Triliuner Dunia: Berupa Apa Asetnya?


Tiap tahun Forbes meluncurkan daftar orang terkaya dunia. Untuk tahun ini, peringkat pertama adalah Bernard Arnault dan keluarganya dengan kekayaan USD 211 miliar. Dengan kurs hari ini nilainya adalah Rp 3 250 triliun. Peringkat terakhir alias peringkat ke-2540 diduduki oleh Inigo Zobel dengan kekayaan USD 1 miliar alias Rp 15 triliun.

Dari mana mereka memperoleh kekayaan? Forbes menjelaskan terdapat 10 industri yang menduduki posisi terbesar sebagai sumber kekayaan para triliuner. Industri pertama adalah keuangan dan investasi.  Terdapat  372 orang alias 14% dari 2540 orang terkaya berasal dari industri ini. Yang nomor satu adalah Warren Buffet, CEO dan pendiri Berkshire Hathaway, sebuah perusahaan investasi. Asetnya adalah USD 106 miliar alias Rp 1 626 triliun.

Berupa apa aset Buffet sebesar itu? Orang yang dijuluki the oracle of Omaha ini memiliki 14% saham seri A Berkshire Hathaway. Saat Forbes mempublikasikan peringkat itu, nilai pasar Berkshire Hathaway adalah USD 707 miliar. Kekayaan Buffet kurang lebih adalah sebesar 14% dari nilai Berkshire Hathaway.

Industri kedua adalah manufaktur. Industri ini mendudukkan 324 orang alias 12% dari orang terkaya tahun ini.  Reinhold Wuerth dan keluarga dengan kekayaan USD $29.7 miliar adalah yang tertinggi di industri ini. Kekayaan Wuerth berasal dari  Wuerth Group, sebuah perusahaan produsen skrup dan fastener dari Jerman.

Posisi ketiga adalah industri teknologi yang mendudukkan 313 orang alias 12% dari daftar orang terkaya tahun ini. Posisi puncak industri ini diduduki oleh Jeff Bezos pendiri Amazon. Kekayaannya adalah sebesar USD 114 miliar.  Kekayaannya berupa  saham Amazon. Saat Forbes meluncurkan daftar itu, nilai pasar Amazon adalah USD 1,08 triliun.

Indusrti ketiga sampai kesepuluh berturut-turut adalah fashion & retail, food & beverage, healthcare, real estate, diversified, energy, dan yang terakhir adalah media & entertaintment. Presentasi kontribusi masing-masing industri secara berturut-turut adalah 266 orang alias 10%, 212 orang alias 8%, 201 orang alias 8%, 193 orang alias 7%, 187 orang alias 7%, 100 orang alias 4%, dan 91 orang alias 3%.

&&&

Paling tidak ada empat pelajaran penting dari daftar itu. Pelajaran pertama, bahwa aset para triliuner adalah berupa lembaran-lembaran saham perusahaan. Bukan tabungan atau deposito. Bukan juga berupa kepemilikan pada properti berupa tanah atau bangunan. Tabungan atau deposito itu termakan inflasi. Properti juga sangat terbatas. Tidak ada properti yang nilainya triliunan. Hanya saham yang memungkinkannya. Jadi, orang tidak bisa menjadi triliuner sepanjang asetnya masih berupa tabungan, deposito, atau properti.

Pelajaran kedua, yang menjadi triliuner kelas dunia adalah para pendiri perusahaan atau ahli warisnya. Mengapa? Para pendiri perusahaan tentu memegang 100% saham saat perusahaan berdiri. Persentase itu hanya merupakan cara penyebutan. Aset yang sebenarnya bukanlah persentase itu. Melainkan sekian lembar saham. Sekian lembar saham itu tidak pernah dijual. Tapi perusahaan terus ditumbuhkan dengan terus-menerus menerbitkan saham baru yang disebut sebagai proses korporatisasi. Saham itu dibeli oleh investor dengan harga makin mahal dari waktu ke waktu.  Uangnya masuk ke perusahaan untuk modal ekspansi. Perusahaan pun membesar. Harga saham yang makin mahal inilah yang digunakan untuk menilai sekian lembar saham yang dimiliki oleh pendiri. Itulah yang membuat nilainya makin tinggi dan menjadi triliuner.

Berupa apa kekayaan mereka? Yang jelas bukan properti

Sebagai contoh adalah Djoko Susanto. Pendiri Alfamart itu berada di urutan No. 659 Forbes dengan kekayaan USD 4,2 miliar alias sekitar Rp 64 triliun. Angka itu diperoleh dari sekitar 21 miliar lembar saham Alfamart yang saat pengumuman Forbes itu harganya sekitar Rp 3000 per lembar. Nilai saham telah naik sekitar 300 kali dibanding saat Djoko Susanto mendirikan Alfamart. Ketika itu ia hanya menyetor Rp 10 per lembar saham.

Ketiga, angka aset besar itu tidak bisa langsung dinikmati dengan menjual saham. Pendiri menjual saham adalah sebuah insider trading. Insider trading akan mengacaukan lantai bursa. Itulah mengapa banyak negara melarangnya. Para pendiri menikmati sebagian laba yang dibagikan kepada para pemegang saham sebagai dividen. Tahun lalu Djoko Susanto misalnya menerima dividen sekitar Rp 300 miliar. Nikmat kan?

Keempat, para triliuner didominasi oleh mereka yang fokus pada satu bisnis. Bukan orang yang berbisnis macam-macam alias konglomerat. Hanya 7% dari para triliuner yang konglomerat alias diversified business. Selebihnya yaitu 93% adalah mereka yang fokus pada satu bisnis dan membesarkannya melalui proses korporatisasi.  Demikianlah 4 pelajaran pentingnya. Anda pendiri perusahaan? Anda mau jadi triliuner? Ambil 4 pelajaran tersebut.

Artikel ke-416 karya Iman Supriyono ini ditulis untuk dan diterbitkan oleh majalah Matan, terbit di Surabaya, edisi September 2023

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

ZATA, Mengapa Gocap?


PT Bersama Zatta Jaya Tbk. berdiri tahun 2012 sebagai perusahaan yang bergerak di industri busana muslim. Pada tahun 2022 perusahaan yang merek busana muslimnya cukup ternama ini melakukan Penawaran Umum Perdana (IPO) kepada masyarakat. Seminggu setelah IPO, harga saham emiten berkode ZATA ini  mencapai puncaknya yaitu Rp264. Namun demikian perlahan harga saham ZATA turun sampai Rp 50 pada hari ini. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah sedang terjadi IPO Trap? Berikut saya akan menuliskannya dalam poin-poin.

  1. Setelah IPO, persentase saham pendiri ZATA adalah 4.59%, artinya ZATA telah melewati titik kritis korporatisasi. Titik di mana pendiri sudah tidak bisa lagi mengendalikan perusahaan karena sahamnya kurang dari 51%. Disebut titik kritis karena pendiri yang mestinya paling tahu dan paling menguasai bisnis perusahaan sudah tidak lagi memiliki kekuatan untuk mengarahkan, mengendalikan dan menentukan arah perusahaan.
  2. Titik kritis korporatisasi adalah sebuah keniscayaan untuk menjadi sebuah korporasi sejati. Hanya saja perlu digaris bawahi tebal-tebal bahwa saat melalui titik kritis korporatisasinya, perusahaan harus memiliki sistem manajemen yang kokoh. Tandanya jumlah level jabatan yang tersusun dalam bentuk piramida struktur organisasi sudah lebih dari 20. Dengan kondisi ini, ketika pendiri yang menjabat direktur utama (CEO), direktur, atau siapa pun pada level jabatan mana pun pensiun atau berhenti bekerja, bawahan langsungnya siap menggantinya tanpa guncangan kinerja apa pun. Hal ini bisa dilakukan karena skill gap antar jabatan tidak begitu jauh.
  3. Bagaimana ZATA? Laporan tahunan terbaru menyampaikan bahwa perusahaan  memiliki 4 level jabatan dalam hierarki manajemennya. Dirut, direktur, kepala divisi dan staf.  Padahal persentase saham pendiri sudah terdilusi hingga hanya tersisa 4.59%. Ini bahaya. Saat dirut atau direktur pensiun atau berhenti, perusahaan akan mengalami guncangan karena anak buah langsungnya belum memiliki keahlian yang mampu langsung menggantikannya. Pendiri yang sahamnya tidak lebih dari 50% tidak memiliki kekuatan untuk mengontrol perusahaan. Ini adalah indikasi adanya IPO Trap.
  4. Berdasarkan riset SNF Consuting, kantor konsultan tempat saya berkarya, stabilitas harga saham sebuah perusahaan di lantai bursa RI akan tercapai jika nilai pasar (market cap) mencapai paling tidak 10 triliun. Harga saham yang nilai pasarnya kurang dari Rp 10 triliun akan mudah terombang ambing seperti sampan yang berlayar di samudera Atlantik. Tidak mampu menanggulangi ombak yang ada.
  5. Saat ini market cap ZATA memiliki Adalah Rp424 M. Jauh dari angka ideal Rp 10 triliun. Saham ZATA pun menjadi rentan untuk digoreng oleh  para trader dan gambler  di lantai bursa.  Baca tulisan di web ini  tentang perampok budiman untuk memahami bagaimana permainannya.
  6. Mari kita lihat ke belakang. Tanggal 9 november 2022  ZATA IPO dengan menerbitkan 1.7 M lembar saham dengan harga Rp 100 per lembar. Trader dan gambler bisa memborong saham itu. Target IPO adalah 170 M. Di hari pertama saham diperdagangkan di lantai bursa, harga saham naik 35% dan mencapai harga puncaknya di Rp 264 seminggu setelah IPO. Namun, 2 minggu kemudian, harga saham langsung anjlok ke Rp 140 dan secara konstan mengalami penurunan sampai Rp 50 di 2 bulan berikutnya. Harga Rp 50 pun bertahan sampai saat ini.
  7. Pada saat harga  Rp 264, para pemain yang memborong saham saat IPO seharga Rp 100  bisa melepas sahamnya sampai habis. Uang yang dipakai untuk memborong saham IPO seharga Rp 100 telah naik 2,64 kalinya. Uang Rp 170 miliar telah menjadi Rp 449 miliar. Para investor ritel yang membelinya pada harga Rp 264 kini menguap 81% tinggal Rp 50. Jika Anda misalnya ketika itu membeli senilai Rp 1 juta maka saat ini hanya laku Rp 190 ribu. Persis yang ada dalam tulisan perampok budiman.
  8. Itulah sekilas apa yang disebut IPO Trap. Alih-alih perusahaan scale up berkelanjutan, yang ada justru pertumbuhannya akan dipaksa berhenti. Mengapa demikian? Jika telah menemukan revenue and profit driver (RPD)nya, Mestinya ZATA terus menerus melakukan scale up dengan rights issue secara terus menerus dengan harga yang lebih tinggi dari pada harga IP0. Ini yang akan menyebabkan perusahaan bisa tumbuh secara eksponensial dan aman. Tapi ini terhambat karena harga saham berhenti pada angka gocap. Tidak akan ada investor yang mau membeli saham rights issue pada harga di atas harga IPO karena harga saham di pasar terkunci pada angka Rp 50. Perusahaan pun dipaksa berhenti tumbuh.
Perusahaan dengan ukuran terlalu kecil yang masuk lantai bursa adalah ibarat perahu sampan yang berlayar di samudera Atlantik dengan ombak setinggi 10 meter.

Demikianlah tentang saham gocap ZATA. Perusahaan seperti ZATA mestinya belum layak masuk lantai bursa.  Harusnya  tumbuh di luar lantai bursa terlebih dahulu.  Penerbitan saham di luar lantai bursa secara terus menerus akan secara alami menguatkan sistem manajemen.  Kelak ketika market value nya sudah mencapai sekitar Rp 10 triliun baru masuk lantai bursa. Setelah IPO dilakukan rights issue terus-menerus sampai mencapai posisi sebagai korporasi sejati. Anda para entrepreneur, direksi, komisaris, manajer, karyawan dan investor, sudahkah mendapat pelajaran dari ZATA?

Ditulis di Surabaya pada tanggal 25 Agustus 2023 oleh Reno Adrian, konsultan pada SNF Consulting

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca Juga:
BAHAYA IPO UKM
MENGAPA CROWDFUNDING BERMASALAH?
GLORIFIKASI IPO

Mengapa Crowdfunding Bermasalah?


Kredit Macet 70%, TaniHub Dulu Disebut Jokowi Kini Menyerah. Ini adalah judul berita di cnbcindonesia.com yang diunggah pada tanggal 9 Juni 2023. Menarik. Sebuah perusahaan start up yang digadang-gadang bisa berkembang menjadi korporasi besar ternyata bermasalah. Dan masalahnya cukup akut. Bahkan penyelenggara crowdfunding berskema utang-piutang ini sampai digugat pailit.

Crowdfunding Santara Kena Sanksi OJK, Mardigu: Kami akan Delisting Banyak Penerbit.  Yang ini adalah judul berita bisnis.com yang diunggah pada tanggal 9 Januari 2023. Ini juga menarik. Santara yang juga digadang-gadang menjadi solusi pendanaan pelaku bisnis ternyata juga menyimpan masalah. Baru saja saya coba akses web resmi perusahaan equity crowdfunding ini. Tampaknya sudah lama tidak ada update.

Mengapa crowdfunding bermasalah? Saya akan menuliskannya dalam bentuk poin-poin

  1. Setidaknya ada empat  penjelasan mengapa crowdfunding bermasalah. Yang pertama adalah bahwa perusahaan yang didanai ukurannya masih terlalu kecil. Perusahaan yang ukurannya masih terlalu kecil ini cenderung tidak stabil. Dalam kerangka corporate life cycle masih belum sampai pada tahap menemukan revenue and profit driver (RPD).  Perusahaan seperti ini belum memiliki kemampuan yang aman untuk digelontor modal. Baik modal dengan skema utang maupun skema ekuitas. Belum layak scale up. Jika dipaksakan, scale up pada perusahaan seperti ini adalah langkah memfotokopi kegagalan.
  2. Kedua, sebuah perusahaan dengan market value kecil masuk lantai bursa itu ibarat perahu sampan berlayar di samudera Atlantik yang ombaknya setinggi 1o meter. Bahaya. Tanihub maupun Santara bisa disebut lantai bursa mini. Sedangkan yang di BEI saja sebagai lantai bursa bukan mini banyak masalah. Apalagi yang mini. Baca tulisan saya tentang bahaya IPO UKM.  Perusahaan baru aman masuk lantai bursa jika market valuenya minimal sekitar Rp 10 triliun. Baca juga tulisan saya tentang perampok budiman
  3. Penjelasan ketiga adalah tentang risiko. Narasinya, misalkan Anda memiliki uang Rp 100 juta dan Anda investasikan melalui deposito bank umum, katakan bank BRI. Oleh BRI uang Anda dijadikan satu kesatuan dengan aset seluruh deposan dan penabung lain bersama dengan ekuitas bank sehingga total menjadi Rp 1600 triliun lebih. Setelah menjadi satu kesatuan, uang itu kemudian dipinjamkan kepada lebih dari 30 juta debitur bank pelat merah itu. Di antara dana pada puluhan ribu debitur itu ada 2% lebih yang bermasalah. Tapi uang Anda tetap aman karena setiap kredit bermasalah sudah disiapkan cadangan dananya di awal sebagai PPAP (pencadangan penghapusan aktiva produktif). Dengan kata lain, setiap kreditur bermasalah sudah ditanggulangi di depan secara statistik dengan margin of error yang rendah sebagaimana dalam konsep RPD. Maka, uang Rp 100 juta Anda dijamin aman. Ini yang tidak terjadi pada platform crowdfunding. Uang para investor langsung dimasukkan pada sebuah perusahaan. Tidak ada penyatuan dana seluruh investor seperti di bank. Tidak ada penyebaran dana kepada puluhan ribu perusahaan seperti BRI. Tidak ada pencadangan seperti PPAP. Risikonya sangat-sangat tinggi. Jadi gagal bayar pada Tanihub itu sudah merupakan sesuatu yang logis. Sesuatu yang sunnatullah dalam terminologi bahasa arab.
  4. Keempat, dengan risiko tinggi, maka secara alami para investor akan minta ROI (return on ivesment) yang super tinggi. Bayak investor yang minta 3 tahun balik modal alias ROI 33%.  Tinggi sekali. ROI bagi investor adalah cost of capital bagi perusahaan yang menerimanya. Cost of capital sebuah korporasi sejati hanya 2-3% (per tahun). Perusahaan mau menerima dana dengan cost of capital tinggi kemungkinan besar karena tidak ada alternatif yang lain. Ini membentuk sebuah lingkaran setan yang membahayakan perusahaan. Seperti orang haus yang minum air laut.

Itulah empat masalah besar crowdfunding. Lalu, tidak adakah solusi? Jangan kuatir. Selalu ada solusi untuk setiap masalah apapun. Pelajari ilmunya dengan baik.  Pendanaan itu adalah langkah keenam dalam siklus hidup perusahaan. Perusahaan itu seperti mahluk hidup yang juga memiliki siklus hidup. Jangan tiba-tiba mengambil langkah keenam. Ikuti tahap tahapnya dari langkah pertama, kedua, ketiga, keempat dan kelima. Setelah itu baru pendanaan sebagai langkah keenam. Pelajari baik-baik tahapan-tahapannya. Itulah yang akan menjamin keunggulan perusahaan dari generasi ke generasi. Menjadi sebuah korporasi sejati. Itulah yang akan menjamin keamanan dana investor. Bisa!

Artikel ke-415 karya Iman Supriyono ini ditulis di atas gerbong kereta api Blambangan Ekspres dalam perjalanan dari Semarang ke Surabaya pada tanggal 22 Agustus 2022

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

MLM, Bisakah Menjadi Pilihan?


Amway, Naturan & Co, Herbalive Nutrition Ltd, Vorwerk, Infinitus. Itulah 5 besar perusahaan yang menjual produknya dengan metode multilevel marketing alias MLM menurut Yahoo Finance. Omzet tahun 2021 berturut-turut adalah USD 8,90 miliar, USD 7,20 miliar, USD 5,80 miliar, USD 4,60 miliar dan 3,95 miliar.

Besar atau kecil?  Perusahaan MLM umumnya menjual barang-barang konsumsi sehari hari. Consumer good. Lembaga riset bisnis terkemuka Global View Research (GVR) melaporkan bahwa tahun 2022 total penjualan perusahaan-MLM adalah USD 200,1 miliar.  Segmen health and wellness product berkontribusi 36% terhadap penjualan tersebut. Persentase terbesar kedua adalah cosmetics and personal care. Ketiga adalah household goods and durrables. Selangkapnya ditampilkan pada gambar berikut.

Sebagai pembanding, berikut ini omzet tahun 2022 beberapa perusahaan consumer good yang menjual produknya dengan cara non MLM. Nestle beromzet USD  98,87 miliar, P&G USD 80,97 miliar, Unilever USD 63,11 miliar.  Tiga perusahaan yang produknya sangat dikenal di tanah air ini sudah jauh lebih besar dari pada seluruh perusahaan MLM.

Masih menurut GVR, wilayah Asia Pasifik  berkontribusi 44% terhadap pasar MLM. Terutama adalah kota-kota lower tiers. Secara alami ini diakibatkan oleh kurangnya toko secara fisik dan kurangnya pendidikan. Konsumen lebih suka mendapatkan rekomendasi produk kesehatan dan kecantikan secara personal dari para tenaga penjualan. Kesehatan dan kecantikan konsumen, serta perawatan pribadi, adalah kategori produk unggulan yang mendorong perkembangan di wilayah ini. Konsumen di Asia Pasifik cenderung lebih memperhatikan kesehatan dan daya tarik mereka. Penurunan berat badan, vitamin, dan perawatan kulit dengan bahan alami adalah beberapa produk yang mendapatkan popularitas di kalangan pelanggan. Demikian kesimpulan riset GVR lebih lanjut.

&&&

Untuk melihat lebih dalam tentang perusahaan MLM, mari kita ambil salah satu contoh. Si terbesar yaitu Amway tidak tercatat di lantai bursa. Jadi kita tidak bisa melihat datanya secara cukup. maka mari kita lihat si nomor dua yaitu Herbalife yang sudah listed.

Herbalife dididirikan oleh Mark R Hughes tahun 1980. Tahun 1986 Herbalife melakukan IPO di Nasdaq. Tahun 2002 perusahaan yang produknya juga cukup dikenal di Indonesia ini diakusisi oleh J.H. Whitney & Company and Golden Gate Capital. Akuisisi pada perusahaan listed umumnya diikuti dengan delisted. Demikian juga Herbalife. Tahun 2004 perusahaan ini IPO kembali di New York Stock Exchange.

Bagaimana kinerja keuangannya? Laporan teraudit tahun 2022 menyampaikan omzetnya adalah USD 5,2 miliar alias Rp 79 triliun. Harga pokok produksinya adalah USD 1,17 miliar alias Rp 19 triliun. Dengan demikian harga pokok produksi adalah 23%. Laba bersihnya adalah USD 321 juta alias  Rp 5 miliar. Neracanya menunjukkan total aset USD 2,73 miliar alias Rp 42 triliun. Total utangnya adalah USD 4,0 miliar alias Rp 61 triliun. Dengan demikian ekuitas alias nilai buku perusahaan adalah minus USD 1,27 miliar alias Rp 19 triliun. Artinya, andai seluruh aset perusahaan dijual dengan harga sesuai akuntansi maka uang hasil penjualan tidak cukup untuk melunasi seluruh utangnya. Masih ada kekurangan Rp 19 triliun.

Bagaimana nilai pasarnya? Hari ini nilai pasar Herbalife adalah USD 1,53 miliar alias Rp 23,4 triliun. Nilai pasar Nestle adalah 277,31 CHF alias Rp 4 807 triliun. P&G adalah USD 359,58 miliar alias Rp  5 496 triliun.  Unilever adalah GBP 99,68 miliar alias Rp 1941 triliun.

&&&

Pembaca yang baik, itulah gambaran tentang perusahaan-perusahaan yang memasarkan produknya dengan metode MLM. MLM, bisakah menjadi pilihan? Anda para entrepreneur bisa mengambil kesimpulan sendiri. Andai saja Anda memiliki core competence pada consumer good, silakan dipilih metode pemasaran yang Anda gunakan. Bisa cara seperti Nestle, P&G atau Unilever. Bisa juga seperti cara MLM. Anda yang memilih jalur profesional pada perusahaan consumer good, juga bisa memilih pada perusahaan mana Anda akan mendedikasikan potensi terbaik Anda. Bisa masuk perusahaan-perusahaan seperti Nestle, P&G atau Unilever. Bisa juga pada perusahaan seperti Amway atau Hebalife. Hidup adalah pilihan.

Artikel ke-414 karya Iman Supriyono ini ditulis di SNF Consulting House of Management pada tanggal 21 Agustus 2023

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Bukaka Yang Menua


Setiap Anda masuk atau keluar dari pesawat di tanah air, coba amati apa merek garbarata yang Anda lalui. Akan mudah untuk menemukan logo Bukaka di sana. Ya, Perusahaan yang berdiri tahun 1978 ini adalah satu-satunya produsen garbarata alias air bridge di negeri ini. Bahkan produk perusahaan yang didirikan oleh Jusuf Kalla ini juga sudah dipakai di bandara-bandara luar negeri.

Eksis sampai usia 45 tahun tentu bukan hal remeh. Mari kita lihat secara lebih rinci bagaimana kondisi stratejik dan kinerja perusahaan yang pernah delisted di lantai bursa dan kemudian listing lagi ini. saya akan menuliskannya dengan format poin-poin.

  1. Tugas stratejik direksi dalam sebuah perusahaan adalah bekerja keras bagaimana sebuah perusahaan makin eksis. Ukuran utama eksistensi yang baisa dipakai dalam dunia bisnis ada 4: omzet, aset, laba dan nilai pasar. Mari kita lihat kinerja Bukaka dalam empat variabel ini. Data terlama yang masih tersedia di website resmi perusahaan adalah laporan keuangan tahun 2013. Maka, saya akan melihat pertumbuhan perusahaan dengan ukuran compounded average growth rate (CAGR)
  2. Omzet tahun 2013 adalah Rp 1,33 triliun. Tahun 2022 adalah Rp 4,15 triliun. Dengan demikian rata-rata pertumbuhan kompon (CAGR) sepanjang 9 tahun adalah 13,48%. Aset pada periode tersebut naik dari Rp 1,91 menjadi Rp 6,26 triliun alias tumbuh 14,10% per tahun. Laba naik dari Rp 82 miliar menjadi Rp 462 miliar alias tumbuh 21,18% per tahun. Nilai pasar data yang tersedia adalah mulai tahun 2015 senilai Rp 945 per lembar saham menjadi Rp 1045 per lembar saham alias tumbuh rata-rata 1,45% per tahun. Dari 4 variabel tersebut yang paling dinikmati pemegang saham adalah laba dan nilai pasar. Laba dinikmati karena bisa dibagi menjadi dividen. Tapi sudah enam tahun terakhir ini Bukaka tidak membagi dividen. Jadi investor murni hanya menikmati pertumbuhan nilai. Malangnya, nilai perusahaan hanya tumbuh 1,45% per tahun. Bahkan untuk menutup inflasi saja tidak bisa. Inflasi tahun 2022 adalah 5,5%. Jadi pertumbuhan perusahaan memang sangat minim
  3. Sebuah perusahaan idealnya bisa tumbuh secara eksponensial. Caranya adalah dengan melakukan scale up.  Apakah selama ini Bukaka sudah melakukan scale up? Mari kita lihat apa yang dilakukan oleh manajemen sepanjang tahun 2022. Bila melakukana scale up, dengan laba tahun berjalan Rp 462 miliar mestinya aset perusahaan tumbuh sebesar 5 kalinya yaitu Rp 2,31 triliun. Dengan aset awal tahun Rp 5,23 triliun harusnya aset akhir tahun menjadi Rp 7,54 triliun. Nyatanya aset akhir tahun hanya 6,26 triliun. Jadi perusahaan sepanjang tahun 2022 tidak melakukan scale up. Melihat CAGR aset di atas, bisa dipastikan perusahan tidak melakukan scale up sepanjang 9 tahun terakhir
  4. Hari ini nilai pasar Bukaka adalah Rp 3,84 triliun. Dibandingkan dengan nilai bukunya yang Rp 3,82 triliun maka nilai intangible asset Bukaka hanya 200 miliar. Rasio antara harga saham (nilai pasar) dengan laba hanya 6,37 kali. Artinya nilai pasar perusahaan sangat rendah. Perusahaan yang bagus nilai intangible asset berkali-kali lipat dibandingkan dengan nilai buku (tangible aset)
  5. Angka PER juga menunjukkan bahwa andai hari ini Bukaka menerbitkan saham baru untuk modal ekspansi, investor menuntut ROI 15,7%. ROI bagi investor adalah Cost of capital bari perusahan. Angka Bukaka tergolong sangat mahal karena sebuah korporasi sejati https://korporatisasi.com/2020/05/27/sentul-city-intangible-asset-membakar-tangible-asset/cost of capitalnya hanya 2-3%. Ini artinya di mata investor perusahaan ini tidak menarik. Salah satu faktor utamanya adalah pertumbuhan yang rendah seperti tertulis di atas.
  6. Aset posisi akhir tahun 2022 adalah 6,26 triliun. Laba tahun berjalan adalah Rp 473 miliar. Dengan demikian ROA adalah  7,2%. Dengan ekuitas Rp 3,82 triliun maka ROE adalah 12,4%.  Angka ini cukup bagus. Dengan ROE 12,4% maka peluang Bukaka untuk mencapai nilai pasar 4X nilai buku, yaitu menjadi Rp 15,28 triliun. Jika ini terjadi maka PER akan menjadi 32. Artinya cost of capital menjadi 1/32 alias 3,1 %. Sebuah angka ideal yang bisa dicapai oleh sebuah korporasi sejati. Apa kendala utama untuk mendapatkannya? Tidak lain adalah pertumbuhan
  7. Mari kita lihat lebih detail tentang masalah pertumbuhan ini.  Dari aset Rp 6,26 triliun, terdapat komponen investasi pada perusahaan asosiasi senilai Rp 2,3 triliun. Ini bisa disebut aset nganggur. Berinvestasi dengan memiliki saham perusahaan lain tapi dalam persentase kecil sehingga tidak bisa dikonsolidasi. Tidak meningkatkan omset, aset, laba dan nilai pasar perusahaan secara signifikan.
  8. Aset yang terkait langsung dengan pendapatan bernilai Rp 4 triliun. Bagaimana pendayagunaannya? Mari kita lihat lebih detail. Aset berupa fasilitas produksi perlengkapan bandara (garbarata dan sebagainya) baru terdayagunakan 57%.  Aset berupa fasilitas produksi steel tower hanya terdayagunakan 19%. Aset berupa fasiltas produksi steel bridge hanya terdayagunakan 24%. Aset berupa fasiltas produksi road construction equipment baru terdayagunakan 27%. Faslitas special purpose vehicle hanya terdayagunakan 32%.  Oil and gas equipment hanya terdayagunakan 66%. Dan masih banyak lagi aset yang kurang didayagunakan.
  9. Pendayagunaan aset rendah. Inilah masalah utama perusahaan. Dengan kondhttps://korporatisasi.com/2022/03/13/menjadi-korporasi-sejati/isi seperti ini jangan berharap perusahaan bisa melakukan scale up dengan pertumbuhan aset lebih dari 5x laba. Sedangkan aset yang ada saja tidak terdayagunakan dengan baik.
  10. Dengan demikian jika dikaji dari kaca mata tripod manajemen (pemasaran, keuangan dan operasional) maka bottle neck nya ada di masalah pemasaran. Nah, perusahaan perlu mengkaji ulang konsep bisnisnya secara menyuluruh. Dilanjutkan dengan mengevaluasi struktur dan funneling pemasaran. Jika tidak, Bukaka akan terus tumbuh lambat seperti saat ini. akibat selanjutnya adalah menjadi perusahaan yang menua. ini yang bahaya. Gambarannya, dari 627 karyawan Bukaka, 223 orang alias 36% berusia di atas 50 tahun. Tampak sekali tanda-tanda perusahaan yang menua. Bila pertumbuhan lambat terus berlangsung, perusahaan akan makin dipenuhi oleh karyawan berusia tua.
  11. Apakah masih peluang? Sangat! Sebuah contoh saja adalah produk garbarata Bukaka. Sebuah produk unggulan yang mestinya bisa dipasarkan lebih luas ke berbagai negara. Sekali lagi perlu evaluasi strategi perusahaan dan kemudian evaluasi strategi dan struktur marketing. SNF Consulting siap menjadi management sparring partner. Bukaka bisa!

Artikel ke-413 karya Iman Supriyono ini ditulis di Bandara Udara Soekarno Hatta Jakarta saat menunggu penerbangan ke Surabaya pada tanggal 17 Agustus 2023

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca juga:

Modal Alfamart Mengejar Indomaret
Modal Murah Mitra Keluarga Menyalip Siloam
Pedal Gas Revenue and Profit Driver
RPD Sebagai Faktor Kali
RPD Sebagai Peredam Risiko Investasi Wakaf
Giant Tutup: Sulitnya Menemukan Kembali RPD
Deep Dive Sang CEO Mengamankan RPD
RPD Sebagai Salah Satu Tahap Corporate Life Cycle

Ghost Flight: Autopilot Bisnis?


Athena, tanggal 14 Agustus 2005. Jam 09.37  waktu setempat Boeing 737 Helios dengan nomor penerbangan 522 telah terpantau radar memasuki wilayah kontrol penerbangan Athena. Pesawat mengitari Athena dengan autopilot.  ATC Nikosia, Ciprus, bandara asal penerbangan pesawat tersebut telah melaporkan kepada Athena bahwa kontrol radio terputus. Antara jam 10.12 sampai jam 10.50 panggilan dari ATC Athena tidak direspon oleh pilot. Jam 10.45 adalah jadwal pendaratan pesawat tersebut.  Jam 10.54 Joint Rescue Coordination Center mencurigai kemungkinan pesawat telah dibajak. Jam 11.05 dua pesawat tempur F16 pun diterbangkan untuk memantau penerbangan 522. Jam 11.23 F16 telah menemukan posisi 522 di atas pulau Aegean. Jam 11.32 pilot F16 melihat kopilot 522 terduduk lemas, masker oksigen di kabin keluar, tidak ada tanda-tanda terorisme. Jam 11.49 pilot F16 melihat ada seorang di kokpit tampaknya sedang mencoba mengendalikan pesawat. Jam 11.49 mesin kiri pesawat berhenti karena kehabisan bahan bakar. Jam 11.59 mesin kanan pesawat berhenti. Jam 12.03 pesawat 522 jatuh di pegunungan wilayah Grammatiko, Yunani.

&&&

Bisnis autopilot. Bosnya jalan-jalan, bisnisnya jalan. Jargon ini populer sekali di kalangan entrepreneur. Mungkinkah sebuah bisnis menjadi autopilot? Mungkin, jika yang dimaksud adalah usaha kecil perorangan yang tidak dikembangkan. Contohnya adalah resto-resto legendaris lokal yang biasanya menulis “Resto Lezat tidak membuka cabang”.  Tidak mungkin, jika yang dimaksud adalah sebuah bisnis yang berproses menjalani langkah demi langkah dari 8 langkah corporate life cycle sampai menjadi korporasi sejati.

Salah satu kebutuhan perusahaan yang seperti ini adalah terus menerus mendapatkan investor karena terus menerus menerbitkan saham. Kuncinya adalah menemukan apa yang disebut revenue and profit driver alias RPD. Proses ini saja sudah membutuhkan waktu tenaga pikiran dan energi besar dari “sang pilot”. Pada sebuah perusahaan berbadan hukum PT pilotnya adalah direktur utama alias dirut. Dalam keseharian agar lebih keren kalangan bisnis sering menyebutnya dengan istilah CEO.

Menemukan RPD butuh proses trial and error. Butuh proses iterasi berbagai variabel. Butuh ukuran secara statistik. Karena variabelnya banyak maka proses iterasinya tidak bisa dilepaskan begitu saja dari pantauan serius dirut. Bahkan karena RPD ini adalah mesin pertumbuhan perusahaan, sang dirut harus siap sewaktu waktu untuk melakukan deep dive. Bahkan butuh konsultan manajemen sebagai sparring partner agar perusahaan tidak menelan biaya kebodohan.

Setelah RPD ketemu tugas dirut adalah terus menerus menerbitkan saham. diawali dari private placement di luar lantai bursa secara terus-menerus. Pada titik tertentu perusahaan harus melakukan IPO. Salah satu penanda titik tertentu tersebut adalah ukuran yang cukup. Angka kecukupannya adalah market value alias market cap sekitar Rp 10 triliun. Jika kurang dari Rp 10 triliun perusahaan akan seperti sampan yang berlayar di samudera Atlantik dengan gelombang setinggi 10 meter. Terombang ambing dalam ombak besar dan rawan menjadi mangsa empuk para perampok budiman. Setelah IPO mesti terus-menerus melakukan penerbitan saham baru lagi yang disebut rights issue. Mengikuti pola gergaji korporatisasi sampai menjadi korporasi sejati.

Menerbitkan saham terus-menerus baik secara private placement, IPO maupun righst issue artinya perusahaan terus-menerus membutuhkan investor. Investornya umumnya adalah perusahaan-perusahaan investasi. Bos-bos perusahaan investasi tentu tidak mau ditemui anak buah. Seperti dalam diplomasi negara. Presiden mestilah ditemui oleh presiden. Jadilah si dirut terus sibuk bekerja full time. Tidak bisa menyerahkan kendali perusahaan pada autopilot. Jika dipaksakan maka musibah ghost flght Helios 522 seperti di atas akan terjadi pada perusahaan. Memang pesawat ada fasilitas autopilot. Tapi bukan berarti tidak dibutuhkan pilot yang bekerja penuh waktu. Bahkan Boeing 737 penerbangan 522 itu pun ada pilot dan kopilot. Tapi keduanya lemas tak sadarkan diri karena kekurangan oksigen. Sebelum hilang kesadaran pilot sempat menekan tombol autopilot. Pesawat berjalan dengan autopilot dari Nikosia ke Athena.  Dan kecelakaan terparah di Yunani itu pun terjadi. Menewaskan seluruh 121 penumpang dan awak pesawat. Semoga keluarga yang ditinggalkan tabah menerimanya. Semoga kita para pelaku bisnis mengambil pelajaran.

Artikel ke-412 karya Iman Supriyono ini ditulis di Jakarta pada tanggal 16 Agustus 2023

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Entrepreneur, Jangan Membuat Bisnis Lagi!


Mungkin Anda pernah mendengar nasihat ini: Tugas entrepreneur adalah membuat bisnis baru. Disampaikan dengan penuh semangat. Khas anak muda. Dengan heroisme berhias nasionalisme. Berhias semangat keumatan. Anda pernah mendengar?

Nah, kali ini mari kita kupas nasihat itu dengan data. Tentu saja data korporasi. Mari kita bandingkan dua perusahaan. Alat ukurnya kita ambil dari 4 besaran yang biasa digunakan untuk membandingkan perusahaan di berbagai negara. Laba, omzet, aset dan nilai pasar. Empat besaran itulah yang tiap tahun digunakan oleh Forbes untuk membandingkan perusahaan tanpa melihat apa pun industrinya. Dua ribu perusahaan dengan skor laba, omzet, aset dan nilai pasar tertinggi tiap tahun ditampilkan sebagai Forbes 2000. Dengan kata lain, kalau kita berbicara dari 4 besaran itu, perbedaan industri sudah tidak penting. Semua perusahaan dipandang sama. Anda dapat membaca link ini untuk mengetahuinya lebih lanjut. Dari 4 besaran itu kita pilih satu yang bisa disebut merangkum dari 3 variabel yang lain yaitu nilai pasar.

Nah atas dasar itu saya ambil dua perusahaan. Satu perusahaan yang menganut nasihat di atas. Dalam kerangka corporate life cycle, perusahaan ini disebut sebagai multiple RPD (revenue and profit driver). Perusahaan yang berbisnis bermacam-macam pada berbagai industri. Selesai membuat bisnis A dilanjut B, lanjut C, lanjut D…. dan seterusnya.

Siapa perusahaan yang seperti itu? Mari kita gunakan PT Japfa Comfeed Indonesia. Berikut ini Sejarah Japfa yang saya kutip dari laman resmi Bursa Efek Indonesia:

PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk didirikan pada 18 Januari 1971 sebagai sebuah perusahaan yang memproduksi pelet kopra dengan nama PT Java Pelletizing Factory (Japfa). Seiring berjalannya waktu, JPFA terus berkembang dan berekspansi ke berbagai sektor bisnis, seperti pakan ternak dan pembibitan ayam.

Japfa menjadi pemegang hak eksklusif untuk menjual serta mendistribusikan bibit ayam galur Indian River dari Aviagen. Perjalanan Japfa dalam dunia saham dimulai ketika perusahaan tersebut melakukan Initial Public Offering (IPO) atau Penawaran Saham Perdana dengan kode emiten JPFA pada 23 Oktober 1989.

Sukses melantai di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya, perusahaan ini lalu mengambil alih beberapa aset perusahaan, seperti PT Comfeed Indonesia, PT Suri Tani Pemuka, PT Ometraco Satwafeed, dan PT Indopell Raya pada 1990. Proses ekspansi tersebut terus berlangsung hingga pada 1992, Japfa mengakuisisi PT Multibreeder Adirama Indonesia dan PT Ciomas Adisatwa yang bergerak di bidang pembibitan dan pemrosesan ayam, dan juga PT Suri Tani Pemuka yang bergerak di bidang budidaya dan pemrosesan udang

Sejarah tersebut menggambarkan dengan jelas bahwa Japfa adalah sebuah perusahaan multiple RPD. Memang antara RPD satu dengan lainnya masih terkait. Tetapi tetap berbeda-beda. Sebagaimana di laman resmi perusahaan, bisnisnya bisa dikelompokkan menjadi 3 bidang yaitu poultry, aquaculture dan beef cuttle. Poultry terdiri dari pakan ternak ayam,  DOC ayam broiler/layer dan pullets, consumer and technical services, pencegahan penyakit, perlengkapan peternakan, ayam broiler komersial dan produk karkas ayam. Kelompok aquaculture terdiri dari aqua feed, breeding, consumer and technical services, tilapia, eel, dan seafood. Kelompok beef dan cattle terdiri dari penggemukan sapi, rumah potong, dan daging sapi.

Mari kita lihat kinerjanya. Data nilai pasar yang masih ditampilkan oleh Google paling awal adalah tahun 2005. Nilai pasar per lembar saham adalah Rp 43. Hari ini nilai pasar per lembar saham adalah Rp 1 295. Artinya, dalam rentang waktu 18 tahun rata-rata pertumbuhan yang diukur dengan metode CAGR (compounded annual growth rate) adalah 20,82%. Artinya, misalkan Anda menjadi investor (pemegang saham) Japfa tahun 2005 dengan nilai investasi Rp 100 juta, tahun 2006 akan tumbuh nilainya sebesar 20,82%  menjadi 120,82 juta. Tahun berikutnya akan tumbuh lagi 20,82% menjadi Rp 145,97 dan seterusnya. Tiap tahun tumbuh 20,82%. Dengan pertumbuhan tiap tahun seperti itu maka nilai investasi Anda tahun 2023 ini adalah Rp 3,64 miliar.

Bagus atau tidak pertumbuhan seperti itu? Mari kita lihat perusahaan pembandingnya. Kita pilih perusahaan yang bisnisnya satu bidang alias single RPD. Perusahaan yang tidak menganut nasihat para motivator di atas. Perusahaan yang tidak pernah membuat bisnis lagi setelah mendirikan satu bisnis. Kita pilih PT Sumber Alfaria Trijaya. Bisnisnya adalah membuat gerai-gerai minimarket dengan merek Alfamart, Alfamidi dan Alfa Express. Gerai pertama didirikan tahun 1999 hingga hari ini kerjanya terus menerus mendirikan gerai.

Data nilai pasar yang masih tersedia di Google terlama adalah tahun 2009 dengan nilai Rp 40 per lembar saham. Hari ini nilainya adalah Rp 2780. Dengan demikian selama 14 tahun terakhir diukur dengan CAGR perusahaan ini tumbuh rata-rata 35,38%. Sebagai gambaran jika Anda menjadi investor perusahaan ini pada tahun 2009 dengan uang Rp 100 juta, tahun 2010 nilai investasi Anda naik 35,38% menjadi Rp 135,38 juta. Tahun berikutnya naik lagi 35,38% menjadi Rp 183,28 juta. Jika ini diteruskan dengan pertumbuhan tahunan yang sama maka tahun 2023 ini nilai investasi Anda menjadi Rp 9,40 miliar.

&&&

Pembaca yang baik, jelas perbedaan kinerja pertumbuhan dua perusahaan itu. Japfa yang multiple RPD kalah jauh pertumbuhannya dibanding Alfamart yang single RPD. Investor akan merasakan bedanya. Demikian juga pendiri kedua perusahaan. Itulah mengapa Djoko Susanto, pendiri Alfamart,  menjadi orang terkaya ke-10 menurut Forbes tahun ini. Sementara mendiang Handojo Santosa atau ahli warisnya jauh tertinggal.

Sebagai entrepreneur pendiri perusahaan, Joko melalui PT Sigmantara Alfindo memegang sekitar 53% alias sekitar 22 miliar lembar saham Alfamart. Dengan nilai pasar Rp 2780 maka hari ini nilai aset Djoko adalah Rp 61,1 triliun. Sementara itu sebagai entreperenur pendiri perusahaan keluarga Handojo melalui Japfa LTD memegang 55% saham Japfa dengan nilai aset hari ini Rp 8,3 triliun.

Nah, dari dua contoh tersebut, sudah saatnya Anda para entrepreneur memperbaiki cara pandang. Memperbaiki mindset. Tugas seorang entrepreneur bukanlah terus membuka bisnis baru. Tapi mendirikan satu bisnis dan terus mengembangkannya menapaki 8 langkah dalam corporate life cycle untuk menjadi korporasi sejati yang bernilai tinggi. Ingat bahwa bisnis itu adalah tentang menciptakan nilai. Creating value. Ukuran teknisnya adalah market value atau nilai pasar atau yang secara singkat disebut value alias nilai. Anda siap?

Artikel ke-411 karya Iman Supriyono ini ditulis di Surabaya pada tanggal 9 Agustus 2023

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca Juga:

Baca juga:

Merger dan Akusisi: Mengapa Ekonomi Kita Dikuasai Asing
Merger Gojek Tokopedia
Valuasi dan Merger Tokopedia
Merger dan Akusisi BUMN
Filosofi Merger Akuisisi
Akuisisi Super Mahal Holcim oleh Semen Indonesia
Sejarah Raket Yonex
Sejarah Heinekken Hadir di Indonesia
Sejarah Revlon dan Kepailitannya
Sejarah Korporasi
Sejarah Lions Club
Sejarah Hyundai versus Astra
Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Umat dan Bangsa
Korporatisasi: Asal Muasal
Sejarah Danone Dari Turki Usmani Hadir ke Indonesia

Bahaya IPO UKM


Belakangan muncul dorongan kuat agar UKM melakukan IPO.  Grup-grup wa, seminar, training dan media sosial komunitas entrepreneur menjadi tempat subur untuk mengelokannya.  Seolah semua sepakat. Padahal IPO UKM mengandung bahaya yang amat sangat. Bahkan ancaman besar. Apakah itu? saya akan menuliskannya dalam bentuk poin-poin.

Provokasi IPO UKM itu bahaya sekali. Bisa membuat seperti harimau yang lemah lunglai. Potensinya besar. Tapi terlemahkan karena tidak sadar bahaya.

  1. Batas atas sebuah usaha masuk dalam kategori UKM menurut peraturan pemerintah nomor 7 tahun 2021 tentang kemudahan, pelindungan, dan pemberdayaan koperasi dan usaha mikro, kecil, dan menengah adalah modal di luar tanah dan bangunan sebesar Rp 10 miliar atau penjualan maksimum Rp 50 miliar
  2. Perusahaan dengan aset dan omzet seperti di atas sangat berbahaya bila dipaksakan melakukan IPO. Apa bahayanya? Setidaknya ada 3 bahaya yang krusial. Bahaya pertama adalah pemborosan dilusi. Dilusi adalah menurunnya persentase kepemilikan saham pendiri. Pemborosan dilusi adalah kondisi di mana saham pendiri mengalami penurunan persentase lebih tinggi untuk menghasilkan jumlah uang tertentu.
  3. Gambarannya adalah sebagai berikut. Misalkan PT ABC bergerak di bidang restoran memiliki 10 gerai dengan aset Rp 10 miliar (Rp 1 miliar tiap gerai di mana semua gedung berasal dari sewa) laba Rp 3 miliar. Aset Rp 10 miliar menghasilkan laba Rp 3 miliar alias ROA (return on aset) 30% itu sudah super optimis.
  4. Jika PT ABC memiliki rasio harga saham terhadap laba (price to earning rasio, PER) 20 maka nilai pasar PT ABC adalah Rp 60 miliar. Angka PER 20 ini sudah sangat tinggi karena artinya ROI bagi investor adalah 5% (per tahun).
  5. Faktanya di lantai bursa ROI yang stabil pada angka 20 hanya dimiliki oleh perusahaan-perusahaan yang memiliki merek kokoh di pasar. Sekalas Astra Internasional saja PER nya hanya 8,94.  Indofood Sukses Makmur pun PER hanya 8,86. Jadi asumsi PER 20 itu adalah sangat amat tinggi. Artinya, hitungan nilai pasar (market capitalization) Rp 100 miliar bagi PT ABC sudah merupakan perkiraan super optimis
  6. Malangnya, dengan perkiraan super optimis pun angkanya masih kecil. Mari kita runut akibatnya. Dengan nilai pasar Rp 60  miliar maka penerbitan saham baru 10% dalam IPO hanya akan menghasilkan dana Rp 6 miliar. Angka ini akan tidak menarik bagi penjamin emisi. Akibatnya PT ABC akan dipaksa menerbitkan saham dengan persentase lebih tinggi agar menarik bagi penjamin emisi.  Misalkan 40 %. Dengan persentase ini maka perolehan dana IPO adalah Rp 24 miliar.  Inilah letak bahayanya. Pendiri PT ABC terdilusi 40% untuk mendapatkan dana Rp 24 miliar.
  7. Mengapa bahaya? Ada dua penjelasan.  Penjelasan pertama, dengan dilusi 40% maka PT ABC tinggal punya kesempatan dilusi lanjutan 10% (melalui rights issue) untuk mencapai titik kritis korporatisasi yaitu saat pendiri sudah tidak lagi menjadi pemegang saham pengendali. Mengapa harus ada dilusi lanjutan? Karena untuk bisa eksis dan tumbuh dari generasi ke generasi, sebuah perusahaan harus mencapai ukuran tertentu untuk terbentuknya sistem manajemen yang ditandai dengan adanya struktur organisasi dengan level jabatan lebih dari 20. Ini membutuhkan dana besar. Membutuhkan aset besar. Oleh karena itu sebuah perusahaan mestilah berhemat dilusi. Tumbuh eksponensial mengikuti kurva korporatisasi. Dengan cara ini, Afmamart misalnya, telah memperoleh dana dari lantai bursa sebesar Rp 2,5 T saat pendiri terdilusi 47%.
  8. Penjelasan kedua, PT ABC yang memiliki aset 10 miliar tiba-tiba mendapatkan tambahan aset Rp 24 miliar alias total aset menjadi 34 miliar. Tumbuh 340%. Ini seperti seorang yang biasa mengemudikan Toyota Agya tiba-tiba harus mengemudikan truk tonton. Risikonya sangat tinggi. Berbahaya.
  9. Dengan kebutuhan aset Rp 1 miliar per gerai, perolehan dana IPO tersebut akan menjadi 24 gerai. Perusahaan yang biasanya mengelola 10 gerai tiba-tiba bertambah 24 gerai alias total menjadi 34 gerai akan kocar-kacir dalam manajemennya. Ekspansinya akan sangat mengawur. Akibatnya ROA akan terganggu. Akan turun. Investor akan dirugikan. ROI yang dijanjikan saat IPO tidak akan tercapai.
  10. Bahaya kedua, dengan nilai pasar Rp 60 miliar maka saham PT ABC akan terombang-ambing di pasar. Sahamnya akan terombang-ambing seperti sebuah sampan yang berlayar di tengah samudera Atlantik yang ombaknya bisa mencapai ketinggian 10 meter bahkan lebih. Sampan akan tenggelam ditelan ombak. Melihat emiten di BEI saat ini, stabilitas harga saham baru akan tercapai jika nilai pasar (market cap) paling tidak bernilai Rp 10 triliun. Kurang dari itu pada umumnya akan menjadi mainan para trader. Baca tulisan saya tentang perampok budiman
  11. Terombang-ambingnya harga saham itu memicu munculnya efek lanjutan yaitu bahaya ketiga. Bahaya ketiga adalah PT ABC akan sulit melakukan rights issue sebagai langkah korporatisasi berkelanjutan untuk mejadi sebuah korporasi sejati. Sebagai gambaran, misalkan harga saat IPO PT ABC adalah Rp 100 per lembar saham. Setelah dilepas di pasar misalkan harganya menjadi Rp 75 per lembar. Harga inilah yang menjadi bahaya ketiga. PT ABC akan kesulitan rights issue. Jika dipaksakan para pemegang saham yang ada (existing share holder) akan rugi. Mengapa rugi? Karena akan terjadi penurunan book value

Itulah tiga bahaya besar sebuah perusahaan UKM yang melakukan IPO. Pertumbuhannya akan terhenti. Scale up nya akan berhenti. Plus masih ada bahaya lain yang justru lebih kronis. Apa itu? bahaya mindset. Memposisikan diri sebagai UKM adalah sebuah afirmasi negatif.  Aku akan mengikuti persangkaan hamba-Ku. Demikian sebuah hadits qudsi. Tuhan akan benar-benar menjadikannya sebagai UKM. Tidak pernah menjadi sebuah korporasi sejati.

Lalu apa solusinya? Saat masih kecil perusahaan tetap harus terus-menerus menerbitkan saham sebagai langkah untuk scale up. Terus melakukan korporatisasi. Hanya saja tempatnya mesti di luar lantai bursa alias private placement. Dilakukan secara B2B dengan investor. Terus menerus tumbuh eksponensial. Kapan melantai alias IPO? Kelak saat nilai pasarnya aman. Paling tidak kira-kira Rp 5-10 triliun. Makin besar makin bagus. Setelah IPO terus menerus melakukan righst issue sampai menjadi korporasi sejati. Menjadi korporasi yang mengibarkan merah putih ke berbagai negeri. Bisa!

Artikel ke-410 karya Iman Supriyono ini ditulis di Surabaya pada tanggal 7 Agustus 2023

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca Juga:

IPO RAFI yang penuh catatan
IPO Kioson yang lemah lunglai di tengah badai
IPO DPUM yang masuk jebakan
IPO Goto pertaruhan hidup mati
Delisting Bentoel sebagai sebuah keharusan


Prestasi Bisnis 78 Tahun Merdeka


Tanggal 8 bulan Juni ini majalah Forbes kembali meluncurkan daftar 2000 perusahaan terbesar dunia. Kriterianya ada 4: laba, omzet, aset dan nilai pasar.  Laba adalah selisih antara pendapatan dengan total biaya perusahaan. Omzet alias pendapatan adalah total nilai uang yang diperoleh sebagai hasil dari penjualan barang atau jasa yang diproduksi oleh perusahaan. Aset adalah uang atau apapun yang bernilai uang yang dimiliki oleh sebuah perusahaan. Nilai pasar adalah nilai uang seluruh saham perusahaan berdasarkan transaksi terakhir di lantai bursa.

Forbes mengurutkan perusahaan-perusahaan di lantai bursa berbagai negara dan memilih 2000 urutan teratas. Hasilnya, rangking pertamanya adalah JP Morgan Chase, sebuah bank investasi dari USA yang akar sejarahnya mulai hadir di muka bumi sejak tahun 1799. Perusahaan yang merupakan hasil merger dan akuisisi lebih dari  1200 perusahaan ini memiliki aset USD 3,744 triliun alias Rp 55 ribu triliun lebih. Nilai pasarnya USD 399,59 miliar alias Rp 5 844 triliun lebih.

Sebesar apa peran perusahaan-perusahaan dalam daftar Forbes itu pada ekonomi dunia?  Gabungan omzet dari 2000 perusahan tersebut adalah USD 50,8 triliun alias Rp 748 ribu triliun. Bandingkan dengan PDB total seluruh negara di dunia yang sekitar USD 101 triliun menurut Word Bank tahun 2022. Jadi 2000 perusahaan itu berkontribusi separuh dari total nilai barang dan jasa yang diproduksi umat manusia dan perusahaan dari berbagai negara. Bahkan banyak di antara produk-produk itu yang kemudian menjadi penanda sejarah umat manusia. Pesawat terbang, mobil, internet, media sosial, komputer, dan mobil listrik adalah beberapa contohnya.

Nah, begitu besarnya peran perusahaan-perusahaan itu bagi umat manusia. Lalu, bagaimana peran republik ini dalam konstelasi itu? Beruntung Forbes mengidentifikasi negara asal-usul perusahaan-perusahaan itu. Ada 8 perusahaan asal RI yang masuk daftar itu. Bank BRI pada urutan teratas dengan omzet USD 13,16 miliar, laba USD 3,45 miliar, aset USD 119,84 miliar dan nilai pasar 53,79 miliar.

Ranking kedua adalah bank Mandiri. Disusul BCA, Telkom, BNI, Bayan Resources, Adaro Energy dan terakhir adalah Garuda. Khusus untuk yang terakhir ini peru ditambahi catatan khusus.  Maskapai penerbangan pelat merah ini masuk daftar karena laba yang besar yaitu USD 3,67 miliar. Catatan khususnya adalah bahwa laba ini diperoleh dari pemotongan utang hasil negosiasi restrukturisasi utang dengan para kreditur. Jadi bukan mencerminkan mesin bisnis perusahaan. Justru mencerminkan masalah besar perusahaan.  Jadi dari 8 hanya 7 yang benar-benar mencerminkan kontribusi korporasi RI dalam percaturan produksi barang dan jasa global.

Delapan perusahaan dari 2000 perusahaan ranking Forbes.  Membanggakan kah? Menggembirakan? Atau justru sebaliknya? Untuk menjawabnya mari kita melihat negara-negara lain. Kita mulai dari negara terdekat yang berbatasan langsung dengan kita. Siapa lagi kalau bukan Singapura. Negeri pulau kecil yang luasnya setara dengan luas wilayah kota Surabaya ini menghadirkan 14 perusahaan. Ranking teratas diduduki oleh bank OCBC. Bank yang hadir di RI melalui akuisisi bank NISP ini beraset USD 417,5 miliar alias hampir 3,5 kali aset bank BRI. OCBC hadir di 54 kota di Indonesia dengan 200 cabang lebih. Sementara BRI hanya hadir dengan satu cabang  di negeri berpenduduk 5 juta orang ini.

Mari kita lihat negeri jiran berikutnya: Malaysia. Malaysia hadir dengan 8 perusahaan. Perusahaan urutan teratas dari negeri berpenduduk sekitar 25 juta ini adalah Maybank. Asetnya USD 216,17 miliar. Lebih dari 2x lipat aset BRI. Bank yang masuk ke RI melalui akuisisi Bank BII ini hadir di negeri merah putih dengan 356 cabang lebih. Bandingkan dengan BRI yang bahkan belum punya satu kantor cabang pun di Malaysia. Padahal BRI sudah hadir di muka bumi ini sejak 1895 sementara Maybank baru hadir tahun 1960. Umurnya baru separuh umur BRI.

Jangan bandingkan RI dengan USA yang hadir dengan lebih dari 600 perusahaan. Jangan juga bandingkan dengan RRC yang hadir dengan sekitar 350 perusahaan. Kita memang lebih kecil dalam hal jumlah penduduk dengan kedua raksasa ini. Kita juga kalah usia. Tapi kalau kalah dengan Singapura dan Malaysia, tentu tidak ada alasan pembenar. Kita merdeka lebih dahulu dari keduanya. Jumlah penduduk kita sekitar 10 kali Malaysia. Sekitar 50 kali singapura. Kita merdeka tahun 1945 sementara Malaysia baru merdeka tahun 1957 dan Singapura tahun 1965.

Nah, dalam usia kemerdekaan yang 78 tahun ini, mari kita gunakan kekalahan di atas sebagai pemicu semangat. Bagi pemerintah ini menjadi sarana berkaca diri memperbaiki regulasi yang lebih pro pertumbuhan korporasi dan bertumbuhnya budaya investasi masyarakat sebagai pendukungnya. Bagi para pelaku bisnis menjadi introspeksi untuk memperbaiki proses korporatisasi perusahaan tempatnya berkarya. Bagi masyarakat luas menjadi sarana menilai diri agar mampu mendorong pertumbuhan perusahaan-perusahaan di negeri ini dengan kontribusi sebagai investor. Yakin kita bisa. Merdeka!

Artikel ke-409 karya Iman Supriyono ini ditulis untuk Majalah Matan edisi Agustus 2023, terbit di Surabaya

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca Juga:
Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Umat dan Bangsa

Korporasi Nasionalis Pancasilais
Korporasi Pejuang 
Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi
Korporasi Pejuang Rupiah
Korporasi Raket Yonex

Sejarah Heinekken Hadir di Indonesia
Sejarah Revlon dan Kepailitannya
Sejarah Korporasi
Sejarah Lions Club
Sejarah Hyundai versus Astra
Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Umat dan Bangsa
Korporatisasi: Asal Muasal
Sejarah Danone Dari Turki Usmani Hadir ke Indonesia

Beasiswa LPDP: Dana Abadi atau Dana Menguap?


Menjadi lembaga pengelola dana bertaraf internasional guna menyiapkan SDM Indonesia yang berdaya saing global serta turut mendorong inovasi bagi terwujudnya Indonesia yang sejahtera, demokratis, dan berkeadilan. Itulah visi Lembaga Pengelola Dana Pendidikan alias LPDP sebagaimana yang dimuat dalam laporan keuangan teraudit tahun 2022. Mulia sekali. Bagus sekali. Sangat mungkin Anda atau orang-orang terdekat Anda adalah penerima beasiswa LPDP. Beasiswa belajar tingkat sarjana, master dan doktor baik di dalam maupun luar negeri.

Ada tiga poin misi LPDP. Pertama adalah mempersiapkan pemimpin dan profesional masa depan Indonesia melalui pembiayaan pendidikan. Kedua adalah mendorong riset strategis dan/atau inovatif yang implementatif dan menciptakan nilai tambah melalui pendanaan riset. Ketiga adalah menjamin keberlangsungan pendanaan pendidikan bagi generasi berikutnya melalui pengelolaan dana abadi pendidikan yang optimal

Sebuah organisasi bergerak sesuai visi dan misinya. Pergerakan organisasi tercermin dari laporan keuangannya. Mari kita lihat LPDP dari apa yang dilakukannya pada tahun 2022. Sudahkah bergerak sesuai visi dan misinya? Sudahkah LPDP mengelola dana abadi pendidikan dengan tepat sebagaimana layaknya institusi pengelola dana abadi internasional?  Mari kita cermati dari laporan keuangannya. Saya akan menuliskannya dalam format poin-poin. Angka-angka adalah pembulatan sesuai dengan aturan pembulatan matematika.

  1. Memperhatikan neracanya, aset terbesar LPDP adalah berupa investasi jangka panjang. Awal tahun 2022 (akhir tahun 2021) nilainya adalah Rp 99 triliun. Posisi akhir tahun adalah Rp 119 triliun. Aset pada posisi akhir ini adalah merupakan 94% dari total aset LPDP yang sebesar Rp 127 triliun.
  2. Aset lain yang signifikan adalah berupa investasi jangka pendek sebesar Rp 4 triliun pada akhir tahun. Angka tersebut naik dari Rp 3 triliun pada awal tahun. Dengan demikian total nilai investasi LPDP adalah Rp 123 triliun pada akhir tahun. Angka ini naik Rp 21 triliun dari  posisi awal tahun Rp 102 triliun. kenaikannya diperoleh dari diterimanya tambahan dana dari APBN.
  3. Ke mana aset-aset sebesar itu diinvestasikan? Investasi jangka panjang adalah berupa obligasi dan deposito. Rincianya, obligasi negara Rp 82 triliun, obligasi korporasi Rp 2 triliun dan deposito Rp 36 triliun. Investasi jangka pendek adalah berupa deposito senilai Rp 4 triliun. Dengan uraian ini maka bisa dikatakan bahwa seluruh dana abadi LPDP diinvestasikan dengan skema utang piutang.
  4. Ada dua kelompok utama dalam investasi yang tergambarkan dalam sisi kanan neraca entitas penerima dan investasi (investee). Sisi kanan neraca pada perusahaan atau entitas tempat dana diinvestasikan. Dua kelompok tersebut adalah utang piutang dan ekuitas.
  5. Karakteristik utama investasi skema utang piutang adalah tidak adanya pertumbuhan nilai aset yang diinvestasikan. Secara nominal nilainya konstan. Namun demikian karena nilai ditransaksikan dengan investee dalam bentuk mata uang maka ada variabel krusial yang mesti dipertimbangkan yaitu inflasi.
  6. Sepanjang tahun 2022 BPS mencatat bahwa nilai inflasi Rupiah adalah sebesar 5,51%. Dengan demikian total investasi BPJS Rp 102 triliun pada awal tahun 2022 secara nilai riil menyusut sebesar Rp 5,6 triliun. inilah nilai aset LPDP yang menguap sepanjang tahun 2022. Itu pun belum memperhitungkan dana investasi tambahan yang  LPDP sepanjang tahun 2022 yang sebesar Rp 21 triliun. Jika dianggap dana ini semua diterima di pertengahan tahun maka nilai yang digerogoti inflasi adalah 2,755% dari Rp 21 triliun yaitu Rp 578 miliar. Dengan demikian total penurunan nilai aset dari inflasi adalah  Rp 6,2 triliun
  7. Laporan laba rugi menunjukkan bahwa hasil investasi dana abadi sepanjang tahun 2022 adalah Rp 6,6 triliun. Dengan demikian hasil investasi bersih adalah Rp 6,6 dikurangi Rp 6,2 yaitu sebesar Rp 0,4 triliun alias Rp 400 miliar.
  8. Laporan laba rugi juga menunjukkan bahwa LPDP mengeluarkan dana untuk beasiswa senilai Rp 4,4 triliun. Beban lain yang signifikan adalah beban pegawai Rp 63 miliar dan beban perjalanan dinas Rp 27 miliar. Total beban adalah Rp 4,5 triliun.
  9. Dengan demikian hasil investasi bersih yang Rp 0,4 triliun tidak cukup untuk menanggung seluruh beban LPDP yang sebesar 4,5 triliun. Ada kekurangan Rp 4,1 triliun. Inilah hasil akhir kinerja pengelolaan dana abadi LPDP sepanjang tahun 2022 secara nilai riil (yaitu dengan memperhitungkan efek inflasi)
  10. Sejak LPDP berdiri tahun 2011 skema investasinya sama. Dengan demikian tiap tahun menguapnya dana abadi LPDP akibat inflasi itu juga terus menerus terjadi. Sesuaikah ini dengan visi LPDP? Visinya adalah menjadi pengelola dana abadi bertaraf internasional. Kinerja keuangannya justru nilai dana abadi menguap melalui inflasi. Jadinya bukan lagi dana abadi. Tapi dana menguap.
  11. Maka, andai pasokan dana dari APBN kepada LPDP dihentikan, secara riil tiap tahun kemampuan LPDP memberi beasiswa akan turun sebesar laju inflasi yang mana pada tahun 2022 adalah sebesar 5,51%. Nominalnya tetap. Tapi nilainya habis. Jumlah penerima beasiswa akan menurun sampai habis. Tidak lagi bisa disebut sebagai dana abadi
  12. Itulah kinerja pengelolaan dana abadi selama ini. Permasalahannya krusial dan sudah berlangsung selama 12 tahun. pertanyaannya, ke depan diperbaiki atau tidak? Harapannya tentu harus diperbaiki.
  13. Bagaimana perbaikannya? LPDP bisa belajar dari Harvard Management Company (HMC) yaitu lembaga pengelola dana abadi (endowment fund) milik Harvard University, USA.
  14. HMC berdiri tahun 1974 alias saat ini sudah berusia 49 tahun. Laporan keuangan tahun 2022 menunjukkan posisi aset investasi adalah USD 59,31 miliar alias Rp 889 triliun. Dari nilai tersebut yang ditempatkan melalui skema utang piutang yaitu berupa obligasi (bond) adalah USD 1,1 miliar (Rp 16 triliun) dan domestic fixed income USD 2,8 miliar (Rp 42 triliun). Total penempatan investasi berskema utang piutang (yang termakan inflasi) adalah USD 3,9 miliar alias 6,6% dari total aset investasi.  Selebihnya  penempatan pada aset yang tidak termakan inflasi. Target imbal hasil investasi HMC adalah 5%-5,5%  dari nilai pasar. Pencapaian tahun 2022 adalah 4,2%.
  15. HMC adalah pengelola dana abadi terbesar dunia. Mestinya ini menjadi benchmark bagi LPDP sesuai dengan visinya. Namun kenyataannya, sampai saat ini LPDP menempatkan seluruh aset investasinya dengan skema utang piutang yang termakan inflasi. Sementara HMC sebaliknya, sebagian besar asetnya ditempatkan melalui skema ekuitas alias saham yang tidak termakan inflasi. LPDP dan HMC berjalan ke arah yang berlawanan. HMC ke utara LPDP ke selatan. HMC ke timur LPDP ke barat. Seperti larik lagu “Pamit” nya Tulus….. kau menunggu datangnya malam saat ku menanti fajar….

Demikianlah kinerja LPDP.  Visinya mengelola dana abadi. Minimal nilainya tetap. Syukur-syukur bisa tumbuh seperti HMC. Moga LPDP segera bisa memperbaiki portofolio penempatan investasinya. Agar asetnya benar-benar menjadi dana abadi. Bukan dana menguap. Aamin.

Artikel ke-408 karya Iman Supriyono ini ditulis di bangku Kereta Sancaka dalam perjalanan Surabaya-Jogjakarta pada tanggal 19 Juli 2022.

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca Juga:
Dana Abadi Beasiswa ACR: RUPS dan Dividen Pertama

Hayyu x ACR: Perusahaan Dakwah
Peredam Risiko Investasi Wakaf
Wakaf Modern Untuk Keabadian Amal dan Kemerdekaan Ekonomi
Konversi Kotak Infaq ke Kotak Wakaf
Kesalahan Wakaf Saham Dan Perbaikannya
Wakaf Untuk Beasiswa: Fulbright Dari Timur
Wakaf Moncer dengan Puasa Infaq
Wakaf Para Alumni untuk Adik Kelasnya
Wakaf Agar Rp 10 Triliun Tidak Melayang Tiap Tahun
Wakaf Uang
Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Umat dan Bangsa
Korporatisasi: Asal Muasal