MLM, Bisakah Menjadi Pilihan?


Amway, Naturan & Co, Herbalive Nutrition Ltd, Vorwerk, Infinitus. Itulah 5 besar perusahaan yang menjual produknya dengan metode multilevel marketing alias MLM menurut Yahoo Finance. Omzet tahun 2021 berturut-turut adalah USD 8,90 miliar, USD 7,20 miliar, USD 5,80 miliar, USD 4,60 miliar dan 3,95 miliar.

Besar atau kecil?  Perusahaan MLM umumnya menjual barang-barang konsumsi sehari hari. Consumer good. Lembaga riset bisnis terkemuka Global View Research (GVR) melaporkan bahwa tahun 2022 total penjualan perusahaan-MLM adalah USD 200,1 miliar.  Segmen health and wellness product berkontribusi 36% terhadap penjualan tersebut. Persentase terbesar kedua adalah cosmetics and personal care. Ketiga adalah household goods and durrables. Selangkapnya ditampilkan pada gambar berikut.

Sebagai pembanding, berikut ini omzet tahun 2022 beberapa perusahaan consumer good yang menjual produknya dengan cara non MLM. Nestle beromzet USD  98,87 miliar, P&G USD 80,97 miliar, Unilever USD 63,11 miliar.  Tiga perusahaan yang produknya sangat dikenal di tanah air ini sudah jauh lebih besar dari pada seluruh perusahaan MLM.

Masih menurut GVR, wilayah Asia Pasifik  berkontribusi 44% terhadap pasar MLM. Terutama adalah kota-kota lower tiers. Secara alami ini diakibatkan oleh kurangnya toko secara fisik dan kurangnya pendidikan. Konsumen lebih suka mendapatkan rekomendasi produk kesehatan dan kecantikan secara personal dari para tenaga penjualan. Kesehatan dan kecantikan konsumen, serta perawatan pribadi, adalah kategori produk unggulan yang mendorong perkembangan di wilayah ini. Konsumen di Asia Pasifik cenderung lebih memperhatikan kesehatan dan daya tarik mereka. Penurunan berat badan, vitamin, dan perawatan kulit dengan bahan alami adalah beberapa produk yang mendapatkan popularitas di kalangan pelanggan. Demikian kesimpulan riset GVR lebih lanjut.

&&&

Untuk melihat lebih dalam tentang perusahaan MLM, mari kita ambil salah satu contoh. Si terbesar yaitu Amway tidak tercatat di lantai bursa. Jadi kita tidak bisa melihat datanya secara cukup. maka mari kita lihat si nomor dua yaitu Herbalife yang sudah listed.

Herbalife dididirikan oleh Mark R Hughes tahun 1980. Tahun 1986 Herbalife melakukan IPO di Nasdaq. Tahun 2002 perusahaan yang produknya juga cukup dikenal di Indonesia ini diakusisi oleh J.H. Whitney & Company and Golden Gate Capital. Akuisisi pada perusahaan listed umumnya diikuti dengan delisted. Demikian juga Herbalife. Tahun 2004 perusahaan ini IPO kembali di New York Stock Exchange.

Bagaimana kinerja keuangannya? Laporan teraudit tahun 2022 menyampaikan omzetnya adalah USD 5,2 miliar alias Rp 79 triliun. Harga pokok produksinya adalah USD 1,17 miliar alias Rp 19 triliun. Dengan demikian harga pokok produksi adalah 23%. Laba bersihnya adalah USD 321 juta alias  Rp 5 miliar. Neracanya menunjukkan total aset USD 2,73 miliar alias Rp 42 triliun. Total utangnya adalah USD 4,0 miliar alias Rp 61 triliun. Dengan demikian ekuitas alias nilai buku perusahaan adalah minus USD 1,27 miliar alias Rp 19 triliun. Artinya, andai seluruh aset perusahaan dijual dengan harga sesuai akuntansi maka uang hasil penjualan tidak cukup untuk melunasi seluruh utangnya. Masih ada kekurangan Rp 19 triliun.

Bagaimana nilai pasarnya? Hari ini nilai pasar Herbalife adalah USD 1,53 miliar alias Rp 23,4 triliun. Nilai pasar Nestle adalah 277,31 CHF alias Rp 4 807 triliun. P&G adalah USD 359,58 miliar alias Rp  5 496 triliun.  Unilever adalah GBP 99,68 miliar alias Rp 1941 triliun.

&&&

Pembaca yang baik, itulah gambaran tentang perusahaan-perusahaan yang memasarkan produknya dengan metode MLM. MLM, bisakah menjadi pilihan? Anda para entrepreneur bisa mengambil kesimpulan sendiri. Andai saja Anda memiliki core competence pada consumer good, silakan dipilih metode pemasaran yang Anda gunakan. Bisa cara seperti Nestle, P&G atau Unilever. Bisa juga seperti cara MLM. Anda yang memilih jalur profesional pada perusahaan consumer good, juga bisa memilih pada perusahaan mana Anda akan mendedikasikan potensi terbaik Anda. Bisa masuk perusahaan-perusahaan seperti Nestle, P&G atau Unilever. Bisa juga pada perusahaan seperti Amway atau Hebalife. Hidup adalah pilihan.

Artikel ke-414 karya Iman Supriyono ini ditulis di SNF Consulting House of Management pada tanggal 21 Agustus 2023

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Bukaka Yang Menua


Setiap Anda masuk atau keluar dari pesawat di tanah air, coba amati apa merek garbarata yang Anda lalui. Akan mudah untuk menemukan logo Bukaka di sana. Ya, Perusahaan yang berdiri tahun 1978 ini adalah satu-satunya produsen garbarata alias air bridge di negeri ini. Bahkan produk perusahaan yang didirikan oleh Jusuf Kalla ini juga sudah dipakai di bandara-bandara luar negeri.

Eksis sampai usia 45 tahun tentu bukan hal remeh. Mari kita lihat secara lebih rinci bagaimana kondisi stratejik dan kinerja perusahaan yang pernah delisted di lantai bursa dan kemudian listing lagi ini. saya akan menuliskannya dengan format poin-poin.

  1. Tugas stratejik direksi dalam sebuah perusahaan adalah bekerja keras bagaimana sebuah perusahaan makin eksis. Ukuran utama eksistensi yang baisa dipakai dalam dunia bisnis ada 4: omzet, aset, laba dan nilai pasar. Mari kita lihat kinerja Bukaka dalam empat variabel ini. Data terlama yang masih tersedia di website resmi perusahaan adalah laporan keuangan tahun 2013. Maka, saya akan melihat pertumbuhan perusahaan dengan ukuran compounded average growth rate (CAGR)
  2. Omzet tahun 2013 adalah Rp 1,33 triliun. Tahun 2022 adalah Rp 4,15 triliun. Dengan demikian rata-rata pertumbuhan kompon (CAGR) sepanjang 9 tahun adalah 13,48%. Aset pada periode tersebut naik dari Rp 1,91 menjadi Rp 6,26 triliun alias tumbuh 14,10% per tahun. Laba naik dari Rp 82 miliar menjadi Rp 462 miliar alias tumbuh 21,18% per tahun. Nilai pasar data yang tersedia adalah mulai tahun 2015 senilai Rp 945 per lembar saham menjadi Rp 1045 per lembar saham alias tumbuh rata-rata 1,45% per tahun. Dari 4 variabel tersebut yang paling dinikmati pemegang saham adalah laba dan nilai pasar. Laba dinikmati karena bisa dibagi menjadi dividen. Tapi sudah enam tahun terakhir ini Bukaka tidak membagi dividen. Jadi investor murni hanya menikmati pertumbuhan nilai. Malangnya, nilai perusahaan hanya tumbuh 1,45% per tahun. Bahkan untuk menutup inflasi saja tidak bisa. Inflasi tahun 2022 adalah 5,5%. Jadi pertumbuhan perusahaan memang sangat minim
  3. Sebuah perusahaan idealnya bisa tumbuh secara eksponensial. Caranya adalah dengan melakukan scale up.  Apakah selama ini Bukaka sudah melakukan scale up? Mari kita lihat apa yang dilakukan oleh manajemen sepanjang tahun 2022. Bila melakukana scale up, dengan laba tahun berjalan Rp 462 miliar mestinya aset perusahaan tumbuh sebesar 5 kalinya yaitu Rp 2,31 triliun. Dengan aset awal tahun Rp 5,23 triliun harusnya aset akhir tahun menjadi Rp 7,54 triliun. Nyatanya aset akhir tahun hanya 6,26 triliun. Jadi perusahaan sepanjang tahun 2022 tidak melakukan scale up. Melihat CAGR aset di atas, bisa dipastikan perusahan tidak melakukan scale up sepanjang 9 tahun terakhir
  4. Hari ini nilai pasar Bukaka adalah Rp 3,84 triliun. Dibandingkan dengan nilai bukunya yang Rp 3,82 triliun maka nilai intangible asset Bukaka hanya 200 miliar. Rasio antara harga saham (nilai pasar) dengan laba hanya 6,37 kali. Artinya nilai pasar perusahaan sangat rendah. Perusahaan yang bagus nilai intangible asset berkali-kali lipat dibandingkan dengan nilai buku (tangible aset)
  5. Angka PER juga menunjukkan bahwa andai hari ini Bukaka menerbitkan saham baru untuk modal ekspansi, investor menuntut ROI 15,7%. ROI bagi investor adalah Cost of capital bari perusahan. Angka Bukaka tergolong sangat mahal karena sebuah korporasi sejati https://korporatisasi.com/2020/05/27/sentul-city-intangible-asset-membakar-tangible-asset/cost of capitalnya hanya 2-3%. Ini artinya di mata investor perusahaan ini tidak menarik. Salah satu faktor utamanya adalah pertumbuhan yang rendah seperti tertulis di atas.
  6. Aset posisi akhir tahun 2022 adalah 6,26 triliun. Laba tahun berjalan adalah Rp 473 miliar. Dengan demikian ROA adalah  7,2%. Dengan ekuitas Rp 3,82 triliun maka ROE adalah 12,4%.  Angka ini cukup bagus. Dengan ROE 12,4% maka peluang Bukaka untuk mencapai nilai pasar 4X nilai buku, yaitu menjadi Rp 15,28 triliun. Jika ini terjadi maka PER akan menjadi 32. Artinya cost of capital menjadi 1/32 alias 3,1 %. Sebuah angka ideal yang bisa dicapai oleh sebuah korporasi sejati. Apa kendala utama untuk mendapatkannya? Tidak lain adalah pertumbuhan
  7. Mari kita lihat lebih detail tentang masalah pertumbuhan ini.  Dari aset Rp 6,26 triliun, terdapat komponen investasi pada perusahaan asosiasi senilai Rp 2,3 triliun. Ini bisa disebut aset nganggur. Berinvestasi dengan memiliki saham perusahaan lain tapi dalam persentase kecil sehingga tidak bisa dikonsolidasi. Tidak meningkatkan omset, aset, laba dan nilai pasar perusahaan secara signifikan.
  8. Aset yang terkait langsung dengan pendapatan bernilai Rp 4 triliun. Bagaimana pendayagunaannya? Mari kita lihat lebih detail. Aset berupa fasilitas produksi perlengkapan bandara (garbarata dan sebagainya) baru terdayagunakan 57%.  Aset berupa fasilitas produksi steel tower hanya terdayagunakan 19%. Aset berupa fasiltas produksi steel bridge hanya terdayagunakan 24%. Aset berupa fasiltas produksi road construction equipment baru terdayagunakan 27%. Faslitas special purpose vehicle hanya terdayagunakan 32%.  Oil and gas equipment hanya terdayagunakan 66%. Dan masih banyak lagi aset yang kurang didayagunakan.
  9. Pendayagunaan aset rendah. Inilah masalah utama perusahaan. Dengan kondhttps://korporatisasi.com/2022/03/13/menjadi-korporasi-sejati/isi seperti ini jangan berharap perusahaan bisa melakukan scale up dengan pertumbuhan aset lebih dari 5x laba. Sedangkan aset yang ada saja tidak terdayagunakan dengan baik.
  10. Dengan demikian jika dikaji dari kaca mata tripod manajemen (pemasaran, keuangan dan operasional) maka bottle neck nya ada di masalah pemasaran. Nah, perusahaan perlu mengkaji ulang konsep bisnisnya secara menyuluruh. Dilanjutkan dengan mengevaluasi struktur dan funneling pemasaran. Jika tidak, Bukaka akan terus tumbuh lambat seperti saat ini. akibat selanjutnya adalah menjadi perusahaan yang menua. ini yang bahaya. Gambarannya, dari 627 karyawan Bukaka, 223 orang alias 36% berusia di atas 50 tahun. Tampak sekali tanda-tanda perusahaan yang menua. Bila pertumbuhan lambat terus berlangsung, perusahaan akan makin dipenuhi oleh karyawan berusia tua.
  11. Apakah masih peluang? Sangat! Sebuah contoh saja adalah produk garbarata Bukaka. Sebuah produk unggulan yang mestinya bisa dipasarkan lebih luas ke berbagai negara. Sekali lagi perlu evaluasi strategi perusahaan dan kemudian evaluasi strategi dan struktur marketing. SNF Consulting siap menjadi management sparring partner. Bukaka bisa!

Artikel ke-413 karya Iman Supriyono ini ditulis di Bandara Udara Soekarno Hatta Jakarta saat menunggu penerbangan ke Surabaya pada tanggal 17 Agustus 2023

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca juga:

Modal Alfamart Mengejar Indomaret
Modal Murah Mitra Keluarga Menyalip Siloam
Pedal Gas Revenue and Profit Driver
RPD Sebagai Faktor Kali
RPD Sebagai Peredam Risiko Investasi Wakaf
Giant Tutup: Sulitnya Menemukan Kembali RPD
Deep Dive Sang CEO Mengamankan RPD
RPD Sebagai Salah Satu Tahap Corporate Life Cycle

Ghost Flight: Autopilot Bisnis?


Athena, tanggal 14 Agustus 2005. Jam 09.37  waktu setempat Boeing 737 Helios dengan nomor penerbangan 522 telah terpantau radar memasuki wilayah kontrol penerbangan Athena. Pesawat mengitari Athena dengan autopilot.  ATC Nikosia, Ciprus, bandara asal penerbangan pesawat tersebut telah melaporkan kepada Athena bahwa kontrol radio terputus. Antara jam 10.12 sampai jam 10.50 panggilan dari ATC Athena tidak direspon oleh pilot. Jam 10.45 adalah jadwal pendaratan pesawat tersebut.  Jam 10.54 Joint Rescue Coordination Center mencurigai kemungkinan pesawat telah dibajak. Jam 11.05 dua pesawat tempur F16 pun diterbangkan untuk memantau penerbangan 522. Jam 11.23 F16 telah menemukan posisi 522 di atas pulau Aegean. Jam 11.32 pilot F16 melihat kopilot 522 terduduk lemas, masker oksigen di kabin keluar, tidak ada tanda-tanda terorisme. Jam 11.49 pilot F16 melihat ada seorang di kokpit tampaknya sedang mencoba mengendalikan pesawat. Jam 11.49 mesin kiri pesawat berhenti karena kehabisan bahan bakar. Jam 11.59 mesin kanan pesawat berhenti. Jam 12.03 pesawat 522 jatuh di pegunungan wilayah Grammatiko, Yunani.

&&&

Bisnis autopilot. Bosnya jalan-jalan, bisnisnya jalan. Jargon ini populer sekali di kalangan entrepreneur. Mungkinkah sebuah bisnis menjadi autopilot? Mungkin, jika yang dimaksud adalah usaha kecil perorangan yang tidak dikembangkan. Contohnya adalah resto-resto legendaris lokal yang biasanya menulis “Resto Lezat tidak membuka cabang”.  Tidak mungkin, jika yang dimaksud adalah sebuah bisnis yang berproses menjalani langkah demi langkah dari 8 langkah corporate life cycle sampai menjadi korporasi sejati.

Salah satu kebutuhan perusahaan yang seperti ini adalah terus menerus mendapatkan investor karena terus menerus menerbitkan saham. Kuncinya adalah menemukan apa yang disebut revenue and profit driver alias RPD. Proses ini saja sudah membutuhkan waktu tenaga pikiran dan energi besar dari “sang pilot”. Pada sebuah perusahaan berbadan hukum PT pilotnya adalah direktur utama alias dirut. Dalam keseharian agar lebih keren kalangan bisnis sering menyebutnya dengan istilah CEO.

Menemukan RPD butuh proses trial and error. Butuh proses iterasi berbagai variabel. Butuh ukuran secara statistik. Karena variabelnya banyak maka proses iterasinya tidak bisa dilepaskan begitu saja dari pantauan serius dirut. Bahkan karena RPD ini adalah mesin pertumbuhan perusahaan, sang dirut harus siap sewaktu waktu untuk melakukan deep dive. Bahkan butuh konsultan manajemen sebagai sparring partner agar perusahaan tidak menelan biaya kebodohan.

Setelah RPD ketemu tugas dirut adalah terus menerus menerbitkan saham. diawali dari private placement di luar lantai bursa secara terus-menerus. Pada titik tertentu perusahaan harus melakukan IPO. Salah satu penanda titik tertentu tersebut adalah ukuran yang cukup. Angka kecukupannya adalah market value alias market cap sekitar Rp 10 triliun. Jika kurang dari Rp 10 triliun perusahaan akan seperti sampan yang berlayar di samudera Atlantik dengan gelombang setinggi 10 meter. Terombang ambing dalam ombak besar dan rawan menjadi mangsa empuk para perampok budiman. Setelah IPO mesti terus-menerus melakukan penerbitan saham baru lagi yang disebut rights issue. Mengikuti pola gergaji korporatisasi sampai menjadi korporasi sejati.

Menerbitkan saham terus-menerus baik secara private placement, IPO maupun righst issue artinya perusahaan terus-menerus membutuhkan investor. Investornya umumnya adalah perusahaan-perusahaan investasi. Bos-bos perusahaan investasi tentu tidak mau ditemui anak buah. Seperti dalam diplomasi negara. Presiden mestilah ditemui oleh presiden. Jadilah si dirut terus sibuk bekerja full time. Tidak bisa menyerahkan kendali perusahaan pada autopilot. Jika dipaksakan maka musibah ghost flght Helios 522 seperti di atas akan terjadi pada perusahaan. Memang pesawat ada fasilitas autopilot. Tapi bukan berarti tidak dibutuhkan pilot yang bekerja penuh waktu. Bahkan Boeing 737 penerbangan 522 itu pun ada pilot dan kopilot. Tapi keduanya lemas tak sadarkan diri karena kekurangan oksigen. Sebelum hilang kesadaran pilot sempat menekan tombol autopilot. Pesawat berjalan dengan autopilot dari Nikosia ke Athena.  Dan kecelakaan terparah di Yunani itu pun terjadi. Menewaskan seluruh 121 penumpang dan awak pesawat. Semoga keluarga yang ditinggalkan tabah menerimanya. Semoga kita para pelaku bisnis mengambil pelajaran.

Artikel ke-412 karya Iman Supriyono ini ditulis di Jakarta pada tanggal 16 Agustus 2023

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Entrepreneur, Jangan Membuat Bisnis Lagi!


Mungkin Anda pernah mendengar nasihat ini: Tugas entrepreneur adalah membuat bisnis baru. Disampaikan dengan penuh semangat. Khas anak muda. Dengan heroisme berhias nasionalisme. Berhias semangat keumatan. Anda pernah mendengar?

Nah, kali ini mari kita kupas nasihat itu dengan data. Tentu saja data korporasi. Mari kita bandingkan dua perusahaan. Alat ukurnya kita ambil dari 4 besaran yang biasa digunakan untuk membandingkan perusahaan di berbagai negara. Laba, omzet, aset dan nilai pasar. Empat besaran itulah yang tiap tahun digunakan oleh Forbes untuk membandingkan perusahaan tanpa melihat apa pun industrinya. Dua ribu perusahaan dengan skor laba, omzet, aset dan nilai pasar tertinggi tiap tahun ditampilkan sebagai Forbes 2000. Dengan kata lain, kalau kita berbicara dari 4 besaran itu, perbedaan industri sudah tidak penting. Semua perusahaan dipandang sama. Anda dapat membaca link ini untuk mengetahuinya lebih lanjut. Dari 4 besaran itu kita pilih satu yang bisa disebut merangkum dari 3 variabel yang lain yaitu nilai pasar.

Nah atas dasar itu saya ambil dua perusahaan. Satu perusahaan yang menganut nasihat di atas. Dalam kerangka corporate life cycle, perusahaan ini disebut sebagai multiple RPD (revenue and profit driver). Perusahaan yang berbisnis bermacam-macam pada berbagai industri. Selesai membuat bisnis A dilanjut B, lanjut C, lanjut D…. dan seterusnya.

Siapa perusahaan yang seperti itu? Mari kita gunakan PT Japfa Comfeed Indonesia. Berikut ini Sejarah Japfa yang saya kutip dari laman resmi Bursa Efek Indonesia:

PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk didirikan pada 18 Januari 1971 sebagai sebuah perusahaan yang memproduksi pelet kopra dengan nama PT Java Pelletizing Factory (Japfa). Seiring berjalannya waktu, JPFA terus berkembang dan berekspansi ke berbagai sektor bisnis, seperti pakan ternak dan pembibitan ayam.

Japfa menjadi pemegang hak eksklusif untuk menjual serta mendistribusikan bibit ayam galur Indian River dari Aviagen. Perjalanan Japfa dalam dunia saham dimulai ketika perusahaan tersebut melakukan Initial Public Offering (IPO) atau Penawaran Saham Perdana dengan kode emiten JPFA pada 23 Oktober 1989.

Sukses melantai di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya, perusahaan ini lalu mengambil alih beberapa aset perusahaan, seperti PT Comfeed Indonesia, PT Suri Tani Pemuka, PT Ometraco Satwafeed, dan PT Indopell Raya pada 1990. Proses ekspansi tersebut terus berlangsung hingga pada 1992, Japfa mengakuisisi PT Multibreeder Adirama Indonesia dan PT Ciomas Adisatwa yang bergerak di bidang pembibitan dan pemrosesan ayam, dan juga PT Suri Tani Pemuka yang bergerak di bidang budidaya dan pemrosesan udang

Sejarah tersebut menggambarkan dengan jelas bahwa Japfa adalah sebuah perusahaan multiple RPD. Memang antara RPD satu dengan lainnya masih terkait. Tetapi tetap berbeda-beda. Sebagaimana di laman resmi perusahaan, bisnisnya bisa dikelompokkan menjadi 3 bidang yaitu poultry, aquaculture dan beef cuttle. Poultry terdiri dari pakan ternak ayam,  DOC ayam broiler/layer dan pullets, consumer and technical services, pencegahan penyakit, perlengkapan peternakan, ayam broiler komersial dan produk karkas ayam. Kelompok aquaculture terdiri dari aqua feed, breeding, consumer and technical services, tilapia, eel, dan seafood. Kelompok beef dan cattle terdiri dari penggemukan sapi, rumah potong, dan daging sapi.

Mari kita lihat kinerjanya. Data nilai pasar yang masih ditampilkan oleh Google paling awal adalah tahun 2005. Nilai pasar per lembar saham adalah Rp 43. Hari ini nilai pasar per lembar saham adalah Rp 1 295. Artinya, dalam rentang waktu 18 tahun rata-rata pertumbuhan yang diukur dengan metode CAGR (compounded annual growth rate) adalah 20,82%. Artinya, misalkan Anda menjadi investor (pemegang saham) Japfa tahun 2005 dengan nilai investasi Rp 100 juta, tahun 2006 akan tumbuh nilainya sebesar 20,82%  menjadi 120,82 juta. Tahun berikutnya akan tumbuh lagi 20,82% menjadi Rp 145,97 dan seterusnya. Tiap tahun tumbuh 20,82%. Dengan pertumbuhan tiap tahun seperti itu maka nilai investasi Anda tahun 2023 ini adalah Rp 3,64 miliar.

Bagus atau tidak pertumbuhan seperti itu? Mari kita lihat perusahaan pembandingnya. Kita pilih perusahaan yang bisnisnya satu bidang alias single RPD. Perusahaan yang tidak menganut nasihat para motivator di atas. Perusahaan yang tidak pernah membuat bisnis lagi setelah mendirikan satu bisnis. Kita pilih PT Sumber Alfaria Trijaya. Bisnisnya adalah membuat gerai-gerai minimarket dengan merek Alfamart, Alfamidi dan Alfa Express. Gerai pertama didirikan tahun 1999 hingga hari ini kerjanya terus menerus mendirikan gerai.

Data nilai pasar yang masih tersedia di Google terlama adalah tahun 2009 dengan nilai Rp 40 per lembar saham. Hari ini nilainya adalah Rp 2780. Dengan demikian selama 14 tahun terakhir diukur dengan CAGR perusahaan ini tumbuh rata-rata 35,38%. Sebagai gambaran jika Anda menjadi investor perusahaan ini pada tahun 2009 dengan uang Rp 100 juta, tahun 2010 nilai investasi Anda naik 35,38% menjadi Rp 135,38 juta. Tahun berikutnya naik lagi 35,38% menjadi Rp 183,28 juta. Jika ini diteruskan dengan pertumbuhan tahunan yang sama maka tahun 2023 ini nilai investasi Anda menjadi Rp 9,40 miliar.

&&&

Pembaca yang baik, jelas perbedaan kinerja pertumbuhan dua perusahaan itu. Japfa yang multiple RPD kalah jauh pertumbuhannya dibanding Alfamart yang single RPD. Investor akan merasakan bedanya. Demikian juga pendiri kedua perusahaan. Itulah mengapa Djoko Susanto, pendiri Alfamart,  menjadi orang terkaya ke-10 menurut Forbes tahun ini. Sementara mendiang Handojo Santosa atau ahli warisnya jauh tertinggal.

Sebagai entrepreneur pendiri perusahaan, Joko melalui PT Sigmantara Alfindo memegang sekitar 53% alias sekitar 22 miliar lembar saham Alfamart. Dengan nilai pasar Rp 2780 maka hari ini nilai aset Djoko adalah Rp 61,1 triliun. Sementara itu sebagai entreperenur pendiri perusahaan keluarga Handojo melalui Japfa LTD memegang 55% saham Japfa dengan nilai aset hari ini Rp 8,3 triliun.

Nah, dari dua contoh tersebut, sudah saatnya Anda para entrepreneur memperbaiki cara pandang. Memperbaiki mindset. Tugas seorang entrepreneur bukanlah terus membuka bisnis baru. Tapi mendirikan satu bisnis dan terus mengembangkannya menapaki 8 langkah dalam corporate life cycle untuk menjadi korporasi sejati yang bernilai tinggi. Ingat bahwa bisnis itu adalah tentang menciptakan nilai. Creating value. Ukuran teknisnya adalah market value atau nilai pasar atau yang secara singkat disebut value alias nilai. Anda siap?

Artikel ke-411 karya Iman Supriyono ini ditulis di Surabaya pada tanggal 9 Agustus 2023

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca Juga:

Baca juga:

Merger dan Akusisi: Mengapa Ekonomi Kita Dikuasai Asing
Merger Gojek Tokopedia
Valuasi dan Merger Tokopedia
Merger dan Akusisi BUMN
Filosofi Merger Akuisisi
Akuisisi Super Mahal Holcim oleh Semen Indonesia
Sejarah Raket Yonex
Sejarah Heinekken Hadir di Indonesia
Sejarah Revlon dan Kepailitannya
Sejarah Korporasi
Sejarah Lions Club
Sejarah Hyundai versus Astra
Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Umat dan Bangsa
Korporatisasi: Asal Muasal
Sejarah Danone Dari Turki Usmani Hadir ke Indonesia

Bahaya IPO UKM


Belakangan muncul dorongan kuat agar UKM melakukan IPO.  Grup-grup wa, seminar, training dan media sosial komunitas entrepreneur menjadi tempat subur untuk mengelokannya.  Seolah semua sepakat. Padahal IPO UKM mengandung bahaya yang amat sangat. Bahkan ancaman besar. Apakah itu? saya akan menuliskannya dalam bentuk poin-poin.

Provokasi IPO UKM itu bahaya sekali. Bisa membuat seperti harimau yang lemah lunglai. Potensinya besar. Tapi terlemahkan karena tidak sadar bahaya.

  1. Batas atas sebuah usaha masuk dalam kategori UKM menurut peraturan pemerintah nomor 7 tahun 2021 tentang kemudahan, pelindungan, dan pemberdayaan koperasi dan usaha mikro, kecil, dan menengah adalah modal di luar tanah dan bangunan sebesar Rp 10 miliar atau penjualan maksimum Rp 50 miliar
  2. Perusahaan dengan aset dan omzet seperti di atas sangat berbahaya bila dipaksakan melakukan IPO. Apa bahayanya? Setidaknya ada 3 bahaya yang krusial. Bahaya pertama adalah pemborosan dilusi. Dilusi adalah menurunnya persentase kepemilikan saham pendiri. Pemborosan dilusi adalah kondisi di mana saham pendiri mengalami penurunan persentase lebih tinggi untuk menghasilkan jumlah uang tertentu.
  3. Gambarannya adalah sebagai berikut. Misalkan PT ABC bergerak di bidang restoran memiliki 10 gerai dengan aset Rp 10 miliar (Rp 1 miliar tiap gerai di mana semua gedung berasal dari sewa) laba Rp 3 miliar. Aset Rp 10 miliar menghasilkan laba Rp 3 miliar alias ROA (return on aset) 30% itu sudah super optimis.
  4. Jika PT ABC memiliki rasio harga saham terhadap laba (price to earning rasio, PER) 20 maka nilai pasar PT ABC adalah Rp 60 miliar. Angka PER 20 ini sudah sangat tinggi karena artinya ROI bagi investor adalah 5% (per tahun).
  5. Faktanya di lantai bursa ROI yang stabil pada angka 20 hanya dimiliki oleh perusahaan-perusahaan yang memiliki merek kokoh di pasar. Sekalas Astra Internasional saja PER nya hanya 8,94.  Indofood Sukses Makmur pun PER hanya 8,86. Jadi asumsi PER 20 itu adalah sangat amat tinggi. Artinya, hitungan nilai pasar (market capitalization) Rp 100 miliar bagi PT ABC sudah merupakan perkiraan super optimis
  6. Malangnya, dengan perkiraan super optimis pun angkanya masih kecil. Mari kita runut akibatnya. Dengan nilai pasar Rp 60  miliar maka penerbitan saham baru 10% dalam IPO hanya akan menghasilkan dana Rp 6 miliar. Angka ini akan tidak menarik bagi penjamin emisi. Akibatnya PT ABC akan dipaksa menerbitkan saham dengan persentase lebih tinggi agar menarik bagi penjamin emisi.  Misalkan 40 %. Dengan persentase ini maka perolehan dana IPO adalah Rp 24 miliar.  Inilah letak bahayanya. Pendiri PT ABC terdilusi 40% untuk mendapatkan dana Rp 24 miliar.
  7. Mengapa bahaya? Ada dua penjelasan.  Penjelasan pertama, dengan dilusi 40% maka PT ABC tinggal punya kesempatan dilusi lanjutan 10% (melalui rights issue) untuk mencapai titik kritis korporatisasi yaitu saat pendiri sudah tidak lagi menjadi pemegang saham pengendali. Mengapa harus ada dilusi lanjutan? Karena untuk bisa eksis dan tumbuh dari generasi ke generasi, sebuah perusahaan harus mencapai ukuran tertentu untuk terbentuknya sistem manajemen yang ditandai dengan adanya struktur organisasi dengan level jabatan lebih dari 20. Ini membutuhkan dana besar. Membutuhkan aset besar. Oleh karena itu sebuah perusahaan mestilah berhemat dilusi. Tumbuh eksponensial mengikuti kurva korporatisasi. Dengan cara ini, Afmamart misalnya, telah memperoleh dana dari lantai bursa sebesar Rp 2,5 T saat pendiri terdilusi 47%.
  8. Penjelasan kedua, PT ABC yang memiliki aset 10 miliar tiba-tiba mendapatkan tambahan aset Rp 24 miliar alias total aset menjadi 34 miliar. Tumbuh 340%. Ini seperti seorang yang biasa mengemudikan Toyota Agya tiba-tiba harus mengemudikan truk tonton. Risikonya sangat tinggi. Berbahaya.
  9. Dengan kebutuhan aset Rp 1 miliar per gerai, perolehan dana IPO tersebut akan menjadi 24 gerai. Perusahaan yang biasanya mengelola 10 gerai tiba-tiba bertambah 24 gerai alias total menjadi 34 gerai akan kocar-kacir dalam manajemennya. Ekspansinya akan sangat mengawur. Akibatnya ROA akan terganggu. Akan turun. Investor akan dirugikan. ROI yang dijanjikan saat IPO tidak akan tercapai.
  10. Bahaya kedua, dengan nilai pasar Rp 60 miliar maka saham PT ABC akan terombang-ambing di pasar. Sahamnya akan terombang-ambing seperti sebuah sampan yang berlayar di tengah samudera Atlantik yang ombaknya bisa mencapai ketinggian 10 meter bahkan lebih. Sampan akan tenggelam ditelan ombak. Melihat emiten di BEI saat ini, stabilitas harga saham baru akan tercapai jika nilai pasar (market cap) paling tidak bernilai Rp 10 triliun. Kurang dari itu pada umumnya akan menjadi mainan para trader. Baca tulisan saya tentang perampok budiman
  11. Terombang-ambingnya harga saham itu memicu munculnya efek lanjutan yaitu bahaya ketiga. Bahaya ketiga adalah PT ABC akan sulit melakukan rights issue sebagai langkah korporatisasi berkelanjutan untuk mejadi sebuah korporasi sejati. Sebagai gambaran, misalkan harga saat IPO PT ABC adalah Rp 100 per lembar saham. Setelah dilepas di pasar misalkan harganya menjadi Rp 75 per lembar. Harga inilah yang menjadi bahaya ketiga. PT ABC akan kesulitan rights issue. Jika dipaksakan para pemegang saham yang ada (existing share holder) akan rugi. Mengapa rugi? Karena akan terjadi penurunan book value

Itulah tiga bahaya besar sebuah perusahaan UKM yang melakukan IPO. Pertumbuhannya akan terhenti. Scale up nya akan berhenti. Plus masih ada bahaya lain yang justru lebih kronis. Apa itu? bahaya mindset. Memposisikan diri sebagai UKM adalah sebuah afirmasi negatif.  Aku akan mengikuti persangkaan hamba-Ku. Demikian sebuah hadits qudsi. Tuhan akan benar-benar menjadikannya sebagai UKM. Tidak pernah menjadi sebuah korporasi sejati.

Lalu apa solusinya? Saat masih kecil perusahaan tetap harus terus-menerus menerbitkan saham sebagai langkah untuk scale up. Terus melakukan korporatisasi. Hanya saja tempatnya mesti di luar lantai bursa alias private placement. Dilakukan secara B2B dengan investor. Terus menerus tumbuh eksponensial. Kapan melantai alias IPO? Kelak saat nilai pasarnya aman. Paling tidak kira-kira Rp 5-10 triliun. Makin besar makin bagus. Setelah IPO terus menerus melakukan righst issue sampai menjadi korporasi sejati. Menjadi korporasi yang mengibarkan merah putih ke berbagai negeri. Bisa!

Artikel ke-410 karya Iman Supriyono ini ditulis di Surabaya pada tanggal 7 Agustus 2023

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca Juga:

IPO RAFI yang penuh catatan
IPO Kioson yang lemah lunglai di tengah badai
IPO DPUM yang masuk jebakan
IPO Goto pertaruhan hidup mati
Delisting Bentoel sebagai sebuah keharusan


Prestasi Bisnis 78 Tahun Merdeka


Tanggal 8 bulan Juni ini majalah Forbes kembali meluncurkan daftar 2000 perusahaan terbesar dunia. Kriterianya ada 4: laba, omzet, aset dan nilai pasar.  Laba adalah selisih antara pendapatan dengan total biaya perusahaan. Omzet alias pendapatan adalah total nilai uang yang diperoleh sebagai hasil dari penjualan barang atau jasa yang diproduksi oleh perusahaan. Aset adalah uang atau apapun yang bernilai uang yang dimiliki oleh sebuah perusahaan. Nilai pasar adalah nilai uang seluruh saham perusahaan berdasarkan transaksi terakhir di lantai bursa.

Forbes mengurutkan perusahaan-perusahaan di lantai bursa berbagai negara dan memilih 2000 urutan teratas. Hasilnya, rangking pertamanya adalah JP Morgan Chase, sebuah bank investasi dari USA yang akar sejarahnya mulai hadir di muka bumi sejak tahun 1799. Perusahaan yang merupakan hasil merger dan akuisisi lebih dari  1200 perusahaan ini memiliki aset USD 3,744 triliun alias Rp 55 ribu triliun lebih. Nilai pasarnya USD 399,59 miliar alias Rp 5 844 triliun lebih.

Sebesar apa peran perusahaan-perusahaan dalam daftar Forbes itu pada ekonomi dunia?  Gabungan omzet dari 2000 perusahan tersebut adalah USD 50,8 triliun alias Rp 748 ribu triliun. Bandingkan dengan PDB total seluruh negara di dunia yang sekitar USD 101 triliun menurut Word Bank tahun 2022. Jadi 2000 perusahaan itu berkontribusi separuh dari total nilai barang dan jasa yang diproduksi umat manusia dan perusahaan dari berbagai negara. Bahkan banyak di antara produk-produk itu yang kemudian menjadi penanda sejarah umat manusia. Pesawat terbang, mobil, internet, media sosial, komputer, dan mobil listrik adalah beberapa contohnya.

Nah, begitu besarnya peran perusahaan-perusahaan itu bagi umat manusia. Lalu, bagaimana peran republik ini dalam konstelasi itu? Beruntung Forbes mengidentifikasi negara asal-usul perusahaan-perusahaan itu. Ada 8 perusahaan asal RI yang masuk daftar itu. Bank BRI pada urutan teratas dengan omzet USD 13,16 miliar, laba USD 3,45 miliar, aset USD 119,84 miliar dan nilai pasar 53,79 miliar.

Ranking kedua adalah bank Mandiri. Disusul BCA, Telkom, BNI, Bayan Resources, Adaro Energy dan terakhir adalah Garuda. Khusus untuk yang terakhir ini peru ditambahi catatan khusus.  Maskapai penerbangan pelat merah ini masuk daftar karena laba yang besar yaitu USD 3,67 miliar. Catatan khususnya adalah bahwa laba ini diperoleh dari pemotongan utang hasil negosiasi restrukturisasi utang dengan para kreditur. Jadi bukan mencerminkan mesin bisnis perusahaan. Justru mencerminkan masalah besar perusahaan.  Jadi dari 8 hanya 7 yang benar-benar mencerminkan kontribusi korporasi RI dalam percaturan produksi barang dan jasa global.

Delapan perusahaan dari 2000 perusahaan ranking Forbes.  Membanggakan kah? Menggembirakan? Atau justru sebaliknya? Untuk menjawabnya mari kita melihat negara-negara lain. Kita mulai dari negara terdekat yang berbatasan langsung dengan kita. Siapa lagi kalau bukan Singapura. Negeri pulau kecil yang luasnya setara dengan luas wilayah kota Surabaya ini menghadirkan 14 perusahaan. Ranking teratas diduduki oleh bank OCBC. Bank yang hadir di RI melalui akuisisi bank NISP ini beraset USD 417,5 miliar alias hampir 3,5 kali aset bank BRI. OCBC hadir di 54 kota di Indonesia dengan 200 cabang lebih. Sementara BRI hanya hadir dengan satu cabang  di negeri berpenduduk 5 juta orang ini.

Mari kita lihat negeri jiran berikutnya: Malaysia. Malaysia hadir dengan 8 perusahaan. Perusahaan urutan teratas dari negeri berpenduduk sekitar 25 juta ini adalah Maybank. Asetnya USD 216,17 miliar. Lebih dari 2x lipat aset BRI. Bank yang masuk ke RI melalui akuisisi Bank BII ini hadir di negeri merah putih dengan 356 cabang lebih. Bandingkan dengan BRI yang bahkan belum punya satu kantor cabang pun di Malaysia. Padahal BRI sudah hadir di muka bumi ini sejak 1895 sementara Maybank baru hadir tahun 1960. Umurnya baru separuh umur BRI.

Jangan bandingkan RI dengan USA yang hadir dengan lebih dari 600 perusahaan. Jangan juga bandingkan dengan RRC yang hadir dengan sekitar 350 perusahaan. Kita memang lebih kecil dalam hal jumlah penduduk dengan kedua raksasa ini. Kita juga kalah usia. Tapi kalau kalah dengan Singapura dan Malaysia, tentu tidak ada alasan pembenar. Kita merdeka lebih dahulu dari keduanya. Jumlah penduduk kita sekitar 10 kali Malaysia. Sekitar 50 kali singapura. Kita merdeka tahun 1945 sementara Malaysia baru merdeka tahun 1957 dan Singapura tahun 1965.

Nah, dalam usia kemerdekaan yang 78 tahun ini, mari kita gunakan kekalahan di atas sebagai pemicu semangat. Bagi pemerintah ini menjadi sarana berkaca diri memperbaiki regulasi yang lebih pro pertumbuhan korporasi dan bertumbuhnya budaya investasi masyarakat sebagai pendukungnya. Bagi para pelaku bisnis menjadi introspeksi untuk memperbaiki proses korporatisasi perusahaan tempatnya berkarya. Bagi masyarakat luas menjadi sarana menilai diri agar mampu mendorong pertumbuhan perusahaan-perusahaan di negeri ini dengan kontribusi sebagai investor. Yakin kita bisa. Merdeka!

Artikel ke-409 karya Iman Supriyono ini ditulis untuk Majalah Matan edisi Agustus 2023, terbit di Surabaya

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca Juga:
Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Umat dan Bangsa

Korporasi Nasionalis Pancasilais
Korporasi Pejuang 
Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi
Korporasi Pejuang Rupiah
Korporasi Raket Yonex

Sejarah Heinekken Hadir di Indonesia
Sejarah Revlon dan Kepailitannya
Sejarah Korporasi
Sejarah Lions Club
Sejarah Hyundai versus Astra
Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Umat dan Bangsa
Korporatisasi: Asal Muasal
Sejarah Danone Dari Turki Usmani Hadir ke Indonesia

Beasiswa LPDP: Dana Abadi atau Dana Menguap?


Menjadi lembaga pengelola dana bertaraf internasional guna menyiapkan SDM Indonesia yang berdaya saing global serta turut mendorong inovasi bagi terwujudnya Indonesia yang sejahtera, demokratis, dan berkeadilan. Itulah visi Lembaga Pengelola Dana Pendidikan alias LPDP sebagaimana yang dimuat dalam laporan keuangan teraudit tahun 2022. Mulia sekali. Bagus sekali. Sangat mungkin Anda atau orang-orang terdekat Anda adalah penerima beasiswa LPDP. Beasiswa belajar tingkat sarjana, master dan doktor baik di dalam maupun luar negeri.

Ada tiga poin misi LPDP. Pertama adalah mempersiapkan pemimpin dan profesional masa depan Indonesia melalui pembiayaan pendidikan. Kedua adalah mendorong riset strategis dan/atau inovatif yang implementatif dan menciptakan nilai tambah melalui pendanaan riset. Ketiga adalah menjamin keberlangsungan pendanaan pendidikan bagi generasi berikutnya melalui pengelolaan dana abadi pendidikan yang optimal

Sebuah organisasi bergerak sesuai visi dan misinya. Pergerakan organisasi tercermin dari laporan keuangannya. Mari kita lihat LPDP dari apa yang dilakukannya pada tahun 2022. Sudahkah bergerak sesuai visi dan misinya? Sudahkah LPDP mengelola dana abadi pendidikan dengan tepat sebagaimana layaknya institusi pengelola dana abadi internasional?  Mari kita cermati dari laporan keuangannya. Saya akan menuliskannya dalam format poin-poin. Angka-angka adalah pembulatan sesuai dengan aturan pembulatan matematika.

  1. Memperhatikan neracanya, aset terbesar LPDP adalah berupa investasi jangka panjang. Awal tahun 2022 (akhir tahun 2021) nilainya adalah Rp 99 triliun. Posisi akhir tahun adalah Rp 119 triliun. Aset pada posisi akhir ini adalah merupakan 94% dari total aset LPDP yang sebesar Rp 127 triliun.
  2. Aset lain yang signifikan adalah berupa investasi jangka pendek sebesar Rp 4 triliun pada akhir tahun. Angka tersebut naik dari Rp 3 triliun pada awal tahun. Dengan demikian total nilai investasi LPDP adalah Rp 123 triliun pada akhir tahun. Angka ini naik Rp 21 triliun dari  posisi awal tahun Rp 102 triliun. kenaikannya diperoleh dari diterimanya tambahan dana dari APBN.
  3. Ke mana aset-aset sebesar itu diinvestasikan? Investasi jangka panjang adalah berupa obligasi dan deposito. Rincianya, obligasi negara Rp 82 triliun, obligasi korporasi Rp 2 triliun dan deposito Rp 36 triliun. Investasi jangka pendek adalah berupa deposito senilai Rp 4 triliun. Dengan uraian ini maka bisa dikatakan bahwa seluruh dana abadi LPDP diinvestasikan dengan skema utang piutang.
  4. Ada dua kelompok utama dalam investasi yang tergambarkan dalam sisi kanan neraca entitas penerima dan investasi (investee). Sisi kanan neraca pada perusahaan atau entitas tempat dana diinvestasikan. Dua kelompok tersebut adalah utang piutang dan ekuitas.
  5. Karakteristik utama investasi skema utang piutang adalah tidak adanya pertumbuhan nilai aset yang diinvestasikan. Secara nominal nilainya konstan. Namun demikian karena nilai ditransaksikan dengan investee dalam bentuk mata uang maka ada variabel krusial yang mesti dipertimbangkan yaitu inflasi.
  6. Sepanjang tahun 2022 BPS mencatat bahwa nilai inflasi Rupiah adalah sebesar 5,51%. Dengan demikian total investasi BPJS Rp 102 triliun pada awal tahun 2022 secara nilai riil menyusut sebesar Rp 5,6 triliun. inilah nilai aset LPDP yang menguap sepanjang tahun 2022. Itu pun belum memperhitungkan dana investasi tambahan yang  LPDP sepanjang tahun 2022 yang sebesar Rp 21 triliun. Jika dianggap dana ini semua diterima di pertengahan tahun maka nilai yang digerogoti inflasi adalah 2,755% dari Rp 21 triliun yaitu Rp 578 miliar. Dengan demikian total penurunan nilai aset dari inflasi adalah  Rp 6,2 triliun
  7. Laporan laba rugi menunjukkan bahwa hasil investasi dana abadi sepanjang tahun 2022 adalah Rp 6,6 triliun. Dengan demikian hasil investasi bersih adalah Rp 6,6 dikurangi Rp 6,2 yaitu sebesar Rp 0,4 triliun alias Rp 400 miliar.
  8. Laporan laba rugi juga menunjukkan bahwa LPDP mengeluarkan dana untuk beasiswa senilai Rp 4,4 triliun. Beban lain yang signifikan adalah beban pegawai Rp 63 miliar dan beban perjalanan dinas Rp 27 miliar. Total beban adalah Rp 4,5 triliun.
  9. Dengan demikian hasil investasi bersih yang Rp 0,4 triliun tidak cukup untuk menanggung seluruh beban LPDP yang sebesar 4,5 triliun. Ada kekurangan Rp 4,1 triliun. Inilah hasil akhir kinerja pengelolaan dana abadi LPDP sepanjang tahun 2022 secara nilai riil (yaitu dengan memperhitungkan efek inflasi)
  10. Sejak LPDP berdiri tahun 2011 skema investasinya sama. Dengan demikian tiap tahun menguapnya dana abadi LPDP akibat inflasi itu juga terus menerus terjadi. Sesuaikah ini dengan visi LPDP? Visinya adalah menjadi pengelola dana abadi bertaraf internasional. Kinerja keuangannya justru nilai dana abadi menguap melalui inflasi. Jadinya bukan lagi dana abadi. Tapi dana menguap.
  11. Maka, andai pasokan dana dari APBN kepada LPDP dihentikan, secara riil tiap tahun kemampuan LPDP memberi beasiswa akan turun sebesar laju inflasi yang mana pada tahun 2022 adalah sebesar 5,51%. Nominalnya tetap. Tapi nilainya habis. Jumlah penerima beasiswa akan menurun sampai habis. Tidak lagi bisa disebut sebagai dana abadi
  12. Itulah kinerja pengelolaan dana abadi selama ini. Permasalahannya krusial dan sudah berlangsung selama 12 tahun. pertanyaannya, ke depan diperbaiki atau tidak? Harapannya tentu harus diperbaiki.
  13. Bagaimana perbaikannya? LPDP bisa belajar dari Harvard Management Company (HMC) yaitu lembaga pengelola dana abadi (endowment fund) milik Harvard University, USA.
  14. HMC berdiri tahun 1974 alias saat ini sudah berusia 49 tahun. Laporan keuangan tahun 2022 menunjukkan posisi aset investasi adalah USD 59,31 miliar alias Rp 889 triliun. Dari nilai tersebut yang ditempatkan melalui skema utang piutang yaitu berupa obligasi (bond) adalah USD 1,1 miliar (Rp 16 triliun) dan domestic fixed income USD 2,8 miliar (Rp 42 triliun). Total penempatan investasi berskema utang piutang (yang termakan inflasi) adalah USD 3,9 miliar alias 6,6% dari total aset investasi.  Selebihnya  penempatan pada aset yang tidak termakan inflasi. Target imbal hasil investasi HMC adalah 5%-5,5%  dari nilai pasar. Pencapaian tahun 2022 adalah 4,2%.
  15. HMC adalah pengelola dana abadi terbesar dunia. Mestinya ini menjadi benchmark bagi LPDP sesuai dengan visinya. Namun kenyataannya, sampai saat ini LPDP menempatkan seluruh aset investasinya dengan skema utang piutang yang termakan inflasi. Sementara HMC sebaliknya, sebagian besar asetnya ditempatkan melalui skema ekuitas alias saham yang tidak termakan inflasi. LPDP dan HMC berjalan ke arah yang berlawanan. HMC ke utara LPDP ke selatan. HMC ke timur LPDP ke barat. Seperti larik lagu “Pamit” nya Tulus….. kau menunggu datangnya malam saat ku menanti fajar….

Demikianlah kinerja LPDP.  Visinya mengelola dana abadi. Minimal nilainya tetap. Syukur-syukur bisa tumbuh seperti HMC. Moga LPDP segera bisa memperbaiki portofolio penempatan investasinya. Agar asetnya benar-benar menjadi dana abadi. Bukan dana menguap. Aamin.

Artikel ke-408 karya Iman Supriyono ini ditulis di bangku Kereta Sancaka dalam perjalanan Surabaya-Jogjakarta pada tanggal 19 Juli 2022.

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca Juga:
Dana Abadi Beasiswa ACR: RUPS dan Dividen Pertama

Hayyu x ACR: Perusahaan Dakwah
Peredam Risiko Investasi Wakaf
Wakaf Modern Untuk Keabadian Amal dan Kemerdekaan Ekonomi
Konversi Kotak Infaq ke Kotak Wakaf
Kesalahan Wakaf Saham Dan Perbaikannya
Wakaf Untuk Beasiswa: Fulbright Dari Timur
Wakaf Moncer dengan Puasa Infaq
Wakaf Para Alumni untuk Adik Kelasnya
Wakaf Agar Rp 10 Triliun Tidak Melayang Tiap Tahun
Wakaf Uang
Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Umat dan Bangsa
Korporatisasi: Asal Muasal

Biaya Politik Mahal: Bukan Masalah!


Halaman resmi Federal Election Commision, FEC, menampilkan data dana kampanye pilpres USA tahun 2020 sebagai berikut. Donal Trump menerima total dana kampanye sebesar USD 811 898 514,36. Singkatnya: USD 811,8 juta. Dengan kurs saat ini nilainya setara dengan IDR 12,1 triliun. Sumber dana berasal dari dua kelompok. Dari kontribusi perorangan sebesar USD 486,9 alias IDR 7,1 triliun. Dari kontribusi kepanitiaan resmi sebesar USD 310,3 juta alias IDR 4,6 triliun. “KPU” nya Paman Sam ini menjelaskan bahwa dana tersebut diterima dari 6,7 juta pendonor dengan data detail siapa saja pendonornya dan berapa kontribusinya. Dengan demikian rata-rata tiap pendonor berkontribusi USD 120 ,9 alias IDR 1,8 juta rupiah. Lebih lanjut FEC menampilkan bahwa Trump telah membelanjakan dana sebesar USD 808,8 juta alias IDR 12,04 triliun untuk kepentingan kampanyenya.

FEC menampilkan juta bahwa Joe Biden menerima total dana kampanye sebesar USD 1 074 179 976,03. Singkatnya USD 1,07 miliar alias IDR 15,93 triliun. Kelompok perorangan berkontribusi USD 823,1 juta alias IDR 12,3 triliun. Dari kepanitiaan resmi berkontribusi USD 243 juta alias IDR 3,6 triliun. Dana tersebut diterima dari 11,86 juta pendonor. Dengan demikian tiap pendonor berkontribusi rata-rata USD 91,9 alias IDR 1,4 juta. Lebih lanjut FEC mencatat bahwa Biden telah membelanjakan USD 1,07 miliar alias USD 15,93 triliun untuk kepentingan kampanyenya.

&&&

“Biaya kampanye mahal. Biaya politik mahal. Maka, para pebisnis kaya saja lah yang layak menjadi politisi. Yang layak menjadi anggota dewan. Yang layak menjadi bupati, walikota, gubernur atau presiden”. Ini adalah ungkapan yang sering kita dengar. Dan nyatanya, di negeri ini para pebisnis memang banyak yang maju pada pemilihan umum untuk menjadi pejabat politik.  

Benarkah memang demikian? Mari kita belajar dari negeri yang telah terlebih dahulu mengenal sistem politik demokrasi dengan pemilihan umumnya. Adalah Joe Biden, presiden Amerika Serikat alias USA saat ini. Federal Ellection Commision mempublikasikan laporan tentang dana kampanaye tokoh politik yang pernah jadi wakil presiden ini. 

Perhatikan lagi angka di atas. Bahwa di negeri adi daya ini biaya kampanye juga sangat mahal. Biden menghabiskan Rp 15,93 triliun untuk sukses jadi presiden. Angka ini lebih besar dari rivalnya, Donal Trump, yang membelanjakan Rp 12,04 triliun. Dan, hasilnya seperti yang sudah terjadi saat ini. Biden jadi presiden mengalahkan Trump.

Paling tidak ada tiga pelajaran yang bisa kita ambil dari angka-angka terkait kemenangan Biden tersebut. Pelajaran pertama, bahwa memang benar biaya pemilihan umum itu besar.  Tidak bisa dipungkiri bahwa Biden membelanjakan dana kampanye yang jauh lebih besar dari Trump. Maka, mereka yang memiliki dana besar bisa lebih berharap untuk menang dalam kontestasi demokrasi. Tapi jangan berhenti pada pelajaran ini. Masih ada pelajaran berikutnya.

Pelajaran kedua, politisi itu memperjuangkan kepentingan banyak orang. Tanda sederhana bahwa seseorang merasa kepentingannya diperjuangkan oleh politisi adalah kontribusi finansial. Mari perhatikan sumber dana kampanya jumbo Biden dan Trump. Biden memperoleh dana dari sumbangan 11,86 juta pendonor dengan rata-rata Rp 1,4 juta. Trump memperoleh dana dari 6,7 juta pendonor dengan donasi rata-rata Rp 1,8 juta. Bahwa kemenangan Bidan sudah tercermin dari jumlah orang yang memberikan donasi untuk kemenangan presiden pilihannya. Kemampuan menggalang dukungan finansial dari belasan juta orang tentu tidak main-main. Pelajaran ketiga, bahwa latar belakang pebisnis Trump tidak bisa mengalahkan kemampuan Biden dalam menggalang dukungan finansial dari kalangan masyarakat banyak. Ini menjadi penguat bahwa politisi sejati bukanlah pebisnis yang bermetamorfosis menjadi politisi karena kekuatan pundi-pundi uangnya. Politisi sejati adalah mereka yang memang memilih berkarir di dunia politik sejak muda. Seperti Biden. Bukan seperti Trump. Para pendiri bangsa ini juga bertabur orang-orang yang memilih karier di bidang politik sejak muda. Kelebihan orang yang murni politisi adalah tidak adanya conflict of interest dalam berkeputusan. Tidak ada kepentingan bisnis dalam keputusan politiknya.

Pembaca yang baik, jika Anda adalah politisi, tiga pelajaran di atas bisa menginspirasi Anda untuk meniti sukses karier di dunia politik. Jika Anda pebisnis, lebih baik Anda tekuni karier bisnis. Cukup bantulah kawan-kawan yang berkarir di politik dengan sumbangan dana kampanye.  Anda sendiri tetap fokus di bisnis. Bangunlah korporasi besar seperti pengusaha-pengusaha AS. Seperti Bill Gates yang produknya saya pakai menulis artikel ini. Atau seperti Zuckerberg yang aplikasinya saya pakai untuk menyelesaikan tulisan yang Anda baca ini. Biaya politik mahal bukan masalah!

Tulisan ke-407 Iman Supriyono ini ditulis untuk dan dimuat di Majalah Matan, edisi Juli 2023terbit di Surabaya, dengan sedikit pengeditan

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca Juga:
Sukarno Hatta dan Nafkah Politisi

Haruskah Pengusaha Masuk Politik
Bisnis PCR dan Hipokrasi Pengusaha Masuk Politik
Korporasi Nasionalis Pancasilais
Bank Pengibar Merah Putih di 18 Negara
Pejuang Dulu Pejuang Kini: Samudera Indonesia

Korporasi Pejuang Rupiah
Investor Arab atau Cina
Asing Aseng dan Analosi Sepak Bola dalam Dunia Bisnis

AACo dan Sapi Kurban


Sejarah Australia Agricultural Company, AACo, berawal tahun 1824 dengan berdiri sebagai perusahaan pengembangan lahan bantuan British Parliement Crown Grant seluas 1.000.000 acre (sekitar 400 ribu hektar)  di wilayah Port Stephens, New South Wales. Pada tahun 1831 sapi jantan Shorthorn diimpor dari Inggris untuk mengembangkan bisnis ternak. Pada tahun 1850, meskipun terjadi kekeringan, depresi, dan kehilangan banyak stok, jumlah domba perusahaan telah meningkat menjadi 114.118 ekor.  Jumlah sapi menjadi 8.306 ekor. Jumlah kuda menjadi 1.436 ekor. Selama Perang Dunia I terjadi kekurangan tenaga kerja yang besar terutama untuk produksi wol sehingga perusahaan beralih dari domba untuk meningkatkan produktivitas  ternaknya. Maka dimulailah proses penjualan ladang ternak selatan dan bergerak ke utara, membeli ladang ternak Headingly Station di Urandangie Queensland pada tahun 1916 dan Avon Downs di Northern Territory pada tahun 1921. Pada akhir Perang Dunia Kedua, AACo menjadi perusahaan khusus ternak sapi dan pada tahun 1950-an ternak sapi Santa Gertrudis diperkenalkan.  Pada tahun 1980-an, sapi Braham diperkenalkan ke lahan barudi kawasan Gulf, Australia. Pada tahun 1990, agregasi Goonoo dibentuk dan dikembangkan di Queensland Tengah, dan pada tahun 1994, tempat penggemukan berkapasitas 17.500 didirikan. Juga pada tahun 1994, dilakukan pembelian stasiun penangkaran Austral Downs di Northern Territory. Tahun 2006, AACo membeli peternakan Westholme, yang menandakan langkah serius bisnis daging sapi bermerek. Tahun 2014, AACo membuka Livingstone Beef, sebuah pabrik pemrosesan daging sapi canggih di selatan Darwin. Saat ini, AACo fokus pada produksi produk daging sapi premium untuk ekspor dan konsumsi domestik. Daging sapi kami memberi makan lebih dari 1.000.000 orang di seluruh dunia setiap hari.

&&&

Rp 31,6 triliun. Itulah angka hasil kajian ekonomi kurban yang diselenggarakan oleh Direktorat Kajian dan Pengembangan ZIS DSKL BAZNAS. Kajian yang hasilnya dipublikasikan pada bulan Juni 2022 ini menarik sekali. Bahwa ibadah kurban, sebagaimana juga ibadah-ibadah lain, selalu memunculkan potensi ekonomi. Ibadah haji dan umrah memunculkan bisnis hotel, penerbangan, katering, kain ihram, dan sebagainya. Ibadah salat memunculkan potensi bisnis sajadah, mukena, sarung, peci, dan sebagainya. Demikian juga ibadah kurban. Memunculkan potensi ekonomi yang tidak kecil.

Lebih lanjut kajian BAZNAS menyebut, potensi ekonomi kurban terdiri dari kebutuhan binatang kurban terdiri kebutuhan kambing sebesar 1,6 juta ekor dan sapi sebesar 521 ribu ekor.  Keduanya masing-masing bernilai Rp 9,3 triliun dan Rp 22,3 triliun. Pertanyaannya, siapa yang bisa memerangkap potensi sebesar itu? Data BPS menyebut bahwa nilai impor daging sapi dari Australia tahun 2021 bernilai  USD 389 juta alias IDR 5,7 triliun.

Di atas saya menuliskan sejarah sebuah perusahaan peternakan sapi. Australian Agricultural Company alias AACo namanya.  Sejarah tersebut saya ambil langsung dari web resmi perusahaan yang telah tercatat di Australia Stock Exchange ini. Perusahaan tertua Australia yang masih beroperasi hingga kini ini melaporkan omzet sebesar AUD 662 juta  alias IDR  6,5 triliun. Omzet didukung oleh persediaan sapi yang berjumlah sekitar 382 ribu ekor. Laporan tahunan juga menyebut bahwa ekspor sapi dan daging sapi adalah salah satu sumber pendapatan perusahaan.

Apa yang menarik? Bahkan perusahaan peternakan sapi dengan nilai pasar sekitar IDR 9 triliun itu pun belum mampu memenuhi seluruh potensi kebutuhan sapi di negeri ini. Nilai impor sapi atau daging sapi dari Australia hanya berkontribusi 44% dari total nilai impor sapi atau daging sapi negeri ini.

Apa artinya? Masih ada potensi untuk hadirnya perusahaan peternakan sapi sekelas AACo atau bahkan lebih besar lagi di Indonesia.  Kita mesti belajar dari perusahaan yang tahun lalu mampu menggaji direktur utama (CEO)-nya sebesar Rp 10 miliar ini. Cermati pelajaran-pelajaran penting dari sejarah 199 tahun eksistensi AACo. Pelajaran bahwa membangun perusahaan bukan pekerjaan sehari dua hari. Pelajaran bahwa perusahaan peternakan besar butuh lahan luas ratusan ribu hektar. Pelajaran bahwa dukungan pemerintah terhadap lahan yang luas adalah bagian penting dari fondasi perusahaan. Pelajaran bahwa perusahaan peternakan besar juga membutuhkan modal yang besar yang dikumpulkan dari banyak investor dan karenanya mesti hadir di lantai bursa. Pelajaran bahwa perusahaan besar butuh SDM tangguh sehingga juga membutuhkan gaji yang besar. Dan yang  paling penting adalah pelajaran bahwa bisnis sapi besar tidak bisa dilakukan oleh perorangan.  Hanya korporasi yang bisa melakukannya. Kita juga bisa!

Tulisan ke-406 Iman Supriyono ini ditulis untuk dan dimuat di Majalah Matan, edisi Juni 2023terbit di Surabaya

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca juga:

Sejarah Grameen Bank
Sejarah Bata dan Kalibata Batavile Batanagar
Sejarah Raket Yonex
Sejarah Heinekken Hadir di Indonesia
Sejarah Revlon dan Kepailitannya
Sejarah Korporasi
Sejarah Lions Club
Sejarah Hyundai versus Astra
Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Umat dan Bangsa
Korporatisasi: Asal Muasal
Sejarah Danone Dari Turki Usmani Hadir ke Indonesia
Sejarah Kalsiboard dan Etex Group
Sejarah Embraer si “PTDI” Brazil

Bankziska Grameen


Sejarah Grameen Bank berawal 1976 ketika Prof. Muhammad Yunus meluncurkan proyek penelitian tindakan yang mengkaji kemungkinan merancang sistem pembiayaan kalangan miskin pedesaan. Proyek kepala Program Ekonomi Pedesaan di Universitas Chittagong, Banglades itu dinamai  Bank Grameen. Grameen dalam bahasa Bangla artinya adalah pedesaan  atau desa.

Sebagai proyek penelitian, Grameen Bank beroperasi dengan tujuan-tujuan sosial.  Web resmi Grameen menyebut memperluas fasilitas perbankan untuk pria dan wanita miskin sebagai tujuan pertamanya. Menghilangkan eksploitasi orang miskin oleh rentenir sebagai tujuan kedua. Menciptakan peluang untuk wirausaha bagi banyak bagi pengangguran di pedesaan sebagai tujuan ketiga.  Keempat adalah membawa mereka yang kurang beruntung, kebanyakan perempuan dari rumah tangga termiskin, dalam program organisasi yang dapat mereka pahami dan kelola sendiri. Tujuan terakhir adalah membalikkan lingkaran setan kuno “penghasilan rendah, tabungan rendah & investasi rendah”, menjadi lingkaran kebajikan “penghasilan rendah, injeksi kredit, investasi, lebih banyak pendapatan, lebih banyak tabungan, lebih banyak investasi, lebih banyak pendapatan”.

Program tersebut menunjukkan kekuatannya di Jobra dan beberapa desa sekitarnya sepanjang tahun 1976-1979. Jobra adalah sebuah desa di dekat kampus Universitas Chittagong. Dengan dukungan dari bank sentral negara dan bank komersial nasional, proyek diperluas ke distrik Tangail pada tahun 1979. Tangail adalah sebuah distrik di utara Dhaka, ibu kota Bangladesh. Dengan keberhasilan di Tangail, proyek tersebut merambah ke beberapa kabupaten lain di Banglades. Oktober 1983, Proyek Grameen Bank diubah menjadi bank independen oleh undang-undang pemerintah.

Saat ini Grameen Bank dimiliki oleh kaum miskin pedesaan yang dilayaninya. Peminjam Bank memiliki 90% sahamnya, sedangkan 10% sisanya dimiliki oleh pemerintah. Laporan keuangan terbaru Grameen menunjukkan kinerja yang luar biasa. Posisi aset per 31 Desember 2021 adalah  BDT 295 miliar alias IDR 41,7 triliun.  Ekuitasnya adalah BDT 24,9 miliar alias IDR 3,5 triliun. Dengan demikian sebagai bank angka rasio kecukupan modalnya adalah sekitar 14%. Masih memenuhi syarat jika dipandang dari regulasi perbankan di Indonesia.

Dengan aset tersebut Grameen berhasil mengantongi pendapatan BDT 36,9 miliar alias IDR 5,2 triliun. Membayarkan bunga kepada penabung dan deposan sebesar BDT 17,8 miliar alias IDR 2,5 triliun.  Memberikan gaji dan tunjangan kepada lebih dari 21 ribu orang karyawan dan direksi sebesar BDT 12,5 miliar alias IDR 1,7 triliun. Dengan demikian gaji rata-rata tahunan Rp 80 juta per karyawan. Mencatatkan laba bersih sebesar BDT 493 juta alias IDR 70 miliar. Laba ini menurun jauh dari tahun sebelumnya yang BDT 2,9 miliar alias IDR 409 miliar. Penurunan kinerja tahun 2021 bisa jadi merupakan dampak dari pandemi.

Laporan arus kasnya menyebut dividen sebesar BDT 288 juta  alias IDR 40,7 miliar kepada pemegang saham yang antara lain terdiri lebih dari dari 9,5 juta orang nasabahnya yang. Menerima dana dari penerbitan saham baru sebesar BDT 8 juta alias IDR 1,1 miliar.  Ini menunjukkan bahwa Grameen tumbuh dengan proses yang disebut sebagai korporatisasi. Terus-menerus menerbitkan saham baru. Lebih dari 96% pemegang sahamnya adalah perempuan. Sebuah proses yang biasa dijalani oleh perusahaan berbadan hukum Perseroan Terbatas yang ingin membesar. Apalagi bank adalah perusahaan yang bersifat equity driven. Mustahil tumbuh pesat kecuali terus-menerus mendapat suntikan modal dari para investor yang membeli saham yang terus-menerus diterbitkan.

&&&

UMM Dome awal Ramadhan 1444 Hijriah. Di acara Kajian Ramadhan PWM Jawa timur itu saya bertandang ke stan Lazismu. Ada anjungan Bank Ziska. Informasi dari direkturnya menyebut bahwa Bankziska adalah singkatan dari bantuan keuangan berbasis zakat infak, sedekah dan dana sosial keagamaan lainnya. Buku company profilenya menunjukkan bahwa Bankziska bekerja seperti apa yang dikerjakan oleh proyek riset tindakan Profesor Muhammad Yunus di Bangladesh sebagaimana tulisan di atas.  Program yang mulai berjalan bulan September 2020 di Ponorogo itu itu hingga Februari 2023 telah melakukan 1729 kali pembiayaan dengan nilai IDR 1 miliar lebih. Direkturnya menyebut bahwa dengan konsep pembiayaan tanggung renteng Bankziska dapat menjaga tingkat pembiayaan bermasalah (non permforming finance, NPF dalam istilah perbankan syariah) nol persen. Kinerja awal yang luar biasa untuk sebuah program pengentasan kemiskinan dan jeratan rentenir dengan skema qord al hasan alias pinjaman tanpa bunga.

Bagaimana selanjutnya? Karena telah diawali dengan konsep seperti Grameen Bank, maka langkah selanjutnya juga tinggal copy &  paste. Termasuk format legal dengan badan hukum PT yang sahamnya sebesar 90% dimiliki oleh para nasabah yang semuanya berasal dari kalangan yang butuh bantuan ekonomi. Saham pemerintah di Grameen bisa diganti dengan saham persyarikatan di Bankziska. Jumlah pemegang saham yang terus tumbuh seiring dengan tumbuhnya nasabah bisa diwadahi dengan menjadi non listed public company dalam regulasi di negeri ini. Harapannya, kelak Bankziska akan sekuat Grameen Bank. Bisa!

Tulisan ke-405 Iman Supriyono ini ditulis untuk dan dimuat di Majalah Matan, edisi Mei 2023terbit di Surabaya

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca juga:

Sejarah Bata dan Kalibata Batavile Batanagar
Sejarah Raket Yonex
Sejarah Heinekken Hadir di Indonesia
Sejarah Revlon dan Kepailitannya
Sejarah Korporasi
Sejarah Lions Club
Sejarah Hyundai versus Astra
Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Umat dan Bangsa
Korporatisasi: Asal Muasal
Sejarah Danone Dari Turki Usmani Hadir ke Indonesia
Sejarah Kalsiboard dan Etex Group
Sejarah Embraer si “PTDI” Brazil