Merger: Kekacauan di Masjid Moeldoko


Perjalanan tol dari Caruban ke Surabaya 10 Desember 2023. Sekitar kilometer 650 saya minta si buah hati yang duduk di bangku samping saya untuk melihat jadwal salat. Waktu magrib sekitar 10 menit lagi. Maka, saya pun memutuskan untuk keluar tol Bandar KM 672 menuju masjid yang berposisi tepat di depan pintu keluar tol.

Persis kumandang adzan magrib berakhir saya memarkir mobil di halaman masjid Moeldoko. Dari halaman parkir masjid yang megah itu saya langsung masuk lantai 1. Begitu melewati pintu saya langsung mendapati ada beberapa imam sedang memimpin salat. Dari pintu masuk lantai 1 saya langsung belok kiri menuju tempat wudhu.

Selepas wudhu saya langsung naik tangga menuju ruang salat utama di lantai 2. Saya masih santai karena seruan ikamat belum berkumandang. Begitu menginjakkan kaki di lantai 2, tampak seorang imam sedang memimpin salat di bagian belakang ruang utama. Perkiraan ada 20-an orang yang mengikutinya. Saya tidak bergabung ke jamaah itu karena ikamat belum dikumandangkan.

Begitu ikamat berkumandang, saya langsung gabung masuk saf kedua di belakang imam yang berdiri persis di mihrab masjid. Karena di belakang imam resmi juga ada imam lain yang sedang salat, maka praktis bacaan dua imam bersahut-sahutan. Bacaan “aamin” dari makmum pun begitu. Mengikuti imam masing-masing.

Selepas salat magrib, saya segera mundur keluar dari saf dimana orang-orang masih berzikir selepas salat wajib. Salah satu rombongan semobil saya pun mengumandangkan ikamat. Saya menjadi imam untuk rombongan salat isya secara jamak.

Yang menarik, tidak lama setelah saya takbir permulaan salat, di lantai utama itu terdengar lagi beberapa orang mengumandangkan ikamah. Artinya, ada beberapa imam yang memimpin jamaah mereka sendiri-sendiri selain saya yang mengimami jamaah rombongan saya sendiri. Jadilah saya dan para imam itu bersahut-sahutan bertakbir dan mengumandangkan bacaan salat. Para makmum pun bersahut-sahutan dalam menjawab “aamin”. Satu masjid dengan beberapa jamaah dan beberapa imam.

&&&

Sesuai laporan keuangan teraudit 2020, posisi aset akhir tahun Bank Syariah Mandiri adalah Rp 126,9 triliun. Pada saat yang sama, BRI Syariah dan BNI Syariah masing-masing adalah Rp 57,7 triliun. dan Rp 55 triliun. Jumlah aset mereka adalah Rp 239,6 triliun.

Tahun 2021 ketiganya melakukan penggabungan (merger) menjadi Bank Syariah Indonesia. Merger artinya tiga entitas melebur menjadi satu dengan nama Bank Syariah Indonesia. Akhir tahun 2021 bank yang kemudian dikenal sebagai BSI ini asetnya adalah Rp 265,3 triliun.  Naik 10,7% dibanding jumlahan aset ketiga bank pada setahun sebelumnya.

Sebagian besar aset bank adalah berupa piutang kepada nasabahnya dengan berharap imbal hasil. Nilai imbal hasil jauh lebih kecil dari nilai piutangnya. Padahal piutang itu berisiko untuk tidak dibayar sesuai komitmen oleh nasabah. Muncullah pembiayaan bermasalah (non performing financing, NPF).

Cara menanggulangi risiko NPF adalah dengan membuat cadangan yang disebut pencadangan penghapusan aktiva produktif alias PPAP. Cadangan ini didasarkan pada angka historis NPF sebelumnya. Maka, akurasi angka NPF menjadi sangat-sangat krusial bagi bank.

Makin besar aset sebuah bank, makin stabil pula angka NPF nya. Logikanya, angka statistik dari sebuah populasi yang besar akan cenderung lebih stabil dari pada populasi yang kecil. Atas logika inilah maka OJK terus mendorong agar bank-bank makin membesar. Dibuat aturan modal minimum. Angka minimum pun terus diperbesar dari waktu ke waktu.  Bank yang tidak mampu memenuhi modal minimum diperintahkan untuk merger.

Nah, inilah urgensi merger BSM, BNI Syariah dan BRI Syariah menjadi BSI.  Menjadi bank yang lebih besar. Dengan demikian portofolio pembiayaannya akan makin besar. Angka-angka statistiknya makin stabil. Angka NPF nya juga makin stabil. Dan dengan demikian PPAP yang disiapkan berdasarkan data historis akan terus menerus sesuai dengan NPF periode berjalan. Risiko pun mengecil. Bank pun makin aman dan kokoh.

&&&

Pembaca yang baik, perusahaan alias korporasi adalah ekonomi berjamaah di era modern. Prinsipnya sejalan dengan prinsip salat berjamaah. Bahwa salat berjamaah itu pahalanya 27 derajat lebih tinggi dari pada salat sendirian.

Dalam waktu yang sama pada sebuah masjid mestinya hanya ada satu jamaah. Maka, apa yang terjadi di masjid Moeldoko sebagaimana saya tulis di atas adalah sebuah kesalahan. Mestinya semua jamaah masuk lantai utama. Di lantai utama juga hanya ada satu imam. Tidak boleh ada lebih dari satu imam pada saat yang bersamaan. Takmir masjid bisa menyampaikan hal ini melalui tulisan di dinding masjid. Bisa juga menyediakan petugas untuk mengedukasi jamaah.

Bagaimana bagi orang yang salat jamak seperti saya? Tidak ada kendala karena imam dan makmum boleh berbeda niat. Maka, saat Anda masuk masjid ikuti saja imam yang ada. Tidak perlu bertanya kepada imam tentang salat yang dikerjakannya.

Dengan demikian hanya ada imam tunggal pada sebuah masjid pada saat bersamaan. Tidak ada imam yang bersaing memperkeras suara dengan imam lain. Tidak ada jamaah yang bingung mengidentifikasi apakah bacaan takbir yang didengar berasal dari imamnya atau imam yang lain. Satu masjid satu komando. Salat berjamaah berjalan secara khusuk.

Sebagaimana di masjid, demikian pula di dunia bisnis. Perusahaan yang bergerak pada bidang yang sama mesti melakukan merger atau akuisisi. Dan itulah yang terjadi di dunia bisnis global. Unilever hari ini adalah hasil merger dan akuisisi lebih dari 100 perusahaan termasuk teh Sariwangi dan kecap Bango di Indonesia. Danone pun rajin melakukan akuisisi termasuk Aqua dan susu SGM melalui Nutricia Belanda.  Rumah sakit Mount Elizabeth Singapura pun diakuisisi oleh IHH dari Kuala Lumpur. Koperasi susu Fonterra adalah hasil dari merger ratusan koperasi di New Zealand.

Mengapa mereka mudah untuk merger? Tidak lain adalah kesadaran bahwa perusahaan besar jauh lebih kokoh, efisien, kuat dan rendah risiko dari pada yang kecil. Lebih diminati oleh para kandidat karyawan berkualitas tinggi. Lebih kuat saat negosiasi harga dengan termin pembayaran dengan pemasok. Lebih murah dalam cost of capital. Serba lebih dibanding yang kecil. Di laut, ikan kecil akan menjadi mangsa ikan besar.

Tentu saja butuh pemahaman cukup tentang par value, book value, market value, intangible asset, dan besaran-besaran terkait untuk bisa menerima dan melakukannya dengan baik. Besaran-besaran korporasi. Anda pelaku bisnis? Sudah memahami besaran-besaran itu? Siap membangun korporasi besar?

Artikel ke-434 karya Iman Supriyono ini ditulis SNF Consulting House of Management, Surabaya, pada tanggal 11 Desember 2023

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Demarketing: Resto Calvados Yang Ramai Tapi Tutup


“I ordered the Colonial Steak: 180g of local tenderloin served with long beans and french fries. At @ Rp 49,500,- per serving, it is a filling lunch =).” Ini adalah komentar di laman Foursquare bertanggal 10 Oktober 2010 terhadap Calvados. Sebuah resto yang ketika itu selalu ramai dipadati tamu.

It is always crowded and the place is really good. Best Lagsana in town *childhood memmories*.” Ini adalah sebagian dari komentar-komentar positif terhadap resto berlokasi di Jl. Raya Kertajaya Indah nomor 100. Persis di sudut timur-selatan perempatan lampu lalu lintas. Lokasi yang sangat strategis di kawasan perumahan mewah pertama di kota Surabaya. Hanya beberapa menit ke arah barat dari bundaran ITS.

My fave restaurant.. Tapi sudah tutup 😦 semoga balik lagi… ” Ini adalah komentar tertanggal 4 September 2014. Saya copy and paste langsung dari laman Foursquare apa adanya. Menarik untuk diambil pelajaran. Bahwa Calvados selalu ramai dipadati pengunjung kemudian tutup.

Saya menjadi saksi hidup ramainya Calvados. Mengapa? Karena Jl. Kertajaya Indah adalah jalan utama akses dari rumah saya untuk menuju pusat kota. Jadi bisa dikatakan tiap hari saya lewat di depan resto itu. Bahkan sehari bisa beberapa kali.

Dalam kondisi resto ramai pengunjung dan bahkan penuh sesak Calvados membuat keputusan sangat penting. Ia berpindah ke gedung persis di sampingnya. Tepatnya di Jl. Kertajaya Indah nomor 104-106. Gedung itu memang lebih besar. Ukurannya sekitar dua kali ukuran gedung yang ditinggalkan Calvados. Dari nomornya juga menunjukkan bahwa asalnya 2 kapling.

Apa yang terjadi setelah pindah? Resto menjadi sepi. Tidak terlihat lagi kepadatan tamu. Tempat parkir yang lebih luas dari pada lokasi sebelumnya juga selalu tampak kosong melompong.

Apakah manajemen tinggal diam? Saya tidak memiliki informasi tentang ini. Tapi coba bayangkan jika Anda adalah pengelola Calvados. Tentu Anda akan melakukan upaya maksimal untuk kembali mendatangkan pelanggan yang sebelumnya terus memadati restoran. Berbagai promo dilakukan. Kawan, relasi dan pelanggan yang ada kontaknya dihubungi kembali. Pendek kata….akan berjuang mati-matian.

Tapi pasar berkata lain. Semua upaya manajemen tidak mampu mengembalikan pelanggan. Catatan laman Foursquare menunjukkan bahwa tahun 2014 resto itu telah tutup. Undur diri dari pasar. Mati.

&&&

Paling tidak ada tiga pelajaran dari tutupnya resto ramai Calvados setelah pindah ke gedung sebelah. Pelajaran pertama adalah bahwa variabel dalam dunia bisnis itu sangat banyak. Tak terhingga. Untuk sebuah gerai resto contoh variabelnya adalah jumlah mobil yang lewat di depan gerai tiap satuan waktu, jumlah motor yang lewat tiap satuan waktu, jumlah penduduk dalam radius tertentu dari gerai, luasan bangunan gerai, kenyamanan lokasi, luasan tempat parkir, jumlah menu, harga menu, cita rasa menu, dan masih banyak lagi. Tiap variabel memiliki skor atau value tertentu.

Resto akan sukses jika variabel-variabel yang ada cocok dengan pasar. Nah, saat Calvados berada di Kertajaya Indah nomor 100, skor dari variabel yang ada cocok dengan pasar. Begitu pindah, konsumen hilang. Artinya, konsumen menjadi tidak cocok dengan variabel dan skor Calvados di lokasi baru. Walau lokasinya persis di sebelah.

Penjelasannya, tiap orang memiliki preferensi terhadap variabel tertentu dengan skornya. Orang akan menjadi pelanggan jika variabel dan skor yang menjadi preferensinya terpenuhi. Orang tidak akan menjadi pelanggan jika variabel dan skornya tidak memenuhi preferensinya.

Pelajaran kedua, mestinya Calvados tidak pindah. Tetap bertahan dengan lokasi di Jl. Kertajaya Indah nomor 100. Masalah yang ada yaitu kepadatan pengunjung tidak boleh diselesaikan dengan cara berpindah lokasi. Manajemen tidak mungkin tahu seluruh variabel yang menyebabkan resto laris. Lokasi baru tentu saja berbeda skor dalam banyak variabel dengan lokasi lama.

Lalu bagaimana menyelesaikan sesaknya tamu yang memicu kekecewaan? Perusahaan harus melakukan apa yang disebut sebagai demarketing. Pengunjung harus dikurangi. Omzet harus diturunan. Caranya adalah dengan segera mendirikan gerai baru tidak jauh dari gerai yang ada. Konsep, menu dan segala sesuatunya dibuat semaksimal mungkin sama dengan gerai pertama.

Setelah gerai kedua buka, begitu ada tamu mau masuk diberitahu bahwa resto sedang penuh dan tamu dipersilakan untuk bergeser ke gerai kedua. Jika perlu sediakan petugas berseragam khusus bermotor untuk menjadi penunjuk jalan bagi tamu seperti ini. inilah cara terbaik menurunkan kepadatan pengunjung gerai resto. Cara demarketing. inilah pelajaran ketiga dari tutupnya Calvados.

&&&

Tidak lama setelah Calvados tutup, lokasi gedung berlokasi di Jalan Kertajaya Indah No. 100 diisi oleh Rumah Makan Padang Sederhana. Resto besutan H. Bustaman ini selalu ramai dipadati pengunjung sejak dibuka sampai saat ini. Saya termasuk pelanggan yang sering ke resto itu untuk bertemu dengan kolega dan relasi.

Coba jika Anda menjadi bos Calvados. Tentu Anda sangat menyesal meninggalkan lokasi pojok Kertajayan Indah 100. Tapi nasi telah menjadi bubur. Itulah biaya yang harus ditanggung oleh salahnya keputusan. Itulah yang disebut sebagai  stupidity cost alias biaya kebodohan.

Maka, mari kita ambil tiga pelajaran dari apa yang dialami Calvados yang telah saya uraikan di atas. Jangan sampai ini terjadi pada perusahaan Anda. Mari belajar demarketing sebagai cikal bakal apa yang disebut sebagai revenue and profit driver (RPD).

Artikel ke-433 karya Iman Supriyono ini ditulis SNF Consulting House of Management, Surabaya, pada tanggal 7 Desember 2023

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Investor Yang Mau Rugi


Salah satu ciri perusahaan sejati adalah mampu mencari investor yang mau diberi imbal hasil (return) 2-3% (per tahun). Jadi misalkan perusahaan seperti itu membutuhkan dana Rp 100 miliar  untuk kebutuhan ekspansinya, akan ada investor yang bersedia menanamkan uangnya dengan imbal hasil Rp 2 miliar – Rp 3 miliar per tahun.

Sekedar contoh, Jika Alfamart hari ini butuh tambahan dana misalkan Rp 1 triliun untuk membangun 1000 gerai baru, investornya rela hanya diberi imbal hasil (return) Rp 27 miliar dalam setahun. Artinya imbal hasil investasi (ROI, return on investment) si investor adalah  2,7%.

Murah apa mahal? Anda yang paham dunia bisnis pasti tahu bahwa persentase sebesar itu adalah kecil sekali. Murah sekali. Bandingkan saja dengan kredit bank misalnya. Bank akan mengenakan margin sekitar 10% atau 11 % per tahun. Jadi angka 2,7% itu murah sekali. Itulah yang bagi Alfamart disebut sebagai biaya modal (cost of capital).

Para pelaku bisnis tentu senang dengan biaya modal murah seperti itu. pertanyaannya, mengapa investor mau diberi imbal hasil sekecil itu? bukankah investor lebih baik menanamkan uangnya di deposito yang bisa memperoleh imbal hasil lebih tinggi dan dijamin keamanannya oleh negara melalu LPS?

&&&

Fulan adalah seorang karyawan yang cukup mapan. Dengan gajinya ia telah memiliki rumah dan kelengkapannya. Namun, dia masih ada sisa gaji sekitar Rp 3,5 juta per bulan. Untuk memanfaatkannya dia merencanakan untuk berinvestasi. Yang dilakukan adalah mencari rumah di sebuah kompleks perumahan sederhana di luar kota. Singkat cerita akhirnya dia bisa membeli rumah melalui KPR di sebuah bank syariah dengan cicilan Rp 3,5 juta per bulan.

Karena memang diniatkan untuk berinvestasi, rumah itu kemudian disewakan. Tidak terlalu lama dia memperoleh penyewa yang mau membayar Rp 6 juta per tahun. Artinya, nilainya setara dengan Rp 500 ribu per bulan.

&&&

Adakah orang di sekitar Anda yang melakukan investasi seperti yang dilakukan Fulan pada kisah di atas? Saya yakin ada bahkan tidak sedikit orang yang melakukannya. Tiap bulan harus nombok Rp 2,5 juta. Bukankah itu kerugian? Fulan akan mengatakan bahwa ia tidak melihat jangka pendek. Dia melihat jangka panjang. Kelak nilai rumah akan naik dan kerugian tiap bulan itu tidak ada artinya. Kerugian tiap bulan akan tertutup dengan kenaikan harga rumah dan tanahnya pada masa yang akan datang.

Demikianlah karakteristik investor. Ketika ada peluang investasi yang aman dan bersifat jangka panjang, orang bahkan mau menderita rugi di depan. Harapannya kelak kerugian akan tertutup dari kenaikan nilai investasi.

Maka, cara untuk menjadi sebuah perusahaan yang biaya modalnya 2-3% per tahun adalah dengan memastikan bahwa investasinya aman dan bersifat jangka panjang. Maksud jangka panjang adalah tidak adanya batas waktu terhadap kepemilikan aset tersebut. Sifat aman tanpa batas waktu ini menjadikan investor akan menikmati pertumbuhan nilai investasi pada jangka panjang. Bahkan sangat panjang.

Mengapa investor Alfamart mau dengan imbal hasil 2,7%? Karena skemanya adalah kepemilikan saham. Saham adalah aset yang sifat kepemilikannya tanpa batas waktu. Para investor dapat membaca secara historis bahwa sejak perusahaan ini berdiri, tingkat pertumbuhan nilai investasi rata-rata yang diukur dengan compounded average growth rate (CAGR) adalah di atas 30%. Investor berharap akan hal ini.

Bagaimana tentang aspek aman? Hak laba investor dengan skema kepemilikan saham dihitung berdasarkan total gerai perusahaan yang jumlahnya 18 ribu lebih. Bukan seperti investor wara laba yang hanya didasarkan pada satu gerai. Artinya, risiko si investor disebar pada lebih dari 18 ribu titik. Bisa saling menanggung jika ada yang rugi. Nggendong indit dalam terminologi jawa. Mengamankan. Bagaimana perusahaan tempat Anda berkarya?  Berapa biaya modalnya?

Artikel ke-432 karya Iman Supriyono ini ditulis untuk dan diterbitkan oleh Majalah Matan, terbit di Surabaya, edisi Desember 2023

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Intangible Asset Jumbo: Satu atau Banyak Merek?


Ada dua raksasa bisnis resto global. McDonald dan Yum! Brand. McDonalds hadir dengan merek yang sama dengan nama perusahaan yaitu McDonalds. Laporan tahunan terbaru menyebut bahwa perusahaan ini telah hadir dengan  40 275 gerai di lebih dari 100 negara. Semua gerainya bermerek McDonalds.

Yum! Brands hadir dengan 4 merek yaitu  KFC, Taco Bell,  Pizza Hut, dan Habit Burger Gril. KFC hadir dengan 27 760 gerai di 149 negara. Taco Bel dengan 8 218 gerai di 32 negara. Pizza Hut dengan 19 034 gerai di 106 negara. Habit burger Gril dengan 349 gerai di 3 negara.  Jadi total 55 361 gerai di 156 negara.

Anda tentu mengenal merek-merek itu. Setiap hari melihat, melalui atau bahkan membeli makanandi gerai-gerai mereka. Saya yakin Anda sangat mengenalnya. Maka, coba Anda terka, mana di antara dua pemain kakap industri resto global itu yang memiliki intangible asset lebih besar?

Dalam sebuah korporasi, intangible aset adalah selisih antara nilai buku (book value) dengan nilai pasar (market value) perusahaan itu. Book value bisa langsung dibaca di laporan keuangan. Book value adalah ekuitas alias aset bersih perusahaan. Market value adalah nilai historis transaksi terakhir saham perusahaan. Pada perusahaan yang telah melantai seperti McDonalds dan Yum! Brands, nilainya bisa diketahui dengan mudah pada transaksi terakhir lantai bursa tempat perusahaan mencatatkan sahamnya.

Saat saya menulis ini, nilai pasar McDonalds adalah USD 204,4 miliar. Laporan keuangan terbaru perusahaan berpusat di USA ini menyebut bahwa per 31 Desember 2022 nilai bukunya adalah  minus USD 6,0 miliar. Dengan demikian nilai intangible asset resto burger ini adalah 210,4 miliar alias IDR 3 261 triliun.

Pada saat yang sama nilai pasar Yum!Brand adalah 35,2 miliar. Nilai buku perusahaan yang juga berkantor pusat di USA ini adalah  minus USD 8,8 miliar. Dengan demikian maka nilai intangible assetnya adalah USD 44 miliar alias IDR 662 triliun.

Perhatikan bedanya. Nilai intangible asset McDonalds adalah 4,8 kali lebih besar dari pada Yum! Brands. Padahal gerai Yum! Jauh lebih banyak dari pada McD. Apa pelajaran yang bisa dipetik? Paling tidak ada dua pelajaran berharga. Pelajaran pertama, bahwa unsur utama dari intangilble asset sebuah perusahaan adalah mereknya. Baik merek korporasi maupun merek produk atau layanannya.

Bicara tentang kekuatan merek, teori classical conditioning Pavlov menyebut bahwa dua unsur utama kekuatan merek adalah standar dan pengulangan.  Dalam urusan standar, baik McD maupun Yum! sudah tidak diragukan lagi. Keduanya dikenal dengan standar layanan maupun produk yang tak diragukan lagi pada setiap gerai restonya.

Nah, unsur pengulanganlah yang berbeda. Bagi sebuah resto, pengulangan bisa diukur dari jumlah gerai yang menggunakan merek sama.  Standar layanan McD diulang sebanyak 40 275 kali melalui gerai-gerainya di lebih dari 100 negara. Ke mana pun pergi, otak konsumen akan selalu diingatkan kembali saat melihat gerai McD. Pengulangan itu yang membuat merek benar-benar melekat di benak konsumen.

Sementara Yum terpecah menjadi 4 merek. Merek KFC diulang 27 760 kali. Taco Bel diulang 8 218 kali. Pizza Hut diulanng 19 034 kali. Habit burger Gril diulang 349. Secara jumlah memang lebih banyak. Tapi dalam pengulangan standar Yum! Kalah dengan McD. Maka intangible asset Yum! Pun kalah dengan McD.

Pelajaran kedua, nama perusahaan dan nama resto McD sama. Nama perusahaan menjadi sumber intangible asset. Nama resto juga. Dengan demikian siapa saja yang berinteraksi dengan McD baik sebagai perusahaan maupun sebagai gerai resto memorinya akan diisi kembali dengan satu nama: McDonalds.

Tidak demikian dengan Yum! Interaksi dengan perusahaan seperti surat menyurat, email, lamaran pekerjaan, transfer bank,  membeli saham, RUPS dan sebagainya akan menggunakan nama Yum! Brand. Sementara interaksi dengan resto akan menggunakan 4 nama berbeda. Maka kekuatan pengulangannya pun terpecah-pecah. Jadi secara umum jauh lebih lemah dari pada yang terjadi pada McD.

&&&

Pembaca yang baik, Intangible asset dari dua raksasa bisnis resto global memberi pelajaran tentang pentingnya single brand. Bahwa single brand jauh lebih powerfull dibanding multiple brand. Tentang pentingnya kesamaan antara corporate brand dengan product brand. Tentang arti kata fokus dalam membesarkan intangible asset dan nilai perusahaan. Perusahaan Anda bagaimana? Sudah siap membangun intangible asset bernilai jumbo yang sewaktu-waktu bisa diuangkan menjadi sumber modal ekspansi dengan cost of capital murah?

Artikel ke-431 karya Iman Supriyono ini ditulis di kantor SNF Consulting Jakarta, Menara BCA lantai 50#5088 Jl, Thamrin no 1, pada tanggal 1 Desember 2023.

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Pajak Saham Baru: Biaya Kebodohan


Sedang viral kasus pajak terkait masuknya dana investor melaui penerbitan saham baru sebuah perusahaan. Komentar kasus tersebut banyak menyalahkan petugas pajak. Padahal sebenarnya kesalahan terletak pada skema masuknya saham. Saya akan menjelaskannya dalam bentuk poin-poin

  1. Misalkan A dan B mendirikan PT  ABE  dengan modal setor Rp 100 miliar dengan 100 lembar saham masing-masing Rp 1 miliar per lembar
  2. Lima tahun kemudian C masuk sebagai investor dengan modal Rp 100 miliar.  Mereka sepakat bahwa PT ABE menerbitkan 100 lembar saham baru dengan nilai nominal Rp 1 miliar per lembar saham. Uang Rp 100 miliar dari si C sepenuhnya masuk perusahaan yang akan digunakan sebagai modal pertumbuhan perusahaan. Untuk menghargai intangible aset si A dan B maka disepakati bahwa 40 dari lembaran saham baru menjadi milik C, 30 menjadi milik A dan 30 lembar menjadi milik B.
  3. Dengan demikian komposisi pemegang saham perusahaan berubah. A dengan 80  lembar, B dengan 80 lembar dan C dengan 40 lembar
  4. Dengan skema itu, otomatis pajak akan mengenali bahwa A memperoleh pendapatan senilai Rp 30 miliar. Demikian juga si B. Pajak akan dihitung progresif sesuai dengan total penghasilan A dan B pada tahun itu. Rp 30 miliar menjadi salah satu sumber pendapatan A maupun  B pada tahun itu. A dan B mesti bayar pajaknya. Ini sering disebut sebagai biaya belajar. Tapi sebenarnya biaya kebodohan. Baru disebut biaya belajar bila sebelum transaksi belajar dulu tentang korporatisasi atau membayar konsultan manajemen seperti SNF Consulting untuk melakukannya
  5. Itulah skema penghargaan intangible asset yang salah. Bagaimana yang betul? Mestinya, disepakati nilai setor per lembar saham bagi si C. Misalkan mereka bertiga sepakat bahwa si  C menyetor saham dengan nilai Rp 10 miliar per lembar. Dengan demikian C hanya  mendapatkan 10 lembar.
  6. Penjelasannya, Rp 10 miliar yang dibayarkan oleh SI C diakui menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah sebagai saham dengan nilai sesuai nilai nominalnya yaitu Rp 1 miliar. Sisanya yaitu Rp 9 miliar menjadi agio saham. Agio saham adalah cermin penghargaan intangible asset si A dan B
  7. Hasil akhirnya komposisi saham perusahaan adalah A dengan 50 lembar, B dengan 50 lembar dan C dengan 10 lembar. Dengan skema ini tidak ada pendapatan bagi A dan B. Rp 100 miliar masuk perusahaan tanpa ada isu pajak.
  8. Bagaimana jika terlanjur salah? Masih ada pintu untuk pembatalan akta yang salah melalui gugatan di pengadilan. Tapi ini tentu melalui prosedur pengadilan yang tidak semudah membalik telapak tangan.  Akan muncul biaya. Sebagaimana pajak di atas, biaya ini sering disebut biaya belajar. Tapi sebenarnya bukan biaya belajar. Melainkan biaya kebodohan.

Pembaca yang baik, bagaimana? Sudah jelas? Siapa yang salah? Petugas pajak atau si pendiri perusahaan? Ingat, dalam hidup dan bisnis ada dua biaya. Biaya belajar dan biaya kebodohan. Silakan dipilih. Yang penting harus dipahami bahwa biaya kebodohan  jauh lebih besar dari pada biaya belajar.

Artikel ke-430 karya Iman Supriyono ini ditulis SNF Consulting house of management Surabaya, pada tanggal 16 November 2023

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

NU & Muhammadiyah: Perceived Membership


Deny JA melalui akun media sosialnya mengungkap hasil survei menarik dalam sebuah video. Topiknya adalah tentang bagaimana orang merasa menjadi bagian dari dua organisasi keagamaan terbesar. Dalam survei ditanyakan, “Apakah Anda merasa sebagai bagian dari organisasi keagamaan ini?” 

Survei dilakukan dua kali. Pertama tahun 2005. Hasilnya, 27,5% orang menyatakan sebagai bagian dari NU. Sedangkan yang merasa bagian dari Muhammadiyah proporsinya 9,4%. Artinya, selebihnya yaitu 63,1% menyatakan bahwa dirinya bukan bagian dari NU maupun Muhammadiyah.

Survei serupa dilakukan lagi pada tahun ini. Hasilnya ada perubahan yang sangat menarik. Yang merasa bagian dari NU naik menjadi 56,9%. Sedangkan yang merasa bagian dari Muhammadiyah turun menjadi 5,7%. Dengan demikian yang tidak merasa bagian dari NU maupun Muhammadiyah turun tinggal 37,4%.

&&&

Ada kualitas alias quality. Ada persepsi tentang kualitas alias perceived quality. Mana yang lebih penting dalam keputusan pembelian? Pengalaman kecil saya ini bisa menjadi narasi.

Lebih dari 10 tahun lalu ada bagian dari lantai keramik rumah saya yang pecah. Saya pun pergi ke toko bangunan dekat rumah. Dengan berbekal pecahan lantai, saya mencari keramik yang warnanya cocok dengan warna keramik rumah saya. Hasilnya ada dua pilihan. Masing-masing berharga Rp 32 ribu dan Rp 36 ribu.

Saya bukan ahli bangunan. Jadi saya tidak tahu persis mana di antara dua keramik tersebut yang lebih baik. Dalam kondisi seperti itu, saya berpikir sederhana. Saya pilih yang harganya lebih mahal. Dalam benak saya yang tidak tahu kualitas keramik, yang lebih mahal tentulah yang lebih baik. Inilah contoh bagaimana saya menggunakan perceived quality sebagai dasar dalam melakukan pembelian produk.

Mana lebih penting, quality atau perceived quality? Tentu saja keduanya penting. Quality adalah tentang bagaimana produsen menghasilkan produk yang memang berkualitas. Dalam sebuah perusahaan, baik buruknya tergantung antara lain pada riset produk, pemilihan bahan, pengendalian rantai pasokan bahan baku, SOP dan pengendalian  kualitas. Ini adalah pekerjaan divisi atau departemen operasional.

Perceived quality adalah tentang bagaimana perusahaan melakukan komunikasi dengan orang yang menjadi target pasar.  Dalam sebuah perusahaan, baik buruknya tergantung paling tidak pada promosi, komunikasi, pembuatan konten, pemilihan segmen, dan positioning produk. Ini adalah pekerjaan divisi atau departemen pemasaran.

Produk sebagus apapun tidak akan laku kecuali produsen sukses membangun perceived quality. Ketika produsen tidak bisa membangun perceived quality yang cukup, maka konsumen akan mencari caranya sendiri untuk menilai kualitas. Dalam kasus pembelian keramik di atas,  harga menjadi patokan persepsi kualitas di benak saya.

&&&

Secara legal, Muhammadiyah dan NU berbadan hukum perkumpulan. Berbeda dengan yayasan, perkumpulan memiliki anggota. Karena sifatnya adalah badan hukum resmi, keanggotaan juga resmi. Yang disebut anggota adalah orang yang secara resmi menyatakan kehendaknya untuk menjadi anggota dan kemudian pengurus perkumpulan menerimanya. Penerimaannya juga dilakukan secara formal dengan menerbitkan dokumen keanggotaan lengkap dengan nomor anggota.

Ada membership. Ada perceived membership. Keduanya penting.

Survei Deny bukan tentang keaggotaan alias membership. Tapi tentang persepsi keanggotaan atau perceived membership. Logikanya mirip quality versus perceived quality. Bagi persyarikatan, ini mesti direspon secara “marketing”. Bentuknya adalah mengevaluasi unit-unit organisasi yang terkait dengan fungsi “marketing”.

Misalnya adalah majelis tabligh. Perlu dievaluasi program-program komunikasi dengan masyarakat. Majelis tabligh perlu mendefinisikan dengan jelas apa yang dalam istilah internet marketing disebut sebagai funneling dengan customer journey-nya. Langkah demi langkahnya harus terstruktur dan terukur. Dan jangan lupa salah satu ukuran finalnya adalah dengan melakukan kembali survei seperti yang telah dilakukan oleh Deny JA. Tentu secara lebih komprehensif. Hasilnya menjadi sarana perbaikan berikutnya.

Memang dalam videonya Deny tidak menyebutkan tentang metode surveinya. Tidak juga menyebut margin of error-nya. Tapi biarlah itu menjadi pertaruhan kredibilitas Deny JA bersama LSI. Kita gunakan saja temuan survei itu sebagai pemicu perbaikan. Bisa!

Artikel ke-429 karya Iman Supriyono ini ditulis untuk dan dimuat di Majalah Matan terbitan PW Muhammadiyah Jawa Timur, terbit di Surabaya, edisi November 2023

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Jogja Istimewa: Masjid Yang Hening Syahdu


Selalu ada yang dirindukan dari Jogja. Saya setuju dengan ungkapan ini. Ada banyak alasan. Ada yang rindu dengan Malioboro seperti yang dilukiskan oleh lagu populer KLA Project. Ada yang kangen dengan suasana kampus UGM. Ada yang kangen dengan keramahan penduduknya. Ada yang rindu sate klathak atau gudegnya.  Dan masih banyak lagi. Jogja memang istimewa.

Bagi saya, ada satu hal yang sangat saya rindukan dari Jogja. Sesuatu yang istimewa apalagi bagi saya yang orang Surabaya. Apa itu? Tidak lain adalah masjid-masjid di Jogja. Nyaris masjid mana pun yang saya datangi di Jogja untuk salat lima waktu, suasananya luar biasa: hening, sejuk, khusuk. Syahdu sekali.

Jika datang salat tepat waktu, mendengarkan azan seraya menjawabnya adalah kenikmatan tak ternilai. Setelah itu, antara azan dan iqamah adalah saat yang ditunggu. Saat di mana doa akan dikabulkan. Saat mustajabah. Saat istimewa. Dan di jogja, kita bisa menikmati saat istimewa ini dengan salat sunah dengan suasana hening, khusuk. Tidak ada suara yang memecah keheningan. Baik dari masjid tempat kita berada maupun dari pengeras suara masjid-masjid sekitar.

Semua yang hadir menikmati saat mustajab doa dengan suara lirih tak terdengar orang di sampingnya. Yang sudah selesai salat sunah menunggu iqamah dengan zikir lirih. Ada juga yang membaca Al Qur’an juga secara lirih tanpa terdengar orang yang salat di sampingnya. Hening. Keheningan itu menjadikan salat sunah qobliyah benar-benar terasa sebagai “pemanasan” spiritual untuk menunaikan salat wajib. Sejuk di hati.

Begitu iqamah dilantunkan, salat wajib menjadi puncak ibadah. Imam melantunkan alfatihah dan beberapa ayat Qur’an dengan khusuk. Bertakbir pun demikian. Makmum mengikuti dengan khusuk. Makmum tidak mendahului imam. Makmum bertakbir setelah imam bertakbir. Jika salat di masjid yang besar, jamaah yang banyak menjadi sebuah ritual kolosal yang khusuk. Indah sekali.

Selepas salat wajib, imam dan jamaah berzikir tetap tanpa suara. Khusuk. Tetap hening. Pada saat yang sama suasana ini juga memberi kesempatan kepada jamaah yang datang terlambat alias masbuk. Atau para musafir yang akan menunaikan salat wajib berjamaah secara jamak. Suasananya sama. Mereka bisa salat dengan hening. Tidak ada adu keras antara sura imam salat jamak dengan suara wirid para jamaah lain. Apa lagi bersaing dengan pengeras suara masjid.

Jika Anda muslim dan bertandang ke Jogja, jangan lupa menikmati suasana masjid-masjidnya yang heing nan syahdu. Indah sekali.

Begitu doa selepas salat wajib usai, para jamaah bisa menunaikan salat sunah bakdiyah. Tetap dengan suasana hening. Yang wirid tetap tak bersuara. Salat bakdiyah menjadi sebuah ibadah penutupan selepas salat wajib. Menjadi ibadah perpisahan. Melengkapi salat wajib sebagai  ibadah utama. Tetap dengan suasana hening, khusuk, tawadzuk.

&&&

Pembaca yang baik, itulah kesan mendalam saya tentang Jogja. Sebagai konsultan manajemen yang termasuk sering datang ke kota gudeg untuk kepentingan pertemuan dengan klien, saya begitu merindukan Jogja. Merindukan masjid yang hening nan syahdu. Salat lima waktu di masjid benar-benar menjadi sarana reload untuk aktivitas bisnis berikutnya. Jogja memang istimewa. Anda merasakan?

Artikel ke-428 karya Iman Supriyono ini ditulis pada tanggal 30 Oktober 2023 di kabin pesawat Boeing 737-800 yang dioperasikan oleh Garuda Indonesia dalam penerbangan dari Jakarta  menuju Jogja. Artikel diunggah selepas subuh syahdu di masjid Nurul Huda, Sosrowijayan Wetan yang berposisi di belakang Hotel Unisi milik UII Jogja, tempat penulis menginap.

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Notaris dan Perjanjian: Paradigma Korporasi


Misalkan Anda adalah Pak Budi sebagai dirut PT Aaa Bee Cee selanjutnya disebut ABC.  ABC akan mengadakan perjanjian (agreement) dengan PT Gee Haa Iii, selanjutnya disbut GHI yang mana dirutnya adalah pak Iwan. Berikut ini adalah pembukaan teks perjanjiannya

Yang bertanda tangan di bawah ini: 

  1. Tuan Budi, pemegang KTP nomor sekian, dengan alamat di xxxx, bertindak untuk dan atas nama PT Aaa Bee Cee, selanjutnya disebut pihak pertama
  2. Tuan Iwan, pemegang KTP nomor sekian, dengan alamat di xxxx, bertindak untuk dan atas nama PT Gee Haa Iii, selanjutnya disebut pihak kedua

Jika perjanjiannya notariil, teksnya kurang lebih akan menjadi sebagai berikut. Misalkan notarisnya bernama Wati

Telah mengadap kepada saya, Wati SH, M.Kn, notaris,

  1. Tuan Budi, pemegang KTP nomor sekian, dengan alamat di xxxx,  bertindak untuk dan atas nama PT Aaa Bee Cee, selanjutnya disebut pihak pertama
  2. Tuan Iwan, pemegang KTP nomor sekian, dengan alamat di xxxx, bertindak untuk dan atas nama PT Gee Haa Iii, selanjutnya disebut pihak kedua

Anda biasa menjumpai teks perjanjian seperti itu? Saya yakin Anda akan menjawab ya. Anda melihat ada sesuatu yang tidak tepat dari teks itu?

Secara legal tidak ada masalah. Sah. Tapi menjadi tidak tepat jika dipandang dari paradigma atau mindset korporasi. Paradigma perusahaan. Teks di atas menunjukkan bahwa orang yaitu Budi dan Iwan menjadi pelaku utama. Sementara ABC dan GHI hanya diwakili. Ini menunjukkan bahwa di dalamnya terkandung paradigma perorangan. Bukan paradigma korporasi. Tidak ditekankan bahwa perusahaan adalah makhluk hukum.

Padahal dunia bisnis diisi oleh korporasi. Dua ribu korporasi terbesar dunia berkontribusi terhadap sekitar 50% PDB dunia. Negeri ini sangat lemah dalam membangun korporasi. Kalah jauh dengan negeri jiran.

Perusahaan berbadan hukum PT adalah makhluk hukum (legal entity) yang memiliki kedudukan hukum setara dengan manusia.

Bagaimana memperbaikinya? Semua berawal dari mindset. Semua berawal dari paradigma. teks yang berparadigma bisnis perorangan di atas mesti diubah menjadi paradigma korporasi.  Berikut ini bunyinya:

Perjanjian ini berlaku sejak tanggal xx xxx 200xx oleh dan antara:

PT Aaa Bee Cee, perusahaan yang didirikan sesuai Undang undang Republik Indonesia dengan akta Notaris xxxxx nomor xxx tahun xxxx, nomor badan hukum AHU xxxxxx,  berkedudukan di xxxxxx xxxx, dengan alamat di xxxx xxx xxxxx, dalam hal ini diwakili oleh Tuan Budi, pemegang KTP nomor xxxx xxxxx, beralamat di xxx xxxx, selaku direktur, selanjutnya disebut ABC

Dan

PT Gee Haa Iii, perusahaan yang didirikan sesuai Undang-undang Republik Indonesia dengan akta Notaris xxxx nomor xxxx tahun xxxxx, nomor badan hukum AHU xxxxxx,  berkedudukan di xxxxxx xxxx, dengan alamat di xxxx xxx xxxxx, dalam hal ini diwakili oleh Tuan Iwan, pemegang KTP nomor xxxx xxxxx, beralamat di xxx xxxx, selaku direktur, selanjutnya disebut GHI

Jika perjanjiannya notariil teksnya akan menjadi:

Telah menghadap kepada saya, notaris,  

PT Aaa Bee Cee, perusahaan yang didirikan sesuai Undang-undang Republik Indonesia dengan akta Notaris xxxxx nomor xxx tahun xxxx, nomor badan hukum AHU xxxxxx,  berkedudukan di xxxxxx xxxx, dengan alamat di xxxx xxx xxxxx, dalam hal ini diwakili oleh Tuan Budi, pemegang KTP nomor xxxx xxxxx, beralamat di xxx xxxx, sementara berkedudukan di xxxx, selaku direktur, selanjutnya disebut ABC

Dan

PT Gee Haa Iii, perusahaan yang didirikan sesuai Undang-undang Republik Indonesia dengan akta Notaris xxxx nomor xxxx tahun xxxxx, nomor badan hukum AHU xxxxxx,  berkedudukan di xxxxxx xxxx, dengan alamat di xxxx xxx xxxxx, dalam hal ini diwakili oleh Tuan Iwan, pemegang KTP nomor xxxx xxxxx, beralamat di xxx xxxx, selaku direktur, selanjutnya disebut GHI

Secara hukum, kedua model di atas tidak ada masalah. Tuan Budi dan Tuan Iwan adalah entitas legal (makhluk hukum), PT ABC dan PT GHI pun demikian. Keempat makhluk hukum ini berkedudukan setara. Masing-masing bisa melakukan tindakan hukum, termasuk mengikat perjanjian dengan pihak lain.

Bedanya, Tuan Budi dan Tuan Iwan bisa langsung melakukan tindakan hukum. Tetapi tidak dengan PT ABC dan GHI. Dalam melakukan tindakan hukum, sesuai Undang-undang, PT ABC dan PT GHI harus diwakili oleh direktur atau direksi.

Pembaca yang baik, Anda sudah mendapatkan pelajaran? Untuk sobat-sobat yang berprofesi sebagai notaris, moga tulisan ini menjadi bahan pertimbangan. Saatnya berkontribusi untuk penguatan korporasi Indonesia? Ingat korporasi adalah ujung tombak daya saing sebuah negara di era modern. Ayo berkontribusi! Sekecil apapun!

Artikel ke-427 karya Iman Supriyono ini ditulis pada tanggal 30 Oktober 2023 di ruang tunggu terminal 3 Bandara Soekarno Hatta dalam perjalanan ke Jogjakarta.

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Marriot dan Light Asset Company


Sejarah Marriot International Inc. bermula pada tahun 1927 saat J. Willard and Alice Sheets Marriott membuka bisnis waralaba dari A&W Root Beer di Washington, D.C. Marriot memulai bisnis mereka dengan memenuhi kebutuhan kehausan masyarakat selama musim panas yang menyengat dan lembab di Washington, D.C. Ketika menu bertambah dan makanan serta layanan yang baik dengan harga yang wajar menjadi prinsip panduan seiring pertumbuhan perusahaan bisnis tersebut diberi nama Hot Shoppes. Tahun 1926 gerai ketiga Hot Shoppes dibuka di Washington DC dan menjadi resto drive in pertama di pantai timur USA. Setelah mengunjungi gerai Hot Shppes dekat bandara, JW Mariot memutuskan masuk bisnis katering pemasok maskapai penerbangan. Tiga puluh tahun setelah mendirikan bisnis pertamanya, tahun 1957  J.W. Marriott masuk bisnis penginapan dengan mendirikan hotel 370 kamar dengan nama Twin Bridges Motor Hotel di Arlington, Virginia. Putranya Bill Marriott, Jr. ditunjuk untuk memimpin segmen bisnis baru tersebut dan mengawasi perluasan hotel. Tahun 1959 dibuka hotel kedua di Virginia, USA. Tahun 1966 memulai debut internasional dengan mengakuisisi sebuah perusahaan katering maskapai penerbangan di Venezuela. Tahun 1977 perusahaan mendirikan bangunan untuk kantor pusatnya. Tahun 1981 hotel ke-100 mariot dibuka di Hawai. Tahun 1983 membuka hotel dengan merek baru yaitu Countyard by Marriot berlokasi di Atlanta USA yang diposisikan sebagai hotel untuk pelancong bisnis. Tahun 1989 membuka Warsaw Marriot, hotel ke 500, hotel tertinggi di ibukota Polandia ketika itu. Tahun 1995 mengakuisisi Ritz Carlton Hotel. Tahun 1997 meluncurkan TownePlace Suites dengan tarip menengah. Tahun 2005 meluncurkan Edition Hotel dengan konsep boutique hotel di Waikiki, Hawai. Tahun 2009 meluncurkan merek hotel mewah Autograph Collection. Tahun 2011 bekerja sama dengan Antonio Catalan menghasilkan hotel AC by Marriot berlokasai di Italia, Sephia dan Portugis. Mengampanyekan era baru pada tahun 2016, Marriott International mengakuisisi Starwood Hotels & Resorts Worldwide sehingga menjadi perusahaan hotel terbesar di dunia. Akhir tahun 2022 perusahaan ini mengoperasikan 2053 hotel dengan 576,243 kamar tersebar di berbagai negara.

&&&

Ada dua jenis perusahaan sehubungan dengan kebijakan asetnya. Ada Heavy asset company (HAC). Ada light aset company (LAC).  Saat membutuhkan properti (tanah dan bangunan) untuk operasional bisnisnya, keduanya melakukan hal yang berbeda. HAC memilih cara membeli. Maka properti akan mendominasi catatan aset dalam neracanya. Sebaliknya, saat membutuhkan tanah dan bangunan, LAC cenderung menyewa atau bekerja sama dengan pihak lain. Dengan demikian proporsi aset properti dalam neracanya akan sangat kecil.

Contoh perusahaan LAC adalah Martiot international yang sejarahnya tertulis di atas. Tahun 2022 perusahaan yang juga hadir di Indonesia ini beromzet USD 20,77 miliar alias IDR 323 triliun. Labanya adalah USD 2,36 miliar alias IDR 37 triliun. Asetnya adalah USD 24,8 miliar alias IDR 385 triliun. Dengan demikian return on asset (ROA)  perusahaan terbesar ke 426 dunia (berdasarkan omzet, laba, aset, dan nilai pasar) ini adalah 9,5%.

ROA yang tinggi tersebut dicapai karena Marriot adalah LAC. Perhatikan komponen asetnya. Yang berupa properti hanya USD 1,59 miliar alias 6,4%. Proporsi terbesar asetnya adalah berupa goodwill yaitu USD 8,87 miliar alias 38,5% dari total aset. Goodwill ini menandakan bahwa perusahaan bernilai pasar IDR 899 triliun ini rajin sekali melakukan akuisisi. Inilah yang menjadi sumber dari 30 merek hotel kelas atas yang menjadi portofolionya. Beberapa diantaranya adalah Westin, Sheraton, Le Meridien, Four Points, FairField, dan TownePlace.

Bagaimana seandainya Martiot memilih strategi HAC? Misalkan saja 2053 hotel itu seluruh propertinya dimilikinya. Dengan asumsi satu hotel bernilai IDR 200 miliar maka nilai asetnya adalah IDR 410,6 triliun alias USD 26,4 miliar. Ditambahkan dengan aset saat ini total asetnya menjadi USD 51,2 miliar. Dengan asumsi biaya depresiasi dan utang karena kepemilikan properti sama degan biaya sewa maka ROA menjadi 4,6%. Rendah sekali. Padahal ROA adalah salah satu kunci utama revenue and profit driver alias RPD. Efeknya pastilah perusahaan ini akan tidak menarik bagi investor. Nilai pasarnya akan turun. Cost of capitalnya akan naik.

&&&

Pembaca yang baik, Marriot memberi pelajaran kepada kita bahwa tidak membeli aset properti adalah strategi terbaik. Kas perusahaan lebih baik dipakai untuk membeli intangible asset melalui akuisisi. Bahkan gedung kantor pusat pun baru dibangun pada saat usia perusahaan sudah 50 tahun. Kebijakan ini menjadikan perusahaan yang nilai bukunya hanya USD 568 juta alias IDR 9 triliun dinilai tinggi di pasar para investor. Artinya, nilai pasar IDR 899 triliun diciptakan dari tangiible asset sebesar IDR 9 triliun dan dari intangible aset sebesar IDR 890 triliun. Komponen utamanya adalah 30 merek hotel kelas atas yang dimiliki. Anda sudah mendapatkan pelajaran? Mau menjadi LAC atau HAC?

Artikel ke-426 karya Iman Supriyono ini ditulis pada tanggal 3 Oktober 2023 di SNF Consulting house of management, Surabaya

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Jangan Ragu: Ultrajaya Tumbuh Eksponensial!


Andai Anda adalah direktur utama PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk, selanjutnya disebut Ultrajaya. Catatan kinerjanya dalam 10 tahun terakhir adalah sebagai berikut. Omzet naik dari Rp 2,81 triliun pada tahun 2012 menjadi Rp 7,66 triliun pada tahun 2022. Pertumbuhan omzet tahunan rata-rada dihitung dalam besaran compounded average growth rate (CAGR) adalah 10,5%. Laba tahun berjalan sepanjang 2012 adalah Rp 353 miliar. Naik dengan CAGR  10,3% menjadi Rp 965 miliar. Aset posisi akhir tahun 2012 adalah Rp 2,42 triliun naik dengan CAGR 11,8 % menjadi Rp 7,38 triliun pada akhir tahun 2022. Nilai pasar per September 2012 adalah Rp 2,9 triliun naik dengan CAGR  20,9 % menjadi Rp 19,4 triliun posisi hari ini. Perhatikan kembali, tingkat pertumbuhan rata-rata tahunan pada 10 tahun terakhir dalam hal laba, omzet, aset dan nilai pasar masing-masing secara berurutan adalah Puaskah Anda dengan kinerja seperti ini?

Mungkin Anda sudah puas. Tapi mari kita coba melihat potensi pertumbuhannya tahun 2023 ini.  Laba periode berjalan semester pertama 2023 ini sesuai dengan laporan keuangan resminya adalah Rp 616 miliar. Jika semester kedua ini kinerjanya sama dengan semester 1 maka perusahaan akan mengantongi laba Rp 1,23 triliun. Hingga hari ini pemilik merek susu Ultra ini telah menerbitkan 10,4 miliar lembar saham dengan nilai nominal Rp 50. Harga pasarnya per hari ini adalah Rp 1675 per lembar saham. Andai perusahaan ini menerbitkan 2,08 miliar lembar (20% dari jumlah lembar saham saat ini) dan dilepas ke pasar dengan harga hari ini maka akan diperoleh dana sebesar Rp 3,48 triliun.

Posisi ekuitas per 30 juni 2023 adalah Rp 6,14 triliun. Jika asumsi laba semester kedua diatas  dimasukkan maka ekuitasnya pada akhir tahun menjadi Rp 6,75 trilin, Ditambahkan dana hasil penerbitan saham baru tersebut maka ekuitasnya menjadi Rp 10,23 triliun. Utang posisi 30 juni adalah Rp 1,68 triliun.  Dengan menjaga rasio utang aman DER 1 maka perusahaan dapat menambah utang hingga di posisi Rp 10,23 triliun. Dengan demikian perusahaan bisa menambah utang dengan menerbitkan obligasi atau sukuk senilai 8,55 triliun.

Jika Ultrajaya memanfaatkan tiga sumber dana di atas yaitu laba ditahan, penerbitan saham baru (rights issue) dan penerbitan obligasi atau sukuk secara simultan, akan tersedia dana untuk ekspansi sebesar Rp 12,64 triliun. Dana itu akan meningkatkan aset yang pada akhir semester pertama Rp 7,82 triliun menjadi Rp 20,46 triliun. Jadi, asetnya naik 2,77 kali alias 277% dari posisi akhir tahun 2022. Bandingkan dengan pertumbuhan aset tahunan rata-rata 11,8 % pada bagian awal tulisan ini. Inilah yang disebut scale up untuk tumbuh eksponensial.

&&&

Pertanyaannya, untuk apa tambahan aset sebesar itu? Tentu saja untuk menumbuhkan omzet, laba dan akhirnya nilai pasar. Ingat bahwa 4 ukuran utama perusahaan adalah laba, omzet, aset, dan nilai pasar. Ada 2 cara untuk menggunakan aset untuk mendongkrak omzet, laba, dan nilai pasar. Cara organik dan cara anorganik. Sebagai sebuah perusahaan produk konsumer dengan peredaran cepat (fast moving consumer good, FMCG), tentu saja cara organiknya adalah dengan melakukan riset produk baru, memberi merek, mempromosikan, mendistribusikan dan mendorong omzetnya hingga sesuai yang diharapkan. Cara ini biayanya relatif murah bagi Ultrajaya yang telah malang melintang di industri FMCG sejak tahun 1932 alias sudah eksis sepanjang 91 tahun ini. Tapi cara organik ini butuh waktu lama dan risiko kegagalannya tinggi. Dibutuhkan cara anorganik.

Cara anorganik dilakukan dengan akuisisi perusahaan yang revenue and profit driver alias RPD-nya sama. Misalnya saja adalah PT Siantar Top. Pada semester pertama 2023 omzet, laba, dan asetnya masing-masing adalah Rp 2,34 triliun, Rp 402 miliar, dan Rp 4,92 triliun. Nilai pasarnya posisi hari ini adalah Rp 14,02 triliun. Ultrajaya bisa mengakuisisi perusahaan ini dengan membeli 51% saham. Nilai pasarnya adalah Rp 7,01 triliun.

Akuisisi tidak mungkin terjadi pada  harga pasar. Pemegang  saham saat ini pasti minta premium. Tapi tidak masalah karena Ultrajaya memiliki kapasitas dana Rp 12,64. Jadi Ultrajaya bisa membeli 51% saham Siantar Top sampai pada harga 80% di atas harga pasar. Itulah daya tarik bagi pemegang saham Siantar Top saat ini.

Daya tariknya masih ditambah bahwa uang hasil akuisisi yang dimiliki pemegang saham Siantar Top bisa dibelikan saham Ultrajaya yang baru diterbitkan. Jadi sifatnya adalah tukar guling saham. Jadi mantan pemegang saham Siantar Top kemudian menjadi bos bagi para direksi Ultrajaya. Menjadi pemegang saham Ultrajaya setelah akusisi. Tidak ada yang kehilangan muka. itu pun masih ada sisa dana banyak sekali. Bisa untuk investasi pada banyak perusahaan lagi. Sementara bisa dibelikan obligasi yang akan diterbitkan oleh Ultrajaya.

&&&

Bagaimana perkiraan kinerja Ultrajaya tahun 2023 jika akuisisi itu dilakukan? Mari kita proyeksikan. Misalkan omzet Ultrajaya semester kedua sama dengan semester pertama. Maka omzet Ultrajaya sebelum akuisisi akan menjadi Rp 8,28 triliun. Misalkan omzet Siantar Top semester kedua tahun ini sama dengan semester pertama. Maka omzet Siantar Top akan menjadi Rp 4,68 triliun. Omzet ini akan ditambahkan pada omzet Ultrajaya konsolidasi. Dengan demikian omzet Ultrajaya konsolidasi akan menjadi 12,96 triliun. Naik 69% dibanding omzet tahun 2022. Omzetnya naik secara eksponensial.

Bagaimana kinerja labanya? Sebagaimana perhitungan di atas, laba Ultrajaya sebelum akuisisi Siantar Top adalah Rp 1,23 triliun. Jika laba Siantar top semester kedua sama dengan semester pertama tahun ini, maka laba tahun 2023 adalah Rp 804 miliar. Dengan dikurangi hak minoritas maka laba Ultrajaya setelah akuisisi adalah Rp 1,64 triliun. Dengan demikian labanya naik 70% dibanding tahun 2022. Tumbuh eksponensial.

Setelah proses akuisisi tuntas, nilai pasar Ultrajaya akan menjadi lebih dari jumlah nilai pasar keduanya. Hari ini jumlahan nilai pasar kedua perusahaan adalah Rp 33,55 triliun. Jika proses integrasi, sinergi dan efisiensi tuntas, perkiraan saya nilai pasar keduanya tidak sulit untuk mencapai 50 triliun. Naik 2,6 kali dari nilai saat ini. Tumbuh eksponensial.

Dengan nilai pasar Rp 50 triliun, maka perusahaan akan mampu mengulang kembali pertumbuhan anorganik dengan mengakuisisi perusahaan FMCG lain yang lebih besar lagi. Cari target akuisisi yang pasarnya pada kisaran Rp 30-40 triliun.

Idealnya, sebuah perusahaan bisa tumbuh eksponensial. Ada masa pemebelajaran panjang yang tumbuh lambat. Ada masa scale up yang tumbuh eksponensial. Ultrajaya bisa. Jangan ragu!

Yang lebih menarik, itu bisa dilakukan di luar negeri. Hanoimilk Vietnam misalnya, perusahaan persusuan terbesar Vietnam. Jadilah Ultrajaya menjadi sebuah perusahaan FMCG internasional. Untuk akuisisi di Vietnam ini bisa menggandeng presiden RI untuk melakukan pendekatan kepada perdana menteri Vietnam. Presiden RI bisa mengatakan “We will invest to your coutry”. Seperti yang biasa dilakukan presiden US atau perdana menteri Singapura. Bukan seperti selama ini “Please invest to my country”. Indonesia menjadi bangsa investor.

&&&

Sesungguhnya orang beriman adalah mereka yang percaya kepada Allah, rasul-Nya, lalu tidak ragu ragu dan berjuang dengan harta beserta jiwanya. Tidak ragu-ragu. Itulah poin penting yang menjadi inspirasi manajemen kita kali ini. Pertumbuhan anorganik seperti yang diuraikan di atas adalah salah cara manajemen menghilangkan keragu-raguan dalam berekspansi. Kenapa tidak ragu-ragu? Omzet dan laba Siantar top sudah mapan. Perusahaan ini sudah hadir di dunia bisnis sejak tahun 1972. Omzet dan labanya tinggal ditambahkan pada laba Ultrajaya. Tidak ada gambling. Tidak ada spekulasi. Tidak ragu-ragu.

Artikel ke-425 karya Iman Supriyono ini ditulis pada tanggal 28 September 2023 di kabin pesawat Airbus 320 dalam perjalanan dari Jakarta ke Surabaya

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi