok dari bakal calon kepala daerah, tidak ada pejabat yang menerima hadiah dari masyarkaat, tidak ada petugas pembelian perusahaan yang menerima hadiah dari pemasok, tidak ada kong kalingkong pejabat dengan pengusaha, tidak ada penyelewengan pajak, tidak ada proyek yang speknya dikurangi, tidak ada manipulasi timbangan, tidak ada uang kembalian kurang di loket terminal, tidak ada penyimpangan finansial dalam bentuk apapun.

Tidak ada besar pasak dari pada tiang. Pengeluaran terkendali hingga semua orang memiliki dana investasi. Dengan dana ini, kita tidak perlu mengundang modal asing untuk eksploitasi tambang emas, perak, minyak, bauksit, batubara, dan masih banyak lagi. Tidak perlu mengundang modal asing untuk menanami lahan kosong di Kalimantan, Sumatra, Papua dan lain lain dengan sawit atau tanaman produktif lain. Tidak perlu mengimpor mobil, peralatan elektronik, gula, garam, jagung, gandum, kedelai, sapi, susu. Ada dana dalam negeri yang cukup untuk investasi pembuatan pabrik atau pengolahan lahan pertanian. Inilah hasil dari latihan pengendalian diri sebagai hikmah puasa.

Puasanya memang hanya pada siang hari bulan ramadhan. Atau paling banter ditambah puasa sunnah syawal atau senin kamis. Tetapi, efeknya adalah kemampuan mengendalikan diri 24 jam seumur hidup.

Sayang, sampai ramadhan tahun lalu, pengalaman kawan pedagang sembako tadi bicara lain. Jangankan mengendalikan diri selepas ramadhan, saat masih puasa saja susah. Berpuasa tetapi konsumsi makanan justru meningkat. Omset sembako berlipat. Bagaimana puasa tahun ini? Bisa berefek 24 jam seumur hidup? halo!…halo!…halo! Bisa kan?

tulisan ini pernah dimuat di majalah yatim, terbit di surabaya

Pengalaman Luar Negeri Para Penjaga Toko Perlengkapan Bayi


Pengalaman Luar Negeri Para Penjaga Toko

oleh: Iman Supriyono, konsltan bisnis dan keuangan pada SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com

Ada dua baris antrian di konter check in Citilink menuju Jakarta di Juanda pagi itu. Yang sebelah kanan lebih pendek dari yang kiri. Saya pun memilih antri di baris kanan. Tetapi, ternyata saya keliru. Salah satu orang di sebelah kanan antri check in untuk rombongan yang berjumlah 27 orang. Lengkap dengan begasi yang bejibun. Dibutuhkan waktu lebih lama dari pada antrian kiri.

Semula saya hampir tidak sabar. Terbesit untuk pindah antrian ke baris kiri. Tetapi ada sesuatu yang menarik pada rombongan 27 orang tadi. Jadilah saya ngobrol dengan mereka yang penuh informasi menarik.

Ternyata, 27 orang tersebut adalah rombongan wisata dengan tujuan Guang Zou, Republik Rakyat China. Untuk perjalanan itu mereka harus transit di jakarta dengan Garuda Citilink. Rombongan berasal dari sebuah perusahaan toko perlengkapan bayi yang juga dikenal dengan baby shop. Kebetulan saya juga pernah berbelanja di toko mereka.

Yang saya tidak tahu sebelumnya, ternyata toko perlengkapan bayi ini memiliki 2 outlet di Surabaya dan 4 outlet di Jakarta. Bahkan toko ini juga memasok aneka produk perlengkapan bayi ke toko-toko lain. Menjadi distributor perlengkapan bayi. Pendek kata, perusahaan ini menjadi spesialis perlengkapan bayi yang sukses.

Dari kawan ngobrol yang sudah bekerja hampir sepuluh tahun ini saya kemudian tahu bahwa sang bos juga ikut dalam rombongan itu. Segeralah saya mendekatinya dan mengulurkan tangan. Ucapan selamat pun saya sampaikan dengan sepenuh hati, “Selamat…..Anda telah memberi para penjaga toko pengalaman luar negeri!”



Pembaca yang baik, pengalaman luar negeri adalah sesuatu yang sangat penting. Banyak sekali pelajaran dengannya. Banyak inspirasi yang bisa diperoleh. Kita juga tidak akan bisa memamahi arti negara dengan baik kecuali sudah pernah bepergian ke luar negeri.

Bagi banyak orang, bepergian ke luar negeri adalah sebuah kemewahan. Apalagi bagi para pramuniaga sebuah toko perlengkapan bayi seperti rombongan seantrian check in tadi. Maka, yang dilakukan bos toko perlengkapan bayi ini adalah sesuatu yang luar biasa. Secara bergiliran, perusahaan memberengkatkan para karyawannya berwisata ke laur negeri. Yang saya temui di juanda adalah sekitar sepertiga dari 150-an karyawan jaringan toko ini.

Dari dialog dengan sang bos, saya merasakan sebuah kekuatan visi luar biasa. Visi untuk membangun jaringan toko perlengkapan bayi berkelas nasional. Bagi bos ini, baiknya pelayanan adalah sebuah keniscayaan. Karyawan yang menjadi tulang punggung pelayanan haruslah terus ditingkatkan kapasitasnya. Sesuatu yang sangat terkait dengan wawasan. Pengalaman luar negeri bagi para pramuniaga adalah upgrading kapasitas yang luar biasa. Penjaga toko berpengalaman luar negeri!

Saya membayangkan tidak lama lagi toko ini akan menjadi jaringan baby shop yang menyebar ke berbagai kota. Akan menjadi seperti minimarket Indomaret dan Alfamart di bidang perlengkapan bayi. Saat ini, di setiap kota hampir pasti ada toko perlengkapan bayi. Namun demikian, belum ada yang berjaringan nasional sekelas Alfamart atau Indomaret. Mereka bisa! Suatu saat nanti, semoga akan ada Anda para pembaca yang bisa saya beri ucaman seperti di counter Citilink tadi. Selamat…Anda telah memberi para penjaga toko pengalaman luar negeri!

tulisan ini pernah dimuat di majalah Yatim, terbit di Surabaya

Sodexo: Catering Olympiade Bisa!


“Saat awal awal merantau meninggalkan Madiun, saya sering terheran heran. Kok ada orang makan pagi bukan nasi pecel”. Inilah kalimat yang muncul dari seorang kawan asal Madiun saat berrdialog melalui layar komputer berinternet. Kalimat yang menggambarkan betapa pecel telah menjadi menu wajib bagi orang madiun.

“mengkonsumsi makanan tertentu secara terus menerus setiap hari adalah tidak bagi kesehatan. Kecuali pecel”. Ini adalah ungkapan lain dari orang Madiun yang begitu gandrung dengan menu makanan yang terdiri sayuran lengkap (bayam, kecambah, kacang panjang, lamptoro, ketimun, kembang turi, daun ketela, kangkung) disiram dengan bumbu yang terbuat dari kacang tanah, cabe dan beberapa komponen lainnya. Tentu lengkap dengan peyek. Orang Madiun bisa dikatakan tidak pernah makan pagi selain pecel.

Kemudian muncul pertanyaan. Apakah tidak rumit pagi-pagi menyediakan sayuran yang beraneka macam ini? belum lagi membuat sambal pecelnya, peyeknya, dan sebagainya. Memang rumit. Tetapi orang Madiun punya cara sangat praktis untuk mengatasinya. Mereka cukup melakukan “outsourcing” kepada warung warung pecel yang tersebar dimana mana. Beli beberapa bungkus sesuai dengan jumlah anggota keluarga yang membutuhkan makan pagi. Harganya pun murah. Samapai sekarang masih banyak warung yang menjual pecel dengan harga Rp 2000 perbungkus dengan porsi kecil cocok untukk makan pagi.

♦♦♦♦♦
Keluarga Encik Salleh adalah tipologi keluarga Singapura pada umumnya. Bapak dua putri ini bekerja sebagai seorang supir Taksi. Satu putrinya sedang menempuh studi di Universiti Islam Antarbangsa Kuala Lumpur. Satu lagi sudah bekerja di Singapura dan masih tinggal bersamanya. Istrinya bekerja sosial sebagai guru mengaji bagi anak anak dan remaja muslim di Singapura.

Sebagimana layaknya keluarga, kebutuhan makan adalah sesuatu yang harus dipenuhi. Dengan jumlah keluarga yang hanya tiga orang dengan aktivitas padat, memasak sendiri adalah sesuatu yang tidak efisien. Tidak praktis. Maka, jauh lebih praktis dan lebih murah membeli di warung atau restoran. Apalagi untuk kebutuhan makan siang. Di saat kerja, tidak mungkin pulang ke rumah hanya untuk keperluan makan. Maka, sebagaimana juga warga Singapura lain pada umumnya, pada jam makan mereka akan memenuhi kedai kedai makanan yang tersebar di berbagai tempat. Pada umunya berupa sentra pedagang makanan semacam food court kalau di sini.

♦♦♦♦♦

Makin berkembang kehidupan ekonomi manusia, makin besar pula kebutuhan akan jasa penyediaan makanan. Warung pecel madiun atau food court di Singapura adalah bentuk pemenuhan kebutuhan makanan masyarakat yang lebih efisien. Jauh lebih efisien dari pada tidap orang masak sendiri sendiri. Persis konsep outsourcing dalam istilah manajemen perusahaan. Tidak perlu menyediakan tenaga kerja khusus untuk melakukan aktivitas yang bukan pekerjaan utama. Cukup membeli jasa orang lain. Tanaga yang ada bisa difokuskan untuk menyelesaikan pekerjaan utama dengan jauh lebih baik, lebih berkualitas dan lebih efisien.

Restoran atau kedai makanan sudah memiliki akar sejarah yang panjang. Menurut Wikipedia, restoran dalam sejarah berawal dari kalangan muslim pada abad pertengahan. Jauh lebih awal dari pada sejarah restoran di kebudayaan Cina. Bahkan, restoran di Eropa pun muncul dari kalangan muslim. Sake Dean Mahomed (1759–1851) adalah orang yang pertama kali membuat restoran berupa kedai kopi di Inggris.

Kini, restoran telah menjadi simbul globalisasi. Simbul terbukanya sekat sekat perbedaan antar manusia. Bahasa Inggris makin mengglobal dan bahasa lokal banyak yang punah. Musik barat telah mengglobal dan musik musik lokal ditinggalkan. Jas dan hem telah menjadi model baju yang diterima dimana mana dan model model baju berbagai etnis makin ditinggalkan. Demikian juga makanan. Ayam goreng ala KFC atau burger ala McD makin biasa disantap dimana mana seantero dunia menggantikan jenang grendul, kecak, puro, gentilut, umbel-umbel, samplok, jemblem, dan sejenisnya.

Bahkan kebutuhan akan jasa penyediaan makanan ini berkembang lebih beragam. Jasa catering adalah salah satunya. Bisnis yang menyediakan makanan dan mengantarkannya ke tempat si pemesan ini bahkan telah menjadi kebutuhan yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarkat modern. Mulai dari yang kecil kecilan dengan melayani pesanan nasi kotak atau nasi bungkus beberapa porsi sampai yang besar besar gahkan raksaksasa.

Bisnis Catering yang kecil kecilan tentu Anda sudah sangat familiar. Bahkan Anda mungkin juga membutuhkannya saat punya hajat tertentu. Nah, bagaimana dengan yang besar? Salah satu perusahaan catering terbesar di dunia adalah Sodexo. Sebuah perusahaan global yang didirikan sejak tahun 1966 di Marseille, Prancis oleh Pierre Bellon. Pierre mendirikan Sodexo yang ketika itu bernama Sodexho (Société d’Exploitation Hotelière) berbekal pengalaman keluarganya yang telah berpengalaman 60 tahun melayani katering untuk kapal kapal mewah dan kapal pesiar. Jadi sebagai bisnis Sodexo telah dirintis sejak tahun 1906.

Bisnis Catering Omset Rp 190 Trilyun ….. Sodexo Prancis

Pada tahun fiskal 2009, Sodexo mencatat penjualan sebesar 14,7 Milyar Euro alias sekitar Rp 190 Trilyun. Omset ini kira kira setara dengan sepertiga penerimaan pajak pemerintah RI dalam setahun. Dengan omset inilah Sodexo memberi pekerjaan dan nafkah kepada 380 ribu karyawan bersama keluarganya. Karyawan sejumlah ini tersebar di 80 negara melani 50 juta konsumennya.

Sodexo telah membuktikan. Bisnis catering yang banyak kita jumpai sebagai bisnis rumahan bisa menjelma menjadi perusahaan raksasa. Yang harus dicatat adalah sejarah panjangnya. Seabad lebih. Usia panjang yang diisi dengan pembelajaran tentu akan menghasilkan keahlian yang tiada taranya. Dan yang lebih penting, dalam masa lebih dari seabad itu perusahaan terus menerus tumbuh. Tumbuh alami maupun mengakuisisi perusahaan lain. Tumbuh dan belajar terus melayani kebutuhan makanan seiring dengan perkembangan jaman. Tidak cukup dengan membuka kedai yang mengharuskan orang yang butuh makanan untuk datang semacam warung pecel madiun, food court di Singapura atau restoran global sekelas KFC. Sodexo menyediakan makanan dan mengantarkanya ke tempat pelanggan membutuhkan makanan. Event raksasa sekelas Olimpiade adalah pelanggannya. Sodexo bisa. Anda para pebisnis katering juga bisa. Ayo!

Tulisan ini pernah dimuat di majalah Muslim, terbit di Surabaya

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca juga:
Garuda, pailit atau korporatisasi?
Krakatau Steel: Tercekik Utang

Raja Utang: Mengapa Bunga Bank Selangit?
Garuda: Utang Melebihi Aset

Glorifikasi IPO Kioson
IPO Bukalapak Prospektif atau Buang Uang
Kepailitan Startup OFO Bike Hiring
Tesla Laba Setelah 16 Tahun Rugi
Corporate Life Cycle dalam Merger GoTo
Valuasi Merger Gojek Tokopedia
Sequoia VC Sejati

Haruskah Tuban Lepas dari Pangkuan RI: Simpadan Ligitan


Simpadan Ligitan

oleh Iman Supriyono, konsultan pada SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com

SJ 232. Ini adalah nomer penerbangan saya menuju Tarakan yang sudah fix. Tiket pulang ke Surabaya pun sudah fix. Ini artinya segala sesuatu yang bersangkut paut dengan rencana pekerjaan dan kepergian sudah beres. Selanjutnya tinggal mencari-cari sesuatu agar keberangkatan ke Tarakan di akhir tahun 2010 ini bisa lebih efektif dan optimal.

Salah satu yang muncul di lintasan pikiran saya adalah tentang Simpadan Ligitan. Ya, dua pulau yang kini lepas ke Malaysia melalui keputusan Mahkamah Internasional itu memang berlokasi tidak jauh dari Tarakan.

Saya pun menanyakan tentang kabar dua pulau ini kepada kawan di Tarakan. Informasi dari mereka: Simpadan dan Ligitan jadi lebih bersih, rapi, tertata setelah dikuasai oleh Malaysia. Tidak ada sampah tercecer. Tidak ada orang buang sampah sembarangan.

Ini adalah perjalanan pulang dari Tuban. Saya tidak terlalu berminat untuk membeli oleh oleh karena memang beberapa hari terakhir ini sering kali bepergian dan membawa pulang oleh oleh. Disamping itu, saya juga lumayan sering pergi ke Tuban. Tetapi saya tidak sendirian. Semobil ada beberapa kawan yang membutuhkan oleh oleh untuk keluarga mereka di rumah. Jadilah diputuskan mobil berhenti di sebuah toko oleh berolkasi di jalan raya tepat di bibir pantai tidak jauh dari pusat kota Tuban.

Kawan kawan yang membutuhkan oleh oleh masuk toko. Saya menunggu mereka. Maka, demi melihat di kiri jalan ada pantai terbentang, saya pun keluar dari mobil membawa kamera. Mengamati suasana pantai barang kali ada sesuatu yang menarik untuk dipotret.

Memandang jauh ke hamparan laut memang menyegarkan. Menikmati mahakarya sang pencipta. Merenung tentang kekuasaannya yang mahadahsyat. Terlintas juga bagaimana laut yang tanang seperti ini sesekali bisa mengganas seperti tsunami di Aceh. Timbulallah rasa syukur bahwa di sini aman aman saja. Timbul rasa kecil. Muncul rasa dekat dengan Sang Pencipta.

Puas memandang jauh di hamparan laut, mata ini pun beralih memandang bibir pantai. Suasana kontras muncul. Mendadak saya jadi tidak enak hati. Perpaduan antara marah dan ketidaktahuan kepada siapa saya harus marah. Di sepanjang bibir pantai yang tampak menonjol adalah sampah plastik bekas kemasan makanan atau minuman yang tercecer dimana mana. Ada lembaran plastik bekas pembungkus mie instan, ada tas kresek kumal, ada gelas bekar air dalam kemasan, ada botol bekas minuman rasa buah, dan masih banyak lagi.

Muncul pertanyaan, bagaimana orang bisa nyaman menikmati panorama laut kalau kondisinya kotor begini. Bagaimana pantai yang mestinya indah bisa menarik wisatawan kalau kondisinya jorok seperti ini. Bagaimana ekonomi pariwisata bisa dibangkitkan dengan kondisi penuh sampah seperti ini. Bagaimana pula kita bisa berharap adanya multiplier ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat dalam kondisi penuh sampah seperti ini.

Maka, perkembangan Simpadan Ligitan setelah lepas kepada Malaysia seolah mendapatkan pembenaran. Bukankah tujuan adanya penguasaan wilayah adalah untuk menjaga alam dan memanfaatkannya untuk kesejahteraan masyarakat sekitar? Malaysia terbukti bisa melakukannya. Lalu apa gunanya kita kuasasi bila justru terkotiri dengan sampah? Apa gunanya kita kuasai tanpa peningkatan kesejahteraan masyarakat?

Mas Iman, berarti Anda setuju lepasnya Simpadan Ligitan ke Malaysia? Hehehe…tentu tidak. Saya hanya ingin agar kita bisa memperbaiki diri. Mari menjaga keindahan alam karunia-Nya ini dengan tidak mengotorinya dengan sampah. Agar segalanya tampak indah dan menarik untuk timbulknya putaran ekonomi.

Tetapi memang faktanya banyak sekali orang yang suka membuang sampah sembarangan. Termasuk di pantai Tuban. Nah, yang ini kewajiban pemerintah untuk memberinya pelajaran yang bagus. Membuat mereka yang ngawur menjadi baik. Dengan cara cara persuasif maupun sanksi yang tegas. Inilah “hasil sampingan” dari pekerjaan saya di Tarakan. Tidak lain adalah sebuah pertanyaan besar: Apakah untuk bersih dan bisa memicu pertumbuhan ekonomi pariwisata Tuban harus meniru Simpadan Ligitan. Malu kan? Bagaiman dengan “Tuban-Tuban” lain?

tulisan ini pernah dimuat di majalah Matan, terbit di Surabaya

Haruskah Jomblo Menunggu Lee Kuan Yew?


Lee Kuan Yew. Ada banyak hal menarik yang dilakukan pendiri dan arsitek kemajuan Singapura ini. Salah satunya adalah saat ia mengamati fenomena pernikahan di negerinya. Saat memutuskan untuk menikah, para pemuda yang berpendidikan sarjana akan memilih gadis dengan strata pendidikan dibawahnya. Akibat logisnya: gadis-gadis sarjana banyak yang tidak “kebagian”. Gadis-gadis sarjana pada membujang walaupun usianya sudah empat puluhan tahun. Ada sekitar 60% gadis sarjana yang membujang sampai tua.

Dalam benak Lee, fenomena ini mengandung bahaya luar biasa bagi negerinya. Bahaya akan penurunan kualitas generasi yang akan datang. Nampaknya, ia yakin betul terhadap ilmu biologi yang pernah dipelajarinya di sekolah. Kualitas keturunan sangat dipengaruhi oleh dua hal: faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor genetik artinya adalah anak-anak yang terlahir akan berkualitas baik bila bapak ibunya juga berkualitas baik. Ayah ibu yang cerdas akan melahirkan anak-anak yang cerdas. Ayah ibu yang kurang cerdas akan menghasilkan keturunan yang kurang cerdas pula. Faktor lingkungan artinya adalah makanan, pendidikan, pergaulan, dan sebagainya.

Karena sistem pemetaan pendidikannya yang bagus, yang kuliah sampai sarjana di Singapura adalah mereka-mereka yang memang memiliki kecerdasan lebih. Tidak banyak yang berpotensi seperti ini. Yang potensi kecerdasannya tidak lebih cukup belajar di pendidikan praktis seperti politeknik atau bahkan setara SMA saja. Belajar menjadi praktisi, bukan akademisi. Kalaupun dipaksakan melalui pendidikan kesarjanaan yang akademik, hasilnya juga tidak produktif. Hanya buang buang waktu, biaya dan potensi saja. Padahal negara yang suka buang buang waktu, biaya dan potensi adalah negara yang tidak efisien. Negara seperti ini tidak akan unggul di kancah persaingan global.

Maka, ketika seorang lelaki sarjana menikahi seorang perempuan bukan sarjana, tentu ada ketidak-seimbangan potensi disini. Sarjana memiliki kecerdasan lebih. Bukan sarjana yang “biasa biasa saja”. Akhirnya, bisa dibayangkan bahwa anak-anak yang terlahir bukanlah kualitas nomor satu. Ayahnya kualitas nomor satu. Ibunya kualitas nomor dua. Logika sederhana mengatakan: anaknya akan terlahir dengan kualitas antara nomor satu dan nomor dua. Nomor satu koma. Bukan nomor satu. Jika seperti ini terus menerus terjadi, Singapura tidak akan menjadi bangsa yang unggul.

Maka, dirancanglah dua program untuk memperbaikinya. Yang pertama adalah kampanye. Pada berbagai kesempatan Lee berkampanye. Adalah sebuah kesalahan seorang lelaki sarjana menikahi wanita bukan sarjana. Orang seperti ini akan memiliki anak-anak dengan kualitas bukan nomor satu. Anak-akan berkualitas tidak sebaik bapaknya. Sebuah keputusan yang harus dihindari.

Begitu program kampanye ini diluncurkan, pro kontra pun terjadi. Banyak yang memujinya sebagai pemikiran brilian, banyak juga yang mencelanya habis-habisan. Nampaknya Lee sudah siap dengan yang semacam ini. Ia tidak terlalu peduli untuk jaim alias jaga image. Yang penting negerinya jadi maju. Tetapi tentu saja pro kontra dan kampanye saja tidak akan menghasilkan apapun kecuali ada program konkrit. Inilah urgensinya program kedua.

Program kedua bersifat konkrit. Beberapa diantaranya adalah berupa insentif pajak kepada lelaki sarjana yang menikahi perempuan sarjana dan prioritas pendidikan terbaik bagi anak-anak yang terlahir dari ayah ibu sarjana. Inilah yang kemudian menjadi tindak lanjut efektif bagi program pertama yang berupa gembar-gembor kampanye di berbagai media dan kesempatan. Kampanye bertemu dengan program konkrit.

Bagaimana hasilnya? Progam yang diluncurkan puluhan tahun lalu itu kini sudah berbuah. Singapura tampil menjadi salah satu negara kuat di dunia. Ekonominya kuat, militernya disegani, lingkungannya asri, kebersihannya terjaga, rumah sakitnya mengglobal, BUMN nya menjadi berekspansi ke berbagai penjuru dunia, bandarnya termasuk bandara terpadat dunia, kampusnya masuk jajaran top universitas dunia, kunjungan wisatawan asingnya membludak, dan masih banyak lagi. Singapura menjadi madu yang menarik bagi masyarakat berbagai bangsa untuk datang dan makin memajukan negeri yang luasnya setara kota Surabaya ini.

Pembaca yang baik, saya mendapatkan informasi ini dari membaca buku tulisan Lee Kuan Yew berjudul From the Third Word to The First. Buku setebal hampir 800 halaman ini sarat dengan pelajaran yang sangat menarik bagi siapapun. Apalagi bagi Anda yang berkarya di sektor publik. Pelajaran tentang manajemen yang sangat detail, komprehensif, masif dan efektif dalam menjadikan setiap persoalan yang muncul sebagai pemicu kemajuan. Masalah pernikahanpun menjadi senjata bagi perbaikan negeri. Yang seperti ini tentu tidak akan muncul kecuali didasari niat yang lurus. Menjadi pejabat untuk memperbaiki negeri. Menjadi pejabat aparat negara murni untuk memperbaiki masyarakat. Bukan untuk mencari kembalian dana kampanye, memperkaya diri, jaim, “menggergaji” proyek pemerintah, memberi kesempatan kepada anak istri dan kolega untuk menggerogoti kekayaan negara, mendapatkan fasilitas kunker ke luar negeri, memiliki rekening gendut puluhan milyar secara ilegal, memanipulasi pajak, jual beli perkara, dan sejuta hal hal negatif lain. Bukan seperti negeri tetangga Lee Kwan Yew….. Hehehe……

Tulisan Iman Supriyono ini pernah dimuat di majaah BAZ, terbit di Surabaya dengan judul “Bukan Seperti Negeri Tetangga”

Koperasi Kelas Triliun: Bendera Campina


Milo suam. Ini adalah minuman yang paling saya sukai bila sedang di Malaysia atau Singapura. Apapun makanan yang saya pesan….minumnya milo suam. Suam adalah bahasa melayu untuk hangat. Milo? Apa lagi kalau bukan bubuk coklat merek Milo produk dari Nestle.

Saya memang menjadi penyuka Milo setelah sering ke Malaysia atau Singapura. Bukan karena fanatik. Tetapi memang sering kali tidak ada pilihan lain. saya tidak biasa biasa minum teh atau kopi. Kalau tidak jeruk hangat atau jus buah buahan, maka alternatifnya adalah Milo. Mula mula murni karena tidak ada alternatif. Lama lama suka juga!
kid drinking milk

Menurut lidah saya, di kedua negeri jiran ini, milo terasa berbeda. Terasa lebih nikmat. Kenikmatanya sungguh jauh berbeda dengan Milo di negeri ini. Saya pun kemudian tertarik untuk mempelajari. Mengapa Milo di negeri jiran jauh terasa lebih nikmat. Padahal sama sama Milonya. Produk yang sama dari pabrik yang sama. Bahkan kemasan nya pun sama.

Usut punya usut, ternyata ada perbedaan yang menarik. Di warung warung di malaysia atau Singapura, ketika memesan minuman Milo suam, Anda akan menerima segelas minuman yang komposisinya terdiri dari air hangat, gula, dan susu. Di sini, Milo hangat artinya adalah segelas air hangat dan gula tanpa susu. Kalau Anda menginginkan Milo hangat persis seperti Milo suam, di sini Anda harus memesan: Milo susu hangat.

♦♦♦
Empat sehat lima sempurna. Nasi, sayuran, lauk pauk, buah buahan adalah empat makanan untuk hidup sehat. Susu sebagai menu kelima akan menyempurnakannya. Itulah kampanye nasional yang dihafal mulai dari anak anak sekolah sampai orang dewasa. Slogan sederhana tentang bagaimana seharusnya setiap orang memenuhi kebutuhan nutrisi hariannya.

Empat sehat bisa dipenuhi dengan biaya sangat bervariasi. Buah misalnya dapat dipenuhi dengan Rp 2 ribu per kilogram atau bahkan kurang dari itu. akan tetapi, buah juga bisa berarti harga Rp 50 ribu per kilogram atau bahkan lebih. Semangka misalnya ada yang bisa Anda beli dengan kisaran harga Rp 2000 per kilogram. Buah kiwi, pear jenis tertentu dan durian adalah beberapa contoh buah dengan kisaran harga tertinggi.

Lauk pauk pun begitu. Sumber protein ini bisa berarti ikan mujair kecil kecil yang dijual dengan harga tidak sampai Rp 5 ribu per kilogram. Tetapi, daging kualitas terbaik baru bisa dibeli dengan harga Rp 60 ribu per kilogram bahkan lebih. Rentang harganya sangat amat bervariasi.
Lain empat sehat, lain lima sempurna. Susu sebagai kesempurnaan nutrisi bagi tubuh tidak memiliki rentang harga yang tinggi. Susu segar misalnya selalu dijual dengan harga sekitar Rp 6 ribu per liter. Tidak ada susu yang dijual misalnya dengan harga Rp 1000 per liter misalnya. Maka, untuk bisa mencapai kesempurnaan menu dengan susu, seseorang harus mengeluarkan anggaran yang relatif tinggi.

Alasan harga inilah bisa jadi mengakibatkan konsumsi susu di negeri ini relatif rendah. Tidak sampai seperlima dari konsumsi susu di Malaysia.PDB perkapita kita hanya sekitar 1/3 nya Malaysia atau 1/20 nya Singapura. Perbandingan ini juga bisa memberikan penjelasan tentang mengapa Milo di Malaysia selalu ditambah dengan susu. bahkan teh dan kopi pun begitu. Jika Anda memesan Teh di malaysia atau Singapura, otomatis Anda akan diberi hidangan teh lengkap dengan susu. kopi pun demikian. Bila yang Anda maksud adalah kopi atau teh tanpa susu, Anda harus memesan tea O (tea only) atau coffee O (coffee Only)

♦♦♦
FrieslandCampina adalah salah satu pemasok susu global. Produk koperasi hasil merger antara Koperasi Campina Jerman dengan Koperasi Friesland Negeri Belanda ini sangat kita kenal di negeri ini dengan produk susu bendera dan es krim campina. Dengan lebih dari 15 ribu peternak, FrieslandCampina menikmati omset tahunan sekitar Rp 120 Triliun. Dengan omset inilah koperasi ini menghidupi lebih dari 7000 karyawan dan lebih dari 20 ribu anggotanya (termasuk 15 ribu lebih peternak) beserta keluarganya.

Bukan hanya itu. Koperasi ini juga menjadi tulang punggung pemenuhan kebutuhan nutrisi global. Program empat sehat lima sempurna tentu tidak bisa dipisahkan dari Susu Bendera. Menggenjot tingkat konsumsi susu negeri ini agar tidak terlalu kalah jauh dengan malaysia tentu tidak lepas dari Susu Bendera. Kita berharap, suatu saat nanti memesan kopi, susu, atau coklat di warung warung negeri ini juga otomatis diberi susu seperti di Malaysia atau Singapura. Agar kualitas generasi muda ini sehat dan sempurna. Friesland Campina telah melakukannya sejak berdiri tahun 1979. Kapan Anda menyusul?

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Tulisan ini pernah dimuat di majalah matan, terbit di surabaya. juga bagian dari materi buku ke 8 penulis, “anda jago kandang atau kelas dunia”

Tiga Coretan Indah: Hajatan Tanpa Sumbangan


Surabaya april 2009. Sore ini indahnya tiada tara. Bukan karena pemandangan pepohonan menghijau. Bukan oleh putih deburan ombak pantai. Bukan pula karena sejuknya sebuah danau di alam pegunungan. Keindahan sore itu datang dari sebuah undangan. Saya menerima undangan resepsi pernikahan berwarna coklat muda dengan tulisan coklat tua nan artistik. Anggun.

Desainnya memang indah. Tetapi ada sesuatu yang jauh lebih indah: tiga gambar dengan coretan-coretan. Persis seperti coretan pada rambu lalu lintas yang menyatakan larangan. Gambar sepeda motor dicoret berarti sepeda motor dilarang masuk. Panah ke arah kanan dicoret berarti larangan belok kanan. Klakson dicoret berarti larangan membunyikan klakson.

Tiga gambar itu adalah kado, amplop, dan karangan bunga. Masing-masing dengan secuah coretan. Artinya, undangan itu menghendaki agar siapapun yang menerimanya hadir tanpa ketiganya. Tanpa membawa kado, tanpa membawa amplop berisi uang, dan tanpa membawa karangan bunga. Itulah undangan untuk pernikahan putri sulung Wali Kota Surabaya Bambang DH. Undangan pernikahan Aziza –Azmi.

■■■■
Bapak ibu saya kini adalah sepasang kakek nenek berusia 70 tahunan. Alhamdulillah dalam usianya yang lanjut keduanya tetap dikaruniai kesehatan yang luar biasa. Sehari hari bapak ibu masih asyik dengan binatang-binatang peliharaan khas orang desa: sapi, ayam, mentok dan angsa. Rutinitas selepas sholat subuh di pagi hari adalah memberi makanan binatang-binatang ini.

Di siang hari, ayah dan ibu masih punya kesibukan lain lagi: mengawasi beberapa pekerja memasak brem. Ini adalah aktivitas turun-temurun. Ini juga yang menjadi bekal kuliah saya dahulu. Hasil penjualan brem yang saya konsinyasikan di toko-toko di surabaya lah yang kemudian saya pakai untuk biaya kuliah.

Ayam, mentok, angsa dan brem lah yang telah “berjasa” memberikan aktivitas ayah ibu hingga kini. Tetap sehat dan bugar di usia senjat. Seluruh persendian masih tergerakkan. Tidak hanya berpangku tangan.

Banyak uang dong? Tidak juga. Secara bisnis, apa yang dilakukan ayah ibu adalah sesuatu yang sangat sederhana. Jauh dari kecepatan bisnis dunia modern ini. Bahkan dibandingkan dengan para tetangga pun, kecepatan bisnis bapak ibu kalah jauh dibandingkan dengan mereka-mereka yang jauh lebih muda. Memang mendapatkan uang. Tetapi kemanfaatan karena tetap aktif yang menjadikan sehat jauh lebih bermakna di usia senja.

Nah, dalam kesederhanaan finansial orang desa, ada saat tertentu yang cukup membebani. Datangnya adalah pada bulan-bulan favorit hajatan nikah. Pada saat itu, ayah ibu harus menyediakan uang dalam jumlah cukup besar -menurut ukuran kesederhanaan orang desa- untuk memberikan sumbangan kepada orang yang berhajat. Nyumbang memberatkan. Tidak nyumbang jadi bahan pembicaraan orang sedesa.

■■■■
Seorang kawan dari keluarga yang dekat dengan seorang mantan gubernur bercerita. Anggaran sumbangan resepsi pernikahan mantan gubernur bisa mencapai Rp 30 juta dalam sebulan. Angka itu terjadi pada bulan-bulan musim nikah. Bulan peak session pernikahan. Sesuatu yang wajar. Sumbangan kepada kolega sekelas kapolda atau mantan kapolda, pangdam atau mantan pangdam, pimpinan wilayah bank-bank besar dan sekelasnya tentu tidak cukup dengan amplop berisi selembar uang kertas Rp 50 ribuan. Inilah kolega para mantan gubernur.

Anda bisa membayangkan. Berapa gaji seorang gubernur? Berapa tahun masa jabatan seorang gubernur? Berapa uang yang bisa ditabungnya selama masa jabatan? Berapa “masa jabatan” seorang mantan gubernur? Ha ha ha…tentu akan melekat sampai akhir hayat. Lalu berapa anggaran sepanjang hayat untuk sumbangan atau hadiah resepsi pernikahan? Tentu besar sekali.

Maka…undangan pernikahan putri sulung Wali Kota Surabaya memiliki makna yang luar biasa. Luar biasa meringankan orang-orang kecil seperti ayah ibu saya di desa. Juga meringankan “orang-orang besar” sekelas seorang mantan gubernur.

Memang, Islam menyarankan memberikan hidangan kepada para undangan walimatul ursy. Hidangan untuk menandai sebuah peristiwa besar bagai mempelai berdua. Tentu saja hidangan yang masih dalam jangkauan kemampuan si empunya hajat. Bukan hidangan yang “dibeli” dengan kado atau sumbangan dari para undangan. Tidak perlu dipaksakan.

Anda akan menyelenggarakan resepsi pernikahan? Betapa indahnya bila resepsi itu seperti spirit walimatul ursy dalam Islam. Mengundang sanak saudara, kolega dan sahabat untuk menikmati hidangan. Undangan walikota Surabaya di atas bisa menjadi contoh. Undangan yang meringankan baik orang rakyat kecil maupun “orang besar”. Undangan yang menjadikan Anda yang berhajat berfikir realistis. Berfikir memanfaatkan uang yang dimilikinya. Bukan mengada-adakan sesuatu di luar kemampuan dengan mengharapkan kado dan sumbangan. Sebuah walimatul ursy yang indah.

Tulisan Iman Supriyono ini pernah dimuat di majalah BAZ, terbit di Surabaya.

Sudu: Miri Municipal Council


Seorang sahabat sedang dirawat di rumah sakit. Kabar yang saya terima ia sedang menderita hepatitis. Sebuah penyakit yang cukup serius. Gara gara penyakit ini tidak jarang seseorang menemui ajalnya. Karenanya, masyarkat yang memiliki kemampuan finansial tinggi sampai sampai harus mengeluarkan dana milyaran rupiah untuk operasi ganti hati. Ganti lever. Upaya inipun belum tentu berhasil. Cak Nurcholis Majid adalah contoh operasi ganti hati yang gagal dan kemudian menemui ajal tidak berapa lama setelah operasi.

Sepengetahuan saya yang bukan ahli kesehatan, hepatitis adalah penyakit menular. Maka, sebelum berangkat ke rumah sakit saya sempatkan diri untuk menelepon seorang kawan dokter. Dari kawan inilah saya mendaptkan informasi agak detail tentang penyakit hepatitis. Yang penting terkait dengan rencana bezoek saya ke rumah sakit adalah bahwa penyakit bahaya ini menular lewat saluran pencernaan. Maka, kawan dokter berpesan agar setelah berinteraksi dengan pasien segera cuci tangan dengan sabun sebelum beraktivitas lain.

Bismillah….berbekal saran dokter itu saya segera meluncur ke rumah sakit. Menjalani sunnah terhadap sahabat yang sedang diuji-Nya dengan penyakit berat. Tiba di kamarnya segera saya salami di pembaringannya, berbincang memberi semangat kepadanya, dan tidak lupa mendoakannya. Setelah cukup, saya pun berpamitan kepadanya dan keluarganya. Dan…tidak lupa masuk kamar mandi cuci tangan sebelum meninggalkan rumah sakit. Mengikuti saran dokter.

♦♦♦♦

Jaman makin modern. Banyak keluarga yang suami istri sama sama bekerja. Maka, sering kali keluarga tidak sempat memasak untuk memenuhi kebutuhan makanan. Atau kalaupun ada pembantu yang memasak di rumah, jam makan siang tentu tidak mudah untuk bisa pulang makan di rumah. Maka, makan di restoran atau warung makan menjadi solusi.

Apalagi di negara negara yang tingkat pengangguran sudah rendah atau hampir nol. Sangat sulit untuk bisa mendapatkan pembantu. Kalaupun bisa, dibutuhkan anggaran besar untuk gajinya. Maka, makin jarang keluarga yang memasak makanan di rumah. Hari hari adalah makan di warung. Makan di restoran. Di Singapura misalnya, pada jam jam makan, pagi, siang maupun malam, pusat pusat makanan (food court) selalu dipenuh pelanggan. Makan di warung atau restoran adalah cara yang sangat efisien untuk memenuhi kebutuhan makanan. Efisien bagi pembeli karena waktu dan tenaganya lebih bisa dikonsentrasikan untuk bekerja dan berprestasi. Efisien juga bagi pengelola warung karena volume masakan yang besar. Mass production.

Siapun bisa makan di restoran. Sehat maupun sakit. Coba bayangkan apa yang terjadi jika seorang yang mengidap penyakit hepatitis makan di restoran. Tentu amat logis bila kemudian virus yang berasal darinya menempel di cendok yang dipakainya. Tentu saja cendok itu kemudian dicuci oleh petugas restoran. Tetapi, siapapun tahu bahwa virus itu ukurannya kecil. Tidak nampak oleh mata telanjang. Tentu tidak mudah menghilangkan virus dari cendok. Siapapun yang kemudian menggunakan cendok ini untuk menikmati menu restoran kegemarannya akan sangat berisiko tertular penyakit hepatitis. Sesuatu yang sangat membahayakan!

Logika tentang penyakit seperti yang tertulis di atas tentu sudah banyak diketahui orang. Faktanya, penggemar makanan di warung atau restoran tidak surut. Bahkan dari tahun ke tahun bisnis ini makin ramai seiring dengan perkembangan ekonomi dan pendapatan masyarakat. Maka, risiko penyebaran penyakit hepatitis dan penyakit penyakit lain yang menular lewat jalur saluran pencernakan akan makin meningkat. Bagaimana solusinya?

♦♦♦♦

“Semua pengendali makanan mesti: (1) memakai apron dan penutup kepala. (2) menyediakan air panas untuk perkakas seperti sudu dll sebelum digunakan. MMC. Hotline 085-424-111”. Ini adalah tulisan dalam bahasa melayu yang terpampang di sebuah papan besar di food court Terminal Bus Miri, kota di Malaysia Timur yang berbatasan dengan Brunei Darussalaam. Apron adalah kain penutup dada para petugas restoran yang dalam bahasa kita sering disebut clemek. Sudu adalah sebutan cendok dalam bahasa Melayu. MMC, Miri Municipal Council, adalah si pemasang papan itu yang dalam masyarakat kita disebut dengan pemerintah kota (pemkot).

Pembaca yang budiman, pemerintah Miri mewajibkan pengusaha restoran menyediakan segelas air panas untuk mensterilkan cendok sebelum dipakai oleh pelanggan restoran. Maka, saat makan di Miri, disamping sepiring makanan dan segelas minuman, pelayan restoran juga menyediakan segelas air panas. Cendok dan garpu dibenamkan di gelas air panas ini. Sebuah upaya yang cerdas dari pemerintah setempat untuk melindungi warganya yang makan di warung dari berbagai penularan penyakit lewat jalur pencernakan.

Kelihatannya sepele. Tetapi sesungguhnya ini adalah upaya yang sangat besar. Biasya operasi ganti hati sekitar Rp 3 Milyar bisa dihemat dengan segelas air panas ini. Harga segelas air panas tentu tidak ada apa apanya dibanding Rp 3 Milyar. Kalaupun tidak ganti hati, biaya perawatan di rumah seperti sahabat yang saya bezoek tadi juga besar. Kebijakan gelas air panas untuk sudu dari MMC memang cerdik. Bisa menjadi teladan bagi para pengusaha restoran, pemkot ataupun pemkab. Ayo!

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah BAZ, terbit di Surabaya

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Atau ikut KELAS KORPORATISASI

Baca juga:
Pelesir: Pasar Osh Kyrgistan
Agar Rupiah Diterima di Uzbekistan
Nha Hang: Hijrah dan Tumbuh Berprestasi
Khao San Road 7 Pagi 11 Malam
Korporasi USA di Moscow

Kak Mala: Totalitas Melayani


Begitu lembaran 10 Dolar masuk ke mesin Cash Deposit Machine (CDM), EZ link card itu langsung saya ambil. Kartu prabayar mirip kartu ATM itu langsung saya bawa ke pintu peron. Pintu peron akan terbuka otomatis dengan menempelkan kartu ini pada alat yang tersedia. Tetapi, saya tertahan karena pintu peron tidak bisa terbuka. Saya coba di pintu lain karena kuatir kalau-kalau pintu yang akan saya lewati ini lagi rusak. Ternyata tidak. Hasilnya sama. Pintu tetap bergeming.

Saya pun segera menuju konter customer service yang berada tidak jauh dari mesin CDM tempat saya melakukan isi ulang kartu EZ tadi. Setelah saya sampaikan masalahnya, seorang petugas perempuan berparas India melayani dengan cekatan dan ramah. Kartupun diperiksa. Diketahuilah bahwa saldo kartu saya tidak cukup untuk membuka pintu peron. Sepuluh Dolar Singapura yang masukkan melalui mesin CDM belum tertambahkan ke saldo kartu.

Mala, nama petugas costomer service itu, meminta saya menunjukkan struk CDM. Saya tidak bisa memenuhi permintaannya karena saya tidak mengambil struk yang keluar dari mesin. Saya tidak merasa perlu mengambilnya karena selama ini tidak pernah mengalami masalah dengan isi ulang kartu yang bisa digunakan untuk membayar ongkos kereta, bus, dan lain lain ini. Selama ini pengisian ulang selalu sukses. Maka, kak Mala pun tidak bisa langsung menambahkan saldo SGD 10 ini karena untuk ini diperlukan nomor transaksi yang tercetak di struk CDM yang tidak bisa saya tunjukkan.
Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah tempat-sampah.jpg

Saya pun kembali ke mesin CDM. Tetapi sayang, struk yang saya cari sudah tercampur dengan ribuan srtuk lain di tong sampah besar. Saya pun datang kembali ke Kak Mala dengan tangan hampa. Pikir saya, relakan saja uang yang setara dengan lebih dari 6 lembaran sepuluh ribu rupiah ini melayang.

Betul, Kak Mala pun tetap tidak bisa saldo untuk kartu saya. Tetapi saya diminta untuk mengisi sebuah formulir laporan. Data nama, nomor paspor, nomor kartu prabayar yang bermasalah, nomor telepon lokal milik seorang kawan warga Singapore saya masukkan. Setelah saya menandatangani dan menyerahkannya, kak Mala pun dengan ramah menerimanya. Ia berjanji untuk membantu saya menyelesaikan masalah saya secepatnya.

Setelah mengisi ulang lagi secara manual SGD 10 melalui Kak Mala,  saya meninggalkan konter layanan pelanggan dan melakukan aktivitas lain seperti yang telah saya rencanakan. Pergi kesana kemari tetap dengan bus atau kereta bawah tanah dengan kartu prabayar yang sangat murah dan nyaman. Begitulah sampai akhirnya malampun tiba.

Selepas sholat isya, saya menerima berita dari Kak Mala melalui telepon. Ia menyampaikan bahwa masalah kartu saya sudah terselesaikan. Ia mempersilakan saya untuk sewaktu waktu datang ke konternya. Saldo SGD 10 sudah bisa ditambahkan.

Keesokan harinya saya datang ke konter kak Mala dan menyerahkan kartu lengkap dengan kopi form laporan. Dalam sekejap kartu diproses dengan komputer. SGD 10 pun tertambahkan.

Sambil menerima kembali kartu dan menyampaikan ucapan terima kasih, saya jadi penasaran. Bagaimana Kak Mala bisa menyelesaikan permasalahan dengan cepat. Tidak sampai 24 jam. Saya tanyakan hal itu kepadanya. Saya pun mendapatkan jawaban yang sungguh di luar dugaan. Kak Mala mencari struk CDM transaksi saya dari tong sampah. Berarti ia telah memeriksa ribuan struk kecil ukuran sekitar 2×4 cm di sebuah tong sampah besar. Ia membaca satu demi satu nomor kartu yang tercetak di struk dan mencocokannya dengan nomor kartu saya. Ia melakukannya dengan tekun sampai ketemu. Ketulusan dalam pelayanan saya tangkap terpancar dari tutur kata dan raut wajahnya. Untuk layanan ini saya sama sekali tidak ditarik bayaran. Bahkan saya juga tidak disuguhi wajah cemberut karena kesalahan saya tidak menyimpan struk transaksi. Jiwa layanan yang sempurna.

&&&
Pembaca yang baik, salah satu misi penting kita dalam kehidupan ini adalah memberi makna dan manfaat kepada sesama. Khoirunnasi anfauhum linnaas. Sebaik baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama. Demikian sabda nabi yang sangat populer. Untuk misi ini kita harus memahami tentang kebutuhan orang lain. Memberi manfaat artinya memenuhi kebutuhan ini.

Transportasi adalah kebutuhan dasar setiap manusia. Maka, bekerja dalam sektor transportasi adalah salah satu cara untuk memberi makna dan manfaat kepada sesama. Dengan kata lain, bekerja di sektor transporatasi seperti yang dilakukan oleh Kak Mala di stasiun kereta bawah tanah Kranji Singapura adalah sebuah ibadah. Sebuah cara untuk memberi makna hidup yang memberi manfaat kepada sesama.

Karena dikerjakan sebagai ibadah, keseriusan pelayanan adalah sebuah keniscayaan. Keseriusan tanpa pamrih seperti yang dilakukan oleh Kak Mala bisa disejajarkan dengan kekhusukan sholat. Sholat yang baik adalah yang khusuk. Thuma’ninah. Gerakan yang tenang cermin hati yang khusuk. Maka, pelayanan yang total dan serius sampai harus bergulat dengan ribuan struk di tempat sampah adalah puncak “kekhusukan” dalam ibadah pelayanan.

Dengan cara inilah Singapura menjadi magnet dunia. Negeri pulau kecil yang baru merdeka 20 tahun setelah kemerdekaan Indonesia ini tampil sebagai salah satu negara maju kelas dunia. Sejajar dengan negara negara yang sudah berdiri ratusan tahun sebelumnya seperti Inggris, Belanda, Jerman, Swiss, Amerika dan sebagainya. Inilah salah satu rahasia mengapa seorang supir taksi di Singapura rata rata berpendapatan belasan juta rupiah perbulan. Simbol akan kemakmuran sebagai hasil kerja jutaan Kak Mala-Kak Mala di negeri Singa. Kita juga bisa!

Tulisan Iman Supriyono ini pernah dimuat di majalah Yatim, terbit di Surabaya

Tanda Tangan: Bisa Dibaca atau Abstrak?


Untuk memberikan inspirasi bagi tim manajemen sebuah perusahaan, saya membuka laporan keuangan Nucor. Nama yang asalnya merupakan singkatan dari Nuclear Corporation ini adalah sebuah perusahaan produsen baja besar di Amerika. Pabrikan yang dirintis sejak tahun 1897 ini Forbes dimasukkan pada urutan ke 517 perusahaan terbesar di dunia.

Banyak hal yang menarik dari perusahaan ini. Yang paling fenomenal adalah kekuatan team. Sepanjang sejarahnya, perusahaan berkali kali mengalami goncangan. Tercatat beberapa bisnis yang pernah digeluti Nucor: mobil, pemotong rumput, perlengkapan nuklir. Baja adalah yang terakhir dan mengantarkannya meraih kejayaan hingga saat ini.

tanda tangan edit

Tanda tangan tokoh-tokoh besar dunia, termasuk proklamator RI, bisa dibaca dengan jelas. Bisa menjadi inspirasi bagi para orang tua untuk mengajari tanda tangan kepada anak-anak mereka.

Ada tiga orang yang membutuhkan tanda tangan pada laporan keuangan terbarunya. Masing masing adalah Daniel R DiMicco sebagai Chairman, President & Chief executive Officer, Terry S Lisenby sebagai Chief Financial Officer, Treasurer & Executive Vice President, dan terakhir Peter C Browning sebagai lead director.

Ada yang menarik dari tanda tangan ketiga orang ini. Tanda tangan Daniel adalah berupa tulisan huruf sambung miring ke kanan yang masih terbaca dengan jelas berbunyi: daniel R dimicco. Tanda tangan Terry juga demikian. Masih bisa dibaca dengan jelas namanya: Terry S Lisenby. Hanya saja ia lebih suka menuliskannya miring ke ke kiri. Peter? Ia bergaya tulisan miring ke kanan mirip mirip tulisan orang orang tua kita yang mendapatkan pendidikan jaman belanda. Juga jelas terbaca: Peter c Browning.

Apa daya tarik tanda tangan ini? Bagi masyarakat Barat, tentu tidak ada yang istimewa. Sama dengan tanda tangan orang Barat pada umumnya. Berupa tulisan sederhana yang masih jelas terbaca namanya.

Baru istimewa kalau dibaca oleh kita kita orang Indonesia. Mengapa? Coba amati. Tanda tangan kita pada umumnya adalah berupa tulisan abstrak. Coba amati tanda tangan Anda sendiri. Siapa nama Anda? Masih bisakah orang lain membaca nama Anda hanya melalui tanda tangan itu? Coba pula Anda amati daftar hadir di berbagai acara. Berapa persen tanda tangan yang masih bisa terbaca dengan jelas nama pemiliknya?

••••
Bisnis adalah tentang kepercayaan. Transaksi bisnis apapun tidak mungkin terjadi tanpa adanya saling kepercayaan dari pihak pihak yang terlibat. Pembeli percaya bahwa barang yang dibelinya benar benar sesuai dengan harga yang dibayarkannya. Penjual percaya bahwa pembeli membayar sesuai dengan yang disepakatinya. Tidak ngemplang. Tidak juga dengan uang palsu misalnya.

Sehubungan dengan kepercayaan ini, ada analisis menarik tentang tanda tangan. Analisis ini saya dengarkan dari pembicara sebuah seminar. Tanda tangan masyarakat barat terbaca karena mereka saling percaya. Yakin bahwa tidak ada orang lain yang memalsukan tanda tangannya. Sebaliknya, masyarakat kita gagal membangun rasa saling percaya. Khawatir kalau kalau tanda tangannya dipalsukan oleh orang lain. Maka…tanda tanganpun harus dibuat rumit. Bahkan abstrak. Agar orang lain tidak mudah menghafalkannya. Agar orang lain sulit untuk memalsukannya.
masa jabatan CEO2

Tanda tangan petinggi Nucor memberikan inspirasi. Inspirasi tentang rasa saling percaya. Inspirasi tentang loyalitas. Inspirasi tentang kebersamaan. Inspirasi tentang kekuatan team. Inilah yang mampu mempertahankan perusahaan dalam gejolak bisnis yang ekstrim. Perubahan lingkungan bisnis yang memaksa perusahaan untuk berganti haluan secara total. Mobil…pemotong rumput….nuklir…baja. Apapun rancangannya, rasa saling percaya adalah pengikatnya. Inilah juga yang menjadi kesimpulan Jim Collin dalam bukunya Good to Great yang merupakan hasil penelitian terhadap perusahaan-perusahaan yang telah eksis puluhan bahkan ratusan tahun. Nucor adalah salah satunya. Anda percaya orang lain? Orang lain percaya Anda?

Tulisan ini pernah dimuat di majalah Matan, terbit di Surabaya