Embraer: “PT DI” Dari Brazil


Artikel ini ditulis di kabin Boeing 747 400 dalam sebuah penerbangan Jakarta-Jedah. Pesawat yang dioperasikan oleh lions air ini mampu mengakut 500-an penumpang sekali jalan. Ada yang menonjol dari para penumpang. Mereka pada umumnya berkelompok dalam rombongan-rombongan. Dari identitas yang tertulis baik pada tas maupun pakaian yang dikenakan, tampak sekali bahwa mereka adalah robongan umroh. Suasana umroh ini semakin terlihat dari busana yang digunakan oleh para pramugari yang tidak seperti pramugari pada umumnya. Mereka mengenakan seragam dengan kerudung. Pramugari berjilbab.

Ya…ibadah umroh telah menjadi sumber omset bagi perusahaan penerbangan. Ibadah ummat islam ini telah menjadi penggerak bisnis penerbangan. Pertanyaannya, bagaimana kemampuan ummat Islam untuk menangkapnya ? Coba kita cermati beberapa peluang itu.

Yang pertama adalah pesawat pengangkut. Boeing 747 adalah pesawat buatan Amerika yang populer untuk penerbagnan jarak jauh ribuan kilometer seperti jakarta Jedah ini. Alternatifnya saat ini adalah Airbus A380 buatan konsorsium Eropa Airbus. Dua perusahaan ini tidak mungkin diklaim sebagai peran ummat islam dalam menangkap peluang bisnis ini.

Kedua adalah perusahaan penerbangan operator pesawat. Boeing 747 yang saya tumpangi kali ini dioperasikan oleh Lion Air. Perusahaan penerbangan dengan perrtumbuhan paling agresif di tanah air ini adalah buah karya Rusdi Kirana. Dari berbagai sumber yang ada, saya juga tidak pernah menemukan tanda tanda bahwa perusahaan berpenumpang terbanyak di tanah air ini adalah karya seorang muslim.

•••••

Sukhoi tiba tiba sangat terkenal di seantero negeri. Penyebabnya adalah jatuhnya pesawat Superjet 100 buatan pabrikan asal Rusia itu di Gunung Salak Bogor. Pesawat dengan kapasitas sekitar 100 penumpang yang didesain untuk unggul di segemennya ini ternyata justru jatuh saat dipamerkan kepada calon konsumen.

Seberapa menarik bisnis pesawat kelas Superjet 100? Pertanyaan ini menjadikan kita melirik sebuah negeri yang mungkin selama ini “hanya” dikenal melalui sepak bola: Brazil! Kata kawan penghobi bola yang duduk di bangku di samping saya, Brazil setara dengan raksasa bola seperti Jerman, Belanda, Spanyol, Itali, Argentina, Belanda dan sekelasnya. Saya sendiri tidak hobi bola sehingga tidak bisa memberi justifikasi untuk penilaian kawan ini.

Nah, ternyata, Brazil bukan hanya unggul di perbolaan. Brazil unggul juga di dunia produksi pesawat dengan Embraernya. Menurut Wikipedia, Embraer adalah produsen produsen pesawat komersial terbesar no 3 di dunia. Yang menempati posisi diatasnya tentu saja adalah raksasa Boeing asal Amerika dan Airbus asal Eropa. Dengan peringkat ini, ternyata Brazil jauh lebih bisa disebut di sektor produksi burung besi berteknologi tinggi ini dari pada di sektor bola.

Keunggulan embraer berada pada segmen yang tidak bertempur head to head dengan Boeing dan Airbus. Embraer unggul pada segmen pesawat berpenumpang sampai sekitar 100 orang seperti Superjet 100 nya Sukhoi. Dan memang Sukhoi masuk segmen pasar ini karena melihat peta persaingan yang masih lebih mudah dikuasai dari pada harus bermain di segmen pesawat lebih besar yang sudah disapu habis oleh Airbus dan Boeing.

Berikut ini adalah catatan prestasi Embraer: Sejak 1996 hingga 2010 menyelesaikan order pesawat komersial sejumlah 4, 32, 60, 96, 160, 161, 131, 101, 148, 141, 130 , 169, 204, 244, 246 unit. Tahun 2011 lalu omset perusahaan yang berdiri sejak 1969 ini adalah USD 5,2 Milyar alias sekitar Rp 50 Trilyun.

Embraer KLM

Salah satu produk unggulan Embraer adalah E Jet yang sekelas dengan Sukhoi Superjet 100. Pesawat dengan varian tipe E-170, E-175, E-190 dan E-195 ini hingga januari 2012 telah terkirim 802 unit dengan harga sekitar Rp280 Milyar untuk tipe E 170 dan Rp 450 Milyar untuk tipe E 190. Hingga januari 2012 Embraer harus menggenjot kapasitas produksinya untuk menyelesaikan 249 unit pesawat yang sudah dipesan oleh berbagai negara dengan opsi tambahan 695 unit. Luar biasa!

Pembaca yang baik, ingat Brazil dengan Embraernya, saya jadi ingat PT DI. Produsen pesawat asal Bandung ini sebenarnya memiliki potensi yang besar. CN 235 sebagai salah satu produk unggulannya hingga kini telah terjual lebih dari 230 unit. Lebih dari 60 unit diantaranya hingga kini dipakai oleh Turki. Bahkan Amerika dan Perancis pun hingga kini masih mengoperasikan pesawat berkapasitas 40 penumpang ini. Kalau Brazil yang selama ini hanya kita kenal di dunia bola bisa menjadi juara 3 dalam dunia produksi pesawat komersial dengan Ebraer, mestinya kita juga bisa. Agar potensi bisnis ibadah umroh dan haji juga bisa dinikmati juga oleh umat Islam. Semoga!

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca juga:

Sejarah Bata dan Kalibata Batavile Batanagar
Sejarah Raket Yonex
Sejarah Heinekken Hadir di Indonesia
Sejarah Revlon dan Kepailitannya
Sejarah Korporasi
Sejarah Lions Club
Sejarah Hyundai versus Astra
Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Umat dan Bangsa
Korporatisasi: Asal Muasal
Sejarah Danone Dari Turki Usmani Hadir ke Indonesia
Sejarah Kalsiboard dan Etex Group

Tulisan ini dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya

Roti: Hikmah Dibalik Keprihatinan


Tentang roti sebenarnya adalah cerita yang mengandung unsur keprihatinan. Prihatin karena roti adalah salah satu makanan yang makin populer di negeri ini sebagai salah satu aternatif makanan pengganti nasi. Makanan selingan mengurangi ketergantungan pada beras yang hingga kini memang kita masih harus mendatangkannya dari Thailand atau Vietnam. Kepopuleran roti berarti adalah ketergantungan pada gandum yang hanya bisa ditanam di negeri-negeri subtropis. Gandum yang sehari-hari kita kenal melalui roti (dan tentu saja mie instan maupun tepung terigu) selama ini memang 100% kita impor dari negeri-negeri subtropiss seperti Amerika Serikat, Turki, Australia dan lain lain. Inilah sisi keprihatinan roti. Niat hati ingin melepaskan ketergantungan pada impor beras ternyata berubah menjadi ketergantungan impor gandum. Lepas dari mulut harimau masuk ke mulut buaya. Tetapi…. seprihatin apapun, jika kita jeli tentu kita bisa mengambil pelajaran menarik.

Pelajaran tentang roti itu berasal dari sebuah perusahaan yang sahamnya di bursa efek jakarta dicatat dengan kode “ROTI”. Bagi Anda yang tidak begitu mengenal lantai bursa, saya yakin paling tidak Anda sangat mengenal perusahaan ini melalu produknya berupa roti bermerek Sari Roti. Sebuah produk yang sangat mudah dijumpai pada supermarket dan minimarket yang tersebar dimana-mana.

sari roti

Tampil mengisi kekosongan merek nasinal produk roti

Apa pelajaran dari Sari Roti? Saya masih ingat belasan tahun lalu di Surabaya banyak sekali merek dengan produk seperti apa yang sekarang diproduksi oleh Sari Roti. Tiap pagi armada mereka berupa sepeda atau motor berkeliling kampung dan perumahan warga untuk menawarkan roti tawar dan sejenisnya. Beberapa merek yang saya masih ingat misalnya: Fran’s, Roti Tjwan Bo, Suzana. Ada juga tidak punya armada keliling tetapi produknya sangat dikenal di toko-toko yaitu Ramayana. Itu adalah beberapa merek lokal. Hanya dikenal di cakupan geografi yang kecil. Di daerah lain juga muncul merek-merek roti lokal dengan cakupan goegrafis yang juga kecil.

Seiring dengan pertumbuhan kepergian orang ke luar daerah karena makin mudahnya transportasi, untuk berbagai produk masyarakat merasa tidak cukup hanya dengan keberadaan merek lokal. Orang Jakarta yang sedang melancong ke Surabaya dan membutuhkan roti tidak familiar dengan merek-merek roti lokal. Sebaliknya juga orang Surabaya yang bepergian ke Jakarta dan membutuhkan roti tidak nyaman membeli roti merek setempat karena tidak dikenalnya. Makin hari ketidaknyamanan ini makin tumbuh seiring dengan booming penerbangan murah. Makin banyak saja orang yang bepergian ke berbagai daerah untuk berbagai kepentingan. Maka, kebutuhan akan adanya merek roti yang dikenal secara nasional makin tinggi. Disinilah Sari Roti berperan. Mengisi kekosongan kebutuhan masyarakat.

Keberadaan Sari Roti sebagai merek nasional mendapatkans sambutan luar baisa dari masyarakat. Ini terbaca misalnya dari pertumbuhan omset tiga tahun terkahir: Rp 612 M pada tahun 2010, Rp 813 M tahu 2011 dan terakhir Rp 1,190 pada tahun 2012. Pertumbuhan pasar yang mencerminkan sebuah antusiasme untuk ukuran omset yang mulai menapak bilangan Trilyun.

Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah roti.jpg

Antusiasme Sari Roti juga nampak sekali dari laporan arus kas perusahaan yang mengklaim menggunakan teknologi Jepang ini. Pada tahun 2012 perusahaan bernama lengkap PT Nippon Indosari Corporindo ini menanamkan investasi senilai Rp 429 Milyar. Perusahaan yang berdiri sejak 1995 ini membiayai investasi itu dengan kas hasil operasinya Rp 189 M dan kekurangannya dari pinjaan pihak lain. Investasi lebih banyak dibiayai dari dana pinjaman dari pada dana internal hasil operasi perusahaan. Sebuah cermin dari semangat ekspansi yang tinggi untuk makin mengokohkan diri sebagai satu satunya merek nasional untuk roti.

Bagaimana nasib merek-merek lokal? Tentu masih ada celah untuk tetap eksis. Tetapi tentu pertumbuhan mereka tidak bisa dibandingkan dengan yang merek nasional. Nah, Anda para praktisi bisnis bisa mengambil perlajaran dari Sari Roti. Ada peluang untu produk atau jasa apapun untuk tampil sebagai merek nasional. Merek yang dikenal dan tersebar secara nasional. Ada peluang Ekpansi!

**Tulisan Iman Supriyono ini pernah dimuat pada majalah Matan, terbit di Surabaya

Tisu Bekas


Sore itu jalan Bali lengang. Sengatan mentari di puncak musim kemarau nampaknya telah mencegah banyak orang untuk keluar rumah atau kantor. Jalanan lengang. Lalu lintas di jalan yang berada di tengah kota Surabaya ini pun lancar. Mengemudi pun jadi santai.

jorok aaah……

Jalanan memang panas. Tetapi, lengangnya jalan telah menjadi pendingin tersendiri. Alunan lagu lagu santai dari sebuah radio FM pun makin mendinginkan hati. Dalam suasana seperti itu, tiba-tiba saja saya terkejut oleh meluncurnya beberapa potong tisue bekas dari jendela sebuah mobil persis di depan saya. Tangan seorang dari dalam mobil mewah Land Cruiser hijau metalik B 58 CU telah melemparkan begitu saja tisu bekasnya ke jalanan.  

♦♦♦♦

Beberapa petugas sedang membersihkan selokan. Aneka sampah telah dibersihkan dari saluran air yang menembus perkampungan padat di pinggiran surabaya itu. Tas plastik, kemasan sabun cuci, bekas kemasan aneka kue, minuman, makanan dan bermacam bahan bahan bekas berbahan plastik telah dibersihkan. Selokan pun nampak bersih.
Beberapa saat selokan masih tampak bersih. Tetapi ternyata kondisi itu tidak bertahan lama. Segeralah tumpukan sampah memenuhi sekujur selokan. Semuanya berasalal dari masyarakat penghuni kampung nan padat itu. Mereka membuang sampah begitu saja ke selokan. Kerja petugas kebersihan seolah tak bermakna. Sia-sia.
♦♦♦♦
Pembaca yang antusias, tidak ada seorangpun yang nyaman dengan sampah dan kotoran. Kita mandi untuk menghilangkan ketidaknyamanan karena badan yang kotor. Ketidaknyamanan karena pakaian kotor telah “menyuruh” kita untuk menanggalkannya dan menggantinya dengan yang bersih. Ketidaknyamanan karena rumah yang kotor telah menggerakkan kita untuk menyapu, mengepel, atau membayari pembantu rumah tangga untuk melakukannya. Itulah tanda bahwa sebagai manusia, kita dibekali dengan insting dan perasaan dasar untuk menghindar dari kotoran. Menghindar dari sampah.

Apa yang dilakukan oleh pengendara atau penumpang land cruiser di jalan Bali tidak lain terdorong karena perasaan atau insting itu. Mereka tidak nyaman sampah memenuhi ruangan di dalam mobil mewahnya. Mereka tidak suka tisue bekas yang mungkin telah dipakai untuk mengelap ingus atau korotan-kotoran yang menjijikkan lain tetap berada dalam mobil yang harganya berbilang milyar itu. Maka, mereka pun membuanya.

Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah tisu-bekas.jpg

Demikian juga yang dilakukan oleh warga kampung. Mereka tidak ingin tumpukan sampah berserakan di dalam rumahnya. Apalagi kebanyakan kampung itu brerisi rumah-rumah kecil. Rumah-rumah petak mereka yang sempit tentu sangat terganggu dengan sampah. Maka, mereka pun membung sampah keluar rumah. Membebaskan rumah dari ketidaknyamanan.

Sayang, mereka tidak sadar bahwa ulah mereka telah mengakibatkan orang lain merasa tidak nyaman. Bukan hanya satu atau dua orang. Yang dibuat tidak nyaman adalah masayarakat luas yang melintas jalan itu. Yang dibuat tidak nyaman adalah masyarakat yang berada di sekitar selokan itu. Memindahkan ketidaknyamanan pribadi menjadi ketidaknyamanan orang lain. Memindahkan ketidaknyamanan pribadi menjadi ketidaknyamanan bersama.

Pembaca yang antusias, perilaku seperti itu bisa juga terjadi dalam dunia bisnis. Mencari keuntungan dengan mengganggu orang lain. Dalam skala kecil bentuknya bisa seperti apa yang dilakukan para pedagang kecil pinggiran sungai, trotoar, taman kota dan tempat tempat umum lain. Dalam skala besar misalnya bisa berupa pabrik kimia yang begitu saja membuang air limbah di sungai. memikirkan keuntungan pribadi dan merugikan orang lain. Pebisnis raja tega. Seperti pembuang sampah di selokan kampung kumuh pinggiran Surabaya itu. Seperti pembuang tisue dari Land Cruiser mewah itu. Jangan ah!

Tulisan Iman Supriyono ini pernah dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya

Gedung Saja Tidak Cukup: Menara 165 Colliers


Raya TB Simatupang Jakarta Oktober 2012. Di tengah kemacetan lalu lintas Jakarta, jelang maghrib mobil yang saya tumpangi sudah terparkir rapi di halaman Menara 165. Sebuah gedung yang oleh para penggagasnya dimaksudkan sebagai simbol tonggak kebangkitan moral bangsa. Sederhananya: bangsa yang jaya dengan berpegang teguh pada nilai-nilai moral dan keluhuran. Tulisan “Allah” di puncak gedung yang terlihat indah seperti mahkota raja menjadi penegas simbolisme ini.

Tapi tujuan saya ke gedung berlantai 25 itu tidak ada hubungannya dengan simbolisme gedung. Bersama direktur sebuah perusahaan klien SNF Consulting, kantor saya, kedatangan sore itu bertujuan untuk mencari ruang yang bisa disewa. Ruangan yang nantinya akan difungsikan sebagai kantor untuk klien yang bergerak di bidang pengambang properti itu.

Di lobi gedung, seorang petugas front office melayani dengan ramah. Terjadilah dialog singkat tentang kondisi sekilas gedung. Beberapa informasi awal untuk calon penyewa. Walaupun belum memadai, informasi itu cukup membantu memberikan gambaran sebelum petugas marketing datang. Sambil menunggu, sempat juga saya mengamati suasana di lobi gedung yang di salah satu sisinya terdapat sebuah kafe itu.

menara-165-2

Menara 165 dengan manajemen Colliers

Tak lama kemudian petugas marketing datang. Connie I Nurhayati. Itulah nama perempuan berambut panjang itu sebagaimana yang saya baca dari kartu nama berlogo Colliers International itu. Karena memang menjadi tugasnya, ia bisa menjelaskan dengan detail segala sesuatu tentang gedung yang pengelolaannya dipercayakan kepada perusahaan tempatnya bekerja yang berpusat di Seattle-USA. Tentang harga sewanya, tentang service charge, tentang listrik, telepon, dapur, keamanan, perusahaan-perusahaan lain yang sudah berkantor di gedung ini, dan sebagainya. Termasuk tentang keberadaan lantai 25 yang semula didesain untuk masjid dan kemudian diubah hanya menjadi mushola internal dengan alasan keamanan bagi para penyewa. Untuk memantapkan, sebelum berpamitan saya pun diajaknya untuk meninjau ruangan yang masih kosong dan tersedia untuk di sewakan di salah satu lantai.
•••

Pembaca yang baik, apa yang Anda tangkap dari suasana pada tulisan singkat di atas? Bisa bermacam-macam. Tetapi saya akan mengajak Anda merenung tentang satu hal penting: uang saja tidak cukup. Lho, apa hubungannya? Saya mengajak Anda merenungkan hal ini karena kebetulan saya pernah mengikuti training ESQ. Disamping materi inti tentang ESQ, pada training itu saya memperoleh informasi cukup detail tentang gedung Menara 165. Sebuah gedung yang dibangun dengan militansi tinggi untuk sebuah tujuan mulia. Gelang plastik warna putih yang melingkar di pergelangan tangan para trainer menjadi simbolnya. Gelang yang tidak akan dilepas sebelum gedung kebanggaan itu benar-benar berdiri berdiri tegak dan berfungsi.

Dengan perjuangan yang panjang dan pengumpulan dana dari puluhan atau bahkan ratusan ribu alumni ESQ, akhirnya gedung itu pun berdiri. Bahkan kini sudah beroperasi. Sore itu saya melihat beberapa ruangan yang sudah aktif dimanfaatkan sebagai kantor. Sebuah keberhasilan yang harus diapresiasi. Tentu gelang plastik itu kini sudah dilepas oleh team ESQ.

Hanya ada yang sedikit mengganjal: mengapa Colliers? Mengapa Mbak Connie tidak berjilbab? Mengapa masjid di lantai 25 beralih fungsi sebagai mushola internal? Ganjalan yang menjadi sebuah pelajaran. Pelajaran bahwa membangun gedung secara fisik saja tidak cukup. Dibutuhkan brand dan kemampuan manajerial yang kredibel untuk mengelola gedung supaya dipercaya para penyewa yang di kawasan Simatupang banyak berkantor perusahaan-perusahan pertambangan kelas dunia. Itu semua ada pada Colliers International yang memang sudah berjaringan global dan profesional di bidangnya sejak tahun 1976.

Karena Colliers yang mengelola –bukan keluarga besar ESQ sebagai pembangun dan pemilik gedung- tentu saja segala sesuatunya ditentukan berdasarkan standar perusahaan global berkaryawan lebih dari 15 ribu itu. Mbak Connie sebagai sales yang tidak berjilbab –bahkan cenderung berpakaian minim, tidak seperti tradisi tim ESQ- dan dianulirnya fungsi masjid pada lantai 25 menurut hemat saya termasuk bagian dari standar keamanan Colliers. Hikmahnya: mari membangun kemampuan manajerial, kepercayaan dan merek! Idealisme saja tidak cukup. Memiliki gedung saja tidak cukup. Uang saja tidak cukup. Mari bekerja keras meraih kepercayaan manajerial dan merek unggul seperti yang telah dimiliki oleh Colliers!

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Baca juga:
Korporatisasi perusahaan keluarga
Korporatisasi menghindari pseudo CEO
Waskita Beton digugat pailit: anak sakit induk sakit
Harapan BSI, nyata atau fatamorgana
BUMN berjamaah merger akuisisi
Wika gali lobang tutup lobang
SWF antara harapan dan belenggu
Corporate life cycle
Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Umat dan Bangsa
Korporatisasi: Asal Muasal

Artikel ini pernah dimuat di majalah BAZ, terbit di Surabaya, dengan judul “Colliers”, ditulis oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting

Jagongan Manten: Tradisional Yang Mendunia


Jagong Manten

Oleh Iman Supriyono, konsultan dan penulis buku2 bisnis pada SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com

Surabaya Oktober 2012. Jam setengah tujuh persis saya dan istri sudah berada di Grand City untuk acara resepsi pernikahan itu. Di komplek perbelanjaan megah itu saya sebenarnya merasa tidak nyaman karena tidak bisa menghadiri sholat isya berjamaah saat adzan berkumandang. Kenikmatan harian lima waktu petang itu rela saya tinggalkan. Khusus untuk sebuah acara menarik. Resepsi pernikahan putra seorang sahabat dan juga senior di Majelis Ekonomi PWM Jatim, Pak Najikh.

Di samping faktor Pak Najikh, acara ini sangat menarik karena dari undangannya sudah nampak sesuatu yang berbeda. Jika pada umumnya hajatan seperti bermodel standing party, acara kali ini lain. Formatnya round table. Pada undangan sudah tertera di meja mana kita harus memposisikan diri.

Begitu tiba di meja yang telah ditentukan dan acara dimulai, saya jadi teringat dengan gaya hajatan di kampung halaman kala resepsi pernikahan saya hampir dua puluh tahun lalu. Ketika itu di kampung belum dikenal model standing party. Orang-orang menyebutnya jagongan manten. Suasananya mirip-mirip round table. Para undangan duduk santai di kursi sambil ngobrol santai dengan sesama tamu. Di depan kursi ada meja dengan aneka hidangan khas orang desa. Tamu pun menikmati hidangan dengan hiburan yang juga khas orang desa: musik gamelan jawa.

Di acara Pak Najikh itu, spirit jagongan-nya terasa. Para tamu juga terlihat asyik ngobrol santai, makan dan menikmati hiburan. Yang agak berbeda dengan suasana di desa adalah jenis hidangan dan hiburannya. Hidangannya menu modern dengan hiburan juga musik modern. Kehadiran Tompi dan Soimah nampak sekali membuat para tamu undangan terhibur.

••••

An inspiring wedding reception. Saya jadi terinspirasi oleh suasana di Grand City malam itu. Bersama istri saya terinspirasi tentang acara serupa yang suatu saat nanti insyaallah pasti akan digelar. Ada 7 yunior yang suatu saat nanti pasti menikah. Bahkan bisa jadi tidak lama lagi karena si sulung sudah kuliah.

jagongan manten impian
jagongan manten impian

Ada inspirasi sederhana, ada pula yang serius. Yang sederhana saya ingin nanti resepsi pernikahan yunior tidak ikut gaya standing party. Ingin ikut gaya jagongan manten khas orang desa. Seperti acara pak Najikh dengan sedikit perbedaan pada musik dan menunya: khas jawa. Gamelan jawa dengan menu wong ndeso. Musik kesukaan sejak kecil yang makin jarang bisa dinikmati melalui pagelaran live. Menunya: telo godhog, kacang godhog, soto, rawon, pecel… dan sejenisnya.

Inspirasi yang serius saya sangat terkesan dengan kehadiran tamu dari berbagai negara malam itu. Tentu ini terkait dengan si pengantin pria yang memang lulusan perguruan tinggi di Amerika. Tentu saja para sahabat dekatnya yang berasal dari berbagai negara akan senang bisa datang ke resepsi pernikahan di negeri lain hitung-hitung sambil rekreasi.

Keberadaan tamu asing juga sangat terkait dengan bisnis sang tuan rumah yang memang produknya sebagian besar diekspor. Tentu kolega bisnisnya dari berbagai negara juga banyak. Merekalah yang malam itu datang menjadi tamu resepsi. Itulah kenapa sambutan dalam acara itu disampaikan dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Saya memimpikan sebuah resepsi bercitarasa tradisional jawa dengan format jagongan. Bukan standing party. Tamu dari berbagai negara terhibur dengan musik gamelan yang bernilai seni tinggi nan menghibur. Untuk itu sambutan maupun pembawa acara harus menyampaikannya dalam beberapa bahasa. Itulah keinginan saya. Anda ingin juga?

Pertanyaannya, bagaimana mengubah mimpi menjadi sebuah kenyataan? Jawabnya: kita harus berbisnis kelas dunia. Berbisnis dengan kolega dari berbagai negara. Anak-anak kita juga harus belajar ke luar negeri sehingga teman-teman mereka akan berasal dari berbagai negara. Tentu keduanya perlu kerja keras. Saya sedang bekerja keras untuk pengembangan bisnis. Termasuk pengembangan ke luar negeri. Yunior yang kini kuliah di RRC diharapkan bisa menjadi pemicu kerja keras ini. Kerja keras menjadi kelas dunia tanpa menghilangkan identitas diri. Simbolnya adalah sebuah resepsi pernikahan dengan tamu dari berbagai negara. Jadualnya diatur sedemikian rupa sehingga para hadirin tetap bisa sholat berjamaah di masjid begitu adzan berkumandang. Bahasa pengantarnya Indonesia-Inggris-Arab-Mandarin dengan musik dan menu khas jawa ala jagongan manten. Semoga!

tulisan ini dimuat di majalah Matan, terbit di Surabaya.

Jabal Nur: Sampah & Visi Bisnis Kelas Dunia


Celana training, kaos, sepatu ket, topi, dan dua botol air minum sudah siap. Mentari belum meninggi ketika pendakian menuju puncak siap dimulai pagi itu. Suasana hati riang sekali demi akan mendaki. Kesukaan lama yang semakin jarang terealisasi. Sibuk dan sulitnya mencari kawan yang tidak sibuk menjadi alasan. Sangat tidak asyik jika harus mendaki sendirian.

Pagi itu di depan mata nampak berdiri kokoh gunung bagu cadas. Gunung Nur alias Jabal Nur sebutanya. Sebuah gunung yang menurut wikipedia berketinggian 642 meter. Sebuah gunung yang bagi umat Islam sangat istimewa karena di puncaknya terdapat Gua Hira. Sebuah gua dimana Nabi SAW mererima wahyu pertama.

Puncak Jabal Nur memang istimewa. Tidak heran bila pagi itu pendakipun sudah menyemut. Jalur pendakian yang sudah dibangun dengan undakan bersemen dipenuhi para pendaki dengan aneka warna kulit, laki perempuan, tua muda.

Yang tidak pernah lupa dibawa oleh pendaki adalah botol air minum. Ini tentulah terkait dengan udara yang panas menyenagat khas alam gurun topis. Tidak peduli hari masih pagi. Bahkan banyak diantaranya yang membawa lebih dari satu botol. Saya pun membawa dua botol. Satu botol air putih, satu lagi botol jus jeruk. Keduanya baru keluar dari kulkas sebuah toko. Dingin segar di tengah terik menyengat mentari pagi.

Langkah demi langkah terangkai. Sebotol minuman habis. Melangkah lagi. Sebotol lagi habis saat langkah belum lagi sampai puncak. Tidak heran bila kios minuman yang ada di beberapa titik pendakian selalu dipadati pembeli. Mendaki yang menguras tenaga dipadu dengan udara yang menyengat menjadi pemicunya. Efek sampingnya: sampah botol minuman berserakan di sepanjang jalur pendakian. Dari kaki gunung sampai Gua Hira di puncaknya.

Pemerintah sudah menyediakan beberapa tempat sampah untuk menampungnya. Akan tetapi nampaknya banyak orang tidak sadar akan kebersihan. Membuang membuang botol bekas kemasan minuman sembarangan. Jadilah jalur pendakian mirip dengan tempat sampah berundak. Penuh sampah dari kaki gunung sampai Gua Hira. Astaghfirullah.

•••

Pemerintah memanglah pihak yang paling bertanggung jawab menjaga agar lingkungan tetap bersih dan indah. Pajak yang dibayarkan oleh masyarakat sebagiannya memang harus dialokasikan untuk kepentingan bersama ini. Maka semestinya masyarakat tinggal menikmati hasil kerja keras mereka melalui pembayaran pajak. Menikmati lingkungan yang asri. Obat pelipur pelunak hati.

Tetapi apa daya, pemerintah negari manapun tidak selalu berkemampuan baik. Kemampuan memegang tanggung jawab itu sering kali terganggu oleh praktik korupsi dan mismanagement. Jadilah sampah berserakan bukan pemandangan aneh di berbagai negara. Juga di Jabal Nur.

Apakah kita hanya diam? Dengan membayar pajak, diam pun sebenarnya juga sudah berperan. Rupiah yang dibayarkan melalui pajak adalah peran itu. Tetapi tentu saja akan lebih baik jika kita bisa berperan lebih.

Apa peran lebih itu? Dalam kacamata para entrepreneur dan profesional bisnis di berbagai perusahaan, peran itu terangkum dalam sebauh terminologi: corporate social responsibility alias CSR. Tanggung jawab sosial perusahaan. Tanggung jawab sosial untuk berperan lebih (tidak sekedar dengan membayar pajak) untuk perbaikan masyarakat secara terus-menerus.

Sampah di Jabal Nur – Gua Hira membutuhkan kehadiran SNF Consulting dan perusahaan-perusahaan kelas dunia lainnya. Foto: koleksi pribadi

Maka, ketika melihat sampah berserakan jabal nur, terselip sebuah visi dan niat menggairahkan: menjadikan perusahaan tempat saya berkarir, SNF Consulting, berkemampuan CSR mengatasinya. CSR dengan memberikan program edukasi budaya bersih bagi masyarakat muslim seluruh dunia yang sedang berrziarah ke tanah suci. Mendidik budaya mejaga lingkungan sebagai karunia-Nya yang luar biasa. Untuk kebersihan tanah jabal nur, tanah suci, dan untuk “oleh-oleh” saat pulang ke negerinya.

Saya begitu galau melihat gunung sangat bersejarah itu penuh sampah. Saya yakin Anda pun demikian. Akan tetapi Makah sangat jauh dari domisili perusahaan saya yang di Surabaya. Jauh juga dari domisili perusahaan Anda. Maka, CSR itu baru bisa teralisasi dengan mudah bila perusahaan kita juga beroperasi di Saudi. Beroperasi di Saudi pun tentu tidak bisa langsung. Harus didahului dengan beroperasi di negeri-negeri terdekat. Artinya, dibalik mimpi peran CSR edukasi masyarakat muslim seluruh dunia itu juga terselip visi untuk membangun sebuah perusahaan berkelas dunia. Mari kita tolong-menolong untuk mencapainya. Duhai Jabal Nur…tunggu peran kami. Duhai Dzat Penguasa Jabal Nur….tolonglah kami.

Tulisan ini pernah dimuat di majalah Matan, terbit di Surabaya

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Atau ikut KELAS KORPORATISASI

Baca juga:

Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Umat dan Bangsa
Korporasi Pancasilais Nasionalis
Perusahaan Dakwah: Hayyu
Menjadi Korporasi Sejati

Kang Di: Persahabatan Indah Dunia Akhirat


Sore itu baru saja saya mendapatkan berita sedih dari kampung halaman. Ibu saya sedang berduka. Air matanya meleleh. Dukanya begitu mendalam. Duka karena ditinggalkan seorang anggota keluarga di luar kota. Sumadi, begitu nama almarhum, meninggal dunia beberapa saat sebelum saya memulai menggerakkan jemari menulis untuk kolom ini.

Tetapi duka ibu kali ini bukan sembarang duka. Bukan sembarang lelehan air mata. Saya bisa merasakannya dalam pembicaraan telepon sore ini. Yang meninggal memang saudara sepupu. Tetapi bukan sembarang saudara. Kang Di, demikian almarhum biasa dipanggil, sejak kecil tinggal di nenek saya yang tidak lain adalah ibunda dari ibu saya. Praktis almarhum adalah kawan bermain ibu saya. Kawan berbagi suka dan duka dalam kondisi ekonomi seadanya sebagai orang desa sederhana. Sebuah ikatan kekeluargaan sekaligus persahabatan.

Persahabatan

Menurut cerita keluarga yang mendampingi, saat saat menjelang ajalnya, Kang Di menanyakan keberadaaan ibu. Kang Di menunggu kehadirannya saat menjelang ajal tiba. Tentulah kehadiran yang sangat bermakna bagai almarhum. Tetapi sayang karena terpisah kota ibu baru bisa datang saat Kang Di sudah tiada. Makin deraslah air mata ibu.

•••

Setelah berjuang keras menembus kemacetan lalu lintas Jakarta, mobil yang saya kemudikan tiba juga di halaman sebuah rumah besar. Ini adalah pertama kali saya bertandang ke rumah mewah bercat putih di komplek perumahan Permata Hijau di Ibu kota ini. Karena GPS di hand phone saya sedang tidak berfungsi, menemukan alamat ini adalah hasil dari perjuangan beberapa kali bertanya dan keblasuk di jalanan. Maka, tiba di rumah Pak Zain, begitu nama lelaki 70 tahun ini dipanggil, adalah sebuah kenikmatan luar biasa.

Pak Zain dan istri menyambut dengan hangat. Mereka berdua adalah sahabat karib almarhum ayah mertua saya. Dengan demikian ia tentu saja juga sahabat karib ayah orang yang pagi itu ada di samping saya, istri saya. Pertemuan silaturahim ini menjadi istimewa karena Pak Zain baru mendengar kabar meninggalnya ayah mertua saya setelah hampir setahun kepergiannya. Sambutanannya begitu hangat. Cara memanggil saya pun menunjukkan betapa dekatnya keluarga ini dengan ayah mertua. Ia mamanggil saya persis seperti cara ayah mertua memanggil. Langsung nama. Tidak didahului sapaan bapak, mas, bang atau apapun. Cukup panggil nama: Iman

Pertemuan berlangsung asyik panjang lebar. Di sela pembicaraan saya sempat menanyakan bagaimana kisahnya hingga bisa mencapai prestasi ekonomi yang hebat. Diapun kemudian berkisah tentang sebuah cara alami untuk tumbuh dari bawah. Banyak menolong orang. Orang-orang yang pernah ditolongnya kemudian menjadi sahabat karib. Sampai akhirnya ada salah satu orang yang ditolong itu mendapatkan posisi bagus dalam percaturan ekonomi nasional. Posisi bagus inilah yang kemudian menariknya terbawa dalam pusaran ekonomi utama nasional. Persahabatan hangat yang berbuah prestasi ekonomi.
•••
Pembaca yang baik, memiliki prestasi ekonomi tentulah menjadi harapan semua orang. Surat An Nisa ayat 9 mengajarkan agar kita tidak meninggalkan generasi yang lemah. Yang dimaksud generasi lemah menurut Tafsir Ibnu Katsir adalah lemah ekonomi. Maka mengupayakan agar generasi penurus memiliki kekuatan ekonomi yang kokoh adalah bagian penting dari perjuangan agama.

Bagaimana menggapai kekuatan ekonomi? Persahabatan adalah salah satu kuncinya. Pak Zain merasakan bagaimana persahabatan yang dirangkai dengan menolong orang lain mengantarkannya pada posisi ekonomi yang kuat. Tentu tidak tepat kalau menolong orang lain didasari dengan harapan untuk memperolah imbalan ekonomi. Namun demikian efek positif ekonomis dari persahabatan tentu juga tidak perlu dihindari.

Kebaikan persahabatan yang tulus tidak hanya pada kehidupan di dunia. Persabatan Ibu dengan Kang Di memberi pelajaran berharga. Begitu mendengar berita duka itu, saya dan keluarga langsung menggelar sholat ghoib untuk jenazah Kang Di. Bagi seorang yang meninggal, didoakan oleh orang lain melalui sholat adalah sebuah bantuan yang tidak tergantikan dengan apapun. Sore itu saya sekeluarga sebagai anak dari sahabat Kang Di mendoakannya. Inilah nilai persahabatan yang tembus sampai kehidupan akhirat. Mari belajar tentang hikmah bersahabat dari Pak Zain dan Kang Di. Persahabatan dunia akhirat. Kang Di….kasih sayang-Nya menyertaimu di negeri abadi…dari kami anak cucu sahabat karibmu. Aamiin.

Tulisan ini dimuat di majalah Mulia, terbit di surabaya

Sensei Munzaid: Obituari Untuk Seorang Guru Pengukir Jiwa


Ruang kelas IF SMP Negeri I Caruban pada suatu pagi tahun 1984. Saya duduk di bangku terdepan sayap kanan. Persis di dekat pintu keluar kelas. Bu Daliyanti sedang memberikan pelajaran Bahasa Indonesia. Suasana kelas agak gaduh karena suatu hal.

IMG-20190722-WA0026

Pak Munzaid bersama para muridnya. Foto kiriman Bu Handa, guru Bahasa Indonesia  yang juga banyak belajar dari Pak Munzaid

Tiba-tiba Bu Daliyanti yang sabar itu menunjukkan sedikit kemarahannya. Ketika itu saya juga terlarut pada suasana tidak konsen. Tiba-tiba seorang kawan yang duduk persis di belakang saya menyampaikan bahwa bu Daliyanti memanggil saya untuk maju. Karena tidak tahu, saya pun maju. Begitu tiba di dekatnya, Bu Daliyanti menanyakan untuk apa saya maju ke depan kelas. Kawan-kawan pun bersorak menertawai. Barulah saya sadar telah terperangkap keusilan kawan. Malu di depan kelas bermerah wajah. Maju di depan kelas padahal tidak dipanggil oleh bu guru. Malu diusili kawan belakang bangku.

•••

September 2012. Sore itu seorang kawan mengirim SMS. Ia menanyakan kebenaran sebuah berita duka. Pak Munzaid, guru kami saat di SMP, meninggal dunia. Segera saya crosscheck berita ini. Dan ternyata memang betul. Pak Munzaid telah berpulang menghadap-Nya.

Ingatan saya kembali menerawang di bangku kelas IF bersama kawan-kawan sekelas. Saat sering menjadi sasaran usil kawan-kawan. Masa-masa rendah diri sebagai anak desa sederhana. Saat sakit hati menjadi korban usil tanpa ada yang membela dan juga tidak bisa membela diri.

Orang bilang roda berputar. Suasana kelas IF saat awal awal berada di bangku SMP berubah 180 derajat pada saat-saat terakhir saya berada di sekolah terbaik di kota kecil Caruban ini. Pada hari-hari terakhir di kelas 3A, saya mendapatkan kehormatan luar biasa saat dipanggil maju di depan seluruh siswa sebagai peraih nilai ujian akhir (ketika itu namanya EBTANAS) tertinggi ke-2. Nomor 2 dari sekitar 300-an kawan seangkatan. Prestasi yang sangat melambungkan optimisme ketika itu.

Dihormati. Percaya diri. Tidak lagi menjadi sasaran usil. Tidak lagi menjadi bulan-bulanan. Bahkan bekal percaya diri ini berlanjut ketika berada di bangku SMA. Tahun pertama berseragam celana abu-abu saya dipiliha oleh kawan-kawan menjadi ketua kelas. Tahun kedua dipilih menjadi ketua OSIS. Tetap dengan prestasi akademik tinggi.

Siapa yang paling berjasa di balik proses pembelajaran dari minder menjadi percaya diri? Tidak lain adalah Pak Munzaid. Yaa… beliau adalah pembina ekstra kurikuler karate. Melalui sentuhan keguruan beliau di lapangan sekolah yang difungsikan sebagai dojo karate, rasa percaya diri saya tumbuh. Menggeser rasa minder dan pesimisme. Perlahan pula prestasi akademik terkerek secara menakjubkan.

karateka kecil editMental Karateka Mental Entrepreneur Dari Pak Munzaid

Sore itu, sosok guru olah raga berbadan tambun berambut ikal nan berwibawa itu seolah hadir kembali. Sosok yang ikhlas mengajar dalam kondisi keterbatasan ekonomi khas seorang guru jaman itu. Saya masih ingat, ekstra kurikuler karate ketika itu bisa diikuti oleh para siswa tanpa pungutan bayaran serupiah pun. Tentu tidak ada uang kami para murid yang mengalir ke Pak Munzaid sebagai pelatihnya.

Saat menyelesaikan tulisan ini, saya sempat berkomunikasi dengan seorang adik kelas yang juga siswi beliau baik melalui mata pelajaran olah raga maupun dojo karate. Komentarnya, “Pak Munzaid menjalankan perannya sebagai guru dengan pendekatan yang sangat disukai murid-muridnya. Beliau bisa memposisikan diri sejajar dengan murid utamanya yang kurang perhatian atau bandel. Kalo bercanda dengan kami-kami para muridnya, beliau tidak pernah marah walaupun dianggap setara layaknya seorang kawan bermain. Tapi kalau sedang mengajar, beliau serius dan berwibawa. Beliau serius saat latihan karate. Bahkan kesukaan bercanda yang sangat khas Pak Munzaid tidak pernah terlihat di dojo karate. Kami merasakannya sebagai pendidikan mental. Murid-muridnya para karateka bukanlah orang sembarangan”

Sebuah kesan yang tetap terukir di sanubari setelah seperempat abad terpisah waktu. Bagi siswi yang kini Bu Notaris ini, Pak Munzaid tentu bukan sembarang guru. Pilihan karir sebagai notaris yang pastilah membutuhkan keberanian khas seorang entrepreneur ini tentu tidak bisa lepas dari pendidikan mental karate Pak Munzaid.

Saya sendiri bukan termasuk murid istimewa bagi beliau. Murid kebanyakan saja. Tetapi, jiwa keguruan beliau telah menyentuh sanubari saya secara mendalam. Sentuhan itu telah mengikis rasa rendah diri dan menggantinya dengan percaya diri. Sebuah modal luar biasa untuk prestasi di bangku sekolah. Juga modal luar biasa bagi kehidupan di kemudian hari sebagai seorang entrepreneur melalui SNF Consulting tempat saya berkarya hingga kini. Saya merasakannya sebagai sentuhan edukatif luar biasa dari Pak Munzaid. Sentuhan mental karateka dari Sensei Munzaid. Saya yakin, kini semuanya telah menjadi kiriman pahala yang tidak pernah terputus dalam belaian kasih sayang-Nya. Ilmu yang bermanfaat sebagai amal jariyah. Doa kami para murid untukmu Sensei Munzaid. Aamiin.

Bacaan-bacaan pemicu amal jariyah Anda
Wakaf Korporat
Peredam Risiko Investasi Wakaf
Wakaf Modern Untuk Keabadian Amal & Kemerdekaan Ekonomi
Konversi Kotak Infaq ke Kotak Wakaf
Kesalahan Wakaf Saham Dan Perbaikannya
Wakaf Untuk Beasiswa: Fulbright Dari Timur
Wakaf Moncer dengan Puasa Infaq
Wakaf Para Alumni untuk Adik Kelasnya
Wakaf Agar Rp 10 Triliun Tidak Melayang Tiap Tahun
Wakaf Uang
Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Umat dan Bangsa
Korporatisasi: Asal Muasal

Klik untuk bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI

Tulisan Iman Supriyono ini juga dimuat di Majalah Baz, terbit di Surabaya, dengan judul “Sensei Munzaid”

MA 60: pelajaran marketing menaklukkan CN 235 di kandang lawan


MA 60

Oleh Iman Supriyono, konsultan dan penulis buku-buku bisnis pada SNF Consulting, http://www.snfconsuting.com

Lampu tanda kenakan sabuk keselamatan baru saja padam saat saya membuka laptop untuk tulisan yang Anda baca ini. Pesawatan buatan Republik Rakyat China yang saya tumpangi telah terbang pada ketinggian jelajah. Penerbangan Banyuwangi Surabaya ini menjadi kesempatan pertama saya naik pesawat berkapasitas 60 tempat duduk ini. Sebuah kesempatan yang selalu saya nantikan: naik jenis pesawat yang belum pernah saya naiki. Ini adalah bentuk hobi yang sangat saya sukai sebagai kelanjutan penulisan skripsi tentang sayap pesawat terbang yang dulu saya tulis sebagai syarat kelulusan dari jurusan teknik mesin ITS spesialisasi aerodinamika belasan tahun lalu.

Pikiran saya melayang ke negeri tirai bambu saat berada di kabin pesawat berpenggerak propeler yang dioperasikan oleh Merpati ini. MA 60 ini juga menjadi sumber kekaguman itu. Bukan kagum karena teknologinya. Justru saya kagum kemampuan marketing dari negeri berpenduduk satu milyar lebih ini. Bagaimana ia sukses menjual sebuah pesawat yang bersaing head to head dengan ATR 72 nya Prancis ini. Hingga saya menulis artikel ini, MA 60 baru diproduksi sekitar 40 unit. Merpati membeli sejumlah 14 pesawat. Bayangkan bagaimana hebatnya China bisa meyakinkan manajemen Merpati dan Indonesia pada umumnya untuk mengoperasikan sebuah pesawat yang baru diproduksi dalam jumlah sedikit. Bandingkan dengan misalnya ATR 72 yang hingga kini telah diproduksi lebih dari 400 unit. Apalagi MA 60 juga belum disertifikasi oleh FAA, lembaga sertifikasi penerbangan federal Amerika yang biasanya selalu menjadi rujukan sertifikasi pesawat.

MA 60 yang mengalahkan CN 235 di kandang lawan

Makin kagum karena sebenarnya Indonesai juga punya CN 235. Sebuah pesawat propeler berkapasitas 35 penumpang yang higga telah diproduksi lebih dari 350 unit dan di pakai berbagai negara di sunia. Turki misalnya hingga kini masih memakai lebih dari 60 unit pesawat rancang bangun IPTN (kini PT DI) dan Cassa Spanyol (kini Airbus Military) ini. Bahkan saya membayangkan mestinya CN 235 lebih cocok untuk rute seperti Banyuwangi Surabaya. Dari 60 kursi pesawat bikinan pabrikan Xian di cina ini hanya terisi sekitar separuhnya. Andai saja menggunakan CN 235 tentu kursinya hampir terisi penuh. Jelas lebih efisien dari kacamata bisnis.

Lalu apa keuntungan bagi merpati? Saya coba merenung. Bagaimana proses berpikir pengambil kebijakan merpati hingga membeli pesawat yang belum disertifikasi FAA nya Amerika sementara CN 235 sudah? Saya menemukan jawaban menarik. Dengan pembelian 14 unit pesawat, Merpati menjadi operator terbesar untuk pesawat bermesin Pratt Whitney Canada ini. Posisi ini menajadikan nama Merpati terikut pada hampir pembicaraan atau publikasi apapun tentang pesawat ini. Sebuah simbiosis marketing yang saling menguntungkan. Apalagi kini Merpati sedang berbenah untuk tampil sebagai jembatan wisata untuk seluruh pelosokn negeri ini, termasuk bagi wisatawan asing. Wisatawan China yang datang kemari tentu bangga naik pesawat buatan negeri mereka.

Kepiawaian China dalam marketing ini tidak hanya di produk pesawat terbang. Banyak produk lain yang kita juga kagum dibuatnya. Produk telekomunikasi berupa hand set dan infrastruktur pendukungnya juga luar biasa. China sukses menjual produk telekomunikasi super murah dengan usia ekonomi yang pendek. Ini cocok sekali dengan perkembembangan teknologi telekomunikasi yang sangat pesat. Perangkat yang berusia ekonomi panjang dengan harga mahal seperti buatan eropa tidak cocok untuk kondisi perkembangan teknologi seperti ini.

China menemukan kunci-kunci marketing. Inilah yang harus dicari oleh para pengusaha atau pemasar. Menemukan sebuah kunci sehingga tembok marketing yang kadang terasa tebal bisa dibuka dengan mudah. Xian dengan MA 60 sukses bahkan mengalahkan CN 235 yang mestinya secara nasionalisme dan secara kualitas lebih diakui dunia. Bahkan secara kapasitas penumpang pun mestiny CN 235 lebih pas untuk penerbangan ke dan dari kota kecil seperti banyuwangi yang saya tumpangi sore itu. Kita mesti belajar marketing dari MA 60 ini. Bisa kan?

Tulisan ini dimuat di majalah Matan, edisi Agustus 2012, terbit di Surabaya

KPF: Koperasi Malaysia hadir di Makkah


Kali ini saya berbeda. Lima orang yang mengelilingi meja makan itu menyatakan ketidaksukaannya pada menu yang terhidang. Ada yang sama sekali tidak mau makan. Ada yang makan tetapi hanya sekedar mencicipi. Ada yang hanya makan nasi putih dengan sedikit sambal. Beberapa hari ini mereka memang disuguhi menu yang tidak familiar.

Mereka, kawan semeja makan itu, semua berlidah Indonesia. Lahir di Indonesia, hidup di Indonesia dan tentu saja menyukai menu Indonesia. Sementara yang terhidang di meja makan beberapa hari ini adalah menu Malaysia. Bedanya terasa pada aroma rempah yang menonjol. Ada sedikit kemiripan dengan masakan Padang. Berbumbu kental. Bedanya: aroma rempahnya yang sangat menonjol. Sangat tidak familiar dengan lidah indonesia.

Saya? Karena kegemaran traveling, lidah saya sudah terdoktrin: perasaan bisa dilatih. Apa yang menurut orang lain lezat bisa kita rasakan pula kelezatannya dengan melalui serangkaian latihan alias pembiasaan. Maka, ketika sedang berada di sebuah daerah manapun, saya selalu berusaha menikmati menu setempat. Asalkan saya yakin kehalalannya, apapun akan saya coba menikmatinya. Termasuk menu malaysia siang itu. Ini yang pada dibantah beramai ramai oleh kawan kawan semeja siang itu.

PKF: koperasi kelas dunia dari Malaysia hadir di Makkah

Ini kan di Makkah? Bukan di Kuala Lumpur? Mengapa harus menu Malaysia? Nah, pertanyaan ini menarik sekali untuk didiskusikan. Ya… diskusi meja makan siang itu memang terjadi di Cafetaria Hotel Dar Ummu Hani. Sebuah hotel berbintang sekitar 200 meter di depan pintu 1 Masjid Haram di Makkah. Mengapa menu Malaysia?

Selidik punya selidik, hotel berlantai 13 itu adalah milik Koperasi Permodalan Felda Malaysia Berhad, sebuah perusahaan yang berkantor pusat di Malaysia. Karena dimiliki dan dikelola oleh orang Malaysia, wajar bila pasar utama yang disasar adalah tamu dari Malaysia. Dan karena tamunya memang mayoritas dari Malaysia, wajar jika kemudian menu yang dihidangkan juga menu Malaysia. Menu berbumbu kental dengan aroma rempah yang tajam.

Ada dua hal yang menarik dari hotel dari halamannya kita bisa melihat menara jam tertinggi dunia di kompleks Masjid Haram itu. Pertama adalah kembali kita melihat peran perusahaan-perusahaan Malaysia di pentas global. Petronas, Rotiboy, Proton, May Bank, dan CIMB Bank adah beberapa yang sudah dikenal kiprahnya di tanah air. Koperasi Permodalan Malaysia Berhad yang disingkat KPF nampak mulai menyusul.
ihram

Kedua adalah bentuk badan usahanya: Koperasi. KPF yang beraset lebih dari 9 Miliar Ringgit alias sekitar Rp 25 Triliun ini memberi inspirasi tersendiri bagi kawan kawan yang berkarya melalui koperasi. Satu lagi bukti bahwa koperasi pun bisa menjadi kelas dunia. Koperasi pun bisa menjadi perusahaan yang beroperasi melampaui batas batas negara. Ini melengkapi daftar koperasi kelas dunia yang produk atau layanannya sudah sangat dikenal di tanah air: susu bendera dan es krim campina oleh koperasi Frieslandcampina Belanda-Jerman, susu Anmum dan Anlene oleh Koperasi Fonterra Selandia Baru, Rabo Bank oleh koperasi Rabo dari Belanda.

Nah, bagi kawan kawan yang tidak beraktivitas di sektor koperasi, ini tetap menjadi inspirasi yang luar biasa. Koperasi sebagai sesuatu yang selama ini dicitrakan selalu kecil, tidak profesional, tidak berprestasi, sekedar papan nama untuk mengejar proyek pemerintah….ternyata tidak sepenuhnya benar. Sesuatu yang selama ini dipandang sebelah mata bisa membuktikan eksistensi kelas dunianya! Ada koperasi koperasi kelas dunia. Ada koperasi koperasi raksasa. Ada koperasi koperasi beraset puluhan, ratusan bahkan ribuan trilyun Rupiah. Semua tergantung visi, kerja keras, dan profesionalisme pengelolanya. Hotel Dar Umm Hani di Makkah dengan menu Malaysianya menjadi saksi. Semoga kelak akan ada kooperasi kita yang berkelas dunia. Yang mampu menjadi pemegang tongkat estafet format ekonomi yang dicanangkan oleh bapak koperasi dan bapak bangsa Bung Hatta. Agar nanti kawan kawan tidak perlu risau dengan menu Malaysia lagi. Agar nanti menu Indonesia berkibar dimana mana. Seperti KPF. Berkelas dunia……Koperasi….Bisa! Anda pun…bisa!

Tulisan ini dimuat di majalah BAZ, terbit di Surabaya