Sepuluh Ribu Jam Terbang


Pilot adalah profesi bergengsi. Begitulah paling tidak anggapan banyak orang. Gaji puluhan juta rupiah adalah salah satu pemicunya. Puluhan kali UMR yang yang diterima kebanyakan pekerja negeri ini.

Mengapa tinggi? Tentu ini tidak bisa dilepaskan dari tingginya tuntutan keahlian dan risikonya. Pilot Garuda, Lion Air, Mandala, Merpati dan dan maskapai penerbangan sekelasnya sehari hari menerbangkan pesawat dengan kapasitas 150-200 penumpang. Bertanggung jawab terhadap nyawa sejumlah ini tentu tidak ringan. Belum lagi risiko terhadap keselamatan diri sendiri sang pilot.

Bukan sekedar penumpang yang banyak. Ada banyak aspek teknis yang memang benar benar butuh kesempurnaan keahlian. Sebagai contoh, pesawat sekelas Boeing 737 melaju dengan kecepatan 300 km/jam saat rodanya menyentuh aspal di landas pacu bandara. Kondisinya kira kira akan lebih sulit dari pada mengemudikan sebuah “bus raksasa” berkapasitas 150-200 penumpang dengan kecepatan 3 atau 4 kali kecepatan mobil normal. Butuh kepiawaian luar biasa. Wajar sekali bila keahlian seperti ini dihargai dengan gaji tinggi.



Juwata. Ini adalah nama bandara di Tarakan, Kalimantan Timur, yang saya singgahi untuk urusan pekerjaan SNF Consulting, kantor saya, akhir tahun ini. Begitu keluar dari kabin Boeing 737, yang menonjol di adalah banyaknya pesawat-pesawat kecil.

Pilatus PC-6 B2H4 adalah salah satu contohnya. Pesawat mirip capung dengan baling baling di hidungnya ini hanya mampu menampung maksimal 9 penumpang. Jadi kira kira seperti sebuah Kijang, mobil yang populer di negeri ini.
Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah piltates.jpg

Yang menarik dari pesawat ini adalah kebutuhan landas pacunya. Cukup dengan lintasan 250 meter pesawat ini sudah bisa lepas landas dan mendarat. Bahkan permukaannya pun tidak harus beraspal. Cukup tanah berumput. Cocok untuk kota-kota kecil di pedalaman Kalimantan. Bandingkan dengan landas pacu 3 km beraspal mulus yang dibutuhkan oleh Boeing 737 yang saya tumpangi saat itu.

Bagaimana gaji pilot pesawat-kecil semacam ini? Tentu jauh dibanding gaji pilot pesawat pesawat besar. Gengsinya pun akan kalah jauh. Pesawat pesawat kecil biasanya hanya terbang di kota kota pedalaman seperti kota-kota di sekitar Tarakan. Pertanyaannya, mengapa ada yang mau menjadi pilot dengan kondisi seperti ini?

Menarik sekali. Ternyata, seorang pilot baru boleh menerbangkan pesawat besar setelah mengantongi sekitar 10 ribu jam terbang di pesawat kecil. Sekitar 3 tahun dengan jam kerja normal. Jadi, menjadi pilot pesawat kecil (bergaji rendah dan kurang bergengsi) adalah perjalanan yang harus dilalui sebelum menjadi pilot pesawat besar (dengan gaji ringgi dan bergengsi).

Beratkah? Tidak juga. Sebuah perjalanan yang wajar-wajar saja. Pekerjaan lainpun kurang lebih sama. Pengalaman saya dalam menulis pun begitu. Tiga tahun juga. Tiap hari menulis satu halaman saat duduk di bangku SMA. Ini kurang lebih juga setara dengan 10 ribu jam terbang menjadi pilot pesawat kecil. Memang, jam terbang tinggi selalu dibutuhkan sukses di bidang apapun. Sepuluh ribu “jam terbang”. Anda mau sukses di bidang apa? Siap mengarungi 10 ribu jam terbang?

Tulisan ini pernah dimuat di majalah yatim, terbit di surabaya

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca juga:

Sejarah Bata dan Kalibata Batavile Batanagar
Sejarah Raket Yonex
Sejarah Heinekken Hadir di Indonesia
Sejarah Revlon dan Kepailitannya
Sejarah Korporasi
Sejarah Lions Club
Sejarah Hyundai versus Astra
Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Umat dan Bangsa
Korporatisasi: Asal Muasal
Sejarah Danone Dari Turki Usmani Hadir ke Indonesia
Sejarah Kalsiboard dan Etex Group

Durian Terbaik Dunia: Ngapal


Pesantren Hidayatullah Deli Serdang. Persis memasuki pintu gerbangnya, tanah lapang ditumbuhi rerumputan rapi berada di hadapan. Warna merah bunga bougenvile berpadu dengan ketinggian palm dan eksotisme tetumbuhan lain. persis di seberang tanah lapang, sebuah masjid cantik berdiri tegak. Cat putih disapu pilar pilar kuning serasi dengan kubah peraknya.

Lebih dalam lagi memasuki jalanan komplek pesantren seluas lebih dari 5 hektar ini, pemandangannya makin mendinginkan hati. Pohon jati, durian, coklat, kemiri, sawit…..semuanya memancarkan variasi kehijauan. Keberadaan sapi putih hitam dan kecoklatan terasakan seperti taburan bubuk coklat pada segelas capucino hangat. Nikmat!

Di pesantren yang berjaringan nasional ini, sore itu saya sedang senggang. Menunggu jadual keesokan harinya untuk berbagi inspirasi untuk para asatidz alias guru. Inspirasi untuk mereka mereka yang kemudian akan menginspirasi para santri alias murid. Sore senggang yang indah untuk menunggu kegiatan esok yang menggairahkan. Luar biasa.

Sebagai tuan rumah, pimpinan pesantren memberikan sambutan yang hangat. Kesederhanaan kehidupan seorang guru teladan semakin mengokohkan kehangatan selamat datang. Aura kebersihan hati menjadikan saya sebagai tamu sudah menikmati hidangan luar biasa jauh sebelum menikmati hangatnya kopi kemudian.

Sebagaimana terjadual, dua hari saya bersama seorang kawan berbagi inspirasi. Bukan hanya untuk guru internal. Pesantren yang juga masih memiliki lahan pertanian 20 an hektar ini juga mengundang para guru di sekolah dan pondok pesantren sekitar. Berbagi inspirasi dengan sesama pengemban amanah pendidik generasi harapan. Itulah acara yang telah terencanakan sejak awal.

♦♦♦♦

Awie. Begitulah pemuda ramping ini memperkenalkan namanya. Saat menjabat tangan pria berparas Tionghoa ini, saya merasakan sesuatu yang sangat berbeda. Kulit telapak tangannya terasa jauh lebih kasar dari pada telapak tangan orang pada umumnya. Bahkan lebih kasar dari pada telapak kaki para tetangga masa kecil di kampung halaman madiun yang sehari berjalan kaki tanpa beralas kaki. Kulit telapak tangannya menebal dan mengeras. Orang jawa menyebutnya ngapal.

Malam itu saya sungguh menikmati karya tangan Awie yang ngapal. Berempat bersama rombongan Pesantren Hidayatullah Deli Serdang terbius oleh nikmatnya lima buah durian besar pilihan Awie di Restoran Wong Rame. Di kawasan Jalan Medan Lubuk Pakam, Pinggiran Kota Medan inilah durian nan manis dengan sedikit sensasi pahit gurih terhidang. Empuk dengan daging buah yang tebal berwarna kuning emas. Aromanya…..waow……luar biasa. Belum pernah sebelumnya saya menikmati durian seperti itu.

Ya….Awie adalah “profesor” durian yang malam itu memilihkan buah istimewa itu untuk saya dan rombongan. Kualitas super istimewa dipilih dari tumpukan tumpukan durian. Cukup dengan memegang, memandang, dan mencium bau kulitnya, Awie sudah bisa memastikan bahwa durian yang akan dibelah benar benar super istimewa.

Enam belas tahun. Itulah waktu yang dibutuhkan Awie untuk menguasai seluk beluk durian. Jejak waktu dua windu itu terekam dari telapak tangannya yang ngapal. Enam belas tahun sehari hari telapak tangan akrab dengan runcingnya kulit durian. Keahlian itulah yang malam dipakainya untuk memanjakan saya bersama rombongan kawan kawan Pesantren Hidayatullah. Keahlian itu juga yang malam itu digunakan untuk menyortir durian istimewa yang akan dikirim ke jakarta dan kota kota lain. Tiap hari sepanjang tahun. Enam belas tahun.

♦♦♦♦

Pembaca, di bangku pesawat Boeing 737-900 ER yang saya tumpangi untuk pulang ke Surabaya, Awie dan Pesantren Hidayatullah Deli Serdang terus menari di kepala. Keduanya memberikan inspirasi yang luar biasa melalui tarian sepuluh jari saya di atas keyboard laptop. Di Deli Serdang, Pesantren hidayatullah sedang punya semangat besar menatap masa depan. Mendidik generasi muda untuk berkarakter tauhid yang kokoh yang menggeluti sektor pengelolaan lahan. Sektor alam. Sektor pertanian, peternakan, perkebunan. Bersama kawan kawan pengelola dan guru Hidayatullah, saya bertemu Awie dengan durian supernya yang juga hasil budidaya alam

Awie dan Pesantren Hidayatullah Deli Serdang memberikan sebuah harapan besar. Harapan agar kita bisa menikmati makanan berkualitas bukan dengan hasil karya petani-petani asing. Durian Thailand, jeruk dari China, tepung terigu-jagung-kedelai-apel dari Amerika, beras dari Thailand atau Vietnam, buah pear-garam dari Australia, dan masih banyak lagi. Semua diimpor. Sementara….jutaan hektar lahan di negeri ini dibiarkan begitu saja ditumbuhi semak belukar dan pepohonan liar. Derita ini harus diakhiri!

Tangan yang kapalan karena sehari-hari digunakan untuk menyeleksi kualitas durian tanpa sarung tangan

Gampangkah? Tentu tidak. Tangan Awie yang ngapal memberi bukti. Untuk bisa menjadi penyortir durian saja membutuhkan waktu 16 tahun. Waktu yang lama dengan pengorbanan telapak tangan yang ngapal. Maaf….saya kemudian membayangkan bagaimana pengorbanan anak istri Awie. Tentu mereka tidak bisa menikmati belaian romantis dari telapak tangan ayah dan suami mereka yang berkulit kasar tebal dan ngapal. Pesantren Hidayatullah menyiapkan santri santrinya untuk bermental baja. Siap mengelola lahan pertanian puluhan bahkan ratusan hektar. Kisah pengorbanan anak istri Awie tidak menyurutkan langkah dan semangat. Justru makin memuncak. Itulah karakter tauhid. Itulah kelak yang akan dinikmati masyarakat dan tentu diri dan keluarga mereka. Senikmat durian pilihan Awie. Bisa!

Tulisan ini pernah dimuat di majalah Muslim, terbit di Surabaya

Kampung Bahasa Inggris Luar Biasa: Pare


Pare

oleh Iman Supriyono, konsultan pada SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com

Sebagaimana kawan kawan sebaya, saya belajar bahasa Inggris mulai kelas satu SMP. Tiap pekan satu atau dua kali pertemuan dengan durasi masing masing kurang lebih satu setengah jam. Pelajaran itu ber langsung terus mulai kelas satu sampai kelas tiga. Bahkan semasa SMA pelajaran ini juga tetap berjalan dengan intensitas yang kurang lebih sama. Total 6 tahun belajar bahasa Inggis seminggu sekali atau dua kali terus menerus.

Berapa persen dari para murid kawan kawan saya yang begitu lulus SMA bisa berbahasa Inggris? Pangamatan saya, ternyata tidak banyak. Tidak sampai 10% yang lancar berbahasa inggris pasif maupun aktif. Saya sendiri alahamdulillah termasuk yang 10% itu. Salah satu variasbelnya adalah karena disamping pelajaran di kelas, saya juga belajar secara aktif di luar kelas dengan mendirikan klub percakapan bahasa inggis. Salah satu kegiatan klub itu misalnya adalah dengan mencegat para turis di restoran restoran transit yang kebetulant banyak terdapat di kawasan Caruban, Madiun, tempat tinggal saya ketika itu.

Lalu bagaimana yang 90% lainnya? Apa saja yang dilakukan selama 6 tahun seminggu sekali atau dua kali belajar bahasa inggris? inilah masalahnya. Bagaimana masyarakat menganggapi masalah ini? Macam macam. Banyak yang kemudian mencela proses pendidikan di sekolah. Ada juga yang “agak positif” dengan menimpakan kesalahan pada para siswa. Para siswa tidak memanfaatkan proses pembelajaran sebaik baiknya. Maka, hasilnya pun parah.

Terhadap peristiwa apapun, selalulah ada dua kutub penyikapan. Ada yang positif, ada yang negatif. Sebagai murid, alhamdulillah saya dulu bersikap positif. Merasa kurang praktik selama di kelas, saya lengkapi bersama kawan kawan secara gratis pula dengan membentuk klub belajar bahasa inggris. Hasilnya….ya alhamdulillah minimal bisa menjadi sarana untuk berkomunikasi pasif maupun aktif hingga saat ini.

Murid yang negatif? Mereka pasrah terhadap sistem pemebalajaran yang ada. Tidak ada minat untuk melengkapi proses pembelajaran dengan apa yang ada. Maka, proses pembelajaran berbahasa Inggris berjalan selama enam tahun nyaris tanpa bekas apapun. Tetap tidak bisa berbahasa inggris.

Masyarakaat pada umumnya pun terbagi menjadi dua kelompok penyikapan. Yang negatif akan mencaci sekolah. Menimpakan kesalahan pada proses pendidikan di sekolah. Menganggap proses belajar yang dibiayai oleh negara dengan uang rakyat berjalan sisa sia. Yang positif? Ini adalah peluang raksasa untuk mendirikan kursus bahasa inggris.

♦♦♦♦

Pare Juli 2009. Bus telah masuk kota kecil di Kabupaten Kediri ini. Si sulung yang saya temani sejak awal telah menyampaikan kepada supir agar di turunkan di BEC. BEC adalah nama sebuah kursus bahasa Inggris terkenal di Pare. Maka, begitu kondektur berteriak menyebut BEC, saya dan si sulung pun turun dari bus bersama banyak penumpang lain. Nampaknya, BEC telah menjadi suatu penanda penurunan penumpang di kota Pare.

Segeralah saya bersama si sulung menghampiri abang beca. Begitu menyebut BEC, abang beca pun langsung melaju. Sepertinya abang beca sudah sangat terbiasa mengantarkan penumpang yang baru turun dari bus menuju BEC. Nampak pula BEC adalah sebuah tujuan yang sangat familiar bagi para supir bu, abang beca dan orang orang angkutan umum apapun.

Maka, tidak lama kemudian saya pun turun di sebuah perkampungan luar biasa. Sepanjang perjalanan dan sejauh mata memandang, yang tampak adalah suasana belajar. Para pemuda sedang asyik belajar di berbagai sudut kampung. Belajar bahasa dengan latar aneka kursus bahasa inggris dan bahasa bahasa lain yang menjamur. Suasanya persis lingkungan sebuah kampus perguruan tinggi besar. Warung khas mahasiswa, rental komputer, warung internet, kios isi ulang pulsa, toko buku. Lengkap. Persis suasana kampung sekitar kampus-kampus besar seperti ITS, Unair, UGM, UI dan perguruan perguran tinggi lain.

Pare dengan BEC dan kampung bahasa adalah sebuah sebuah sikap positif. Sikap tepat terhadap kekurangan dunia pendidikan kita. Kelemahan dalam pendidikan bahasa Inggris ditangkap sebagai sebuah peluang bisnis. Kemampuan menangkap peluang Pare tidak kalah denan lembaga lembaga kursus bahasa Inggris besar seperti EF, ILP, Kelt dan sebagainya. Bahkan Pare lebih fenomenal karena berkumpulnya puluhan lembaga kursus aneka bahasa dalam satu perkampungan.

Maka….masyarakat pun merasakan manfaat ekonominya. Dalam perjalanan dan ngobrol dengan abang beca, saya mendapat informasi bahwa keberadaan kursus bahasa inggris dan aneka bahasa lainnya telah benar benar menagkat perekonomian masyarakat sekitar. Rumah rumah yang dulunya sedernana dan bahkan apa adanya kini telah berubah. Rumah rumah megah dan cantik menghiasi setiap gang di perkampungan. Bahkan angkutan umum pun penuh dengan penumpang dari dan ke perkampungan bahasa yang muridnya berasal dari berbagai daerah di tanah air ini.

Apa keunggulan kampung bahasa Pare dibanding kursus bahasa lainnya? Banyak diantara yang terpenting: harga murah, rata rata sekitar Rp 100 ribu per bulan sehari masuk dua kali senin sampai jum’at. Makanan murah, rata rata sekitar rp 4 ribu sekali makan. Biaya kos juga murah, sekitar Rp 100 ribu perbulan. Biaya makin terasa murah karena setiap siswa bisa memilih beberapa program sekaligus di berbagai lembaga kurus yang ada sesuai dengan kebutuhan. Inggris, arab, jepang, korea, mandarin adalah contoh kursus bahasa asing yang ada di kampung ini. Bukan hanya dari segi bahasa, tiap tiap kursus juga memiliki program yang berbeda beda. Ada yang ahli di percakapan, ada yang spesialis tata bahasa, ada yang spesialis penulisan dan sebagainya. Maka…jangan heran bila kampung bahasa Pare tidak kalah dengan lembaga lembaga kursus besar di kota kota besar. Bahkan tidak kalah juga dengan lembaga kursus besar yang berasal dari luar negeri.

Kampung bahasa Pare memberi banyak pelajaran. Selalu ada tempat bagi yang berfikir positif. Selalu ada cara untuk unggul. Selalu ada strategi untuk menang. Bahkan ketika pesaing tampak lebih hebat sekalipun. Unggul dengan sesuatu yang sederhana. Unggul dan bermanfaat bagi sesama. Ayo!

tulisan ini pernah dimuat di majalah muslim, terbit di surabaya

Renungan Jelang Ramadhan: Puasa 24 Jam Seumur Hidup


Puasa 24 Jam Seumur Hidup

oleh: Iman Supriyono, konsultan keuangan pada SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com

Ini adalah cerita seorang kawan pedagang sembako. Sehari hari ia bergelut dengan beras, gula, telor, garam, kopi, teh, dan aneka barang lain. Memenuhi aneka kebutuhan masyarakat. Sekaligus juga memenuhi kebutuhan nafkah keluarganya dengan laba yang diperoleh atas setiap dagangan yang terjual.

Sebagai seorang pedagang, kawan ini tahu benar tentang pasang surut dalam kehidupan. Persis roda yang berputar. Pasar sembako pun naik turun. Ada yang naik turunya bersifat acak. Sulit atau bahkan sama sekali tidak bisa diprediksi. Tetapi ada juga yang bersifat musiman dan bisa diprediksi. Ada musim sepi. Ada musim laris. Karena lokasi tokonya berada di daerah kampus, masa sepi akan datang tatkala musim libur panjang. Sekitar 2 bulan. Saat itu warung warung makanan sepi. Bahkan ada yang tutup. Maka, kebutuhan sembako pun juga turun drastis.

Kapan musim ramainya? Ini yang selalu dirasakannya setiap tahun: bulan ramadhan! Jadi, pada bulan suci ini, rejeki kawan ini benar benar memuncak. Beras laris. Gula apalagi. Garam, tepung agar agar, teh, kopi, susu, semuanya laris manis. Omset berlipat! Ramadhan adalah masa panen. Masa yang ditunggu tunggu.



Salah satu aspek pembelajaran penting dalam puasa adalah pengendalian diri. Sejak terbit fajar sampai magrib, seorang yang berpuasa tidak mengendalikan diri untuk tidak makan, minum dan melakuan perbuatan perbuatan lain yang membatalkan puasa.

Siapa yang bisa mengontrol makan minum seseorang? Di tempat ramai, puasa seseorang bisa “dikontrol” oleh orang lain. Orang akan malu untuk makan dan minum saat puasa karena ada kawan saat di kantor. Di rumah orang akan malu makan minum karena ada ayah, ibu, suami, istri atau orang lain. Tetapi, bagaimana ketika ia sendirian di kamar? Siapa yang bisa mengontrol makan dan minumnya? Inilah latihan pentingnya. Mengendalikan diri untuk tidak melakukan sesuatu yang membatalkan puasa walaupun tidak ada satupun orang lain. Berlatih mengendalikan diri hanya karena Allah SWT semata.

Pertanyaannya, apakah Allah SWT hanya ada pada saat seseorang puasa? Tentu tidak. Allah SWT ada setiap saat di ruaang manapun. Dia ada di kamar, pasar, terminal, bandara, mall, kantor, toko, masjid, mushola dan dimanapun. Maka, kemampuan pengendalian diri seseorang tidak dibatasi saat puasa. Pengendalian diri dengan keyakinan pengawasan Allah SWT ada dmanapun dan kapanpun. Dua puluh empat jam seumur hidup!

Maka, orang yang berpuasa mestinya adalah orang yang paling pintar dalam mengendalikan diri. Cukuplah Allah SWT sebagai alasan untuk melakukan atau tidak melakukan sesutu. Tidak perlu orang lain. Kalau hikmah ini sampai masuk pada sektor finansial, efeknya akan sangat luar biasa. Tidak ada korupsi, tidak ada mark up, tidak ada makelar kasus, tidak ada partai yang menerima uang sogok dari bakal calon kepala daerah, tidak ada pejabat yang menerima hadiah dari masyarkaat, tidak ada petugas pembelian perusahaan yang menerima hadiah dari pemasok, tidak ada kong kalingkong pejabat dengan pengusaha, tidak ada penyelewengan pajak, tidak ada proyek yang speknya dikurangi, tidak ada manipulasi timbangan, tidak ada uang kembalian kurang di loket terminal, tidak ada penyimpangan finansial dalam bentuk apapun.

Tidak ada besar pasak dari pada tiang. Pengeluaran terkendali hingga semua orang memiliki dana investasi. Dengan dana ini, kita tidak perlu mengundang modal asing untuk eksploitasi tambang emas, perak, minyak, bauksit, batubara, dan masih banyak lagi. Tidak perlu mengundang modal asing untuk menanami lahan kosong di Kalimantan, Sumatra, Papua dan lain lain dengan sawit atau tanaman produktif lain. Tidak perlu mengimpor mobil, peralatan elektronik, gula, garam, jagung, gandum, kedelai, sapi, susu. Ada dana dalam negeri yang cukup untuk investasi pembuatan pabrik atau pengolahan lahan pertanian. Inilah hasil dari latihan pengendalian diri sebagai hikmah puasa.

Puasanya memang hanya pada siang hari bulan ramadhan. Atau paling banter ditambah puasa sunnah syawal atau senin kamis. Tetapi, efeknya adalah kemampuan mengendalikan diri 24 jam seumur hidup.

Sayang, sampai ramadhan tahun lalu, pengalaman kawan pedagang sembako tadi bicara lain. Jangankan mengendalikan diri selepas ramadhan, saat masih puasa saja susah. Berpuasa tetapi konsumsi makanan justru meningkat. Omset sembako berlipat. Bagaimana puasa tahun ini? Bisa berefek 24 jam seumur hidup? halo!…halo!…halo! Bisa kan?

tulisan ini pernah dimuat di majalah yatim, terbit di surabaya

Pengalaman Luar Negeri Para Penjaga Toko Perlengkapan Bayi


Pengalaman Luar Negeri Para Penjaga Toko

oleh: Iman Supriyono, konsltan bisnis dan keuangan pada SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com

Ada dua baris antrian di konter check in Citilink menuju Jakarta di Juanda pagi itu. Yang sebelah kanan lebih pendek dari yang kiri. Saya pun memilih antri di baris kanan. Tetapi, ternyata saya keliru. Salah satu orang di sebelah kanan antri check in untuk rombongan yang berjumlah 27 orang. Lengkap dengan begasi yang bejibun. Dibutuhkan waktu lebih lama dari pada antrian kiri.

Semula saya hampir tidak sabar. Terbesit untuk pindah antrian ke baris kiri. Tetapi ada sesuatu yang menarik pada rombongan 27 orang tadi. Jadilah saya ngobrol dengan mereka yang penuh informasi menarik.

Ternyata, 27 orang tersebut adalah rombongan wisata dengan tujuan Guang Zou, Republik Rakyat China. Untuk perjalanan itu mereka harus transit di jakarta dengan Garuda Citilink. Rombongan berasal dari sebuah perusahaan toko perlengkapan bayi yang juga dikenal dengan baby shop. Kebetulan saya juga pernah berbelanja di toko mereka.

Yang saya tidak tahu sebelumnya, ternyata toko perlengkapan bayi ini memiliki 2 outlet di Surabaya dan 4 outlet di Jakarta. Bahkan toko ini juga memasok aneka produk perlengkapan bayi ke toko-toko lain. Menjadi distributor perlengkapan bayi. Pendek kata, perusahaan ini menjadi spesialis perlengkapan bayi yang sukses.

Dari kawan ngobrol yang sudah bekerja hampir sepuluh tahun ini saya kemudian tahu bahwa sang bos juga ikut dalam rombongan itu. Segeralah saya mendekatinya dan mengulurkan tangan. Ucapan selamat pun saya sampaikan dengan sepenuh hati, “Selamat…..Anda telah memberi para penjaga toko pengalaman luar negeri!”



Pembaca yang baik, pengalaman luar negeri adalah sesuatu yang sangat penting. Banyak sekali pelajaran dengannya. Banyak inspirasi yang bisa diperoleh. Kita juga tidak akan bisa memamahi arti negara dengan baik kecuali sudah pernah bepergian ke luar negeri.

Bagi banyak orang, bepergian ke luar negeri adalah sebuah kemewahan. Apalagi bagi para pramuniaga sebuah toko perlengkapan bayi seperti rombongan seantrian check in tadi. Maka, yang dilakukan bos toko perlengkapan bayi ini adalah sesuatu yang luar biasa. Secara bergiliran, perusahaan memberengkatkan para karyawannya berwisata ke laur negeri. Yang saya temui di juanda adalah sekitar sepertiga dari 150-an karyawan jaringan toko ini.

Dari dialog dengan sang bos, saya merasakan sebuah kekuatan visi luar biasa. Visi untuk membangun jaringan toko perlengkapan bayi berkelas nasional. Bagi bos ini, baiknya pelayanan adalah sebuah keniscayaan. Karyawan yang menjadi tulang punggung pelayanan haruslah terus ditingkatkan kapasitasnya. Sesuatu yang sangat terkait dengan wawasan. Pengalaman luar negeri bagi para pramuniaga adalah upgrading kapasitas yang luar biasa. Penjaga toko berpengalaman luar negeri!

Saya membayangkan tidak lama lagi toko ini akan menjadi jaringan baby shop yang menyebar ke berbagai kota. Akan menjadi seperti minimarket Indomaret dan Alfamart di bidang perlengkapan bayi. Saat ini, di setiap kota hampir pasti ada toko perlengkapan bayi. Namun demikian, belum ada yang berjaringan nasional sekelas Alfamart atau Indomaret. Mereka bisa! Suatu saat nanti, semoga akan ada Anda para pembaca yang bisa saya beri ucaman seperti di counter Citilink tadi. Selamat…Anda telah memberi para penjaga toko pengalaman luar negeri!

tulisan ini pernah dimuat di majalah Yatim, terbit di Surabaya

Sodexo: Catering Olympiade Bisa!


“Saat awal awal merantau meninggalkan Madiun, saya sering terheran heran. Kok ada orang makan pagi bukan nasi pecel”. Inilah kalimat yang muncul dari seorang kawan asal Madiun saat berrdialog melalui layar komputer berinternet. Kalimat yang menggambarkan betapa pecel telah menjadi menu wajib bagi orang madiun.

“mengkonsumsi makanan tertentu secara terus menerus setiap hari adalah tidak bagi kesehatan. Kecuali pecel”. Ini adalah ungkapan lain dari orang Madiun yang begitu gandrung dengan menu makanan yang terdiri sayuran lengkap (bayam, kecambah, kacang panjang, lamptoro, ketimun, kembang turi, daun ketela, kangkung) disiram dengan bumbu yang terbuat dari kacang tanah, cabe dan beberapa komponen lainnya. Tentu lengkap dengan peyek. Orang Madiun bisa dikatakan tidak pernah makan pagi selain pecel.

Kemudian muncul pertanyaan. Apakah tidak rumit pagi-pagi menyediakan sayuran yang beraneka macam ini? belum lagi membuat sambal pecelnya, peyeknya, dan sebagainya. Memang rumit. Tetapi orang Madiun punya cara sangat praktis untuk mengatasinya. Mereka cukup melakukan “outsourcing” kepada warung warung pecel yang tersebar dimana mana. Beli beberapa bungkus sesuai dengan jumlah anggota keluarga yang membutuhkan makan pagi. Harganya pun murah. Samapai sekarang masih banyak warung yang menjual pecel dengan harga Rp 2000 perbungkus dengan porsi kecil cocok untukk makan pagi.

♦♦♦♦♦
Keluarga Encik Salleh adalah tipologi keluarga Singapura pada umumnya. Bapak dua putri ini bekerja sebagai seorang supir Taksi. Satu putrinya sedang menempuh studi di Universiti Islam Antarbangsa Kuala Lumpur. Satu lagi sudah bekerja di Singapura dan masih tinggal bersamanya. Istrinya bekerja sosial sebagai guru mengaji bagi anak anak dan remaja muslim di Singapura.

Sebagimana layaknya keluarga, kebutuhan makan adalah sesuatu yang harus dipenuhi. Dengan jumlah keluarga yang hanya tiga orang dengan aktivitas padat, memasak sendiri adalah sesuatu yang tidak efisien. Tidak praktis. Maka, jauh lebih praktis dan lebih murah membeli di warung atau restoran. Apalagi untuk kebutuhan makan siang. Di saat kerja, tidak mungkin pulang ke rumah hanya untuk keperluan makan. Maka, sebagaimana juga warga Singapura lain pada umumnya, pada jam makan mereka akan memenuhi kedai kedai makanan yang tersebar di berbagai tempat. Pada umunya berupa sentra pedagang makanan semacam food court kalau di sini.

♦♦♦♦♦

Makin berkembang kehidupan ekonomi manusia, makin besar pula kebutuhan akan jasa penyediaan makanan. Warung pecel madiun atau food court di Singapura adalah bentuk pemenuhan kebutuhan makanan masyarakat yang lebih efisien. Jauh lebih efisien dari pada tidap orang masak sendiri sendiri. Persis konsep outsourcing dalam istilah manajemen perusahaan. Tidak perlu menyediakan tenaga kerja khusus untuk melakukan aktivitas yang bukan pekerjaan utama. Cukup membeli jasa orang lain. Tanaga yang ada bisa difokuskan untuk menyelesaikan pekerjaan utama dengan jauh lebih baik, lebih berkualitas dan lebih efisien.

Restoran atau kedai makanan sudah memiliki akar sejarah yang panjang. Menurut Wikipedia, restoran dalam sejarah berawal dari kalangan muslim pada abad pertengahan. Jauh lebih awal dari pada sejarah restoran di kebudayaan Cina. Bahkan, restoran di Eropa pun muncul dari kalangan muslim. Sake Dean Mahomed (1759–1851) adalah orang yang pertama kali membuat restoran berupa kedai kopi di Inggris.

Kini, restoran telah menjadi simbul globalisasi. Simbul terbukanya sekat sekat perbedaan antar manusia. Bahasa Inggris makin mengglobal dan bahasa lokal banyak yang punah. Musik barat telah mengglobal dan musik musik lokal ditinggalkan. Jas dan hem telah menjadi model baju yang diterima dimana mana dan model model baju berbagai etnis makin ditinggalkan. Demikian juga makanan. Ayam goreng ala KFC atau burger ala McD makin biasa disantap dimana mana seantero dunia menggantikan jenang grendul, kecak, puro, gentilut, umbel-umbel, samplok, jemblem, dan sejenisnya.

Bahkan kebutuhan akan jasa penyediaan makanan ini berkembang lebih beragam. Jasa catering adalah salah satunya. Bisnis yang menyediakan makanan dan mengantarkannya ke tempat si pemesan ini bahkan telah menjadi kebutuhan yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarkat modern. Mulai dari yang kecil kecilan dengan melayani pesanan nasi kotak atau nasi bungkus beberapa porsi sampai yang besar besar gahkan raksaksasa.

Bisnis Catering yang kecil kecilan tentu Anda sudah sangat familiar. Bahkan Anda mungkin juga membutuhkannya saat punya hajat tertentu. Nah, bagaimana dengan yang besar? Salah satu perusahaan catering terbesar di dunia adalah Sodexo. Sebuah perusahaan global yang didirikan sejak tahun 1966 di Marseille, Prancis oleh Pierre Bellon. Pierre mendirikan Sodexo yang ketika itu bernama Sodexho (Société d’Exploitation Hotelière) berbekal pengalaman keluarganya yang telah berpengalaman 60 tahun melayani katering untuk kapal kapal mewah dan kapal pesiar. Jadi sebagai bisnis Sodexo telah dirintis sejak tahun 1906.

Bisnis Catering Omset Rp 190 Trilyun ….. Sodexo Prancis

Pada tahun fiskal 2009, Sodexo mencatat penjualan sebesar 14,7 Milyar Euro alias sekitar Rp 190 Trilyun. Omset ini kira kira setara dengan sepertiga penerimaan pajak pemerintah RI dalam setahun. Dengan omset inilah Sodexo memberi pekerjaan dan nafkah kepada 380 ribu karyawan bersama keluarganya. Karyawan sejumlah ini tersebar di 80 negara melani 50 juta konsumennya.

Sodexo telah membuktikan. Bisnis catering yang banyak kita jumpai sebagai bisnis rumahan bisa menjelma menjadi perusahaan raksasa. Yang harus dicatat adalah sejarah panjangnya. Seabad lebih. Usia panjang yang diisi dengan pembelajaran tentu akan menghasilkan keahlian yang tiada taranya. Dan yang lebih penting, dalam masa lebih dari seabad itu perusahaan terus menerus tumbuh. Tumbuh alami maupun mengakuisisi perusahaan lain. Tumbuh dan belajar terus melayani kebutuhan makanan seiring dengan perkembangan jaman. Tidak cukup dengan membuka kedai yang mengharuskan orang yang butuh makanan untuk datang semacam warung pecel madiun, food court di Singapura atau restoran global sekelas KFC. Sodexo menyediakan makanan dan mengantarkanya ke tempat pelanggan membutuhkan makanan. Event raksasa sekelas Olimpiade adalah pelanggannya. Sodexo bisa. Anda para pebisnis katering juga bisa. Ayo!

Tulisan ini pernah dimuat di majalah Muslim, terbit di Surabaya

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca juga:
Garuda, pailit atau korporatisasi?
Krakatau Steel: Tercekik Utang

Raja Utang: Mengapa Bunga Bank Selangit?
Garuda: Utang Melebihi Aset

Glorifikasi IPO Kioson
IPO Bukalapak Prospektif atau Buang Uang
Kepailitan Startup OFO Bike Hiring
Tesla Laba Setelah 16 Tahun Rugi
Corporate Life Cycle dalam Merger GoTo
Valuasi Merger Gojek Tokopedia
Sequoia VC Sejati

Haruskah Tuban Lepas dari Pangkuan RI: Simpadan Ligitan


Simpadan Ligitan

oleh Iman Supriyono, konsultan pada SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com

SJ 232. Ini adalah nomer penerbangan saya menuju Tarakan yang sudah fix. Tiket pulang ke Surabaya pun sudah fix. Ini artinya segala sesuatu yang bersangkut paut dengan rencana pekerjaan dan kepergian sudah beres. Selanjutnya tinggal mencari-cari sesuatu agar keberangkatan ke Tarakan di akhir tahun 2010 ini bisa lebih efektif dan optimal.

Salah satu yang muncul di lintasan pikiran saya adalah tentang Simpadan Ligitan. Ya, dua pulau yang kini lepas ke Malaysia melalui keputusan Mahkamah Internasional itu memang berlokasi tidak jauh dari Tarakan.

Saya pun menanyakan tentang kabar dua pulau ini kepada kawan di Tarakan. Informasi dari mereka: Simpadan dan Ligitan jadi lebih bersih, rapi, tertata setelah dikuasai oleh Malaysia. Tidak ada sampah tercecer. Tidak ada orang buang sampah sembarangan.

Ini adalah perjalanan pulang dari Tuban. Saya tidak terlalu berminat untuk membeli oleh oleh karena memang beberapa hari terakhir ini sering kali bepergian dan membawa pulang oleh oleh. Disamping itu, saya juga lumayan sering pergi ke Tuban. Tetapi saya tidak sendirian. Semobil ada beberapa kawan yang membutuhkan oleh oleh untuk keluarga mereka di rumah. Jadilah diputuskan mobil berhenti di sebuah toko oleh berolkasi di jalan raya tepat di bibir pantai tidak jauh dari pusat kota Tuban.

Kawan kawan yang membutuhkan oleh oleh masuk toko. Saya menunggu mereka. Maka, demi melihat di kiri jalan ada pantai terbentang, saya pun keluar dari mobil membawa kamera. Mengamati suasana pantai barang kali ada sesuatu yang menarik untuk dipotret.

Memandang jauh ke hamparan laut memang menyegarkan. Menikmati mahakarya sang pencipta. Merenung tentang kekuasaannya yang mahadahsyat. Terlintas juga bagaimana laut yang tanang seperti ini sesekali bisa mengganas seperti tsunami di Aceh. Timbulallah rasa syukur bahwa di sini aman aman saja. Timbul rasa kecil. Muncul rasa dekat dengan Sang Pencipta.

Puas memandang jauh di hamparan laut, mata ini pun beralih memandang bibir pantai. Suasana kontras muncul. Mendadak saya jadi tidak enak hati. Perpaduan antara marah dan ketidaktahuan kepada siapa saya harus marah. Di sepanjang bibir pantai yang tampak menonjol adalah sampah plastik bekas kemasan makanan atau minuman yang tercecer dimana mana. Ada lembaran plastik bekas pembungkus mie instan, ada tas kresek kumal, ada gelas bekar air dalam kemasan, ada botol bekas minuman rasa buah, dan masih banyak lagi.

Muncul pertanyaan, bagaimana orang bisa nyaman menikmati panorama laut kalau kondisinya kotor begini. Bagaimana pantai yang mestinya indah bisa menarik wisatawan kalau kondisinya jorok seperti ini. Bagaimana ekonomi pariwisata bisa dibangkitkan dengan kondisi penuh sampah seperti ini. Bagaimana pula kita bisa berharap adanya multiplier ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat dalam kondisi penuh sampah seperti ini.

Maka, perkembangan Simpadan Ligitan setelah lepas kepada Malaysia seolah mendapatkan pembenaran. Bukankah tujuan adanya penguasaan wilayah adalah untuk menjaga alam dan memanfaatkannya untuk kesejahteraan masyarakat sekitar? Malaysia terbukti bisa melakukannya. Lalu apa gunanya kita kuasasi bila justru terkotiri dengan sampah? Apa gunanya kita kuasai tanpa peningkatan kesejahteraan masyarakat?

Mas Iman, berarti Anda setuju lepasnya Simpadan Ligitan ke Malaysia? Hehehe…tentu tidak. Saya hanya ingin agar kita bisa memperbaiki diri. Mari menjaga keindahan alam karunia-Nya ini dengan tidak mengotorinya dengan sampah. Agar segalanya tampak indah dan menarik untuk timbulknya putaran ekonomi.

Tetapi memang faktanya banyak sekali orang yang suka membuang sampah sembarangan. Termasuk di pantai Tuban. Nah, yang ini kewajiban pemerintah untuk memberinya pelajaran yang bagus. Membuat mereka yang ngawur menjadi baik. Dengan cara cara persuasif maupun sanksi yang tegas. Inilah “hasil sampingan” dari pekerjaan saya di Tarakan. Tidak lain adalah sebuah pertanyaan besar: Apakah untuk bersih dan bisa memicu pertumbuhan ekonomi pariwisata Tuban harus meniru Simpadan Ligitan. Malu kan? Bagaiman dengan “Tuban-Tuban” lain?

tulisan ini pernah dimuat di majalah Matan, terbit di Surabaya

Haruskah Jomblo Menunggu Lee Kuan Yew?


Lee Kuan Yew. Ada banyak hal menarik yang dilakukan pendiri dan arsitek kemajuan Singapura ini. Salah satunya adalah saat ia mengamati fenomena pernikahan di negerinya. Saat memutuskan untuk menikah, para pemuda yang berpendidikan sarjana akan memilih gadis dengan strata pendidikan dibawahnya. Akibat logisnya: gadis-gadis sarjana banyak yang tidak “kebagian”. Gadis-gadis sarjana pada membujang walaupun usianya sudah empat puluhan tahun. Ada sekitar 60% gadis sarjana yang membujang sampai tua.

Dalam benak Lee, fenomena ini mengandung bahaya luar biasa bagi negerinya. Bahaya akan penurunan kualitas generasi yang akan datang. Nampaknya, ia yakin betul terhadap ilmu biologi yang pernah dipelajarinya di sekolah. Kualitas keturunan sangat dipengaruhi oleh dua hal: faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor genetik artinya adalah anak-anak yang terlahir akan berkualitas baik bila bapak ibunya juga berkualitas baik. Ayah ibu yang cerdas akan melahirkan anak-anak yang cerdas. Ayah ibu yang kurang cerdas akan menghasilkan keturunan yang kurang cerdas pula. Faktor lingkungan artinya adalah makanan, pendidikan, pergaulan, dan sebagainya.

Karena sistem pemetaan pendidikannya yang bagus, yang kuliah sampai sarjana di Singapura adalah mereka-mereka yang memang memiliki kecerdasan lebih. Tidak banyak yang berpotensi seperti ini. Yang potensi kecerdasannya tidak lebih cukup belajar di pendidikan praktis seperti politeknik atau bahkan setara SMA saja. Belajar menjadi praktisi, bukan akademisi. Kalaupun dipaksakan melalui pendidikan kesarjanaan yang akademik, hasilnya juga tidak produktif. Hanya buang buang waktu, biaya dan potensi saja. Padahal negara yang suka buang buang waktu, biaya dan potensi adalah negara yang tidak efisien. Negara seperti ini tidak akan unggul di kancah persaingan global.

Maka, ketika seorang lelaki sarjana menikahi seorang perempuan bukan sarjana, tentu ada ketidak-seimbangan potensi disini. Sarjana memiliki kecerdasan lebih. Bukan sarjana yang “biasa biasa saja”. Akhirnya, bisa dibayangkan bahwa anak-anak yang terlahir bukanlah kualitas nomor satu. Ayahnya kualitas nomor satu. Ibunya kualitas nomor dua. Logika sederhana mengatakan: anaknya akan terlahir dengan kualitas antara nomor satu dan nomor dua. Nomor satu koma. Bukan nomor satu. Jika seperti ini terus menerus terjadi, Singapura tidak akan menjadi bangsa yang unggul.

Maka, dirancanglah dua program untuk memperbaikinya. Yang pertama adalah kampanye. Pada berbagai kesempatan Lee berkampanye. Adalah sebuah kesalahan seorang lelaki sarjana menikahi wanita bukan sarjana. Orang seperti ini akan memiliki anak-anak dengan kualitas bukan nomor satu. Anak-akan berkualitas tidak sebaik bapaknya. Sebuah keputusan yang harus dihindari.

Begitu program kampanye ini diluncurkan, pro kontra pun terjadi. Banyak yang memujinya sebagai pemikiran brilian, banyak juga yang mencelanya habis-habisan. Nampaknya Lee sudah siap dengan yang semacam ini. Ia tidak terlalu peduli untuk jaim alias jaga image. Yang penting negerinya jadi maju. Tetapi tentu saja pro kontra dan kampanye saja tidak akan menghasilkan apapun kecuali ada program konkrit. Inilah urgensinya program kedua.

Program kedua bersifat konkrit. Beberapa diantaranya adalah berupa insentif pajak kepada lelaki sarjana yang menikahi perempuan sarjana dan prioritas pendidikan terbaik bagi anak-anak yang terlahir dari ayah ibu sarjana. Inilah yang kemudian menjadi tindak lanjut efektif bagi program pertama yang berupa gembar-gembor kampanye di berbagai media dan kesempatan. Kampanye bertemu dengan program konkrit.

Bagaimana hasilnya? Progam yang diluncurkan puluhan tahun lalu itu kini sudah berbuah. Singapura tampil menjadi salah satu negara kuat di dunia. Ekonominya kuat, militernya disegani, lingkungannya asri, kebersihannya terjaga, rumah sakitnya mengglobal, BUMN nya menjadi berekspansi ke berbagai penjuru dunia, bandarnya termasuk bandara terpadat dunia, kampusnya masuk jajaran top universitas dunia, kunjungan wisatawan asingnya membludak, dan masih banyak lagi. Singapura menjadi madu yang menarik bagi masyarakat berbagai bangsa untuk datang dan makin memajukan negeri yang luasnya setara kota Surabaya ini.

Pembaca yang baik, saya mendapatkan informasi ini dari membaca buku tulisan Lee Kuan Yew berjudul From the Third Word to The First. Buku setebal hampir 800 halaman ini sarat dengan pelajaran yang sangat menarik bagi siapapun. Apalagi bagi Anda yang berkarya di sektor publik. Pelajaran tentang manajemen yang sangat detail, komprehensif, masif dan efektif dalam menjadikan setiap persoalan yang muncul sebagai pemicu kemajuan. Masalah pernikahanpun menjadi senjata bagi perbaikan negeri. Yang seperti ini tentu tidak akan muncul kecuali didasari niat yang lurus. Menjadi pejabat untuk memperbaiki negeri. Menjadi pejabat aparat negara murni untuk memperbaiki masyarakat. Bukan untuk mencari kembalian dana kampanye, memperkaya diri, jaim, “menggergaji” proyek pemerintah, memberi kesempatan kepada anak istri dan kolega untuk menggerogoti kekayaan negara, mendapatkan fasilitas kunker ke luar negeri, memiliki rekening gendut puluhan milyar secara ilegal, memanipulasi pajak, jual beli perkara, dan sejuta hal hal negatif lain. Bukan seperti negeri tetangga Lee Kwan Yew….. Hehehe……

Tulisan Iman Supriyono ini pernah dimuat di majaah BAZ, terbit di Surabaya dengan judul “Bukan Seperti Negeri Tetangga”

Koperasi Kelas Triliun: Bendera Campina


Milo suam. Ini adalah minuman yang paling saya sukai bila sedang di Malaysia atau Singapura. Apapun makanan yang saya pesan….minumnya milo suam. Suam adalah bahasa melayu untuk hangat. Milo? Apa lagi kalau bukan bubuk coklat merek Milo produk dari Nestle.

Saya memang menjadi penyuka Milo setelah sering ke Malaysia atau Singapura. Bukan karena fanatik. Tetapi memang sering kali tidak ada pilihan lain. saya tidak biasa biasa minum teh atau kopi. Kalau tidak jeruk hangat atau jus buah buahan, maka alternatifnya adalah Milo. Mula mula murni karena tidak ada alternatif. Lama lama suka juga!
kid drinking milk

Menurut lidah saya, di kedua negeri jiran ini, milo terasa berbeda. Terasa lebih nikmat. Kenikmatanya sungguh jauh berbeda dengan Milo di negeri ini. Saya pun kemudian tertarik untuk mempelajari. Mengapa Milo di negeri jiran jauh terasa lebih nikmat. Padahal sama sama Milonya. Produk yang sama dari pabrik yang sama. Bahkan kemasan nya pun sama.

Usut punya usut, ternyata ada perbedaan yang menarik. Di warung warung di malaysia atau Singapura, ketika memesan minuman Milo suam, Anda akan menerima segelas minuman yang komposisinya terdiri dari air hangat, gula, dan susu. Di sini, Milo hangat artinya adalah segelas air hangat dan gula tanpa susu. Kalau Anda menginginkan Milo hangat persis seperti Milo suam, di sini Anda harus memesan: Milo susu hangat.

♦♦♦
Empat sehat lima sempurna. Nasi, sayuran, lauk pauk, buah buahan adalah empat makanan untuk hidup sehat. Susu sebagai menu kelima akan menyempurnakannya. Itulah kampanye nasional yang dihafal mulai dari anak anak sekolah sampai orang dewasa. Slogan sederhana tentang bagaimana seharusnya setiap orang memenuhi kebutuhan nutrisi hariannya.

Empat sehat bisa dipenuhi dengan biaya sangat bervariasi. Buah misalnya dapat dipenuhi dengan Rp 2 ribu per kilogram atau bahkan kurang dari itu. akan tetapi, buah juga bisa berarti harga Rp 50 ribu per kilogram atau bahkan lebih. Semangka misalnya ada yang bisa Anda beli dengan kisaran harga Rp 2000 per kilogram. Buah kiwi, pear jenis tertentu dan durian adalah beberapa contoh buah dengan kisaran harga tertinggi.

Lauk pauk pun begitu. Sumber protein ini bisa berarti ikan mujair kecil kecil yang dijual dengan harga tidak sampai Rp 5 ribu per kilogram. Tetapi, daging kualitas terbaik baru bisa dibeli dengan harga Rp 60 ribu per kilogram bahkan lebih. Rentang harganya sangat amat bervariasi.
Lain empat sehat, lain lima sempurna. Susu sebagai kesempurnaan nutrisi bagi tubuh tidak memiliki rentang harga yang tinggi. Susu segar misalnya selalu dijual dengan harga sekitar Rp 6 ribu per liter. Tidak ada susu yang dijual misalnya dengan harga Rp 1000 per liter misalnya. Maka, untuk bisa mencapai kesempurnaan menu dengan susu, seseorang harus mengeluarkan anggaran yang relatif tinggi.

Alasan harga inilah bisa jadi mengakibatkan konsumsi susu di negeri ini relatif rendah. Tidak sampai seperlima dari konsumsi susu di Malaysia.PDB perkapita kita hanya sekitar 1/3 nya Malaysia atau 1/20 nya Singapura. Perbandingan ini juga bisa memberikan penjelasan tentang mengapa Milo di Malaysia selalu ditambah dengan susu. bahkan teh dan kopi pun begitu. Jika Anda memesan Teh di malaysia atau Singapura, otomatis Anda akan diberi hidangan teh lengkap dengan susu. kopi pun demikian. Bila yang Anda maksud adalah kopi atau teh tanpa susu, Anda harus memesan tea O (tea only) atau coffee O (coffee Only)

♦♦♦
FrieslandCampina adalah salah satu pemasok susu global. Produk koperasi hasil merger antara Koperasi Campina Jerman dengan Koperasi Friesland Negeri Belanda ini sangat kita kenal di negeri ini dengan produk susu bendera dan es krim campina. Dengan lebih dari 15 ribu peternak, FrieslandCampina menikmati omset tahunan sekitar Rp 120 Triliun. Dengan omset inilah koperasi ini menghidupi lebih dari 7000 karyawan dan lebih dari 20 ribu anggotanya (termasuk 15 ribu lebih peternak) beserta keluarganya.

Bukan hanya itu. Koperasi ini juga menjadi tulang punggung pemenuhan kebutuhan nutrisi global. Program empat sehat lima sempurna tentu tidak bisa dipisahkan dari Susu Bendera. Menggenjot tingkat konsumsi susu negeri ini agar tidak terlalu kalah jauh dengan malaysia tentu tidak lepas dari Susu Bendera. Kita berharap, suatu saat nanti memesan kopi, susu, atau coklat di warung warung negeri ini juga otomatis diberi susu seperti di Malaysia atau Singapura. Agar kualitas generasi muda ini sehat dan sempurna. Friesland Campina telah melakukannya sejak berdiri tahun 1979. Kapan Anda menyusul?

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Tulisan ini pernah dimuat di majalah matan, terbit di surabaya. juga bagian dari materi buku ke 8 penulis, “anda jago kandang atau kelas dunia”

Tiga Coretan Indah: Hajatan Tanpa Sumbangan


Surabaya april 2009. Sore ini indahnya tiada tara. Bukan karena pemandangan pepohonan menghijau. Bukan oleh putih deburan ombak pantai. Bukan pula karena sejuknya sebuah danau di alam pegunungan. Keindahan sore itu datang dari sebuah undangan. Saya menerima undangan resepsi pernikahan berwarna coklat muda dengan tulisan coklat tua nan artistik. Anggun.

Desainnya memang indah. Tetapi ada sesuatu yang jauh lebih indah: tiga gambar dengan coretan-coretan. Persis seperti coretan pada rambu lalu lintas yang menyatakan larangan. Gambar sepeda motor dicoret berarti sepeda motor dilarang masuk. Panah ke arah kanan dicoret berarti larangan belok kanan. Klakson dicoret berarti larangan membunyikan klakson.

Tiga gambar itu adalah kado, amplop, dan karangan bunga. Masing-masing dengan secuah coretan. Artinya, undangan itu menghendaki agar siapapun yang menerimanya hadir tanpa ketiganya. Tanpa membawa kado, tanpa membawa amplop berisi uang, dan tanpa membawa karangan bunga. Itulah undangan untuk pernikahan putri sulung Wali Kota Surabaya Bambang DH. Undangan pernikahan Aziza –Azmi.

■■■■
Bapak ibu saya kini adalah sepasang kakek nenek berusia 70 tahunan. Alhamdulillah dalam usianya yang lanjut keduanya tetap dikaruniai kesehatan yang luar biasa. Sehari hari bapak ibu masih asyik dengan binatang-binatang peliharaan khas orang desa: sapi, ayam, mentok dan angsa. Rutinitas selepas sholat subuh di pagi hari adalah memberi makanan binatang-binatang ini.

Di siang hari, ayah dan ibu masih punya kesibukan lain lagi: mengawasi beberapa pekerja memasak brem. Ini adalah aktivitas turun-temurun. Ini juga yang menjadi bekal kuliah saya dahulu. Hasil penjualan brem yang saya konsinyasikan di toko-toko di surabaya lah yang kemudian saya pakai untuk biaya kuliah.

Ayam, mentok, angsa dan brem lah yang telah “berjasa” memberikan aktivitas ayah ibu hingga kini. Tetap sehat dan bugar di usia senjat. Seluruh persendian masih tergerakkan. Tidak hanya berpangku tangan.

Banyak uang dong? Tidak juga. Secara bisnis, apa yang dilakukan ayah ibu adalah sesuatu yang sangat sederhana. Jauh dari kecepatan bisnis dunia modern ini. Bahkan dibandingkan dengan para tetangga pun, kecepatan bisnis bapak ibu kalah jauh dibandingkan dengan mereka-mereka yang jauh lebih muda. Memang mendapatkan uang. Tetapi kemanfaatan karena tetap aktif yang menjadikan sehat jauh lebih bermakna di usia senja.

Nah, dalam kesederhanaan finansial orang desa, ada saat tertentu yang cukup membebani. Datangnya adalah pada bulan-bulan favorit hajatan nikah. Pada saat itu, ayah ibu harus menyediakan uang dalam jumlah cukup besar -menurut ukuran kesederhanaan orang desa- untuk memberikan sumbangan kepada orang yang berhajat. Nyumbang memberatkan. Tidak nyumbang jadi bahan pembicaraan orang sedesa.

■■■■
Seorang kawan dari keluarga yang dekat dengan seorang mantan gubernur bercerita. Anggaran sumbangan resepsi pernikahan mantan gubernur bisa mencapai Rp 30 juta dalam sebulan. Angka itu terjadi pada bulan-bulan musim nikah. Bulan peak session pernikahan. Sesuatu yang wajar. Sumbangan kepada kolega sekelas kapolda atau mantan kapolda, pangdam atau mantan pangdam, pimpinan wilayah bank-bank besar dan sekelasnya tentu tidak cukup dengan amplop berisi selembar uang kertas Rp 50 ribuan. Inilah kolega para mantan gubernur.

Anda bisa membayangkan. Berapa gaji seorang gubernur? Berapa tahun masa jabatan seorang gubernur? Berapa uang yang bisa ditabungnya selama masa jabatan? Berapa “masa jabatan” seorang mantan gubernur? Ha ha ha…tentu akan melekat sampai akhir hayat. Lalu berapa anggaran sepanjang hayat untuk sumbangan atau hadiah resepsi pernikahan? Tentu besar sekali.

Maka…undangan pernikahan putri sulung Wali Kota Surabaya memiliki makna yang luar biasa. Luar biasa meringankan orang-orang kecil seperti ayah ibu saya di desa. Juga meringankan “orang-orang besar” sekelas seorang mantan gubernur.

Memang, Islam menyarankan memberikan hidangan kepada para undangan walimatul ursy. Hidangan untuk menandai sebuah peristiwa besar bagai mempelai berdua. Tentu saja hidangan yang masih dalam jangkauan kemampuan si empunya hajat. Bukan hidangan yang “dibeli” dengan kado atau sumbangan dari para undangan. Tidak perlu dipaksakan.

Anda akan menyelenggarakan resepsi pernikahan? Betapa indahnya bila resepsi itu seperti spirit walimatul ursy dalam Islam. Mengundang sanak saudara, kolega dan sahabat untuk menikmati hidangan. Undangan walikota Surabaya di atas bisa menjadi contoh. Undangan yang meringankan baik orang rakyat kecil maupun “orang besar”. Undangan yang menjadikan Anda yang berhajat berfikir realistis. Berfikir memanfaatkan uang yang dimilikinya. Bukan mengada-adakan sesuatu di luar kemampuan dengan mengharapkan kado dan sumbangan. Sebuah walimatul ursy yang indah.

Tulisan Iman Supriyono ini pernah dimuat di majalah BAZ, terbit di Surabaya.